cover
Contact Name
Nur Asni Setiani
Contact Email
nur.asni@stfi.ac.id
Phone
+6285718360277
Journal Mail Official
jurnal@stfi.ac.id
Editorial Address
Gedung 1 Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta no. 354 (Parakan Resik) Bandung, 40266 West Java, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Indonesia
ISSN : 23032138     EISSN : 2830201X     DOI : http://dx.doi.org/10.58327/jstfi
Core Subject : Health, Science,
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA (P-ISSN: 2303-2138) is open access and peer-reviewed (double-blind) Scientific Journal that publishes all research articles/reviews/ short communication related to the pharmacy research. The focus of JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA is to publish articles in pharmacy. Scope of this journal are: 1. Pharmacology, 2. Pharmaceutical biology, 3. Pharmacy, 4. Pharmaceutical chemistry, 5. Community pharmacy, 6. Biotechnology and biomolecular sciences.
Articles 130 Documents
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN KRIM PELEMBAB DIMETHYLSILANOL HYALURONATE DENGAN PENAMBAHAN BASIS NANO DAN FASE MINYAK KELAPA MURNI Sani Nurlaela Fitriansyah; Sani Nurlaela Fitriansyah; Dolih - Gozali
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.496 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i1.34

Abstract

 AbstrakBasis nano merupakan aplikasi hasil nanoteknologi dalam farmasi. Penelitian formulasi dan evaluasi fisik sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate dengan penambahan basis nano dan fase minyak kelapa murni dilakukan untuk melihat kestabilan fisik sediaan krim tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi fisik (pengamatan organoleptis, pH, dan viskositas), pengujian stabilitas fisik menggunakan metode sentrifugasi, pengamatan distribusi sediaan krim, dan pengujian iritasi pada kulit. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara fisik sediaan krim dengan fase minyak kelapa murni stabil dan memenuhi standar, bahkan sediaan krim dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% memberikan stabilitas dan penampilan fisik terbaik. Hasil distribusi pada sediaan krim, menunjukkan tidak adanya penumpukan globul dan globul-globul dalam sediaan krim tersebut terlihat merata Hasil pengujian iritasi sediaan krim pelembab dimethylsilanol hyaluronate 6% dengan perbandingan antara basis nano 10% dan fase minyak kelapa murni 10% tidak mengiritasi kulit. Kata kunci: Krim, pelembab, dimethylsilanol hyaluronate, krim, minyak kelapa murni AbstractNano base is the application of result nanotechnology in the pharmacy field. A research about the formulation and evaluation of physical stability of dimethylasilanol hyaluronate moisturizing cream with nano base and the phase of virgin coconut oil had been carried out to observe the physical stability of the cream dosage form. This research had through the physical evaluation (which included the organoleptic, pH, and viscosity), the physical stability using centrifugation method, the distribution of the nano cream dosage form in macroscopic and microscopic, and a skin irritation test. The result of observation indicated that dosage form of dimethylsilanol hyaluronate cream between nano bases 10% and 10% phase of virgin coconut oil gave the stability and the best physical performance so far. The distribution of cream preparation showed inagglomerate globules and looked smooth. The result of skin irritation test of 6% dimethylsilanol hyaluronate cream in 10% nano bases and 10% phase of virgin coconut oil had been proven as-non irritating.  Keywords: Cream, moisturizing, dimethylsilanol hyaluronate, nano cream, virgin coconut oil.
PENANDAAN DIETIL KARBAMAZIN (DEC) DENGAN RADIONUKLIDA TEKNESIUM-99m SEBAGAI SEDIAAN DIAGNOSTIK UNTUK DETEKSI DINI FILARIASIS Aang - Hanafiah; Nurlaila - Z; Nanny Kartini Oekar; Misyetti - -
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.242 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v4i1.43

Abstract

AbstrakSalah satu penyakit menular yang pada tahun belakangan ini menyerang beberapa provinsi di Indonesia adalah penyakit kaki gajah (elephantiasis) atau dikenal dengan filariasis. Beberapa daerah sudah dinyatakan endemik. Karena jumlah penderita filariasis cukup signifikan dengan memberikan dampak menahun yang sangat mengganggu, tidak hanya nilai estetika, namun juga penurunan produktivitas kerja, kualitas hidup dan penurunan indeks pembangunan, maka penyakit ini mendapat perhatian serius dari Kementerian Kesehatan RI. Karena itu pula, di dalam Agenda Riset Nasional (ARN) 2005-2025, ruang lingkup penelitian dalam menanggulangi penyakit menular, termasuk filariasis, lebih diarahkan pada pengembangan metode pengendalian dan pencegahan, dimana salah satu lingkup kegiatannya adalah penelitian tentang diagnosis dan pendeteksian dini. Permasalahan yang dihadapi oleh hampir semua pihak dalam memberantas penyakit infeksi atau penyakit menular, yaitu terlambatnya penyakit tersebut terdiagnosis atau terdeteksi lebih awal. Mengingat bahwa Dietilkarbamazin sering djadikan obat pilihan pada penanganan filariasis, dan dari struktur kimianya memungkinkan dapat ditandai dengan unsur radioaktif yang kelak dapat digunakan sebagai perunut (tracer) dalam proses diagnosis teknik nuklir kedokteran, maka untuk tujuan tersebut telah dilakukan penandaan Dietilkarbamazin dengan radionuklida teknesium-99m. Penandaan dilakukan dengan metode tidak langsung menggunakan DTPA dan Glukoheptonat sebagai co-ligand. Hasil penandaan optimal dengan kemurnian radiokimia di atas 95% diperoleh pada komposisi formula yang mengandung 4mg DEC, 100μg SnCl2.2H2O, pH 4, dan waktu inkubasi 5-20 menit pada suhu kamar. Dengan tersedianya senyawa bertanda radioaktif berbasis obat yang spesifik bekerja terhadap cacing filaria, diharapkan sediaan ini dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi praktisi medis dalam mendeteksi penyakit filariasis lebih dini. Kata kunci: DEC, Teknesium-99m, filariasis  AbstractOne of the infectious diseases attacked several provinces in Indonesia in recent years is elephantiasis or known as filariasis disease. Some already declared as endemic areas. Because a significant number of filariasis patients with chronic impacts are very disturbing, not only in aesthetic value, but also a decrease in productivity, quality of life and lowering in development index, the disease is getting serious attention from the Indonesian Ministry of Health. Hence, in the National Research Agenda (ARN) 2005-2025, the scope of research in the treatment of infectious diseases, including filariasis, more focused on the development of control and prevention methods, where the scope of its activity is on the diagnosis research and early detection. The problem faced by almost all parties in combating infectious or contagious disease, is a delay in diagnosis or in early detection. Considering that Diethylcarbamazine often used as the drug of choice in the treatment of filariasis, and the possibility of chemical structure that can be labeled with a radioactive substance to be used as a tracer in the nuclear medicine diagnostic techniques, then in the present study the labeling of Diethylcarbamazine with technetium- 99m radionuclide has been carried out using DTPA and Glucoheptonate as co-ligand. The optimal labeling with the chemical purity more than 95% was obtained on the composition formula containing of 4mg DEC, 100μg SnCl2.2H2O, pH 4, and the incubation time of 5-20 minutes at room temperature. With the availability of labeled compounds based on specific drugs that work against filarial worms, we all hope that this preparation can be used to solve the problems faced by medical practitioners in detecting filariasis disease as early as possible.  Keywords: DEC, Technetium-99m, filariasis
OPTIMASI METODE ANALISIS ZINC PYRITHIONE DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Syarif - Hamdani; Adang - Firmansyah; Yuanita - Permana
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.704 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i2.35

Abstract

AbstrakZinc Pyrithione (ZnPT) dapat dianalisis kadarnya dengan berbagai metode, salah satunya dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Peneliti terdahulu telah mengembangkan metode analisis ZnPT dengan KCKT fase terbalik sebagai kompleks copper pyrithione (CuPT), tetapi setelah diaplikasikan di laboratorium, metode ini tidak memenuhi syarat kesesuaian sistem karena koefisien variasi area lebih dari 2%. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum untuk menentukan kadar ZnPT dalam sediaan sampo dengan metode KCKT melalui variasi perbandingan komposisi dan pH fase gerak, variasi laju alir, dan variasi suhu kolom. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kondisi optimum untuk analisis ZnPT dilakukan pada panjang gelombang 240 nm, menggunakan kolom Licrocart Lichrospher RP-18, fase gerak campuran larutan dapar fosfat 0,2 M pH 6,0 : asetonitril (60 : 40), laju alir 1,0 mL/menit, suhu kolom 25°C dan volume injeksi 10 μL. Hasil validasi metode analisis pada kondisi optimum mempunyai selektivitas yang baik dan menunjukkan hubungan yang linear antara luas area dibawah kurva dengan konsentrasi pada rentang 3,08-24,62 μg/mL dan koefisien korelasi (r2) sebesar 0,995. Perolehan kembali hasil uji akurasi sebesar 99-101% pada konsentrasi CuPT diatas 12,31 μg/mL dan simpangan baku relatif hasil uji presisi sebesar 0,65%. Kondisi optimum ini efektif digunakan untuk analisis ZnPT dalam sediaan sampo dengan konsentrasi diatas 12,31 μg/mL.. Kata kunci: zinc pyrithione, copper pyrithione, kromatografi cair kinerja tinggi, sampo anti ketombe AbstractZinc pyrithione (ZnPT) levels can be analyzed by various methods, one of common method is using high performance liquid chromatography (HPLC). Previous researchers had developed a method of ZnPT analysis by reverse phase HPLC as copper pyrithione complex (CuPT), but when applied in the laboratory, this method did not qualified because coefficient variation of the system suitability of an area more than 2%. The aims of this study was to determine optimum conditions for determining dosage levels in shampoo ZnPT by HPLC through a variety of comparison methods and pH of mobile phase composition, flow rate variations, and column temperature variations. Result shown that optimum conditions for ZnPT analysis performed at a wavelength of 240 nm, used Licrocart LiChrospher RP-18 column, mixture of 0.2 M phosphate buffer pH 6.0: acetonitrile (60 : 40) as a mobile phase, flow rate at 1.0 mL/min, column temperature 25°C and injection volume 10 mL. Validation analysis at optimum conditions has a good selectivity and shown a linear relationship between area under curve with a concentration at range of 3.08-24.62 μg/mL and correlation coefficient (r2) of 0.995. Retrieval of test results accuracy of 99-101% at concentrations above CuPT 12.31 μg/mL and a standard deviation of the relative precision of test results by 0.65%. The optimum condition was effectively used for analysed shampoo contented ZnPT at concentration above 12.31 μg/mL. . Keywords: zinc pyrithione, copper pyrithione, high performance liquid chromatography, anti-dandruff shampoo
AKTIVITAS ANTI CACING EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (Areca catechu L.) TERHADAP Ascaridia galli Yessi - Febriani; Saeful - Hidayat; Serry - Seftiana
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.064 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i2.36

Abstract

AbstrakTelah dilakukan pengujian efektivitas antelmintik ekstrak etanol biji pinang (Areca Catechu L.). Pengujian dilakukan secara in vitro dengan hewan uji Cacing Ascaridia galli yang direndam di dalam larutan ektrak biji pinang, dengan pembanding piperazin sitrat 0,2%. Hewan uji dibagi dalam lima kelompok masing-masing terdiri dari lima 5 ekor cacing Ascaridia galli . Kelompok I, II, III, adalah kelompok uji ekstrak biji pinang pada konsentrasi 1%, 2%, 4%. Kelompok IV, adalah pembanding piperazin sitrat pada konsentrasi 0,2%, sedangkan kelompok kontrol negatif menggunakan NaCl 0,9%. Data yang dikumpulkan adalah jumlah total cacing yang mati pada setiap perlakuan selama 24 jam. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji pinang (Areca catechu L.) memiliki efek antelmintik pada semua konsentrasi dan yang mempunyai efek antelmintik yang paling baik dengan jumlah cacing yang mati sebanyak 11 cacing dari 15 sampel yang digunakan adalah ekstrak etanol biji pinang pada konsentrasi 4%, namun tidak lebih baik dari jumlah cacing yang mati pada piperazin sitrat sebanyak 15 cacing dari 15 sampel. Kata kunci: Antelmintik, Ascaridia galli, Pinang (Areca Catechu L.). AbstractTesting has been done ethanol seed extract effectiveness anthelmintic of betel nut (Areca catechu L.). Tests conducted in vitro with worms Ascaridia galli as experiment animals were soaked in a solution of betel nut extracts, by compared piperazine citrate 0.2%. Test animals were divided into five groups, each consisting of five 5 worms Ascaridia galli. Groups I, II, III, is a test group areca seed extract at a concentration of 1%, 2%, 4%. Group IV, is a comparison piperazine citrate at a concentration of 0.2%, whereas the negative control group using 0.9% NaCl. The data collected is the total number of dead worms in each treatment for 24 hours. The results showed that the ethanol extract of betel nut (Areca catechu L.) has anthelmintic effect in all concentrations, and which has the best anthelmintic effect of ethanol extract of betel nut is at a concentration of 4% by the number of dead worms as many as 11 worms from 15 sample were used, but it’s not better than the number of dead worms of piperazine citrate as many as 15 of the 15 samples..  Keywords: Anthelmintic, Ascaridia galli, Betel Nut (Areca Catechu L.).
PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS ISOLASI IMMUNOGLOBULIN YOLK (IgY) DARI TELUR AYAM NEGERI, TELUR AYAM KAMPUNG, DAN TELUR BEBEK DENGAN METODE PEG-PRECIPITATION Nur Asni Setiani
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.114 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i1.49

Abstract

AbstrakTelur ayam dan unggas lainnya merupakan sumber protein hewani yang umum digunakan sebagai bahan pangan. Selain itu, telur memiliki potensi penting sebagai sumber antibodi sehingga dapat digunakan sebagai pabrik biologis alternatif untuk produksi antibodi konvensional. Imunoglobulin yolk (IgY) merupakan imunoglobulin unggas dengan fungsi biologi seperti IgG pada mamalia. Eksperimen ini bertujuan untuk membandingkan produktivitas isolasi IgY dari telur ayam negeri, telur ayam kampung, dan telur bebek dengan menggunakan metode presipitasi PEG sehingga dapat memaksimalkan produksi antibodi. Pengukuran spektrofotometri pada panjang gelombang (λ) 280 nm dilakukan untuk menentukan kuantitas IgY. Ekstraksi dari telur ayam negeri, telur ayam kampung, dan telur bebek masing-masing menghasilkan IgY sebesar 7,896mg/mL, 10,069mg/mL, dan 26,308mg/mL. Hasil SDS-PAGE yang dikuantifikasi dengan menggunakan ImageJ menunjukkan telur bebek memiliki produktivitas isolasi Imunoglobulin Y (IgY) yang paling tinggi (0,242 mg/g) dibandingkan telur ayam kampung (0,103 mg/g) dan telur ayam negeri (0,037 mg/g). Produktivitas imunoglobulin dipengaruhi kandungan nutrisi pada kuning telur.  Kata kunci : Immunoglobulin Y, telur ayam negeri, telur ayam kampung, telur bebek, PEG  AbstractChicken and other poultry eggs are a source of animal protein commonly used as food. In addition, eggs have an important potential as a source of antibodies that can be used as an alternative biological factory for the production of conventional antibodies. Yolk immunoglobulin (IgY) is a poultry immunoglobulin which has a biological function such as mammalian IgG. This experiment aims to compare the productivity of IgY isolation from chicken eggs, free-range eggs, and duck eggs using the PEG precipitation method so that it can be maximized for antibody production. The quantity of IgY is determined by the measurement of the spectrophotometer (λ = 280 nm). The results showed the extraction of chicken eggs, free-range eggs, and duck eggs each yielded IgY of 7,896mg / mL, 10,069mg / mL, and 26,308mg / mL. Results of SDS-PAGE quantified using ImageJ showed duck eggs have the highest productivity of Immunoglobulin Y (IgY) isolation (0.242 mg / g) compared to free-range eggs (0.103 mg / g) and chicken eggs (0.037 mg / g). Immunoglobulin productivity is influenced by nutrient content in egg yolks.  Keywords : Immunoglobulin Y, chicken eggs, free-range eggs, duck eggs, PEG
PENGGUNAAN FTIR-ATR ZnSe (FOURIER TRANSFORM INFRA RED) UNTUK PENETAPAN KADAR KUERSETIN DALAM TEH HITAM (Camellia sinensis L.) Wiwin - Winingsih; Mursyida - Ulfa; O - Suprijana
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1403.459 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v5i1.53

Abstract

AbstrakKuersetin adalah senyawa yang memiliki efek antioksidan dan terdapat pada berbagai macam tumbuhan, salah satunya teh hitam. Pada penelitian ini kuersetin pada teh ditetapkan kadarnya dengan cara FTIR ATR ZnSe. Metode FTIR ATR (attenuated total reflectance) merupakan teknik FTIR sederhana dan dapat digunakan pada pengukuran sampel dalam bentuk padat dan cairan. ATR merupakan teknik yang sangat cepat dan hanya memerlukan sampel dalam jumlah yang sedikit. Sampel teh diekstraksi dengan pelarut etanol 96% secara sonikasi dan dihidrolisis menggunakan HCl 1N. Analisis kuantitatif didasarkan pada nilai absorbansi pada bilangan gelombang 1508 cm-1- 1513 cm-1yang merupakan nilai serapan gugus C=C pada kuersetin. Pembuatan kurva kalibrasi dilakukan dengan menggunakan metode penambahan standar kuersetin dengan lima variasi konsentrasi, yaitu 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4% dan 0,5% ke dalam 50 mg sampel. Berdasarkan hasil perhitungan kurva kalibrasi diperoleh kadar kuersetin dalam sampel yaitu 0,186%. Kinerja analitis yang dilakukan diantaranya akurasi, presisi dan linearitas. Uji akurasi dilakukan pada konsentrasi teh yaitu 80% (40 mg sampel + 10 mg KBr), 100% (50 mg sampel), 120% (50 mg sampel + 10 mg kuersetin standar), ketiganya memenuhi parameter akurasi yang dipersyaratkan yaitu pada rentang 98% - 102%. Presisi dilakukan dengan menghitung RSD yaitu 1,72 memenuhi rentang nilai RSD ≤ 2,5. Uji linearitas dilakukan terhadap standar kuersetin dengan lima variasi konsentrasi, yaitu 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4% dan 0,5% memiliki nilai koefisien korelasi (r) 0,93 dengan rentang konsentrasi 0,1 – 0,5%. Analisis kuersetin dengan metode FTIR-ATR ZnSe menunjukkan kinerja analitik yang baik dengan nilai akurasi dan presisi memenuhi standar validasi.  Kata Kunci: Kuersetin, Teh Hitam, FTIR-ATR ZnSe  AbstractQuercetin is an antioxidant agent that widely produced by plant, one of it is tea. In this research the determination of quercetin from black tea was carried out by FTIR ATR ZnSe method. FTIR ATR ZnSe techniques are simple and can be used in the measurement of the sample in the form of solids and liquids. ATR is a technique that is very fast and requires only small amounts of sample. The sample was extracted by sonication using ethanol 96% as the solvent and hydrolyzed by HCl 1N. The quantitative analysis was based on the absorbance value at wave number 1508 cm-1 to 1513 cm-1which was the absorbance of C = C group in quercetin. Calibration curve was made by standard addition method. The concentration of standard quercetin used was 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4% and 0,5% in 50 mg of sample. The concentration of quercetin in the sample was calculated from the calibration curve and the result was o,186%. the performance of analytical method was determined by measuring accuracy, precision and linearity. Accuracy test carried out by using the concentration of tea 80% (40 mg sample + 10 mg KBr), 100% (50 mg sample), 120% (50 mg sample +10 mg standard quercetin), the result met the parameters required accuracy which is in the range of 98% - 102%. Precision was determined by calculating the RSD the result was 1,72,that was fulfill the required RSD value, which is RSD ≤ 2,5. Linearity test performed on quercetin standard with five variations of concentration, namely 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4% and 0,5% which had the correlation coefficient (r) 0,93 in the concentration range of 0,1 – 0,5%. Analysis of quercetin with FTIR-ATR method showed good analytical performance based on the value of accuracy and precision that met validation standards requirement.  Keywords: Quercetin, Black tea, FTIR-ATR ZnSe
UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL HERBA SURUHAN (Peperomia pellucida (L.) Khunt) PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK DAN KARBOHIDRAT Wangsaatmadja, Aang Hanafiah; Ulfah, Maria; Rospina, Yulianti
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.263 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v10i1.200

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol herba suruhan sebagai antihiperglikemia dan peningkatan sensitivitas insulin. Hewan uji yang digunakan adalah tikus Wistar jantan yang dibagi ke dalam 6 kelompok (n=5), terdiri dari kelompok kontrol tikus normal, kontrol negatif, kontrol positif (metformin 45 mg/kg BB tikus), dan 3 kelompok dosis ekstrak etanol herba suruhan 50, 100, dan 150 mg/kgBB. Induksi hewan model hiperglikemia dilakukan dengan pemberian pakan tinggi lemak dan karbohidrat pada masing-masing kelompok selama 60 hari, kecuali kelompok kontrol tikus normal. Semua kelompok hewan dipuasakan selama 18 jam, kemudian kadar gula darahnya diukur. Pada hari ke 61 pengujian dilakukan pada masing-masing kelompok yang sudah diberi sediaan uji secara oral selama 7 hari, setelah itu kadar gula darah puasa akhir tikus diukur. Tes toleransi insulin dilakukan pada hari ke 71 setelah perlakuan. Hasil uji dengan membandingkan nilai konstanta tes toleransi insulin (KTTI) kelompok perlakuan terhadap kelompok tikus resistensi insulin menunjukkan terjadinya penurunan kadar glukosa darah dan peningkatan sensitivitas insulin yang signifikan (p≤0,05). Nilai KTTI pada ketiga kelompok dosis ekstrak etanol herba suruhan diperoleh berturut-turut sebesar 95,87; 74,44; dan 84,77 lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol tikus resistensi insulin.
PEMBUATAN DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN OBAT NYAMUK ELEKTRIK DARI BUNGA Plumeria acuminate W.T ait Vinaliza - -; Tuti - Wiyati; Dolih - Gozali
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.921 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v3i2.39

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan daerah tropis dan menjadi satu di antara tempat perkembangan beberapa jenis nyamuk yang membahayakan kesehatan manusia. Pengendalian nyamuk dilakukan berbagai macam cara, salah satunya adalah penggunaan obat nyamuk elektrik. Tujuan penelitian ini adalah membuat obat anti nyamuk elektrik dari bunga kamboja (Plumeria Acuminate W.T. Ait). Pada penelitian ini dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol (+), kontrol (-), konsentrasi 1%, konsentrasi 0,6%, konsentrasi 0,2%. Penelitian ini dilakukan selama 8 jam untuk masing-masing kelompok. Penelitian terakhir menemukan anti nyamuk berbahan alam yang mengandung senyawa aktif geraniol (C10H8O), citronelol (C10H20O), linalool (C10H8O), eugenol (C10H12O2). Pada bunga kamboja juga terdapat kandungan yang sama mempunyai efek sebagai anti nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan semua konsentrasi mempunyai efek anti nyamuk, namun hasil yang paling baik ditunjukkan oleh konsentrasi 1% yang membunuh nyamuk selama 8 jam.. Kata kunci: Nyamuk, Bunga Kamboja, Keping Anti Nyamuk Elektrik AbstractIndonesia is a tropical area and be one of the place development some types of mosquitoes that harm of human health. Mosquito controlled by various ways, one of which is the use of electrically anti-mosquito. The purpose this research is made of the electrically anti mosquito frangipani flower (Plumeria acuminate WT Ait). This research were conducted in 5 groups, control (+), control (-), concentration 1%, concentration 0.6%, concentration 0.2%. The research was conducted for 8 hours per each group. Last research found that from nature mosquito repellent contained active compounds geraniol (C10H8O), citronelol (C10H20O), linalool (C10H8O), eugenol (C10H12O2). The frangipani flower also contained it that has effect as an anti-mosquito. The results showed all the concentration have effect as the anti-mosquito, but the best results was shown by the concentration of 1% killed mosquitoes for 8 hours..  Keywords: Mosquitoes, Flowers Cambodia, Chips Anti Mosquito Electric
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK N- HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN ETANOL Morus alba L. TERHADAP BAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI Diah Lia Aulifa; Yessi - Febriani; Maria Selviana Rendo
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.622 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v4i2.48

Abstract

AbstrakFraksi etil asetat ekstrak metanol kulit akar dan ekstrak etanol daun murbei (Morus alba L.) diketahui mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol buah murbei terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus sanguinis. Simplisia buah murbei diekstraksi menggunakan kepolaran bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol dengan metode maserasi. Pada simplisia dan ekstrak dilakukan skrining fitokimia, karakterisisasi simplisia dan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar. Penentuan Kadar Hambat Minimum (KHM) dilakukan terhadap ekstrak paling aktif dengan metode difusi Agar dan diidentifikasi menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan ekstrak paling aktif adalah ekstrak etil asetat dengan nilai KHM 8 mg/ml dan 9 mg/ml terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus sanguinis. Hasil analisis statistika untuk taraf α = 0,05 menunjukkan adanya perbedaan daya hambat antara kontrol dengan ekstrak etanol dan etil asetat. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak etil asetat menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid, fenolat, kuinon, monoterpen dan seskuiterpen. Hasil identifikasi dengan KLT menunjukkan bahwa pada ekstrak etil asetat terdapat 10 spot dengan masing-masing Rf 0,04; 0,08; 0,16; 0,36; 0,48; 0,74; 0,78; 0,86 dan 0,94.  Kata kunci: buah murbei (Morus alba L.), Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, KHM, Antibakteri.  AbstractEthyl acetate fraction of methanol extract of the root bark and ethanol extract of mulberry leaves (Morus alba L.) was known to have an antibacterial activity against Streptococcus mutans. The aims of this research is to know the antibacterial activity of n-hexane, ethyl acetate, and ethanol extract against Streptococcus mutans and Streptococcus sanguinis. Mulberry fruit was extracted by a maceration method using gradient polarity solvents (n-hexane, ethyl acetate and ethanol). The phytochemical screening and characterization of crude drugs and extract were carried out, and identified by Thin Layer Chromatography (TLC). The antibacterial activity and the minimum inhibitory concentration (MIC) of the most active extract were determined using the agar diffusion method. The antibacterial activity showed the most active extract was ethyl acetate extract with MIC value 8 mg/ml and 9 mg/ml against Streptococcus mutans and Streptococcus sanguinis. The statistical analysis for level α = 0.05 showed differences inhibition between the control with ethyl acetate and ethanol extracts. The phytochemical screening of ethyl acetate extract showed flavonoid, phenolat, quinone, and monoterpene and sesquiterpene groups. The identification using TLC showed 10 spot with Rf 0.04; 0.08; 0.16; 0.36; 0.48; 0.74; 0.78; 0.86 and 0.94 respectively in the ethyl acetate extract.  Keywords: mulberry fruit (Morus alba L.), Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, MIC, Antibacterial
PEMBUATAN SEDIAAN PELEMBUT TUMIT BENTUK BATANG (STICK) KOMBINASI EKSTRAK BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill.) DENGAN SERBUK GETAH BUAH PEPAYA (Carica papaya Linn.) Yessi - Febriani; Aang - Hanafiah; Ade Syifa Fahriyah
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.01 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v4i1.40

Abstract

AbstrakKandungan gizi dari buah alpukat bermanfaat dalam melembabkan dan melindungi kulit dari kekeringan, begitu juga dengan getah buah papaya yang bermanfaat untuk mengobati pecah-pecah pada tumit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan pelembut tumit bentuk batang (stik) dari kombinasi ekstrak buah alpukat (Persea americana Mill.) dan serbuk getah buah pepaya (Carica papaya Linn.) yang baik, stabil, dan aman pada penggunaannya. Kombinasi konsentrasi ekstrak buah alpukat (Persea americana Mill) dan serbuk getah buah pepaya (Carica papaya Linn.) pada pembuatan sediaan bentuk batang (stik) berturut - turut adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%, 20%, 15%, 10%. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah penyiapan ekstrak, pengujian kualitatif ekstrak, formula sediaan bentuk batang (stik), pemeriksaan kestabilan sediaan meliputi pengamatan organoleptis, homogenitas, pengujian pH, uji keamanan dan uji efektivitas selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sediaan pelembut tumit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Efektivitas yang baik dan aman untuk melembutkan kulit, ini ditunjukkan oleh formula 2 (F2) dan formula 5 (F5). Kata kunci: Alpukat, Pepaya, Kulit, Stik AbstractNutritional content of avocado fruit is useful in moisturizing and protecting the skin from dryness, as well as papaya latex useful for treating chapped heels.This study aims to make a preparation softener heel shape rod (stick) from a combination of avocado extracts (Persea americana Mill.) and powdered latex papaya (Carica papaya Linn.) that good, stable, and safe to use. The combination of concentration of fruit extract avocado (Persea americana Mill) and powdered latex papaya (Carica papaya Linn.) On making preparations form of rods (sticks) respectively - also are 5%, 10%, 15%, 20% and 25%, 20%, 15%, 10%. Stages of the research are preparation extract, qualitative testing, formulation dosage form of rods (sticks) observations of organoleptic stability, homogeneity, pH, safety and efficacy testing for 28 days. The results showed that all preparations heel softener produced are good quality and does not cause irritation to the skin. Produced effective and safe to soften the skin, as shown by the formula 2 (F2) and the formula 5 (F5).  Keywords: avocado, papaya, skin, sticks

Page 5 of 13 | Total Record : 130