cover
Contact Name
Herkulanus Pongkot
Contact Email
pherkulanus@gmail.com
Phone
+6285245627510
Journal Mail Official
jurnalkat@gmail.com
Editorial Address
Jl. Parit Haji Muksin 2, Km. 2, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat
Location
Kab. kubu raya,
Kalimantan barat
INDONESIA
Borneo Review : Jurnal Lintas Agama dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 28305159     DOI : https://doi.org/10.52075/br.v1i2.80
Core Subject : Religion, Art,
Borneo Review: Jurnal Lintas Agama dan Budaya is religious dan cultural interdisciplinary studies that welcoming and acknowledging theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students. This publication concern includes studies of world religions such as Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, Islam and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 55 Documents
Membangun Iman dalam Era Digital: Peran Media Sebagai Alat Evangelisasi Kontemporer Arnoldus Nofrianus Koli
Borneo Review Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/cse12v41

Abstract

This study aims to analyze the role of digital media in building the faith of Christians and how media can be effectively utilized as a tool of evangelization in the contemporary era. The main problem studied is the extent to which digital media can be a relevant and impactful means of evangelization in the faith life of modern society, especially the younger generation who are familiar with technology. The method used in this research is a qualitative approach with data collection techniques through literature studies, observation of religious digital content, and in-depth interviews with digital ministry actors, such as priests, Catholic content creators, and active social media users. The results show that digital media has great potential in delivering messages of faith creatively, quickly, and widely. However, its effectiveness is highly dependent on the quality of the message, the cultural context of the users, and the active involvement of the ecclesial community. This research confirms that media is not just a tool, but can become a new spiritual encounter space that supports the evangelization process in the digital world.
Dekonstruksi Otoritarianisme Hermeneutis Khaled Abou El Fadl: Relevansi Dan Implikasi Etis pada Moderasi Beragama di Indonesia Anselmus Dore Woho Atasoge; Dominikus Doni Ola
Borneo Review Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/j9q19q94

Abstract

This research aims to deconstruct Khaled Abou El Fadl's hermeneutical framework and analyze its methodological relevance in responding to the dynamics of sacred text interpretation in Indonesia. The phenomenon of interpretive authoritarianism frequently triggers socio-religious polarization, necessitating accountable epistemological instruments. Employing a qualitative method through critical textual analysis of the monumental work Speaking in God’s Name, this study dissects the pathology of "selective subjectivity" which lies at the root of absolute truth claims. The findings indicate that El Fadl offers an integrative solution through five pillars of contingency—honesty, diligence, comprehensiveness, reasonableness, and self-restraint—as ethical-intellectual verification standards in interpretation. These results confirm that the application of El Fadl's democratic hermeneutics is highly significant for the Indonesian context, particularly in strengthening the paradigm of religious moderation (wasatiyyah) and mitigating intellectual stagnation caused by the monopoly of truth by certain religious authorities.
Dari Cap Tangan Prasejarah ke Islamisasi: Kontinuitas Simbolik dan Diskontinuitas Makna Pada Upacara Adat Bugis Menre Bola Baru Xalastinus Jasper Hanta
Borneo Review Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/1pfd5e24

Abstract

Artikel ini menelaah transformasi simbolik dan teologis dalam ritus Menre Bola Baru pada masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan. Tradisi ini memadukan tiga lapisan peradaban: unsur prasejarah berupa cap tangan di Leang-Leang, warisan pra-Islam yang meliputi kosmologi I La Galigo dan kepercayaan kepada Dewata SuwaE, serta ekspresi religius Islam yang masuk sejak abad ke-17. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Harry J. Benda tentang kontinuitas dan diskontinuitas pengaruh Islam terhadap budaya di Nusantara, yang membedakan antara kontinuitas struktural dan diskontinuitas ideologis dalam proses Islamisasi. Pendekatan hermeneutik diterapkan untuk membaca simbol-simbol ritus serta dinamika reinterpretasinya lintas zaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol-simbol budaya Bugis dalam upacara Menre Bola Baru, yang meliputi rumah panggung, cap tangan, narasi sakral, dan peran sanro bola, mengalami kesinambungan kultural sekaligus pergeseran makna teologis yang fundamental. Cap tangan tersebut merupakan warisan prasejarah dan dibaca sebagai akar simbolik yang diwariskan dan diartikulasikan dalam prosesi ritus rumah panggung. Perubahan terjadi dari sakralitas kosmos-leluhur menuju sakralitas transenden dalam Islam. Islamisasi tidak menghapus simbol budaya Bugis, melainkan menafsirkannya ulang sehingga menghasilkan identitas religius yang berakar pada budaya lokal sekaligus terbuka terhadap ajaran Islam.
Eklesiologi Gereja Lokal: Studi Deskriptif tentang Kesadaran Identitas sebagai Gereja pada Mahasiswa Teologi Semester 3 di STAKat Negeri Pontianak Ona Sastri Lumban Tobing; Exnasia Retno Palupi Handayani; Florentina Dwi Astuti; Oktavianey Gasperius Patana Hamahena Meman
Borneo Review Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/nxgvvc63

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat kesadaran identitas sebagai Gereja pada mahasiswa Teologi semester 3 di STAKat Negeri Pontianak dalam perspektif eklesiologi Gereja lokal. Kesadaran identitas sebagai Gereja dipahami sebagai penghayatan diri sebagai umat Allah yang hidup, berkomunio, dan diutus dalam konteks konkrit komunitas pendidikan tinggi teologi. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode kuantitatif sederhana yang didukung data kualitatif, melalui penyebaran angket tertutup dan terbuka kepada mahasiswa semester 3 serta wawancara terbatas untuk pendalaman pengalaman dan refleksi iman. Data dianalisis untuk melihat pola pemahaman, sikap, dan praktik konkrit yang mencerminkan kesadaran identitas sebagai Gereja, khususnya dalam dimensi communio, partisipasi, dan misi di lingkungan kampus dan paroki. Hasil penelitian menunjukkan dari 17 mahasiswa, 65% menunjukkan kesadaran identitas sebagai umat Allah pada tingkat sedang tinggi (35% tinggi, 30% sedang). Dimensi communio: 70% rutin terlibat dalam komunitas kampus/paroki, tetapi hanya 41% merasa keterlibatan itu memperkuat rasa menjadi Gereja. Dimensi partisipasi: 59% pernah memimpin atau terlibat pelayanan liturgi/pastoral; 41% mengeluhkan keterbatasan kesempatan partisipasi. Dimensi misi: 47% terlibat pelayanan/pengabdian masyarakat dalam setahun terakhir; 62% dari mereka melihatnya sebagai ekspresi identitas eklesial. Wawancara mendalam mengonfirmasi bahwa pengalaman spiritual pribadi, komunitas inklusif, dan praktik pastoral konkret memperkuat identitas eklesial; hambatan utama adalah integrasi kurikulum, pendampingan, dan beban akademik. Kesimpulan bahwa Formasi teologis dan aktivitas rohani di STAKat Negeri Pontianak membentuk kesadaran eklesial mayoritas mahasiswa, namun tingkatnya bervariasi. Perlu penguatan communio dan perluasan peluang partisipasi praktis melalui integrasi praktik pastoral dalam kurikulum dan peningkatan pendampingan rohani bagi mahasiswa Teologi.
Doktrin Pembenaran Katolik dan Lutheran dalam Joint Declaration On The Doctrine Of Justification serta Implikasi Gereja Kristen Indonesia Paulinus Tibo; Thomas Natalisa Tarigan
Borneo Review Vol. 5 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/tx2pyj35

Abstract

Doktrin pembenaran merupakan tema teologis yang sangat mendasar dalam ke – Kristenan dan sejak reformasi abad ke – 16 menjadi salah satu titik perbedaan utama antara Gereja Katolik dan Gereja Lutheran. Penandatanganan  Joint Declaration on the Doctrine of Justiication (1999) menjadi tonggak penting dalam dialog ekumenis karena berhasil merumuskan kesepahaman teologis mengenai pembenaran sebagai karya rahmat Allah yang diterima melalui iman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif pemahaman doktrin pembenaran dalam tradisi Gereja Katolik dan Gereja Lutheran serta menilai relevansinya bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia yang bersifar plural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka deskriptif-analitis melalui penelaahan dokumen resmi Gereja, terutama dokumen  Joint Declaration on the Doctrine of Justification (1999), serta berbagai literatur teologis yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun kedua tradisi masih memiliki perbedaan penekanan teologis dan praktik eklesial, konsensus yang dicapai dalam Joint Declaration on the Doctrine of Justification (1999) memberikan dasar kuat bagi pengembangan sikap saling memahami dan kerja sama ekumenis yang lebih nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa doktrin pembenaran memiliki implikasi pastoral yang penting dalam memperkuat dialog antar Gereja, pembaruan pemahaman iman umat, serta penghayatan kesaksian Kristiani bersama dalam konteks Indonesia.