cover
Contact Name
Khairizzaman
Contact Email
sintesa@kopertais5aceh.or.id
Phone
+62881024912434
Journal Mail Official
sintesa@kopertais5aceh.or.id
Editorial Address
Kantor Kopertais Wilayah V Aceh, Lantai 3, Gedung Biro Rektorat UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan
ISSN : -     EISSN : 27150666     DOI : -
Jurnal SINTESA is published by the Coordinator of the Islamic Higher Education Institution in Aceh and focuses to publish research articles in the Islamic studies field twice a year. Its scope consists of (1) Islamic theology (2) Islamic law (3) Islamic education (4) Islamic mysticism and philosophy (5) Islamic economics (6) the Study of tafsir and hadith, and (7) Islamic art and history.
Articles 37 Documents
OTOBIOGRAFI KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN Arfah Arfah
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 2, No 1 (2020): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.137 KB) | DOI: 10.22373/sintesa.v2i1.235

Abstract

Nabi Muhammad SAW mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai Rasul (Utusan Allah) dan sebagai Kepala Negara dan Pemimpin masyarakat. Setelah Nabi wafat maka fungsi yang pertama tidak dapat digantikan oleh siapapun. Sedangkan fungsi yang kedua, harus ada yang menggantikannya. Selama sebuah negara masih ada, selama itu pula diperlukan pemimpin untuk memelihara negara dan masyarakat itu. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pemerintahan Islam dipegang oleh empat orang Khalifah yang disebut dengan Khulafa al-Rasyidin. Utsman bin Affan merupakan Khalifah ke-tiga menggantikan Umar bin Khattab yang dibai’at pada tahun 24-36 H/ 644-656 M). Dimasa pemerintahanUtsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil direbut, ekspansi Islam pertama berhenti sampai disini. Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun, Namun pada paruh terakhir pemerintahannya, muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar, ini mungkin karena umurnya yang lanjut yaitu 70 tahun dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa padanya. 
DIMENSI NILAI-NILAI KETELADANAN DALAM BUKU AJAR AQIDAH AKHLAK KELAS VII MADRASAH TSANAWIYAH Ruhana Ruhana
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 3, No 2 (2022): Januari-Juni
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v3i2.559

Abstract

Exemplary is an important aspect of the learning process that takes place in various educational institutions. Exemplary behavior is essential for knowledge transmission to transform into student character. However, exemplary behavior often goes unnoticed, especially in taking its value from the learning material that is taught in class. Therefore, this article aims to briefly map the dimensions of exemplary values contained in student textbooks for the Aqidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah subject. The method used in this article is the literature review method. The book that is the main source of this study is the Textbook for Class VII Students of Madrasah Tsanawiyah, written by Akhmad Fauzi and published by the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia. Based on the literature review conducted, this study found that there are at least several dimensions of exemplary values that can be used as references by teachers when carrying out their duties in the learning process. The dimensions of the exemplary value are: 1) always speaking the truth; 2) always being ready to have a dialogue with anyone; 3) always showing gratitude; 4) being humble; 5) always showing affection; and 6) always prioritizing deliberation in every decision. The six moral values can be implemented by the teacher when carrying out teaching and learning activities by first setting an example in each of his actions. The teacher's example is significant because, after all, exemplary behavior cannot be spoken but must be seen in action to be fully appreciated.AbstrakKeteladanan merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran yang berlangsung di berbagai lembaga pendidikan. Keteladanan adalah kunci agar transmisi pengetahuan yang dilakukan dapat berubah menjadi karakter siswa. Namun, keteladanan seringkali gagal diketahui dan refleksi dari materi pembelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Oleh sebab itu, artikel ini bertujuan untuk memetakan secara ringkas tentang dimensi nilai-nilai keteladanan yang terkandung dalam buku ajar siswa mata pelajaran Aqidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kajian kepustakaan. Buku yang menjadi sumber utama kajian ini adalah Buku Ajar Siswa Kelas VII Madrasah Tsanawiyah yang ditulis oleh Akhmad Fauzi dan diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan, artikel ini menemukan setidaknya terdapat beberapa dimensi nilai keteladanan yang dapat dijadikan rujukan oleh guru ketika menjalankan tugasnya dalam proses pembelajaran. Dimensi nilai keteladanan tersebut adalah 1) senantiasa berkata yang benar/jujur; 2) bersedia untuk selalu berdialog dengan siapa pun; 3) selalu menunjukkan rasa syukur; 4) bersikap rendah hati; 5) selalu menampilkan sikap kasih sayang; dan 6) selalu mendahulukan musyawarah dalam setiap keputusan. Keenam nilai moral tersebut dapat diimplementasikan oleh guru ketika sendang melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan terlebih dahulu mencontohkan dalam setiap tundakannya. Contoh dari guru menjadi penting karena bagaimanapun keteladanan tidak bisa hanya diucapkan tetapi harus diimplementasikan agar dapat dilihat bentuk nyatanya.
Dimensi Nilai-Nilai Moral dalam Buku Ajar Aqidah Akhlak Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Ruhana Ruhana
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 4, No 1 (2022): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v4i1.558

Abstract

This article aims to map the moral values contained in the textbook on Aqidah Akhlak, Class VIII of Madrasah Tsanawiyah. That is, the writer wants to see the form of moral values, their categorization, and their relevance to everyday life. The method used in this study is library research with the following stages: 1) read the entire Aqeedah Akhlak textbook; 2) mark and categorize moral values, morals, and attitudes; 3) summarize and classify the relevance of moral values to everyday life. This study shows that the moral values in the Aqidah Akhlak textbook for class VIII consist of two main relationships that become the foundation of moral values that are connected to one another, namely: Hablum minallah and Hamlum minan nass. These two categories of relationships give rise to several moral values, namely: 1) Hablum minallah: having faith, and 2) Hablum minan nass: having good prejudice towards others and having compassion. Therefore, it can be concluded that moral values form the foundation for everyday behavior and attitudes that are emphasized by every student in their daily lives. The two foundations of this relationship become an identity for every Muslim.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk memetakan nilai moral yang terkandung dalam buku ajar Aqidah Akhlak Kelas VIII Madrasah tsanawiyah. Artinya, penulis ingin melihat wujud nilai moral, kategorisasi dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah riset pustaka dengan tahapan sebagai berikut: 1) membaca secara keseluruhan buku teks Aqidah Akhlak; 2) menandai dan mengategorisasi nilai akhlak, moral dan sikap; 3) Menyimpulkan dan mengklasifikasi relevansi nilai moral dengan kehidupan sehari-hari. Kajian ini menunjukkan bahwa nilai moral dalam buku teks Aqidah Akhlak kelas VIII terdiri dari 2 hubungan utama yang menjadi fondasi nilai moral yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, yaitu: Hablum minallah dan hamlum minan nass. Dua kategori hubungan tersebut menimbulkan beberapa nilai moral yaitu : 1) Hablum minallah: beriman, dan 2) hablum minan nass, berprasangka baik kepada orang lain, berkasih sayang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai moral menjadi fondasi bagi perilaku dan sikap sehari-hari yang ditonjolkan oleh setiap murid dalam keseharian mereka. Dua fondasi hubungan tersebut menjadi identitas bagi setiap muslim. 
Keabsahan Pernikahan Wanita Hamil dengan Pria yang Menghamilinya: Studi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam Indonesia Muzakkir Muzakkir
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 4, No 1 (2022): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v4i1.563

Abstract

This paper describes the problem of legal review regarding the validity of a pregnant woman's marriage with a man who impregnates her. The results of the study indicate that a review of Islamic law on the marital status of pregnant women outside of legal marriages, the scholars argue that if a case like this occurs then in this case the marriage is legal under Islamic law, but if there is a marriage of a woman who is pregnant outside of marriage but who marries is a man who did not impregnate her, the scholars have different opinions, some say it is legal, some say it is not valid in their marriage.AbstrakTulisan ini mendeskripsikan permasalahan tinjauan hukum tentang keabsahan pernikahan wanita hamil dengan pria yang menghamilinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinjauan hukum Islam terhadap status perkawinan wanita hamil di luar pernikahan yang sah para ulama berpendapat bahwa apabila terjadi kasus seperti ini maka dalam hal ini pernikahannya tersebut sah secara hukum Islam, namun apabila ada pernikahan wanita yang hamil diluar nikah akan tetapi yang menikahi adalah lelaki yang bukan menghamilinya para ulama berbeda pendapat ada yang mengatakan sah ada juga yang mengatakan tidak sah dalam pernikahannya.
Pemetaan Nilai-Nilai Akhlak dalam Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Hijratul Hasanah
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 4, No 1 (2022): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v4i1.562

Abstract

This article aims to map the moral values contained in the Islamic Cultural History textbook, Class VIII of Madrasah Tsanawiyah. This means that the writer wants to examine in depth the moral values, their categorization, and their relevance to the teacher's role and learning practices. The research method used in this study is a descriptive-qualitative approach with library research methods. The stages of data collection are carried out in the following way: 1) reviewing the contents of the book; 2) categorizing moral values; 3) reducing data by drawing conclusions and their relevance to the teacher's role and learning practices. This study shows that there are 3 dimensions to morality: morals towards God, morals towards teachers and friends, and morals towards oneself. Therefore, it can be concluded that with these 3 moral dimensions, there must be more specific learning practices to be practised by teachers in the preparation, implementation, and evaluation of lesson plans at each meeting.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk memetakan nilai akhlak yang terkandung dalam buku ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah. Artinya penulis ingin mengkaji secara mendalam nilai akhlak, kategorisasi dan relevansinya dengan peranan guru dan praktik pembelajarannya. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode riset kepustakaan. Tahapan pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) mengkaji isi teks buku; 2) Kategorisasi nilai akhlak; 3) mereduksi data dengan menarik kesimpulan dan relevansinya dengan peranan guru serta praktik pembelajarannya. Kajian ini menunjukkan bahwa ada 3 dimensi akhlak, yaitu akhlah terhadap Allah, Akhlak terhadap guru, teman dan Akhlak terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dengan 3 dimensi akhlak tersebut harus ada praktik pembelajaran yang lebih khusus untuk dipraktikkan oleh para guru dalam persiapan, pelaksanaan dan evaluasi rencana pembelajaran pada setiap pertemuan.
Tukar Menukar Barang Sejenis Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif Benazir Benazir
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 4, No 1 (2022): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v4i1.554

Abstract

This research is based on the existence of the practice of exchanging similar goods that still exists today, so a clear review of the practice of exchanging similar goods is needed. The exchange of similar goods includes trade practices that are lawful by Allah SWT and are not prohibited, if it takes place without certain conditions which are prohibited in Islam. Islam explains that transactions in exchanging similar goods must fulfill pillars and conditions, one of the conditions that must be carried out in exchange transactions of similar goods must be the same quality, namely the quality and quantity possessed by these goods have the same value and amount. Islam forbids if there is a difference in the quality of similar goods to be exchanged. Exchange of similar goods can be bartered with the same kind and the same illat, namely gold, silver, wheat rice, wheat rice, dates, and salt. The pillars and conditions that must be fulfilled in exchanging similar goods are the same as the pillars and conditions of buying and selling, namely in transactions that must be made there must be an agreement and qabul which shows mutual pleasure between people. Whereas in the law it is explained that the exchange of goods is an agreement with both parties binding themselves to give each other an item reciprocally in exchange for another item. If there is a problem in the exchange of similar goods, the settlement can be carried out through a civil lawsuit which causes losses for him or settlement through arbitration or other alternative dispute resolution institutions in accordance with the provisions of the Laws and Regulations.AbstrakPenelitian ini didasari oleh masih adanya praktik tukar menukar barang sejenis yang masih ada pada zaman sekarang ini, sehingga diperlukan tinjauan yang jelas terhadap praktik tukar menukar barang sejenis tersebut. Tukar menukar barang sejenis termasuk praktik dagang yang dihalalkan oleh Allah SWT dan tidak ada larangan, jika berlangsung tanpa ada persyaratan tertentu yang dilarang dalam Islam. Islam menjelaskan bahwa transaksi dalam tukar menukar barang sejenis yang dilakukan harus memenuhi rukun dan syarat, salah satu syarat yang harus dilakukan dalam transaksi tukar menukar barang sejenis mutunya harus sama, yaitu kualitas dan kuantitas yang dimiliki oleh barang tersebut mempunyai nilai dan jumlah yang sama. Islam melarang apabila terdapat perbedaan kualitas barang sejenis yang akan ditukarkan. Tukar menukar barang sejenis dapat dibarterkan dengan yang sama jenisnya dan sama illatnya, yaitu emas, perak, beras gandum, padi gandum, kurma, dan garam. Rukun dan syarat yang harus dipenuhi dalam tukar menukar barang sejenis adanya sama dengan rukun dan syarat jual beli, yaitu dalam transaksi yang dilakukan harus adanya ijab dan qabul yang menunjukkan saling ridha antara sesama. Sedangkan dalam undang-undang dijelaskan bahwa tukar menukar barang merupakan suatu perjanjian dengan kedua belah pihak mengikatkan diri untuk saling memberikan suatu barang secara timbal balik sebagai ganti suatu barang lain. Jika terjadi permasalahan dalam tukar menukar barang sejenis, maka penyelesaiannya dapat dilakukan melalui gugatan perdata yang menimbulkan kerugian baginya maupun penyelesaian melalui arbitrase atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Konsep Belajar Syaikh Az-Zarnuji dan Relevansinya terhadap Pendidikan Modern Zakie Abdullah
SINTESA: Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol 4, No 1 (2022): Juli-Desember
Publisher : Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah V Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sintesa.v4i1.566

Abstract

This article focuses on Shaykh Az Zarnuji's book Ta'lim al-Muta'allim. Shaykh Az Zarmuji explained that learning is an obligation that has been prescribed by religion both through the Al-Quran and Hadith, and all of this is done through a teaching process that is both divine and basyariyah in nature. This study shows that there are two learning methods of Shaykh Az Zarnuji, namely, the ethical method in the form of intention to learn and the strategic method, which includes how to choose lessons, choose teachers, choose friends, and take study steps. In general, the book of Ta'lim Muta'allim is still very relevant to be applied in the contemporary world of education, especially in terms of aqidah and morals, as well as mutual respect between students and educators for the knowledge gained in the teaching and learning process carried out in an educational institution.AbstrakKajian ini berusaha memfokuskan pada tulisannya Syaikh Az Zarnuji yang berjudul Ta’lim Al Muta’allim. Syaikh Az Zarmuji menjelaskan bahwa belajar merupakan sebuah kewajiban yang telah di syariatkan oleh agama baik melalui Al-Quran maupun Hadist, dan semua ini melalui proses pengajaran yang bersifat Ilahiyah maupun Basyariyah. Kajian ini menunjukkan bahwa terdapat dua metode belajar Syaikh Az Zarnuji yaitu metode bersifat etik yang berupa niat dalam belajar dan metode bersifat strategi yang mencakup cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman, dan langkah langkah belajar. Secara umun kitab Ta’lim Muta’allim masih sangat relevan untuk diterapkan di dalam dunia pendidikan kekinian, terutama pada sisi aqidah dan akhlak serta saling menghargai antara peserta didik dengan tenaga pendidik atau peserta didik terhadap ilmu yang didapatkan dalam proses belajar mengajar yang di laksanakan pada suatu lembaga pendidikan.

Page 4 of 4 | Total Record : 37