cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 335 Documents
Peningkatan peran organisasi siswa intra sekolah (OSIS) sebagai upaya menciptakan kesehatan lingkungan sekolah Bella, Ajeng Sintia; Fadilla, Anggun Suci; Zulliani, Annisa; Daulay, Nadra; Batubara, Wahyu Kurniawan; Wasiyem, Wasiyem
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2274

Abstract

Background: A clean and healthy school environment plays a crucial role in creating a conducive learning environment. However, observations at Dharma Pancasila Junior High School in Medan Selayang District revealed various issues with school cleanliness, such as scattered trash and suboptimal implementation of cleaning duties. Purpose: To provide an overview of the role of the Intra-School Student Organization (OSIS) in creating a healthy school environment to support the educational process. Method: The activity was carried out in December 2025 at Dharma Pancasila Junior High School, Medan Selayang District. The activity was a field study with a qualitative descriptive design to obtain an in-depth picture of the role of the Intra-School Student Organization (OSIS) in creating a healthy school environment and supporting the educational process at Dharma Pancasila Junior High School, Medan Selayang District. The population in this study were all students of Dharma Pancasila Junior High School, Medan Selayang District. With purposive sampling, 8 students were selected who met the criteria of having direct involvement and relevant understanding regarding OSIS activities and school environmental cleanliness to become participants. The 8 participants consisted of 1 OSIS advisor, 1 OSIS chairman, 1 OSIS administrator/division, and 5 students. Data collection was carried out through direct observation and semi-structured interviews to obtain information about the role of OSIS, forms of cleanliness activities, and their impact on student comfort and learning processes. Conclusion: This activity demonstrates that the Intra-School Student Organization (OSIS) plays a crucial role in creating a clean and healthy school environment. OSIS's involvement in cleanliness activities, such as community service, school duty supervision, and clean class competitions, has a positive impact on student comfort and concentration in the learning process. However, concern for the cleanliness of the school environment is not yet fully widespread, so strengthening efforts are needed so that cleanliness activities can become a sustainable school culture. Suggestion: It is hoped that the school will continue to support and strengthen the role of the Student Council (OSIS) in implementing the cleanliness program through ongoing mentoring and policies. The OSIS is expected to develop a consistent and engaging cleanliness program to increase student participation, while students are expected to develop awareness and responsibility for maintaining a clean school environment as part of developing an environmentally conscious character. Keywords: Cleanliness; Educational process; Intra-school student organizations; School environmental health Pendahuluan: Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Namun, berdasarkan hasil observasi di SMP Dharma Pancasila Kecamatan Medan Selayang, masih ditemukan berbagai permasalahan kebersihan lingkungan sekolah, seperti sampah yang berserakan dan pelaksanaan piket kebersihan yang belum optimal. Tujuan: Untuk memberikan gambaran peran Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat sebagai dukungan terhadap proses pendidikan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan desember 2025 di SMP Dharma Pancasila Kecamatan Medan Selayang. Kegiatan merupakan studi lapangan dengan rancangan deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai peran Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan mendukung proses pendidikan di SMP Dharma Pancasila Kecamatan Medan Selayang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi sekolah SMP Dharma Pancasila Kecamatan Medan Selayang. Dengan purposive sampling mendapatkan 8 siswa yang memenuhi kriteria yaitu memiliki keterlibatan langsung dan pemahaman yang relevan terkait kegiatan OSIS dan kebersihan lingkungan sekolah untuk menjadi partisipan. Sejumlah 8 partisipan tersebut terdiri dari 1 orang pembina OSIS, 1 orang ketua OSIS, 1 orang pengurus/divisi OSIS, dan 5 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh informasi mengenai peran OSIS, bentuk kegiatan kebersihan, serta dampaknya terhadap kenyamanan dan proses belajar siswa. Hasil: Menunjukkan bahwa OSIS berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah melalui kegiatan kerja bakti, piket kebersihan, lomba kelas bersih, dan kampanye kebersihan. Kegiatan tersebut berdampak pada meningkatnya kenyamanan, fokus belajar, serta kedisiplinan siswa. Simpulan: Dengan adanya kegiatan ini menunjukkan bahwa Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) memiliki peran penting dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Keterlibatan OSIS dalam kegiatan kebersihan, seperti kerja bakti, pengawasan piket, dan lomba kelas bersih, memberikan dampak positif terhadap kenyamanan serta konsentrasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Meskipun demikian, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah belum sepenuhnya merata sehingga diperlukan upaya penguatan agar kegiatan kebersihan dapat menjadi budaya sekolah yang berkelanjutan. Saran: Diharapkan pihak sekolah dapat terus mendukung dan memperkuat peran OSIS dalam pelaksanaan program kebersihan melalui pendampingan dan kebijakan yang berkelanjutan. OSIS diharapkan mampu mengembangkan program kebersihan yang konsisten dan menarik agar partisipasi siswa semakin meningkat, sementara siswa diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter peduli lingkungan. Kata kunci: Kebersihan; Kesehatan lingkungan sekolah; Organisasi siswa intra sekolah; Proses pendidikan  
Gambaran radiografi lumbosacral posisi erect dan supine pada pasien hernia nukleus pulposus (HNP) Haikal, M Husin Al; Utami, Muslimah Putri; Anisah, Anisah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2337

Abstract

Background: Lumbosacral radiology plays a crucial role in evaluating spinal disorders, particularly Herniated Nucleus Pulposus (HNP), which is a common cause of low back pain in productive age groups. The quality of radiographic images determines diagnostic accuracy, with patient positioning, either erect or supine, influencing the clarity of spinal structures. The erect position allows weight bearing effects, making changes in intervertebral disc spaces and vertebral alignment more visible, while the supine position reflects a non-load condition with limited visualization. Thus, examination positioning is essential to produce representative diagnostic images and support accurate clinical decision-making. Purpose: Provides an anteroposterior (AP) projection of the lumbosacral radiograph in the erect and supine positions in cases of Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Method: This study was conducted in 2025 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital, Palembang, involving radiographers and radiologists in lumbosacral radiographic examinations of HNP patients. The research objects were radiographic results in AP projection with erect and supine positions, selected through purposive sampling. Data were collected via observation, interviews, and medical record documentation, and analyzed using a qualitative descriptive comparative approach. Results: The erect position provided clearer visualization of spinal structural changes due to weight bearing, while the supine position was less optimal in displaying abnormalities because of the absence of load on the lumbosacral segment. Conclusion: Lumbosacral radiography in HNP cases can be performed in both erect and supine positions, each with advantages and limitations. The erect position better demonstrates spinal changes under weight bearing, whereas the supine position serves as an alternative for patients unable to stand or experiencing severe pain, despite less optimal visualization. Examination positioning should therefore be adapted to patient clinical conditions to optimize diagnostic outcomes. Suggestion: Position selection in lumbosacral radiography for HNP should be tailored to patient clinical conditions and diagnostic objectives. The erect position is recommended for assessing structural changes under weight bearing, while the supine position may be used as an alternative for patients with mobility limitations or severe pain, with attention to patient comfort and safety to enhance diagnostic accuracy. Keywords: Erect position; HNP; Lumbosacral radiography; Supine position; Visual diagnosis Pendahuluan: Radiologi lumbosakral memiliki peran penting dalam menilai kelainan tulang belakang, khususnya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang sering menjadi penyebab nyeri punggung bawah pada usia produktif. Kualitas citra radiografi sangat menentukan akurasi diagnosis, di mana posisi pemeriksaan pasien, baik erect maupun supine, memengaruhi kejelasan gambaran struktur tulang belakang. Posisi erect memungkinkan efek weight bearing sehingga perubahan celah diskus intervertebralis dan alignment vertebra tampak lebih nyata, sedangkan posisi supine menggambarkan kondisi tanpa beban dengan keterbatasan visualisasi kelainan. Pemilihan posisi pemeriksaan menjadi aspek penting dalam menghasilkan citra diagnostik yang representatif dan mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat. Tujuan: Memberikan gambaran radiografi lumbosakral posisi erect dan supine proyeksi anteroposterior (AP) pada kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan melibatkan radiografer dan dokter radiologi dalam pemeriksaan radiografi lumbosakral pada pasien HNP. Objek penelitian berupa hasil radiografi proyeksi anteroposterior (AP) dengan posisi erect dan supine yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif komparatif. Hasil: Posisi erect memberikan gambaran lebih jelas terhadap perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine cenderung kurang optimal dalam menampilkan kelainan akibat tidak adanya tekanan pada segmen lumbosakral. Simpulan: Pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat dilakukan dengan posisi erect maupun supine, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Posisi erect lebih jelas menampilkan perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine menjadi alternatif bagi pasien yang tidak mampu berdiri atau mengalami nyeri berat meskipun gambaran kelainan kurang optimal. Oleh karena itu, pemilihan posisi pemeriksaan harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien agar hasil radiografi mendukung diagnosis secara optimal. Saran: Pemilihan posisi pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan tujuan diagnostik. Posisi erect lebih dianjurkan untuk menilai perubahan struktur akibat beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine dapat digunakan sebagai alternatif bagi pasien dengan keterbatasan mobilisasi atau nyeri berat, dengan tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pasien untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
Peningkatan pengetahuan tentang anemia dan pencegahannya pada ibu hamil Karmi, Rudi; Hartati, Sri; Raiah, Almazeihan; Febrianti, Jihan; Yulianti, Gita Sapitri; Mahendra, Bobi; Azizah, Maulida; Yulianti, Fitri; Ramadan, Rafi Naufal
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2346

Abstract

Background: Anemia is a condition in which the number of red blood cells or the concentration of oxygen-carrying material (Hb) in the blood is insufficient to meet the body's physiological needs. Anemia in pregnant women occurs due to a lack of red blood cells, generally due to iron deficiency, which causes the mother to feel very tired, pale, dizzy, have a palpitation, and experience shortness of breath due to a reduced oxygen supply to the body and fetus. The WHO estimates that 40% of children aged 6–59 months, 37% of pregnant women, and 30% of women aged 15–49 years worldwide suffer from anemia. The prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia remains high, with the latest data showing a figure of 27.7%. The level of knowledge of pregnant women about anemia also influences their attitudes and compliance with nutritional needs. Knowledge is one of the factors that stimulates or encourages the implementation of healthy behaviors. Purpose: To increase knowledge about anemia and its prevention among pregnant women. Method: Community service was held on Thursday, October 23, 2025 at the Obstetrics Clinic of Welas Asih Regional Hospital. This activity involved 28 pregnant women and their families as participants and was also attended by activity partners, namely stakeholders at the Obstetrics Clinic of Welas Asih Regional Hospital. Counseling was carried out offline (face-to-face) by delivering materials related to knowledge about anemia in pregnant women, the benefits of pregnancy exercises, the importance of nutritious food (iron), maintaining health with a balanced nutritional pattern, and knowledge about prevention and the impacts of anemia in pregnant women. The results of the activity were presented descriptively as an evaluation of the counseling activity based on observations during the activity. Results: Participants gained increased knowledge, understanding that anemia is caused by nutritional deficiencies. Participants understood that nutritious foods high in iron can prevent the risk of anemia. Participants also understood the importance of maintaining health by adopting a healthy lifestyle, doing prenatal exercises, and consistently consuming a balanced diet. Conclusion: Counseling activities for pregnant women were effective in increasing knowledge and understanding of anemia, as well as changing attitudes toward greater adherence to iron consumption as an effort to prevent anemia. Suggestion: It is recommended that families accompanying pregnant women be educated about anemia as a form of family support in preventing anemia in the community. Healthcare workers are also expected to motivate pregnant women to address anemia by ensuring balanced nutrition. Keywords: Anemia; Health education; Pregnant women Pendahuluan: Anemia merupakan suatu keadaan ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (Hb) tidak mencukupi untuk kebutuhan fisiologis tubuh. Anemia pada ibu hamil terjadi karena kekurangan sel darah merah, umumnya akibat kekurangan zat besi, yang menyebabkan ibu merasa sangat lelah, pucat, pusing, jantung berdebar, dan sesak napas karena pasokan oksigen ke tubuh dan janin berkurang. WHO memperkirakan bahwa 40% anak-anak berusia 6–59 bulan, 37% wanita hamil, dan 30% wanita berusia 15–49 tahun di seluruh dunia menderita anemia. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia masih tinggi, data terbaru menunjukkan angka 27.7%. Tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap anemia juga memberikan pengaruh pada sikap dan kepatuhan dalam pemenuhan kebutuhan gizinya. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang menstimulasi atau merangsang terhadap terwujudnya sebuah perilaku kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia dan pencegahannya pada ibu hamil. Metode: Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Oktober 2025 di Poli Kebidanan RSUD Welas Asih. Dalam kegiatan ini melibatkan 28 ibu hamil dan keluarga sebagai peserta serta dihadiri juga dari mitra kegiatan yaitu pemangku kepentingan yang berada di Poli Kebidanan RSUD Welas Asih. Penyuluhan dilakukan secara luring (tatap muka langsung) dengan menyampaikan materi terkait pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil, manfaat senam hamil, pentingnya makanan bergizi (zat besi), menjaga kesehatan dengan pola gizi seimbang, dan pengetahuan tentang pencegahan serta dampak yang ditimbulkan apabila terjadi anemia pada ibu hamil. Hasil kegiatan disampaikan secara deskriptif sebagai evaluasi kegiatan penyuluhan berdasarkan observasi selama kegiatan dilaksanakan. Hasil: Mendapatkan peningkatan pengetahuan dimana peserta memahami bahwa anemia ditimbulkan akibat adanya kekurangan asupan gizi, peserta memahami bahwa makanan bergizi dengan kandungan tinggi zat besi dapat mencegah risiko anemia, dan peserta juga memahami pentingnya menjaga kesehatan dengan menjalankan pola hidup sehat, melakukan senam hamil, dan konsisten mengkonsumsi asupan gizi seimbang. Simpulan: Kegiatan penyuluhan kepada ibu hamil secara efektif dalam memberikan peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang anemia, serta memberikan perubahan sikap menjadi lebih mematuhi dalam mengkonsumsi zat besi sebagai upaya pencegahan anemia. Saran: Diharapkan untuk dilakukan edukasi kepada keluarga pendamping ibu hamil tentang anemia sebagai bentuk dukungan keluarga dalam melakukan pencegahan anemia di masyarakat. Diharapkan juga pada tenaga kesehatan untuk menjadi motivator pada ibu hamil dalam menghadapi anemia dengan pemenuhan gizi seimbang.
Pendidikan kesehatan cuci tangan dan pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan media KPSP dan Denver II Setiawati, Setiawati; Sari, Ayi Puspita; Yusuf, Dodi Iqbal; Puta, Dava Arya; Kusumaningrum, Dyah Intan; Sari, Walenda Pitri Novidia; Kumala, Ajeng Dyah; Ferisca, Fidela; Wahyuningsih, Indah; Hasanah, Uswatun
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2347

