cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 355 Documents
Edukasi pelayanan kesehatan peduli remaja dan gerakan sekolah sehat sebagai upaya peningkatan literasi kesehatan siswa Andi Mushawwir Taiyeb; Amaliah Amriani Amran Saru; Dewi Sartika Amboupe; Muh. Syaiful Akbar; Andi Citra Pratiwi; Indah Sari Ikhwan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3263

Abstract

Background: Adolescents are an age group vulnerable to various health problems due to low health literacy and a lack of understanding of healthy lifestyles. Schools have a strategic role in supporting adolescent health through health education and the implementation of the Healthy School Movement. Purpose: To improve adolescent health knowledge and literacy by strengthening the Healthy School Movement. Method: This community service activity was conducted on April 30, 2026, at SMAN 2 Makassar, involving 17 students from the Student Council (OSIS) and the Youth Movement (RPM). The activity aimed to improve adolescent health literacy and strengthen students' understanding of healthy lifestyles through education on adolescent health services and strengthening the Healthy School Movement. The activity included interactive lectures, discussions, questions and answers, and the distribution of health education leaflets. Evaluation used pre- and post-tests to assess participants' knowledge before and after the education. Results: The level of knowledge of respondents before the education activity was 41.1% in the good category, 47.1% in the sufficient category, and 11.8% in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after educational activities, all respondents were in the good category, namely 100%. Conclusion: Education on youth-focused health services (PKPR) and the healthy school movement effectively increase students' knowledge and awareness in shaping lifestyle habits, character, and the foundation for a healthy future. This activity supports strengthening youth health literacy and the role of the Student Council (OSIS) and the Healthy School Movement (PMR) as health promotion agents in schools. Suggestion: Schools are expected to integrate youth health education, youth-focused health services (PKPR), and the healthy school movement into routine school programs through OSIS and PMR activities, as well as health-based learning. Furthermore, ongoing collaboration between schools and community health centers is needed to provide education, health screenings, and youth health coaching to improve health literacy and encourage healthy lifestyles in students. Keywords: Health literacy; Healthy school movement; School health education; Youth; Youth-focused health services Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan akibat rendahnya literasi kesehatan dan kurangnya pemahaman mengenai perilaku hidup sehat. Sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung penguatan kesehatan remaja melalui edukasi kesehatan dan implementasi gerakan sekolah sehat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan literasi pelayanan kesehatan remaja melalui penguatan gerakan sekolah sehat. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 30 April 2026 di SMAN 2 Makassar dengan melibatkan 17 siswa OSIS dan PMR sebagai peserta. Sasaran kegiatan adalah untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja dan memperkuat pemahaman siswa mengenai perilaku hidup sehat melalui edukasi pelayanan kesehatan remaja dan penguatan gerakan sekolah sehat. Kegiatan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya-jawab, dan pembagian leaflet edukasi kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebesar 41.1% dalam kategori baik, sebesar 47.1% dalam kategori cukup, dan sebesar 11.8% dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi, seluruh responden dalam kategori baik yaitu sebesar 100%. Simpulan: Edukasi pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) dan gerakan sekolah sehat efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa dalam membentuk kebiasaan hidup, karakter, dan fondasi masa depan. Kegiatan ini mendukung penguatan literasi kesehatan remaja serta peran OSIS dan PMR sebagai agen promosi kesehatan di sekolah. Saran: Pihak sekolah diharapkan dapat mengintegrasikan edukasi kesehatan remaja, pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR), dan gerakan sekolah sehat ke dalam program rutin sekolah melalui kegiatan OSIS, PMR, maupun pembelajaran berbasis kesehatan. Selain itu, diperlukan kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah dan puskesmas dalam penyelenggaraan edukasi, skrining kesehatan, serta pembinaan kesehatan remaja untuk meningkatkan literasi kesehatan dan mendorong perilaku hidup sehat pada peserta didik.
Penguatan kesehatan ibu dan anak pada periode 1000 HPK untuk pencegahan stunting Rika Yuanita Pratama; Ria Damayanti; Lea Masan; Yolanda Montessori; Yunida Haryanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3274

Abstract

Background: Stunting is a chronic nutritional problem that remains a top public health priority in Indonesia. The First 1,000 Days of Life (HPK) is a crucial phase in child growth and development, therefore, efforts to prevent stunting are needed by increasing public knowledge about maternal and child health. Low public understanding of reproductive health, nutritional needs of pregnant women, exclusive breastfeeding, and complementary feeding (MP-ASI) is a risk factor for stunting in the community. Purpose: To increase public knowledge and awareness of the importance of maternal and child health during the First 1,000 Days of Life (HPK) as a stunting prevention effort. Method: This community service activity was conducted in Jerora Satu Village, Sintang District, on January 29, 2026. The target group was pregnant women, breastfeeding mothers, mothers with toddlers, integrated health post (Posyandu) cadres, and families at risk of stunting. The outreach program was conducted through interactive lectures, discussions, and questions and answers to increase participant engagement and facilitate understanding of the material, which covered nutritional needs of pregnant and breastfeeding mothers; These include exclusive breastfeeding, appropriate complementary feeding (MP-ASI), monitoring toddler growth and development, preventing infectious diseases through clean and healthy living practices (PHBS), and the importance of complete basic immunizations and antenatal care (ANC) visits. Evaluation is conducted through observational methods and mentoring in re-practicing the material presented. Results: The activity demonstrated increased participant knowledge regarding the importance of the 1000-HPK period, balanced nutrition, exclusive breastfeeding, appropriate complementary feeding (MP-ASI), and monitoring toddler growth. Participants also demonstrated high enthusiasm during the activity and were able to practice making complementary feeding (MP-ASI) using local food ingredients. Furthermore, Posyandu (Integrated Service Post) cadres gained additional knowledge related to maternal and child health education and toddler growth monitoring. Conclusion: The community service activities to strengthen maternal and child health went well and received a positive response from the community. The activities, which included outreach, demonstrations, mentoring, and counseling, improved participants' knowledge and skills regarding nutritional fulfillment, exclusive breastfeeding, complementary feeding (MP-ASI), and toddler growth monitoring as a means of preventing stunting. This increased public understanding demonstrates that participatory health education is effective in raising public awareness of the importance of the 1000-HPK period for child growth and development. Suggestion: The community, especially pregnant women and mothers with toddlers, is expected to apply the knowledge gained regarding balanced nutrition, exclusive breastfeeding, appropriate complementary feeding (MP-ASI), and regular monitoring of child growth to prevent stunting. Posyandu (Integrated Service Post) cadres, village governments, and local health workers are expected to continue to enhance their roles in providing regular health education to support the sustainability of stunting prevention programs in the community. Keywords: 1000 HPK; Health education; Maternal and child health; Stunting prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi prioritas utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga diperlukan upaya pencegahan stunting melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan ibu dan anak. Rendahnya pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, dan MP-ASI menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting di masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan ibu dan anak pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai upaya pencegahan stunting. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Jerora Satu Kecamatan Sintang pada tanggal 29 Januari 2026. Sasaran kegiatan adalah ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang memiliki balita, kader posyandu, serta keluarga yang memiliki risiko stunting. Penyuluhan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab agar peserta lebih aktif dan mudah memahami materi yang meliputi pemenuhan gizi ibu hamil dan ibu menyusui; pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, pencegahan penyakit infeksi melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan pentingnya imunisasi dasar lengkap dan kunjungan antenatal care (ANC). Evaluasi dilakukan dengan observasional melalui pendampingan dalam mempraktikkan kembali materi yang telah diberikan.  Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pentingnya periode 1000 HPK, pemenuhan gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, pemberian MP-ASI yang tepat, serta pemantauan pertumbuhan balita. Peserta juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung dan mampu mempraktikkan pembuatan MP-ASI berbahan pangan lokal. Selain itu, kader posyandu memperoleh tambahan pengetahuan terkait edukasi kesehatan ibu dan anak serta pemantauan pertumbuhan balita. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang penguatan kesehatan ibu dan anak berjalan dengan baik dan mendapat respon positif dari masyarakat. Kegiatan yang dilakukan melalui penyuluhan, demonstrasi, pendampingan, dan konseling mampu meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta terkait pemenuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, pemberian MP-ASI, dan pemantauan pertumbuhan balita sebagai upaya pencegahan stunting. Peningkatan pemahaman masyarakat menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dengan pendekatan partisipatif efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya periode 1000 HPK bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Saran: Bagi masyarakat, khususnya ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh terkait pemenuhan gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, pemberian MP-ASI yang tepat, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin guna mencegah terjadinya stunting. Bagi kader Posyandu, Pemerintah desa dan tenaga kesehatan setempat, diharapkan dapat terus meningkatkan perannya dalam memberikan edukasi kesehatan secara rutin untuk mendukung keberlanjutan program pencegahan stunting secara berkelanjutan di lingkungan masyarakat.
Optimalisasi manajemen diri melalui senam Ce’Esi (cegah hipertensi) sebagai upaya pengendalian tekanan darah Salwa Putri Nafisa Aurellia Borsalino; Pande Ni Made Intan Puspita Sari; Shinta Arini Ayu; Muhamad Rifky Ramanda; Riyan Hidayatuloh
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3349

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that is a global health problem. Regularly performing hypertension prevention exercises, a maximum of three times a week, will provide indirect health benefits by improving heart function, lowering blood pressure, and increasing the energy needs of cells, tissues, and organs. Purpose: To determine the effect of Ce'Esi exercises on lowering blood pressure in hypertensive patients. Method: The community service activity was conducted in the Muka Community Health Center (Puskesmas) work area in Cianjur Regency. A pre-experimental design approach with a one-group pre-test and post-test was used to assess changes in blood pressure after the exercise intervention in the target group. A purposive sampling technique was used to select 20 individuals with hypertension as respondents. The intervention, Ce'Esi (Prevent Hypertension) exercises, was performed collaboratively under the guidance of a team of counselors. The exercises lasted approximately 30 minutes, consisting of a warm-up, core movements, and a cool-down. The intensity of the exercises was adjusted to the participants' abilities and was performed with light to moderate movements to ensure safety for those with hypertension. Blood pressure measurements were taken before and after the Ce'Esi (Prevent Hypertension) exercise intervention, with systolic blood pressure ≥140 mmHg considered normal and diastolic blood pressure ≥90 mmHg considered normal. Measurements were taken twice, with an interval of 1-2 minutes, and the average value was taken to obtain more accurate results. Blood pressure measurements were taken again after participants completed the exercise and rested for 10-15 minutes to observe changes in blood pressure after the intervention. Results: The average age of respondents was 43.10 years with a standard deviation of ±7.79 years. The majority of respondents were between 45 and 59 years of age (55.0%). The majority of respondents were female (70.0%). Pre-intervention systolic/diastolic blood pressure measurements showed 20 respondents in the high category (100.0%), but there was a proportional change after the intervention, with 12 respondents (60.0%) in the normal category and 8 respondents (40.0%) in the high category. Conclusion: Ce'Esi exercises are highly effective in reducing systolic and diastolic blood pressure in hypertensive patients. Ce'Esi exercises are a highly effective, easy, and inexpensive non-pharmacological therapy for hypertensive patients in controlling blood pressure. Suggestion: It is hoped that Ce'Esi exercises can be implemented as a component of community service programs by students and lecturers in efforts to manage hypertension in the community. It is hoped that Ce'Esi exercises can be performed regularly, either collectively or individually, by hypertension sufferers in the Muka Community Health Center area, especially by Caringin residents, and become a mandatory routine. Keywords: Blood pressure; Hypertension; Hypertension prevention exercises; Non-pharmacological Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Senam pencegahan hipertensi yang dilakukan secara rutin maximal 3 kali dalam seminggu akan memberikan manfaat bagi kesehatan secara tidak langsung akan memberikan efek peningkatan fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ dalam tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh senam Ce’Esi terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Muka, Kabupaten Cianjur. Menggunakan pendekatan pre-experimental design dengan rancangan one group pre-test dan post-test untuk melihat perubahan tekanan darah setelah diberikan intervensi senam pada kelompok sasaran. Dengan teknik purposive sampling mendapatkan 20 orang yang mengidap hipertensi untuk menjadi responden. Intervensi berupa senam Ce’Esi (Cegah Hirpertensi) yang dilakukan secara bersama-sama dengan dipandu oleh tim penyuluh. Senam dilakukan selama ±30 menit yang terdiri dari pemanasan, gerakan inti, dan pendinginan. Intensitas senam disesuaikan dengan kemampuan peserta dan dilakukan dengan gerakan ringan hingga sedang agar aman bagi penderita hipertensi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah diberikan intervensi berupa senam Ce’Esi (Cegah Hipertensi) dengan ketentuan dimana jka tekanan darah sistolik tinggi ≥140 mmHg ˃normal dan tekanan darah diastolik tinggi ≥90 mmHg˃ normal. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali, dengan selang waktu 1-2 menit, kemudian diambil nilai rata-ratanya untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Pengukuran tekanan darah kembali dilakukan setelah peserta selesai melakukan senam dan beristirahat salama 10-15 menit untuk melihat perubahan tekanan darah setelah intervensi. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 43.10 tahun dengan simpangan baku ±7.79 tahun dan mayoritas responden berada di rentang usia 45-59 tahun yaitu sebesar 55.0%. Sedangkan jenis kelamin responden, sebagian besar adalah perempuan yaitu sebesar 70.0%. Data pengukuran tekanan darah sistolik/diastolik responden sebelum intervensi adalah sebanyak 20 responden dalam kategori tinggi (100.0%) dan terdapat perubahan secara proporsional setelah intervensi menjadi sebanyak 12 responden (60.0%) dalam kategori normal dan sebanyak 8 responden (40.0%) dalam kategori tinggi. Simpulan: Senam Ce’Esi sangat berpengaruh dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi. Senam Ce’Esi merupakan terapi non-farmakologi yang sangat efektif, mudah dan murah bagi penderita hipertensi dalam mengendalikan tekanan darah. Saran: Diharapkan bahwa senam Ce’Esi ini dapat dilakukan sebagai komponen program pengabdian masyarakat oleh pelajar dan dosen dalam upaya penatalaksanaan hipertensi di masyarakat. Senam Ce’Esi diharapkan dapat dilakukan secara rutin bersama–sama maupun individu oleh para penderita hipertensi di wilayah Puskesmas Muka, khususnya oleh para warga Caringin dan menjadikannya rutinitas yang harus dilakukan.
Terapi aktivitas kelompok (TAK) dengan puzzle untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia Alfika Safitri; Nabila Putri; Meisya Ayusetia Nirmala; Luthfi Fajar Juniarta; Fajar Amalia Ramadhani; Fadly Ikhyanuddin; Fadila Fira Damayanti; Jeasyana Aprilia Zahri; Fiki Firmansyah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3414

Abstract

Background: Elderly (elderly) is a phase of human development when a person reaches the age of 60. The increasing number of elderly people in Indonesia requires special attention for those experiencing the aging process. Cognitive decline is a common condition in the elderly and can impact quality of life and daily activities. Non-pharmacological interventions are a strategic option for improving and maintaining cognitive function in the elderly, given that these approaches are safe, easy to implement, economical, and well-accepted by the elderly. One form of intervention that can be used is puzzle therapy, a cognitive activity that trains memory, attention, and higher-order thinking skills through the manipulation of picture pieces. Purpose: To improve and maintain cognitive function in the elderly through puzzle therapy. Method: A group activity therapy (TAK) activity using puzzles was conducted on Tuesday, May 12, 2026, at the Marfati Community Rehabilitation Center (PSTW) in Tangerang City. Thirty elderly people participated in the activity and lasted approximately 30–45 minutes. The target group was elderly people aged 60 years and older living at the Marfati Community Rehabilitation Center in Tangerang City, who were physically stable, able to participate in group activities, and interested or motivated to participate in the TAK activity. The initial phase of the activity involved providing explanations and simulations of puzzle-assembling games tailored to each elderly person's individual abilities. Subsequently, assistance and discussions were provided with the elderly in demonstratively solving the puzzles, including providing guidance on solving puzzle-assembling problems. Evaluation was conducted by observing the cognitive development, motor skills, and memory of the elderly. Improvements in the elderly's abilities and responses were presented descriptively as a reflection of the results and benefits of the therapy. Results: Overall, the activity proceeded well, orderly, and according to the established plan. Most elderly people appeared to pay close attention to the explanations. Some elderly needed repetition of instructions to better understand how to play and assemble the puzzles. Observations showed that most seniors were able to recognize images, match shapes, and assemble puzzle pieces in stages. Some seniors who experienced decreased concentration or memory limitations received additional guidance from the facilitator. Throughout the activity, the seniors appeared enthusiastic, actively engaged in discussions with other participants, and demonstrated a strong sense of curiosity. Some seniors were able to complete the puzzles successfully, while others required additional time. The facilitator provided appreciation and positive reinforcement to all participants for their participation. Furthermore, a brief evaluation was conducted regarding the seniors' feelings and experiences during the activity. Overall, this activity was able to increase participation, social interaction, and improve cognitive abilities in seniors through enjoyable activities. Conclusion: This activity had a positive impact on the cognitive function of the elderly. Puzzle therapy also provided psychosocial benefits for the elderly. The elderly appeared more enthusiastic, were able to interact with other participants, and demonstrated a cooperative attitude during the activity. This group activity helped create a pleasant atmosphere and increased the elderly's confidence in completing tasks. Therapy using puzzles can be an effective non-pharmacological intervention to stimulate cognitive function, improve concentration, and support social interaction in the elderly in social care settings. Suggestion: Students are expected to improve their skills in implementing group activity therapy (TAK) and develop innovative activities that can help maintain and improve the cognitive function of the elderly sustainably, particularly using cognitive stimulation media such as puzzles. It is hoped that puzzle therapy activities can become a routine program in elderly care settings, as an effort to prevent cognitive decline and increase the elderly's activity and social interaction. Keywords: Cognitive function in the elderly; Elderly; Non-pharmacological therapy; Puzzle games Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) merupakan sebuah fase dari proses perkembangan manusia ketika seseorang telah mencapai usia 60 tahun. Peningkatan jumlah lansia di Indonesia ini memberikan suatu perhatian khusus pada lansia yang mengalami suatu proses menua. Kemunduran fungsi kognitif merupakan salah satu kondisi yang sering terjadi pada lansia dan dapat berdampak terhadap kualitas hidup serta aktivitas sehari-hari. Intervensi non-farmakologis menjadi pilihan strategis sebagai upaya meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif pada lansia, mengingat pendekatan tersebut aman, mudah diterapkan, ekonomis, dan dapat diterima dengan baik oleh lansia. Salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan adalah terapi puzzle, yaitu aktivitas kognitif yang melatih memori, perhatian, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui manipulasi kepingan gambar Tujuan: Untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif lansia melalui pendekatan terapi puzzle Metode: Kegiatan terapi aktivitas kelompok (TAK) dengan media puzzle dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Mei 2026 di PSTW Marfati Kota Tangerang. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang lansia dan berlangsung selama ±30–45 menit. Sasaran dalam kegiatan ini adalah lansia berusia ≥60 tahun yang tinggal di PSTW Marfati Kota Tangerang, dalam kondisi fisik stabil, mampu mengikuti aktivitas kelompok, serta memiliki minat atau motivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan TAK bermain puzzle. Tahap awal kegiatan dengan memberikan penjelasan dan simulasi permainan menyusun puzzle sesuai kemampuan masing-masing lansia. Selanjutnya dilakukan pendampingan dan diskusi pada lansia dalam menyelesaikan permainan puzzle secara demonstratif hingga petunjuk dalam memecahkan masalah penyusunan gambar puzzle. Evaluasi dilakukan dengan pengamatan terhadap perkembangan kognitif, kemampuan motorik, dan daya ingat lansia. Peningkatan kemampuan dan respon lansia disajikan secara deskriptif sebagai bentuk hasil dan manfaat terapi dalam kegiatan ini. Hasil: Secara umum, kegiatan berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sebagian besar lansia terlihat memperhatikan penjelasan dengan baik. Beberapa lansia membutuhkan pengulangan instruksi agar lebih memahami cara bermain dan menyusun puzzle. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mampu mengenali gambar, mencocokkan bentuk, serta menyusun potongan puzzle secara bertahap. Beberapa lansia yang mengalami penurunan konsentrasi atau keterbatasan daya ingat mendapatkan arahan tambahan dari fasilitator. Selama kegiatan berlangsung, lansia terlihat antusias, aktif berdiskusi dengan peserta lain, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Beberapa lansia mampu menyelesaikan puzzle dengan baik, sedangkan yang lainnya masih membutuhkan waktu tambahan. Fasilitator memberikan apresiasi dan penguatan positif kepada seluruh peserta atas partisipasi mereka dalam kegiatan. Selain itu, dilakukan evaluasi singkat terkait perasaan dan pengalaman lansia selama mengikuti kegiatan. Secara keseluruhan, kegiatan ini mampu meningkatkan partisipasi, interaksi sosial, serta melatih kemampuan kognitif lansia melalui aktivitas yang menyenangkan. Simpulan: Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap fungsi kognitif lansia. Terapi puzzle juga memberikan manfaat pada aspek psikososial pada lansia. Lansia tampak lebih antusias, mampu berinteraksi dengan sesama peserta, serta menunjukkan sikap kooperatif selama kegiatan. Aktivitas kelompok ini membantu menciptakan suasana yang menyenangkan dan meningkatkan rasa percaya diri lansia dalam menyelesaikan tugas. Terapi menggunakan media puzzle dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif dalam menstimulasi fungsi kognitif, meningkatkan konsentrasi, serta mendukung interaksi sosial lansia di lingkungan panti sosial. Saran: Diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan terapi aktivitas kelompok (TAK) dan mengembangkan inovasi kegiatan yang dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif lansia secara berkelanjutan, khususnya dengan media stimulasi kognitif seperti puzzle. Diharapkan kegiatan terapi puzzle dapat dijadikan sebagai program rutin dalam kegiatan lansia di panti, sebagai upaya untuk mencegah penurunan fungsi kognitif serta meningkatkan aktivitas dan interaksi sosial lansia.
Peningkatan kapasitas kader posyandu dalam pendampingan kesehatan mental ibu nifas melalui aromaterapi kunyit Marleni Marleni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i6.3445

Abstract

Background: Postpartum maternal mental health is an often overlooked aspect of maternal health, despite its crucial role in postpartum adaptation. One of the most common psychological disorders experienced by postpartum mothers is baby blues syndrome. Limited knowledge of Posyandu (Integrated Health Post) cadres regarding postpartum maternal mental health and the use of complementary therapies remains a barrier to supporting postpartum mothers in the community. One approach that can be utilized to support postpartum maternal mental health is aromatherapy. Aromatherapy is a method that uses aromas from natural ingredients to provide relaxation, increase comfort, and help reduce anxiety and stress. Purpose: To increase the capacity of Posyandu cadres in providing postpartum maternal mental health support through the use of turmeric-based aromatherapy. Method: A community service activity was conducted on March 15, 2024, in Penagan Village, Mendo Barat District, Bangka Regency. It involved 15 local Posyandu cadres and a collaboration between the community service team from the International Image Institute (ICI) and the village government. Using a participatory and educational approach implemented through counseling, demonstrations, direct practice, and mentoring for Posyandu cadres. The assessment instrument used a questionnaire administered before the activity (pre-test) and after the educational activity (post-test) to determine changes in the level of knowledge of participants after participating in the entire series of activities. In addition, skills evaluation was conducted through direct observation of the cadres' ability to make turmeric-based aromatherapy according to the procedures that have been taught. The evaluation results were used to assess the effectiveness of community service activities in increasing the capacity of Posyandu cadres regarding mental health assistance for postpartum mothers. Results: Demonstrates an increase in cadre knowledge regarding postpartum maternal mental health, baby blues syndrome, and the use of turmeric-based aromatherapy as a complementary therapy. The proportion of cadres with good knowledge increased from 13.4% to 66.6%, while the proportion of cadres with poor knowledge decreased from 53.3% to 6.7%. Meanwhile, the average pre-test score of 61.3 points increased to 84.7 points in the post-test. Conclusion: The training, which combined counseling, demonstration, and hands-on practice methods, proved effective in improving cadre understanding and skills. Community service activities in the form of training on the use of turmeric-based aromatherapy successfully increased the capacity of Posyandu cadres in providing mental health support for postpartum mothers, particularly in their ability to independently prepare turmeric-based aromatherapy according to the procedures provided during the training. Suggestion: It is recommended that cadres who have received this training play a more active role in providing education, support, and assistance to postpartum mothers in the community. The use of turmeric-based aromatherapy can also be an easy-to-implement alternative complementary therapy that leverages the potential of local ingredients available within the community. Similar activities need to be carried out continuously, involving health workers, village governments, and the community to ensure optimal and sustainable efforts to improve the mental health of postpartum mothers. Keywords: Cadre empowerment; Complementary therapy; Integrated Health Post; Postpartum mental health;Turmeric aromatherapy Pendahuluan: Kesehatan mental ibu nifas merupakan salah satu aspek kesehatan maternal yang sering terabaikan meskipun memiliki peran penting dalam proses adaptasi pasca persalinan. Salah satu gangguan psikologis yang paling sering dialami ibu nifas adalah baby blues syndrome. Keterbatasan pengetahuan kader Posyandu mengenai kesehatan mental ibu nifas dan pemanfaatan terapi komplementer masih menjadi kendala dalam upaya pendampingan ibu nifas di masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung kesehatan mental ibu nifas adalah terapi komplementer berupa aromaterapi. Aromaterapi merupakan metode yang menggunakan aroma dari bahan alami untuk memberikan efek relaksasi, meningkatkan kenyamanan, serta membantu mengurangi kecemasan dan stres Tujuan: Untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam pendampingan kesehatan mental ibu nifas melalui pemanfaatan aromaterapi berbasis kunyit. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2024 di Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Melibatkan 15 kader Posyandu setempat dan kerja sama antara tim pengabdian dari Institut Citra Internasional (ICI) dengan pemerintah desa. Menggunakan pendekatan partisipatif dan edukatif yang dilaksanakan melalui penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan kepada kader Posyandu. Instrumen penilaian menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test) untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selain itu, evaluasi keterampilan dilakukan melalui observasi langsung terhadap kemampuan kader dalam membuat aromaterapi berbasis kunyit sesuai dengan prosedur yang telah diajarkan. Hasil evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas kegiatan pengabdian dalam meningkatkan kapasitas kader Posyandu terkait pendampingan kesehatan mental ibu nifas. Hasil: Menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader mengenai kesehatan mental ibu nifas, baby blues syndrome, dan pemanfaatan aromaterapi berbasis kunyit sebagai terapi komplementer secara proporsi kader dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 13.4% menjadi 66.6%, sedangkan kategori pengetahuan kurang menurun dari 53.3% menjadi 6.7%.. Sedangkan, nilai rata-rata pre-test sebesar 61.3 poin  meningkat menjadi 84.7 poin pada post-test. Simpulan: Pelatihan yang mengombinasikan metode penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pemanfaatan aromaterapi berbasis kunyit berhasil meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam pendampingan kesehatan mental ibu nifas khususnya kemampuan pembuatan aromaterapi berbasis kunyit secara mandiri dan sesuai prosedur yang telah diberikan selama pelatihan. Saran: Diharapkan kepada kader yang sudah diberikan edukasi untuk berperan lebih aktif dalam memberikan edukasi, dukungan, serta pendampingan kepada ibu nifas di masyarakat. Pemanfaatan aromaterapi berbasis kunyit juga dapat menjadi salah satu alternatif terapi komplementer yang mudah diterapkan dan memanfaatkan potensi bahan lokal yang tersedia di lingkungan masyarakat. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat agar upaya peningkatan kesehatan mental ibu nifas dapat terlaksana secara optimal dan berkesinambungan.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue