cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 335 Documents
Edukasi terapi komplementer pada ibu hamil untuk mengurangi nyeri selama kehamilan Fatimah, Sitti; Heriyana, Desi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2397

Abstract

Background: Complementary therapy is a form of healing based on various modalities in health practices, supported by theory and belief. This therapy encompasses promotive, preventive, curative, and rehabilitative efforts, although currently, complementary therapy is an option during pregnancy to reduce common complaints or discomforts. Purpose: To provide knowledge and understanding of complementary therapies for health and their benefits to pregnant women during pregnancy. Method: This community service activity was held on October 25, 2025, from 9:30 to 11:00 a.m. WITA (Central Indonesian Time) at the Pajelele Village office, involving eight pregnant women as respondents. The material was delivered through interactive lectures, discussions, and demonstrations, accompanied by visual presentations and leaflets. The education materials covered complementary therapies and their health benefits during pregnancy. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires to measure changes in respondents' knowledge and understanding before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in respondents' knowledge and understanding of complementary therapies from a pregnancy health perspective. The evaluation results are used as an indicator of activity effectiveness. Results: Data obtained on respondents' knowledge levels regarding complementary therapies and their benefits before the educational activity (pre-test) was 25.0% in the good category, 25.0% in the adequate category, and 50.0% in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity (post-test) was 87.5% in the good category and 12.5% ​​in the adequate category. Conclusion: Health interventions that combine education (lectures) with direct demonstrations (practice/simulation) have proven highly effective in increasing pregnant women's knowledge and understanding of complementary therapies and their health benefits, thereby increasing motivation to implement them independently. Suggestion: It is hoped that educational activities accompanied by training on complementary therapies can be conducted regularly and involve health workers so that the public's understanding of the benefits of complementary therapies will be more fully understood based on medical knowledge. Keywords: Back pain; Complementary therapy; Health education; Pregnancy Pendahuluan: Terapi komplementer merupakan bentuk penyembuhan yang bersumber pada berbagai sistem modalitas dalam praktik kesehatan yang didukung oleh teori dan kepercayaan. Terapi tersebut meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif meskipun saat ini terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan selama kehamilan untuk mengurangi keluhan atau ketidaknyamanan yang umum terjadi Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang terapi komplementer untuk kesehatan dan manfaatnya kepada ibu hamil selama menjalani kehamilan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2025 pada pukul 09.30–11.00 wita di kantor Desa Pajelele dengan melibatkan 8 ibu hamil untuk menjadi responden. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi dan demonstrasi disertai media presentasi visual dan leaflet. Materi penyuluhan meliputi tentang terapi komplementer dan manfaat kesehatan selama masa kehamilan. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan pemahaman responden sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan pemahaman responden tentang terapi komplementer dalam perspektif kesehatan kehamilan. Hasil evaluasi digunakan sebagai indikator efektivitas kegiatan.  Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan responden mengenai terapi komplementer dan manfaatnya sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 25.0% dalam kategori baik, sebesar 25.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 50.0% dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 87.5% dalam kategori baik dan sebesar 12.5% dalam kategori cukup. Simpulan: Intervensi kesehatan yang menggabungkan edukasi (ceramah) dengan demonstrasi langsung (praktik/simulasi) terbukti sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil mengenai terapi komplementer dan manfaatnya dalam kesehatan, sehingga meningkatkan motivasi untuk menerapkan terapi secara mandiri. Saran: Diharapkan, kegiatan edukasi yang disertai dengan pelatihan tentang terapi komplementer dapat dilakukan secara berkala dan melibatkan tenaga kesehatan sehingga pemahaman tentang manfaat terapi komplementer akan lebih dirasakan oleh masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan medis.
Pelatihan penerapan bantuan hidup dasar dalam tanggap darurat kesehatan di sekolah Mansur, Ria Rizka; Najman, Najman; Basri, Muhammad
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2401

Abstract

Background: Emergency situations such as respiratory arrest and sudden cardiac arrest can occur at any time, including in schools. However, most students lack the knowledge and skills required for basic life support (BLS), which often hinders lifesaving efforts during the golden period. Globally, the success rate of cardiopulmonary resuscitation (CPR) remains low due to the lack of training bystanders, and in Indonesia, only a small percentage of sudden cardiac arrest victims receive BLS before medical personnel arrive. This situation is also reflected in South Sulawesi, including Bone Regency, where cases of sudden cardiac arrest in schools are rarely handled appropriately. High school students are a potential group for training due to their adequate cognitive and motor skills, but BLS training is not yet a routine part of the curriculum. Therefore, implementing BLS training at SMAN 3 Bone is relevant to improve students' knowledge, skills, and preparedness in dealing with emergencies, while simultaneously fostering a culture of emergency response and social solidarity within the school environment. Purpose: Improving student capacity through BLS skills training is a strategic effort to develop a young generation that is responsive to emergencies. Method: A community service activity was conducted on January 9, 2026, at SMAN 3 Bone, South Sulawesi, involving 29 students of grade XII IPA 2 who were purposively selected as respondents. Basic life support (BLS) skills training was provided through interactive lectures, demonstrations/simulations, and hands-on practice. Mentoring, monitoring, and evaluation were conducted to assess the success of the activity, its adherence to the plan, and its impact on improving students' knowledge and skills in performing CPR and first aid. Results: Of the 29 students participating in the training, 17 were male (58.6%) and 12 were female (41.4%). Participants gained knowledge about the concept of BLS, emergency theory, and vital components in emergencies. They also gained skills in performing a consciousness check, activating the emergency system, practicing airway opening and rescue breathing, and performing cardiopulmonary resuscitation (CPR). Conclusion: Basic life support (BLS) education and training through lectures and simulations has proven effective in improving students' knowledge and skills related to emergency management in cases of respiratory/cardiac arrest. This activity contributes to students' knowledge and experience in BLS, enabling them to understand basic concepts and practice first aid skills with greater confidence after the training. Educational activities also benefit by fostering school preparedness for emergencies. Suggestion: BLS training should be implemented continuously and integrated into the high school curriculum, supported by collaboration between schools, healthcare professionals, and relevant agencies, to foster a culture of preparedness and social solidarity within the school environment in the face of emergencies. Keywords: Basic life support; Emergency; Health education; Student skills; Training Pendahuluan: Kejadian kegawatdaruratan seperti henti napas dan henti jantung mendadak dapat terjadi kapan saja, termasuk di lingkungan sekolah, namun sebagian besar siswa belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) yang sesuai standar sehingga upaya penyelamatan jiwa pada golden period sering terhambat. Secara global, tingkat keberhasilan resusitasi jantung paru (RJP) masih rendah karena saksi awam tidak terlatih, dan di Indonesia hanya sebagian kecil korban henti jantung mendadak yang menerima tindakan BHD sebelum tenaga medis tiba. Kondisi ini juga tercermin di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Bone, dengan kasus henti jantung mendadak di sekolah yang jarang ditangani secara tepat. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan kelompok potensial untuk dilatih karena memiliki kemampuan kognitif dan motorik yang memadai, namun pelatihan BHD belum menjadi bagian rutin kurikulum. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan pelatihan BHD di SMAN 3 Bone menjadi relevan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi kondisi gawat darurat, sekaligus membentuk budaya tanggap darurat dan solidaritas sosial di lingkungan sekolah. Tujuan: Meningkatkan kapasitas siswa melalui pelatihan keterampilan BHD sebagai upaya strategis dalam membentuk generasi muda yang tanggap terhadap kondisi kegawatdaruratan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 9 Januari 2026 di SMAN 3 Bone, Sulawesi Selatan, dengan melibatkan 29 siswa kelas XII IPA 2 yang dipilih secara purposif sebagai responden. Pelatihan keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) diberikan melalui ceramah interaktif, demonstrasi/simulasi, dan praktik langsung. Pendampingan, monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan kegiatan, kesesuaian pelaksanaan dengan rencana, serta dampak terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam melakukan RJP dan pertolongan pertama. Hasil: Dari 29 siswa peserta pelatihan, terdiri atas 17 laki-laki (58.6%) dan 12 perempuan (41.4%). Peserta mendapatkan pengetahuan tentang pengertian bantuan hidup dasar (BHD), teori kegawatdaruratan, dan komponen vital dalam kegawatdaruratan. Peserta juga mendapatkan kemampuan dalam melakukan pemeriksaan kesadaran, melakukan aktivasi sistem kegawatdaruratan, melakukan praktik pembukaan jalan napas dan bantuan napas serta melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Simpulan: Edukasi dan pelatihan keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) melalui ceramah dan simulasi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa terkait penanganan kegawatdaruratan pada kasus henti napas/ henti jantung. Kegiatan ini memberikan kontribusi pengetahuan maupun pengalaman tentang BHD sehingga siswa memahami konsep dasar dan mempraktikkan keterampilan pertolongan pertama dengan lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan edukasi juga memberikan manfaat dengan terbentuknya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Saran: Pelatihan BHD sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan terintegrasi dalam kurikulum sekolah menengah atas, dengan dukungan kerja sama antara pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan instansi terkait, sehingga terbentuk budaya kesiapsiagaan serta solidaritas sosial di lingkungan sekolah dalam menghadapi kondisi gawat darurat.
Promosi kesehatan melalui edukasi dan pelayanan skrining kesehatan terpadu pada pasangan usia subur dan lansia Pipin, Apriliana; Lina, Anastasia; Wijayati, Therecia; Trivina, Trivina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2402

Abstract

Background: The community midwifery approach places women, families, and communities at the center of health services throughout the life cycle through the principle of a continuum of care. Non-communicable diseases (NCDs) such as hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, and hyperuricemia are major risk factors contributing to increased morbidity and mortality, and pose a challenge to achieving Sustainable Development Goals (SDGs) Goal 3. Low screening coverage and public knowledge, particularly among couples of childbearing age and the elderly, have the potential to cause delays in the detection and prevention of NCDs. Purpose: To improve health knowledge through education and integrated midwifery-based health screening services for couples of childbearing age and the elderly as an effort to detect and prevent NCDs early. Method: A community service activity was conducted on November 9-10, 2025, at the Salib Suci Church, targeting 42 church members who participated in health education activities, specifically related to general health, specifically health screening efforts. This activity was a midwifery-based health promotion activity. Knowledge levels were categorized as good, sufficient, and poor. Evaluation of activities is carried out by looking at the analysis of descriptive measurement results between the pre-test and post-test. Results: Data obtained on respondents' knowledge levels regarding health screening before the educational activity was categorized as good (19.0%), sufficient (54.8%), and poor (26.2%). There was an increase in respondents' knowledge after the educational activity, with 38.1% of respondents in the good category, 54.8% in the sufficient category, and 7.1% in the poor category. Conclusion: The educational activity and integrated midwifery-based health screening services, which included blood pressure, blood sugar, cholesterol, and uric acid tests for fertile couples and the elderly, have been shown to have a positive impact on increasing community knowledge levels. Integrating health screening with education is an effective approach in community service activities, while also supporting promotive and preventive efforts in the early prevention of non-communicable diseases at the community level. Suggestion: Integrated midwifery-based health screening services need to be implemented sustainably and integrated with routine community health center programs to further enhance the impact of increasing public health knowledge and awareness. It is also recommended that future community service activities include follow-up in the form of individual counseling, referrals for at-risk cases, and monitoring of changes in health behavior to strengthen outcomes and provide long-term benefits to the community. Keywords: Childbearing age; Early prevention; Elderly; Health promotion; Integrated health screening; Non-communicable diseases Pendahuluan: Pendekatan kebidanan komunitas menempatkan perempuan, keluarga, dan komunitas sebagai pusat pelayanan kesehatan sepanjang siklus kehidupan melalui prinsip continuum of care. Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, dan hiperurisemia merupakan faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas, serta menjadi tantangan dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3. Rendahnya cakupan skrining dan pengetahuan masyarakat, khususnya pada pasangan usia subur (PUS) dan lansia, berpotensi menyebabkan keterlambatan deteksi dan pencegahan PTM. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan melalui edukasi dan pelayanan skrining kesehatan terpadu berbasis kebidanan pada pasangan usia subur dan lansia sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyakit tidak menular. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 9-10 November 2025 di lingkungan Gereja Salib Suci, dengan sasaran 42 umat gereja yang mengikuti kegiatan edukasi kesehatan, khususnya terkait kesehatan secara umum dalam hal ini upaya skrining kesehatan. Kegiatan ini merupakan promosi kesehatan berbasis kebidanan. Tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi baik, cukup, dan kurang. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat analisa hasil pengukuran deskriptif antara pre-test dan post-test. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan responden tentang skrining kesehatan sebelum kegiatan edukasi yang dalam kategori baik sebesar 19.0%, kategori cukup sebesar 54.8%, dan kategori kurang sebesar 26.2%. Terjadi peningkatan pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebesar 38.1%, kategori cukup sebesar 54.8%, dan kategori kurang sebesar 7.1%.  Simpulan: Kegiatan edukasi dan pelayanan skrining kesehatan terpadu berbasis kebidanan melalui pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat pada pasangan usia subur dan lansia terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat. Integrasi skrining kesehatan dengan edukasi merupakan pendekatan efektif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung upaya promotif dan preventif dalam pencegahan dini penyakit tidak menular di tingkat komunitas. Saran: Pelayanan skrining kesehatan terpadu berbasis kebidanan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program rutin puskesmas agar dampak peningkatan pengetahuan dan kesadaran kesehatan masyarakat dapat menjadi semakin baik. Kegiatan pengabdian selanjutnya juga disarankan untuk menambahkan tindak lanjut berupa konseling individual, rujukan bagi kasus berisiko, serta pemantauan perubahan perilaku kesehatan guna memperkuat luaran dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Peningkatan kesadaran risiko kanker payudara pada perempuan dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun Marleni, Marleni; Kusumawardhani, Shandy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2412

Abstract

Background:: Breast cancer is a leading cause of morbidity and mortality in women. A protective factor against breast cancer is adequate breastfeeding. However, many women who have breastfed for less than two years still do not understand the potential health risks. Purpose: To increase women's awareness and knowledge of the breast cancer risks associated with breastfeeding for less than two years. Method: This community service activity was carried out on Saturday, December 10, 2025, at 09.00–11.30 WIB at the Melati Integrated Health Post, Air Kepala Tujuh Village, Gerunggang District, Pangkalpinang, Bangka Belitung Islands. The target group of this activity was a group of mothers who were breastfeeding or who had a history of breastfeeding for less than two years. Using a purposive sampling technique based on suitability criteria, 30 respondents were obtained, consisting of breastfeeding mothers and mothers with a history of breastfeeding for less than two years. The implementation of health education was carried out through direct, communicative and interactive counseling with powerpoint presentation media. The material included the definition of breast cancer, risk factors, duration of breastfeeding related to risks, benefits of long-term breastfeeding, and early detection efforts, especially breast self-examination. The instrument to measure the level of knowledge and understanding of respondents used a questionnaire and the evaluation of the activity was carried out descriptively by comparing the assessment of knowledge and awareness of respondents before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The average age of respondents was 29.14 years with a standard deviation of ±2.64 years. The majority of respondents (19 respondents) were between the ages of 26 and 29. 46.7% were housewives, the majority (60.0%) were elementary school graduates, and most (21 respondents) had one child. There was an increase in the average knowledge score of respondents from 56 points before the educational activity (pre-test) to 82 points after the educational activity (post-test). Conclusion: Direct, communicative, and interactive health education regarding breast cancer, risk factors, and breastfeeding duration has proven effective in increasing awareness and understanding of the importance of early detection and preventive behaviors as an effort to prevent breast cancer. Mothers' behavior of breastfeeding their babies for a longer period has a protective effect against breast cancer risk. Suggestion: Continuous strengthening of community-based health education is needed to ensure wider dissemination of information about the long-term benefits of breastfeeding and the importance of early breast cancer detection and foster sustainable health behaviors. Educational materials on the importance of early breast cancer risk detection are also recommended for integration into health worker programs for premarital adolescents, maternal and child health, and the broader community. Keywords: Breast cancer; Breastfeeding; Early detection; Health education; Prevention Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan. Salah satu faktor protektif terhadap kanker payudara adalah pemberian ASI dalam jangka waktu yang cukup. Namun, masih banyak perempuan yang memiliki riwayat menyusui kurang dari dua tahun dan belum memahami risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan perempuan mengenai risiko kanker payudara yang berkaitan dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2025, pukul 09.00–11.30 WIB di Posyandu Melati, Kelurahan Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Sasaran dalam kegiatan ini adalah kelompok ibu yang sedang menyusui maupun yang memiliki riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Dengan teknik purposive sampling berdasarkan kesesuaian kriteria mendapatkan 30 orang responden yang terdiri dari ibu menyusui dan ibu dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Pelaksanaan edukasi kesehatan dilakukan melalui penyuluhan langsung, komunikatif dan interaktif dengan media presentasi powerpoint. Materi mencakup pengertian kanker payudara, faktor risiko, durasi menyusui terkait risiko, manfaat menyusui jangka panjang, serta upaya deteksi dini, khususnya pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Instrumen untuk mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman responden menggunakan kuesioner dan evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan penilaian pengetahuan dan kesadaran responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden berada di usia 29.14 tahun dengan standar deviasi ±2.64 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 26-29 tahun yaitu sebanyak 19 orang (63.3%). Sebesar 46.7% responden adalah sebagai IRT, mayoritas tingkat pendidikan responden adalah lulusan SD-SMP yaitu sebesar 60.0% dan sebagian besar responden memiliki 1 anak yaitu sebanyak 21 orang (70.0%). Terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan responden dari sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah 56 poin dan menjadi 82 poin sesudah kegiatan edukasi (post-test).  Simpulan: Penyuluhan kesehatan secara langsung, komunikatif dan interaktif mengenai pengertian kanker payudara, faktor risiko, dan durasi menyusui terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya deteksi dini dan perilaku preventif sebagai upaya pencegahan kanker payudara. Perilaku ibu dengan menyusui bayinya dalam jangka waktu lebih lama memberikan efek protektif terhadap risiko kanker payudara. Saran: Diperlukan penguatan edukasi kesehatan berbasis komunitas secara berkesinambungan agar informasi mengenai manfaat menyusui jangka panjang dan pentingnya deteksi dini kanker payudara lebih luas tersosialisasi serta membentuk perilaku kesehatan yang berkelanjutan. Diharapkan juga untuk mengintegrasikan materi edukasi tentang pentingnya deteksi dini risiko kanker payudara ke dalam program kegiatan tenaga kesehatan pada remaja pranikah, kesehatan ibu dan anak, dan komunitas yang lebih luas.
Peningkatan peran ibu dalam penerapan pijat bayi mandiri sebagai upaya kesehatan dan tumbuh kembang anak Pramulya, Asmaurina; Audina, Marchella; Katharina, Telly; Susanna, Susanna; Astuti, Agnes Dwiana Widi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2423

Abstract

Background:Toddler growth and development require a balance between nutrition and sensory stimulation, yet many parents focus solely on macronutrients. A lack of tactile stimulation, such as infant massage, risks inhibiting the optimization of brain synapses. In the community, the problem is exacerbated by mothers' reliance on traditional birth attendants or traditional massage therapists, which limits access to self-care due to the time and cost of these services. Purpose: To provide mothers with practical knowledge and skills in safely and correctly performing infant massage as a means of promoting healthy child development. Method: This community service activity was conducted in Kasromego Village, Beduai District, Sanggau Regency, West Kalimantan Province on Thursday, November 13, 2025. Ten mothers with infants participated. The educational intervention involved a lecture method supported by PowerPoint presentations and leaflets. The activity continued with a discussion and a live demonstration of how to properly perform infant massage. Evaluation of the activity involved observation and mentoring, with respondents directly practicing infant massage simulations on their infants. Descriptive analysis was conducted to assess the respondents' level of knowledge during the activity. Results: Data showed that 80.0% of respondents were housewives, 8 (80.0%) were only junior high school graduates. Most of the respondents' babies were second children (70.0%), and the majority of respondents' babies, 60.0%, were between 8 and 9 months old. There was an increase in mothers' knowledge and confidence in performing infant massage independently. Most participants were able to perform simulation practices directly on their babies. Conclusion: Community service activities, including education, training, and mentoring regarding proper infant massage, were very effective in increasing mothers' knowledge and confidence in performing infant massage independently. This activity also increased mothers' awareness that massaging their babies by their own mothers will influence the emotional or psychological connection between mother and baby and help the child grow and develop optimally according to their age. Suggestion: It is hoped that relevant health institutions will conduct educational and training activities on proper infant massage routinely and in a wider area, so that the health benefits of independent families can translate into optimal child health and development for the wider community. Keywords: Child development; Infant massage; Maternal empowerment; Sensory stimulation Pendahuluan: Tumbuh kembang balita menuntut keseimbangan antara nutrisi dan stimulasi sensorik, namun banyak orang tua hanya fokus pada gizi makro. Kurangnya stimulasi taktil, seperti pijat bayi, berisiko menghambat optimalisasi sinapsis otak. Di masyarakat, masalah diperburuk oleh ketergantungan ibu pada dukun bayi atau pijat tradisional, yang membatasi akses penanganan mandiri karena bergantung pada waktu dan biaya layanan tersebut. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis pada ibu dalam melakukan stimulasi secara aman dan benar sebagai upaya kesehatan tumbuh kembang anak. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Kasromego, Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat pada hari Kamis 13 November 2025. Melibatkan 10 orang ibu yang memiliki bayi sebagai responden. Intervensi edukasi melalui metode ceramah yang dibantu dengan media powerpoint dan leaflet. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan memberikan praktik demonstrasi secara langsung kepada ibu mengenai cara melakukan pijat bayi dengan baik dan benar. Evaluasi kegiatan dengan pendekatan observasi dan pendampingan, dimana responden melakukan praktik simulasi pijat bayi kepada bayi nya secara langsung. Analisa deskriptif dilakukan sebagai penilaian tingkat pengetahuan responden selama mengikuti kegiatan. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebesar 80.0% responden memiliki status pekerjaan sebagai IRT, sebanyak 8 orang (80.0%) hanya lulusan SMP, Sebagian besar bayi responden adalah anak ke 2 (70.0%) dan mayoritas usia bayi responden yaitu sebesar 60.0% berada di usia 8-9 bulan. Terdapat peningkatan pengetahuan serta kepercayaan diri para ibu dalam melakukan pijat bayi secara mandiri. Sebagian besar peserta dapat melakukan praktik simulasi secara langsung pada bayinya. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi, pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat mengenai memijat bayi dengan baik dan benar, sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta kepercayaan diri para ibu dalam melakukan pijat bayi secara mandiri. Kegiatan ini juga memberikan peningkatan kesadaran para ibu bahwa pemijatan terhadap bayi oleh ibunya sendiri akan memberikan pengaruh terhadap hubungan batin atau hubungan kejiwaan antara ibu dengan bayi serta menjaga anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai umurnya. Saran: Diharapkan lembaga kesehatan terkait, untuk kegiatan edukasi dan pelatihan mengenai pijat bayi dengan baik dan benar dapat dilakukan secara rutin dan wilayah yang lebih luas, sehingga manfaat kesehatan keluarga mandiri dapat mewujudkan kesehatan tumbuh kembang anak yang optimal kepada msyarakat yang lebih luas.
Edukasi kesehatan tentang malaria sebagai upaya mendukung program eliminasi malaria Thoyibah, Zurriyatun; Haryani, Haryani; Mardani, Raden Ahmad Dedy; Metri, Ni Ketut; Hajri, Zuhratul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2427

Abstract

Background: Malaria remains a public health problem in Indonesia, particularly in endemic and hypoendemic areas. Although the national elimination target was set for 2030, malaria cases were still reported as of 2024, including in West Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Bukit Tinggi Village, the working area of ​​the Penimbung Community Health Center, faces environmental risk factors, population mobility, and suboptimal preventive behaviors. Limited public knowledge is a major challenge in supporting malaria elimination. Purpose: To increase public knowledge, awareness, and understanding of malaria and its prevention as part of malaria elimination efforts. Method: This community service activity was carried out in September 2024 in Batu Kemalik Hamlet, Bukit Tinggi Village, Penimbung District, West Lombok Regency. The activity was attended by 20 community members and Batu Kemalik Hamlet officials. The target of the activity was community knowledge about malaria and maintaining the environment of Batu Kemalik Hamlet so that it does not become a malaria endemic. The activity was carried out with a community participation-based education approach. Measurement of knowledge levels used questionnaires with direct interviews given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Observation activities were carried out in October 2024 as an evaluation in assessing program implementation in Batu Kemalik Hamlet. Descriptive evaluation was carried out by looking at changes in the knowledge and understanding scores of participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The level of knowledge of participants before the educational activity was 2 (10.0%) in the good category, 4 (20.0%) in the sufficient category, and 14 (70.0%) in the poor category. There was an increase in knowledge of participants after the educational activity, with 18 (90.0%) in the good category and 2 (10.0%) in the sufficient category. This increase in knowledge was also demonstrated by the practical efforts undertaken after receiving education on malaria prevention. Conclusion: Community service activities through health education using an interactive and participatory approach have had a significant impact on increasing public knowledge and understanding of malaria. The increased public knowledge through these activities also increased community motivation and awareness to implement malaria management and prevention measures in their communities as an effort to end the malaria endemic. Suggestion: Strengthening sustainable education programs through empowering health cadres and establishing malaria awareness groups is recommended, with regular and continuous health education implementation to enable the community to play an active role as agents of change in malaria prevention. It is hoped that similar community service activities can become a model for sustainable community-based health education and contribute significantly to supporting the achievement of the malaria elimination target in West Lombok Regency. Keywords: Community health; Health education; Malaria; Malaria elimination; Malaria prevention Pendahuluan: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah endemis dan hipoendemis. Meskipun target eliminasi nasional ditetapkan pada 2030, kasus malaria masih dilaporkan hingga 2024, termasuk di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Desa Bukit Tinggi, wilayah kerja Puskesmas Penimbung, memiliki faktor risiko lingkungan, mobilitas penduduk, serta perilaku pencegahan yang belum optimal. Keterbatasan pengetahuan masyarakat menjadi tantangan utama dalam mendukung eliminasi malaria. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman masyarakat tentang malaria dan pencegahannya sebagai upaya eliminasi malaria. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan September 2024.di Dusun Batu Kemalik, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Penimbung, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan dikuti oleh 20 orang warga masyarakat dan aparatur Dusun Batu Kemalik. Sasaran kegiatan adalah pengetahuan masyarakat tentang malaria dan menjaga lingkungan Dusun Batu Kemalik agar tidak menjadi endemi malaria. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan edukasi berbasis partisipasi masyarakat. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung yang diberikan sebelun kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Kegiatan observasi dilakukan pada bulan Oktober 2024 sebagai evaluasi dalam memberikan penilaian pelaksanaan program di Dusun Batu Kemalik. Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan nilai pengetahuan dan pemahaman peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 14 orang (70.0%) dalam kategori kurang. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 18 orang (90.0%) dalam kategori baik dan sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori cukup. Peningkatan pengetahuan peserta juga ditunjukkan dengan upaya praktik yang dilakukan setelah menerima edukasi dalam pencegahan malaria. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dengan pendekatan interaktif dan partisipatif meberikan dampak nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang malaria. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam kegiatan ini juga meningkatkan motivasi masyarakat dan kesadaran komunitas untuk melakukan penatalaksanaan dan langkah pencegahan malaria di lingkungan sebagai upaya memutus endemi kejadian malaria.  Saran: Diharapkan adanya penguatan program edukasi berkelanjutan melalui pemberdayaan kader kesehatan dan pembentukan kelompok peduli malaria, dengan pelaksanaan pendidikan kesehatan secara rutin dan berkesinambungan agar masyarakat dapat berperan aktif sebagai agen perubahan dalam pencegahan malaria. Diharapkan kegiatan pengabdian serupa dapat menjadi model edukasi kesehatan berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata dalam mendukung tercapainya target eliminasi malaria di Kabupaten Lombok Barat.  
Edukasi kesehatan untuk membangun kesadaran tentang pernikahan dini pada remaja Pratama, Rika Yuanita; Sohibun, Sohibun; Wagiran, Wagiran; Karlia, Lilis
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2444

Abstract

Background: Early marriage among adolescents remains a public health problem in Indonesia due to its impact on reproductive health, maternal and child health, and psychosocial well-being. Adolescents' limited knowledge about the health risks of early marriage contributes to low awareness and attitudes toward delaying marriage. Schools are a strategic setting for implementing health promotion and preventive education for adolescents. Purpose: To increase adolescents' knowledge and awareness about early marriage from a health perspective. Method: This community service activity was conducted at SMA Negeri 4 Sintang on July 22, 2025, and involved 50 high school students as respondents. The activity implemented a community education approach through health counseling activities. Material was delivered through interactive lectures and discussions, accompanied by educational media in the form of visual presentations related to early marriage and adolescent reproductive health. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires, analyzed using Wilcoxon Signed Rank to measure changes in students' knowledge and awareness levels before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in adolescents' knowledge and awareness levels regarding early marriage from a health perspective. Results: The results of the activity showed an increase in student knowledge and awareness after the education. Before the education (pre-test), the majority of students had poor knowledge regarding the health impacts of early marriage, amounting to 22 students (44.0%). After the intervention (post-test), the proportion of students with good knowledge increased to 25 students (50.0%), and the proportion with fair knowledge increased to 20 students (40.0%). This indicates an increase in students' understanding of reproductive health risks and the importance of delaying marriage until physical, psychological, and social readiness is achieved. Conclusion: Community service activities in the form of education on early marriage from a health perspective have proven effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of the long-term impacts of early marriage. Suggestion: Education on early marriage from a health perspective needs to be carried out sustainably and integrated into school health promotion activities. Schools are expected to collaborate with health workers in providing comprehensive reproductive health education to students. Keywords: Adolescents; Early marriage Health education; Health promotion; Reproductive health Pendahuluan: Pernikahan dini pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak pada kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, serta kesejahteraan psikososial. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai risiko kesehatan pernikahan dini berkontribusi terhadap rendahnya kesadaran dan sikap dalam menunda usia pernikahan. Sekolah merupakan setting strategis dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan edukasi preventif bagi remaja. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pernikahan dini dalam perspektif kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Sintang pada tanggal 22 Juli 2025 dan melibatkan 50 siswa/siswi SMA untuk menjadi responden. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi, disertai media edukatif berupa presentasi visual yang berkaitan dengan pernikahan dini dan kesehatan reproduksi remaja. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test yang dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan kesadaran siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan kesadaran remaja terkait pernikahan dini dari perspektif kesehatan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa setelah diberikan edukasi. Sebelum penyuluhan (pre-test), mayoritas siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai dampak kesehatan pernikahan dini, yaitu sebanyak 22 siswa/siswi (44.0%). Setelah intervensi (post-test), proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa/siswi (50.0%) dan kategori cukup menjadi sebanyak 20 siswa/siswi (40.0%). Hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai risiko kesehatan reproduksi serta pentingnya menunda pernikahan hingga kesiapan fisik, psikologis, dan sosial. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terhadap dampak jangka panjang pernikahan dini. Saran: Edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan promosi kesehatan sekolah. Pihak sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada siswa.
Penerapan hipnosis lima jari untuk mengelola kecemasan pada remaja menggunakan media booklet “Stay cool, bukan stressful” Lismayanti, Desty; Sarini, Sarini; Rosmiyanti, Yanti; Fitriani, Dewi Rubi; Asih, Okti Rahayu; Sumitro, Sumitro; Novita, Debi; Sunarti, Sunarti; Seli, Yohana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2452

Abstract

Background: Anxiety is a common mental health issue among adolescents, particularly among 12th-grade students facing academic demands leading up to exams and preparing for graduation. Promotive and preventive efforts through education and training in simple relaxation methods are essential in schools. Purpose: To increase the knowledge and skills of adolescents in managing anxiety using five finger hypnosis. Method: This community service activity, through counseling and outreach, was held on January 12, 2026, at Sehati Karawang Vocational School, with 55 adolescents from 12th grade participating. The goal of this activity was to manage anxiety using five-finger hypnosis in adolescents. The activity used an interactive communicative approach. Material was delivered through presentations and direct discussions supported by booklets. Knowledge levels were measured using questionnaires and direct interviews administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Observation and mentoring activities were conducted with adolescents practicing the five-finger hypnosis therapy independently. Descriptive evaluation is carried out by looking at changes in participants' knowledge and understanding scores before educational activities (pre-test) and after educational activities (post-test). Results: The level of knowledge of respondents regarding anxiety management before the educational activity was 12 (21.8%) in the poor category and 43 (78.2%) in the poor category. There was an increase in the level of knowledge of respondents after the educational activity, with 38 (69.1%) in the good category and 17 (30.9%) in the fair category. Most respondents were able to directly practice five-finger hypnosis therapy and experienced immediate psychological and psychological benefits. Conclusion: Community service activities through the socialization and demonstration of five-finger hypnosis techniques combined with deep breathing relaxation have proven effective in increasing adolescents' understanding and skills in managing anxiety independently. Increased understanding of anxiety and the ability to manage anxiety symptoms with five-finger therapy in adolescents can have a positive psychological impact and foster high self-confidence. Suggestion: It is hoped that this activity can become a sustainable mental health education program. By developing the ability to manage anxiety from adolescence, it is hoped that adolescents can face academic and social demands in a more positive and mentally healthy manner. Keywords: Adolescents; Anxiety; Community service; Five-finger hypnosis; Health education Pendahuluan: Kecemasan merupakan isu kesehatan mental yang sering terjadi pada remaja, terutama di kalangan remaja kelas XII yang akan berhadapan dengan tuntutan akademis menjelang ujian, maupun persiapan setelah lulus. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi dan pelatihan metode relaksasi sederhana sangat perlu untuk diterapkan di sekolah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja dalam mengelola kecemasan menggunakan hipnosis lima jari. Metode: Kegiatan pengadian masyarakat melalui penyuluhan dan sosialisasi ini diselenggarakan pada tanggal 12 Januari 2026 di SMK Sehati Karawang dengan jumlah peserta sebanyak 55 remaja dari kelas XII. Sasaran dalam kegiatan ini adalah tatalaksana pengelolaan kecemasan dengan menggunakan hipnosis 5 jari pada remaja. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan komunikatif interaktif. Materi disampaikan melalui ceramah presentatif dan diskusi langsung yang dibantu dengan media booklet. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung yang diberikan sebelun kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Kegiatan observasi dan pendampingan dilakukan pada remaja dalam praktik langsung mengikuti langkah terapi hipnosis lima jari secara mandiri. Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan nilai pengetahuan dan pemahaman peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai pengelolaan kecemasan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 12 orang (21.8%) dalam kategori kurang dan sebanyak 43 orang (78.2%) dalam kategori kurang. Terdapat peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 38 orang (69.1%) dalam kategori baik dan sebanyak 17 orang (30.9%) dalam kategori cukup. Sebagian besar responden dapat melakukan praktik langsung terapi hipnosis lima jari dan mendapatkan manfaat secara langsung secara psikologis maupun psikis. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui sosialisasi dan demonstrasi teknik hipnosis lima jari dengan kombinasi relaksasi napas dalam terbukti efektif dalam menambah pemahaman serta keterampilan remaja dalam mengelola kecemasan secara mandiri. Meningkatnya pemahaman tentang kecemasan dan kemampuan dalam mengelola gejala kecemasan dengan terapi lima jari pada remaja dapat memberikan dampak positif secara psikologis dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Saran: Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi program pendidikan kesehatan mental secara berkelanjutan. Dengan adanya kemampuan dalam mengelola kecemasan sejak usia remaja, diharapkan remaja dapat menghadapi tuntutan akademis dan sosial melalui cara yang lebh positif dan sehat secara mental.
Edukasi tentang kepatuhan pembatasan cairan kepada pasien gagal ginjal kronik Maritasari, Dwi Yulia; Aziza, Nurul; Surya, Syiefa Renanda; Karyus, Aila; Listina, Febria; Oktarida, Avina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2473

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive decline in kidney filtration function lasting more than three months, often with non-specific symptoms that allow the disease to advance unnoticed. Hemodialysis is the most widely used renal replacement therapy; however, patient adherence to fluid restriction remains a major challenge, as non-compliance can lead to fluid overload, edema, dyspnea, and increased mortality risk through elevated Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG). Studies indicate that adherence to fluid restriction is associated with improved quality of life, with success strongly influenced by family support and the implementation of self-care practices including diet, medication, and physical activity. Video-based educational media has proven effective in enhancing patient knowledge, attitudes, and behaviors, thereby promoting adherence to hemodialysis therapy and reducing long-term complications. Purpose: Increase patient understanding of the impact of excess fluid on the body and the serious complications that can occur if fluid restrictions are not adhered to. Method: This community service activity was conducted in a hemodialysis unit involving 68 patients with fluid overload, identified by significant inter-dialytic weight gain, edema, or hypertension. Samples were selected through observation based on weight gain criteria between sessions. An educational and participatory approach was applied, with fluid restriction education delivered via video displayed in the hemodialysis room, accompanied by interactive discussions. Patient engagement was observed to assess involvement and comprehension, while knowledge levels were evaluated through question-and-answer sessions and peer experience sharing. Results: The intervention demonstrated increased knowledge and active engagement among hemodialysis patients following video-based counseling. The visually and interactively packaged material effectively captured patient attention, while accompanying discussions reinforced understanding. Video-based educational interventions integrated knowledge, attitudes, and behaviors synergistically, supporting adherence to fluid restriction and improving the quality of hemodialysis therapy. Conclusion: Video-based health promotion is an effective educational tool to enhance patient adherence to fluid restriction in hemodialysis. Improved adherence positively impacts the control of Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), making video media a recommended component of routine educational strategies to support therapy success and patient quality of life. Suggestion: Health care facilities, particularly hemodialysis units, are advised to integrate video media into routine education to strengthen patient adherence to fluid restriction. Regular evaluation of adherence should involve family support to ensure a more comprehensive and sustainable educational process. Keywords: Chronic kidney disease; Compliance; Fluid restriction; Health education; Hemodialysis Pendahuluan: Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan penurunan fungsi filtrasi ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dengan gejala yang sering tidak spesifik, sehingga penyakit dapat berkembang ke tahap lanjut tanpa disadari. Hemodialisis menjadi terapi pengganti ginjal yang paling banyak digunakan, namun kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan masih menjadi tantangan utama karena ketidakpatuhan dapat menimbulkan kelebihan cairan, edema, sesak napas, hingga meningkatkan risiko mortalitas melalui Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pembatasan cairan berhubungan dengan kualitas hidup pasien, dan keberhasilan sangat bergantung pada dukungan keluarga serta penerapan self care yang mencakup diet, pengobatan, dan aktivitas fisik. Media edukasi berbasis video terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien, sehingga dapat mendorong kepatuhan terhadap terapi hemodialisis dan menekan komplikasi jangka panjang. Tujuan: Meningkatkan pemahaman pasien tentang dampak kelebihan cairan terhadap tubuh serta komplikasi serius yang dapat terjadi apabila tidak mematuhi pembatasan cairan Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di ruang hemodialisis dengan melibatkan 68 pasien yang mengalami kelebihan cairan, ditandai oleh peningkatan berat badan inter-dialytic, edema, atau hipertensi. Sampel ditentukan melalui observasi pasien dengan kriteria peningkatan berat badan signifikan antar kunjungan. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif dan partisipatif. Edukasi mengenai pembatasan cairan disampaikan melalui media video yang ditayangkan di ruang hemodialisis, disertai diskusi interaktif antara pasien dan pemateri. Aktivitas peserta diamati untuk menilai keterlibatan dan pemahaman, sedangkan tingkat pengetahuan dievaluasi melalui sesi tanya jawab serta berbagi pengalaman antar pasien. Hasil: Adanya peningkatan pengetahuan dan keterlibatan aktif pasien hemodialisis setelah mengikuti penyuluhan melalui media video. Penyampaian materi yang dikemas secara visual dan interaktif efektif menarik perhatian pasien, diskusi yang menyertai tayangan memperkuat pemahaman mereka. Intervensi edukatif berbasis video yang disertai diskusi mampu mengintegrasikan aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien secara sinergis, sehingga mendukung kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan kualitas terapi hemodialisis. Simpulan: Media promosi kesehatan berbasis video merupakan alat edukasi yang efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien hemodialisis terhadap pembatasan cairan. Peningkatan kepatuhan tersebut berdampak positif pada pengendalian Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), sehingga penggunaan media video dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi edukasi rutin untuk mendukung keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien. Saran: Fasilitas pelayanan kesehatan khususnya unit hemodialisis, dapat mengintegrasikan media video sebagai bagian dari edukasi rutin untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan. Evaluasi kepatuhan perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan dukungan keluarga, sehingga proses edukasi lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Upaya peningkatan pengetahuan dan perilaku pencegahan mengenai tuberkulosis (TBC) pada masyarakat Wardani, Ratna; Listina, Febria
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2475

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem due to its high transmission rate and low public knowledge regarding prevention and control measures. Limited awareness and inadequate preventive behaviors contribute to the continued spread of tuberculosis. Health education is an important promotive and preventive strategy to increase public knowledge and encourage appropriate preventive behaviors regarding tuberculosis. Purpose: To improve knowledge and preventive behaviors related to tuberculosis in the community. Method: This community service activity was conducted on January 24, 2026, at the Village Office within the Palapa Community Health Center (Puskesmas) jurisdiction. Forty participants included the general public, families at risk of tuberculosis, and health cadres. The community service activity was implemented using an educational and participatory approach. Participants' activities during discussions and practical sessions were observed to assess their level of engagement and understanding, while also gathering their feedback on the material and delivery methods. The evaluation was presented in descriptive form, describing respondents' level of understanding of the material presented based on direct observations and interviews during the educational activity. Results: 40 participants actively participated in the counseling and discussion sessions. All participants attentively followed the material presented, covering the definition of tuberculosis, its causes, transmission, signs and symptoms, prevention efforts, the importance of early detection, cough etiquette, the implementation of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS), and adherence to treatment until completion. This demonstrated positive changes in community knowledge, attitudes, and behavioral tendencies toward tuberculosis prevention, including steps that can be implemented to prevent the spread of the disease. Conclusion: Health education on tuberculosis (TB) within community service activities has been proven to improve community knowledge, attitudes, and behaviors related to disease prevention. Participants understood the definition, causes, signs and symptoms, transmission methods, and the importance of early detection and adherence to tuberculosis treatment. Thus, this program contributed to reducing the risk of transmission and improving public health. Suggestion: Tuberculosis education activities are expected to be conducted on a continuous and scheduled basis to strengthen public knowledge and understanding of how to prevent complications and transmission, so that the benefits of these activities will be felt by the wider community. Keywords: Health education; Preventive behavior; Public health promotion; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama karena tingkat penularannya yang tinggi dan rendahnya pengetahuan masyarakat terkait langkah-langkah pencegahan dan pengendalian. Kesadaran yang terbatas dan perilaku pencegahan yang kurang memadai berkontribusi pada terus berlanjutnya penyebaran tuberkulosis. Edukasi kesehatan merupakan strategi promotif dan preventif yang penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat serta mendorong perilaku pencegahan yang tepat terhadap tuberkulosis. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan terkait tuberkulosis pada masyarakat. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 24 Januari 2026 di Kantor Kelurahan wilayah kerja Puskesmas Palapa, dengan 40 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, keluarga berisiko tuberkulosis, dan kader kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Aktivitas peserta selama diskusi dan praktik diamati untuk menilai tingkat keterlibatan dan pemahaman, sekaligus mengumpulkan tanggapan mereka mengenai materi dan metode penyampaian. Evaluasi disajikan dalam bentuk deskriptif mengenai tingkat pemahaman responden terhadap materi yang disampaikan berdasarkan observasi dan wawancara langsung selama kegiatan edukasi dilaksanakan. Hasil: Mendapatkan 40 peserta yang aktif terlibat dalam sesi penyuluhan dan diskusi. Seluruh peserta secara tertib mengikuti kegiatan dengan menyimak materi disampaikan meliputi pengertian tuberkulosis, penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, upaya pencegahan, pentingnya deteksi dini, etika batuk, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta kepatuhan pengobatan hingga tuntas. Menunjukkan adanya perubahan positif pada pengetahuan, sikap, dan kecenderungan perilaku masyarakat terhadap pencegahan tuberkulosis seperti langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang tuberkulosis (TBC) dalam kegiatan pengabdian masyarakat terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit. Peserta memahami pengertian, penyebab, tanda dan gejala, cara penularan, serta pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan tuberkulosis. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam menurunkan risiko penularan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan penyuluhan tuberkulosis sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan terjadwal untuk memperkuat pengetahuan dan pemahaman masyarakat untuk mencegah komplikasi dan penularan sehingga kegiatan penyuluhan akan dirasakan manfaatnya pada masyarakat yang lebih luas.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue