cover
Contact Name
Nur Asni Setiani
Contact Email
nur.asni@stfi.ac.id
Phone
+6285718360277
Journal Mail Official
jurnal@stfi.ac.id
Editorial Address
Gedung 1 Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta no. 354 (Parakan Resik) Bandung, 40266 West Java, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Indonesia
ISSN : 23032138     EISSN : 2830201X     DOI : http://dx.doi.org/10.58327/jstfi
Core Subject : Health, Science,
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA (P-ISSN: 2303-2138) is open access and peer-reviewed (double-blind) Scientific Journal that publishes all research articles/reviews/ short communication related to the pharmacy research. The focus of JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA is to publish articles in pharmacy. Scope of this journal are: 1. Pharmacology, 2. Pharmaceutical biology, 3. Pharmacy, 4. Pharmaceutical chemistry, 5. Community pharmacy, 6. Biotechnology and biomolecular sciences.
Articles 130 Documents
UJI EFEK EKSTRAK ETANOL KULIT TERUNG UNGU (Solanum melongena L) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) HIPERKOLESTEROLEMIA-DIABETES Joni - Tandi
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.075 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i1.52

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menguji kandungan senyawa metabolit sekunder, menguji efek dari ekstrak etanol kulit terung ungu dan dosis bertingkat yang memberikan efek terhadap kadar kolesterol total dan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan hiperkolesterolemia-diabetes. Penelitian dilakukan menggunakan 35 ekor hewan uji yang dikelompokkan kedalam 7 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif simvastatin, kelompok positif metformin dan 3 kelompok uji dengan variasi dosis ekstrak masing-masing 25 mg/KgBB, 50 mg/KgBB, dan 100 mg/KgBB. Pengukuran kadar kolesterol dan kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke 0, 31, 38, dan 45 setelah diberi perlakuan. Data kadar kolesterol total dan glukosa darah yang diperoleh dianalisis menggunakan uji one way ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD untuk melihat perbedaan yang bermakna antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pemberian ekstrak etanol kulit terung ungu (Solanum melongena L.) dengan dosis 50 mg/kg BB paling efektif menurunkan kadar kolesterol total dan kadar glukosa darah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) hiperkolesterolemia-diabetes. Kata Kunci : Kulit terung ungu (Solanum melongena L.), kolesterol total, kadar glukosa darah AbstractThis study aims to examine the content of secondary metabolite compounds, test the effects of purple eggplant ethanol extract, and the multilevel doses that have an effect on total cholesterol levels and blood glucose levels of white male rats hypercholesterolemia-diabetes. The experiment was conducted using 35 test animals grouped in 7 groups with treatment of normal control group, negative control, simvastatin positive control, metformin positive control and 3 test groups with variation of dose of extract respectively 25 mg / KgBW, 50 mg/Kg BW, and 100 mg/Kg BW. Measurements of cholesterol levels and blood glucose were performed on days 0, 31, 38, and 45 after treatment. Blood glucose and total cholesterol levels were analyzed using one-way ANOVA test at 95% confidence level and followed by Post Hoc LSD test, to se meaningful differsnces between groups. The results showed: provision of ethanol extract skin purple eggplant with the moost effective dose 50 mg/kg BB reduced total cholesterol levels and blood glucose levels of male white rats hypercholesterolemia-diabetes.  Keywords: Skin purple eggplant (Solanum melongena L.), total cholesterol, blood glucose levels
AKTIVITAS ANTIGLAUKOMA SERBUK TELUR KEONG MAS (Pomacea canaliculata) PADA MODEL TIKUS GLAUKOMA Fauzi, Novi Irwan; Ulfah, Maria; Sari, Nia Kurnia
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.238 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v10i1.184

Abstract

Glaukoma merupakan penyakit gangguan mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Penyakit ini ditandai dengan terjadinya peningkatan tekanan intraokular. Modalitas terapi yang ada saat ini diantaranya obat yang dapat menurunkan tekanan intraokular dan kebanyakan diberikan melalui rute topikal. Telur keong mas (Pomea canaliculata) diketahui mengandung flavonoid dan pigmen karoten yang berpotensi mampu menurunkan tekanan intraokular. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya aktivitas antiglaukoma serbuk telur keong mas pada model tikus glaukoma. Telur keong mas diperas kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 50oC selama 24 jam hingga terbentuk serbuk. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok kontrol yaitu normal, glaukoma, obat (asetazolamid 22,5 mg/kg), dan 1 kelompok uji yaitu serbuk telur keong mas 500 mg/kg. Induksi glaukoma dilakukan pada semua hewan uji menggunakan prednisolon asetat 1% kecuali kelompok kontrol normal. Tekanan intraokular diukur menggunakan tonometer schiotz dan dijadikan parameter untuk menilai aktivitas antiglaukoma dari bahan uji. Hasil penelitian menunjukkan pemberian asetazolamid dan serbuk telur keong mas mampu menurunkan tekanan intraokular, berturut-turut sebesar 51,46±8,1 dan 31,93±12,27%. Serbuk telur keong mas Pomacea canaliculata memiliki aktivitas antiglaukoma melalui efek penurunan tekanan intraokular namun potensinya masih lebih kecil dibandingkan asetazolamid.
SINTESIS N1-ISOPROPILTEOBROMIN MENGGUNAKAN TEOBROMIN DAN ISOPROPILBROMIDA DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI NATRIUM HIDROKSIDA Dewi - Astriany; Yusuf - Bahtiar; Achmad - Zainuddin
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.694 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i2.54

Abstract

AbstrakXantin adalah senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas farmakologi dan digunakan secara luas pada gangguan saluran pernapasan. Substitusi pada atom N1 xantin dapat meningkatkan aktivitas dan selektivitasnya sebagai bronkodilator. Telah dilakukan sintesis senyawa N1-isopropilteobromin dari teobromin dan isopropilbromida dalam pelarut NaOH-air-etanol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH (4%, 8% dan 12%) terhadap rendemen hasil sintesis. Senyawa hasil sintesis diisolasi menggunakan kloroform dan dimurnikan dengan Kromatografi Lapis Tipis preparatif. Konfirmasi struktur molekul senyawa N1-isopropilteobromin dilakukan menggunakan metode spektrofotometri ultraviolet dan inframerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, semakin tinggi pula N1-isopropilteobromin yang diperoleh. Pada konsentrasi NaOH 4% diperoleh rendemen sebesar 0,0025 % (0,005g), pada konsentrasi NaOH 8% diperoleh rendemen sebesar 0,0130 % (0,026 g), dan pada konsentrasi 12% diperoleh rendemen sebesar 0,0225 % (0,045 g). Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH mempengaruhi rendemen senyawa N1-isopropilteobromin hasil sintesis.  Kata kunci : Teobromin, isopropilbromida, natrium hidroksida, N1-isopropilteobromin, KLT preparatif, spektrofotometri.  AbstractXanthine is an alkaloid having pharmacological activity and used widely as respiratory tract disorder. Substitution of atoms N1 xanthine enhanced the activity and selectivity as a bronchodilator. The synthesis of N1-isopropyltheobromine from theobromine and isopropylbromide in NaOH-water-ethanol as a solvent has been carried out. The purpose of this research was to know the influence of concentration of NaOH (4 %, 8 %, and 12 %) on the production yield of N1-isopropyltheobromine. The result of the synthesis isolated using chloroform and purified with the preparative thin layer chromatography. The molecule structure of N1-isopropyltheobromine was confirmed using ultraviolet and infrared spectrophotometry. The result showed that the higher concentration of NaOH was used, the higher yield of N1-isopropyltheobromine was achieved. The yield of N1-isopropyltheobromine using 4%, 8%, and 12% of NaOH were 0.0025% (0.005 g), 0.0130% (0.026 g), and 0.0225% (0.045 g), respectively. This indicated that the concentration of NaOH played an important role in synthesis of N1-isopropyltheobromine.  Keywords : Theobromine, isopropylbromide, natrium hydroxide, N1-isopropyltheobromine, preparative TLC, spectrophotometry.
KESESUAIAN PENATALAKSANAAN TERAPI FARMAKOLOGI VITAMIN C DAN ANTIVIRAL TERHADAP PASIEN COVID-19 KATEGORI SEDANG DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BITUNG PROVINSI SULAWESI UTARA Simanjuntak, Nela; Tewu, Yosa Shinta Tiara; Makawimbang, Rickchard
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.22 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v10i1.154

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang disebabkan oleh virus yangdinamakan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Jumlah kasus positifterkonfirmasi di Indonesia hingga 30 April 2021 berjumlah 1.668.368 orang dengan total kematian45.521. Sedangkan untuk data pasien Covid- 19 di Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kota Bitungdata pasien positif per tanggal 30 April 2021 berjumlah 1.236 orang dan pasien meninggal 41 orang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tatalaksana terapi dan tingkat kesesuaian pemberianterapi pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Sumber data yangdigunakan dalam penelitian ini berupa data rekam medik pasien Covid-19 selama 6 bulan dimulai daribulan November 2020 sampai April 2021. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metodepurposive sampling dan teknik random sampling pada setiap data pasien yang memenuhi kriteriainklusi. Sesuai rekomendasi Persatuan Dokter Paru Indonesia, Rumah Sakit Daerah Umum Bitungmenggunakan antivirus dan vitamin pada terapi pasien Covid- 19, hasil yang diperoleh menunjukkankesembuhan 100% dan dari data yang diperoleh dan menunjukan pencapaian presentase yaitu 82,4%dalam jangka waktu 6 bulan serta bisa dikatakan dalam kategori baik dan sesuai dengan pedoman yangdikeluarkan oleh Persatuan Dokter Paru Indonesia.Kata kunci : Covid-19, Antivirus, Rumah Sakit, Terapi Pasien.
UJI AKTIVITAS INSULIN-SENSITIZER EKSTRAK ETANOL BUAH MALAKA (Phyllanthus emblica L.) PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI DIET TINGGI LEMAK Novi Irwan Fauzi; Yessi - Febriani; Risma Ayu Musthofa
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.749 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i2.66

Abstract

AbstrakBuah malaka (Phyllanthus emblica L.) merupakan salah satu tanaman potensial yang dapat digunakan untuk mencegah prognosis buruk penyakit diabetes melitus. Akan tetapi, potensi tersebut belum diketahui jelas mekanismenya. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas insulin-sensitizer ekstrak etanol buah malaka dalam rangka karakterisasi mekanisme kerja dalam mengendalikan kadar glukosa darah pada penyakit diabetes melitus. Secara acak, 18 tikus jantan galur Wistar dibagi menjadi 6 kelompok (n=3). Kelompok kontrol tikus normal, kontrol tikus resitensi insulin, kontrol positif (metformin 45 mg/kgbb) dan 3 kelompok dosis ekstrak etanol buah malaka 100, 500 dan 1000 mg/kgbb. Induksi resistensi insulin dilakukan dengan cara pemberian emulsi tinggi lemak pada masing-masing kelompok selama 21 hari, kecuali kelompok kontrol tikus normal. Tes toleransi insulin dilakukan pada hari ke 22 untuk menilai aktivitas insulin-sensitizer setelah pemberian perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan terjadinya peningkatan sensitivitas insulin yang signifikan pada semua kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol buah malaka (p≤0,05), dinilai dengan cara membandingkan nilai konstanta tes toleransi insulin (KTTI) kelompok perlakuan terhadap kelompok tikus resistensi insulin. Nilai KTTI pada ketiga kelompok dosis ekstrak etanol buah malaka lebih besar dibandingkan kelompok kontrol tikus resistensi insulin, berturut-turut nilainya adalah 70,29; 76,14; 77,55 dan 38,41. Ekstrak etanol buah malaka menunjukkan aktivitas insulin-sensitizer pada tikus jantan galur Wistar yang diinduksi resistensi insulin menggunakan diet emulsi tinggi lemak.  Kata kunci: Buah Malaka (Phyllanthus emblica L.), Insulin-Sensitizer, Tes Toleransi Insulin, Diabetes Melitus  AbstractFruit malacca (Phyllanthus emblica L.) is one of potential plants that can be used to prevent bad prognosis of diabetes mellitus. However, this potential is not known unclear mechanism. This study was conducted to determine the activity of insulin-sensitizer ethanol extract of fruit Malacca in order to characterize the mechanism of action in controlling blood glucose levels in diabetes mellitus. Randomly, 18 Wistar male rats were divided into 6 groups (n = 3). Rats normal control group, insulin resistance rats control group, positive control group (metformin 45 mg/kgbb) and 3 doses of ethanol extract of fruit malacca 100, 500 and 1000 mg/kgbw. Insulin resistance induced by giving high-fat emulsions in each group for 21 days, except for the rats normal control group. Insulin tolerance tests were performed on day 22 to assess insulin-sensitizer activity after treatment. The results showed an increase in insulin sensitivity in all groups of rats given ethanol extract of fruit Malacca (p≤0,05), was assessed by comparing the value of the insulin tolerance test constant (KTTI) of the treatment group to the insulin resistance rats control group. The KTTI values in the three doses of ethanol extract of malacca were higher than those of insulin resistance rats control group, the values is 70,29; 76,14; 77,55 and 38,41 respectively. Malacca fruit ethanol extract showed activity of insulin-sensitizer in Wistar male rats induced insulin resistance using a diet high in fat emulsion.  Keywords: Fruit malacca (Phyllanthus emblica L.), Insulin-Sensitizer, Insulin Tolerance Test, Diabetes mellitus
[REVIEW] METODE ANALISIS S-PHENYL MERCAPTURIC ACID (S-PMA) DALAM URIN SEBAGAI BIOMARKER PAPARAN BENZENA Sri Gustini Husein; Muchtaridi - -; Mulyana - -
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.183 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i2.57

Abstract

Abstraks-PhenylMercapturic Acid (s-PMA) merupakan salah satu biomarker spesifik yang diusulkan untuk pemantauan biologis terhadap paparan benzena dalam konsentrasi rendah. American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) juga mengharuskan perusahaan industri untuk mengevaluasi tingkat s-PMA pada pekerja yang bekerja terkait dengan benzena. ACGIH BEI (Biological Exposure Limit) menetapkan nilai normal s-PMA dalam urin maksimal 25 μg/g kreatinin (25 ppb) (ACGIH, 2012). Beberapa metode telah dikembangkan untuk mendapatkan kesesuaian prosedur dalam penetapan kadar s-PMA dalam urin. Metode yang digunakan untuk analisis s-PMA sampai saat ini adalah High Performance Liquid Chromatografi (HPLC) dengan detektor flouresens, HPLC dengan detektor DAD, HPLC-MS-MS, GC-MS, dan ELISA (Wang. Z, et al, 2013). Preparasi terhadap sampel dilakukan beberapa tahap, menggunakan teknik liquid-liquid extraction (LLE), solid-phase extraction (SPE) dan derivatisasi analit menjadi senyawa fluoresens terkonjugasi (Buratti M, 2001). Kata kunci: Biomarker, s-Phenyl MercapturicAcid (s-PMA), Benzena, HPLC Abstracts-PhenylMercapturic Acid (s-PMA) is one of the specific biomarkers purposed for biological monitoring of benzene exposure in low concentrations. The American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) also requires industrial companies to evaluate the level of s-PMA who workrs working with benzene. ACGIH BEI (Biological Exposure Limit) determines the normal value of s-PMA in urine to a maximum of 25 μg/g creatinine (25 ppb) (ACGIH, 2012). Several methods have been developed to obtain the suitability of procedures in the determination of s-PMA levels in the urine. The recently of analysis methods used for s-PMA are High Performance Liquid Chromatography (HPLC) with flouresens detector, HPLC with DAD detector, HPLC-MS-MS, GC-MS, and ELISA (Wang. Z, et al, 2013). Sample preparation was performed in several stages using liquid-liquid extraction (LLE), solid-phase extraction (SPE) and analytical derivatization into conjugated fluorescence (Buratti M, 2001). Keywords: Biomarker, s-Phenyl MercapturicAcid (s-PMA), Benzene, HPLC
FORMULASI KRIM SARI BUAH STROBERI (Fragaria X ananassa D.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Rival - Ferdiansyah; Revika - Rachmaniar; Haruman - Kartamihardja; Elisabeth - Meliana; Nitta Nurlita Sari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.383 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i2.58

Abstract

AbstrakBuah stroberi (Fragaria X ananassa D.) diketahui memiliki banyak manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh, terutama sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan krim yang mengandung sari buah stroberi yang dapat memberikan efek antioksidan dan memiliki stabilitas yang baik. Formula krim dibuat dengan konsentrasi sari buah stroberi 0,015 %, 0,15 %, dan 0.30 % dengan komposisi asam stearat 20%, setil alkohol 1%, propilenglikol 10%, trietanolamin 2%, gliserin 10%, nipagin 0.10 %, nipasol 0,05 % dan akuades. Kestabilan sediaan fisik krim diuji melalui pengamatan perubahan organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, uji keamanan iritasi dan uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH (2,2-Difenyl-1-pycrylhydrazil). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sediaan tidak mengalami perubahan yang signifikan terhadap pH, homogenitas maupun viskositas. Seluruh sediaan krim memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 52.59 ppm and 66.96 ppm dan tidak menyebabkan iritasi.  Kata kunci : Stroberi (Fragaria X ananassa D), krim, antioksidan, metode DPPH, IC50.  AbstractStrawberries (Fragaria X ananassa D.) is known to have many amazing benefits for health, especially as antioxidants. This research aims to make preparations cream containing strawberry fruit juice can provide antioxidant effects and has good stability. Formula cream made with strawberry fruit juice concentration of 0.015%, 0.15% and 0.30% with the composition of 20% stearic acid, cetyl alcohol 1%, propyleneglycol 10%, triethanolamine 2%, glycerol 10%, nipagin 0.1%, nipasol 0.05% and aquadest. Physical stability of the resulted cream was tested with observing changes in organoleptic, homogenity, pH, viscosity, irritation safety testing and test the antioxidant activity using the DPPH (2,2-Difenyl-1-pycrylhydrazil). The results showed that the preparation does not undergo significant changes in pH, homogeneity and viscosity. The whole preparation cream has antioxidant activity with IC50 52.59 ppm and 66.96 ppm and does not cause irritation.  Keywords : Strawberries (Fragaria X ananassa D), cream, antioxidant, DPPH methode, Inhibition concentration
PENAMBATAN MOLEKULER SENYAWA POLIFENOLAT TERHADAP ENZIM REVERSE TRANSCRIPTASE SEBAGAI SENYAWA ANTIRETROVIRAL (HIV-1) Muhammad Nur Abdillah; Nefi Rofani Ilmah; Andhika Bintang Mahardhika
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1950.739 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i1.59

Abstract

AbstrakAntiretroviral (ARV) merupakan agen untuk mengurangi jumlah virus dari tubuh pasien dengan aksi kerja mempengaruhi siklus replikasi HIV-1 pada penghambatan terhadap enzim reverse transcriptase. Permasalahan resistensi obat ARV menjadi tantangan untuk menemukan obat baru yang efektif, terjangkau dengan efek samping relatif kecil terutama yang berasal dari bahan herbal/tanaman seperti senyawa polifenolat yang terkandung dalam daun teh hijau Camelia sinensis (L.) Kuntze, antara lain flavanol: katekin, epikatekin galat (ECG), epigalokatekin (EGC), epigalokatekin galat (EGCG), kaemferol; flavonon apigenin dan luteolin, serta asam galat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui interaksi senyawa polifenolat yang terkandung dalam daun teh hijau Camelia sinensis (L.) Kuntze dengan enzim reverse transcriptase yang paling berpotensi sebagai antiretroviral (HIV-1) dengan pendekatan in silico penambatan molekuler dibandingkan dengan senyawa pembanding rilpivirine menggunakan perangkat lunak Autodock 4.2. Penambatan molekuler luteolin menunjukkan nilai energi ikatan dan nilai Ki yang paling rendah dibandingkan dengan senyawa uji yang lainnya yaitu ˗6,50 kkal/mol dan 17,17 μM dengan sisi aktif pada residu asam amino Lys101 dan His235. Kemampuan menghambat enzim reverse transcriptase dari senyawa luteolin hampir sama dengan senyawa pembanding rilpivirine sehingga di nilai masih kurang potensial sebagai antiretroviral (HIV-1).  Kata kunci: antiretroviral, penambatan molekuler, polifenolat, reverse transcriptase, teh hijau.  AbstractAntiretroviral (ARV) is an agent to reduce viral load in the patient’s body by the action as affecting HIV-1 replication cycle with an inhibition mechanism against targeted enzyme reverse transcriptase. An Antiretroviral drug resistance problem emerges the challenge to discover new drug that effective, affordable and less side effects that may come from natural substances of polyphenolic compounds from green tea Camelia sinensis (L.) Kuntze leaves, such as flavanol: catechin, epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC), epigallocatechin galate (EGCG), kaempferol; flavonon apigenin and luteolin, and Gallic acid. The purpose of this research is to study the interaction between polyphenolic compounds from green tea Camelia sinensis (L.) Kuntze leaves against targeted enzyme reverse transcriptase as the most potential as antiretroviral (HIV-1) by in silico approach using molecular docking compared to rilpivirine with AutoDock 4.2 software. Molecular docking of luteolin show the lowest binding energy and Ki value compare to other tested ligands, which are ˗6.50 kcal/mol and 17.17 μM with binding site at Lys101 and His235 amino acid residues. Inhibition activity of luteolin against targeted enzyme reverse transcriptase almost similar to compared ligand rilpivirine, so interpret as less potential for antiretroviral (HIV-1).  Keywords: antiretroviral, molecular docking, polyphenolic, reverse trancriptase, green tea
KARAKTERISASI KAPPA KARAGENAN DARI EUCHEUMA COTTONII ASAL PERAIRAN KEPULAUAN NATUNA DAN APLIKASINYA SEBAGAI MATRIKS TABLET APUNG Rival - Ferdiansyah; Anis Yohana C; Marline - Abdassah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.006 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v6i1.60

Abstract

AbstrakKappa karagenan merupakan polisakarida yang terkandung dalam spesies rumput laut Kappaphycus alverizii atau biasa disebut Eucheuma cottonii. Kualitas kappa kararagenan yang dihasilkan selain dipengaruhi oleh metode pembuatan, proses produksi juga dapat dipengaruhi iklim dan geografis (sinar matahari, arus, tekanan, kualitas air dan kadar garam) tempat tumbuh dari rumput laut yang digunakan. Kepulauan Natuna merupakan wilayah Indonesia yang memiliki produksi rumput laut Eucheuma cottonii sebesar 11.700 ton pada tahun 2013 dan merupakan penghasil terbesar diwilayah Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaraterisasi kappa karagenan yang dihasilkan dari kepulauan Natuna dan mengaplikasikannya sebagai matriks tablet apung dengan model zat aktif teofilin. Pada penelitian ini pembuatan kappa karagenan menggunakan metode pressing yang sebelumnya diekstraksi dengan cairan alkali panas pada suhu 80oC. Pembuatan tablet apung dilakukan dengan menggunakan metode granulasi basah dengan empat variasi formula berdasarkan rasio matriks dengan model zat aktif. Kappa karagenan yang diperoleh dievaluasi terhadap, spektrum FT-IR, cemaran mikroba, kandungan logam berat, pH, kadar abu, kekuatan gel, kadar sulfat, serta susut pengeringan untuk mengetahui karakter dan kualitas dari karagenan yang dihasilkan, dan diaplikasikan sebagai matriks tablet apung. Dari hasil penelitian didapatkan karagenan dengan warna putih kekuningan, rendemen 26,8%, serapan FTIR identik dengan standar kappa karagenan, viskositas 64 cP, ALT 8 cfu/g, cemaran bakteri Eschericia coli dan Salmonella negatif, kandungan timbal 3,52 ppm, kandungan kadmium 0,13 ppm, kadar sulfat 18,5%, kekuatan gel 2,81 g.force, pH 9,27, nilai LOD 10,01 % dan kadar abu 29,57%, sedangkan dari uji tablet apung matriks karagenan diketahui bahwa pelepasan zat aktif maksimal ditujukkan oleh formula 1 dengan rasio 1 ; 3,24 dengan waktu 180 menit.  Kata kunci: Kappa karagenan, Eucheuma cottonii, Kepulauan Natuna, matriks tablet apung  AbstractKappa carrageenan is a polysaccharide contained in seaweed species Kappaphycus alverizii or commonly called Euceuma cottonii. Quality of kappa carrageenan produced besides influenced by method of manufacture, production process can also be influenced by climate and geography (sunlight, currents, pressure, water quality and salinity) where seaweed is used. The Natuna Islands is an Indonesian territory that has the production of seaweed Euceuma cottonii of 11.700 tons in 2013 and is the largest producer in the region of Sumatra. This study purpose to characterize the kappa carrageenan produced from the Natuna islands and apply it as a floating tablet matrix with the theophylline active substance model. In this study, the preparation of kappa carrageenan using a pressing method which was previously extracted with hot alkaline liquor at temperature 80oC. Making floating tablets using wet granulation method with four variations of formula based on matrix ratio with active substance model. The obtained kappa carrageenan were evaluated such as, FT-IR spectra, microbial contamination, heavy metal content, ash content, pH, ash content, gel strength, sulfate content and drying rate to determine the character and quality of the resulting carrageenan, and applied as floating tablet matrix. The result showed that carrageenan colour is yellowish white, yield of 26.8%, FT-IR absorption is identical with kappa standard of carrageenan, viscosity 64 cP, ALT 8 cfu / g, bacterial contamination of Eschercia coli and Salmonella is negative, lead content 3.52 ppm, Cadmium 0,13 ppm, 18.5% sulfate content, gel strength 2.81 g. Force, pH 9.27, LOD value 10.01% and ash content 29.57%. While from the test of carrageenan floating tablets matrix that the release of the maximum active substance is shown by formula 1 with ratio 1; 3.24 with 180 minutes  Keywords: Kappa carrageena, Euceuma cottonii, Natuna Islands, floating tablets matrix
FORMULASI TABLET DARI EKSTRAK BIJI PALA (Myristica fragrans Houtt.) BEBAS MIRISTISIN DAN SAFROL DENGAN METODE GRANULASI BASAH Yova Amijaya Fitri; Dradjad - Priambodo; Keri - Lestari
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.879 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i2.55

Abstract

AbstrakIndonesia adalah negara yang kaya akan tanaman obat. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan obat adalah pala (Myristica fragrans Houtt.). Namun, kandungan miristisin dan safrol pada biji pala memberikan efek yang tidak diharapkan bagi tubuh sehingga harus dipisahkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pemisahan miristisin dan safrol dapat dilakukan dengan metode kromatografi kolom sehingga diperoleh ekstrak biji pala yang bebas miristisin dan safrol. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ekstrak biji pala bebas miristisin dan safrol (PBMS) memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemik dan antidislipidemik. Penelitian ini bertujuan membuat formula sediaan tablet dari ekstrak PBMS yang memenuhi persyaratan dan memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemik dan antidislipidemik. Metode penelitian eksperimental meliputi ekstraksi, pemisahan miristisin dan safrol, formulasi sediaan tablet dengan perbedaan variasi konsentrasi PVP yaitu 2%, 3%, 4%, dan 5%, evaluasi sediaan tablet, dan pengujian aktivitas sediaan tablet. Hasil penelitian menujukkan bahwa sediaan tablet yang dibuat memenuhi persyaratan kualitas tablet. Berdasarkan data hasil kromatografi lapis tipis (KLT), zat berkhasiat dari ekstrak PBMS masih terdapat dalam sediaan tablet setelah melalui tahapan formulasi. Berdasarkan pertimbangan klinis untuk terapi diabetes melitus maka diperlukan tablet yang dapat segera hancur agar dapat segera memberikan aktivitas. Tablet yang memiliki waktu hancur tercepat adalah tablet formula 1 (F1) dengan waktu hancur 6,71 menit. Kata kunci : Ekstrak, Formulasi, Myristica fragrans Houtt., Pala, Tablet AbstractIndonesia is a rich country in medicinal plants. One of the plants can be used as a medicinal plant is nutmeg (Myristica fragrans Houtt.). However, the content of myristicin and safrole on nutmeg give undesirable effects to the body, so they need to be removed. Myristicin and safrole can be removed using column chromatography method. Based on previous research, nutmeg seed extract free myristicin and safrole (PBMS) have antihiperglicemic and antidislipidemic activities. This research aims to create a tablet formulation of PBMS that meet the requirements and have antihiperglicemic and antidislipidemic activities. Experimental methods include extraction, separation myristicin and safrole, tablet formulations with variations concentration of PVP 2%, 3%, 4% and 5%, evaluation of tablets and tablet activities assay. The results showed that the tablets which formulated are meet the requirements of good quality tablets. Based on the data of thin layer chromatography (TLC), efficacions substance of PBMS were found in the tablets after formulation steps done. Based on clinical considerations for the treatment of diabetes mellitus then needed a tablet that can be disintegrated immediately in order to provide immediate activity. Tablets that have the fastest time of disintegration is formula 1 (F1) which disintegration time is 6.71 minutes.  Keyword : Extract, Formulation, Myrisytica fragrans Houtt., Nutmeg, Tablet

Page 7 of 13 | Total Record : 130