cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 105 Documents
PENTINGNYA LANDASAN KELUARGA KRISTEN BERDASARKAN PERJANJIAN BARU DALAM MEMBENTUK KECERDASAN SPIRITUAL REMAJA KRISTEN Muharoma Chomsatul Farida; Areyne Christy
Inculco Journal of Christian Education Vol 3, No 3 (2023): Vol 3, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v3i3.168

Abstract

Kecerdasan spiritual mengacu pada kemampuan individu untuk mengembangkan dan menggali dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Kecerdasan spiritual meliputi Pemahaman diri, hubungan dengan Tuhan, Etika dan Moralitas, Rasa Empati dan Kepedulian, dan praktik kehidupan sesuai dengan firman Tuhan. Orang muda membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang Firman Tuhan untuk membangun fondasi kecerdasan spiritual yang kokoh. Perjanjian Baru adalah contoh yang sangat baik tentang pribadi dan ajaran Yesus Kristus. Keluarga Kristen berdasarkan prinsip-prinsip Perjanjian Baru dapat memberikan contoh nyata yang mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Orang muda membutuhkan contoh nyata bagaimana hidup dalam kasih, kerendahan hati, pengampunan, pelayanan dan ketaatan pada kehendak Tuhan.  Menjelaskan betapa pentingnya Landasan perjanjian baru dalam Keluarga Kristen untuk  Membentuk Kecerdasan Spiritual Remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagai pendekatan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terkait tentang fenomena sosial, dengan penekanan pada interpretasi, deskripsi, dan pengungkapan makna yang terkandung di dalamnya. Dasar sebuah keluarga yang ideal haruslah berlandaskan kasih Kristus. Faktor utama dalam membentuk kecerdasan spiritual remaja dimulai dari sebuah Keluarga. Oleh karena itu keluarga hendaknya melaksanakan peranannya dalam membentuk kecerdasan spitual remaja. Dasar-dasar dalam membentuk kecerdasan spiritual remaja antara lain:  1) Iman. Penting sekali untuk menanamkan iman Kristen kepada remaja untuk menanamkan landasan spiritual yang kuat sehingga memampukan mereka mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. 2) Kasih. Kasih meletakkan dasar yang kokoh bagi kecerdasan spiritual karena menumbuhkan sikap saling mengasihi, empati, toleransi, dan pengampunan. 3) persekutuan. Lingkungan keluarga yang penuh kasih akan mendorong pertumbuhan rohaninya remaja Kristen. Lingkungan yang saling menghormati dan mendukung ini merupakan dasar yang kokoh bagi pengembangan kecerdasan spiritual remaja Kristen.4), melaksanakan kewajiban. Untuk membangun keharmonisan dan kebahagiaan dalam sebuah keluarga, diperlukan kerjasama yang baik antara anak-anak dan orang tua. Anak-anak diharapkan patuh kepada orang tua sebagai aturan yang berlaku. Dalam konteks kekristenan, orang tua memiliki otoritas atas anak-anak mereka. Ikatan keluarga yang kuat memberikan peranan yang penting dalam membentuk kecerdasan spiritual remaja Kristen.Spiritual intelligence refers to the ability of individuals to develop and explore the spiritual dimension in their lives. Spiritual intelligence includes self-understanding, relationship with God, Ethics and Morality, Empathy and Caring, and the practice of living according to God's word. Young people need deep knowledge and understanding of God's Word to build a solid foundation of spiritual intelligence. The New Testament is an excellent example of the person and teachings of Jesus Christ. Christian families based on New Testament principles can provide real examples that reflect the character of Christ in everyday life. Young people need real examples of how to live in love, humility, forgiveness, service and obedience to God's will. Explains how important the Foundation of the new agreement is in the Christian Family to Form the Spiritual Intelligence of Youth. This study uses qualitative methods as a research approach that aims to gain an in-depth understanding of social phenomena, with an emphasis on interpretation, description, and disclosure of the meaning contained therein. The basis of an ideal family must be based on the love of Christ. The main factor in forming the spiritual intelligence of adolescents starts from a family. Therefore the family should carry out its role in shaping the spiritual intelligence of adolescents. The basics in forming the spiritual intelligence of adolescents include: 1) Faith. It is very important to instill Christian faith in youth to instill a strong spiritual foundation that will enable them to develop a deeper relationship with God. 2) Love. Love lays a solid foundation for spiritual intelligence because it fosters mutual love, empathy, tolerance and forgiveness. 3) fellowships. A loving family environment will encourage the spiritual growth of Christian youth. This mutually respectful and supportive environment is a solid foundation for developing the spiritual intelligence of Christian youth. 4), carrying out obligations. To build harmony and happiness in a family, good cooperation is needed between children and parents. Children are expected to obey their parents as a rule. In the Christian context, parents have authority over their children.
PENTINGNYA KETELADANAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA Fermina Laia
Inculco Journal of Christian Education Vol 3, No 3 (2023): Vol 3, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v3i3.163

Abstract

Karakter Dilakukan di sekolah karena kurangnya citra karakter yang kuat Pendidikan karakter pun berhasil dalam keadaan yang baik, tetapi dapat diteladani Dukunganpembuatan karakter. Salah satunya adalah tersedianya role model. Teladan adalah sesuatu yang patut diteladani dalam hal sikap, perilaku dan nilai. Pendidik adalah tokoh utama dalam lingkungan pendidikan dasar teladan bagi siswa. Pendidik tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat seperti guru, orang tua dan tokoh masyarakat. Untuk mempermudah tercapainya tujuan pendidikan karakter, maka perlu ditetapkan Keteladanan dalam setting pembentuk karakter sebagai bagian dari komponen penguatan karakter siswa. Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah sangatlah penting. Berikan contoh kepada siswa yang diajari. Guru dapat menciptakan nilai, sikap, dan perilaku,siswa memiliki pemahaman tentang nilai-nilai, dan pemahaman serta keyakinan terhadap nilai-nilai dari orang dalam situasi yang ingin dijadikan contoh.Character education is carried out in schools due to the lack of a strong character image. Character education also works under good circumstances, but can be replicated with the support of character building. One of them is the availability of role models. Exemplary is something that should be emulated in terms of values, attitudes, and behavior. Educators are the main figures in the basic education environment who are exemplary for students. Educators are not only in the school environment, but also in the family and community environment such as teachers, parents and community leaders. To facilitate the achievement of character education goals, it is necessary to regulate the formation of exemplary character as part of the component of strengthening student character. Therefore, character education in schools is very important. Set an example for students. Teacher there are values, attitudes and behavior that can be emulated and students not only have an understanding of values is an understanding and belief in the values of someone who wants to be formed because of a role model.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING Ester Widiyaningtyas; Meldiana Duha
Inculco Journal of Christian Education Vol 3, No 3 (2023): Vol 3, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v3i3.171

Abstract

Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu upaya dalam pembentukan karakter seseorang dengan baik dan mengajarakan nilai-nilai Kristiani. Nilai-nilai itu tidak terlepas dari ajaran tentang pribadi Allah Tritunggal dan karya-Nya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter. Pendidikan Agama Kristen sangat berperan penting dalam pembentukan karakter siswa pada era globalisasi saat ini. Hasil akhir dari penelitian ini adalah Pendidikan Agama Kristen dalam Pembentukan karakter melalui Pembelajaran Blended Learning. Model Pembelajaran Blended Learning ini, merupakaan penggunaan yang menggabungkan teknologi digital dengan interaksi langsung dalam pembelajaran. Christian Religious Education is one of the efforts in shaping one's character well and teaching Christian values. These values are inseparable from the teachings about the person of the Triune God and His work. This article aims to explain Christian Religious Education in character building. Christian Religious Education plays a very important role in the formation of student character in the current era of globalization. The final result of this research is Christian Religious Education in character building through Blended Learning. This Blended Learning model, is the use of combining digital technology with direct interaction in learning.
STRATEGI PEMBELAJARAN MISI DALAM PELAYANAN DI BANGSA-BANGSA Sarian, Minah
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.183

Abstract

Pemberitaan misi bertujuan untuk memperkenalkan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang benar dan satu-satunya juru selamat manusia. Tugas misi bukan saja seharusnya dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan sebagai pendeta, gembala atau pemimpin dalam suatu gereja atau badan misi, akan tetapi menjadi tugas semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Metode penelitian menggunakan kajian literatur untuk mengumpulkan data yang berupa buku-buku, artikel-artikel yang berhubungan dengan topik yang diteliti. Sumber-sumber yang digunakan dianalisis kemudian dideskripsikan dengan metode deskriptis analisis yang disusun sesuai topik penelitian. Pokok kajian yang ditemukan adalah pentingnya mengetahui dan menemukan strategi misi yang tepat, perlunya menerapkan peperangan rohani dalam misi penginjilan, serta perlunya mengetahui strategi misi ke bangsa-bangsa karena pesan Tuhan adalah untuk menyampaikan injil sampai dengan ke ujung bumi.Mission preaching aims to introduce Jesus Christ as the true God and the only human savior. Mission tasks should not be carried out by people who have positions as pastors, shepherds or leaders in a church or mission agency, but become the duty of all those who believe in Jesus Christ. The research method uses literature review to collect data in the form of books, articles related to the topic under study. The sources used were analyzed and then described using descriptive analysis methods arranged according to the research topic. The main points of study found are the importance of knowing and finding the right mission strategy, the need to apply spiritual warfare in evangelizing missions, and the need to know mission strategies to nations because God's message is to convey the gospel to the ends of the earth.
DASAR KAPABILITAS STUDENT LEARNING PROCESS PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MELALUI PENDEKATAN COOPERATIF LEARNING Puspito, Indro; Bune, Melani Krisna Nosi
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.180

Abstract

Pentingnya menekankan proses belajar bagi siswa untuk memperkuat sistem pendidikan maka dibutuhkan komponen dasar untuk membangun diri siswa salah satunya melalui cooperative learning. Pendidikan merupakan bisnis untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan kemampuan dasar sehingga terbentuknya citra diri siswa itu dalam mengembangkan setiap kemampuan yang mereka milik. Tujuan dari proses pembelajaran siswa melalui pendekatan Cooperatif  Learning saling berkaitan. Dalam konteks pendidikan, adanya keterlibatan siswa saling berinteraksi didalam kelas dengan memberikan tugas kelompok kecil dan hasilnya akan dipresentasikan kepada kelompok lain. Untuk meningkatkan keaktifan dan menciptakan peluang bagi siswa mengutarakan argumen-argumen yang dimiliki setiap siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dengan cara mengumpulkan data melalui dokumen, karya ilmiah dan internet. Hasil yang diperoleh dengan menerapkan cooperatif learning sangat membantu siswa dalam proses pendidikan agama Kristen dengan mewujudkan karakteristik siswa yang baik, aktif, menerima kekurangan orang lain dan saling memberikan dukungan atau motivasi. The importance of emphasizing the learning process for students to strengthen the education system requires basic components to build students, one of which is through cooperative learning. Education is a business to equip students with basic ability knowledge so that the formation of students' self-image in developing every ability they have. The objectives of the student learning process through the Cooperative Learning approach are interrelated. In the context of education, there is the involvement of students interacting with each other in class by giving small group assignments and the results will be presented to other groups. To increase activeness and create opportunities for students to express the arguments that each student has. The method used in this research is qualitative with a literature study approach by collecting data through documents, scientific papers and the internet. The results obtained by applying cooperative learning greatly help students in the process of Christian education by realizing the characteristics of students who are good, active, accept the shortcomings of others and provide mutual support or motivation
PENDIDIKAN GEREJA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN EDUKASI JEMAAT DALAM BERPOLITIK Lado, Gatsper Anderius
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.187

Abstract

Politik selalu hadir di dalam pemerintahan sebagai bentuk pengelolaan hidup berbangsa dan bernegara. dalam konteks pemerintahan Indonesia menuju Pemilihan Umum tahun 2024 mendatang yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan bahkan pemilihan Kepala Daerah maka tidak dapat disangkali situasi bangsa akan memanas. Hal ini memang akan selalu terjadi secara umum tetapi kita berharap bahwa para pemimpin bangsa yang ada bisa tetap mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Di sisi lain, gembala di Gereja perlu memberikan pembelajaran jemaat menuju tahun Politik. Gembala di Gereja perlu memiliki pemahaman teori Politik dan Kepemimpinan Alkitabiah. Dari sana menjadi sebuah rumusan yang diajarkan kepada jemaat dalam berbagai metode penyampaian seperti khotbah, pemuridan, seminar dan cara lain tentang Politik Kristen. Pembelajaran politik kepada jemaat tentu bukan saja di dalam tahun politik, tetapi jemaat Tuhan perlu memiliki sikap yang benar di dalam peran serta kepada bangsa dan negara. Melalui ini semua maka jemaat bisa menyikapi dan tetap berpartisipasi dengan benar terhadap politik, khususnya di dalam menyongsong tahun Politik.Politics is always present in government as a form of managing the life of the nation and state. In the context of the Indonesian government towards the upcoming 2024 General Elections, namely the election of President and Vice President and even the election of Regional Heads, it is undeniable that the nation's situation will heat up. This will always happen in general but we hope that the leaders of the nation can continue to unite all Indonesian people. On the other hand, pastors in the Church need to provide congregational learning towards the year of Politics. Pastors in the Church need to have an understanding of Political theory and Biblical Leadership. From there it became a formula that was taught to the congregation in various methods of delivery such as preaching, discipleship, seminars and other ways of Christian Politics. Political learning to the congregation is certainly not only in the political year, but the church of God needs to have the right attitude in participating in the nation and state. Through all this, the congregation can respond and continue to participate correctly in politics, especially in welcoming the year of politics.
KOMPETENSI SPIRITUAL GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI UPAYA DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IMAN SISWA Farida, Muharoma Chomsatul; Laia, Unima; Sanja, Putri Rambu
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.178

Abstract

Seorang guru yang profesional dikarakterisasi oleh lima kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi spiritual. Dalam konteks guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), memiliki kompetensi spiritual dianggap sebagai hal yang sangat penting. Sebagai pendidik profesional, guru PAK memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan siswa agar memahami Alkitab dengan benar serta meningkatkan pertumbuhan iman mereka. Guru PAK yang memiliki tingkat kompetensi spiritual yang tinggi juga berfungsi sebagai contoh yang baik bagi siswa. Oleh karena itu, guru PAK harus memenuhi standar kualitas rohani yang baik, termasuk memiliki kepribadian yang bertanggung jawab, berwibawa, mandiri, dan disiplin. Guru Pendidikan Agama Kristen yang memiliki kompetensi spiritual yang baik akan memiliki kemampuan untuk memengaruhi kehidupan siswa melalui proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di dalam kelas. Hal ini akan menyebabkan siswa mengalami pertumbuhan dalam iman mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, di mana informasi yang diperoleh berasal dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan riset sebelumnya. Data yang dikumpulkan dari referensi-referensi ini dianalisis secara kritis dan mendalam untuk mendukung proposisi dan gagasan yang diajukan. Tujuan penelitian ini adalah dua. Pertama, memberikan penjelasan tentang hakikat kompetensi spiritual seorang guru Pendidikan Agama Kristen. Kedua, menjelaskan pentingnya kompetensi spiritual seorang guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan pertumbuhan iman siswa. A professional teacher is characterized by five competencies, namely: pedagogic competence, social competence, personality competence, professional competence, and spiritual competence. In the context of Christian Religious Education (PAK) teachers, having spiritual competence is considered very important. As professional educators, PAK teachers have a responsibility to guide and direct students to understand the Bible correctly and promote their faith growth. PAK teachers who have a high level of spiritual competence also serve as good examples for students. Therefore, PAK teachers must meet good spiritual quality standards, including having a responsible, authoritative, independent, and disciplined personality. Christian Education teachers who have good spiritual competence will have the ability to influence students' lives through the learning process of Christian Education in the classroom. This will cause students to experience growth in their faith. This research uses qualitative methods, where the information obtained comes from various sources such as books, journals, and previous research. The data gathered from these references are critically and deeply analyzed to support the propositions and ideas put forward. The objectives of this study are twofold. First, it provides an explanation of the nature of spiritual competence of a Christian Education teacher. Second, explain the importance of spiritual competence of a Christian Education teacher in increasing students' faith growth.
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM PEMBENTUKAN NILAI MORAL REMAJA MASA KINI Andrian, Tonny
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.188

Abstract

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran sentral dalam membentuk nilai moral remaja masa kini yang dihadapkan pada berbagai tantangan dan perubahan zaman. Remaja masa kini mengalami krisis moral yang kompleks, dipengaruhi oleh dinamika globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan budaya. Tujuan dari artikel ini adalah 1). Untuk mengetahui tantangan pendidikan agama kristen di era remaja masa kini; 2). Pendidikan agama kristen sebagai fondasi nilai moral remaja masa kini; 3). Kontribusi pendidikan agama kristen dalam membentuk nilai-nilai moral remaja masa kini. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Hasil yang ditemukan adalah 1). Untuk mengatasi tantangan ini, pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi yang responsif, termasuk memberikan panduan moral Kristen yang sesuai, memfasilitasi pemahaman identitas Kristiani, dan menciptakan lingkungan pembelajaran menarik. Dukungan terhadap kesehatan mental dan emosional remaja serta penguatan keterlibatan gereja juga menjadi bagian penting dalam menanggapi krisis moral remaja; 2). Pendidikan agama Kristen merupakan suatu upaya yang memiliki tujuan utama untuk memuliakan Allah, dengan Alkitab sebagai dasar utamanya. Didukung oleh nilai-nilai pendidikan Kristen, proses ini mengajak individu untuk mengenal pribadi Kristus, dan menjadikan ajaran Alkitab sebagai panduan hidup; 3). Dengan memberikan fondasi nilai Kristen, mendorong penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan beradaptasi dengan dinamika kontemporer.Christian education has a central role in shaping the moral values of today's adolescents who are faced with various challenges and changing times. Today's youth are experiencing a complex moral crisis, influenced by the dynamics of globalization, technological development, and cultural change. The purpose of this article is 1). To know the challenges of Christian education in today's adolescent era; 2). Christian religious education as the foundation of moral values of today's youth; 3). The contribution of Christian religious education in shaping the moral values of today's youth. The method used is qualitative with a literature approach. The results found are 1). To address these challenges, Christian education needs to develop responsive strategies, including providing appropriate Christian moral guidance, facilitating understanding of Christian identity, and creating an engaging learning environment. Support for adolescent mental and emotional health and strengthening church involvement are also important parts of responding to the youth moral crisis; 2). Christian religious education is an effort that has the primary purpose of glorifying God, with the Bible as its main basis. Supported by the values of Christian education, this process invites individuals to know the person of Christ, and makes the teachings of the Bible a guide to life; 3). By providing a foundation of Christian values, encouraging the application of these values in everyday life, and adapting to contemporary dynamics. 
KUALITAS PELAYANAN GURU SEKOLAH MINGGU DALAM MENGAJAR ANAK BROKEN HOME Dianto, Golan
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.179

Abstract

Idealnya sebuah kelurga dipenuhi kehangatan, kasih sayang, hormat-menghormati, tempat ternyaman yang dimiliki seorang anak, keluarga juga tempat anak berlindung, keluarga juga tempat anak berkeluh kesah dan juga tempat anak berlindung itulah fungsi yang seharusnya di rasakan seorang anak terhadap keluarganya dan yang diharapkan semua anak yang ada didunia ini. Namun tidak untuk sebagian anak yang terlahir dikeluarga yang broken home mereka tidak merasakan apa yang sebagian anak lainnya rasakan yang mereka rasakan hanyalah keluarga yang seperti nereka bagi sebaian anak (broken home) yang ada dalam pikiran mereka adalah kebencian yang mereka rasakan kepada kedua orang tuannya sehingga kepahitan dan amarah yang selalu mereka rasakan setiap harinya. Disini peranan seorang pendidik atau orang tua rohani baik di gereja maupun di sekolahan harus bisa menjadi seorang bapak atau ibu rohani yang baik bagi mereka sehingga mereka bisa merasakan apa itu yang dinamakan keluarga yang sesungguhnya ialah keluarga yang harmonis sehingga mereka merasakan kasih Bapa yang mereka tidak dapat dari orang tua kandungnya.Dengan demikian seorang dapat menjelaskan bagaimana hati Tuhan itu seperti hati bapa karena mereka sudah merasakan dan mengalami kasih yang selama ini tidak pernah dia temukan dirumah nya dengan demikian seorang anak bisa lebih lagi untuk mengenal kasih Bapa yang di surga dengan seorang ank mengerti akan hati Tuhan diharapkan karakter anak bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi berkat bagi orang disekitarnya. Ideally a family is filled with warmth, affection, respect, the most comfortable place a child can have, a family is also a place where children take refuge, a family is also a place where children complain and is also a place where children take refuge, that is the function that a child should feel towards his family and what all children in this world hope for. But not for some children who are born into broken homes, they don't feel what some other children feel. What they feel is just a family that is like hell for some children (broken home). What is in their minds is the hatred they feel for their parents so that the bitterness and anger they always feel every day. Here the role of an educator or spiritual parent both in church and at school must be to be a good spiritual father or mother for them so that they can feel what is called a real family, namely a harmonious family so that they feel the love of the Father that they cannot. from his biological parents.In this way, someone can explain how God's heart is like a father's heart because they have felt and experienced love that they have never found in their home so far, so that a child can know more about the love of the Father in heaven with a child understanding God's heart. A child's character can become a better person and be a blessing to the people around him.    
PERAN GURU DALAM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP PEMBELAJARAN SAINS Pebrianti, Pebrianti; Irawati, Wahyu
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 1 (2024): Vol 4, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i1.104

Abstract

Keberhasilan proses pendidikan berkelanjutan di sekolah dapat ditentukan oleh seberapa baik peserta didik memahami setiap konsep yang diajarkan. Peserta didik tidak terbatas untuk memahami konsep ini; lebih penting lagi, mereka mampu memahami pendirian Tuhan dalam menciptakan sesuatu dan memahami tindakannya terhadap dunia dari zaman kuno hingga saat ini. Guru adalah satu-satunya yang dapat membantu peserta didik untuk paham pada konsep pembelajaran. Tujuan tinjauan pustaka ini adalah untuk memahami peran guru dalam meningkatkan pemahaman konsep peserta didik melalui demonstrasi metode di kelas sains, dari perspektif guru, peserta didik, pemahaman konsep, metode, dan demonstrasi metode. Hasil data observasi meliputi nilai peserta didik, observasi peserta didik, bimbingan belajar, dan refleksi. Karena metode mengajar yang digunakan guru adalah metode ceramah, peserta didik tidak memahami konsep-konsep dalam kurikulum IPA. Tujuan dari metode demonstrasi adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang konsep, yang pertama kali ditunjukkan oleh kemampuan peserta didik untuk menjawab pertanyaan dari guru sebelum atau sesudah kelas. Selanjutnya, proporsi rasio peserta didik-guru terhadap jumlah total peserta didik di kelas meningkat dari 36% menjadi 84%. Disarankan agar metode demonstratif digunakan dalam pelajaran sains sehingga peserta didik dapat lebih paham mengenai konsep. The success of the continuing education process in schools can be determined by how well learners understand each concept taught. Learners are not limited to understanding this concept; more importantly, they were able to understand God's stance on creating things and understand his actions towards the world from ancient times to the present. The teacher is the only one who can help learners understand the concept of learning. The purpose of this literature review is to understand the role of teachers in improving students' understanding of concepts through method demonstrations in science classes, from the perspective of teachers, learners, understanding of concepts, methods, and method demonstrations. The results of observation data include student values, student observations, tutoring, and reflection. Because the teaching method used by teachers is the lecture method, students do not understand the concepts in the science curriculum. The purpose of the demonstration method is to improve learners' understanding of concepts, which is first demonstrated by learners' ability to answer questions from the teacher before or after class. Furthermore, the proportion of learnerteacher ratio to the total number of learners in the classroom increased from 36% to 84%. It is recommended that demonstrative methods be used in science lessons so that learners can better understand concepts.

Page 7 of 11 | Total Record : 105