Abstract

Background: Handwashing with soap is an essential part of Clean and Healthy Living Behaviors, which plays a role in preventing infectious diseases in children. However, at the Pasir Gintung Health Post within the Simpur Community Health Center in Bandar Lampung, proper handwashing practices are still low, as are parents and cadres' limited knowledge regarding growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Purpose: To increase knowledge regarding standard handwashing and improve cadres' ability to perform growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Method: This community service activity was carried out on November 29, 2025 at the Pasir Gintung Health Post, the working area of ​​the Simpur Bandar Lampung Health Center. This activity was attended by 10 parents and their children and 3 health cadres. The activity used a media-based health education approach and practical supervision to improve the knowledge and skills of parents and health cadres regarding handwashing with soap behavior and child growth and development examinations using DPSQ and Denver II. The child growth and development examination instruments used DPSQ sheets, Denver II forms, and standard guidebooks. Evaluation of the activity was carried out using questionnaires to participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test) regarding the importance of handwashing with soap, important times for handwashing, and handwashing steps according to WHO standards, while evaluation for health cadres included supervision and observation of cadres in conducting child growth and development screening using DPSQ and Denver II regarding the importance of early detection and follow-up steps if there is suspicion of growth and development delays in children. Results: Data obtained on the level of knowledge of participants regarding handwashing stages before the educational activity showed that 3 participants (30.0%) were in the good category and 7 participants (70.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) were in the poor category. Meanwhile, regarding the practical actions of participants in washing their hands correctly before the educational activity, 5 participants (50.0%) were in the good category and 5 participants (50.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) was in the poor category. Conclusion: Health education activities using proposals, SAP, and leaflets, as well as direct demonstrations, were effective in increasing knowledge and skills in implementing proper handwashing with soap according to standards. Increased community knowledge and cadre skills contribute to changes in community behavior towards healthy living and early detection as an effort to prevent the causes of child development problems. Suggestion: It is hoped that the handwashing health education program, along with supervision of DPSQ examinations and child development, can be implemented sustainably and integrated with maternal and child health service programs. Health workers are expected to continue improving their competencies through regular training on effective health education techniques and the appropriate and consistent use of DPSQ instruments. Keywords: Child development; Denver II; DPSQ; Handwashing; Health cadres; Health education Pendahuluan: Cuci tangan pakai sabun merupakan bagian penting dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang berperan dalam mencegah penyakit infeksi pada anak. Namun, di Poskeskel Pasir Gintung wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung, masih ditemukan rendahnya praktik cuci tangan yang benar serta keterbatasan pengetahuan orang tua dan kader mengenai pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan KPSP dan Denver II. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai cuci tangan sesuai standar dan peningkatan kemampuan kader dalam melakukan deteksi tumbuh kembang melalui pemeriksaan KPSP dan Denver II. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2025 di Poskeskel Pasir Gintung, wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Kegiatan ini diikuti 10 orang tua beserta anaknya dan 3 orang kader kesehatan. Kegiatan menggunakan pendekatan edukasi kesehatan berbasis media dan supervisi praktik untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan orang tua dan kader kesehatan terkait perilaku cuci tangan pakai sabun serta pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan KPSP dan Denver II. Instrumen pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan lembar KPSP, form Denver II, dan buku panduan standar. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test) mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun, waktu-waktu penting untuk cuci tangan, serta langkah-langkah mencuci tangan sesuai standar WHO, sedangkan evaluasi untuk kader kesehatan berupa supervisi dan observasi pada kader dalam melakukan skrining pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan menggunakan KPSP dan Denver II mengenai pentingnya deteksi dini dan langkah tindak lanjut jika ditemukan kecurigaan keterlambatan tumbuh kembang pada anak. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan peserta tentang tahapan cuci tangan sebelum kegiatan edukasi sebanyak 3 orang (30.0%) dalam kategori baik dan dalam kategori kurang sebanyak 7 orang (70.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 1 orang (10.0%). Sementara itu, untuk tindakan praktik peserta dalam melakukan cuci tangan dengan benar sebelum kegiatan edukasi yang dalam kategori baik sebanyak 5 orang (50.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 5 orang (50.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang 1 orang (10.0%). Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan dengan menggunakan media proposal, SAP, dan leaflet, serta praktik langsung demonstrasi, efektif mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan perilaku cuci tangan pakai sabun yang benar sesuai standar. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dan keterampilan kader memberikan kontribusi terhadap perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat dan deteksi dini sebagai upaya pencegahan penyebab masalah tumbuh kembang anak. Saran: Diharapkan, program pendidikan kesehatan cuci tangan serta supervisi pemeriksaan KPSP dan perkembangan anak dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tenaga kesehatan diharapkan terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan rutin terkait teknik edukasi kesehatan yang efektif serta penggunaan instrumen KPSP secara tepat dan konsisten.
Edukasi interaktif dalam penerapan cuci tangan pakai sabun pada anak usia dini Widadi, Sri Yekti; Rissaadah, Siti; Pebriani, Aulia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2359

Abstract

Background: Early childhood is at high risk of infectious diseases due to an immature immune system and inadequate hand hygiene habits. Handwashing with soap is a simple yet effective disease prevention practice that needs to be instilled early. Purpose: To improve early childhood knowledge and skills in implementing clean and healthy handwashing behaviors. Method: This community service activity was conducted at PGTK Pelita Hati in December 2025, targeting early childhood children (4-7 years old) currently studying at PGTK Pelita Hati. Eighty-one PGTK Pelita Hati students participated in the activity. The intervention included health education about handwashing with soap through demonstrations and educational games tailored to the developmental stages of early childhood. To increase children's understanding and enthusiasm, the activity also combined singing and interactive question-and-answer sessions. An observational assessment questionnaire was used to measure participants' knowledge and understanding throughout the activity. Observations were conducted before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). As an evaluation of activities by comparing the assessment results before educational activities (pre-test) with after educational activities (post-test). Results: showed an increase in children's knowledge, skills, and participation in the good category after the educational intervention. Before the activity, only 24 children (29.6%) understood the meaning of handwashing with soap and 21 children (25.9%) knew the benefits of handwashing with soap. After the activity, this number increased to 70 children (86.4%) who understood the meaning of handwashing with soap and 68 children (84.0%) who knew the benefits of handwashing with soap. Children's knowledge about important times to wash their hands also increased, from 19 children (23.5%) before the activity to 66 children (81.5%) after the activity. In terms of skills, before the activity, only 17 children (21.0%) were able to practice the six steps of handwashing with soap correctly. After education through demonstrations and direct practice, the number of children who were able to practice the six steps of handwashing with soap increased to 65 children (80.2%). In addition, children's activeness and participation during the activity also showed an increase, from 34 children (42.0%) before the activity to 74 children (91.4%) after the activity. Conclusion: Community service activities in the form of health education on handwashing with soap for early childhood, using a demonstrative, participatory educational approach, combined with play and singing, were highly effective in improving children's understanding of the meaning and benefits of handwashing with soap, recognizing important handwashing times, and correctly practicing the six steps of handwashing with soap. Furthermore, the involvement of teachers and facilitators provided crucial support in reinforcing health messages and sustaining handwashing with soap behavior in the school environment. Suggestion: School-based handwashing with soap health education is expected to continue to be developed, as it has significant potential as a promotional and preventive measure in preventing infectious diseases and fostering clean and healthy living habits from an early age. Keywords: Community service; Early childhood; Health education; Handwashing with soap Pendahuluan: Anak usia dini memiliki risiko tinggi terhadap penyakit infeksi akibat sistem imun yang belum matang dan kebiasaan kebersihan tangan yang belum terbentuk secara optimal. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan perilaku sederhana namun efektif dalam pencegahan penyakit yang perlu ditanamkan sejak dini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak usia dini dalam menerapkan perilaku bersih dan sehat dengan cuci tangan pakai sabun. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di PGTK Pelita Hati pada bulan Desember 2025 dengan sasaran anak usia dini (4-7 tahun) yang sedang menempuh pendidikan di PGTK Pelita Hati. Kegiatan ini melibatkan 81 siswa/siswi PGTK Pelita Hati untuk menjadi partisipan. Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang cuci tangan pakai sabun (CTPS) melalui pendekatan demonstrasi dan permainan edukatif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Untuk meningkatkan pemahaman dan antusiasme anak, kegiatan juga dikombinasikan dengan metode bernyanyi dan tanya-jawab interaktif. Menggunakan kuesioner penilaian observasi untuk mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan selama proses kegiatan. Observasi dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Sebagai evaluasi kegiatan dengan membandingkan hasil penilaian sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dengan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan partisipasi anak yang dalam kategori baik setelah dilakukan intervensi edukasi. Sebelum kegiatan, hanya 24 anak (29.6%) yang memahami pengertian CTPS dan 21 anak (25.9%) yang mengetahui manfaat CTPS. Setelah kegiatan, jumlah tersebut meningkat menjadi 70 anak (86.4%) yang memahami pengertian CTPS dan 68 anak (84.0%) yang mengetahui manfaat CTPS. Pengetahuan anak mengenai waktu-waktu penting mencuci tangan juga mengalami peningkatan, dari 19 anak (23.5%) sebelum kegiatan menjadi 66 anak (81.5%) setelah kegiatan. Pada aspek keterampilan, sebelum kegiatan hanya 17 anak (21.0%) yang mampu mempraktikkan enam langkah CTPS dengan benar. Setelah dilakukan edukasi melalui demonstrasi dan praktik langsung, jumlah anak yang mampu mempraktikkan enam langkah CTPS meningkat menjadi 65 anak (80.2%). Selain itu, keaktifan dan partisipasi anak selama kegiatan juga menunjukkan peningkatan, dari 34 anak (42.0%) sebelum kegiatan menjadi 74 anak (91.4%) setelah kegiatan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendidikan kesehatan tentang cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada anak usia dini melalui pendekatan edukasi yang bersifat demonstratif, partisipatif, serta dikombinasikan dengan metode bermain dan bernyanyi sangat efektif meningkatkan kemampuan anak dalam memahami pengertian dan manfaat CTPS, mengenali waktu-waktu penting mencuci tangan, serta mempraktikkan enam langkah CTPS dengan benar. Selain itu, keterlibatan guru dan fasilitator memberikan dukungan penting dalam memperkuat pesan kesehatan dan keberlanjutan perilaku CTPS di lingkungan sekolah. Saran: Diharapkan, pendidikan kesehatan CTPS berbasis sekolah untuk terus dikembangkan karena memiliki potensi besar sebagai upaya promotif dan preventif dalam mencegah penyakit infeksi serta membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini.
Peningkatan pengetahuan lansia tentang terapi komplementer hipertensi Mas’ud, Alfian; Musni, Musni; Supriadi, Dedi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2364

Abstract

Background: Hypertension (high blood pressure) remains a very serious public health problem, a major disease burden, and one of the leading causes of premature death worldwide, including in Indonesia. Data shows that 59.1% of disabilities (seeing, hearing, walking) in the population aged 15 years and over are acquired diseases, of which 53.5% are non-communicable diseases, primarily hypertension (22.2%). Socializing the importance of a healthy lifestyle, early detection, and the provision of quality health services to the community to control hypertension. Activities and programs focus on human resource development, integration of all systems/applications within SATU SEHAT, community empowerment, and support for innovative research. Purpose: To increase knowledge about hypertension and complementary therapies to lower blood pressure using boiled bay leaf water. Method: This community service activity was conducted on February 17, 2025, in the hall of the Carebbu Village Office, Awampone District, Bone Regency. Twelve elderly people with hypertension participated as respondents. Educational material was delivered through lectures and leaflets. A questionnaire was used to measure respondents' knowledge before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). The level of knowledge was evaluated by comparing the scores before the educational activity (pre-test) with the scores after the educational activity (post-test). Results: The health education program went well. Five respondents (41.7%) had good knowledge about hypertension before the education session, five respondents (41.7%) had sufficient knowledge, and two respondents (16.6%) had poor knowledge. After the educational session, the number of respondents with good knowledge increased to 10 (83.4%), and two respondents (16.6%) had sufficient knowledge. Conclusion: Community service activities involving education on blood pressure-lowering therapy using boiled bay leaves have proven effective in increasing the knowledge of hypertension sufferers in managing their condition. This increased knowledge contributes positively to their psychological well-being and boosts their self-confidence in adopting a healthy lifestyle with natural, easy, and affordable therapy. Keywords: Bay leaves; Health education; Hypertension; Non-pharmacological therapy Pendahuluan:: Hipertensi (tekanan darah tinggi) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius, beban penyakit utama, dan salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Secara data menunjukkan bahwa 59.1% penyebab disabilitas (melihat, mendengar, berjalan) pada penduduk berusia 15 tahun ke atas adalah penyakit yang didapat, di mana 53.5% penyakit tersebut adalah penyakit tidak menular, terutama hipertensi (22.2%). Melakukan sosialisasi pentingnya gaya hidup sehat, deteksi dini, penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat agar hiperetensi terkendali. Kegiatan dan program berfokus pada pengembangan SDM, melakukan integrasi terhadap semua sistem/aplikasi dalam SATU SEHAT, pemberdayaan masyarakat, serta dukungan terhadap riset-riset inovatif. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang hipertensi dan terapi komplementer menurunkan tekanan darah menggunakan air rebusan daun salam. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2025 bertempat di aula Kantor Desa Carebbu Kecamatan Awampone Kabupaten Bone. Melibatkan 12 orang lansia dengan hipertensi menjadi responden. Penyampaian materi edukasi dilakukan dengan ceramah dan disertai media leaflet. Instrumen pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi tingkat pengetahuan responden dengan melihat perbandingan nilai sebelum kegiatan edukasi (pre-test) terhadap nilai sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Pelaksanaan edukasi kesehatan berjalan dengan baik. Terdapat 5 responden (41.7%) yang berpengetahuan dalam kategori baik tentang hipertensi sebelum diberikan edukasi, 5 responden (41.7%) dalam kategori cukup, dan yang dalam kategori kurang sebanyak 2 responden (16.6%). Setelah kegiatan edukasi terjadi peningkatan jumlah responden dengan pengetahuan dalam kategori baik menjadi sebanyak 10 responden (83.4%) dan yang berpengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 2 responden (16.6%). Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi mengenai terapi menurunkan tekanan darah dengan menggunakan air rebusan daun salam, terbukti efektif meningkatkan pengetahuan penderita hipertensi dalam mengelola penyakitnya. Meningkatnya pengetahuan penderita hipertensi memberikan kontribusi positif secara psikologis dan juga meningkatkan kepercayaan diri penderita hipertensi untuk berperilaku hidup sehat dengan terapi alami, mudah dan ekonomis.
Penyuluhan kesehatan tentang terapi pijat komplementer untuk mengurangi nyeri punggung ibu hamil Malka, St.; Mutmainnah, Mutmainnah; Musni, Musni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2365

Abstract

Background: A study in Indonesia reported that approximately 73% of pregnant women experience lower back pain, with 54% experiencing moderate pain. Back pain is a common complaint experienced by most pregnant women, especially in the second and third trimesters. This is caused by changes in posture, weight gain, and stretching of ligaments due to hormonal changes. Many pregnant women are unaware that certain massage therapies can help relieve these complaints safely and naturally. Lack of knowledge about the types of massage therapies that are safe for pregnant women, as well as their benefits and how to apply them, is a major factor contributing to the low utilization of this method. Furthermore, there is still a perception that massage during pregnancy is risky or prohibited. However, when performed with the correct technique and by a trained professional, massage therapy can significantly contribute to maternal comfort during pregnancy. Purpose: To provide knowledge about complementary midwifery care and training in safe massage therapy as an effort to reduce back pain in pregnant women in the second and third trimesters. Method: This community service activity was carried out on June 23, 2025 in Ulaweng Cinnong Village, Ulaweng District, Bone Regency. The activity was attended by 14 people from the Ulaweng Cinnong Village community and attended by related health workers, cadres, midwives, and local village officials. The main target of this outreach activity was pregnant women in Ulaweng Cinnong Village. The activity was carried out with an interactive and applicative approach regarding complementary midwifery care, one of which was the types of massage therapy to improve the quality of maternal health and how to overcome back pain in pregnant women in the 2nd and 3rd trimesters. The level of knowledge was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Descriptive assessments were given based on observations when participants practiced complementary therapy. Results: Participants' knowledge of complementary midwifery care before the pre-test was 42.9% in the poor category and 57.1% in the adequate category. After the post-test, the knowledge was 85.7% in the good category and 14.3% in the adequate category. Descriptively, after the educational activity, most participants experienced increased motivation and confidence in solving problems independently, and most participants also understood the indicators for implementing complementary therapies. Conclusion: Interactive and applicable complementary health education activities have been shown to increase the knowledge, skills, and confidence of pregnant women in managing their health independently. Complementary massage has an effect on back pain in pregnant women, indicating that complementary therapy is effective in reducing pain levels, increasing muscle relaxation, and improving maternal quality of life during the second and third trimesters of pregnancy. Suggestion: It is important for village health workers to introduce these various massage techniques, especially to health cadres and pregnant women, so they have a safe, independent, and side-effect-free alternative for pain management. In the future, complementary massage can be implemented as part of village maternal health programs, alongside routine antenatal checkups. Keywords: Back pain; Health education; Massage therapy; Midwifery care; Pregnant women Pendahuluan: Sebuah studi di Indonesia pada tahun 2023 melaporkan bahwa sekitar 73% ibu hamil mengalami nyeri punggung bawah, dengan 54% di antaranya mengalami nyeri pada tingkat sedang. Nyeri punggung merupakan keluhan umum yang dialami oleh sebagian besar ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Hal ini disebabkan oleh perubahan postur tubuh, peningkatan berat badan, dan peregangan ligamen akibat perubahan hormonal. Banyak ibu hamil yang belum mengetahui bahwa terapi pijat tertentu dapat membantu meredakan keluhan ini secara aman dan alami. Kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis terapi pijat yang aman untuk ibu hamil, serta manfaat dan cara penerapannya, menjadi faktor utama yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan metode ini. Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa pijat selama hamil berisiko atau dilarang, padahal jika dilakukan dengan teknik yang benar dan oleh tenaga terlatih, terapi pijat dapat sangat membantu kenyamanan ibu selama kehamilan. Tujuan: Memberikan pengetahuan mengenai asuhan kebidanan komplementer dan pelatihan terapi pijat yang aman sebagai upaya mengurangi nyeri punggung pada ibu hamil di masa kehamilan semester 2 dan 3. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2025 di Desa Ulaweng Cinnong, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone. Kegiatan diikuti 14 orang yang merupakan masyarakat Desa Ulaweng Cinnong dan di hadiri tenaga kesehatan terkait, kader, bidan, serta aparatur desa setempat. Sasaran utama dalam kegiatan penyuluhan ini adalah ibu-ibu hamil di Desa Ulaweng Cinnong. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan interaktif dan aplikatif tentang asuhan kebidanan komplementer salah satunya yaitu jenis-jenis terapi pijat untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan cara mengatasi nyeri punggung pada ibu hamil trimester 2 dan 3. Tingkat pengetahuan di ukur dengan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Penilaian deskriptif diberikan berdasarkan observasi ketika peserta melakukan praktik terapi komplementer. Hasil: menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta mengenai asuhan kebidanan komplementer sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 42.9% dalam kategori kurang dan sebesar 57.1% dalam kategori cukup, sedangkan sesudah kegiatan edukasi (post-test) menunjukkan sebesar 85.7% dalam kategori baik dan sebesar 14.3% dalam kategori cukup. Secara deskriptif, setelah kegiatan edukasi sebagian besar peserta mendapatkan peningkatan motivasi dan kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah secara mandiri dan sebagian besar peserta juga memahami indikator dalam penerapan terapi komplementer. Simpulan: Kegiatan penyuluhan kesehatan komplementer secara interaktif dan aplikatif terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan percaya diri ibu hamil dalam mengelola kesehatan secara mandiri. Pemijatan komplementer memberikan efek terhadap nyeri punggung ibu hamil, hal ini menunjukkan bahwa terapi komplementer efektif dalam menurunkan tingkat nyeri, meningkatkan relaksasi otot, serta memperbaiki kualitas hidup ibu selama kehamilan trimester kedua dan ketiga. Saran: Penting bagi tenaga kesehatan di desa untuk mengenalkan berbagai teknik pijat ini, khususnya kepada kader kesehatan dan ibu hamil, agar mereka memiliki alternatif pengelolaan nyeri yang aman, mandiri, dan tanpa efek samping. Di masa mendatang, penerapan pijat komplementer dapat menjadi salah satu bagian dari program kesehatan ibu di desa, berdampingan dengan pemeriksaan antenatal rutin.
Edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu sebagai upaya pencegahan penularan HIV kepada anak Wardiyah, Aryanti; Setiawati, Setiawati; Rilyani, Rilyani; Riyanto, Eko; Nafisah, Nida; Gusleni, Meri; Maharani, Erliana; Rohmah, Eis Ainun; Marzuna, Marzuna; Sahara, Amalia; Capilo, Pabio Leo
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2366

Abstract

Background: HIV/AIDS remains a public health problem, including among mothers and children. Mother-to-child transmission of HIV can occur during pregnancy, childbirth, and breastfeeding, especially if the mother does not know her HIV status early. Purpose: To increase mothers' knowledge and awareness regarding early detection of HIV/AIDS as an effort to prevent HIV transmission in children. Method: This activity was held on November 14, 2025, at 9:00 a.m. WIB at the Cempaka Putih Bumi Waras Integrated Health Post (Posyandu) in Bandar Lampung. Twenty-five mothers living near the Posyandu participated as respondents, and health workers served as facilitators and resource persons. This community service activity used a promotive and preventive approach. The target group was mothers in the community, who play a crucial role in preventing mother-to-child HIV transmission. The material was delivered through an interactive lecture, covering the definition of HIV/AIDS, modes of HIV transmission, the risks of mother-to-child HIV transmission, the importance of early HIV detection, and efforts to prevent HIV transmission in children. To enhance participant understanding, the activity continued with a discussion and question-and-answer session, allowing mothers to ask questions and obtain clarification on the material presented. The activity was evaluated qualitatively through observations of participant participation and enthusiasm during the session, as well as direct feedback from participants after the education. This evaluation aimed to assess the effectiveness of the material delivery and mothers' responses to the educational activities. Results: This activity ran smoothly and received a positive response from participants, who demonstrated enthusiasm throughout the presentation. This was evident in their active listening, asking questions, and participating in the discussion. The community service activity, which provided early detection education for HIV/AIDS to mothers, demonstrated positive results in increasing participants' understanding and awareness of HIV/AIDS and efforts to prevent mother-to-child transmission. Observations indicated an increase in mothers' knowledge regarding HIV/AIDS, including understanding of transmission methods, the importance of HIV testing, and efforts to prevent mother-to-child transmission. Conclusion: The community service activity, which provided promotive and preventive education using an early detection approach for mothers, increased mothers' understanding and awareness of HIV/AIDS, transmission mechanisms, and the importance of early detection as an effort to prevent mother-to-child transmission. This educational activity also encouraged mothers to develop positive attitudes toward prevention efforts, increasing their willingness to utilize health services and understanding the role of early detection in protecting children's health. Suggestion: It is hoped that HIV/AIDS early detection education activities for mothers can continue to be implemented sustainably and reach a wider audience across various levels of society. Education needs to be integrated with maternal and child health programs in health care facilities to ensure wider and consistent access to information about HIV/AIDS and early detection. Furthermore, health workers are expected to play an active role in providing comprehensive education and creating a supportive environment to reduce stigma and increase mothers' trust in health services. Keywords: Early detection; Health education; HIV/AIDS; Mother and child; Prevention of HIV transmission Pendahuluan: HIV/AIDS masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat, termasuk pada kelompok ibu dan anak. Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, dan menyusui, terutama apabila ibu tidak mengetahui status HIV-nya sejak dini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai deteksi dini HIV/AIDS sebagai upaya pencegahan penularan HIV pada anak. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 November 2025 pukul 09.00 WIB di Posyandu Cempaka Putih Bumi Waras Bandar Lampung. Diikuti oleh 25 orang ibu yang tinggal di lingkungan Posyandu untuk menjadi responden dan melibatkan tenaga kesehatan sebagai fasilitator dan narasumber. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan promotif dan preventif. Sasaran kegiatan adalah ibu di lingkungan masyarakat yang memiliki peran penting dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif meliputi pengertian HIV/AIDS, cara penularan HIV, risiko penularan HIV dari ibu ke anak, pentingnya deteksi dini HIV, serta upaya pencegahan penularan HIV pada anak. Untuk meningkatkan pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya-jawab sehingga ibu dapat menyampaikan pertanyaan serta memperoleh klarifikasi terkait materi yang diberikan. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan partisipasi dan antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung, serta umpan balik langsung dari peserta setelah edukasi. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai ketercapaian penyampaian materi dan respons ibu terhadap kegiatan edukasi yang telah dilaksanakan. Hasil: Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat respons positif dari peserta yang menunjukkan antusiasme selama proses penyampaian materi. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam menyimak materi, mengajukan pertanyaan, serta berpartisipasi dalam diskusi yang berlangsung. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta mengenai HIV/AIDS serta upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Terdapat peningkatan pengetahuan ibu mengenai pengertian HIV/AIDS berdasarkan observasi dengan pencapaian pemahaman meliputi cara penularan, pentingnya pemeriksaan HIV, serta upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi promotif dan preventif dengan pendekatan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran ibu mengenai HIV/AIDS, mekanisme penularan, serta pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Kegiatan edukasi ini juga mendorong terbentuknya sikap positif ibu terhadap upaya pencegahan dengan memanfaatkan layanan kesehatan menjadi lebih terbuka untuk mencari informasi dan memahami peran deteksi dini dalam melindungi kesehatan anak. Saran: Kegiatan edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sasaran di berbagai lapisan masyarakat. Edukasi perlu diintegrasikan dengan program kesehatan ibu dan anak di fasilitas pelayanan kesehatan agar informasi mengenai HIV/AIDS dan deteksi dini dapat diterima secara lebih luas dan konsisten. Selain itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi yang komprehensif serta menciptakan suasana yang mendukung untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kepercayaan ibu terhadap layanan kesehatan.
Optimalisasi pengetahuan keluarga tentang penanganan demam pada anak di Poli Anak Hartati, Sri; Karmi, Rudi; Hasbyalloh, Mochamad Salman; Sari, Siti Nia Purnama; Kurnia, Larisa Ardiyanti; Juniasih, Isvana Heti; Sihombing, Roasina; Amelia, Alka Fitri; Nurjanah, Wiwin; Fadilah, Gyas Syahrain
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2392

Abstract

Background: Fever is the most common complaint in children and the primary reason for visits to healthcare facilities. However, parents' lack of knowledge often leads to fever phobia, irrational medication use, and delayed recognition of danger signs. This situation emphasizes the need for systematic health education to improve family literacy. Hospitals, through pediatric clinics, play a strategic role in optimizing family knowledge, with nurses acting as educators and counselors providing evidence-based information and support. Purpose: To increase knowledge as an effort to optimize parental understanding in managing fever in children. Method: The activity was conducted in October 2025 at the Pediatric Clinic of Cibabat Regional Hospital, Cimahi, involving 25 parents selected based on their willingness and attendance. The study design used a pre-experimental, one-group pre-test and post-test, using a questionnaire on fever knowledge. Education was provided through lectures, discussions, videos, and leaflets, followed by evaluation through a post-test and Q&A. Data were analyzed descriptively by comparing pre-test and post-test results to determine improvements in family knowledge and understanding regarding fever management in children. Results: Prior to the educational activity, the knowledge and understanding of most participants were in the poor category (20 participants (82.5%) and in the adequate category (5 participants (17.5%). After the health education program, all participants improved to the good category (25 participants (100%). The comparison of the pre-test and post-test results showed a significant increase in family knowledge regarding fever management in children. Conclusion: Optimizing family knowledge about fever management in children is a crucial step in improving the quality of care and preventing complications. Appropriate and continuous education has been shown to strengthen parents' ability to manage fever independently and safely. Nurses play a strategic role as educators and counselors in providing information and support to families. Suggestion: Strengthening health education programs by nurses in healthcare facilities and the community is necessary to support fever management in children. Furthermore, the development of innovative and easily accessible educational media is expected to strengthen understanding and increase family involvement in safe and appropriate child care practices, with nurses acting as educators and counselors. Keywords: Children and toddlers; Fever; Fever management; Health education; Nursing care Pendahuluan: Demam merupakan keluhan paling sering pada anak dan menjadi alasan utama kunjungan ke fasilitas kesehatan, namun kurangnya pengetahuan orang tua sering menimbulkan fever phobia, penggunaan obat yang tidak rasional, serta keterlambatan mengenali tanda bahaya. Kondisi ini menegaskan perlunya edukasi kesehatan yang sistematis untuk meningkatkan literasi keluarga. Rumah sakit melalui poli anak memiliki peran strategis dalam optimalisasi pengetahuan keluarga, dengan perawat sebagai edukator dan konselor yang memberikan informasi berbasis bukti serta pendampingan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan sebagai upaya optimalisasi pemahaman orang tua dalam penanganan demam pada anak. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Oktober 2025 di Poli Anak RSUD Cibabat Cimahi dengan melibatkan 25 orang tua yang dipilih berdasarkan kesediaan dan kehadiran. Desain penelitian menggunakan pra-eksperimental satu kelompok pre-test dan post-test dengan instrumen kuesioner pengetahuan tentang demam. Edukasi diberikan melalui ceramah, diskusi, video, dan leaflet, kemudian dilakukan evaluasi melalui post-test dan tanya-jawab. Data dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pemahaman keluarga tentang penanganan demam pada anak. Hasil: Sebelum kegiatan edukasi, pengetahuan dan pemahaman peserta sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 20 orang (82.5%) dan kategori cukup sebanyak 5 orang (17.5%). Setelah edukasi kesehatan dilaksanakan, seluruh peserta meningkat ke kategori baik yaitu 25 orang (100%). Hasil perbandingan pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan keluarga mengenai penanganan demam pada anak. Simpulan: Optimalisasi pengetahuan keluarga tentang penanganan demam pada anak merupakan upaya penting untuk meningkatkan kualitas perawatan dan mencegah komplikasi. Edukasi yang tepat dan berkesinambungan terbukti memperkuat kemampuan orang tua dalam menangani demam secara mandiri dan aman. Perawat memiliki peran strategis sebagai edukator dan konselor dalam memberikan informasi serta pendampingan kepada keluarga. Saran: Penguatan program edukasi kesehatan oleh perawat di fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat perlu ditingkatkan untuk mendukung penanganan demam pada anak. Selain itu, pengembangan media edukasi yang inovatif dan mudah diakses diharapkan mampu memperkuat pemahaman serta meningkatkan keterlibatan keluarga dalam praktik perawatan anak yang aman dan tepat, dengan perawat berperan sebagai edukator dan konselor.
Edukasi penggunaan aromaterapi peppermint oil untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan riwayat stroke Musdalipa, Musdalipa; Sibulo, Megawati; Mas’ud, Alfian
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2396

Abstract

Background: Stroke is the second leading cause of death worldwide after heart disease and is a serious neurological problem with a high prevalence, including in Indonesia. The majority of cases are ischemic strokes, which cause brain tissue damage and complications such as sleep disturbances due to post-lesion neurological deficits. These sleep disturbances are often accompanied by anxiety and insomnia, reducing the patient's quality of life. Non-pharmacological efforts such as aromatherapy with essential oils, particularly peppermint oil, are recommended because they are non-invasive, safe, and effective in reducing anxiety and improving sleep quality through their action on the brain's limbic system. Therefore, aromatherapy-based educational interventions are important to support the rehabilitation of stroke patients at the primary healthcare level, such as community health centers. Purpose:To provide knowledge and understanding regarding the administration of peppermint oil aromatherapy as a non-pharmacological effort to improve sleep quality in patients with a history of stroke. Method: This activity was conducted on December 16, 2025, at the Bajoe Community Health Center in Bone Regency, South Sulawesi, involving 20 stroke patients selected through purposive sampling. The material was delivered using lecture and practice methods, followed by evaluation using pre-test and post-test questionnaires to assess knowledge enhancement regarding the use of peppermint oil aromatherapy to reduce anxiety and improve sleep quality in stroke patients. Results: The majority of participants were aged 40–50 (12 people) (60%), followed by 5 (25%) aged 51–60, and 3 (15%) aged 61–70, with a predominance of women (17 people) (85%). Pre-test results showed that most participants experienced moderate to severe anxiety. However, after education and practice, significant changes occurred, with 50% of participants experiencing mild anxiety and only 20% remaining in the severe to very severe category. Conclusion: Education regarding the use of peppermint oil aromatherapy can increase stroke patients' knowledge and reduce anxiety levels, which impact sleep quality. The majority of participants who initially experienced moderate to severe anxiety experienced a reduction in their anxiety levels to mild after receiving the education. Therefore, it can be concluded that this non-pharmacological intervention is effective as a complementary therapy for stroke patients during recovery. Suggestion: Continued efforts are needed to implement complementary therapies such as peppermint oil aromatherapy in primary healthcare facilities, particularly community health centers (Puskesmas), as part of an education program for patients with a history of stroke. Keywords: Health therapy; Peppermint oil aromatherapy; Sleep quality; Stroke Pendahuluan: Stroke merupakan penyebab kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung dan menjadi masalah neurologis serius dengan prevalensi tinggi, termasuk di Indonesia. Mayoritas kasus berupa stroke iskemik yang menimbulkan kerusakan jaringan otak dan komplikasi berupa gangguan tidur akibat defisit neurologis pasca-lesi. Gangguan tidur ini sering disertai kecemasan dan insomnia sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Upaya non-farmakologis seperti aromatherapy dengan minyak esensial, khususnya peppermint oil, direkomendasikan karena bersifat non-invasif, aman, dan efektif dalam menurunkan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur melalui mekanisme kerja pada sistem limbik otak. Oleh karena itu, intervensi edukasi berbasis aromatherapy menjadi penting untuk mendukung rehabilitasi pasien stroke di tingkat pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pemberian aromatherapy peppermint oil sebagai upaya non-farmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan riwayat stroke. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada 16 Desember 2025 di UPT Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan melibatkan 20 pasien stroke yang dipilih melalui purposive sampling. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah dan praktik, kemudian dilakukan evaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan menggunakan aromatherapy peppermint oil dalam menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur pasien stroke. Hasil: Mayoritas peserta berusia 40–50 tahun sebanyak 12 orang (60%), diikuti usia 51–60 tahun sebanyak 5 orang (25%), dan usia 61–70 tahun sebanyak 3 orang (15%), dengan dominasi perempuan sebanyak 17 orang (85%). Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang hingga berat, namun setelah diberikan edukasi dan praktik mengenai terjadi perubahan signifikan, di mana 50% peserta mengalami kecemasan ringan dan hanya 20% yang masih berada pada kategori berat hingga sangat berat. Simpulan: Edukasi mengenai penggunaan aromatherapy peppermint oil mampu meningkatkan pengetahuan pasien stroke sekaligus menurunkan tingkat kecemasan yang berdampak pada kualitas tidur. Mayoritas peserta yang semula mengalami kecemasan sedang hingga berat mengalami penurunan tingkat kecemasan menjadi dalam kategori ringan setelah diberikan penyuluhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi non-farmakologis ini efektif sebagai terapi komplementer pada pasien stroke di masa pemulihan. Saran: Diperlukan upaya berkelanjutan dalam penerapan terapi komplementer seperti aromatherapy peppermint oil di fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas, sebagai bagian dari program edukasi pasien dengan riwayat stroke.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue