cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 105 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN METODE CONCEPT MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR PADA MATERI JENIS-JENIS PEKERJAAN Resa Junias Putra
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 3 (2021): Vol 1, No. 3 (2021): September 2021
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.311 KB)

Abstract

The background of this research study is because of the low student learning outcomes, especially on the material types of work. This can be seen from the number of students who do not understand the material types of work. Many of the students are still confused about the type of work that produces goods and services. In fact, many of the students get low grades. Seeing this, the researchers tried to provide solutions to the student's problems by using the concept mapping method on the learning outcomes of fourth grade elementary school students regarding the types of work. This research is an experimental quantitative study with a posttest-only control design.This study used two classes, namely the experimental class and the control class with different treatments. This study aims to determine the effect of using the concept mapping method on the learning outcomes of fourth grade elementary school students regarding the types of work. The number of students in this study were all fourth grade students consisting of two classes, namely class IV B as the experimental class, totaling 29 students and class IV A as the control class, totaling 31 students, the total population was 60 students.The results of research using the concept mapping method on student learning outcomes in the subject of types of work indicate a change in the average score of students. The average score of the students in the experimental class given the concept mapping method was higher than the average score for the control class given the lecture treatment. This shows that the concept mapping method has an effect on the learning outcomes of fourth grade students.
MODEL PERENCANAAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF PADA MASA PANDEMI COVID 19 Sodiniat Waruwu; Desire Karo Karo
Inculco Journal of Christian Education Vol 2, No 2 (2022): Vol 2, No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.521 KB)

Abstract

AbstrakWabah virus Covid-19 berdampak sangat luas pada sendi kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Sehingga pemerintah menerapkan kebijakan Pendidikan di Masa Darurat Penyebaran Virus Corona. Hal tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di sekolah dan perguruan tinggi. Salah satu poin yang ditekankan oleh pemerintah adalah bahwa pembelajaran yang dilakukan di sekolah dan perguruan tinggi dialihkan ke pembelajaran online di rumah. Pembelajaran dilakukan dari rumah dengan menggunakan laptop, komputer, atau smartphone disertai dengan berbagai aplikasi yang mendukung proses pembelajaran. Namun, pembelajaran online yang telah dilaksanakan sejak pandemi Covid-19 mengalami beberapa kendala yang dihadapi oleh pelajar dan pendidik. Untuk itu dalam menangani hal tersebut diperlukan strategi untuk mencapai suatu pembelajaran yang efektif dan efesien. Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, guru dituntut untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran sebelum melaksanakan pembelajaran. 
METODE MENGAJAR: KAJIAN RELASI ANTARA PENDIDIKAN GEREJA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS Indro Puspito
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 2 (2021): Vol 1, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.481 KB) | DOI: 10.59404/ijce.v1i2.21

Abstract

Tugas pendidikan yang paling mulia, yaitu pembinaan sikap hidup yang merupakan unsur utama pengembangan watak. Persoalan yang muncul pada fenome lapangan adalah:  Apakah yang dimaksud dengan Pendidikan yang Alkitab? Bagaimana Bentuk dalam Pendidikan Gereja? Bagaimanakah Metode Mengajar menjadi Relasi antara Bentuk Pendidikan Gereja dengan Perkembangan Psikologis? Jawaban adalah: Pertama, pendidikan yang Alkitab adalah  usaha menumbuhkembangkan wawasan, kemampuan dan sikap hidup peserta didik melalui pengajaran dan teladan pendidiknya, agar (tujuannya) menjadi pribadi yang beriman, berintegritas, berwatak seperti Yesus dan mampu menggunakan imannya dalam menjawab tantangan hidup serta mampu memanusiakan sesamanya dengan berbagai kehidupan yang telah dikaruniakan Tuhan yang diberikan kepada anak-anak sejak kecil dan diajarkan oleh orang-orang yang mempunyai karunia, cakap mengajar dan keteladan hidup yang nyata berdasarkan nilai-nilai Alkitab. Kedua, bentuk pendidikan Kristen dalam gereja dilakukan sesuai kebutuhan para jemaat di gereja  dengan cara bekerja sebagai pengemngembangan dalam adalah: (1) PAK Anak dalam Ibadah Sekolah Minggu, (2) PAK Remaja dalam Ibadah Remaja, (3) PAK Pemuda dalam Ibadah Pemuda, dan (4) PAK Dewasa dalam Ibadah Dewasa.  Ketiga, metode mengajar menjadi relasi antara bentuk pendidikan gereja dengan perkembangan psikologis sebagai berikut: (a) Metode Mengajar Anak:  (b) Cerita dalam arti yang sesungguhnya.  (2)  Lambang-lambang, gambar, audio-visual. (c) Alat ini dibutuhkan untuk membentuk anak mengerti dan menghayati ke dalam kisah yang dibawakan guru. (2) Perkembangan Psikoliogis Remaja: (a) Metode yang berpusatkan pada guru, (b) Metode yang menekankan team work, (c) Metode yang berpusatkan pada guru dan murid, (d) Metode dengan alat peraga, (e) Metode yang dilakukan outdoor, dan  (f) Penggabungan beberapa metode sekaligus. (3) Metode mengajar pemuda berikut: (a) Metode yang berpusatkan pada guru, (b) Metode yang menekankan team work, (c) Metode yang berpusatkan pada guru dan murid, (d) Metode dengan alat peraga, (e) Metode yang dilakukan outdoor, dan (f) Penggabungan beberapa metode sekaligus. (4) Metode Mengajar Dewasa berikut: (a) Metode ceramah, (b) Metode menghafalkan, (c) Metode dialog, (d) Metode studi kasus, ( e) Metode perjumpaan, dan (f) Metode perbuatan simbol.
PEREMPUAN TIDAK DIIZINKAN MENGAJAR DAN MEMERINTAH LAKI-LAKI DALAM 1 TIMOTIUS 2:11-12 SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAJAR WANITA PADA MASA KINI Meliantha Ayu Elmayanti; Amanda Shalomita Christnanda
Inculco Journal of Christian Education Vol 2, No 1 (2022): Vol 2, No. 1 (2022): Febuari 2022
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.263 KB)

Abstract

AbstractThe role of the teacher in the world of education today is very important. The teachers are not only dominated by men but also women. There are times when women have no place as teachers. But at this time we have never encountered it either in the field of education or in other fields. There have also been times when women did not have a place to teach in Indonesia, and it is also written in the Bible. Specifically in the context of the New Testament world, one of them is in 1 Timothy 2:11-12. In the opinion of Margaretha and Karssen Gian, they stated that; the position of men and women is the same, therefore both men and women have the same opportunity to serve.The method used in this research is exegesis method. Exegesis is a method of exposition and interpretation of the Bible, by drawing out the true meaning of the text. In this case, the writer can formulate the problem, as follows; (1) Paul's view of the position of women. (2) The discussion of women not being allowed to teach according to 1 Timothy 2:11-12. (3) The implications for female teachers today. Abstrak: Peran pengajar dalam dunia pendidikan saat ini sangatlah penting. Para pengajar tidak hanya didominasi oleh kaum laki-laki melainkan juga kaum wanita. Ada masa-masa di mana kaum wanita tidak mendapat tempat sebagai seorang pengajar. Namun saat ini hal itu tidak pernah kita jumpai baik di dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang yang lain. Masa-masa di mana wanita tidak mendapat tempat untuk mengajar juga pernah terjadi di Indonesia, dan hal itu juga tertulis di dalam Alkitab. Secara khusus dalam konteks dunia Perjanjian Baru, salah satunya pada nats 1 Timotius 2:11-12. Menurut pendapat Margaretha dan Karssen Gian, mereka menyatakan bahwa; kedudukan laki-laki dan wanita adalah sama, karena itu baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk melayani.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksegesis. Eksegesis adalah suatu metode eksposisi dan interpretasi dari Alkitab, dengan cara menarik keluar makna yang sebenarnya dari teks. Dalam hal ini, penulis dapat merumuskan masalah, sebagai berikut; (1) Pandangan Paulus mengenai posisi perempuan. (2) Pembahasan mengenai wanita tidak diperbolehkan mengajar menurut 1 Timotius 2:11-12. (3) Implikasinya terhadap pengajar wanita pada masa kini.
SEX EDUCATION AS A FOUNDATION OF CHRISTIAN FAITH TO THE HOLY DOCTRINES David Ming
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 1 (2021): Vol 1, No 1 (2021): Febuari 2021
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.66 KB)

Abstract

Abstract: Today's world continues to change, including the way people perceive sex problems. Some of the problems that arise are: What is meant by education? Sex in a world of sin? How is the Relationship of Sex Education as a Foundation of Christian Faith to the Doctrine of Holiness according to Reformed? The answer: (1) The Bible's view of sex education is God's work on humans since creation. (2) Sex is something sacred as God instituted marriage for the first time in Eden. (3) Sex education can be related to the doctrine of holiness as the foundation of Christian faith as follows: First, it is necessary to develop holiness education in schools, seminars and in churches in order to clarify the position of sexual sinfulness committed outside of marriage. Second, God-centered holiness becomes dependent only on God and not on humans. Third, the holiness modeled by Jesus becomes a figure that everyone can imitate so that everyone has a calling to live.Abstrak: Dunia sekarang ini terus mengalami perubahan termasuk pandangan orang terhadap masalah seks. Beberapa persoalan yang muncul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pendidikan? Seks dalam dunia keberdosaan? Bagaimanakah Relasi Pendidikan Seks sebagai Landasan Iman Kristen terhadap Doktrin Kekudusan menurut Reformed? Jawabnya: (1) Pandangan Alkitab tentang pendidikan  seks adalah merupakan karya Allah pada diri manusia sejak diciptakan. (2) Seks adalah sesuatu yang sakral sebagaiman Allah melembagakan pernikahan pertama kali di Eden. (3) Pendidikan seks dapat direlasikan dengan doktrin kekudusan  sebagai landasan iman Kristen sebagai beriku: Pertama, perlunya dikembangkan pendidikan kekudusan di sekolah-sekolah, seminar maupun di gereja agar memperjelas posisi keberdosaan seks yang dilakukan di luar pernikahan. Kedua,  kekudusan yang berpusat kepada Allah menjadi ketergantungan hanya kepada Allah bukan kepada manusia. Ketiga, kekudusan yang diteladani oleh Yesus menjadi tokoh yang dapat diteladani  oleh semua orang sehingga setiap orang mempunyai panggilan untuk hidup
KAJIAN CARA BERPIKIR PENDIDIKAN: MEMBENTUK ANAK DIDIK BERKUALITAS DIATAS KUANTITAS DI SEKOLAH DASAR BERDASARKAN SOLI DEO GLORIA Dwi Prasetyaningsih
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 3 (2021): Vol 1, No. 3 (2021): September 2021
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.026 KB)

Abstract

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi dibawah bimbingan orang lain, tetapi memungkinkan secara otodidak (Wikipedia) Anak usia sekolah dasar adalah usia awal mereka mendapatkan Pendidikan dasar, baik akademik, karakter, budi pekerti. Dari sekolah dasar ini pula kita membangun pondasi ilmu pengetahuan mereka. Dan penelitian ini bertujuan bagaimana membentuk generasi atau anak didik yang berkualitas tidak hanya melihat jumlah nilai di raport tetapi juga karakter, etika serta moral dari anak didik. Kenapa sekolah dasar? Karena diusia sekolah dasar ini adalah masa transisi dan anak didik dimana mereka akan meninggalkan masa kanak-kanak dan akan memasuki masa praremaja. Hasil penelitian ini kita dapat belajar bersama bahwa hasil bukanlah hal utama, tetapi proseslah yang menjadi patokan untuk menentukan kualitas dari anak didik. Dimana anak-anak disekolah belajar untuk belajar menjalani proses untuk bisa mendapatkan hasil mereka juga dapat belajar bagaimana mereka bisa mengendalikan diri dan menaklukkan diri sendiri. Bisa menekan ego dan menumbuhkan rasa empati dan simpati kepada orang-orang disekitarnya. Dimana kasih, kepedulian, kesabaran dan kerja keras itu yang menjadi hal utama mereka. 
KEWAJIBAN RUMAH TUHAN SEBAGAI MISI JURUSELAMAT BERDASARKAN INJIL MATIUS 28:19 DITENGAH-TENGAH JEMAAT MENURUT JOHN CALVIN Urbanus Sukri
Inculco Journal of Christian Education Vol 2, No 3 (2022): Vol 2, No 3 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.113 KB) | DOI: 10.59404/ijce.v2i3.106

Abstract

Abstrak: Kewajiban Rumah Tuhan bukan hanya memberitakan firman, melakukan kunjungan kepada jemaat, membantu yang mengalami kesusahaan namun lebih kepada pertanggung jawaban jiwa jemaat sehingga fungsi gereja dapat benar-benar terealisasikan, persoalan yang muncul adalah: Apa itu rumah Tuhan sebagai Misi Juruselamat? Apa kewajiban rumah Tuhan terhadap misi Juruselamat? Bagaimana kewajiban rumah Tuhan sebagai misi Juruselamat  berdasarkan injil Mat 28:19 ditengah-tengah jemaat menurut John Calvin? Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis isi. Hasil yang didapat adalah bahwa rumah Tuhan selain sebagai pastori/gedung gereja, punya kewajiban tugas, pekerjaan terhadap misi Juruselamat adalah membaptis orang dari segala bangsa, bukti bahwa memulainya kehidupan baru menjadi murid Kristus. Rumah Tuhan harus bermisi, menginjili, membaptis dan menjadikan pengikut Kristus yang diimbangi dengan tugas yaitu melaksanakan sakramen dan berkhotbah dimana Tuhan tempatkan agar kewajiban sebagai rumah Tugas bisa berfungsi sebagaimana yang Allah kehendaki. Abstract: The obligation of the House of God is not only to preach the word, to make visits to the congregation, to help those who are in trouble, but rather to the responsibility of the soul of the congregation so that the function of the church can be truly realized, the problems that arise are: What is the house of God as the Savior's Mission? What is the obligation of the house of the Lord to the Savior's mission? What is the obligation of the house of God as the Savior's mission based on the gospel of Matthew 28:19 in the midst of the congregation according to John Calvin? This research method uses qualitative methods through literature study and content analysis. The results obtained are that God's House apart from being a pastor/church building, has duties, the work of the Savior's mission is to baptize people from all nations, proof that starting a new life is becoming a disciple of Christ. The house of God must have a mission, evangelize, baptize and make followers of Christ which is balanced with the task of carrying out the sacraments and preaching where God has placed so that the obligations as a house of Duty can function as God wants. 
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TAMAN EDEN Urbanus Sukri
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 3 (2021): Vol 1, No. 3 (2021): September 2021
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.675 KB)

Abstract

Humans are "homo educandum", that is, learning creatures. This is the trigger for the emergence of educational activities in human life. Education is intentional and planned learning. In minimum education there are elements of teachers, students, learning materials, learning strategies, and learning media. Education begins when there is social interaction between humans. Since humans were placed in the garden of Eden, humans have started to learn. Learn about everything. Especially learning about life interacting with the surrounding environment and God.In Eden Gardens there are theological (spiritual) learning activities. In the Garden of Eden, Adam learned primarily about the relationship with his creator. This is a theological relationship. Theological or spiritual learning in the context of contemporary Christianity is referred to as Christian Religious Education. The main purpose of education (learning activities) is to acquire theological or spiritual knowledge.The research in this paper is qualitative-descriptive. The author tries to interpret the existing text. The result is a theological finding about the concept of spiritual education (Christian Education) in the garden of Eden.    Abstrak :Manusia adalah “ homo educandum”, yaitu makhluk pembelajar. Ini adalah pemicu munculnya kegiatan pendidikan dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah pembelajaran yang disengaja dan terencana. Didalam pendidikan minimal ada unsur guru, murid, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, dan media pembelajaras. Pendidikan dimulai ketika ada interaksi sosial diantara manusia. Sejak manusia ditempatkan ditaman Eden, manusia sudah mulai belajar. Belajar tentang segala sesuatu. Terutama belajar tentang hidup berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan Allah.Ditaman Eden ada kegiatan pembelajaran teologis (spiritual). Ditaman Eden, Adam belajar terutama tentang hubungan dengan sang penciptanya. Ini adalah hubungan secara teologis. Pembelajaran teologis atau rohani dalam konteks kekristenan masa kini disebut dengan istilah Pendidikan Agama Kristen. Tujuan utama pendidikan (kegiatan pembelajaran) tersebut adalah untuk memperoleh pengetahuan teologis atau kerohanian.Penelitian dalam tulisan ini bersifat kualitatif-deskriptif. Penulis mencoba menafsirkan teks yang ada. Hasilnya adalah temuan teologis tentang konsep pendidikan rohani (Pendidikan Agama Kristen) ditaman Eden.  
ANALISIS DAMPAK PENGGUNA SMARTPHONE MEMPENGARUHI KARAKTER DAN MINAT BELAJAR ANAK Rosiana Rosiana; Golan Dianto
Inculco Journal of Christian Education Vol 2, No 2 (2022): Vol 2, No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.259 KB)

