cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 335 Documents
Penerapan dietary approaches to stop hypertension (DASH) dan aktivitas fisik sebagai strategi pencegahan hipertensi dan stroke pada lansia Astuti, Dewi Woro; Puteri, Hidayatusy Syukrina; Hervidea, Radella; Jayadi, Ajib; Saleh, Asep Jalaludin
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2480

Abstract

Background: Hypertension is a major health problem among the elderly and a key risk factor for stroke and cardiovascular disease. Its prevalence increases with age, with high sodium intake, low fiber diet, and lack of physical activity as modifiable risk factors. Educational interventions through Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet and regular physical activity have been proven effective in reducing blood pressure, improving healthy behaviors, and enhancing quality of life. Elderly populations in rural areas face limited access to health information, making community-based approaches essential for improving knowledge, attitudes, and behaviors in preventing hypertension and stroke. Purpose: Improving the knowledge, attitudes, and behavior of the elderly in implementing a healthy lifestyle through education on dietary approaches to stop hypertension (DASH) and physical activity. Method: The study was conducted on November 2, 2025, at Tanjung Rejo Village Hall, Pesawaran District, Lampung, involving 60 elderly participants aged ≥60 years selected using purposive sampling. A quasi-experimental pretest–posttest one group design was applied, with interventions including health education, Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet menu demonstrations, simple physical activities, and two weeks of mentoring. Data were collected using questionnaires to assess knowledge and behavior, while blood pressure was measured with a digital sphygmomanometer. Analysis was performed using descriptive and inferential statistics. Results: Significant improvements were observed in knowledge, healthy eating behavior, and physical activity after the intervention. Knowledge increased from 40% (fair) at pre-test to 70% (good) at post-test, healthy eating behavior from 45% (fair) to 60% (good), and physical activity from 70% (inactive) to 65% (active). Mean systolic blood pressure decreased from 152 ± 12 mmHg to 138 ± 10 mmHg, and diastolic from 94 ± 8 mmHg to 86 ± 6 mmHg, with paired t-test results showing significant differences (p < 0.05). Conclusion: DASH diet education and physical activity proved effective in improving knowledge, healthy behaviors, and reducing blood pressure among the elderly. This intervention can serve as a relevant preventive strategy against hypertension and stroke, focusing on lifestyle modification through healthy diet and regular physical activity. The significant reduction in blood pressure highlights meaningful clinical impact, supporting the recommendation of community-based educational programs to enhance elderly quality of life. Suggestion: Sustainable DASH diet and physical activity programs should be integrated into elderly health services at the community level. Strengthening the role of families and health cadres, supported by culturally adapted modules and innovative educational media, is essential. Future research should employ more comprehensive designs, larger samples, and longer evaluation periods to provide stronger scientific evidence, while community-based programs are recommended to maintain healthy lifestyle changes among the elderly. Keywords: DASH; Diet; Elderly; Hypertension and stroke; Physical activity; Prevention Pendahuluan: Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada lansia yang menjadi faktor risiko penting terhadap stroke dan penyakit kardiovaskular. Prevalensi hipertensi terus meningkat seiring bertambahnya usia, dengan pola makan tinggi natrium dan rendah serat serta kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Intervensi berbasis edukasi melalui pola makan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) dan aktivitas fisik teratur terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah, memperbaiki perilaku hidup sehat, serta meningkatkan kualitas hidup lansia. Lansia di pedesaan menghadapi keterbatasan akses informasi kesehatan sehingga pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi penting untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pencegahan hipertensi dan stroke. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku lansia dalam menerapkan gaya hidup sehat melalui edukasi dietary approaches to stop hypertension (DASH) dan aktivitas fisik. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 2 November 2025 di Balai Desa Tanjung Rejo Kabupaten Pesawaran, Lampung dengan melibatkan 60 lansia berusia ≥60 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Desain penelitian menggunakan quasi-experimental pretest–posttest one group design, dengan intervensi berupa penyuluhan kesehatan, demonstrasi menu diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), praktik aktivitas fisik sederhana, serta pendampingan selama dua minggu. Instrumen berupa kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan dan perilaku, sedangkan tekanan darah diukur dengan tensimeter digital, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial uji paired t-test. Hasil: Adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan, perilaku pola makan sehat, dan aktivitas fisik lansia setelah intervensi edukasi diet DASH dan aktivitas fisik sederhana. Mayoritas tingkat pengetahuan meningkat dari kategori cukup (40%) pada pre-test menjadi baik (70%) pada post-test, perilaku pola makan sehat dari cukup (45%) menjadi baik (60%), serta aktivitas fisik dari kurang aktif (70%) menjadi aktif (65%). Selain itu, rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 152 ± 12 mmHg menjadi 138 ± 10 mmHg dan diastolik dari 94 ± 8 mmHg menjadi 86 ± 6 mmHg, dengan hasil uji paired t-test menunjukkan perbedaan signifikan (p-value<0.05). Simpulan: Edukasi diet DASH dan aktivitas fisik terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku hidup sehat, serta menurunkan tekanan darah pada lansia. Intervensi ini dapat dijadikan strategi preventif yang relevan dalam pencegahan hipertensi dan stroke, dengan fokus pada perubahan gaya hidup melalui penerapan pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur. Penurunan tekanan darah yang signifikan menunjukkan adanya dampak klinis yang bermakna, sehingga program edukasi berbasis komunitas direkomendasikan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup lansia. Saran: Perlunya program edukasi diet DASH dan aktivitas fisik yang berkelanjutan melalui integrasi dengan layanan kesehatan lansia di masyarakat. Peran keluarga dan kader kesehatan perlu diperkuat, dengan dukungan modul berbasis budaya lokal dan media edukasi inovatif. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain lebih komprehensif, sampel lebih besar, dan periode evaluasi lebih panjang agar bukti ilmiah lebih kuat, sementara program berbasis komunitas direkomendasikan untuk mempertahankan gaya hidup sehat lansia.
Optimalisasi pengetahuan status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Sihaloho, Endang; Rizki, Hudeni; Ristiani, Ristiani; Dewi, Nurfatmawati; Nazara, Titin Sundari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2605

Abstract

Background: Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women remains a public health problem with serious impacts on maternal and fetal health, such as increased risk of anemia, preterm labor, and low birth weight. One of the main factors contributing to CED is pregnant women's lack of knowledge about balanced nutrition and meeting nutritional needs during pregnancy. Therefore, ongoing educational efforts are needed to improve maternal nutritional understanding. Purpose: Optimize knowledge about nutritional status and the risk of chronic energy deficiency in pregnant women. Method: This community service activity was conducted at the Soposurung Community Health Center in December 2025. Twenty pregnant women were selected as respondents based on their Upper Arm Circumference (MUAC) screening results of <23.5 cm and their willingness to participate in all activities. The objective of this activity was to provide counseling on meeting nutritional needs for the risk of chronic energy deficiency (CED) in pregnant women. The activity was implemented using an educational and participatory approach. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation of knowledge improvement was assessed descriptively based on changes in nutritional knowledge and improvements in respondents' nutritional status indicators after the educational activity. Results: The level of knowledge of respondents regarding nutritional optimization for the risk of chronic energy deficiency before the educational activity was 5 (25.0%) in the good category, 8 (40.0%) in the sufficient category, and 7 (35.0%) in the poor category. There was a proportional change after the educational activities with 15 people (75.0%) in the good category, 4 people (20.0%) in the sufficient category, and 1 person (5.0%) in the less category. Conclusion: Community service activities through the optimization of nutrition education have proven effective in increasing nutritional knowledge and improving the weight status of pregnant women at risk of chronic energy deficiency (CED). Increased understanding of energy needs and balanced nutrition during pregnancy encourages changes in healthier eating behaviors and positively impacts improvements in nutritional status indicators. Suggestion: Nutrition education needs to be implemented routinely and integrated into antenatal care services, involving health workers, families, and health cadres to ensure the sustainability of behavior changes. Furthermore, regular monitoring of nutritional status and the development of more innovative and contextual educational media based on local foods are needed to increase the effectiveness of CED prevention programs for pregnant women. Keywords: Chronic energy deficiency; Balanced nutrition; Nutrition education; Pregnant women Pendahuluan: Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin, seperti meningkatnya risiko anemia, persalinan prematur, dan bayi berat lahir rendah. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian KEK adalah rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman gizi ibu hamil. Tujuan: Optimalisasi pengetahuan tentang status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Puskesmas Soposurung pada bulan Desember 2025. Melibatkan 20 orang ibu hamil untuk menjadi responden, yang dipilih berdasarkan hasil skrining Lingkar Lengan Atas (LILA) <23.5 cm dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penyuluhan tentang pemenuhan kebutuhan gizi terhadap risiko mengalami kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi peningkatan pengetahuan dinilai secara deskriptif berdasarkan perubahan pengetahuan tentang gizi dan perbaikan indikator status gizi responden setelah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai optimalisasi gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 5 orang (25.0%) dalam kategori baik, sebanyak 8 orang (40.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 7 orang (35.0%) dalam kategori kurang. Terdapat perubahan secara proporsional setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 15 orang (75.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 1 orang (5.0%) dalam kategori kurang. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui optimalisasi edukasi gizi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi serta memperbaiki status berat badan ibu hamil yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK). Peningkatan pemahaman mengenai kebutuhan energi dan gizi seimbang selama kehamilan mendorong perubahan perilaku makan yang lebih sehat dan berdampak positif terhadap perbaikan indikator status gizi. Saran: Edukasi gizi perlu dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dalam pelayanan antenatal care dengan melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, dan kader kesehatan agar keberlanjutan perubahan perilaku dapat terjaga. Selain itu, diperlukan pemantauan status gizi secara berkala serta pengembangan media edukasi yang lebih inovatif dan kontekstual berbasis pangan lokal untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan KEK pada ibu hamil.
Penyuluhan kesehatan mengenai metode kontrasepsi pada wanita usia subur (WUS) di wilayah terdampak banjir Aruan, Lasria Yolivia; Manullang, Rasmi; Nadeak, Yasrida; Novita, Plora; Isabella, Nova; Padilla, Erin; Aslamia, Saibatul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2608

Abstract

Background: Floods are a frequent disaster and have the potential to negatively impact health care services, including reproductive health. Women of childbearing age in flood-affected areas are at risk of limited access to contraceptive information and services, increasing the risk of unplanned pregnancies. Purpose: This community service activity aims to increase the knowledge and understanding of in flood-affected areas regarding contraceptive methods. Method: The activity was conducted in November 2025 in Bandar Klippa Village, a flood-affected area. Forty women of childbearing age and health workers in the Bandar Klippa Village area participated as respondents. This activity used a promotive-educational approach to increase women of childbearing age's knowledge regarding reproductive health, particularly regarding appropriate, safe, and healthy contraceptive method choices. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation of the activity was conducted by observing the increase in respondents' knowledge between before and after the educational activity. Mentoring and observation were conducted to assess respondents' active role during the activity, including their level of participation, active participation in activities, attendance, and interest in contraceptive use. Results: Obtaining data that the average age of respondents is 31.55 years and most respondents are in the age range of 26-30 years, namely 12 people (30.0%). A total of 34 respondents understand the types of contraception, 36 respondents were also actively involved in discussion activities during the activity, 32 respondents had an interest in using contraception, and all respondents followed the activity to completion. Table 2 shows that the level of knowledge of respondents is in the good category, 18 people (45%) in the sufficient category, and 12 people (30%) in the poor category. There is a change in the proportion of respondents' level of knowledge in the good category from 10 people (25%) before the educational activity to 30 people (75%) after the educational activity. Conclusion: Community service activities providing contraceptive counseling to women of childbearing age in flood-affected areas have proven effective and significantly increased their knowledge and ability to recognize various contraceptive methods. These activities also made a positive contribution to the community, increasing motivation, participation, and interest in appropriate, safe, and healthy contraceptive use. Suggestion: Sustainable reproductive health counseling involving health cadres, medical personnel, and village government support is needed to ensure that contraceptive information remains available to the community, especially in disaster-prone areas. Keywords: Contraceptive methods; Health counseling; Impact of flooding; Reproductive health; Women of childbearing age Pendahuluan: Banjir merupakan bencana yang sering terjadi dan berpotensi memiliki dampak buruk terhadap pelayanan pada fasilitas kesehatan menjadi terganggu, termasuk kesehatan reproduksi. Wanita usia subur (WUS) di wilayah terdampak banjir berisiko mengalami keterbatasan akses informasi dan layanan kontrasepsi, sehingga meningkatkan risiko kehamilan tidak direncanakan. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman WUS di wilayah terdampak banjir mengenai metode kontrasepsi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan November 2025 di Desa Bandar Klippa, yang merupakan wilayah terdampak banjir. Melibatkan 40 wanita usia subur untuk menjadi responden dan tenaga kesehatan wilayah Desa Bandar Klippa. Kegiatan ini menggunakan pendekatan promotif edukatif dalam meningkatkan pengetahuan wanita usia subur terkait kesehatan reproduksi, khususnya mengenai pilihan metode kontrasepsi yang sesuai, aman, dan sehat. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat peningkatan pengetahuan responden antara sebelum kegiatan edukasi dan sesudah kegiatan edukasi. Pendampingan dan observasi dilakukan untuk melihat peran aktif responden selama kegiatan dilaksanakan meliputi tingkat partisipasi, keaktifan dalam mengikuti kegiatan, kehadiran dan keminatan penggunaan kontrasepsi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 31.55 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 26-30 tahun yaitu sebanyak 12 orang (30.0%). Sebanyak 34 responden memahami jenis kontrasepsi, sebanyak 36 responden juga terlibat aktif dalam kegiatan diskusi selama kegiatan, sebanyak 32 responden memiliki keminatan untuk menggunakan kontrasepsi, dan seluruh responden mengikuti kegiatan hingga selesai. Pada tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden adalah dalam kategori baik, sebanyak 18 orang (45%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 12 orang (30%) dalam kategori kurang. Terdapat perubahan proporsi tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik dari sebanyak 10 orang (25%) sebelum kegiatan edukasi menjadi sebanyak 30 orang (75%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan metode kontrasepsi pada wanita usia subur di wilayah terdampak banjir terbukti efektif dan signifikan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengenali berbagai metode kontrasepsi. Kegiatan ini juga memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan meningkatkan motivasi, partisipasi dan minat penggunaan kontrasepsi yang sesuai, aman, dan sehat. Saran: Diperlukan pelaksanaan penyuluhan kesehatan reproduksi secara berkelanjutan dengan melibatkan kader kesehatan, tenaga medis, serta dukungan pemerintah desa agar informasi kontrasepsi tetap tersedia bagi masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana.
Penyuluhan PHBS tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini Ramadhan, Defri Wan; Prayoga, Andes; Avifah, Avifah; Agnesta, Desvia Ratin; Astuti, Evi; Erwan, Fragesta; Andani, Meri; Amartya, Salsa Ananstasya; Setiawan, Shandi; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2391

Abstract

Background: Oral and dental health is an essential part of Clean and Healthy Living Behaviors (CHLB) that must be instilled from an early age. Kindergarten-aged children are vulnerable to dental and oral problems due to a lack of understanding and improper brushing habits, therefore, appropriate and engaging health education efforts are necessary. Purpose: To increase children's understanding of CHLB and oral health and to introduce them to proper toothbrushing techniques. Method: This health education activity was held on November 25, 2025, at Smart Kids Kindergarten, Gedong Air, Bandar Lampung. Thirty-two participants participated. The educational activity used a face-to-face communicative and educational approach for kindergarten-aged children, tailored to their developmental characteristics. The material was delivered interactively using leaflets and flipcharts containing colorful pictures, simple text, and engaging illustrations for easy comprehension by children. Furthermore, education included demonstrations and simulations on proper toothbrushing techniques, including brushing times, tools to be used, and systematic brushing steps. Leaflets were distributed to participants as supporting media so that the information provided could be remembered and applied in daily life. Results: The use of leaflets as the primary medium for delivering toothbrushing lessons positively impacted children's understanding of proper toothbrushing techniques, including how to hold the toothbrush, the direction of brushing movements, and the order in which they brush the front, sides, and back of their teeth. This demonstrated that children enthusiastically participated in the activity and understood the importance of maintaining oral hygiene. Conclusion: Oral health education using leaflets and leaflets was effective in improving understanding and basic toothbrushing skills in early childhood. Direct, hands-on oral health education tailored to the developmental characteristics of early childhood has the potential to be an effective promotional strategy for preventing oral health problems and instilling sustainable healthy lifestyle habits. Suggestion: Schools are expected to make oral health education a routine program integrated into kindergarten learning activities, so that clean and healthy living habits can be instilled sustainably from an early age. Teachers and other educational staff are advised to continue providing reinforcement through proper tooth brushing habits and monitoring children's eating habits in the school environment. Keywords: CHLB; Early childhood; Health education; Oral health; Toothbrushing Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Anak usia taman kanak-kanak rentan mengalami masalah gigi dan mulut akibat kurangnya pemahaman dan kebiasaan menyikat gigi yang tidak benar, sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan yang tepat dan menarik. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman anak tentang PHBS kesehatan gigi dan mulut serta memperkenalkan gerakan menyikat gigi yang baik dan benar. Metode: Kegiatan pendidikan kesehatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 November 2025 di TK Smart Kids Gedong Air, Bandar Lampung. Melibatkan 32 peserta yang mengikuti kegiatan. Kegiatan edukasi menggunakan pendekatan komunikatif dan edukatif secara langsung (face to face) kepada anak usia taman kanak-kanak dengan yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif menggunakan media leaflet dan lembar balik yang berisi gambar berwarna, tulisan sederhana, serta ilustrasi menarik agar mudah dipahami oleh anak-anak. Selanjutnya, diberikan edukasi berupa demonstrasi dan simulasi mengenai gerakan menyikat gigi yang baik dan benar, meliputi waktu menyikat gigi, alat yang digunakan, serta langkah-langkah menyikat gigi secara sistematis. Leaflet dibagikan kepada peserta sebagai media pendukung agar informasi yang diberikan dapat diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil: Menunjukkan bahwa penggunaan lembar balik sebagai media utama dalam penyampaian materi gerakan sikat gigi memberikan dampak positif terhadap pemahaman langkah-langkah menyikat gigi yang benar, mulai dari cara memegang sikat gigi, arah gerakan menyikat, hingga urutan menyikat gigi bagian depan, samping, dan belakang, sehingga kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak mengikuti kegiatan dengan antusias dan mampu memahami pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Simpulan: Pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan leaflet dan lembar balik efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar menyikat gigi pada anak usia dini. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan secara langsung dan disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak usia dini berpotensi menjadi strategi promotif yang efektif dalam mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut serta menanamkan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan. Saran: Diharapkan pihak sekolah dapat menjadikan kegiatan pendidikan kesehatan gigi dan mulut sebagai program rutin yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di TK, sehingga perilaku hidup bersih dan sehat dapat ditanamkan secara berkelanjutan sejak usia dini. Guru dan tenaga pendidik disarankan untuk terus memberikan penguatan melalui pembiasaan menyikat gigi yang benar serta pengawasan terhadap kebiasaan makan anak di lingkungan sekolah
Edukasi perawatan kaki sebagai upaya pencegahan luka pada penderita diabetes melitus Maryuni, Sri; Andora, Novika; Yudha, Fajar; Kurniasari, Septi; Oktavia, Santi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2498

Abstract

Background: Management of diabetes mellitus requires not only pharmacological treatment but also family support. Foot care is one way to prevent neuropathy. Diabetic foot ulcers are a complication of uncontrolled diabetes mellitus. These ulcers can occur due to poor glycemic control, neuropathy, and peripheral vascular disease, as well as inadequate foot wound care. To prevent ulcers and improve the quality of life for people with diabetes mellitus, the family plays a crucial role in diabetic foot care. Purpose: To provide education about foot care as an effort to prevent diabetic ulcers. Method: The activity was conducted at the Lampung branch of the Wound Care Clinic (LWC) with the goal of increasing knowledge about caring for family members with diabetic ulcers. Consecutive sampling was used to select 20 respondents with family members with diabetes mellitus. The education program was delivered through lectures (presentations), massage demonstrations, question-and-answer discussions, and hands-on practice, assisted by family caregivers of people with diabetes mellitus. Foot care behavior was measured using the Nottingham Assessment of Functional Footcare (NAFF) questionnaire. A questionnaire on diabetic wound care was administered before the educational activity as pre-test data and after the educational activity as post-test data. For evaluation, the data were analyzed using a Wilcoxon test with a quasi-experimental one-group pre-test and post-test design to determine differences in respondents' foot care behavior before and after the educational activity. Results: The data showed that the average age of respondents was 57.75 years, with a standard deviation of ±4.41 within the 50-70 age range. The majority of respondents were aged 50-60 years (10) (50.0%). The majority of respondents were female (12) (60.0%), the majority of respondents had a high school education (9) (45.0%), the majority of respondents were private employees (11) (55.0%), and the duration of diabetes mellitus (1-3 years) (17) (85.0%). There was an increase in respondents' knowledge scores from 20 points before the educational activity to 50 points after the educational activity, with a p-value of 0.000. Conclusion: Educational and mentoring activities were very effective in increasing knowledge about diabetic wound care and also improving diabetic wound prevention behaviors in families with diabetes mellitus. Keywords: Diabetes mellitus; Diabetic wounds; Foot care; Health education; Prevention behavior Pendahuluan: Penanganan diabetes melitus tidak hanya memerlukan pengobatan farmakologi, tetapi juga bantuan keluarga. Perawatan kaki merupakan salah satu cara mencegah neuropati. Luka kaki diabetik adalah komplikasi yang terjadi pada diabetes mellitus tidak dapat dikontrol. Luka ini dapat terjadi karena kurangnya kontrol glikemik, neuropatik, dan penyakit pembuluh darah tepi, serta kurangnya perawatan luka pada kaki Untuk mencegah luka dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes melitus, peran keluarga sangat penting dalam perawatan kaki diabetik. Tujuan: Memberikan edukasi tentang perawatan kaki sebagai upaya mencegah luka diabetik. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Klinik Wound Care (LWC) cabang lampung dengan sasaran meningkatkan pengetahuan tentang perawatan keluarga yang mengalami luka diabetik. Dengan consecutive sampling mendapatkan sampel sebanyak 20 responden yang memiliki anggota keluarga menderita diabetes melitus. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan disampaikan melalui ceramah (presentasi), demo pemijatan, diskusi tanya-jawab dan praktik langsung dengan pendampingan oleh keluarga yang merawat penderita diabetes melitus. Pengukuran perilaku perawatan kaki memakai kuesioner nottingham assessment of fungtional footcare (NAFF). Kuesioner tentang perawatan luka diabetik diberikan sebelum kegiatan edukasi sebagai data pre-test dan setelah kegiatan edukasi sebagai data post-test. Sebagai evaluasi, data di analisa wilcoxon test dengan rancangan quasi experimental one group pre-test dan post-test untuk melihat perbedaan perilaku perawatan kaki responden sebelum dan setelah diberikan edukasi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 57.75 tahun dan standar deviasi ±4.41 dalam rentang usia 50-70 tahun. Sebagian besar responden berusia 50-60 tahun sebanyak 10 (50.0%). Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 (60.0%), sebagian besar pendidikan responden adalah SMA sebanyak 9 (45.0%), status pekerjaan responden adalah pegawai swasta sebanyak 11 (55.0%), dan lama menderita Diabetes Melitus 1-3 tahun sebanyak 17 (85.0%). Terjadi peningkatan skor tingkat pengetahuan responden dari sebelum kegiatan edukasi sebesar 20 poin menjadi 50 poin setelah kegiatan edukasi dengan mendapatkan nilai pValue=0.000. Simpulan: Kegiatan edukasi dan pendampingan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang perawatan luka diabetik dan juga meningkatkan perilaku pencegahan luka diabetik pada keluarga yang menderita diabetes melitus.
Efektifitas penerapan media audiovisual pada mobilisasi dini pasien post operasi Sagita, Icha; Sunarsih, Sunarsih; Rihiantoro, Tori
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2578

Abstract

Background: Based on interviews with postoperative patients in the general surgery and digestive wards of General Ahmad Yani Metro Hospital, many are reluctant to undergo early mobilization due to a lack of knowledge from both patients and their families. This lack of knowledge regarding postoperative patient care, particularly regarding early mobilization, leads to a lack of early mobilization practices, which can increase the risk of postoperative complications. Purpose: To provide an overview and effectiveness of audiovisual applications in early mobilization of postoperative patients. Method: This activity is a quantitative quasi-experimental study with a non-equivalent control group design approach. The goal is to provide an overview of the application of audiovisual media in the implementation of early mobilization in postoperative patients. The data population is the total number of surgical procedures at General Ahmad Yani Metro Hospital, Lampung Province from January to December 2023, which is 6,678, with an average of 557 surgical procedures per month. Sampling using non-probability sampling with a purposive sampling technique obtained 60 postoperative patients with general anesthesia. Respondents are grouped into 2 groups, where the control group carried out early mobilization with conventional educational instructions or hospital service standards while the intervention group received audiovisual media instructions (educational videos/animations). Measurements used an observation questionnaire with a checklist of each stage of the respondent's early mobilization activities. As an evaluation, data were analyzed using chi-square test statistics to see the effectiveness of audiovisual education on the implementation of early mobilization. Results: 25 (83.3%) respondents in the intervention group were categorized as good, while 5 (16.7%) were categorized as poor. Meanwhile, 12 (40.0%) respondents in the control group were categorized as good, while 18 (60.0%) were categorized as poor. The chi-square test for early mobilization implementation in the intervention and control groups yielded a p-value of 0.001 and an OR of 7.500. 25 (67.6%) respondents in the intervention group were categorized as good, while 12 (32.4%) respondents in the control group were categorized as poor. 5 (21.7%) respondents in the intervention group were categorized as poor, while 18 (78.3%) respondents in the control group were categorized as poor. Conclusion: The application of audiovisual media in early mobilization of postoperative patients significantly improved patient knowledge and understanding of proper early mobilization implementation. Implementing early mobilization with audiovisual media contributed to a 7.5-fold increase in the likelihood of success. Suggestion: It is hoped that future researchers can conduct similar studies involving other variables such as patient anxiety levels, family support, or patient education levels, as well as with a larger and more diverse sample to obtain generalizable results. Keywords: Audiovisual; Early mobilization; Health education; Postoperative patients Pendahuluan: Berdasarkan wawancara pasien pasca operasi di ruang bedah umum dan digestif RSUD Jendral Ahmad Yani Metro banyak yang enggan melakukan mobilisasi dini karena kurangnya pengetahuan pasien maupun keluarga. Minimnya pengetahuan pasien maupun keluarga tentang perawatan pasien pasca operasi terutama tentang mobilisasi dini pasien pasca operasi menyebabkan kurangnya pelaksanaan mobilisasi dini pasca operasi yang dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pasca operasi. Tujuan: Untuk memberikan gambaran dan efektifitas penerapan audiovisual pada pelaksanaan mobilisasi dini pasien post operasi. Metode: Kegiatan ini adalah penelitian kuantitatif quasi-eksperiment dengan pendekatan non-equivalent control group design. Sasarannya adalah memberikan gambaran mengenai penerapan media audiovisual dalam pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi. Populasi data adalah jumlah seluruh tindakan operasi di RSUD Jendral Ahmad Yani Metro Provinsi Lampung dari Januari-Desember 2023 yaitu sebanyak 6.678, dengan rata-rata 557 tindakan operasi per bulan. Pengambilan sampel secara non-probability sampling dengan teknik purposive sampling mendapatkan 60 pasien pasca operasi dengan general anestesi. Responden di kelompokan menjadi 2 group, dimana kelompok kontrol melakukan mobilisasi dini dengan petunjuk edukasi konvensional atau standar pelayanan rumah sakit sedangkan kelompok intervensi mendapatkan petunjuk media audiovisual (video edukasi/animasi). Pengukuran menggunakan kuesioner observasi dengan pengisian berupa ceklist dari setiap tahapan aktifitas mobilisasi dini responden. Sebagai evaluasi, data di analisa menggunakan statistik chi square test untuk melihat efektifitas edukasi audiovisual terhadap penerapan pelaksanaan mobilisasi dini. Hasil: Menunjukkan bahwa pelaksanaan mobilisasi dini responden pada kelompok intervensi yang dalam kategori baik adalah sebanyak 25 (83.3%) dan sebanyak 5 (16.7%) dalam kategori kurang. Sedangkan pada kelompok kontrol yang dalam kategori baik adalah sebanyak 12 (40.0%) dan sebanyak 18 (60.0%) dalam kategori kurang. Berdasarkan hasil uji chi-square terhadap pelaksanaan mobilisasi dini dari kelompok intervensi dan kontrol mendapatkan pValue=0.001 dan nilai OR=7.500, dimana kelompok intervensi yang memiliki kategori baik adalah sebanyak 25 (67.6%) dan kelompok kontrol sebanyak 12 (32.4%), sedangkan kelompok intervensi yang memiliki kategori kurang adalah sebanyak 5 (21.7%) dan kelompok kontrol sebanyak 18 (78.3%). Simpulan: Penerapan media audiovisual dalam mobilisasi dini pada pasien post operasi, sangat signifikan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang pelaksanaan mobilisasi dini dengan baik. Pelaksanaan mobilisasi dini dengan media audiovisual berkontribusi memiliki peluang 7.5 kali menjadi lebih baik. Saran: Diharapkan agar peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian serupa dengan melibatkan variabel lain seperti tingkat kecemasan pasien, dukungan keluarga, atau tingkat pendidikan pasien serta dengan sampel yang lebih besar dan beragam untuk mendapatkan hasil yang generalisasi.
Edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil Rilyani, Rilyani; Prayoga, Andes; Avifah, Avifah; Ramadhan, Defri Wan; Agnesta, Desvia Ratin; Astuti, Evi; Erwan, Fragesta; Andani, Meri; Amartya, Salsa Ananstasya; Setiawan, Shandi; Usman, Irindy Inayah; Dari, Ulan; Nasta, Beatrick Rosali; Aulia, Devita; Utami, Julia Tri; Sari, Putri Melinda
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2586

Abstract

Background: Pregnant women need adequate nutrition to stay healthy. This is achieved by increasing and varying the food they consume, but avoiding excessive portion sizes or restricting their diet, as this can harm the fetus. Chronic Energy Deficiency (CED) is a condition in which a pregnant woman experiences a prolonged (yearly or chronic) lack of food, resulting in health problems such as an inability to meet increased nutritional needs during pregnancy. Pregnant women with CED have a higher risk of giving birth with low birth weight (LBW) compared to pregnant women without CED. Purpose: To provide education to increase pregnant women's knowledge about how to prevent and manage CED. Method: This activity was conducted on November 29, 2024, at 9:30 a.m. Western Indonesian Time (WIB) at the Simpur Community Health Center (Puskesmas) in Bandar Lampung. A total of 24 pregnant women and mothers with toddlers attended the activity to serve as respondents. The goal of this activity was health education to increase pregnant women's knowledge regarding the prevention of chronic energy deficiency during pregnancy. Respondent knowledge was measured using a questionnaire administered before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation was conducted by asking respondents questions about the explanation and observing changes in their knowledge levels based on the questionnaire results between before and after the educational activity. Results: Data obtained showed that the level of knowledge of respondents before the educational activity was 4 (16.7%) in the good category, 12 (50.0%) in the adequate category, and 8 (33.3%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge after the educational activity was 16 (66.7%) in the good category, 8 (33.3%) in the adequate category, and no respondents had poor knowledge. Conclusion: This educational activity successfully increased the knowledge and awareness of pregnant women regarding the importance of preventing and managing chronic energy deficiency (CED). Increased knowledge among pregnant women will minimize the risk of CED, thereby improving the health and nutritional quality of pregnant women, which will contribute to achieving the national goal of reducing stunting and maternal mortality. Suggestion: Community Health Centers (Puskesmas) are expected to improve and optimize the implementation of education on the prevention of chronic energy deficiency (CED) for pregnant women in a structured, sustainable, and individual-based manner. Program support that involves the family as a support system for pregnant women is needed to improve adherence to nutritional recommendations. Keywords: Chronic energy deficiency; Health education; Pregnant women; Prevention Pendahuluan: Ibu hamil memerlukan nutrisi agar tetap sehat. Ini dilakukan dengan menggunakan perbanyak dan variasikan makanan yang dikonsumsinya, namun jangan menambah ukuran porsinya dan juga membatasi pola makan karena dapat membahayakan janin dalam kandungan. Defisiensi Energi Kronis adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil mengalami kekurangan makanan dalam jangka waktu yang lama (menahun atau menahun), sehingga menimbulkan gangguan kesehatan seperti tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan gizi selama kehamilan. Ibu hamil yang menderita KEK memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan dengan berat badan lebih rendah (BBLR) dibandingkan ibu hamil tanpa KEK. Tujuan: Memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai cara pencegahan dan penanganan KEK. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2024 pada pukul 09.30 WIB di Wilayah Kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Sebanyak 24 ibu hamil dan ibu yang memiliki balita menghadiri kegiatan untuk menjadi responden. Sasaran dalam kegiatan ini adalah pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai pencegahan kejadian kekurangan energi kronik selama menjalani kehamilan. Pengukuran pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kembali mengenai isi penjelasan kepada responden dan melihat perubahan tingkat pengetahuan berdasarkan hasil kuesioner antara sebelum kegiatan edukasi dan setelah kegiatan edukasi. Hasil: Mendapatkan data bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 4 (16.7%) dalam kategori baik, sebanyak 12 (50.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 16 (66.7%) dalam kategori baik, sebanyak 8 (33.3%) dalam kategori cukup, dan tidak ada responden yang memiliki pengetahuan kategori kurang. Simpulan: Kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil tentang pentingnya pencegahan dan penanganan gangguan kurang energi kronik (KEK). Peningkatan pengetahuan ibu hamil akan meminimalkan risiko KEK sehingga peningkatan derajat kesehatan dan kualitas gizi ibu hamil akan berkontribusi dalam pencapaian tujuan nasional yaitu menurunkan angka stunting dan angka kematian ibu. Saran: Diharapkan agar Puskesmas dapat meningkatkan dan mengoptimalkan pelaksanaan edukasi pencegahan kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil secara terstruktur, berkesinambungan, dan berbasis kebutuhan individu. Diperlukan dukungan program yang melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung ibu hamil guna meningkatkan kepatuhan terhadap anjuran gizi.
Edukasi pengelolaan hipertensi berbasis terapi komplementer sebagai upaya pengendalian tekanan darah Mardiana, Mardiana; Irawati, Irawati
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2589

Abstract

Background: Hypertension remains a leading cause of high mortality, both in Indonesia and globally. Although various efforts have been made to improve early detection and management of hypertension, some patients still fail to achieve blood pressure control targets despite receiving appropriate pharmacological therapy. Complementary therapies are expected to be an adjunct to blood pressure control. Therefore, providing education is one way to increase public awareness. Purpose: To increase knowledge about hypertension management and the application of complementary therapies in the community with hypertension. Method: Community service was conducted on February 5, 2026, in Wollangi Village, Barebbo District, Bone Regency, South Sulawesi. This activity was attended by 40 participants who had hypertension to become respondents. The counseling used a direct interactive communicative approach. Measurement of knowledge levels used an instrument in the form of a questionnaire given before (pre-test) and after (post-test) the health education intervention. The questionnaire consisted of 25 questions with a score range of 0-25 points, where for the accumulated score category 0-13 = less, if the score is 14-18 = sufficient, and if the score is 19-25 = good. Evaluation was carried out by analyzing questionnaire score data using the Wilcoxon Sign Rank Test. The test results were presented descriptively qualitatively in explaining the increase in knowledge and understanding of participants during the implementation of the activity. Results: Data obtained showed that respondents' knowledge levels regarding complementary therapies in hypertension management before the educational activity (pre-test) were 17.5% in the good category, 30.0% in the adequate category, and 52.5% in the poor category. After the educational activity (post-test), the levels increased to 42.5% in the good category, 40.0% in the adequate category, and 17.5% in the poor category. Descriptively, respondents gained knowledge about hypertension, complementary therapies, and gained the confidence to independently implement complementary therapies. Conclusion: This educational activity can improve public understanding of hypertension based on complementary therapies. Increased public knowledge and understanding of complementary therapies has a positive impact on behavioral and attitudinal changes in self-management of blood pressure, thereby influencing changes in the quality of health at the community level. Suggestion: The public is expected to routinely apply knowledge about complementary therapies as an adjunct to blood pressure management. Healthcare workers are also expected to provide regular guidance to encourage hypertension sufferers to undergo regular health check-ups at integrated health posts (Posyandu) to monitor their complementary therapies. Keywords: Elderly health management; Complementary therapy; Health education; Hypertension Pendahuluan: Hipertensi hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian, baik di Indonesia maupun secara global. Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini dan penatalaksanaan hipertensi, masih terdapat sebagian pasien yang belum mencapai target pengendalian tekanan darah meskipun telah mendapatkan terapi farmakologis sesuai indikasi. Terapi komplementer diharapkan dapat menjadi terapi pendamping untuk pengendalian tekanan darah. Oleh karena itu pemberian edukasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang manajemen hipertensi dan penerapan terapi komplementer pada masyarakat dengan hipertensi. Metode: Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 05 Februari 2026 di Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 peserta yang memiliki hipertensi untuk menjadi responden. Penyuluhan menggunakan pendekatan komunikatif interaktif langsung. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan instrumen berupa kuesioner yang diberikan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) intervensi edukasi kesehatan. Kuesioner berupa 25 pertanyaan dengan rentang skor 0-25 poin, dimana untuk kategori akumulasi skor 0-13=kurang, apabila skor 14-18=cukup, dan apabila skor 19-25=baik. Evaluasi dilakukan dengan analisa data skor kuesioner menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil uji disajikan secara deskriptif kualitatif dalam menjelaskan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta selama pelaksanaan kegiatan. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan responden tentang terapi komplementer dalam manajemen hipertensi sebelum kegiatan edukasi (pre-test) sebesar 17.5% dalam kategori baik, sebesar 30.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 52.5% dalam kategori kurang. Sedangkan setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 42.5% dalam kategori baik, sebesar 40.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 17.5% dalam kategori kurang. Secara deskriptif, pencapaian responden mendapatkan pengetahuan tentang pengertian hipertensi, terapi komplementer dan memiliki kepercayaan diri untuk melakukan penerapan terapi komplementer secara mandiri.  Simpulan: Kegiatan edukasi ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hipertensi yang berbasis terapi komplementer. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang terapi komplementer memberikan dampak positif terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menerapkan pengelolaan tekanan darah secara mandiri sehingga memberikan pengaruh perubahan kualitas kesehatan di tingkat komunitas. Saran: Masyarakat diharapkan dapat menerapkan pengetahuan tentang terapi komplementer secara rutin sebagai terapi pendamping untuk pengendalian tekanan darah. Diharapkan juga kepada tenaga kesehatan untuk selalu memberikan bimbingan secara berkala supaya penderita hipertensi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin di Posyandu sebagai monitoring terapi komplementer yang sudah dilakukan
Peningkatan pengetahuan pola makan sehat untuk pencegahan gastritis pada petani Holida, Siti Solihat; Safari, Ganjar; Yuliana, Lia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2606

Abstract

Background: Gastritis is a common digestive health problem among productive age groups, including farmers, due to irregular eating patterns and inappropriate food choices. Farmers' physically demanding work activities and long working hours often lead to delayed mealtimes, increasing the risk of gastritis. Purpose: To increase farmers' knowledge about healthy eating habits as a means of preventing gastritis. Method: This community service activity was conducted on January 18th in Mekarsari Village, Cimaung District, involving 10 farmers as respondents. This community service activity used an educational and participatory approach based on community nursing, oriented towards increasing knowledge and empowering farmers in gastritis prevention efforts through the implementation of healthy eating habits. The extension material was delivered through interactive lectures supported by posters and leaflets, combined with discussions and questions and answers. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). A descriptive qualitative evaluation was conducted by comparing changes in respondents' knowledge levels between before and after the educational activity. Results: The average age of respondents was 39.2 years with a standard deviation of ±8.79 years. Most respondents were aged 40–49 years (40.0%). 50.0% of respondents were male and 50.0% were female. The educational level of respondents was 40.0% elementary school graduates, 40.0% junior high school graduates, and 20.0% high school graduates. The majority of respondents had worked as farmers for >10 years (6 respondents) and most respondents had a history of stomach complaints (8 respondents) (80.0%). There was an increase in respondents' knowledge about diet and gastritis prevention to 80.0% (post-test) in the good category from 60.0% before the educational activity (pre-test). Conclusion: The Community Service (PKM) activity, which provided education on healthy eating patterns for farmers, effectively increased participants' knowledge of healthy eating principles and gastritis prevention efforts. This activity also provided relevant benefits that can be continued and developed as a promotional and preventive program in the community, particularly for groups of farmers at risk of gastric health problems, thereby contributing to improving community health. Suggestion: It is hoped that the community will apply and share health information related to the knowledge gained regarding regular mealtimes and selecting safe foods for the stomach in their daily lives. Community Health Centers are also expected to collaborate with relevant parties to ensure the sustainability of community-based health education programs as a promotional and preventive effort, particularly in preventing gastritis. Keywords: Health education; Gastritis; Community health; Farmers; Healthy eating patterns Pendahuluan: Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang sering dialami oleh kelompok usia produktif, termasuk petani, akibat pola makan yang tidak teratur dan pemilihan makanan yang kurang sesuai. Aktivitas kerja petani yang menuntut fisik tinggi dan waktu kerja panjang sering kali menyebabkan keterlambatan waktu makan sehingga meningkatkan risiko terjadinya gastritis. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan petani mengenai pola makan sehat sebagai upaya pencegahan gastritis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari di Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung, dengan melibatkan 10 orang petani sebagai responden. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif berbasis keperawatan komunitas, yang berorientasi pada peningkatan pengetahuan serta pemberdayaan petani dalam upaya pencegahan gastritis melalui penerapan pola makan sehat. Materi penyuluhan disampaikan melalui ceramah interaktif yang dibantu media poster dan leaflet serta dikombinasikan dengan diskusi dan tanya-jawab. Tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi secara deskriptif kualitatif dengan membandingkan perubahan tingkat pengeteahuan responden antara sebelum kegiatan edukasi dengan sesudah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 39.2 tahun dengan standar deviasi ±8.79 tahun, sebagian besar responden berusia 40–49 tahun sebesar 40.0%. Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 50.0% dan berjenis kelamin perempuan juga sebesar 50.0%. Tingkat pendidikan responden yaitu sebesar 40.0% adalah tamatan SD, sebesar 40.0% adalah tamatan SMP, dan sebesar 20.0% adalah tamatan SMA. Mayoritas responden memiliki status pekerjaan sebagai petani selama >10 tahun yaitu sebesar 60.0%, dan sebagian besar responden memiliki riwayat keluhan pada lambungnya yaitu sebanyak 8 responden (80.0%). Terdapat peningkatan pengetahuan responden tentang pola makan dan pencegahan gastritis dalam kategori baik menjadi sebesar 80.0% (post-test) dari sebesar 60.0% sebelum kegiatan edukasi (pre-test). Simpulan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa edukasi pola makan sehat pada petani secara efektif memberikan peningkatan pengetahuan peserta mengenai prinsip pola makan sehat dan upaya pencegahan gastritis. Kegiatan ini juga memberikan manfaat yang relevan untuk dilanjutkan dan dikembangkan sebagai program promotif dan preventif di masyarakat, khususnya pada kelompok petani dengan risiko gangguan kesehatan lambung sehingga berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Saran: Diharapkan kepada masyarakat dapat menerapkan dan saling berbagi informasi kesehatan terkait pengetahuan yang telah diperoleh mengenai keteraturan waktu makan dan pemilihan jenis makanan yang aman bagi lambung dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan juga kepada Puskesmas untuk melakukan kolaborasi dengan pihak terkait dalam menjamin program edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat berjalan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif, khususnya dalam pencegahan penyakit gastritis.
Penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan modalitas computed radiography Adela, Natri; Utama, Harry Wahyudhy; Utami, Muslimah Putri; Zanariah, Zanariah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2623

Abstract

Background: Breast cancer (carcinoma mammae) is a major global health problem with increasing incidence, making early detection essential to reduce mortality. Mammography is proven effective for both screening and diagnostic purposes, using standard projections such as cranio-caudal (CC) and medio-lateral oblique (MLO), with additional variations to enhance sensitivity. The transition from analog to digital systems through computed radiography (CR) enables image storage, analysis, and integration with picture archiving and communication system (PACS), although its resolution is lower than digital radiography (DR). Success in examination depends not only on technology but also on radiographer competence in positioning, compression, and exposure parameter settings. Thus, the implementation of CR at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang is a strategic step in providing modern, effective, and standardized diagnostic services to support accurate diagnosis of carcinoma mammae. Purpose: To evaluate the management of mammography examinations in carcinoma mammae cases using computed radiography (CR) at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, and to assess the conformity of procedures with operational standards as well as the quality of images produced in supporting diagnostic accuracy. Method: This study was conducted in 2026 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital Palembang, South Sumatra, using a descriptive case study approach. The subject was a female patient suspected of having carcinoma mammae, selected through purposive sampling. Examinations were performed using computed radiography (CR) with available mammography units. Data were collected through direct observation of examination stages, interviews with radiographers, and documentation including notes, examination images, and activity records. Results: The mammography examination with CR on a female patient suspected of carcinoma mammae revealed an irregular, spiculated, high-density mass measuring approximately 4.19 × 3.94 × 3.39 cm in the upper outer quadrant of the left breast, accompanied by fibroglandular architectural distortion and multiple enlarged lymph nodes in the left axilla. Examinations using CC and MLO projections produced diagnostic-quality images despite the nipple not appearing in profile, with overall image quality consistent with theoretical and practical standards. Conclusion: Mammography examinations using CR in carcinoma mammae cases at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang were conducted according to radiology procedures. The use of CC and MLO projections provided optimal visualization of breast tissue, with images meeting diagnostic criteria of sharpness, density, contrast, and anatomical detail, thereby supporting accurate diagnosis of carcinoma mammae. Suggestion: The quality of mammography services using CR should be continuously maintained and improved through regular training for radiographers and healthcare personnel. Comparative studies between CR and digital radiography (DR) are also recommended to evaluate differences in image quality and effectiveness, thereby supporting the enhancement of diagnostic standards more optimally. Keywords: Breast cancer; Computed radiography; Mammography; Radiographic management Pendahuluan: Kanker payudara (carcinoma mammae) merupakan masalah kesehatan utama dengan angka kejadian yang terus meningkat, sehingga deteksi dini menjadi strategi penting dalam menurunkan mortalitas. Mammografi terbukti efektif sebagai metode pencitraan untuk skrining maupun diagnostik, dengan proyeksi standar seperti cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO), serta variasi tambahan untuk meningkatkan sensitivitas. Perkembangan teknologi dari sistem analog menuju digital melalui computed radiography (CR) memungkinkan penyimpanan citra, analisis, dan integrasi dengan picture archiving and communication system (PACS), meskipun resolusinya lebih rendah dibandingkan digital radiography (DR). Keberhasilan pemeriksaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kompetensi radiografer dalam melakukan positioning, kompresi, dan pengaturan parameter eksposi. Oleh karena itu, implementasi CR di RS Siloam Sriwijaya Palembang menjadi langkah strategis dalam menyediakan layanan diagnostik yang modern, efektif, dan sesuai standar untuk mendukung akurasi diagnosis kasus kanker payudara. Tujuan: Mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan mammografi pada kasus kanker payudara dengan menggunakan modalitas computed radiography (CR) di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian prosedur dengan standar pelaksanaan serta kualitas citra yang dihasilkan dalam mendukung akurasi diagnosis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan pendekatan deskriptif studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang pasien perempuan dengan dugaan kanker payudara yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan modalitas computed radiography (CR) dengan unit mammografi yang tersedia, sedangkan data diperoleh melalui observasi langsung terhadap tahapan pemeriksaan, wawancara dengan radiografer, serta dokumentasi berupa catatan, foto hasil pemeriksaan, dan kegiatan selama proses berlangsung. Hasil: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada pasien Ny. X dengan dugaan kanker payudara di RS Siloam Sriwijaya Palembang menampilkan massa iregular bertepi tidak tegas, spikulata, dan berdensitas tinggi, pada kuadran atas luar payudara kiri, disertai distorsi arsitektur jaringan fibroglandular serta pembesaran kelenjar bening multipel di aksila kiri. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) menghasilkan citra yang memenuhi kriteria diagnostik meskipun nipple tidak tampak dalam profil, pemeriksaan menghasilkan citra yang optimal sesuai teori maupun praktik. Simpulan: Pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) pada kasus kanker payudara telah sesuai dengan prosedur radiologi. Pemeriksaan menggunakan proyeksi cranio-caudal (CC) dan medio-lateral oblique (MLO) mampu menampilkan jaringan payudara secara optimal, dengan citra yang memenuhi kriteria diagnostik berupa ketajaman, densitas, kontras, dan detail anatomi yang jelas, sehingga mendukung akurasi diagnosis kanker payudara. Saran: Mutu pelayanan pemeriksaan mammografi dengan modalitas computed radiography (CR) diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan melalui pelatihan berkala bagi radiografer serta tenaga kesehatan, serta dilakukan penelitian komparatif dengan digital radiography (DR) untuk menilai perbedaan kualitas citra dan efektivitasnya, sehingga dapat mendukung peningkatan standar diagnostik secara lebih optimal.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue