cover
Contact Name
Aulia Rahman
Contact Email
auliarahman1985@unsam.ac.id
Phone
+6285226355407
Journal Mail Official
auliarahman1985@unsam.ac.id
Editorial Address
https://ejurnalunsam.id/index.php/jsnbl/about/editorialTeam
Location
Kota langsa,
Aceh
INDONESIA
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan
Published by Universitas Samudra
ISSN : 23560770     EISSN : 26852705     DOI : 10.33059/jsnbl.v10i2
The Seuneubok Lada journal only publishes scientific works resulting from empirical and theoretical research to develop science. The focus of the Seuneubok Lada Journal is the field of historical education, social history and culture. History education includes the study of history education in schools which include; 1. History Teaching Methods, 2. History Education Curriculum, 3. History Education Management and Technology while social and cultural history includes; 1. Archaeological Studies 2. Ethnographic Studies 3. Social and Cultural Anthropological Studies 4. Social and Political History Studies 5. Hysterography
Articles 238 Documents
PENGARUH SIKAP BERKOMUNIKASI DAN PROFESINALISME GURU SERTA DISIPLIN TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 KOTA LANGSA Tengku Muhammad Sahudra; Ratna Juwita
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 2 (2018): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.97 KB)

Abstract

Sekolah sebagai lembaga pendidikan bertugas menyelenggarakan proses pendidikan dan proses belajar mengajar dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tugas untuk memimpin sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab Pertamatercapainya tujuan sekolah. Kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin dari inovator di sekolah. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah adalah signifikan bagi keberhasilan sekolah. Kepala sekolah perlu memiliki kemampuan untuk memberdayakan seluruh sumber daya manusia yang ada untuk mencapai tujuan sekolah. Khusus berkaitan dengan guru kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja guru, melalui pemberdayaan sumber daya manusia (guru). Arifin (2005:88). Usman (2008: 50) mendefinisikan guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Pendapat lain dikemukakan oleh Sholeh (2007: 45), mengungkapkan bahwa dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (values) serta membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan. Dalam terminologi Islam, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata dengan rabb yang berarti Tuhan. Jadi, fungsi dan peran guru dalam sistem pendidikan merupakan salah satu manifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian mulianya posisi guru, sampai-sampai Tuhan, dalam pengertian sebagai rabb mengidentifikasi diri-Nya sebagai rabbul.alamin Sang Maha Guru., Guru seluruh jagad raya. Untuk itu, kewajiban pertama yang dibebankan setiap hamba sebagai murid Sang Maha Guru adalah belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Setelah itu, setiap orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban untuk mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi mengajar adalah sebuah kewajiban yang merupakan manifestasi dari ibadah. Sebagai konsekuensinya, barang siapa yang menyembunyikan sebuah pengetahuan maka ia telah melangkahkan kaki menuju jurang api neraka. Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Johson (2009: 48), mencakup tiga aspek, yaitu; (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, dan (c) kemampuan personal (pribadi). Menyadari akan pentingnya profesionalisme dalam pendidikan, maka Tafsir (2010: 22) mendefinisikan profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Akan tetapi melihat realita yang ada, keberadaan guru profesional sangat jauh dari apa yang dicita-citakan. Melalui penelitian awal yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Langsa, ada beberapa fenomena atau permasalahan yang dapat peneliti amati diantaranya guru yang ada pada dasarnya belum sepenuhnya bisa dikatakan kategori guru professional serta kontribusi untuk siswa menjadi kurang terperhatikan bahkan terabaikan. Masalah lain yang ditemukan penulis adalah, masih ada guru yang terlambat dan pulang terlalu cepat, kualifikasi jenjang pendidikan guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan keahliannya. Sehingga yang menjadi imbasnya adalah siswa sebagai anak didik tidak mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Padahal siswa ini adalah sasaran pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan, bantuan, latihan, pengetahuan yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai, sikap yang baik dari seorang guru. Maka hanya dengan seorang guru profesional hal tersebut dapat terwujud secara utuh, sehingga akan menciptakan kondisi yang menimbulkan kesadaran dan keseriusan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, apa yang disampaikan seorang guru akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sebaliknya, jika hal di Pertamatidak terealisasi dengan baik, maka akan berakibat ketidak puasan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar
NILAI-NILAI KARAKTER DALAM OLAHRAGA TRADISIONAL ACEH DI GAMPONG PAYA BUJOK SEULEUMAK KOTA LANGSA Basyarudin Acha; Johaidah Mistar
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 2 (2018): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.381 KB)

Abstract

Olahraga tradisional merupakan bagian dari permainan tradisional dan telah lahir sejak ribuan tahun lalu yang merupakan hasil dari proses kebudayaan manusia zaman dahulu yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Meskipun sudah sangat tua, ternyata permainan tradisional memiliki peran edukasi bagi proses belajar seorang individu, terutama anak-anak.. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai Jenis olahraga tradisional Aceh yang yang dimainkan anak-anak di Gampong Paya Bujok Seuleumak dan nilai-nilai karakter apa saja yang terdapat dalam olahraga tradisional Aceh yang dimainkan anak-anak di Gampong Paya Bujok Seuleumak Kota Langsa guna melihat langsung nilai-nilai yang terkandung dalam permainan olahraga tradisional Aceh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, karakteristik utama berasal dari latar belakang alami atau kenyataan di masyarakat. Adapun langkah-langkahnya adalah dengan melakukan penga­matan, wawancara, dan do­kumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak menyukai permainan tradisional karena sangat menghibur dan menyenangkan. Anak-anak bermain permainan tradisional sebagai sarana rekreasi, hiburan dan olahraga. Sehingga permainan tradisional juga bisa dikatakan sebagai olahraga tradisional. Adapun permainan tradisional yang menjadi olahraga tradisional Aceh yang masih ada dan dimainkan di gampong paya bujok seulemak kota Langsa diantaranya Pet-Pet Pong, Tekong, Patok Lele, Geude-Geude, dan Serompah. Selain mendapatkan rasa senang, sebenarnya anak-anak mendapat nilai-nilai yang bermanfaat dari kegiatan bermain sekaligus berolahraga tersebut. Adapun nilai-nilai karakter dalam olahraga tradisional Aceh di Gampong Paya Bujok Seulemak Kota Langsa yaitu nilai cinta tanah air, demokratis, kepemimpinan, tanggung jawab, jujur atau sportif.
LITERASI SEKOLAH SEBAGAI UPAYA PENCIPTAAN MASYARAKAT PEBELAJAR YANG BERDAMPAK PADA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN Budiharto Budiharto; Triyono Triyono; Suparman Suparman
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 2 (2018): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.422 KB)

Abstract

Pendidikan di Indonesia dari waktu ke-waktu terus ditingkatkan, agar sumber daya manusia (SDM) Indonesia dapat mengikuti perkembangan iptek yang semakin cepat di era globalisasi ini. Sekolah sebagai salah satu institusi komponen dalam bidang pendidikan merupakan tempat yang sangat strategis dalam rangka menyiapkan SDM yang berkualitas. Hal ini dapat tercapai apabila segenap unsur yang ada di sekolah secara sinergi berupaya meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan diantaranya adalah melalui gerakan literasi sekolah. Literasi sekolah dapat memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 23 Tahun 2015 , dimana salah satu kegiatan dalam gerakan literasi sekolah adalah kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Materi bacaan berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional dan global yang disampaikan sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Tujuan dari gerakan ini adalah menumbuh kembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat. Kegiatan literasi sekolah melibatkan semua warga sekolah ( guru, peserta didik, orang tua/ wali murid ) dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN PBL TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DIMENSI TIGA PADA SISWA KELAS XII IPA Suparman Suparman; Badjuri Badjuri; Khoirul Anwar
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 2 (2018): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.478 KB)

Abstract

Pembelajaran memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik. Melalui pengembangan perangkat pembelajaran dengan model PBL(Problem Based Learning) diharapkan proses pembelajaran dapat lebih efektif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan modifikasi 4-D dari model Thiagarajan, Semmel dan Semmel yang meliputi empat tahap yaitu pendifinisian, perancangan, pengembangan dan penyebaran. Subyek uji coba adalah siswa SMA Negeri 1 Dempet tahun 2017/2018dengan dua kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Perangkat yang dikembangkan meliputi RPP, LAPD, BPD, BPG, dan tes prestasi belajar. Perangkat tersebut divalidasi oleh para ahli.Pengambilan data melalui pemberian tes dan observasi. Data tes yang diolah dengan uji ketuntasan belajar. Pengembangan perangkat pembelajaran PBLmenghasilkan perangkat pembelajaran yang praktis dengan analisis keterlaksanaan RPP, respon guru, dan respon siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:1)Mendeskripsikan proses pengembangan perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII. 2) Memperoleh perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII yang valid. 3) Menentukan efektifitas implementasi perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII. 4) Menentukan kepraktisan model PBL materi Dimensi dua Kelas XII. Hasil penelitian dapat disimpulkan 1) Proses pengembangan perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII berjalan sesuai model 4D. 2) Perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII yang dihasilkan validdengan rata-rata validitas 3,56 (sangat baik). 3) Implementasi perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII berjalan efektif, dengan rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 78,42 dan tingkat ketuntasan sebesar 78,94%. Melalui uji – t diperoleh t hitung = 2,120 > ttabel = 2,021, artinya hasil belajar lebih dari 75,00 atau telah mencapai ketuntasan belajar 4) Perangkat pembelajaran model PBL materi Dimensi Tiga Kelas XII yang dihasilkan praktis, dengan keterlaksanaan RPP sebesar 3,91 (sangat baik), respon guru sebesar 3,67 (sangat baik) dan respon siswa sebesar 79,73% (respon positif).
PERUBAHAN KEBUDAYAAN DI JAWA (SURAKARTA DAN YOGYAKARTA) Aulia Rahman; Reni Nuryanti
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 5 No 2 (2018): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.474 KB)

Abstract

Dimana saja manusia melangsungkan kehidupannya, maka disitu pula terbentuk sebuah kebudayaan. Karena kebudayaan merupakan hasil cipta manusia. Kebudayaan bersifat dinamis, artinya akan selalu senantiasa berubah, mengikuti perkembangan manusia. Termasuk dalam hal ini kebudayaan kebudayaan Jawa (Surakarta dan Yogyakarta). Berkaitan dengan perubahan kebudayaan tersebut, maka tulisan ini akan melakukan analisa kritis menggunakan paradigm evolusi kebudayaan. Paradigma evolusi kebudayaan mencoba untuk menelusuri perkembangan dan perubahan kebudayaan yang terjadi di Jawa. Paradigma Evolusi kebudayaan dipilih sebagai pisau analisis untuk menunjukkan tahapan-tahapan perubahan kebudayaan dari masa ke masa. Dari tulisan ini, kami menyimpulkan bahwa kebudayaan memang senantiasa berubah mengikuti perkembangan manusia. Perubahan-perubahan dari kebudayaan tersebut lebih didasari karena adanya tuntutan dari lingkungan sosial maupun karena adanya perubahan sosial itu sendiri. Evolusi tersebut dapat juga disebut sebagai mekanisme pertahanan kebudayaan atau strategi kebudayaan agar keberadaannya tetap eksis dan mampu memberikan manfaat bagai para pendukung kebudayaan tersebut
PENGUATAN PENDIDIKAN DI MEUNASAH SEBAGAI BENTENG KEIMANAN MASYARAKAT ACEH Aulia Rahman; Hanafiah Hanafiah; Madhan Anis
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.812 KB)

Abstract

Sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia yang menerapkan Syari’at Islam, tentu saja pembinaan nilai-nilai keislaman perlu mendapatkan tempat yang istimewa. Terlebih lagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, banyak sekali hal-hal yang dapat menyebabkan menurunnya nilai-nilai keislaman bagi masyarakat Aceh yang salah satu indikatornya yaitu lembaga meunasah sudah mulai ditinggalkan terutama di perkotaan, seperti misalnya di Kota Langsa. Akibatnya, sudah ada tanda-tanda yang menunjukkan penurunan nilai-nilai keislaman masyarakat Aceh, khususnya di Kota Langsa. Contoh yang dapat diukur terkait penurunannya tersebut adalah banyaknya kasus-kasus yang ditangani oleh dinas syari’at Islam (polisi Syari’at Islam) seperti judi, mabuk-mabukan, dan Zina. Meunasah merupakan salah satu lembaga keagamaan dan adat di Aceh yang memiliki kemampuan untuk melakukan penguatan nilai-nilai keislaman di Aceh. Dengan demikian, dilakukannya penguatan lembaga meunasah akan sangat membantu dalam pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh pada umumnya dan Kota Langsa pada khususnya. Adapun yang dijadikan tempat penelitian adalah 5 (lima) meunasah yakni Meunasah At-Taqwa Gampong Jawa, Meunasah Al-Ikhlas BTN Asamera Matang Seulimeng, Meunasah Gampong Sungai Pauh Tanjong, Meunasah Al-Muhtadin Gampong Daulat, Meunasah Babussalam Gampong Tengoh.
PEMBELAJARAN SAINS DAN TEKNOLOGI UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK Suparman Suparman Suparman
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.294 KB)

Abstract

Pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga juga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Kecenderungan pendidikan karakter di sekolah dibebankan pada mata pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan dan mata pelajaran lain hanya mengajarkan pengetahuan sesuai dengan bidangnya ilmu, teknologi atau seni. Padahal seharusnya proses pembelajaran nilai-nilai karakter idealnya diintegrasikan di dalam setiap mata pelajaran atau antar mata pelajaran. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pelaksanaannya dapat ditempuh dengan pendidikan karakter secara terpadu di dalam pembelajaran yang menanamkan akan pentingnya nilai-nilai, dan pengintegrasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Ada banyak cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam mapel sains, antara lain : mengungkapkan nilai-nilai ke dalam sains, pengintegrasian langsung di mana nilai-nilai karakter menjadi bagian terpadu dari sains, mengubah hal-hal negatif menjadi nilai positif, mengungkapkan nilai-nilai melalui diskusi, menggunakan cerita untuk memunculkan nilai-nilai, menceritakan kisah hidup ahli atau penemu dalam bidang sains, dan lain sebagainya. Integrasi nilai karakter dalam pelaksanaan pembelajaran sains terjadi melalui kegiatan pendahuluan, inti (eksplorasi, elaborasi, konfirmasi), dan penutup. Integrasi pembelajaran sains dengan nilai karakter diharapkan agar peserta didik selain menunjukkan perilaku berkarakter sains juga menunjukkan perilaku berkarakter yang diterima secara universal.
PULAU GALANG SEBAGAI PENAMPUNGAN PENGUNGSI VIETNAM Bunari Bunari Bunari
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.565 KB)

Abstract

Galang Island known in the past Royal Malay (Kerajaan Melayu) as the hiding place of the Lanon (Pirates) also a topic of discussion of the international community when the United Nation High Commissioner For Refugees (UNHCR) placement of refugees "boat people" from Vietnam were stranded in several islands of the Riau archipelago Indonesia. The Vietnamese refugees came the first time on May 22, 1975 in marine waters West Bunguran Northern Natuna Island, Riau Islands which initially only 24 people in a short time reached a peak to 250,000 people. This research was conducted using the method of history that can be interpreted as a method of research and writing of history by using the method, a systematic procedure or technique in accordance with the principles and rules of the science of history. Then, be expected with this study obtain information on Indonesian nation in the International arena of caring helping refugees who vacillate in the sea to be rescued.
THE READING COMPREHENSION PROBLEMS FACED BY ENGLISH DEPARTMENT STUDENTS OF SYIAH KUALA UNIVERSITY Merina Devira Devira
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.253 KB)

Abstract

Reading comprehension is the process of understanding the meaning of written language by reconstructing the author’s message using one’s experiential knowledge, knowledge of language, and thinking skills. The students’ reading comprehension problems can be solved by mastering reading comprehension skills. The objectives of this study are to find out in which reading comprehension skills the English Department students have difficulties and what factors affecting them. The method used in this study was a descriptive qualitative method. The sample of this research was 30 English Department students of Syiah Kuala University who have passed Reading Comprehension IV at least with a C grade. The data was collected by using a test and an interview. The questions on the test were designed based on 13 reading comprehension skils. The research results show that English Department students have difficulties in mastering reading comprehension skills. The major difficulties faced by them are difficulty in answering transition questions (80.75%), implied detail questions (61.20%), unstated detail questions (61%), and vocabulary questions (56%). In addition, the students’ lack of reading comprehension skill were affected by some factors including the background knowledge, the difficulty of material, the purpose of reading, concentration, motivation, and reading interest. Based on the research results, the writer recommends that the students do more reading comprehension practice by implementing some reading comprehension skills and extensively read a lot of English reading materials.
SINGAPORE’S SCHOOL EXCELLENCE MODEL AND HONG KONG’S SCHOOL-BASED MANAGEMENT Fadlia Fadlia Fadlia
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan Vol 4 No 1 (2017): SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.799 KB)

Abstract

This paper aims to elaborate and compare the school excellence model (SEM) approach adopted by Singapore and the school-based management (SBM) approach adopted by Hong Kong. It discusses the impact those educational strategies and the challenges that both Singapore and Hong Kong schools face in implementing the new form of managerialism while fulfilling the requirements of quality assurance. This paper utilizes a comparative approach to analyze both of two educational policies through literature research. The analysis are included approach to decentralization; effects of education marketization; school leaders, teachers and the profitable use of quality models. The literature research has revealed that both Singapore and Hong Kong utilize a centralized decentralization approach though with different intent. The comparative study of Singapore and Hong Kong serves the new horizon to other developing countries in understanding how the educational policies that stressed on quality framework, self-assessment and external supervision can lead to changes in the school system both positive ones and the drawback itself.

Page 7 of 24 | Total Record : 238