cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 335 Documents
Sosialisasi perilaku hidup sehat dalam upaya pencegahan stroke Udani, Giri; Amperaningsih, Yuliati; Murhan, Al
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2531

Abstract

Background: Hypertension (high blood pressure) is a leading cause of stroke, both ischemic and hemorrhagic. For people with hypertension, blood pressure in the arteries is too high, usually consistently above 140/90 mmHg. The public health prevalence of hypertension in Pringsewu Regency is 26.82%. Limited information on preventing stroke and degenerative diseases (such as hypertension, diabetes, and heart disease) and the lack of routine health check-ups contribute to the high incidence of these diseases. This is exacerbated by unhealthy lifestyles, lack of physical activity, and poor diet. Interventions in the form of health education are crucial and effective steps to reduce the number of degenerative diseases in the community, especially to address the lack of knowledge about prevention and healthy living practices. Purpose: To increase knowledge and understanding among people with hypertension about the risks and prevention of stroke. Method: The activity was held on Friday, December 5, 2025 at 07.30 at the Village Hall, Pekon Yogyakarta Selatan, Gadingrejo, Pringsewu Regency. Involving 36 elderly Prolanis with hypertension as participants and also attended by cadres, village midwives and village officials. The goal of this activity is to provide education about hypertension and healthy lifestyle management for the elderly in preventing the risk of stroke. Educational activities in the form of interactive promotion were carried out with a community-based approach that involved active participation, two-way dialogue, and empowerment of individuals or groups. The activity was carried out through interactive lectures and discussions assisted by leaflets, prolaris exercise assistance and health checks. Measurements were categorized as blood pressure, fasting blood sugar, total cholesterol, and uric acid. Meanwhile, BMI was categorized as underweight, normal (ideal), overweight, and obesity. Evaluation was delivered descriptively based on observations as the results of achievements in the implementation of the activity. Results: Obtained data that most of the participants' blood pressure was in the normal category of 63.9%, the majority of participants' fasting sugar levels were in the high category of 80.6%, most of the participants had high uric acid levels of 86.1%, and most of the participants' cholesterol levels were in the normal category of 63.9%. Meanwhile, for the participants' BMI, 4 people were underweight, 16 people were ideal, 10 people were overweight, and 6 people were obese. There was an increase in participants' knowledge regarding the meaning of stroke, stroke prevention, causes of stroke, understanding of healthy lifestyles, and understanding of healthy eating patterns. There was a commitment to changing attitudes and behaviors including implementing a healthy lifestyle independently, conducting regular health screenings, doing regular exercise activities, and consuming low-salt foods. Conclusion: Health education activities for hypertension patients using a direct community approach, accompanied by health checks, are highly effective in increasing public knowledge and understanding of stroke prevention. Increased public knowledge about stroke prevention management contributes positively to independent stroke prevention measures, thereby improving community health. Suggestion: Participants in this activity are expected to adopt a healthy lifestyle, engage in regular physical activity such as exercise (morning walks, Prolanis exercises), drink enough water, sleep at least 6-7 hours per day, reduce salt and fat intake, and eat plenty of fruits and vegetables. Cadres are also expected to be more active in mobilizing the elderly community to support Prolanis activities and monitor their health to reduce the risk of stroke. Keywords: Community health; Elderly; Health education; Hypertension; Stroke prevention Pendahuluan: Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah salah satu penyebab utama stroke, baik stroke iskemik maupun hemoragik. Bagi penderita Hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah dalam arteri terlalu tinggi, dan biasanya di atas 140/90 mmHg secara konsisten. Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Pringsewu memiliki prevalensi hipertensi sebesar 26.82%. Keterbatasan informasi mengenai pencegahan stroke dan penyakit degeneratif (seperti hipertensi, diabetes, jantung) serta jarangnya pemeriksaan kesehatan rutin menyebabkan tingginya kasus penyakit tersebut. Hal ini diperparah oleh gaya hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan pola makan buruk. Intervensi berupa edukasi kesehatan merupakan langkah krusial dan efektif untuk menekan angka penyakit degeneratif di masyarakat, terutama untuk mengatasi kurangnya pengetahuan tentang pencegahan dan penanganan hidup sehat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pada penderita hipertensi tentang risiko stroke dan pencegahannya. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 05 Desember 2025 pada jam 07.30 di balai Desa, Pekon Yogyakarta Selatan, Gadingrejo Kabupaten Pringsewu. Melibatkan 36 lansia Prolanis yang mengalami hipertensi menjadi peserta dan dihadiri juga para kader, bidan desa dan aparatur desa. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan edukasi tentang hipertensi dan manajemen pola hidup sehat pada lansia dalam mencegah risiko stroke. Kegiatan edukasi berupa promotif interaktif dilakukan dengan pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan partisipasi aktif, dialog dua arah, dan pemberdayaan individu atau kelompok. Kegiatan dilaksanakan melalui ceramah interaktif dan diskusi dibantu media leaflet, pendampingan senam prolaris dan pemeriksaan kesehatan. Pengukuran dengan kategori nilai ukur tekanan darah, gula darah puasa, kolesterol total, dan asam urat. Sedangkan untuk IMT dikategorikan underweight, normal (ideal), overweight, dan obesitas. Evaluasi disampaikan secara deskriptif berdasarkan observasi sebagai hasil pencapaian dalam pelaksanaan kegiatan. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar tekanan darah peserta berada dalam kategori normal sebesar 63.9%, mayoritas kadar gula (puasa) peserta dalam kategori tinggi sebesar 80.6%, sebagian besar peserta memiliki kadar asam urat kategori tinggi sebesar 86.1%, dan sebagian besar kadar kolesterol peserta berada dalam kategori normal sebesar 63.9%. Sedangkan untuk IMT peserta adalah sebanyak 4 orang underweight, sebanyak 16 orang ideal, sebanyak 10 orang overweight, dan sebanyak 6 orang obesitas. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta terkait pengertian stroke, pencegahan stroke, penyebab terjadinya stroke, pengertian pola hidup sehat, dan pengertian pola makan sehat. Adanya komitmen dalam perubahan sikap dan perilaku meliputi menerapkan pola hidup sehat secara mandiri, melakukan skrining kesehatan secara rutin, melakukan aktifitas olah raga yang teratur, dan mengonsumsi makanan rendah garam. Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan pada penderita hipertensi dengan pendekatan komunitas langsung yang disertai pemeriksaan kesehatan, sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pencegahan stroke. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang tatalaksana pencegahan stroke berkontribusi positif pada tindakan pencegahan stroke secara mandiri sehingga akan berdampak meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Saran: Diharapkan kepada peserta yang mengikuti kegiatan ini untuk menerapkan pola hidup sehat, aktifitas fisik yang teratur seperti olahraga (jalan pagi, senam prolanis), cukup minum air putih, tidur minimal 6-7 jam per hari, kurangi konsumsi garam dan lemak, banyak makan buah dan sayur. Diharapkan juga kepada para kader untuk lebih giat menggerakkan para masyarakat lansia dalam mendukung kegiatan prolanis dan melakukan monitoring kesehatan lansia demi mengurangi risiko stroke.
Promosi kesehatan melalui Center of Excellence sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi Berliana, Eva; Indrasari, Nelly; Widhi, I Gusti Ayu Mirah; Risneni, Risneni; Asih, Yusari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2532

Abstract

Background: Reproductive health issues remain a challenge in public health development, particularly related to the low level of public knowledge and awareness regarding optimal reproductive health maintenance. Promotive and preventive efforts through education and mentoring are needed to increase understanding and foster better health behaviors. Purpose: To increase public knowledge and awareness regarding reproductive health through the implementation of a Center of Excellence (CoE)-based program. Method: The community service activity was conducted on Wednesday, July 30, 2025, in the target area of ​​the Center of Excellence partner, namely the Integrated Health Service Post (Posyandu) in Marga Agung Village, Jati Agung District, South Lampung Regency. The target population of this community service activity was the general public of productive age. Thirty primiparous and multiparous mothers participated as respondents. This community service activity was implemented using an integrated educational and participatory approach within the Center of Excellence (CoE) framework. Evaluation of the activity was conducted by assessing changes in community knowledge and awareness before and after the educational activity, as well as by observing participation and active participation in discussions. Results: Data showed that the average age of respondents was 28.43 years with a standard deviation of ±6.17 years. The majority of respondents (66.7%) were in the 30-35 age range. The majority of respondents (40.0%) had a high school education, the majority (40.0%) were pregnant, and the majority (19%) were multiparous. Meanwhile, the level of knowledge of respondents increased proportionally to 76.7% in the good category after the educational activity, from 13.3% before the educational activity. Conclusion: The Center of Excellence-based community service program, implemented through an educational and mentoring approach, has been proven to have a positive impact on increasing public knowledge and awareness regarding reproductive health. The Center of Excellence's role as a facilitator and primary driver of community service activities has strengthened the synergy between the service team, partners, and the target community, encouraging active community involvement in the program's sustainability at the community level. Suggestion: It is recommended that the Center of Excellence-based community service program be further developed and expanded to include other community groups and regions experiencing similar health issues, thereby increasing the sustainability and impact of the community service program. Keywords: Center of Excellence; Community service; Health education; Public awareness; Reproductive health Pendahuluan: Masalah kesehatan reproduksi masih menjadi tantangan dalam pembangunan kesehatan masyarakat, terutama terkait rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi secara optimal. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi dan pendampingan diperlukan untuk meningkatkan pemahaman serta membentuk perilaku kesehatan yang lebih baik. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi melalui implementasi program berbasis Center of Excellence (CoE). Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada Rabu, 30 Juli tahun 2025 di wilayah sasaran yang menjadi mitra kegiatan Center of Excellence yaitu Posyandu Desa Marga Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat umum pada kelompok usia produktif. Jumlah peserta sebanyak 30 ibu primipara dan multipara menjadi responden. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang terintegrasi dalam kerangka Center of Excellence (CoE). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menilai perubahan pengetahuan dan kesadaran masyarakat sebelum kegiatan edukasi dan setelah kegiatan edukasi serta berdasarkan pengamatan terhadap partisipasi dan keaktifan dalam diskusi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 28.43 tahun dengan standar deviasi ±6.17 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 30-35 tahun yaitu sebanyak 66.7%. Mayoritas responden memiliki status pendidikan SMA sebanyak 40.0%, sebagian besar responden adalah ibu hamil sebanyak 40.0%, dan sebagian besar status paritas responden adalah multipara yaitu sebanyak 19 (63.3%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden terdapat peningkatan secara proposional untuk kategori baik setelah kegiatan edukasi menjadi sebesar 76.7% dari sebesar 13.3% sebelum kegiatan edukasi Simpulan: Program pengabdian masyarakat berbasis Center of Excellence yang dilaksanakan melalui pendekatan edukasi dan pendampingan terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi. Peran Center of Excellence sebagai fasilitator dan penggerak utama kegiatan pengabdian masyarakat mampu memperkuat sinergi antara tim pengabdian, mitra, dan masyarakat sasaran dalam mendorong keterlibatan aktif masyarakat terhadap keberlanjutan program di tingkat komunitas. Saran: Program pengabdian masyarakat berbasis Center of Excellence direkomendasikan untuk terus dikembangkan dan diperluas cakupannya pada kelompok masyarakat serta wilayah lain yang memiliki permasalahan kesehatan serupa, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan dan dampak program pengabdian masyarakat.
Sosialisasi pengelolaan dismenorea dan pencegahan anemia pada remaja melalui intervensi berbasis digital (SMART TEEN) Suryati, Yayat; Rudhiati, Fauziah; Murtiningsih, Murtiningsih; Inayah, Iin; Bangun, Argi Virgona; Imelisa, Rahmi; Carmo, Elisa Adelia do; Tumbol, Monika Anggelia; Silva, Sanzina Agus da
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2691

Abstract

Background: Among adolescent girls, dysmenorrhea and anemia are two common yet under-recognized health problems. Dysmenorrhea, or menstrual pain, affects a significant proportion of adolescent girls worldwide. Adolescent girls commonly face reproductive health issues such as dysmenorrhea and anemia, which significantly impact their academic performance and quality of life. Purpose: To empower adolescents to manage dysmenorrhea and prevent anemia through digital-based health education. Method: The program was conducted in 2026 at SMAN IV Cimahi, targeting adolescent girls who met the inclusion criteria (aged 15-18 years, having a menstrual cycle, and no chronic gynecological diseases). The program population comprised all female students, using a purposive sampling technique to obtain a sample of 139 respondents. Material was delivered through lectures and discussions, as well as through interactive digital audio-visual videos, including mobile applications and social media platforms. Knowledge levels were measured using a 30-item multiple-choice questionnaire covering the mechanisms of dysmenorrhea, non-pharmacological management, an iron-rich diet, and knowledge of menstrual cycle tracking. Qualitative data were coded thematically and triangulated with quantitative results. Results: Demonstrated a significant increase in reproductive health literacy and a better understanding of anemia prevention strategies. Data showed that the average age of respondents was 16.37 years with a standard deviation of ±0.56 years, and the majority of respondents (82) were 16 years old. The average score for respondents' knowledge about dysmenorrhea ranged from 80 to 92 points, and their knowledge about anemia ranged from 89 to 92 points. Conclusion: Educational activities with digital-based interventions proved effective in improving adolescent health literacy, particularly in the areas of dysmenorrhea management and anemia prevention. Furthermore, positive qualitative feedback about the digital format highlighted its relevance and appeal to adolescents, aligning with broader eHealth engagement trends. The synergy between digital education and peer learning, self-monitoring, and institutional support emerged as key factors for the intervention's success. Suggestion: Integration of digital health education with existing school curricula and health promotion programs is needed to ensure consistency and strengthen learning across contexts. It is also hoped that future activities will include education with the ability to adapt interventions to cultural and socioeconomic environments so that they can be more accessible to the community and implemented broadly. Keywords: Adolescent health; Anemia prevention; Digital intervention; Health education Pendahuluan: Di antara remaja perempuan, dismenore dan anemia merupakan dua masalah kesehatan yang paling umum namun kurang mendapat perhatian. Dismenore, atau nyeri menstruasi, memengaruhi sebagian besar remaja perempuan di seluruh dunia. Remaja putri umumnya menghadapi masalah kesehatan reproduksi seperti dismenore dan anemia, yang secara signifikan memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk memberdayakan remaja dalam mengelola dismenore dan mencegah anemia melalui pendidikan kesehatan berbasis digital. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di SMAN IV Cimahi dengan sasaran remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi (usia 15-18 tahun, siklus menstruasi, tidak memiliki penyakit ginekologis kronis). Populasi kegiatan adalah seluruh siswi, dengan menggunakan teknik purposive sampling mendapatkan sampel sebanyak 139 responden. Penyampaian materi dilakukan melalui ceramah dan diskusi, serta menyimak audio visual video berupa digital interaktif, termasuk aplikasi seluler dan platform media sosial. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner berupa 30 soal pilihan ganda yang mencakup mekanisme dismenore, penanganan non-farmakologis, diet kaya zat besi, dan pengetahuan pelacakan siklus menstruasi. Data kualitatif dikodekan secara tematik dan ditriangulasi dengan hasil kuantitatif. Hasil: Menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi kesehatan reproduksi, dan pemahaman yang lebih baik tentang strategi pencegahan anemia. Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.37 tahun dengan standar deviasi ±0.56 tahun dan sebagian besar responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 82 (59.0%). Rata-rata pencapaian skor pengetahuan responden tentang dismenorea berada di rentang 80-92 poin dan skor pengetahuan tentang anemia berada di rentang 89-92 poin. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi berbasis digital terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja, khususnya dalam bidang manajemen dismenore dan pencegahan anemia. Selain itu, umpan balik kualitatif yang positif tentang format digital menyoroti relevansi dan daya tariknya pada kalangan remaja yang sejalan dengan tren keterlibatan eHealth yang lebih luas. Sinergi antara pendidikan digital dengan pembelajaran sebaya, pemantauan diri, dan dukungan institusional muncul sebagai faktor kunci keberhasilan intervensi.  Saran: Perlu dilakukan integrasi bagaimana pendidikan kesehatan digital dapat diintegrasikan dengan kurikulum sekolah dan program promosi kesehatan yang ada untuk memastikan konsistensi dan memperkuat pembelajaran di berbagai konteks. Diharapkan juga pada kegiatan selanjutnya untuk melakukan edukasi dengan kemampuan adaptasi intervensi terhadap lingkungan budaya dan sosial ekonomi sehingga dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam penerapannya secara luas.
Penerapan terapi non-farmakologi sebagai pengendalian rasa mual dan muntah pada pasien post operasi laparotomi Ananti, Yosefi; Kartini, Kartini; Simamora, Erviana; Asmirajanti, Mira
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2714

Abstract

Background: The most common complication after surgery, or postoperative nausea and vomiting (PONV), is nausea and vomiting. Treatment can be provided either pharmacologically with medications or non-pharmacologically through lifestyle modifications, physical activity, and simple therapies to address complaints arising from postoperative side effects. One non-pharmacological treatment that can be provided is acupressure therapy. For patients prone to nausea and vomiting, acupressure therapy, applied by pressing the PC6 and ST36 points, can be used as an alternative to manage PONV. Purpose: To provide knowledge about the application of acupressure therapy to reduce nausea and vomiting in patients who have undergone laparotomy surgery. Method: This activity was conducted in January 2026 at the Iman Sudjudi Pavilion, Gatot Soebroto Army Central Hospital. This qualitative research, using a case study approach, involved nursing care in the form of acupressure for postoperative patients experiencing nausea and vomiting (PONV). The intervention was given in the form of acupressure therapy at the Pericardium point (PC6) located on the inner wrist and the Stomach point (ST36) located below the knee after 2 hours of surgery. Measurements in the assessment used the Rhodes Index of Nausea, Vomiting and Retching (RINVR) which was given before the intervention (pre-test) and 7 hours after the intervention (post-test). Descriptive analysis was conducted to evaluate the effectiveness of the intervention and changes in the level of nausea and vomiting after acupressure therapy. Results: Measurement data using the RINVR instrument showed a decrease in scores from 7 before the intervention to 1 after. Subjective evaluations indicated a decrease in nausea, no vomiting, and an improved appetite. Objectively, respondents were able to correctly perform acupressure at points PC6 and ST36. Conclusion: The application of acupressure therapy at points PC6 and ST36 was highly effective in controlling nausea and reducing the incidence of vomiting in post-laparotomy patients. Acupressure therapy is an alternative solution as an effective non-pharmacological method for post-laparotomy patients, accelerating the recovery of bodily functions, preventing complications, and improving the patient's quality of life. Suggestion: Healthcare workers are encouraged to implement non-pharmacological therapies for patients, particularly post-laparotomy patients, as a complementary approach, and to educate the public about acupressure therapy for managing pain, nausea, and vomiting after laparotomy surgery. Keywords: Acupressure therapy; Health promotion; Nausea and vomiting; Post-laparotomy surgery Pendahuluan: Komplikasi yang paling umum setelah operasi atau postoperative nausea and vomiting (PONV) adalah mual muntah. Penanganan dapat diberikan baik secara farmakologi yaitu dengan obat-obatan atau secara non-farmakologi melalui pengaturan pola hidup, aktivitas fisik dan terapi yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai upaya penanganan mengenai keluhan yang ditimbulkan karena efek samping dari tindakan post operasi. Sebuah upaya penanganan non-farmakologi yang dapat diberikan adalah terapi akupresur. Untuk pasien yang rentan terhadap gejala mual dan muntah, terapi akupresur dilakukan dengan penekanan pada titik PC6 dan ST36 yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasi PONV. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang penerapan terapi akupresur dalam mengurangi rasa mual dan muntah pada pasien yang telah menjalani operasi laparotomi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Januari 2026 di Paviliun Iman Sudjudi, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, kegiatan ini merupakan asuhan keperawatan berupa penerapan akupresur pada pasien pasca operasi yang memiliki keluhan mual dan muntah atau postoperative nausea and vomiting (PONV). Intervensi diberikan berupa terapi akupresur pada titik Pericardium (PC6) yang terletak pada pergelangan tangan bagian dalam dan titik Stomach (ST36) yang terletak pada bagian bawah lutut setelah 2 jam operasi. Pengukuran dalam penilaian menggunakan Rhodes Index of Nausea, Vomiting and Retching (RINVR) yang diberikan sebelum intervensi (pre-test) dan 7 jam setelah intervensi (post-test). Analisa deskriptif dilakukan sebagai evaluasi dari efektifitas intervensi dan perubahan tingkat mual dan muntah setelah dilakukan terapi akupresur. Hasil: Data pengukuran menggunakan instrumen RINVR menunjukkan adanya penurunan skor dari 7 sebelum diberikan intervensi menjadi skor 1 setelah pemberian intervensi. Berdasarkan evaluasi subjektif, menunjukkan bahwa rasa mual yang dirasakan mulai berkurang dan tidak lagi mengalami muntah serta nafsu makan menjadi lebih baik. Secara objektif, responden mampu melakukan teknik akupresur pada titik PC6 dan ST36 dengan benar. Simpulan: Penerapan terapi akupresur pada titik PC6 dan ST36 sangat efektif dalam mengendalikan rasa mual menurunkan jumlah muntah pada pasien pasca operasi laparotomi. Terapi akupresur adalah solusi alternatif sebagai metode non-farmakologis yang efektif pada pasien pasca operasi laparotomi sehingga mempercepat pemulihan kesehatan fungsi tubuh, mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas kesehatan pasien.  Saran: Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk menerapkan terapi non-farmakaologi kepada pasien yang khususnya pada pasien pasca operasi laparotomi sebagai salah satu pendekatan komplementer dan memberikan edukasi pada masyarakat tentang terapi akupresur dalam mengelola rasa nyeri, rasa mual dan muntah setelah operasi laparotomi.
Optimalisasi pengetahuan pola hidup sehat melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) Ambarwati, Eny Retna; Lestari, Reni Tri; Brahmana, Ivanna Beru; Andriyani, Widyastuti; Handari, Murgi; Istichomah, Istichomah; Wijayanti, Agnes Erida; Riadinata, Riadinata; Pratiwi, Fika
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2692

Abstract

Background: Non-communicable diseases (NCDs) remain a major global public health challenge. Each year, approximately 41 million deaths, or nearly three-quarters of all global deaths, are caused by NCDs. Of these, approximately 17 million occur in people under 70 years of age, with the majority of cases (86%) occurring in low- and middle-income countries. This situation demands the strengthening of sustainable promotive and preventive strategies, one of which is through the implementation of the Healthy Living Community Movement.Purpose: Health promotion to increase knowledge, awareness, and community involvement in NCD prevention through the implementation of the Healthy Living Community Movement at the community level.Method: Community service was conducted at the Volleyball Court of RT 03, Sumbergamol Hamlet, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, involving 97 participants consisting of adolescents, fertile couples, and the elderly. The series of activities included joint physical activities such as healthy walks and exercise, free health check-ups for early detection, and education on the importance of consuming fruits and vegetables as part of a healthy lifestyle.Results: Observations showed an increase in core strength, improved joint and body mobility, participants were able to perform movements with balance and good coordination, and improved respiratory and circulatory systems. Most participants were able to follow the exercise movements correctly. The majority understood the importance of exercise for maintaining endurance and were motivated to develop healthy lifestyle habits consistently and independently.Conclusion: The community service program, focusing on the Healthy Living Community Movement, yielded positive results in increasing community awareness and participation in efforts to consistently and independently maintain and improve health. This activity also increased community knowledge about the importance of regular physical activity and daily consumption of fruits and vegetables for health.Suggestion: Empowerment of health cadres and community leaders, as well as synergy between village governments, health care facilities, educational institutions, and community organizations are expected to be the primary drivers in educating and motivating the public about adopting a healthy lifestyle. It is also hoped that with a shared commitment and strengthened cross-sector collaboration, the implementation of the Healthy Living Community Movement will have a broader and more sustainable impact on improving public health. Keywords: Health promotion; Healthy living community movement; Non-communicable diseases; Prevention Pendahuluan: Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di tingkat global. Setiap tahun, sekitar 41 juta kematian atau hampir tiga perempat dari total kematian dunia disebabkan oleh PTM. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta kematian terjadi pada usia kurang dari 70 tahun, dengan sebagian besar kasus (86%) ditemukan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kondisi ini menuntut penguatan strategi promotif dan preventif yang berkesinambungan, salah satunya melalui implementasi gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS).Tujuan: Promosi kesehatan guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan PTM melalui penerapan GERMAS di tingkat komunitas.Metode: Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Lapangan Voli RT 03 Dusun Sumbergamol, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, dengan melibatkan 97 peserta yang terdiri atas remaja, pasangan usia subur, dan lansia. Rangkaian kegiatan meliputi aktivitas fisik bersama berupa jalan sehat dan senam, pemeriksaan kesehatan gratis sebagai langkah deteksi dini, serta penyuluhan mengenai pentingnya konsumsi buah dan sayur sebagai bagian dari pola hidup sehat.Hasil: Berdasarkan pengamatan, menunjukkan terdapat peningkatan kekuatan inti tubuh, peningkatan kemampuan gerak sendi dan tubuh, peserta mampu melakukan gerakan dengan seimbang dan koordinasi yang baik, perbaikan sistem pernapasan dan peredaran darah. Sebagian besar peserta mampu mengikuti gerakan senam dengan benar. Mayoritas peserta memahami pentingnya olahraga untuk menjaga daya tahan tubuh dan termotivasi untuk membangun kebiasaan hidup sehat secara konsisten dan mandiri.Simpulan: Program pengabdian masyarakat dengan fokus pada gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan secara konsisten dan mandiri. Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya aktifitas fisik yang teratur dan mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari terhadap kesehatan.Saran: Diharapkan, pemberdayaan kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta sinergi antara pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan sebagai penggerak utama dalam mengedukasi dan memotivasi masyarakat mengenai penerapan pola hidup sehat. Diharapkan juga dengan komitmen bersama dan penguatan kolaborasi lintas sektor, implementasi GERMAS diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue