cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 345 Documents
LEKSIKON OLAHAN BERAS DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI Hasana, Nurul; Nurhayati, Nurhayati
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1757

Abstract

LEKSIKON OLAHAN BERAS DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI  RICE PROCESSED LEXICONS IN JAVANESE: A NATURAL SEMANTIC METALANGUAGE APPROACH  Nurul Hasanaa; NurhayatibMagister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu BudayaUniversitas Diponegoro, Semarang, Indonesiahasananurul331@gmail.coma; nurhayati@lecturer.undip.ac.idb AbstrakKeberagaman leksikon dalam bahasa Jawa mencerminkan perbedaan makna yang menarik dan signifikan, termasuk pada leksikon olahan beras. Tidak seperti bahasa Indonesia dan Inggris, bahasa Jawa memiliki perbedaan makna leksikon olahan beras berdasarkan kuantitasnya, diantaranya sego yang menunujukkan jumlah nasi tidak terhitung dan upo untuk jumlah satuan dari nasi. Menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA), penelitian ini mendeskripsikan dan memberi rincian makna leksikon olahan beras dalam bahasa Jawa agar pemahaman akan leksikon ini diterima serta sejalan dengan makna dalam budaya terkait. Kajian ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam bagi penutur asli maupun asing agar dapat menggunakan leksikon-leksikon tersebut dengan tepat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan mencatat informasi dari penutur asli bahasa Jawa terkait leksikon olahan beras. Proses analisis meliputi: menetapkan makna asali, menemukan molekul semantik, dan menentukan polisemi takkomposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 8 leksikon olahan beras dalam bahasa Jawa di wilayah Grobogan, Jawa Tengah. Sebanyak 4 dari leksikon yang ada digunakan pada olahan beras yang mengalami satu kali pengolahan dan setengah empat lainnya mengalami lebih dari satu kali pengolahan. Seluruh leksikon memiliki makna asali SOMETHING (sesuatu) dan berpolisemi dengan salah satunya BE SOMETHING (menjadi sesuatu). Sementara untuk semantik molekul, lebih dari separuh leksikon memiliki color (warna) dan eat (makan) sebagai semantik molekul pada eksplikasi yang dihasilkan. Kata-Kata Kunci: Metabahasa Semantik Alami; Leksikon; Olahan Beras; Beras; Bahasa Jawa. AbstractThe diversity of lexicons in Javanese reflects interesting and significant semantic differences, as seen in rice-based food products. Unlike Indonesian and English, Javanese distinguishes meanings based on the quantity of processed rice, such as ‘sego’ for uncountable quantities of rice while ‘upo’ for specific units. This study employed the Natural Semantic Metalanguage (NSM) approach to describe and elaborate on the meanings of lexicons related to rice-based food products in Javanese, ensuring that the comprehension aligned with the cultural context of the lexicons. This research was essential to provide a deeper understanding for both native and non-native speakers, enabling them to use these lexicons accurately. The study utilized a qualitative descriptive method, with data collection conducted through interviews and documentation of information from native Javanese speakers regarding the lexicons of rice-based food products. The analytical process included establishing the semantic primes, identifying semantic molecules, and determining non-compositional polysemy. The research results indicated the existence of 8 lexicons for rice processed in the Javanese language. Half of the lexicons (4) are used to name rice products that undergo a single processing while the rest are used for rice products that undergo multiple processing. All lexicons had the semantic prime of 'SOMETHING' and exhibit polysemy, with one of them being 'BE SOMETHING.' Meanwhile, more than half of the lexicons had ‘color’ and ‘eat’ as semantic molecules in the resulting explications.Keberagaman leksikon dalam bahasa Jawa mencerminkan perbedaan makna yang menarik dan signifikan, termasuk pada leksikon olahan beras. Tidak seperti bahasa Indonesia dan Inggris, bahasa Jawa memiliki perbedaan makna leksikon olahan beras berdasarkan kuantitasnya, diantaranya sego yang menunujukkan jumlah nasi tidak terhitung dan upo untuk jumlah satuan dari nasi. Menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA), penelitian ini mendeskripsikan dan memberi rincian makna leksikon olahan beras dalam bahasa Jawa agar pemahaman akan leksikon ini diterima serta sejalan dengan makna dalam budaya terkait. Kajian ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam bagi penutur asli maupun asing agar dapat menggunakan leksikon-leksikon tersebut dengan tepat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan mencatat informasi dari penutur asli bahasa Jawa terkait leksikon olahan beras. Proses analisis meliputi: menetapkan makna asali, menemukan molekul semantik, dan menentukan polisemi takkomposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 8 leksikon olahan beras dalam bahasa Jawa di wilayah Grobogan, Jawa Tengah. Sebanyak 4 dari leksikon yang ada digunakan pada olahan beras yang mengalami satu kali pengolahan dan setengah empat lainnya mengalami lebih dari satu kali pengolahan. Seluruh leksikon memiliki makna asali SOMETHING (sesuatu) dan berpolisemi dengan salah satunya BE SOMETHING (menjadi sesuatu). Sementara untuk semantik molekul, lebih dari separuh leksikon memiliki color (warna) dan eat (makan) sebagai semantik molekul pada eksplikasi yang dihasilkan.
METAPHORS OF FISH NAMES IN INDONESIAN Wijana, I Dewa Putu
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1881

Abstract

This article aims at describing metaphors of fish names in Indonesian. The study is focused on the language origin and constituent structure of the fish names,  locus of metaphorical expressions, source domains and target domains intended to, sociocultural factors which influence the metaphorical fish naming. The data are firstly collected intuitively from the researcher’s own knowledge as an Indonesian native speaker, and they are added with ones found in “Big Indonesian Dictionary” and You Tube. The data are further classified in line with the five matters that become focus of the paper consideration. Having analyzed the data carefully, the research finds that the structure of fish names may consist of two, three, four, and at maximum five elements in which ikan ‘fish’ functions as the head constituent structure. The metaphorical expressions might be located in the second, third, second and third, fourth, and so far are not found in the fifth elements. The source domains are taken from everything familiar with human life, and intended to compare on the basis of similarities and closeness with the body shape, parts of the body organs, scale color,  liquid substance produced by the aquatic animals. Many of the source domains are universals, and several of them are culture specific.Artikel ini bertujuan untuk memerikan metafora nama-nama ikan dalam bahasa Indonesia. Kajian dipusatkan pada asal bahasa dan struktur konstituen nama-nama ikan, letak satuan metaforis, ranah sumber dan ranah target metafora, dan faktor-faktor sosiokultural yang mempengaruhi penamaannya. Data-data pertama kali dikumpulkan secara intuitif dari pengetahuan penulis sebagai penutur asli bahasa Indonesia, dan dilengkapi dengan data yang dikumpulkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan You Tube. Data-data kemudian diklasifikasikan berdasarkan lima persoalan yang dijadikan fokus permasalahan. Adapun ke- lima persoalan itu adalah asal bahasa dan struktur konstituen nama-nama ikan, letak ekspresi metaforis nama-nama ikan, ranah sumber dan ranah target ekspresi metaforis nama-nama ikan, dan faktor-faktor sosiokultural yang mempengaruhi penamaan ikan. Lewat pengamatan dan analisis data secara saksama didapatkan bahwa struktur nama-nama ikan yang diambil dari berbagai bahasa terdiri dari dua sampai dengan lima elemen, dan kata ikan merupakan unsur pusatnya. Elemen mataforis dapat ditempatkan pada elemen kedua, ketiga, kedua dan ketiga, keempat, dan tidak pernah pada unsur kelima. Ranah sumber matafora penamaannya diambilkan dari segala sesuatu yang akrab dengan kehidupan manusia, dan perbandingannya berdasarkan kesamaan dan kedekatan dengan bentuk tubuh, bagian tubuh, warna sisik, cairan yang dihasilkan oleh binatang air ini. Sebagian besar ranah sumber besifat universal, dan beberapa di antaranya bersifat spesifik dan terikat budaya. 
PERAN SINTAKSIS KALIMAT TUNGGAL BERPREDIKAT VERBA TRANSITIF DALAM CERPEN TERBAIK DI CERPENMU.COM Setyawati, Nanik; Indrariani, Eva Ardiana; Kurniawan, Latif Anshori
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1358

Abstract

The ability to captivate and bind readers' hearts with the sentences presented needs to be mastered by prose writers. A single sentence with a transitive verb predicate can be used to present short story works of fiction. The aim of this research is to describe the role of syntax in single sentences with transitive verbs in the best short stories on cerpenmu.com. Theories about syntactic roles from Fillmore (1968), Ramlan (1987),  Sudaryanto (1987), Mastoyo (1993), Damaianti & Sitaresmi (2005) as well as theories about transitie verbs from Damaianti & Sitaresmi (2005), Chaer (2009), and Moeliono et al. (2017), will be used by researchers to achieve research objectives.  This research is qualitative research. Data collection was carried out using the technique of listening to language use in short stories. Data analysis was carried out using the agih method and the matching method. The results of data analysis are presented using informal methods. Based on the analysis carried out, it was found that there were 29 variations in syntactic roles in 60 sentences. The largest variations in syntactic roles are Actor–Action–Sufferer with 16 sentences; second position, Time–Doer–Action–Sufferer number 5 sentence; and third position, Experience–Condition–Sufferer and Experience–Condition–Result, each with 3 sentences. The syntactic role variations are under three sentences, namely 8 syntactic role variations of 2 each and 17 syntactic role variations of only 1 sentence each. There is a tendency for authors to prioritize human characters as actors and experiences in an activity or event.Kepiawaian memikat dan mengikat hati pembaca dengan kalimat yang disajikan perlu dikuasai oleh pengarang prosa. Kalimat tunggal dengan predikat verba transitif dapat digunakan untuk menyajikan karya fiksi berjenis cerpen. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peran sintaksis dalam kalimat tunggal berpredikat verba transitif dalam cerpen terbaik di cerpenmu.com. Teori tentang peran sintaksis dari Fillmore (1968), Ramlan (1987), Sudaryanto (1987), Mastoyo (1993), dan Damaianti & Sitaresmi, (2005) serta teori tentang verba transitif dari Damaianti & Sitaresmi (2005), Chaer (2009), dan Moeliono et al. (2017) akan peneliti manfaatkan untuk mencapai tujuan penelitian.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik penyimakan pemakaian bahasa pada cerpen. Analisis data dilakukan dengan metode agih dan metode padan. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan adanya 29 variasi peran sintaksis dalam 60 kalimat. Variasi peran sintaksis terbanyak yaitu Pelaku–Perbuatan–Penderita asejumlah 16 kalimat; posisi kedua, Waktu–Pelaku–Perbuatan–Penderita sejumlah 5 kalimat; dan posisi ketiga, Pengalam–Keadaan–Penderita dan Pengalam–Keadaan–Hasil, masing-masing sejumlah 3 kalimat. Variasi peran sintaksis di bawah tiga kalimat, yaitu 8 variasi peran sintaksis masing-masing 2 kalimat dan 17 variasi peran sintaksis masing-masing hanya 1 kalimat. Ada kecenderungan pengarang mengedepankan tokoh insani sebagai pelaku dan pengalam dalam suatu aktivitas atau peristiwa.
ANALISIS ALIH KODE DALAM LAGU "CASABLANCA" Basit, Abdul; Nandang, Ade; Hidayah, Vina
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1796

Abstract

The reason for this research is so that the song “Casblanca” is not only enjoyed as a song but can be enjoyed as intellectual property. The aim of this research is to reveal the lyrics, types and functions of code switching in the song “Casbalanca”. Code switching is a symptom of language transition and is a substudy of sociolinguistics. The types of code switching include; internal, and external. In this research, a qualitative descriptive method was used with content analysis techniques consisting of 3 stages, namely providing, analyzing and presenting code switching data on the lyrics of the song “Casablanca”. This research produces an interpretation of the data obtained in the form of transcriptions of song lyrics. The type of code switching in the song Casablanca is external code switching. The code switching analysis is in the form of the lyrics of the song Casablanca which tells about someone who wants to live forever with the person he loves and loves and hopes that separation will never happen forever and the code switching function analysis is in the form of 1) referential, 2) conative, 3) emotive, 4) poetic, 5) phatic and 6) metalinguistic. This research has implications for increasing the sociolinguistic scientific knowledge of the sub-study of external code switching, especially in the lyrics of the song Casablanca.Alasan penelitian ini ialah agar lagu “Casblanca” tidak hanya dinikmati sebagai lagu saja melainkan bisa dinikmati sebagai kekayaan intelektual. Tujuan penelitian ini yaitu mengungkap lirik, jenis dan fungsi alih kode pada lagu “Casbalanca”. Alih kode yaitu gejala peralihan bahasa dan merupakan subkajian sosiolinguistik. Adapun jenis alih kode di antaranya ialah intern dan ekstern. Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi yang terdiri atas 3 tahap, yakni penyediaan, analisis, dan penyajian data alih kode pada lirik lagu “Casablanca”. Penelitian ini menghasilkan interpretasi terhadap data yang diperoleh berupa transkripsi lirik lagu. Jenis alih kode pada lagu “Casablanca” yaitu alih kode ekstern. Adapun analisis alih kode berupa lirik lagu “Casablanca” yang menceritakan tentang seseorang yang ingin hidup selama-lamanya bersama orang yang dia cintai dan dia kasihi serta berharap perpisahan takkan pernah terjadi sampai kapanpun. Analisis fungsi alih kodenya berupa 1) referensial, 2) konatif, 3) emotif, 4) puitis, 5) fatis, dan 6) metalinguistik. Penelitian ini berimplikasi terhadap bertambahnya khazanah keilmuan sosiolinguistik subkajian alih kode ekstern khususnya dalam lirik lagu “Casablanca”. 
KERUSAKAN ALAM PADA NOVEL MATA DAN RAHASIA PULAU GAPI (KAJIAN EKOKRITIK SASTRA) Atikah, Atikah
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1668

Abstract

Nature does not only exist as a setting, but also as a complete construction of meaning in a literary work. The characters in literary works represent the behavior of mankind. Literary discourse can present environmental issues as a campaign for nature conservation. The purpose of this study is to describe the destruction of nature in the novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi by Okky Madasari. The method used is a qualitative method with an eco-critical approach. The data collection technique applied is documentation, reading, and note taking. Data analysis activities consist of data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. The results of the study show that the natural problems contained in the novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi are the loss of two villages due to the eruption of Mount Gamalama and the formation of Lake Tolire, air pollution and hot temperatures, earthquakes, Gamalama volcano erupted, development (malls, hotels, and golf courses) on top of historical buildings, rare bird hunting and colonization. The study of natural damage is related to the paradigm of anthropocentrism and ecocentrism. The implication of this research is a contribution to the scientific repertoire to support ecocritical research and as a medium for ecological awareness campaigns.Alam tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi juga sebuah konstruksi makna utuh dari sebuah karya sastra. Adapun tokoh dalam karya sastra mewakili perilaku umat manusia. Wacana sastra dapat menampilkan isu lingkungan sebagai sebuah kampanye pelestarian alam. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kerusakan alam dalam novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi karya Okky Madasari. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan ekokritik. Teknik pengumpulan data yang diaplikasikan adalah dokumentasi, simak, baca, dan catat. Aktivitas analisis data terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya permasalahan alam yang terdapat di dalam novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi, yakni hilangnya dua desa karena letusan Gunung Gamalama dan terbentuknya Danau Tolire, polusi udara dan suhu udara yang panas, gempa bumi, meletusnya Gunung Gamalama, pembangunan (mal, hotel, dan lapangan golf) di atas bangunan bersejarah, perburuan burung langka, serta penjajahan. Kajian kerusakan alam tersebut berkaitan dengan paradigma antroposentrisme dan ekosentrisme. Implikasi penelitian ini adalah sumbangsih bagi khazanah keilmuan untuk penunjang penelitian ekokritik dan sebagai media kampanye kesadaran ekologis.
ETIKA LINGKUNGAN HIDUP DALAM KUMPULAN PUISI “ADA BERITA APA HARI INI, DEN SASTRO?” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Nabillah, Ade Putri; Lestari, Sri
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1379

Abstract

The aim of this study is to describe the aspects of environmental ethics found in the poetry collection "Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?" by Sapardi Djoko Damono, using an ecological literature approach. The research method employed is qualitative descriptive, utilizing the close reading technique, with the primary data source being ecological-themed verses in the book. The data were collected using documentation techniques, and the data analysis was conducted through an ecological literature approach. The results of this study show that the ecological data in the poetry collection indicate all aspects of environmental ethics, which include: (1) respect for nature, (2) the principle of responsibility, (3) cosmic solidarity, (4) compassion and concern for nature, (5) the principle of no harm, (6) simple living in harmony with nature, (7) justice, (8) democracy, and (9) moral integrity.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aspek etika lingkungan hidup yang terdapat dalam buku kumpulan puisi “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” karya Sapardi Djoko Damono  menggunakan pendekatan ekologi sastra. Metode dalam penelitian ini berupa metode deskriptif kualitatif dengan memanfaatkan studi kajian pustaka, serta memiliki sumber data utama berupa bait-bait puisi bercorak ekologi yang terdapat dalam buku tersebut.  Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan untuk kegiatan analisis data dilakukan dengan pendekatan ekologi sastra. Hasil dari penelitian ini menunjukkan jika data-data ekologi dalam buku kumpulan puisi tersebut mengindikasikan semua asepek etika lingkungan hidup yang berupa 1) sikap hormat terhadap alam, (2) prinsip tanggung jawab, (3) solidaritas kosmis, (4) prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, (5) prinsip no harm, (6) prinsip hidup sederhana dan selarasa dengan alam, (7) prinsip keadilan, (8) demokrasi hingga (9) integritas moral.
G20 SUMMIT MOTTOS PORTRAY NEGOTIATION USING TEXT: LANGUAGE ATTITUDE ANALYSIS Mulia, Vilya Lakstian Catra
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1662

Abstract

Some countries have experienced crisis. It includes the financial crisis as the impact of interconnected world. This condition drives those countries to collaboration and partner as the solidarity to tackle the crisis, like G20 forum. Involving G7 countries and Europe Union, G20 regularly holds summit hosted by its members. Mottos exist along with the summits. The G20 summit mottos are the data source of this research. They are analyzed by attitude as the framework of mapping feelings classified by Martin and White (2005): affect, judgment, and appreciation. The data are the attitudinal words reflecting attitudes. Using the mottos, this qualitative research aims to find attitudes represented through the words, to identify the attentions of G7 countries and G20 observed countries, and to discuss the concerns by both sides encountering their issues. The researcher finds that G20 observed countries are more expressive than G7. Their similarities appear on their concern on appreciation and less in affect, but remain similar in expressing words referring security. G7 is far from expressing judgement than the G20. Studying attitude findings, the discussion finally is able to predict that G20 summits require decision, recommendation, and policy to accommodate its members.Beberapa negara mengalami krisis. Termasuk krisis finansial sebagai dampak dari dunia saling terkoneksi. Kondisi ini menggerakkan negara-negara tersebut untuk bergabung dalam kolaborasi dan kemitraan sebagai solidaritas untuk menangani krisis tersebut, seperti forum G20. Melibatkan negara-negara G7 dan Uni Eropa, G20 secara rutin menggelar KTT yang diselenggarakan oleh anggotanya. Kehadiran moto bersama dengan KTT. Moto KTT G20 adalah data dalam penelitian ini. Data tersebut dianalisis  dari sudut pandang sikap menggunakan kerangka yang memetakan perasaan sebagaimana diklasifikasikan oleh Martin dan White (2005): afek, penghakiman, dan apresiasi. Data meliputi kata-kata attitudinal yang merefleksikan sikap. Menggunakan moto-moto tersebut, penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menemukan sikap yang dinyatakan melalui kata, untuk mengidentifikasi beragam sorotan dari negara-negara G7 dan negara-negara pengamatan G20 dan mendiskusikan beragam  perhatian dari kedua pihak tersebut dalam menghadapi masalah-masalahnya. Peneliti menemukan bahwa negara-negara pengamatan G20 lebih ekspresif dibandingkan G7. Kesamaan mereka tampak dalam perhatian mereka pada apresiasi dan tidak banyak afek, namun tetap sama dalam mengekspresikan kata-kata yang merujuk pada keselamatan. G7 jauh dari mengekspresikan penghakiman daripada negara-negara G20. Mengkaji temuan sikap, pembahasan akhirnya mampu memprediksi bahwa KTT G20 menghendaki keputusan, rekomendasi, dan kebijakan yang dapat mengakomodasi negara anggotanya.
ANALISIS MULTIMODAL WACANA KRITIS REKLAME POLITIK BAKAL CALON PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 2024 Syah, Saprudin Padlil; Syah, Abdul Jabbar Siddiq; Syah, Abdulloh Jalaluddin
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1422

Abstract

In 2023, the billboards of the three presidential candidates for the Republic of Indonesia in 2024 have spread in several regions in Indonesia. The billboard as a political discourse does not only show words or images, but also has a meaning behind it. This research aims to explore the meaning behind the political billboards of the 2024 presidential candidates: Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, and Prabowo Subianto. This research uses descriptive qualitative method. The data in this study are political billboards of three 2024 presidential candidates of the Republic of Indonesia with online media data sources. The data is obtained through internet searches that have appeared since 2023 and analyzed with Fairclough's analysis through three stages, namely textual dimensions, analysis of discourse practices, and analysis of sociocultural practices which in the analysis of textual dimensions, this research will apply Anstey and Bull's multimodal analysis. Based on the research, it is known that the following conclusions can be formulated. First, the billboards of Anies, Ganjar, and Prabowo have different political meanings based on textual analysis, discourse practice analysis, and sociocultural practice analysis. Second, the Anies presidential billboard shows the implied ideology and power relations between Anies, the billboard maker, and supporting parties; the Ganjar presidential billboard also shows the implied ideology and power relations between Ganjar, the billboard maker, and supporting parties; the Prabowo presidential billboard also shows the implied ideology, but only shows the power relations between two parties, namely Prabowo and the billboard maker.Pada tahun 2023 reklame pencapresan tiga bakal calon presiden Republik Indonesia tahun 2024 sudah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Reklame tersebut sebagai sebuah wacana politik tidak hanya memperlihatkan kata-kata atau gambar saja, tetapi juga mempunyai makna di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna di balik reklame politik bakal calon presiden Republik Indonesia tahun 2024: Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah reklame politik tiga bakal calon presiden Republik Indonesia 2024 dengan sumber data media daring. Data didapat melalui pencarian di internet yang muncul sejak 2023 dan dianalisis dengan analisis Fairclough melalui tiga tahap, yaitu dimensi tekstual, analisis praktik kewacanaan, dan analisis praktik sosiokultural yang pada analisis dimensi tekstual, penelitian ini akan menerapkan analisis multimodal Anstey dan Bull. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut. Pertama, reklame pencapresan Anies, Ganjar, dan Prabowo mempunyai makna politik yang berbeda berdasarkan analisis tekstual, analisis praktik kewacanaan, dan analisis praktik sosiokultural. Kedua, pada reklame pencapresan Anies tersirat adanya ideologi dan relasi kuasa di antara Anies, pembuat reklame, dan partai pendukung; pada reklame pencapresan Ganjar tersirat adanya ideologi dan adanya relasi kuasa di antara Ganjar, pembuat reklame, dan partai pendukung; pada reklame pencapresan Prabowo pun tersirat adanya ideologi, tetapi hanya menunjukkan relasi kuasa antara dua pihak, yaitu Prabowo dan pembuat reklame.
ASKETISME RELIGI MELALUI PERTENTANGAN TOKOH AJO SIDI DAN HAJI SALEH DALAM CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA. NAVIS Mumtaz, Tsabitah Zain; Rohman, Muh. Fatoni; Vidiyanti, Made Oktavia
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1895

Abstract

The intensity of worship of Islamic communities in Indonesia is a normal everyday sight. However, some ignore the realities of social life by focusing on their respective deeds of worship. AA writers tried to frame this phenomenon. Navis in a short story entitled Robohnya Surau Kami. The general description of this short story is religiosity with a strong Islamic culture set in Minangkabau. The religious frame that surrounds the short story is contrary to the message the poet wants to convey. To find contradictory meanings, the author analyzes the short story using a qualitative descriptive method with a deconstruction theory approach from Jacques Derrida. The analysis steps are carried out through four stages which include, determining the center and concept of the text (undecidable), dismantling the ideology of the text in binary logic, reversing the metaphysical hierarchy, and neutralizing it by disseminating or spreading meaning. The results obtained from this analysis are that the short story Robohnya Surau Kami contains criticism of religious practices in Indonesia. This criticism regarding religion is an excuse not to work and try in the world. Unlike the title and the atmosphere that is created, it is the misfortune of someone who is devout in worship.Intensitas peribadatan masyarakat Islam di Indonesia menjadi pemandangan wajar sehari-hari. Namun, beberapa mengesampingkan realita kehidupan bermasyarakat dengan memfokuskan diri pada amal ibadah masing-masing. Fenomena ini mencoba dibingkai oleh sastrawan AA. Navis dalam sebuah cerpen berjudul Robohnya Surau Kami. Gambaran umum cerpen ini adalah religiusitas dengan budaya keIslaman yang kental dengan latar tempat Minangkabau. Bingkai religi yang membungkus cerpen bertolak belakang dengan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Untuk menemukan makna-makna yang bertolak belakang, penulis menganalisis cerpen menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Langkah-langkah analisis dilakukan melalui empat tahap yang meliputi, penentuan pusat dan konsep teks (undecidable), pembongkaran ideologi teks dalam logika biner, pembalikan hierarki metafisik, dan penetralisiran dengan diseminasi atau penyebaran makna. Hasil yang didapatkan dari analisis tersebut adalah cerpen Robohnya Surau Kami mengandung kritik terhadap pelaksanaan keagamaan di Indonesia . Kritik tersebut mengenai agama menjadi alasan untuk tidak bekerja dan berusaha di dunia. Tidak seperti judul dan suasana yang dibangun yaitu kemalangan seseorang yang taat beribadah.
REPRESENTASI KULINER NUSANTARA DALAM CERPEN KOMPAS TAHUN 2021 Arisandi, Isep Bayu
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1708

Abstract

This article is based on seven short story titles published in Kompas in 2021 with the limitations of culinary narratives in the stories. The relationship between literature and culinary emphasizes the position of traditional culinary as a cultural trace passed down from generation to generation. Therefore, it is important to study the culinary narratives contained in Indonesian short stories. This article attempts to present a representation of Indonesian culinary delights in short stories published in Kompas in 2021. To answer this problem, Stuart Hall's (1997) representation theory and the reflection representation approach are used. A total of seven short stories studied in this article are entitled "Lelaki yang Menabur Rempah", "Rahasia Bubur Pedas", "Masakan Ibu dan Bumbu-Bumbu di Halaman Rumah", "Kematian Seorang Pelukis", “Lebaran Haji Neknang”, "Sihir Keluarga", “Tanah Warisan Leluhur”. A total of seven short stories show regional culinary diversity as a wealth of gastronomic knowledge and regional identity that is maintained and passed down from generation to generation. The regional culinary richness is indicated by the availability and diversity of Indonesian spices so that they can accommodate culinary expressions. Regional culinary diversity has a collective meaning in the social sphere. Gastrocritical studies place culinary positions in short stories published in Kompas in 2021 as part of a culture that is still being passed down and has complete complexity in interpreting food.Tulisan ini berpijak pada tujuh judul cerpen yang terbit di Kompas tahun 2021 dengan batasan narasi kuliner dalam cerita sehingga dapat menyajikan representasi kuliner Nusantara dalam cerpen. Hubungan antara sastra dengan kuliner menegaskan kedudukan kuliner tradisional sebagai jejak kebudayaan yang diturunkan secara turun-temurun. Oleh karena itu, penting melakukan kajian terhadap narasi kuliner yang terdapat dalam cerpen Indonesia. Tulisan ini berusaha menyajikan representasi kuliner Nusantara dalam cerpen yang terbit di Kompas tahun 2021. Sejumlah tujuh cerpen dalam kajian ini, yaitu: (1) “Lelaki yang Menabur Rempah” karya Ramayda Akmal; (2) “Rahasia Bubur Pedas” karya T Agus Khaidir; (3) “Masakan Ibu dan Bumbu-Bumbu di Halaman Rumah” karya Rizqi Turama; (4) “Kematian Seorang Pelukis” karya Budi Darma; (5) “Lebaran Haji Neknang” karya Benny Arnas; (6) “Sihir Keluarga” karya Risda Nur Widia; dan (7) “Tanah Warisan Leluhur” karya Fanny J. Poyk. Sejumlah tujuh cerpen menunjukkan keragaman kuliner daerah sebagai kekayaan pengetahuan gastronomi dan identitas daerah yang dipertahankan dan diwariskan secara turun-temurun. Kekayaan kuliner daerah diindikasikan karena ketersediaan dan keragaman rempah Nusantara sehingga dapat menampung ekspresi kuliner. Keragaman kuliner daerah memiliki makna kolektif dalam lingkup sosial. Studi gastrokritik menempatkan kedudukan kuliner dalam cerpen yang terbit di Kompas tahun 2021 sebagai bagian dari budaya yang masih diturunkan dan memiliki kompleksitas yang utuh dalam memaknai sebuah makanan.