cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 355 Documents
Efektivitas penyuluhan gizi berbasis prinsip B2SA terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi balita Puteri, Hidayatusy Syukrina; Kustiani, Ai; Astuti, Dewi Woro; Harvidea, Radella; Nurhartanto, Adhi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.2730

Abstract

Background: Indonesia still faces the serious challenge of triple burden malnutrition, particularly in rural areas such as Hajimena Village, South Lampung. Limited access to nutrition information and suboptimal utilization of local foods are major obstacles to toddler feeding practices. The principle of Diverse, Nutritious, Balanced, and Safe Food (B2SA), as outlined in the "Isi Piringku" concept, presents a strategic approach to address this issue. Purpose: To evaluate the effectiveness of nutrition counseling and the level of maternal knowledge based on the B2SA principle, utilizing the potential of local foods to meet balanced nutrition needs for toddlers. Method: The activity was conducted on Wednesday, January 21, 2026, at the Cemara Kebun Bibit Integrated Health Post (Posyandu), Hajimena Village, South Lampung Regency. This study used a one-group pre-test and post-test design. A sample of 36 respondents was drawn using a purposive sampling technique in accordance with the following inclusion criteria: mothers with toddlers aged 6–59 months, willing to participate by signing an informed consent, and participating in the entire activity from start to finish. The intervention consisted of a 120-minute nutrition counseling session through interactive lectures, group discussions, and menu preparation demonstrations using local food ingredients. The assessment instrument used a structured questionnaire on B2SA knowledge and “Isi Piringku” (My Plate) consisting of 10 multiple-choice items with a score of 0–100). Measurements were taken before the counseling session (pre-test) and after the counseling session (post-test). In addition to the questionnaire, a participant observation sheet was used to record participant involvement during the intervention. Comparisons of pre-test and post-test scores were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test at a significance level of α=0.05. Percentage changes in knowledge and attitudes were calculated to determine the trend of improvement. Results: The median level of knowledge of respondents before the counseling session was 9.00, with a range of 2-10 points, and after the counseling session, the median score was 10, with a range of 4-10 points. The statistical test yielded a Z-value of -3.483 with a p-value of 0.001. Conclusion: The "Isi Piringku" (B2SA)-based nutrition counseling program, utilizing local foods, has been shown to have a positive and significant impact on improving the knowledge of mothers of toddlers. Nutrition education with a participatory, contextual approach, and based on local potential is an effective strategy for accelerating community nutrition improvement. Suggestion: Mothers of toddlers are encouraged to apply the "Isi Piringku" (B2SA) principles with local foods (cassava, corn, bananas, fish, and moringa leaves). Community health centers (Puskesmas) and the Health Office are recommended to make this counseling model a priority program for stunting reduction, integrated with integrated health posts (Posyandu) and cadre training. Keywords: B2SA; Balanced nutrition; Local foods; Maternal knowledge; Nutrition counseling; Toddlers Pendahuluan: Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa beban gizi tiga kali lipat (triple burden malnutrition), terutama di wilayah perdesaan seperti Desa Hajimena, Lampung Selatan. Minimnya akses informasi gizi dan pemanfaatan pangan lokal yang belum optimal menjadi kendala utama dalam praktik pemberian makan balita. Prinsip pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang dituangkan dalam konsep "Isi Piringku" hadir sebagai pendekatan strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan gizi dan tingkat pengetahuan ibu berbasis prinsip B2SA dengan memanfaatkan potensi pangan lokal dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi balita. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2026, di Posyandu Cemara Kebun Bibit, Desa Hajimena, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan one group pre-test and post-test design. Mendapatkan sampel sebanyak 36 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi: ibu memiliki balita usia 6–59 bulan, bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Intervensi berupa penyuluhan gizi berdurasi 120 menit melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan demonstrasi penyusunan menu menggunakan bahan pangan lokal. Instrumen penilaian menggunakan kuesioner terstruktur tentang pengetahuan B2SA dan “Isi Piringku” sebanyak 10 item pilihan ganda dengan skor 0–100). Pengukuran dilakukan sebelum penyuluhan (pre-test) dan setelah penyuluhan (post-test). Selain kuesioner, digunakan lembar observasi partisipatif untuk mencatat keterlibatan peserta selama intervensi. Perbandingan skor pre-test dan post-test dianalisis dengan Uji Wilcoxon Signed Rank pada tingkat signifikansi α=0.05. Perubahan persentase pengetahuan dan sikap dihitung untuk melihat kecenderungan peningkatan. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum penyuluhan mendapatkan nilai median sebesar 9.00 dengan rentang nilai 2-10 poin dan setelah penyuluhan mendapatkan nilai median sebesar 10 dengan rentang nilai 4-10 poin. Uji statistik mendapatkan nilai Z sebesar -3.483 dengan pValue 0.001. Simpulan: Program penyuluhan gizi berbasis pendekatan B2SA "Isi Piringku" dengan memanfaatkan pangan lokal terbukti memberikan dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan pengetahuan ibu balita. Edukasi gizi dengan pendekatan partisipatif, kontekstual, dan berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi efektif dalam percepatan perbaikan gizi masyarakat. Saran: Ibu balita diharapkan mengaplikasikan prinsip B2SA "Isi Piringku" dengan pangan lokal (singkong, jagung, pisang, ikan, daun kelor). Puskesmas dan Dinas Kesehatan direkomendasikan menjadikan model penyuluhan ini sebagai program prioritas penurunan stunting, terintegrasi dengan Posyandu dan pelatihan kader.
Implementasi edukasi birth plan berbasis video untuk penguatan kesiapan ibu hamil trimester 3 menjelang persalinan Audina, Marchella; Pipin, Apriliana; Trivina, Trivina; Susanna, Susanna
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.2910

Abstract

Background: Third-trimester pregnant women are a group that requires optimal preparation for childbirth, but understanding of birth plans remains low. Some mothers lack understanding of delivery options, danger signs, and the role of the family, leading to increased anxiety and a lack of preparedness for childbirth. The limited availability of conventional educational media is a limiting factor. Therefore, video-based education is seen as an innovative solution to improve the knowledge and preparedness of pregnant women. Purpose: To improve the knowledge and preparedness of third-trimester pregnant women for childbirth, strengthen family support, and improve the quality of antenatal education. Method: This community service activity was conducted at the Nirwana Integrated Health Post (Posyandu) in Sungai Kakap Village, within the Sungai Kakap Community Health Center (Puskesmas), West Kalimantan Province, Indonesia, and was attended by 20 third-trimester pregnant women. The material was delivered through lectures and audiovisual presentations on birth plans, covering childbirth preparation, birth planning, and managing third-trimester danger signs. Evaluation was conducted through participant observation and feedback during the educational activity. The evaluation results are presented descriptively to measure the participants' understanding and achievement during the educational activity. Results: The activity proceeded well and smoothly with the active participation of all participants. The average age of participants was 28.5 years with a standard deviation of ±3.15 years. The majority of participants were in the 26-30 age range (15 (75.0%). The majority of participants were primiparous (17 (85.0%). Descriptively, participants achieved achievements in physical preparation, emotional control, and risk understanding. Conclusion: The video-based birth plan education program for pregnant women in their third trimester was effective in increasing their knowledge and preparedness for childbirth. Video media proved to be an engaging and easy-to-understand educational tool for improving the quality of antenatal care, particularly in preparing pregnant women in their third trimester for childbirth with greater physical and mental readiness. Suggestion: Healthcare workers are encouraged to utilize video as an educational tool for ongoing antenatal care. Pregnant women, especially those in their third trimester, can also use educational videos independently and repeatedly to better understand the birthing process and contribute to improving the health of the wider community. Keywords: Antenatal education; Birth planning; Third trimester of pregnancy; Video-based education Pendahuluan: Ibu hamil trimester 3 merupakan kelompok yang membutuhkan persiapan optimal menjelang persalinan, namun masih ditemukan rendahnya pemahaman tentang birth plan. Sebagian ibu belum memahami pilihan persalinan, tanda bahaya, serta peran keluarga, sehingga berdampak pada meningkatnya kecemasan dan kurangnya kesiapan menghadapi persalinan. Keterbatasan media edukasi yang masih bersifat konvensional menjadi salah satu faktor penghambat. Oleh karena itu, edukasi berbasis video dipandang sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu hamil. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu hamil trimester 3 menjelang persalinan, memperkuat dukungan keluarga, dan memperbaiki kualitas edukasi antenatal. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Posyandu Nirwana Desa Sungai Kakap dimana masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sungai kakap, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia yang diikuti 20 peserta ibu hamil trimester 3. Materi disampaikan melalui ceramah dan presentasi aplikasi audio visual mengenai birth plan yang meliputi persiapan persalinan, perencanaan persalinan dan penanganan tanda bahaya kehamilan trimester 3. Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi peserta dan umpan balik selama kegiatan edukasi. Hasil evaluasi disajikan secara deskriptif sebagai pengukuran peningkatan pemahaman dan pencapaian peserta selama mengikuti kegiatan edukasi. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar dengan partisipasi aktif dari seluruh peserta. Mendapatkan bahwa usia rata-rata peserta adalah 28.5 tahun dengan standar deviasi ±3.15 tahun dan sebagian besar peserta berada di rentang usia 26-30 tahun yaitu sebanyak 15 (75.0%). Sedangkan mayoritas status paritas peserta adalah primipara yaitu sebanyak 17 (85.0%). Secara deskriptif, peserta mendapatkan pencapaian dalam aspek persiapan fisik, aspek pengendalian emosional, dan pemahaman aspek risiko. Simpulan: Kegiatan edukasi birth plan berbasis video pada ibu hamil trimester 3 berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kesiapan ibu dalam menghadapi persalinan. Media video terbukti menjadi sarana edukasi yang menarik dan mudah dipahami dalam meningkatkan kualitas pelayanan antenatal, khususnya dalam mempersiapkan ibu hamil trimester 3 menghadapi persalinan dengan lebih siap secara fisik dan mental. Saran: Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk memanfaatkan media video sebagai sarana edukasi dalam pelayanan antenatal secara berkelanjutan. Ibu hamil khususnya trimester 3 juga dapat memanfaatkan media video edukasi secara mandiri dan berulang agar lebih memahami proses persalinan sehingga dapat berkontribusi meningkatkan kualitas kesehatan komunitas yang lebih luas.
Optimalisasi pengetahuan dan pendampingan dalam pengelolaan hipertensi pada lansia Wijonarko Wijonarko; Ferry Ferry; Hendra Jaya Putra; Merry Arianti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.2944

Abstract

Background: Hypertension is a chronic health problem prevalent in the elderly and a major risk factor for cardiovascular disease. Its management requires a comprehensive approach, including non-pharmacological methods such as physical activity. This condition is characterized by persistent elevations in arterial blood pressure that exceed normal limits, generally ≥150/90 mmHg. At the Gedong Air Community Health Center, the prevalence of hypertension was recorded at 34.25%, indicating a persistently high burden of health problems in the community. This community service activity focuses on optimizing hypertension management in the elderly through education. Limited access to information related to the prevention of other degenerative diseases is exacerbated by unhealthy lifestyles and lack of physical activity. Interventions through health education are a strategic and effective step in reducing the prevalence of degenerative diseases in the community, particularly in increasing knowledge and awareness regarding prevention efforts and the implementation of healthy lifestyle behaviors. Purpose: To provide education to increase awareness among elderly hypertensive patients in identifying preventive measures against potential cardiovascular complications. Method: This activity was held on Tuesday, January 13, 2026, at 9:30 a.m. WIB at the Kenanga Integrated Health Post (Posyandu), Sukadanaham Village, Bandar Lampung City. Twenty-three elderly people with a history of hypertension participated, along with health cadres and village midwives. The primary target population of this activity was the geriatric population diagnosed with hypertension. Participants were recruited from the Gedong Air Community Health Center (Puskesmas) working area and met the inclusion criteria: aged ≥60 years, diagnosed with hypertension, willing to participate, and having no medical contraindications for light physical activity. The education was provided interactively and participatory, covering essential material on hypertension, including the definition and classification of hypertension, the etiology and risk factors of hypertension, short- and long-term complications of hypertension, and the principles of non-pharmacological and pharmacological hypertension management. Evaluation was conducted through measuring knowledge levels and presented descriptively. Results: Shows that most respondents have blood pressure in the normal category, namely 18 respondents (78.3%), the body mass index of most respondents is in the normal (ideal) category, namely 11 respondents (47.8%) and for the knowledge aspect, the majority of respondents have a level of knowledge in the good category, namely 17 respondents (73.9%). Respondents also showed a commitment to changing attitudes and behavior, which is shown by the readiness to implement a healthy lifestyle independently, carry out regular health checks, exercise regularly, and consume low-salt foods. Conclusion: Community-based health education activities combined with direct physical examinations have proven highly effective in strengthening public literacy regarding the prevention of cardiovascular disorders, particularly for those with hypertension. Strengthening collective understanding of preventive management significantly contributes to increasing individual independence in managing their health risks. The synergy between knowledge and independent preventive actions will have a broad impact on improving overall community health. Suggestion: All activity participants are strongly encouraged to adopt a healthy lifestyle: exercise regularly, such as walking in the morning, maintain adequate hydration by drinking enough water, and ensure 6-7 hours of quality sleep each night. Reduce salt and fat intake, and increase fruit and vegetable intake for a healthier body. To all cadres, let's be more enthusiastic in inviting and guiding the elderly in our community to actively participate in maintaining their health, while also monitoring their health to prevent the risk of cardiovascular disorders. Keywords: Elderly; Health education; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi adalah masalah kesehatan kronis yang dominan pada lansia dan merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Penanganannya membutuhkan pendekatan komprehensif, termasuk metode non-farmakologis seperti aktivitas fisik. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah dalam arteri yang melebihi batas normal, umumnya ≥150/90 mmHg secara persisten. Di Puskesmas Gedong Air, prevalensi hipertensi tercatat sebesar 34.25%, yang menunjukkan masih tingginya beban masalah kesehatan di masyarakat.Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada optimalisasi manajemen hipertensi pada lansia melalui edukasi. Keterbatasan akses informasi terkait pencegahan penyakit degeneratif lainnya, kondisi ini semakin diperburuk oleh penerapan gaya hidup tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.Intervensi melalui edukasi kesehatan menjadi langkah yang strategis dan efektif dalam menurunkan prevalensi penyakit degeneratif di masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran mengenai upaya pencegahan dan penerapan perilaku hidup sehat. Tujuan: Memberikan edukasi unt5uk meningkatkan kesadaran lansia pasien hipertensi dalam mengidentifikasi tindakan preventif terhadap potensi komplikasi kardiovaskular. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa , 13 Januari 2026 pukul 09.30 WIB di Posyandu Kenanga, Kelurahan Sukadanaham, Kota Bandar Lampung. Peserta kegiatan berjumlah 23 lansia dengan riwayat hipertensi, serta turut dihadiri oleh kader kesehatan dan bidan desa. Sasaran utama kegiatan ini adalah populasi geriatri (lansia) yang terdiagnosis hipertensi. Partisipan direkrut dari wilayah kerja UPTD Puskesmas Gedong Air yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia ≥60 tahun, terdiagnosis hipertensi, bersedia berpartisipasi, dan tidak memiliki kontraindikasi medis untuk melakukan aktivitas fisik ringan. Pemberian penyuluhan dilakukan secara interaktif dan partisipatif, mencakup materi esensial mengenai hipertensi, meliputi definisi dan klasifikasi hipertensi, etiologi dan faktor risiko hipertensi, komplikasi jangka pendek dan panjang hipertensi dan prinsip-prinsip pengelolaan hipertensi secara non-farmakologis dan farmakologis. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran tingkat pengetahuan dan disampaikan secara deskriptif. Hasil: Menunjukkan sebagian besar responden memiliki tekanan darah dalam kategori normal, yaitu sebanyak 18 responden (78.3%), indek masa tubuh responden sebagian besar berada pada kategori normal (ideal) yaitu 11 responden (47.8%) dan untuk aspek pengetahuan, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik yaitu sebanyak 17 responden (73.9%). Responden juga menunjukkan adanya komitmen dalam perubahan sikap dan perilaku, yang ditunjukkan dengan kesiapan menerapkan pola hidup sehat secara mandiri, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, berolahraga secara teratur, serta mengonsumsi makanan rendah garam. Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan pemeriksaan fisik secara langsung terbukti memiliki efektivitas tinggi dalam memperkuat literasi masyarakat mengenai pencegahan gangguan kardiovaslkuler, khususnya bagi penderita hipertensi. Penguatan pemahaman kolektif mengenai tata laksana preventif ini memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kemandirian individu dalam mengelola risiko kesehatan mereka. Sinergi antara pengetahuan dan tindakan preventif mandiri ini akan berdampak luas pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Saran:    Bagi seluruh peserta kegiatan, sangat dianjurkan untuk membiasakan diri dengan pola hidup sehat: rutin berolahraga seperti jalan pagi, penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan cukup minum air putih, dan pastikan tidur berkualitas 6-7 jam setiap malam. Kurangi asupan garam dan lemak, serta perbanyaklah makan buah dan sayur untuk tubuh yang lebih bugar. Kepada para kader, mari lebih semangat lagi dalam mengajak dan membimbing para lansia di lingkungan kita untuk berpartisipasi aktif dalam mempertahankan kesehatan, sekaligus memantau kesehatan mereka demi mencegah risiko gangguan kardiovaskuler.
Implementasi senam hipertensi sebagai upaya efektif dalam menurunkan tekanan darah Sari, Walenda Pitri Novida; Usman, Irindy Inayah; Rohma, Eis Ainun; Ningsih, Indah Wahyu; Nasta, Beatrick Rosali; Sari, Ayi Puspita; Indriani, Dwi Liza; Winanda, Bayu; Maharani, Erliana; Marzuna, Marzuna; Mukti, Adika Dwiki; Agnesta, Desvia Ratin; Ramadan, Defri Wan; Rianty, Dian Asih
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3059

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease with a high prevalence and a risk of serious complications such as stroke and heart disease. One non-pharmacological effort to control blood pressure is through physical activity, such as hypertension exercises. Purpose: To determine the effectiveness of hypertension exercises on lowering blood pressure in the community. Method: A pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach was used. The activity was conducted on 66 respondents in Dusun II Aryo Jipang in April 2026. The hypertension exercises intervention was conducted three times, with approximately 20–25 active participants per session. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention using a sphygmomanometer. Results: The results showed that before the intervention, 44 respondents (66.7%) had hypertension with an average blood pressure of 148/92 mmHg. After the hypertension exercises, there was a trend towards a decrease in blood pressure among respondents who actively participated. This indicates that hypertension exercises have a positive effect on blood pressure control. Conclusion: Implementation of hypertension exercises in the community has shown a positive effect on lowering blood pressure. Hypertension exercises, as a form of physical activity, have been shown to be an effective non-pharmacological intervention in helping control blood pressure. Regular and continuous implementation of hypertension exercises is necessary to achieve maximum results in lowering blood pressure and improving public health. Suggestion: The community, especially those with hypertension, is encouraged to engage in physical activity, such as hypertension exercises, at least 3–5 times a week, as an effort to control blood pressure. The community is also encouraged to adopt a healthy lifestyle, including a low-salt diet, maintaining a healthy weight, and having regular blood pressure checks. Keywords: Blood pressure; Community service; Hypertension; Hypertension exercises; Physical activity Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi dan berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tekanan darah adalah melalui aktivitas fisik, seperti senam hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada masyarakat. Metode: Menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada 66 responden di Dusun II Aryo Jipang pada bulan April 2026. Intervensi berupa senam hipertensi dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jumlah peserta aktif sekitar 20–25 orang setiap pertemuan. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan tensimeter. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebanyak 44 responden (66.7%) mengalami hipertensi dengan rerata tekanan darah 148/92 mmHg. Setelah dilakukan senam hipertensi, terdapat kecenderungan penurunan tekanan darah pada responden yang mengikuti kegiatan secara aktif. Hal ini menunjukkan bahwa senam hipertensi memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian tekanan darah. Simpulan: Pelaksanaan senam hipertensi pada masyarakat menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap penurunan tekanan darah. Senam hipertensi sebagai bentuk aktivitas fisik terbukti dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang efektif dalam membantu mengontrol tekanan darah. Diperlukan pelaksanaan senam hipertensi secara rutin dan berkelanjutan agar dapat memberikan hasil yang lebih maksimal dalam menurunkan tekanan darah serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kepada masyarakat khususnya penderita hipertensi untuk rutin melakukan aktivitas fisik seperti senam hipertensi secara teratur minimal 3–5 kali dalam seminggu sebagai upaya pengendalian tekanan darah. Diharapkan juga kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh, seperti mengatur pola makan rendah garam, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
Pencegahan stunting pada generasi emas berbasis gizi dan edukasi sehat (GENIUS) Sari, Widya Karina; Yulanda, Elvis; Sudestia, Nabila; Adelia, Monica; Andrian, Johan; Ayudya, Komang Angel
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3067

Abstract

Background: Stunting is a priority health issue, both globally and locally, due to its multidimensional impacts, ranging from health problems to the risk of death. In the medium term, the stunting prevalence is targeted to decrease to 14.2% by 2029. The 2023 Indonesian Health Survey recorded a stunting rate of 21.5% in Indonesia, a decrease of only 0.1% from 21.6% in 2022. This indicates that Indonesia has not yet achieved its target in the National Medium-Term Development Plan (RPJMN). Considering this situation, accelerating stunting reduction is crucial for realizing Indonesia's Golden Generation by 2045. Purpose: Provide education to increase knowledge about stunting and skills in early stunting prevention. Method: This stunting prevention outreach activity was held on Saturday, August 23, 2025, with a high level of participation, with 110 participants representing the target group, including toddlers, pregnant women, and breastfeeding mothers. The event took place at the Integrated Health Service Post (Posyandu) Center in Sri Melati Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency, Lampung Province. The material was delivered through interactive lectures and question-and-answer discussions. Evaluation of the activity was based on descriptive observations of participants' achievements during the event. Results: Most participants gained knowledge that stunting prevention is carried out from pregnancy until the child is 2 years old, that adequate nutritional intake during pregnancy prevents fetal malnutrition, that compliance with routine checkups during pregnancy or monitoring toddler growth and development at the Posyandu/Puskesmas is crucial, and that maintaining environmental cleanliness and providing appropriate nutrition to prevent diseases that impact child growth and development. Meanwhile, improving participant skills includes conducting accurate anthropometric measurements (height/weight) for early detection of stunting, being more confident in identifying signs of stunting, being able to determine the type of food needed to fulfill balanced nutrition and communicating and consulting with Posyandu/Puskesmas regarding stunting. Conclusion: This community service activity, which involved interactive education using leaflets, was highly effective in increasing knowledge about stunting and enhancing community skills and awareness about how to prevent it. This increased knowledge and skills also motivated the community to adopt healthy lifestyles by providing balanced nutrition for their families, contributing to the accelerated reduction of stunting in Indonesia, particularly in rural areas. Suggestion: This same program needs to be implemented sustainably, involving village governments, health workers, and integrated health post (Posyandu) cadres in efforts to prevent stunting in children. Keywords: Community service; Nutrition education; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan prioritas, baik secara global maupun lokal, karena dampaknya yang multidimensi mulai dari masalah kesehatan hingga risiko kematian. Dalam jangka menengah, prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 14.2% pada tahun 2029. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mencatat angka stunting di Indonesia sebesar 21.5%, hanya turun 0.1% dari 21.6% pada tahun 2022, hal ini dapat diartikan belum tercapainya target Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan mempertimbangkan situasi ini, percepatan penurunan stunting sangat penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Tujuan: Memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai stunting dan kemampuan dalam melakukan pencegahan stunting sejak dini. Metode: Kegiatan penyuluhan pencegahan stunting ini diselenggarakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025. dengan partisipasi yang cukup tinggi, tercatat sebanyak 110 orang yang merupakan kelompok sasaran, termasuk anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Bertempat di Balai Posyandu Desa Sri Melati, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi tanya-jawab. Evaluasi penilaian kegiatan berdasarkan observasi pencapaian deskriptif pada peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil: Sebagian besar peserta mendapatkan pengetahuan bahwa pencegahan stunting dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun, pemenuhan asupan nutrisi di masa kehamilan untuk mencegah janin kurang gizi, pentingnya kepatuhan dalam pemeriksaan rutin di masa kehamilan atau memantau tumbuh kembang balita di Posyandu/Puskesmas dan menjaga kebersihan lingkungan dan pemberian makanan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyakit yang berdampak pada tumbuh kembang anak. Sedangkan peningkatan kemampuan peserta meliputi melakukan pengukuran antropometri (tinggi/berat badan) secara akurat untuk deteksi dini stunting, lebih percaya diri dalam melakukan identifikasi tanda-tanda stunting, dapat menentukan kebutuhan jenis makanan dalam pemenuhan gizi seimbang dan melakukan komunikasi dan konsultasi dengan Posyandu/Puskesmas terkait stunting. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi yang interaktif dengan media leaflet sangat efektif telah meningkatkan pengetahuan mengenai stunting dan meningkatkan kemampuan serta kesadaran masyarakat tentang cara mencegah stunting. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan juga memberikan peningkatan motivasi masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat dengan pemenuhan gizi seimbang bagi keluarganya sehingga kegiatan ini berkontribusi dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia, khususnya wilayah pedesaan. Saran: Program yang sama perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader posyandu dalam rangka upaya pencegahan stunting pada anak.
Edukasi berbasis leaflet dalam upaya pencegahan infeksi menular seksual pada mahasiswa kebidanan semester 2 STIKARA Sintang Hannisa, Silvia Finida; Gunarmi, Gunarmi; Navalia, Zesika Intan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3068

Abstract

Background: Sexually Transmitted Infections (STIs) in Indonesia are projected to increase by 2024, particularly among adolescents and young adults. More than 311,000 deaths from cervical cancer occur annually, and STIs directly impact sexual and reproductive health through stigmatization, infertility, cancer, and pregnancy complications, as well as increasing the risk of HIV. This situation indicates that STIs remain a serious health problem in Indonesia and require prevention efforts through effective health education, particularly among young people. Purpose: To increase students' knowledge, understanding, and awareness of STIs and their prevention using leaflets. Method: This community service activity was conducted in April 2026 at STIKARA Sintang and involved 60 second-semester Midwifery students from STIKARA Sintang as respondents. The material was delivered through lectures and interactive discussions using leaflets delivered in person. Evaluation used questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). The questionnaire results were analyzed descriptively to determine the increase in respondents' knowledge and understanding after the education. Results: None of the respondents' knowledge levels before the educational activity (pre-test) were in the good category, with 23 (38.3%) in the sufficient category, and 37 (61.7%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity (post-test) was 28 (46.78%) in the good category, 25 (41.7%) in the sufficient category, and 7 (11.6%) in the poor category. Conclusion: The intervention activity, which involved education using leaflets, was highly effective in increasing the knowledge and understanding of second-semester midwifery students regarding sexually transmitted infections (STIs). This increased knowledge and understanding positively contributed to the students' role as future healthcare workers in providing STI education and prevention in the community. Suggestion: Educational institutions are encouraged to conduct further research using quasi-experimental and controlled designs to assess the effectiveness of the education. It is also recommended that healthcare institutions collaborate with students in providing education as an effective and applicable strategy to increase knowledge about STIs in the community. Keywords: Adolescents; Health education; Promotion and prevention; Sexually transmitted infections; Student role Pendahuluan: Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia pada tahun 2024 meningkat, terutama pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Lebih dari 311.000 kematian akibat kanker serviks setiap tahun dan Penyakit Menular Seksual (PMS) berdampak langsung pada kesehatan seksual dan reproduksi melalui stigmatisasi, infertilitas, kanker, dan komplikasi kehamilan, serta dapat meningkatkan risiko HIV. Kondisi ini menunjukkan bahwa IMS masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia dan memerlukan upaya pencegahan melalui edukasi kesehatan yang efektif, khususnya pada kelompok usia muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran mahasiswa tentang Infeksi Menular Seksual dan pencegahannya dengan menggunakan media leaflet Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan April 2026 di STIKARA Sintang dan melibatkan 60 mahasiswa Kebidanan Semester 2 STIKARA Sintang menjadi responden. Materi disampaikan melalui ceramah dan diskusi interaktif menggunakan media leaflet yang disampaikan secara langsung. Evaluasi penilaian menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Hasil kuesioner di analisa deskriptif untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pemahaman responden setelah diberikan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) tidak ada yang berada dalam kategori baik, sebanyak 23 (38.3%) dalam kategori cukup dan sebanyak 37 (61.7%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebanyak 28 (46.78%) kategori baik, sebanyak 25 (41.7%) dalam kategori cukup dan sebanyak 7 (11.6%) dalam kategori kurang. Simpulan: Kegiatan intervensi berupa edukasi dengan menggunakan media leaflet sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa Kebidanan Semester 2 mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS). Peningkatan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa memberikan kontribusi positif sebagai upaya promotif dan preventif terhadap peran mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan pencegahan IMS di masyarakat. Saran: Diharapkan kepada institusi pendidikan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan desain quasi-eksperimental dan kontrol untuk menilai pencapaian efek edukasi. Diharapkan juga kepada lembaga kesehatan dapat berkolaborasi dengan mahasiswa dalam kegiatan memberikan edukasi sebagai strategi yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan pengetahuan tentang IMS di masyarakat.
Promotif kesehatan melalui edukasi Keluarga Berencana (KB) Sitti Fatimah; Musni Musni; Desi Heriyana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3143

Abstract

Background: Family planning (FP) is an effort undertaken by married couples to regulate the number, spacing, and timing of their children through the use of contraceptive methods to create a healthy, prosperous, and quality family. According to the World Health Organization (WHO), family planning is an action that enables individuals and couples to anticipate and achieve the desired number of children and determine the spacing and timing of births through the use of safe and effective contraceptive methods. The Family Planning (FP) program is not merely an effort to regulate the number of children, but rather a preventive health strategy proven to reduce maternal and infant mortality, improve the quality of family life, and support sustainable development. Family planning education shifts the societal paradigm from "many children, much fortune" to "fewer children, healthy, and prosperous." This is an effective promotive-preventive effort to improve maternal and child health, particularly in rural areas such as Palongki Village. Purpose: To increase public knowledge about family planning (FP). Method: This community service activity was held on Sunday, February 1, 2026, at 10:00 a.m. WITA (Central Indonesian Time) at the Palongki Village Office. The primary goal was to optimize knowledge about family planning among couples of childbearing age and pregnant women. Thirty-eight respondents, supported by village officials and local health workers, participated in the activity. The activity employed an educational, counseling, and participatory approach, employing a one-group pre-test and post-test design. The educational materials were based on the guidelines of the National Population and Family Planning Board (BKKBN) and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, and adapted to the local context. The materials were delivered through interactive lectures. Evaluation was conducted by analyzing the pre-test and post-test results, calculating the difference in the respondents' average knowledge scores and presenting them descriptively to assess changes in their knowledge levels after the educational activity. Results: The average age of respondents was 31.87 years with a standard deviation of ±6.53 years. The majority of respondents were in the 20-30 age range (50.0%). The majority of respondents (84.2%) accepted family planning (FP), and the majority (84.2%) also believed that education about family planning was very beneficial. Furthermore, the level of knowledge of respondents about family planning before the educational activity was 5 (13.2%) in the good category, 10 (26.3%) in the adequate category, and 23 (60.5%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity was 30 (78.9%) in the good category and 8 (21.1%) in the adequate category. Conclusion: The educational intervention activity was proven effective in increasing mothers' knowledge about family planning (FP) and encouraging positive changes in attitudes and behaviors regarding contraceptive choice. Increasing mothers' knowledge also directly contributes to improving public health through pregnancy planning and appropriate birth spacing. Suggestion: Integrated Health Posts (Posyandu) are expected to conduct regular monitoring and actively empower cadres to provide knowledge about family planning, so that programs can be effectively implemented in the wider community. Keywords: Contraception; Couples of reproductive age; Family planning; Health education; Reproductive health Pendahuluan: Keluarga berencana (KB) adalah upaya yang dilakukan oleh pasangan suami istri untuk mengatur jumlah anak, jarak kelahiran, dan waktu kelahiran melalui penggunaan metode kontrasepsi guna mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Menurut World Health Organization (WHO), family planning adalah tindakan yang memungkinkan individu dan pasangan untuk mengantisipasi dan mencapai jumlah anak yang diinginkan serta menentukan jarak dan waktu kelahiran melalui penggunaan metode kontrasepsi yang aman dan efektif. Program Keluarga Berencana (KB) bukan hanya sekedar upaya pengaturan jumlah anak, melainkan strategi kesehatan preventif yang terbukti menurunkan angka kematian ibu dan bayi, meningkatkan kualitas hidup keluarga serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Edukasi KB mengubah paradigma masyarakat dari “banyak anak banyak rezeki” menjadi “sedikit anak, sehat, dan sejahtera”. Ini adalah upaya promotif–preventif yang efektif untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, khususnya didaerah pedesaan seperti Desa Palongki. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang keluarga berencana (KB) pada masyarakat. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Minggu 1 Februari 2026, pukul 10.00 WITA di Kantor Desa Palongki. Dengan sasaran utama adalah optimalisasi pengetahuan tentang keluarga berencana pada pasangan usia subur dan ibu hamil. Melibatkan 38 responden dan dukungan perangkat desa dan kader kesehatan setempat. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan edukatif, konseling, dan partisipatif, menggunakan pre-test dan post-test one group design. Materi edukasi berdasarkan pedoman BKKBN dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta disesuaikan dengan konteks lokal. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif. Evaluasi dilakukan dengan menganalisa hasil pre-test dan post-test yaitu menghitung selisih nilai rata-rata pengetahuan responden dan disampaikan secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 31.87 tahun dengan standar deviasi ±6.53 tahun dan mayoritas responden berada di rentang usia 20-30 tahun yaitu sebesar 50.0%. Sebagian besar responden merupakan akseptor KB yaitu sebesar 84.2% dan sebagian besar juga responden berpendapat bahwa edukasi tentang KB sangat bermanfaat yaitu sebesar 84.2%. Sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang KB sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 5 (13.2%) dalam kategori baik, sebanyak 10 (26.3%) dalam kategori cukup dan sebanyak 23 (60.5%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 30 (78.9%) dalam kategori baik dan sebanyak 8 (21.1%) dalam kategori cukup. Simpulan: Kegiatan intervensi edukasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan ibu tentang Keluarga Berencana (KB) serta mendorong perubahan positif pada sikap dan perilaku pemilihan alat kontrasepsi. Peningkatan pengetahuan ibu tentang juga berkontribusi langsung dalam menciptakan kesehatan masyarakat melalui perencanaan kehamilan dan mengatur jarak kelahiran dengan tepat. Saran: Diharapkan kepada Posyandu untuk melakukan pemantauan secara rutin dan secara aktif memberdayakan kader dalam memberikan pengetahuan tentang KB, agar penerapan program-program dapat dilaksanakan dengan baik di masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan edukasi kesehatan mental berbasis e-booklet untuk meningkatkan pengetahuan dan menurunkan kecemasan akademik remaja Rafika Dora Wijaya; Agnes Defvi Romayanti Simarmata; Rohanah Rohanah; Muayah Muayah; Siti Fadillah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3183

Abstract

Background: Adolescent mental health is a crucial aspect that influences students' learning process, social development, and quality of life. One common problem experienced by adolescents is academic anxiety due to study pressure, grade demands, and the burden of schoolwork. Low mental health literacy among adolescents results in students lacking understanding of how to manage academic stress healthily. Purpose: To increase mental health knowledge and reduce academic anxiety through an e-booklet-based educational program for students. Method: The program was implemented in 2025 at SMK PGRI Balaraja Tangerang, involving 105 vocational high school students as respondents. The goal was to provide literacy about mental health and academic anxiety levels to students. The program used an educational and participatory approach consisting of preparation, implementation, and evaluation stages. Education was delivered through interactive lectures, discussions, Q&A sessions, and relaxation technique simulations using an e-booklet accessed via students' smartphones. Evaluation used a pre-test and post-test to measure students' levels of academic knowledge and anxiety before and after the intervention. The evaluation results were analyzed using the Wilcoxon test and presented descriptively regarding the increase in mental health literacy and changes in respondents' levels of academic anxiety. Results: The majority of students (92 respondents, 87.6%) were 17 years old, with 57 respondents (54.3%) being female. The results of the activity showed an increase in students' knowledge, categorized as good, from 17.1% to 74.3%. Furthermore, the level of high academic anxiety decreased from 25.8% to 4.7% after receiving e-booklet-based mental health education. Conclusion: E-booklet-based mental health education is effective in increasing students' knowledge and reducing academic anxiety in adolescents. The e-booklet is considered effective because it is easily accessible, engaging, and can be independently reviewed by students. This program can be a promotional and preventive effort to increase mental health literacy and reduce academic anxiety in school adolescents. Suggestion: Schools are expected to continue regular mental health education programs through activities and counseling to help students understand the importance of maintaining mental health. Teachers and other educational staff are also expected to be more active in providing psychological support to students experiencing academic anxiety. Keywords: Academic anxiety; E-booklet; Health education; Knowledge; Teenager Pendahuluan: Kesehatan mental remaja merupakan aspek penting yang memengaruhi proses belajar, perkembangan sosial, dan kualitas hidup siswa. Salah satu masalah yang sering dialami remaja adalah kecemasan akademik akibat tekanan belajar, tuntutan nilai, dan beban tugas sekolah. Rendahnya literasi kesehatan mental pada remaja menyebabkan siswa kurang memahami cara mengatasi stres akademik secara sehat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan mental dan menurunkan kecemasan akademik melalui program edukasi berbasis e-booklet pada siswa. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di SMK PGRI Balaraja Tangerang dengan melibatkan 105 siswa/siswi SMK untuk menjadi responden. Sasarannya adalah pemberian literasi tentang kesehatan mental dan tingkat kecemasan akademik pada siswa. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif yang terdiri dari tahap persiapan, implementasi, dan evaluasi. Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, serta simulasi teknik relaksasi menggunakan media e-booklet yang diakses melalui smartphone siswa. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan dan kecemasan akademik siswa sebelum dan sesudah intervensi. Hasil evaluasi di analisa Wilcoxon test dan disampaikan secara deskriptif mengenai peningkatan literasi kesehatan mental dan perubahan tingkat kecemasan akademik responden.  Hasil: Menunjukkan bahwa mayoritas siswa berusia 17 tahun yaitu sebanyak 92 responden (87.6%), sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 57 responden (54.3%) Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa kategori baik dari 17.1% menjadi 74.3%. Selain itu, tingkat kecemasan akademik kategori tinggi menurun dari 25.8% menjadi 4.7% setelah diberikan edukasi kesehatan mental berbasis e-booklet. Simpulan: Edukasi kesehatan mental berbasis e-booklet efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan siswa dan menurunkan kecemasan akademik pada remaja. Media e-booklet dinilai efektif karena mudah diakses, menarik, dan dapat dipelajari kembali secara mandiri oleh siswa. Program ini dapat menjadi salah satu upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental serta menurunkan kecemasan akademik pada remaja sekolah. Saran: Sekolah diharapkan dapat melanjutkan program edukasi kesehatan mental secara rutin melalui kegiatan maupun bimbingan konseling agar siswa semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental. Guru dan tenaga pendidik juga diharapkan lebih aktif dalam memberikan dukungan psikologis kepada siswa yang mengalami kecemasan akademik.
Pemberdayaan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan (family farming) sebagai dukungan dalam pencegahan stunting Asmah Sukarta; Sartika Sahibu; Marnianti Marnianti; Hajrah Hajrah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3188

Abstract

Background: Stunting remains a public health problem that impacts physical growth, cognitive development, and the quality of human resources. One contributing factor to stunting is limited family access to nutritious food on a sustainable basis. According to the Indonesian Ministry of Health, the results of a national survey, which serves as the primary reference for efforts to accelerate stunting reduction, recorded a decline in the national stunting prevalence, from 21.5% in 2023 to 19.8% in 2024. This indicates that the incidence of stunting in the community still requires comprehensive intervention. Utilizing home gardens through the concept of family farming is a family empowerment strategy that has the potential to improve food security and household economics. However, at the community level, yard utilization remains suboptimal due to limited family knowledge and skills. Purpose: To empower families by utilizing yards as a source of food and additional income to support stunting prevention. Method: The program was conducted in January–February 2026 in the Lawawoi Community Health Center (Puskesmas) working area. Thirty families with toddlers and yards participated. The community service team, assisted by village officials, provided outreach on the importance of empowering empty yards to be used as productive land, particularly for growing nutritious food for families. The program was implemented through education, training, hands-on family farming practice, and mentoring based on home care and integrated health posts (Posyandu). Evaluation was conducted through observation throughout the program, with mentoring and monitoring to assess improvements in participants' knowledge and skills in managing their yards to become useful land. Results: Most participants understood the nutritional needs to prevent stunting and balanced nutrition for families, and were able to recognize signs of stunting in toddlers due to malnutrition. Most participants demonstrated increased knowledge about nutrition and types of nutrient-rich plants, and understood the relationship between nutrient consumption and stunting prevention. Furthermore, most participants utilized empty yards as a source of nutritious food for their families. Conclusion: Family economic empowerment activities through the utilization of yards (family farming) have been implemented effectively and have proven to increase family independence in providing nutritious food and providing additional income through harvests and simple processed products. The integration of family farming activities with home care programs is effective in increasing knowledge, skills, and the sustainability of family yard utilization practices and contributes to supporting the Community Health Center's promotive and preventive efforts, particularly in improving family nutritional status and preventing stunting based on local foods. Suggestion: Community Health Centers and communities facilitated by the Village Government are expected to utilize yards sustainably and develop a variety of crops and processed products to increase family economic and nutritional benefits. Routine mentoring in the home care program as a promotive and preventive effort can be carried out sustainably to have a positive impact on the wider community and support communities free from stunting based on local foods. Keywords: Family empowerment; Family farming; Home care; Integrated health post; Stunting Pendahuluan: Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia. Salah satu faktor penyebab stunting adalah keterbatasan akses keluarga terhadap pangan bergizi secara berkelanjutan. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hasil survei nasional yang menjadi rujukan utama dalam upaya percepatan penurunan stunting ini mencatat penurunan prevalensi stunting nasional, dari 21.5% pada 2023 menjadi 19.8% pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian stunting di masyarakat masih sangat perlu untuk dilakukan penanganan secara komprehensif. Pemanfaatan pekarangan rumah melalui konsep family farming merupakan salah satu strategi pemberdayaan keluarga yang berpotensi meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga. Namun, di tingkat masyarakat, pemanfaatan pekarangan masih belum optimal karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan keluarga. Tujuan: Untuk memberdayakan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan dan pendapatan tambahan dalam rangka mendukung pencegahan stunting. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Januari–Februari 2026 di wilayah kerja Puskesmas Lawawoi. Melibatkan 30 orang yang merupakan keluarga dengan balita dan memiliki pekarangan rumah. Tim pengabdian masyarakat memberikan sosialisasi dengan dibantu aparatur Desa tentang pentingnya memberdayakan pekarangan rumah yang masih kosong untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif, terutama dalam penyediaan tanam tumbuh pangan sumber gizi keluarga. Program dilaksanakan melalui pendekatan edukasi, pelatihan, praktik langsung family farming, serta pendampingan berbasis home care dan posyandu. Evaluasi dilakukan melalui observasi selama program dilakukan dengan pendampingan dan monitoring untuk melihat peningkatan pengetahuan dan ketrampilan peserta dalam mengelola pekarangan rumah untuk menjadi lahan bermanfaat. Hasil: Sebagian besar peserta mengetahui kebutuhan gizi untuk mencegah stunting, keseimbangan gizi untuk keluarga dan dapat mengenali tanda-tanda stunting pada balita akibat kekurangan gizi. Sebagian besar peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang gizi dan jenis tanaman sumber gizi serta memahami keterkaitan konsumsi gizi dan pencegahan stunting. Sedangkan sebagian besar peserta memanfaatkan pekarangan kosong untuk dijadikan sumber pangan gizi kebutuhan keluarga. Simpulan: Kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan pekarangan (family farming) telah terlaksana dengan baik dan terbukti mampu meningkatkan kemandirian keluarga dalam penyediaan pangan bergizi serta memberikan tambahan pendapatan melalui hasil panen dan produk olahan sederhana. Integrasi kegiatan family farming dengan program kunjungan rumah (home care) efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan keberlanjutan praktik pemanfaatan pekarangan oleh keluarga dan berkontribusi dalam mendukung upaya promotif dan preventif Puskesmas, khususnya dalam peningkatan status gizi keluarga dan pencegahan stunting berbasis pangan lokal. Saran: Diharapkan kepada Puskesmas dan masyarakat yang difasilitasi Pemerintahan Desa untuk memanfaatkan pekarangan secara berkelanjutan serta mengembangkan variasi tanaman dan produk olahan sehingga dapat meningkatkan manfaat ekonomi dan gizi keluarga. Pendampingan rutin dalam program home care sebagai upaya promotif dan preventif dapat dilakukan berkelanjutan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat yang lebih luas dan mendukung masyarakat yang terbebas dari stunting berbasis bahan pangan lokal. 
Implementasi senam kaki mandiri dalam managemen nyeri diabetes (Gerakan Lansia Tangguh) Yuli Susanti; Arista Adityasari Putri
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3207

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease whose prevalence continues to increase globally, including in Indonesia. Impaired glucose regulation due to abnormalities in insulin secretion and function leads to increased blood glucose levels, potentially leading to various metabolic complications. At the national and regional levels, the number of DM sufferers continues to increase annually, including in Central Java Province, which shows a significant upward trend. One of the most common complications experienced by DM sufferers, especially in the elderly, is diabetic neuropathy. The prevalence of diabetic neuropathy in type 2 DM reaches more than 50%, making it a major cause of decreased quality of life in the elderly and a risk factor for diabetic ulcers. Karang Anyar Regency also reports a high number of type 2 DM sufferers accessing health services, thus increasing the risk of neuropathy. Management of diabetic neuropathy relies not only on pharmacological therapy but also non-pharmacological interventions. One intervention that has been proven effective and easy for the elderly to perform is diabetic foot exercises. This community service activity was conducted in Karang Anyar District by the Ahad Pagi community. The goal was to provide foot health education and facilitate the practice of diabetic foot exercises to reduce neuropathic pain, improve blood circulation, and support the independence of older adults in maintaining lower extremity health. Purpose: To provide education and support for diabetes management in older adults through independent foot exercises to address joint pain. Method: This community service was conducted through an initial survey by the team to all organizing committees of the Sunday Morning Study with PCM Karang Anyar Regency. The target of this activity was the management of diabetes in the elderly by implementing foot exercises. The activity with the theme "Resilient Elderly Movement" involved participants from the Sunday Morning Study Assembly of PCM Karang Anyar Regency. More than 70% of the participants who attended were elderly groups with a history of chronic diseases such as pain and diabetes mellitus as well as joint pain. The simulation activity was assisted by videos and presentations regarding the correct management of applying ginger wraps and foot exercises. Evaluation was carried out through observation and interviews to see the improvement in the elderly's ability to perform ginger wraps and foot exercises independently. Results: Participants in this activity were very enthusiastic about participating in the education, and there was a question-and-answer session covering diabetes complaints and blood sugar management. This finding confirms the high demand for diabetes education and ginger wrap therapy for joint pain among the elderly community. The implementation of the foot exercise activity, which included a demonstration of foot exercises, was very successful. Ten participants participated in the live demonstration using a rope for the demonstration. Furthermore, using ginger wrap therapy to reduce joint pain in the elderly allowed participants to directly experience the benefits of foot exercises, including reducing ankle pain due to neuropathy, a complication of diabetes, and ginger wrap therapy for reducing joint pain. Conclusion: Community service activities with a community approach are highly effective in improving the ability of older adults to maintain physical and mental health. Activities through education and demonstrations have a positive impact on strengthening awareness among older adults about healthy and active living, thus benefiting the community. Suggestion: Health education and foot exercise demonstrations are expected to be conducted regularly so that older adults can maintain knowledge and practice consistent management of diabetes and neuropathic pain. Integration into the Elderly Community Program, including foot exercises, can be included as a regular program during religious study groups or community meetings as an easy and affordable way to maintain the health of the feet of people with diabetes. Keywords: Diabetes mellitus; Elderly; Foot exercises; Joint pain; Topical ginger compress therapy Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Gangguan regulasi glukosa akibat kelainan sekresi maupun kerja insulin menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah yang berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi metabolik. Di tingkat nasional dan daerah, peningkatan jumlah penderita DM terus terjadi setiap tahunnya, termasuk di Provinsi Jawa Tengah yang menunjukkan tren kenaikan signifikan. Salah satu komplikasi yang paling banyak dialami penyandang DM, khususnya pada kelompok lansia, adalah neuropati diabetik. Prevalensi neuropati diabetik pada DM tipe 2 mencapai lebih dari 50%, sehingga menjadi penyebab utama penurunan kualitas hidup lansia dan menjadi faktor risiko terjadinya ulkus diabetik. Kabupaten Karanganyar juga melaporkan tingginya jumlah penderita DM tipe 2 yang mengakses layanan kesehatan, sehingga risiko terjadinya neuropati semakin besar. Penanganan neuropati diabetik tidak hanya mengandalkan terapi farmakologis, tetapi juga intervensi nonfarmakologis. Salah satu intervensi yang terbukti efektif dan mudah dilakukan lansia adalah senam kaki diabetik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kecamatan Karanganyar pada komunitas Ahad Pagi dengan tujuan memberikan edukasi kesehatan kaki serta memfasilitasi praktik senam kaki diabetik guna mengurangi nyeri neuropati, meningkatkan sirkulasi darah, dan mendukung kemandirian lansia dalam menjaga kesehatan ekstremitas bawah. Tujuan: Memberikan edukasi dan pendampingan pengelolaan diabetes pada lansia melalui senam kaki mandiri dalam upaya menangani nyeri neuropati serta pemberian balut jahe untuk mengurangi nyeri sendi. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan survei awal oleh tim ke semua panitia penyelenggara Kajian Ahad Pagi dengan PCM Kabupaten Karanganyar. Sasaran dalam kegiatan ini, adalah pengelolaan diabetes pada lansia dengan menerapkan senam kaki. Kegiatan dengan tema “Gerakan Lansia Tangguh” melibatkan peserta dari Majelis Pengajian Ahad Pagi PCM Kabupaten Karanganyar. Lebih dari 70% peserta yang hadir adalah kelompok lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit kronik seperti nyeri dan diabetes mellitus serta nyeri sendi. Kegiatan simulasi dibantu dengan video dan presentasi mengenai tatalaksana menerapkan balut jahe dan senam kaki yang benar. Evaluasi dilakukan dengan observasi dan wawancara untuk melihat peningkatan kemampuan lansia dalam melakukan balut jahe dan senam kaki secara mandiri. Hasil: Peserta dalam kegiatan ini sangat antusias dalam mengikuti edukasi dan ada sesi tanya-jawab untuk sekitar keluhan penyakit diabetes dan pengelolaan kadar gula darah. Temuan ini merupakan konfirmasi dari kebutuhan dari komunitas lansia sangat tinggi tentang edukasi diabetes dan terapi balut jahe untuk nyeri sendi. Implementasi dari kegiatan senam kaki berupa demonastrasi senam kaki sangat baik. Sebanyak 10 peserta yang mewakili untuk pelaksanaan demonstrasi senam kaki langsung dengan bahan demonstrasi menggunakan korang untuk senam kaki. Dan terapi balut jahe untuk mengurangi nyeri di sendi pada lansia,  peserta dapat merasakan langsung manfaat dari senam kaki yaitu dapat mengurangi rasa nyeri di pergelangan kaki akibat neuropati komplikasi dari diabetes dan terapi balut jahe untuk mengurangi nyeri sendi. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan komunitas sangat efektif meningkatkan kemampuan lansia dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Kegiatan melalui edukasi dan pendampingan demonstrasi memberikan dampak positif dalam membangun penguatan kesadaran lansia untuk hidup sehat dan aktif sehingga bermanfaat bagi komunitas. Saran: Diharapkan edukasi kesehatan dan demonstrasi senam kaki perlu dilakukan secara berkala agar lansia dapat mempertahankan pengetahuan dan konsistensi dalam praktik manajemen diabetes dan nyeri neuropati. Integrasi dalam Program Komunitas Lansia yaitu senam kaki dapat dimasukkan sebagai program rutin dalam kegiatan pengajian atau pertemuan komunitas sebagai upaya mudah dan murah dalam menjaga kesehatan kaki penderita diabetes.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue