cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns" : 6 Documents clear
Peningkatan pengetahuan tentang penanganan kegawatdaruratan sehari-hari pada kader di Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal Jayanti, Tri Nur; Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Nurmansyah, Andri; Widyawati, Widyawati; Darajat, Agus Mi′raj
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.467

Abstract

Background: Emergency is a condition that is critical and urgent and requires rapid treatment. Emergency at home in everyday life has a significant prevalence due to the many accidents or sudden medical conditions that often occur in the home environment such as falls, burns, choking, heart attacks, asthma, and poisoning. PKK and Posyandu cadres act as health educators in the community. Purpose: To improve the understanding and skills of cadres in handling daily emergencies. Method: This community service activity is carried out with the aim of providing health education and training to PKK and Posyandu cadres of the Ros Group RW 10, Binong Village, Batununggal District. The activity was carried out in two days on different days at the RW 10 Mosque, Binong Village, Batununggal District. The implementing team for this community service activity were Lecturers and 9 Nursing students from Bhakti Kencana University and under the supervision of Pokja 4 of the local Health Center. The implementation was carried out by delivering materials using lecture, discussion, and demonstration methods. The first day's activities were carried out on Wednesday, November 13, 2024, which was attended by 11 participants and the second day's activities were carried out on Thursday, November 28, 2024, which was attended by 13 participants. Results: The activity went well and smoothly where the participants enthusiastically gave positive responses. Accumulation of questionnaire data showed that the activities on the first and second days showed an increase in the respondent's score between the level of knowledge before the counseling activity (pre-test) and the level of knowledge after the counseling (post-test). Most of the participants were able to demonstrate and re-practice the handling actions after gaining knowledge such as cardiopulmonary resuscitation (CPR) in cardiac arrest, handling choking, handling when a child has a seizure, how to compress with a sponge tape, simple wound care, and TTV examination Conclusion: Community service activities for handling daily emergencies for cadres can provide direct knowledge enhancement and foster self-confidence in handling daily emergencies. Increasing the skills of cadres provides motivation in carrying out their roles, empowering individuals or groups towards preparedness and handling daily emergencies. Suggestion: This activity needs to be carried out continuously so that it is recommended for the local Health Center to be able to follow up on this activity so that the knowledge and skills of cadres can be maintained and improved. Keywords: Cadres; Counseling; Emergency; Training Pendahuluan: Kegawatdaruratan merupakan kondisi yang bersifat gawat dan darurat dan memerlukan penanganan yang cepat. Kegawatdaruratan di rumah dalam kehidupan sehari-hari memiliki prevalensi yang cukup signifikan karena banyaknya kecelakaan atau kondisi medis mendadak yang sering terjadi di lingkungan rumah seperti jatuh, luka bakar, tersedak, serangan jantung, asma, dan keracunan.  kader PKK dan Posyandu berperan sebagai edukator kesehatan di lingkungan masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader dalam menangani kegawatdaruratan sehari-hari. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan sasaran memberikan penyuluhan kesehatan dan pelatihan kepada kader PKK dan Posyandu Kelompok Ros RW 10 Kelurahan Binong Kecamatan Batununggal. Kegiatan dilaksanakan dalam dua hari pada hari yang berbeda bertempat di Masjid RW 10 Kelurahan Binong Kecamatan Batununggal. Tim pelaksana kegiatan pengabdian ini adalah Dosen dan 9 mahasiswa Keperawatan Universitas Bhakti Kencana serta di bawah pengawasan Pokja 4 Puskesmas setempat. Pelaksanaan dilakukan dengan menyampaikan materi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Kegiatan hari pertama dilakukan pada hari Rabu, 13 November 2024 yang dihadiri oleh 11 peserta dan kegiatan hari kedua dilakukan pada hari Kamis, 28 November 2024 yang dihadiri oleh 13 peserta. Hasil: Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar dimana para peserta secara antusias memberikan respon yang positif. Akumulasi data kuesioner menunjukan bahwa kegiatan pada hari pertama dan hari kedua terdapat peningkatan nilai skor responden antara tingkat pengetahuan sebelum kegiatan penyuluhan (pre-test) terhadap tingkat pengetahuan setelah penyuluhan (post-test). Sebagian besar para peserta dapat mendemonstrasikan dan mempraktikkan ulang tindakan penanganan setelah mendapatkan pengetahuan seperti resusitasi jantung paru (RJP) pada henti napas henti jantung, penanganan tersedak, penanganan saat anak kejang, cara kompres dengan tapid sponge, perawatan luka sederhana, dan pemeriksaan TTV Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat penanganan kegawatdaruratan sehari-hari pada kader dapat memberikan peningkatan pengetahuan secara langsung dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari. Meningkatnya ketrampilan para kader memberikan motivasi dalam melaksanakan perannya, pemberdayaan individu atau kelompok terhadap kesiapsiagaan dan penanganan kegawatdaruratan sehari hari. Saran: Kegiatan ini perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga disarankan bagi Puskesmas setempat untuk dapat menindaklanjuti kegatan ini agar pengetahuan dan keterampilan kader dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
Gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota Bandar Lampung Nurhayati, Nurhayati; Fitri, Feni Elda; Wulan, Sarinah Sri; Rahayu, Ajeng
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.469

Abstract

Background: 3-month birth control injection is a contraceptive device containing hormones such as DMPA (Depo medroxyprogesterone acetate) and NET-EN which are injected intramuscularly (IM) into the buttocks area of ​​women once every 3 months. The most common side effect felt by users of 3-month birth control injections is weight changes. Weight changes can be influenced by the presence of the hormone Depo Medroxyprogesterone acetate (DMPA) which can stimulate the appetite control center in the hypothalamus, causing acceptors to experience an increase in appetite from usual. Purpose: To determine the description of weight changes in acceptors of 3-month birth control injections. Method: Descriptive research to see the description of weight changes for users of 3-month birth control injections. The description of weight changes is not by comparing or connecting the independent variables with other factors. The population is users of 3-month birth control injections at the Kemiling Inpatient Health Center, Bandar Lampung and using the total sampling technique, 30 people were selected as respondents. The inclusion criteria were willingness to be a respondent, using 3-monthly contraceptive injections, and duration of contraceptive injection use ≥1 year. Results: Most of the respondents' employment status was as housewives, namely 28 (93.4%). All respondents had a regular diet, namely 30 (100.0%). The majority of respondents' blood pressure was in Pre-hypertension 120-139 mmHg, namely 14 (46.7%). Most respondents experienced changes in weight gain, namely 29 (96.7%). The majority of respondents had used contraceptive injections for 4-6 years, namely 15 (50.0%) and the history of the type of contraception used by respondents previously was mostly contraceptive injections, namely 26 (86.6%). Conclusion: Weight gain for users of 3-month contraceptive injections is influenced by age, employment status, duration of contraceptive injection use, and regularity of diet. The more dominant factors influencing weight gain for users of 3-month contraceptive injections are employment status and regularity of diet. Suggestion: To be an additional reference for the development of knowledge and increasing public understanding about the relationship between types of contraception and the description of weight changes in 3-month injectable contraceptive acceptors so that they can maintain a healthy quality of life by doing physical activities, improving diet, and choosing the right contraception. Keywords: 3-month injectable contraceptives; KB acceptors; Weight changes Pendahuluan: Suntik KB 3 bulan yaitu alat kontrasepsi yang berisikan hormonal seperti DMPA (Depo medroxyprogesterone acetat) dan NET-EN yang disuntikan secara intramuscular (IM) pada area bokong wanita dalam 3 bulan sekali. Efek samping terbanyak yang dirasakan dari akseptor KB suntik 3 bulan yaitu, perubahan berat badan. Perubahan berat badan dapat dipengaruhi karena adanya hormon Depo Medroxyprogesterone acetat (DMPA) yang dapat merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipothalamus sehingga menyebabkan akseptor mengalami peningkatan nafsu makan dari biasanya. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntuk 3 bulan. Metode: Penelitian deskriptif untuk melihat gambaran perubahan berat badan bagi pengguna KB suntik 3 bulan. Gambaran perubahan berat badan tidak dengan membandingkan atau menghubungkan variable independennya dengan faktor lain. Populasinya adalah pengguna KB suntik 3 bulan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Bandar Lampung dan dengan teknik total sampling mendapatkan sebanyak 30 orang menjadi responden. Kriteria inklusinya adalah bersedia menjadi responden, menggunakan KB suntik 3 bulan, dan lama pemakaian KB suntik ≥1 tahun Hasil: Sebagian besar status pekerjaan responden adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 28 (93.4%). Seluruh responden memiliki pola makan yang teratur yaitu sebanyak 30 (100.0%)  Mayoritas tekanan darah responden pada Pre-hipertensi 120-139 mmHg yaitu sebanyak 14 (46.7%). Sebagian besar responden mengalami perubahan kenaikan berat badan yaitu sebanyak 29 (96.7%). Mayoritas responden sudah menggunakan KB suntik selama 4-6 tahun yaitu sebanyak 15 (50.0%) dan riwayat jenis KB yang digunakan responden sebelumnya adalah sebagian besar adalah KB suntik yaitu sebanyak 26 (86.6%). Simpulan: Kenaikan berat badan bagi pengguna KB suntik 3 bulan dipengaruhi oleh faktor usia, status pekerjaan, lamanya penggunaan KB suntik, dan keteraturan pola makan. Faktor yang lebih dominan mempengaruhi kenaikan berat badan bagi akseptor KB suntik 3 bulan adalah status pekerjaan dan keteraturan pola makan. Saran: Menjadi referensi tambahan untuk pengembangan pengetahuan dan peningkatan pemahaman kepada masyarakat tentang hubungan jenis kontrasepsi dan gambaran perubahan berat badan pada akseptor KB suntik 3 bulan sehingga dapat menjaga kualitas hidup sehat dengan melakukan aktifitas fisik, memperbaiki pola makan, dan memilih kontrasepsi yang tepat.
Edukasi preventif dan promotif dalam upaya pencegahan stunting di Desa Tuncung Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Syamson, Meriem Meisyaroh; Zainab, Zainab; Hasanuddin, Indirwan; Sulaeman, Sulaeman; Purnama AL, Jumiarsih; Murtini, Murtini; Faridah, Faridah; Suparta, Suparta
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.700

Abstract

Background: Stunting is a public health problem that is still a serious challenge in Indonesia. Stunting occurs due to chronic malnutrition which causes children to have a lower height compared to children of the same age. The prevalence of stunting in Indonesia is still quite high, although efforts to reduce it have been carried out nationally. This condition not only has an impact on children's physical condition, but also affects their cognitive development, immunity, and productivity in the future. Purpose: To provide education with a preventive approach and a promotive approach to the community in an effort to prevent stunting incidents in a sustainable manner. Method: The target of this activity is all residents of Tuncung Village, especially housewives and those with babies and children. On Wednesday, January 8, 2025, at the Tuncung Village Hall, Maiwa District, Enrekang Regency. Counseling by providing information directly by health workers or facilitators to the community in the form of lectures to provide basic knowledge about stunting, such as causes, impacts, and how to prevent it Results: The participants gave a positive response by attending and following each activity session, were able to provide simulation actions according to the instructions after gaining knowledge from the presentation of the material provided by the resource person, understood efforts to prevent stunting with awareness as preventive measures such as fulfilling balanced nutrition, good parenting patterns, and environmental cleanliness, understood promotive efforts in reducing the incidence of stunting by changing positive behavior, namely playing an active role in monitoring the growth and development of children through routine visits to health facilities. Conclusion: Education and preventive approaches provide increased knowledge in identifying and reducing the risk of stunting early on. Meanwhile, promotive education increases public awareness of the importance of a healthy lifestyle, exclusive breastfeeding and good parenting in supporting child growth and development in an effort to prevent stunting. Preventive and promotive education will reduce stunting incidents sustainably. Suggestion: Introduce the concept of "Isi Piringku" for toddlers so that parents understand the adequacy of nutritional intake needed by children according to their growth and development. Cadres, community leaders, religious organizations, or schools can provide information to the wider community about the importance of preventing stunting incidents and the impacts of stunting. Local companies in supporting CSR programs are expected to focus on stunting eradication, such as providing nutritious food for underprivileged children. Keywords: Education; Preventive; Promotive; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang menyebabkan anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak seusianya. Prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi, meskipun upaya penurunan telah dilakukan secara nasional. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, imunitas, dan produktivitas mereka di masa depan. Tujuan: Memberikan edukasi dengan pendekatan preventif dan pendekatan promotif  pada masyarakat dalam upaya mencegah kejadian stunting secara berkelanjutan. Metode: Sasaran kegiatan ini adalah seluruh warga Desa Tuncung, khususnya ibu rumah tangga dan yang mempunyai bayi dan anak. Pada Hari Rabu, 08 Januari 2025, bertempat di Balai Desa Tuncung, Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Penyuluhan dengan pemberian informasi secara langsung oleh tenaga kesehatan atau fasilitator kepada masyarakat dalam bentuk ceramah untuk memberikan pengetahuan dasar tentang stunting, seperti penyebab, dampak, dan cara pencegahannya Hasil: Para peserta memberikan respon positif dengan menghadiri dan mengikuti setiap sesi kegiatan, dapat memberikan tindakan simulasi sesuai dengan petunjuk setelah mendapatkan pengetahuan dari paparan materi yang diberikan oleh nara sumber, memahami upaya pencegahan kejadian stunting dengan kesadaran sebagai tindakan preventif seperti pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang baik, serta kebersihan lingkungan, memahami upaya promotif dalam menekan angka kejadian stunting dengan merubah perilaku yang positif yaitu berperan aktif dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan. Simpulan: Edukasi dan pendekatan preventif memberikan peningkatan pengetahuan dalam mengidentifikasi dan mengurangi risiko terjadinya stunting sejak dini. Sedangkan edukasi promotif memberikan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat, pemberian ASI eksklusif dan pola asuh yang baik dalam mendukung tumbuh kembang anak dalam upaya mencegah kejadian stunting. Edukasi preventif dan promotif akan menekan kejadian stunting secara berkelanjutan. Saran: Perkenalkan konsep "Isi Piringku" untuk anak-anak usia balita agar orang tua memahami kecukupan asupan gizi yang dibutuhkan anak-anak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Para kader, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, atau sekolah dapat memberikan informasi ke masyarakat yang lebih luas tentang pentingnya pencegahan kejadian stunting dan dampak stunting. Perusahaan lokal dalam mendukung program CSR diharapkan berfokus pada pengentasan stunting, seperti penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak kurang mampu.
Pengaruh terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an terhadap kecemasan siswa dalam menghadapi ujian Yunitasari, Eva; Aliun, Fatimah Wahab; Oktarosada, Dwi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.758

Abstract

Background: Anxiety is an emotional response to an individual's perspective that is subjective and has no known cause. The global prevalence of anxiety in the world is 3.6 Psychological problems that are often experienced by students, namely fear of failure, getting bad grades and not being able to do exams, are included in their own burdens that cause levels of anxiety. Action or therapy is needed to minimize the incidence of anxiety. Non-pharmacological therapy as an alternative and solution, including hydrotherapy therapy, namely ablution techniques and also murottal Al-Qur'an. Purpose: To identify the effect of ablution and murottal Al-Qur'an on changes in students' anxiety in facing exams. Method: Pre-experimental research with one group design, pre-test and post-test design. The population in this study were all students of class XII of Al Ihya Islamic Boarding School Kalirejo Lampung Tengah in the 2022/2023 academic year, totaling 110 people consisting of 3 classes. Using random sampling technique, 30 students were selected as respondents. The intervention variables in this study were ablution therapy and Al-Quran recitation, while the dependent variable was anxiety. The instrument used in this study was the Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A). Data were processed using statistical tests using paired T-tests. Results: The level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was in the range of 12-41 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was in the range of 8-28. While the average value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 30.83 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 17.80. For the standard deviation value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 6.41 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was at a score of 5.77. Based on the normality test, the value of the level of anxiety of respondents before ablution and murottal Al-Qur'an therapy was 0.117 and after ablution and murottal Al-Qur'an therapy was 0.247. Meanwhile, based on the T-paired test between the level of anxiety of respondents before and after ablution therapy and Al-Qur'an recitation, the value was 13.03 and p-value = 0.001. Conclusion: Ablution therapy and Al-Quran recitation have a significant effect in reducing students' anxiety levels in facing exams. Providing ablution therapy and Al-Quran recitation to reduce anxiety is very effective when done in a duration of 15-30 minutes and can be done at any time to control anxiety.   Suggestion: As an alternative solution, schools or educational institutions can implement ablution therapy and listen to the recitation of the Al-Quran to control the mental state of students who experience anxiety. Keywords: Ablution therapy; Al-Quran recitation; Anxiety Pendahuluan: Kecemasan merupakan respon emosional terhadap perspektif individu yang bersifat subjektif dan tidak diketahui penyebabnya. Prevalensi global kejadian kecemasan di dunia adalah sebanyak 3.6 Masalah psikologis yang sering dialami siswa yaitu takut gagal, mendapat nilai jelek dan tidak bisa mengerjakan ujian adalah termasuk beban tersendiri yang menimbulkan tingkat rasa kecemasan. Tindakan atau terapi sangat diperlukan untuk meminimalkan kejadian kecemasan. Terapi nonfarmakologis sebagai alternatif dan solusi, diantaranya  dengan terapi hidroterapi yaitu teknik wudhu dan juga murottal Al-Qur’an. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pengaruh wudhu dan murottal Al-Qur’an terhadap perubahan kecemasan siswa/siswi dalam menghadapi ujian. Metode: Penelitian pre-eksperimen dengan rancangan one group design, pre-test dan post-test design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas XII pondok pesantren Al  Ihya Kalirejo Lampung Tengah tahun ajar 2022/2023 sebanyak 110 orang yang terdiri dari  3 kelas. Dengan teknik random sampling mendapatkan sebanyak 30 siswa/siswi untuk menjadi responden. Variabel intervensi dalam penelitian ini yaitu terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an, sedangkan variabel dependennya yaitu kecemasan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A). Data diolah dengan Uji statistik menggunakan T-test berpasangan atau paired T test. Hasil: Tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an dalam rentang skor 12-41 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an dalam rentang skor 8-28. Sedangkan nilai rata-rata tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 30.83 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 17.80.  Untuk nilai standar deviasi tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 6.41 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an berada di skor 5.77. Berdasarkan uji normalitas mendapatkan nilai tingkat kecemasan responden sebelum terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an sebesar 0.117 dan sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an sebesar 0.247.  Sedangkan berdasarkan uji T-paired test antara tingkat kecemasan responden sebelum terhadap sesudah terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an mendapatkan nilai 13.03 dan p-value=0.001. Simpulan: Terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan siswa/siswi dalam menghadapi ujian. Pemberian terapi wudhu dan murottal Al-Qur’an untuk menurunkan kecemasan sangat efektif di lakukan dalam durasi 15 – 30 menit dan dapat dilakukan kapanpun untuk mengendalikan rasa kecemasan. Saran: Sebagai solusi alternatif pada pihak sekolah atau lembaga pendidikan dapat menerapkan terapi wudhu dan mendengarkan murottal Al-Qur’an untuk mengendalikan mental siswa/siswi yang mengalami kecemasan
Kejadian malaria dan intervensi berbasis masyarakat di Dusun Mutun: Studi kasus Nuryani, Dina Dwi; Yanti, Dhiny Easter; Agusman, Gilang; Muliono, Muliono; Forcepta, Chania; Sastini, Ketut; Putra, Gilang Ramadhan; Fitriani, Fitriani
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.817

Abstract

Background: Malaria is one of the deadliest infectious diseases in the world. Every year, millions of people are infected with this parasite, with the majority of cases occurring in tropical and subtropical regions of Africa, Asia, and Latin America. In Southeast Asia, Indonesia is one of the countries with a fairly high incidence of malaria, with the number of cases reaching 443,530 in 2023. Several factors that contribute to the high incidence of malaria in the community include environmental conditions that support the breeding of Anopheles mosquitoes, low public awareness of disease prevention, and limited access to health services. Purpose: To identify the incidence of malaria in Mutun Hamlet and provide education with direct intervention with the community in efforts to control and prevent malaria. Method: using a quantitative descriptive approach with a field survey method with 238 heads of families as the population and with random sampling to get 100 people to become respondents. The instrument used in this study was a questionnaire containing questions related to the history of malaria, prevention behavior, and access to health services. Environmental observation with local health workers and several community representatives includes household conditions, sanitation, and factors that influence the presence of Anopheles mosquitoes. Determination of problem priorities is the Pan American Health Organization (PAHO) method by approaching the extent of the problem (magnitude), degree of severity (severity), availability of technology (vulnerability), and community concern. Results: The community of Mutun Hamlet and village officials gave a positive response and actively participated in carrying out activities. The age of respondents who experienced malaria was mostly between the ages of 4-25 years, namely 5 (5.6%), the gender of respondents who experienced malaria was mostly male, namely 6 (66.7%). The majority of the education level of the Mutun Hamlet community was elementary school graduates, namely 57 (57.0%) and most of the environmental conditions where the community lives in Mutun Village have lots of puddles, namely 56 (56.0%). Conclusion: Malaria is a dominant health problem in Mutun Hamlet. Community-based education and intervention can increase awareness and compliance in environmental control and prevention of malaria. Suggestion: Related parties and the government need to increase malaria vaccination programs as an effort to control the presence of malaria vectors and their spread. Keywords: Anopheles mosquitoes; Community intervention; Malaria prevention Pendahuluan: Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia. Setiap tahun, jutaan orang terinfeksi parasit ini, dengan sebagian besar kasus terjadi di wilayah-wilayah tropis dan subtropis di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kejadian malaria yang cukup tinggi, dengan jumlah kasus mencapai 443.530 pada tahun 2023. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian malaria di masyarakat antara lain adalah kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Tujuan: Mengidentifikasi kejadian malaria di Dusun Mutun dan memberikan edukasi dengan intervensi langsung bersama masyarakat dalam upaya pengendalian dan pencegahan kejadian malaria. Metode: menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei lapangan dengan 238 kepala keluarga sebagai populasinya dan dengan random sampling mendapatkan 100 orang untuk menjadi responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi pertanyaan terkait riwayat penyakit malaria, perilaku pencegahan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Observasi lingkungan bersama tenaga kesehatan setempat dan beberapa perwakilan masyarakat meliputi kondisi rumah tangga, sanitasi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan nyamuk Anopheles. Penentuan prioritas masalah adalah metode Pan American Health Organization (PAHO) dengan melakukan pendekatan luasnya masalah (magnitude), derajat keparahan (severity), ketersediaan teknologi (vulnerability), dan kepedulian masyarakat. Hasil: Masyarakat Dusun Mutun and aparatur Desa memberikan respon positif dan ikut berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan. Usia responden yang mengalami kejadian malaria adalah sebagian besar di usia 4-25 tahun yaitu sebanyak 5(5.6%), jenis kelamin responden yang mengalami kejadian malaria mayoritas laki-laki yaitu sebanyak 6(66.7%). Mayoritas tingkat pendidikan masyarakat Dusun Mutun adalah tamatan SD yaitu sebesar 57 (57.0%) dan sebagian besar kondisi lingkungan tempat tinggal masyarakat di Desa Mutun terdapat banyak genangan air yaitu sebanyak 56 (56.0%). Simpulan: Kejadian malaria merupakan masalah kesehatan yang dominan di Dusun Mutun. Edukasi dan intervensi berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesadaran serta kepatuhan dalam pengendalian lingkungan dan pencegahan kejadian malaria. Saran: Pihak terkait dan pemerintah perlu meningkatkan program vaksinasi malaria sebagai upaya pengendalian keberadaan vektor malaria dan penyebarannya.
Peningkatan pengetahuan pencegahan anemia pada remaja 8000 HPK dan pemberian ketrampilan pengolahan abon telur pada kader di Desa Bontomanai, Jeneponto Triananinsi, Nurhidayat; Khatimah, Husnul; Supardi, Nurjannah; Wahyuni, Wahyuni
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.858

Abstract

Background: The 8000 First Days of Life program is a systematic intervention in three phases of life after 1000 First Days of Life, namely the phase at the age of 5-9 years, where in this phase the incidence of infectious diseases and malnutrition are the main problems that interfere with growth and development. The prevalence of stunting in Jeneponto Regency reached 39.8%, far above the national average (21.6%), with anemia in adolescents as one of the causative factors. Observations at the Bontomanai Village Posyandu showed that most adolescents were not aware of the importance of consuming iron tablets, with 4 out of 6 adolescents showing signs of anemia. In addition, there is no place for consultation and health education for adolescents in this area. Purpose: To increase knowledge about anemia prevention and the skills of Posyandu cadres through counseling and training in food processing as support for nutritional adequacy. Method: The activity was carried out on September 18, 2024 at the house of the head of Bontomanai Village, Jeneponto Regency. The activity was attended by 32 cadres and 5 adolescent girls. The target of this community service activity is focused on the cadres of the Bontomanai Village Posyandu work area, Rumbia District, Jeneponto Regency. Delivering material using lecture and discussion methods regarding anemia, causes, symptoms, long-term impacts, and management and prevention of anemia. Simulations are provided in the form of demonstrations and assistance regarding the procedure for processing eggs into shredded meat. The questionnaire data is tabulated and then analyzed by comparing the results of the accumulated pre-test scores with the post-test scores accompanied by direct observation notes when providing assistance. Results: There was an increase in the number of participants who had knowledge about anemia in the good category from before the counseling as many as 5 people (13.5%) to 20 people (54.1%). There was also an increase in the number of participants who had skills in processing eggs into shredded meat from before the counseling as many as 10 people (27.0%) to 20 people (94.6%). Conclusion: Counseling activities to increase knowledge about anemia by providing skills in the form of food processing skills have a very positive influence on increasing the understanding of cadres in efforts to prevent anemia and stunting. Suggestion: Cadres can continue this activity together with partners and coordinate with the PKM team in a joint effort to prevent anemia in 8000 First Days of Life and stunting. Keywords: Adolescent girls; Anemia; Fulfillment of nutrition; Posyandu cadres; Skills                                                                                                                                                        Pendahuluan: Program 8000 HPK merupakan sebuah intervensi yang sistematis pada tiga fase kehidupan setelah 1000 HPK, yaitu fase pada usia 5-9 tahun, dimana pada fase ini kejadian penyakit infeksi dan kekurangan gizi menjadi masalah utama yang mengganggu tumbuh kembang. Prevalensi stunting di Kabupaten Jeneponto mencapai 39.8%, jauh di atas rata-rata nasional (21.6%), dengan anemia pada remaja sebagai salah satu faktor penyebab. Observasi di Posyandu Desa Bontomanai menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak menyadari pentingnya konsumsi tablet tambah darah, dengan 4 dari 6 remaja menunjukkan tanda anemia. Selain itu, belum tersedia tempat konsultasi dan wadah edukasi kesehatan untuk remaja di wilayah ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan anemia dan keterampilan kader posyandu melalui penyuluhan dan pelatihan pengolahan makanan sebagai dukungan kecukupan gizi. Metode: Kegiatan dilakukan pada tanggal 18 September 2024 di rumah kepala Desa Bontomanai Kabupaten Jeneponto. Kegiatan dihadiri oleh 32 kader dan 5 remaja putri. Sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini di fokuskan pada para kader wilayah kerja posyandu Desa Bontomanai Kec. Rumbia Kab. Jeneponto. Menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan diskusi mengenai anemia, penyebab, gejala, dampak jangka panjang serta penanggulangan dan pencegahan anemia. Diberikan simulasi dengan berupa peragaan, demonstrasi dan pendampingan mengenai tatacara pengolahan telur menjadi abon. Data kuesioner ditabulasikan kemudian di analisa dalam membandingkan hasil akumulasi skor pre-test dengan skor post-test disertai dengan catatan observasi langsung ketika melakukan pendampingan. Hasil: Mendapatkan peningkatan jumlah peserta yang memiliki pengetahuan tentang anemia dalam kategori baik dari sebelum penyuluhan sebanyak 5 orang (13.5%) menjadi sebanyak 20 orang (54.1%). Terdapat juga peningkatan jumlah peserta yang memiliki ketrampilan dalam mengolah telur menjadi abon dari sebelum penyuluhan sebanyak 10 orang (27.0%) menjadi sebanyak 20 orang (94.6%). Simpulan: Kegiatan penyuluhan peningkatan pengetahuan tentang anemia dengan memberikan kemampuan berupa ketrampilan pengolahan makanan memiliki pengaruh yang sangat positif terhadap peningkatan pemahaman para kader dalam upaya pencegahan anemia dan stunting. Saran: Kepada para kader dapat melanjutkan kegiatan ini bersama dengan mitra dan koordinasi dengan tim PKM dalam upaya bersama pencegahan anemia pada 8000 HPK dan stunting.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue