cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
Kajian Teknologi Parit Berbahan Organik pada Produktivitas Tumpangsari Jagung (Zea mays L.) dengan Kacang Hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek di Lahan Kering Jian Marda Purnama, Tohari, Dody Kastono
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2414

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kajian teknologi parit berbahan organik pada produktivitas tumpangsari jagung (Zea mays L.) dan kacang hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek) di lahan kering. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan November 2010 sampai Februari 2011.Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman jagung sebagai tanaman pokok adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri 2 taraf yaitu monokultur dan tumpangsari dengan kacang hijau. Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman kacang hijau sebagai tanaman pendukung adalah rancangan acak kelompok lengkap (RCBD) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam α = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) α = 5 %.Hasil penelitian menunjukkan pada tanaman pokok terjadi interaksi antar perlakuan parit dengan sistem tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun dan indeks luas daun umur 4; 6; 8; 12 mst, bobot 100 biji, bobot biji per plot percobaan, dan bobot biji per hektar. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 31,95 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Sistem tanam tumpangsari meningkatkan hasil sebesar 6,42 %. Pada tanaman pendukung perlakuan parit berbahan organik meningkatkan hasil sebesar 35,7 % perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Nisbah setaraan lahan (NSL) pada sistem tumpangsari dengan perlakuan parit tanpa bahan organik dan sistem tumpangsari dengan perlakuan parit berbahan organik menunjukkan nilai tertinggi yaitu 1,88 dan 1,90 dibandingkan perlakuan lain.
Keragaan Lima Kultivar Cabai (Capsicum annuum L.) di Dataran Medium Latifah Fitriani, Toekidjo, dan Setyastuti Purwanti
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat kualitatif dan menganalisis sifat kuantitatif lima kultivar cabai merah di dataran medium, mengidentifikasi sifat-sifat penting pada tanaman cabai merah yang digunakan sebagai parameter seleksi, dan mengetahui kemampuan adaptasi dan potensi produksi. Penelitian dilaksanakan di Desa Kemiri, Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah dengan ketinggian 550 m dpl pada bulan April-Oktober 2011. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan lima perlakuan kultivar cabai merah yaitu Branang, Gantari, dan Lembang-1 yang direkomendasikan untuk dataran tinggi, