cover
Contact Name
Salfauqi
Contact Email
salfauqi@poltekpelaceh.ac.id
Phone
+62651-33609
Journal Mail Official
jumma@poltekpelaceh.ac.id
Editorial Address
Jl. Laksamana Malahayati, Km. 19, No.12, Gampong Durung Kec. Mesjid Raya, Kab. Aceh Besar, Prov. Aceh 23381, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Maritim Malahayati
ISSN : 27750337     EISSN : 2808618x     DOI : -
Jurnal Maritim Malahayati (JuMMa) (P-ISSN: 2775-0337 dan e-ISSN: 2808-618X) adalah jurnal yang bertujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian, pengkajian dan penerapan teknologi bagi para Perekayasa, Peneliti, Dosen, Praktisi dan Mahasiswa di bidang Teknologi Kemaritiman, Kepelabuhanan, Ilmu Kenautikaan, Teknik Mesin, Permesinan Kapal, Sistem Kelistrikan Kapal, Transportasi Laut dan Ilmu Pelayaran. Jurnal Maritim Malahayati menerbitkan artikel setiap bulan Januari dan Juli setiap tahunnya yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati
Articles 116 Documents
KONSEPTUALISASI WING-IN-GROUND CRAFT SEBAGAI SISTEM TRANSPORTASI HIBRIDA: TINJAUAN SISTEMATIS ATAS KESELAMATAN, OPERASI, DAN KESIAPAN SERTIFIKASI Andi Fiardi; Afandi Sahputa; Hasan Sadili; Antoni Arif Priadi
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini menelaah perkembangan diskusi ilmiah tentang wing-in-ground (WIG) craft sebagai sistem moda transportasi hibrida yang menjembatani domain penerbangan dan maritim. Dengan menggunakan pendekatan systematic literature review, artikel ini mensintesis literatur mutakhir mengenai konseptualisasi WIG, karakteristik keselamatan, performa operasional, tata kelola sertifikasi, serta kesiapan kompetensi operator. Hasil kajian menunjukkan bahwa WIG memiliki potensi penting sebagai moda mobilitas pesisir dan kepulauan karena mampu memanfaatkan ground effect untuk meningkatkan efisiensi aerodinamika, mengurangi hambatan, dan memperluas akses pada wilayah yang terbatas infrastruktur. Namun, pemanfaatannya masih dibatasi oleh fragmentasi regulasi, bukti empiris operasional yang terbatas, serta belum matangnya kerangka pelatihan lintas-domain. Sintesis ini menegaskan bahwa kesiapan teknologi WIG harus dikembangkan bersamaan dengan kesiapan manusia, standar sertifikasi, sistem pelatihan berbasis kompetensi, serta harmonisasi tata kelola transportasi udara dan laut. Temuan ini memberikan dasar konseptual bagi pengembangan kebijakan, riset lanjutan, dan eksperimen operasional yang aman untuk penerapan WIG di sektor sipil maupun pertahanan
PENGARUH DUCT HEKSAGONAL TERHADAP PERFORMA HIDRODINAMIKA PROPELER RUMPON PADA VARIASI KECEPATAN ARUS Rizkiya Windy Saputra; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad Ikhsan; Putri Rizkiah
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.194

Abstract

Rumpon modern membutuhkan kemampuan mempertahankan fungsi dan posisi pada lingkungan laut yang berubah, sehingga penggerak korektif berdaya rendah menjadi salah satu opsi untuk mengurangi simpangan tanpa menggantikan fungsi utama sistem tambat. Penelitian ini menganalisis pengaruh duct heksagonal terhadap performa hidrodinamika propeler rumpon melalui model numerik parametrik pada tahap penyaringan desain. Empat konfigurasi dibandingkan, yaitu propeler terbuka tiga sudu (C0), propeler enam sudu dengan duct sirkular (C1), sudu heksagonal dengan duct sirkular (C2), serta sudu dan duct heksagonal (C3). Diameter propeler ditetapkan 0,32 m, putaran 600 rpm, massa jenis air laut 1.025 kg/m³, dan kecepatan arus skenario 0,40–1,20 m/s. Koefisien thrust dan torque dihitung sebagai fungsi advance coefficient dan kemudian digunakan untuk memperoleh thrust, daya poros, dan efisiensi open-water. Pada titik desain 0,85 m/s (J=0,266), C3 menghasilkan thrust 83,88 N, daya poros 145,34 W, dan efisiensi 0,491, sedangkan C0 menghasilkan 66,03 N, 125,50 W, dan 0,447. Sepanjang rentang kecepatan yang diuji, peningkatan thrust C3 terhadap C0 berada pada 23,75–31,25%, peningkatan efisiensi 8,08–11,70%, dengan penalti daya 14,50–17,50%. Hasil menunjukkan bahwa duct heksagonal paling relevan pada kondisi advance coefficient rendah sampai menengah. Model ini dimaksudkan sebagai bukti numerik pra-CFD yang transparan; validasi CFD geometri penuh dan uji open-water tetap diperlukan sebelum klaim performa aktual
ANALISIS KESEIMBANGAN ENERGI DAN PENENTUAN KAPASITAS PV-BATERAI UNTUK RUMPON CERDAS BERPROPELER HEKSAGONAL Putri Rizkiah; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; M. Ikhsan; Rizqiya Windy Saputra
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumpon cerdas memerlukan sumber energi mandiri untuk sensor, komunikasi, lampu navigasi, kontrol, dan penggerak korektif. Penambahan propeler heksagonal meningkatkan kemampuan station-keeping, tetapi juga menambah beban listrik yang harus dipenuhi sistem fotovoltaik dan baterai secara andal. Penelitian ini menyusun analisis keseimbangan energi dan menentukan kombinasi kapasitas PV-baterai untuk rumpon berpropeler heksagonal menggunakan metode perhitungan skenario. Daya poros propeler pada titik desain sebesar 145,34 W dikonversi menjadi kebutuhan listrik motor sekitar 180 W setelah memperhitungkan efisiensi motor dan pengendali. Beban non-propulsi terdiri atas sensor-kontrol, komunikasi, lampu navigasi, pelacak-keamanan, serta rugi-rugi sistem sebesar 724 Wh/hari. Tiga duty cycle motor (1, 2, dan 3 jam/hari), tiga kondisi peak-sun-hour (3,0; 4,2; dan 5,0 jam/hari), serta kapasitas PV 300, 400, dan 500 Wp dianalisis dengan performance ratio 0,75. Pada duty cycle 2 jam/hari, kebutuhan energi total adalah 1,084 kWh/hari. Pada kondisi desain konservatif 4,2 PSH, sistem 300 Wp mengalami defisit 139 Wh/hari, sedangkan 400 dan 500 Wp menghasilkan surplus masing-masing 176 dan 491 Wh/hari. Pada stress case 3,0 PSH, 500 Wp masih menghasilkan surplus 41 Wh/hari untuk duty cycle 2 jam. Baterai 2,4 kWh menyediakan otonomi sekitar 1,67 hari, sedangkan 3,6 kWh sekitar 2,50 hari. Konfigurasi 400 Wp–2,4 kWh layak untuk operasi moderat, sementara 500 Wp–3,6 kWh lebih sesuai untuk desain berketahanan tinggi
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI INTERNAL KERANGKA PENGAWAKAN AMAN BERBASIS RISIKO UNTUK WING-IN-GROUND CRAFT Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad David; Muhammad Yani
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.197

Abstract

Wing-in-ground craft (WIG) menggabungkan manuver di permukaan air dengan penerbangan aerodinamis pada ketinggian sangat rendah, sehingga kebutuhan awaknya tidak dapat diturunkan secara langsung dari standar kapal atau pesawat udara. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi secara internal suatu metode berbasis fungsi, risiko, beban kerja, dan kompetensi untuk menentukan jumlah awak operasional inti WIG. Sebanyak 36 sumber regulasi dan ilmiah dipetakan menjadi enam fungsi keselamatan kritis, enam fase misi, matriks kapasitas kompetensi peran, dan beban tugas spesifik fase. Komposisi peran berbentuk bilangan bulat disaring melalui enumerasi eksak, uji alokasi max-flow/min-cut, cadangan rekayasa 20%, batas utilisasi fase, dan uji kelangsungan setelah satu orang pada setiap peran dihilangkan. Empat skenario operasi kemudian dievaluasi menggunakan 10.000 simulasi stokastik jaringan tugas serta pembanding yang dikurangi satu orang. Hasil menunjukkan komposisi robust sebanyak tiga awak untuk operasi Tipe A terbatas, empat awak untuk layanan penumpang Tipe A pesisir, lima awak untuk operasi Tipe B yang menuntut, dan enam awak untuk operasi Tipe C terpencil. Tim terpilih layak pada 100,00%, 100,00%, 100,00%, dan 99,99% percobaan, sedangkan tim yang dikurangi satu orang hanya mencapai 12,61%-70,57%. Fase transisi dan keadaan darurat menjadi sumber kegagalan dominan. Temuan menegaskan bahwa pengawakan WIG harus dibuktikan melalui cakupan fungsi simultan, kemampuan pengambilalihan yang berkualifikasi, pengelolaan gangguan teknis, dan ketahanan terhadap ketidakmampuan satu awak. Angka yang dihasilkan merupakan baseline rekayasa tervalidasi internal, bukan minimum hukum universal.
EVALUASI NUMERIK AWAL GAYA DORONG PROPELER HEKSAGONAL UNTUK RUMPON BERENERGI TERBARUKAN DI UJONG BATEE Dedi Kurniawan; Akhyar; Suriadi; Husni Husin
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumpon merupakan sarana bantu penangkapan ikan yang umumnya bekerja secara pasif dan sangat bergantung pada kekuatan sistem tambat. Penelitian ini mengevaluasi secara numerik dan terbatas satu aspek teknis, yaitu kemampuan propeler heksagonal menghasilkan gaya dorong korektif pada rumpon berenergi terbarukan. Dua konfigurasi dibandingkan pada kondisi operasi yang sama: propeler terbuka tiga sudu sebagai acuan dan propeler enam sudu dengan duct heksagonal sebagai rancangan usulan. Model menggunakan hubungan koefisien open-water untuk menghitung koefisien gaya dorong, koefisien torsi, efisiensi, daya poros, serta margin gaya dorong. Parameter desain meliputi diameter propeler 0,32 m, putaran 600 rpm, kecepatan aliran 0,85 m/s, dan massa jenis air laut 1.025 kg/m³, sehingga diperoleh advance coefficient sebesar 0,266. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi konvensional menghasilkan gaya dorong 66,02 N, efisiensi 0,447, dan daya poros 125,5 W. Konfigurasi heksagonal menghasilkan gaya dorong 83,90 N, efisiensi 0,491, dan daya poros 145,2 W. Dengan beban lingkungan desain 70,17 N, margin gaya dorong meningkat dari 0,94 menjadi 1,20. Peningkatan gaya dorong sebesar 27,08% dicapai dengan kenaikan daya 15,70%, sedangkan rasio gaya dorong terhadap daya meningkat sekitar 9,84%. Hasil ini menunjukkan bahwa geometri heksagonal layak dipertimbangkan sebagai penggerak korektif berdaya rendah. Namun, hasil masih berupa pembuktian numerik awal dan belum menggantikan simulasi CFD geometri penuh maupun pengujian open-water
PENERAPAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MARITIM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MATEMATIS TARUNA POLITEKNIK PELAYARAN MALAHAYATI Muhammad Yani; Hafriani
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan matematis taruna Politeknik Pelayaran Malahayati melalui penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran matematika maritim. Penelitian dirancang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui rancangan eksperimen semu dengan desain one-group-pretest-posttest-design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua taruna dan taruni Program Studi Permesinan Kapal semester satu tahun akademik 2025/2026 yang mengambil mata kuliah matematika terapan atau matematika maritim yang berjumlah 66 taruna dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan terpilihlah kelas PK-IC sebagai sampel penelitian yang berjumlah 22 taruna. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan matematis yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan SPSS serta uji statistik yang digunakan adalah uji paired-sample t-test pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan matematis taruna setelah penerapan AI dalam pembelajaran matematika maritim. Penerapan AI diarahkan bukan sebagai pengganti dosen, tetapi sebagai alat bantu untuk memberikan penjelasan alternatif, latihan adaptif, umpan balik, simulasi permasalahan, dan pendampingan pemecahan masalah. Penelitian ini diharapkan menghasilkan model pembelajaran matematika maritim yang lebih kontekstual, adaptif, interaktif, dan relevan dengan kompetensi taruna pelayaran. Penggunaan AI juga perlu disertai verifikasi jawaban, penguatan kemampuan berpikir kritis, perlindungan data, dan etika akademik agar teknologi benar-benar mendukung pencapaian kompetensi dan keselamatan dalam konteks profesi pelayaran.

Page 12 of 12 | Total Record : 116