cover
Contact Name
Herkulanus Pongkot
Contact Email
pherkulanus@gmail.com
Phone
+6285245627510
Journal Mail Official
jurnalkat@gmail.com
Editorial Address
Jl. Parit Haji Muksin 2, Km. 2, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat
Location
Kab. kubu raya,
Kalimantan barat
INDONESIA
Borneo Review : Jurnal Lintas Agama dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 28305159     DOI : https://doi.org/10.52075/br.v1i2.80
Core Subject : Religion, Art,
Borneo Review: Jurnal Lintas Agama dan Budaya is religious dan cultural interdisciplinary studies that welcoming and acknowledging theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students. This publication concern includes studies of world religions such as Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, Islam and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 51 Documents
Misi Umat Kongregasi Pasionis Sebagai Model Katekese Kontekstual Untuk Pembinaan Iman Umat di Wilayah Kalimantan Barat Kwirinus, Dismas
Borneo Review Vol. 2 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v2i1.184

Abstract

Fokus penelitian ini mengkaji tentang misi umat Kongregasi Pasionis sebagai model katekese kontektual untuk pembinaan iman umat di wilayah Kalimantan Barat. Misi Umat Pasionis merupakan strategi misi yang bertolak pada praksis iman umat. Misi Umat Pasionis yang telah dilaksanakan oleh para Misionaris Pasionis Italia di bumi Indonesia khususnya di wilayah Kalimantan Barat merupakan salah satu strategi pembinaan iman umat yang menekankan partisipasi umat. Jadi dapat dikatakan bahwa Misi Umat Pasionis sebagai strategi misi bertitik tolak pada praksis hidup umat, yaitu umat yang menderita, ditindas, diperlakukan tidak adil, terbelakang dalam memajukan kehidupan ekonomi dan pendidikan, iman dan sebagiannya. Dengan demikian dalam menjalankan Misi Umat Pasionis seorang misionaris harus berani tinggal di kampung yang mengalami keterbatasan, baik sarana maupun prasarana. Tujuan penelitian ini untuk menerangkan arti misi umat bahwa misi umat mau membangkitkan semangat umat untuk berpartisipasi dalam kehidupan menggereja. Misi umat merupakan cara yang efektif bagi Gereja untuk menyebarkan Injil dan melayani umat. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan pembacaan kritis atas teks, dengan tidak mengabaikan pengalaman dan hasil pengamatan penulis sebagai seorang religius pasionis. Adapun temuan dari tulisan ini, bahwasanya misi umat dapat menjadi salah satu bentuk katekese, pembinaan serta pendampingan terhadap umat yang dapat diprogramkan secara berkesinambungan.
Konsep Gotong Royong dalam Tradisi Wuat Wa’i Desa Latung Manggarai Perspektif Heidegger: Sebuah Analisis Filsafat Metafisika Jebar, Sirilus
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v3i2.294

Abstract

This article focuses on the concept of mutual cooperation in the wuat wa’i tradition of Latung Manggarai Village in Heidegger's perspective. The concept of mutual cooperation is very strong and has even become a tradition that has been passed down from generation to generation in Latung Village Manggarai NTT. This concept is lived out in the tradition of wuat wa’i as a provision for travel in continuing school to the next level. In principle, for the Manggarai people, life is always related to other people. The purpose of this article is to understand and analyze the concept of gotong royong in the tradition of wuat wa’i in Latung Village Manggarai in Heidegger's perspective, as well as to find the relationship between the concept and Heidegger's metaphysical concepts. In compiling this article, the author uses a qualitative method in the form of descriptive-interpretative through literature sources from books, journals, and other reading sources both offline and online, which then become the author's critical notes and the author uses the interview method directly with several traditional leaders in Latung Village. The findings of this research show that the concept of mutual cooperation in the wuat wa’i tradition in Latung Village Manggarai has a deep and complex meaning in Heidegger's perspective. This concept can be connected to Heidegger's metaphysical concepts such as existence, being, and truth. In addition, the concept of gotong royong also has philosophical values that can be applied in everyday life. This concept shows that humans cannot live alone and need help from others to achieve their life goals. In Heidegger's perspective, the concept of mutual cooperation can be connected to the concept of das sein or human existence which is always in a relationship with others.
Menggali Makna Kebudayaan Ritus Dalok Masyarakat Dayak Uud Danum (Tinjauan Filosofis Konsep Simbol Kebudayaan Ernst Cassier) Andreas
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v3i2.301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna-makna kebudayaan yang terkandung dalam ritus dalok. Ritus dalok biasanya merupakan ritus untuk mengangkat tulang belulang leluhur yang telah meninggal belasan sampai puluhan tahun. Selain kegiatan angkat tulang, dalok juga bisa dilakukan dengan menyemen makam leluhur yang sudah meninggal. Proses ritus kebudayaan ini bisa berlangsung tiga sampai tujuh hari. Tujuan penelitian ini memberikan pemahaman kepada pembaca tentang makna budaya dalok Masyarakat Dayak Uud Danum di provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tiga pertanyaan penuntun sebagai cara mendeskripsikan pembahasan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, yaitu pengumpulan buku-buku Ernst Cassirer dan juga buku-buku kebudayaan. Dalam penelitian ini, penulis menemukan makna budaya dari ritus dalok yaitu mengandung makna penghormatan manusia terhadap Ranying Hatalla dan roh leluhur yang merupakan sesuatu yang bersifat metafisik. Penghormatan ini akan mengalirkan nilai-nilai yaitu berupa ketaatan, hormat dan sikap tanggung jawab untuk merawat dan mengembangkan adat-istiadat.
Konsep Etika Medis Sebagai Larangan Membunuh Dalam Kasus Eutanasia purba kencana, Julio
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eutanasia, tindakan mengakhiri hidup seseorang secara sengaja untuk mengakhiri penderitaan, telah menjadi isu kontroversial dalam bidang kesehatan dan etika medis. Artikel ini mengeksplorasi konsep etika medis sebagai landasan larangan membunuh dalam konteks eutanasia. Konsep etika medis melibatkan prinsip-prinsip dasar seperti otonomi pasien, keadilan, dan kemanusiaan, yang berkolaborasi untuk membentuk kerangka kerja etis dalam praktik medis. Artikel ini membahas perdebatan seputar eutanasia, menggali dampaknya terhadap pasien, keluarga, dan tenaga medis. Analisis melibatkan tinjauan terhadap prinsip etika, serta perspektif moral yang berkembang dalam masyarakat. Selain itu, dampak legal eutanasia di berbagai yurisdiksi turut dipertimbangkan. Penekanan diberikan pada konflik antara hak individu untuk mengakhiri penderitaan dan tanggung jawab etis tenaga medis untuk mempromosikan dan melindungi kehidupan. Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami dan menghormati nilai-nilai kultural, agama, dan sosial yang dapat mempengaruhi pandangan terhadap eutanasia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep etika medis, dengan landasan pada prinsip-prinsip fundamental, dapat memberikan panduan yang kuat dalam menilai dan memahami kontroversi seputar eutanasia. Implikasi etis dari praktik ini memerlukan perhatian serius terhadap perbandingan nilai dan norma dalam masyarakat yang semakin multikultural dan pluralistik. Penelitian ini mendorong untuk mempertimbangkan pendekatan holistik dan berbasis nilai dalam menangani kasus eutanasia, untuk mencapai keseimbangan antara otonomi pasien, keadilan, dan kewajiban etis tenaga medis.
Implementasi Tari Karo Dalam Liturgi Inkulturasi Berdasarkan Ideologi Mehamat Man Kalimbubu Ginting, Duen; Purwanti, Purwanti; Dona, Yohanes; Yuan Fimanda, Antonius; Daslan, Marianus; Oyan, Orlinus
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v3i2.382

Abstract

Inkulturasi Liturgi tidak bisa dipungkiri menjadi tema yang sangat signifikan dalam proses pewartaan iman Katolik di tengah bangsa-bangsa di dunia. Kebutuhan akan pentingnya memasukkan nilai-nilai budaya dalam liturgi Katolik menjadi sagat penting mengingat beragamnya budaya dan cara umat memahami iman Katolik. Menggunakan unsur-unsur budaya dalam liturgi Katolik menjadi alat bantu bagi umat untuk lebih memahami makna dan nilai dari kekatolikan itu sendiri . Budaya Karo adalah salah satu dari sekian banyak budaya di Indonesia yang menjadi topik dari penelitian ini. Penggunaan tari dalam ritus persiapan persembahan tampaknya dapat dilakukan dalam konteks inkulturasi liturgi melihat adanya kesamaan-kesamaan nilai dalam adat Karo maupun nilai dari ritus persembahan itu sendiri. Ideologi mehamat man kalimbubu dan bagaimana masyarakat Karo menghidupi nilai-nilai itu, tampak dalam penggunaan tari sebagai bentuk penghormatan mereka kepada kalimbubu, khususnya adalam ritus mbaba kampil. Ritus ini dapat digunakan sebagai dasar dari proses inkulturasi. Penggunaan tari Karo sebagai ekspresi ideologi mehamat man kalimbubu dalam ritus persembahan diharapkan dapat membuka pintu kepada pemahaman akan nilai-nilai kekatolikan. Selain itu, melibatkan komunitas Karo secara aktif dalam proses inkulturasi liturgi juga dapat menjadi langkah lebih lanjut. Memungkinkan partisipasi langsung dari umat dalam menyelenggarakan ibadah dengan sentuhan budaya lokal mereka sendiri dapat meningkatkan rasa memiliki dan kedekatan spiritual. Hal ini bisa mencakup penggunaan bahasa lokal dalam doa-doa atau pembacaan kitab suci, sehingga memudahkan umat Karo untuk meresapi ajaran Katolik dalam konteks budaya mereka.
Allah Dalam Budaya Bejopai Nugal (Nilai-Nilai Keilahian dalam Budaya Bejopai Nugal Suku Dayak Kubint) Monika Anisa Putri A; Martinus; Pongkot, Herkulanus
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v3i2.477

Abstract

Terdapat berbagai budaya di suku Dayak Kubint yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah budaya bejopai nugal. Sebagai tradisi turun-temurun, masyarakat suku Dayak Kubint melakukan budaya bejopai nugal untuk menandai musim tanam yang akan dilakukan di ladang. Terdapat tiga kegiatan penting dalam budaya bejopai nugal, yaitu pemberkatan benih beserta alat-alat yang digunakan; pembagian tugas; dan ngumpan gana tanah arai. Peneliti akan mengeksplorasi nilai-nilai keilahian dalam budaya bejopai nugal suku Dayak Kubint dan menguraikan tentang konflik yang dihadapi masyarakat dalam mempertahankan budayanya tetapi tetap setia juga pada kepercayaan agamanya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan alat pengumpulan data berupa wawancara. Nilai-nilai keilahian pada pemberkatan benih beserta alat-alat yang digunakan pada budaya bejopai nugal adalah Allah merupakan sumber berkat utama bagi manusia. Nilai-nilai keilahian pada pembagian tugas adalah Allah menciptakan manusia sebagai perempuan dan laki-laki yang memiliki keunikannya masing-masing untuk saling melengkapi dan membantu. Nilai-nilai keilahian pada ngumpan gana tanah arai adalah Allah merupakan dasar, dan segala sesuatu yang ada didunia ini bersumber dari Allah. Terdapat masalah besar tentang konflik antara kepercayaan tradisional dengan ajaran Gereja Katolik. Hal ini dapat dilihat dari budaya bejopai nugal yang diawali dengan melakukan doa bersama-sama untuk memohon berkat kepada Tuhan. Tetapi diakhiri juga dengan kegiatan untuk memberi makan kepada roh-roh tanah dan air. Hasil penelitian ini penting agar masyarakat suku Dayak Kubint dapat mengintegrasikan iman secara penuh kepada Tuhan dengan budaya lokal, sehingga tercipta sebuah persekutuan yang kuat, berakar pada tradisi tetapi berlandaskan pada ajaran Kristen yang sejati.
Sekilas tentang Dayak [Pangin] Orung Da’an di Desa Nanga Raun Kabupaten Kapuas Hulu Gustaf Hariyanto; Sutami, Florensius; Florentina
Borneo Review Vol. 3 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/br.v3i2.504

Abstract

The primary aim of this research article is to thoroughly explore and articulate the significance of Dayak Orung Daan within the diverse Dayak tribes in Kapuas Hulu, West Kalimantan. Dayak Orung Daan embodies invaluable cultural, historical, and traditional wisdom that must be conserved and seamlessly integrated into human cultural life systems. This integration is imperative in light of the potential erosion of cultural values amidst rapid development. The article seeks to illuminate the socio-cultural dimensions of Dayak Orung Daan, encompassing both historical and contemporary perspectives. The study employed ethnographic methods, including observations, resident interviews, and document and literature analysis. The research revealed substantial socio-cultural wealth in the life, history, belief systems, and philosophy of Dayak Orung Daan. Furthermore, it highlighted the enduring presence of cultural traditions governing the social order of the Dayak Orung Daan community amid social disruption. Keywords: Dayak Orung Daan, socio-cultural, disruption
Identitas Sebagai Bundel Persepsi: Relevansi Filosofi David Hume dalam Pemahaman Kontemporer Tentang Diri dan Kesadaran purba kencana, Julio
Borneo Review Vol. 4 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/50dq0111

Abstract

Artikel ini membahas konsep “bundel persepsi” yang diajukan oleh David Hume, yang menyatakan bahwa identitas pribadi bukanlah entitas tetap, melainkan kumpulan pengalaman dan persepsi yang terus berubah seiring waktu. Menurut Hume, “diri” bukanlah substansi abadi atau inti yang tidak berubah, melainkan rangkaian kesan dan ide yang muncul serta menghilang dalam kesadaran. Identitas bukanlah entitas tunggal, tetapi konstruksi dinamis yang terbentuk dari ingatan dan pengalaman yang terpisah-pisah. Persepsi menjadi unit dasar dari pengalaman manusia, menegaskan bahwa kesadaran kita tidak permanen. Artikel ini juga mengeksplorasi pengaruh teori Hume dalam pemahaman identitas dalam psikologi dan neurosains modern, serta bagaimana konsep diri berkembang dalam konteks tersebut. Selain itu, artikel ini mengkaji kritik terhadap teori Hume, terutama dari filsuf kontemporer yang berpendapat bahwa teori ini kurang memberikan ruang bagi kontinuitas dalam pengalaman manusia. Meskipun demikian, banyak teori berusaha menggabungkan pandangan Hume dengan gagasan kontinuitas kesadaran. Analisis ini menunjukkan pentingnya integrasi antara perubahan dan kontinuitas dalam memahami identitas manusia yang terus berkembang.
Peran Katekis dalam Membimbing Generasi MudaMenghadapi Tantangan Zaman Berdasarkan Dokumen Antiquum Ministerium Chiaralazzo, Monica Innanda; Krismiyanto, Alfonsus
Borneo Review Vol. 4 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/yse5ha52

Abstract

Young people face complex challenges of the times, including secularism and individualism. Both of these beliefs can lead to young people losing fundamental religious and moral values. This research employs a literature study method by examining the document Antiquum Ministerium to explore the role of catechists in assisting young people in facing the challenges of the times.The study found that catechists play an important role in helping young people understand and integrate religious values into their daily lives. How ever, catechists also face challenges in proclaiming the Gospel to young people. Young people today have the freedom to make their own choices in life, including in matters of religion. Therefore, catechists need to be open and respect the beliefs and choices of young people. To overcome these challenges, catechists need to have adequate knowledge and skills in proclamation and pastoral care. They also need to use communication media that are relevant to the needs and interests of young people.  With these efforts, it is hoped that catechists can be agents of change in helping young people to become people of faith, morality, and responsibility.
Refleksi Teologis Fenomena Manusia Menuju Kesempurnaan Iman Pranoto, Damianus Suryo; Riyanto, Armada
Borneo Review Vol. 4 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/34epdv78

Abstract

This research aims to elaborate on the concept of the human person as a "pilgrim" constantly in dynamic growth and development. The primary focus is to understand how the transformation from an "old self" to a mature "new person," both physically and spiritually, can be realized in daily life. The identified problem is how individuals can actualize personal maturity that enables them to love others and overcome egoism, reflecting a willingness to self-sacrifice, much like the metaphor of a "dry leaf" enriching the soil for new growth. To achieve this, the study primarily employs qualitative methods through a philosophical-theological reflective approach and textual analysis of spiritual and existential concepts. Preliminary results indicate that personal maturity is expressed through spiritual maturity and humility, which motivate individuals to serve and love others, free from egoism. This implies that mature faith development is not merely about belief but also about behavioral transformation into socially and spiritually actualized individuals, for the collective good.