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi yang sangat pesat di era globalisasi saat ini telah memberikan banyak manfaat dalam kemajuan diberbagai aspek sosial. Penggunaan teknologi oleh manusia dalam membantu menyelesaikan pekerjaan merupakan hal yang menjadi keharusan dalam kehidupan. Perkembangan teknologi ini juga harus diikuti dengan perkembangan pada Sumber Daya Manusia. Perkembangan teknologi dan internet membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi yang sebenarnya merupakan alat bentu/ekstensi kemampuan diri manusia. Dewasa ini, telah menjadi sebuah kekuatan yang justru membelenggu perilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya yang sangat besar, karena ditopang pula oleh systemsistem sosial yang kuat, dan dalam kecepatan yang makin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup manusia. Gadget merupakan alat elektronik yang dirancang berukuran kecil, memiliki berbagai fitur dan aplikasi untuk mempermudah mengakses segala informasi. Penggunaan gadget secara continue akan berdampak positif maupun berdampak negatif pada perilaku sosial anak. Perilaku sosial merupakan tindakan yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang berhubungan secara langsung dengan nilai sosial dalam lingkungannya. Perilaku sosial anak ini meliputi menghormati orang lain, sikap tolong menolong, perilaku sopan santun, sikap peka dan peduli, serta terima kasih.Abstract: The very rapid development of technology in the current era of globalization has provided many benefits in progress in various social aspects. The use of technology by humans in helping to complete work is a must in life. This technological development must also be followed by developments in Human Resources. The development of technology and the internet has had a major impact on human life. Technological progress is something that we cannot avoid in this life, because technological progress will run in accordance with scientific advances. Technology is actually a tool for the formation/extension of human abilities. Today, it has become a force that actually shackles our own behavior and lifestyle. With a very large influence, because it is also supported by a strong social system, and at an increasingly higher speed, technology has become the direction of human life. Gadgets are electronic devices that are designed to be small in size, have various features and applications to make it easier to access all information. Continuous use of gadgets will have a positive or negative impact on children's social behavior. Social behavior is an action related to human actions that are directly related to social values in their environment. This child's social behavior includes respect for others, an attitude of helping, polite behavior, a sensitive and caring attitude, and gratitude.
KARAKTER GURU SEBAGAI PEMBIMBING KEROHANIAN MENURUT MAZMUR 25:1-22 DI ANTARA SISWA-SISWI SMP KRISTEN BETHEL SULUNG 3 SURABAYA Frista Esterine Patodo; Resa Junias Putra
Inculco Journal of Christian Education Vol 1, No 2 (2021): Vol 1, No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : STAK Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.708 KB)

Abstract

Abstrak: Teachers have a very important role in the process of student development at school, one of which is in the teaching and learning process of children. The role of the teacher, apart from being a parent in the school, should also pay attention to the growth and development of students by providing direct guidance to students. One of the guidance that can be done by a teacher to improve student development is spiritual guidance. Spiritual guidance is needed for all students, so that students cannot understand God's word, the best spiritual lesson is a demonstration of life. When the disciples understand God's words, they will understand how to act in their lives, to do good things and stay away from bad things. That is the function of spiritual guidance to students at school. How important it is to cultivate an attitude of mutual love among themselves and an attitude to fear God, this is the most important thing in conducting spiritual guidance to students at school. It is at this time that the task of a teacher is important to be an example and guide for students so that students do not lose the image of God in the life they are living.Abstrak: Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses perkembangan murid di sekolah, salah satunya adalah dalam proses belajar mengajar anak. Peran guru selain sebagai orang tua dalam sekolah, juga patut memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan murid dengan memberikan bimbingan secara langsung kepada murid. Salah satu bimbingan yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk meningkatkan perkembangan murid adalah bimbingan rohani. Bimbingan rohani diperlukan bagi semua murid, agar para murid dapat mengerti tentang firman Tuhan, bimbingan rohani yang terbaik adalah suatu demonstrasi mengenai sebuah kehidupan. Disaat para murid mengerti arti sebuah kehidupan dan menerapkan firman Tuhan dalam hidup mereka, maka mereka akan mengerti bagaimana bertindak dalam kehidupan mereka, untuk melakukan hal yang baik dan menjauhi hal yang tidak baik. Itulah fungsi dari bimbingan kerohanian pada murid-murid di sekolah. Bagaimana pentingnya menumbuhkan sikap saling mengasihi antar sesama mereka dan sikap untuk takut akan Tuhan, hal inilah yang paling penting dalam melakukan bimbingan rohani kepada murid-murid di sekolah. Disaat inilah tugas seorang guru penting untuk menjadi teladan dan pembimbing bagi para murid sehingga para murid tidak kehilangan gambar Allah dalam hidupnya yang sedang mereka jalani.

Page 4 of 11 | Total Record : 105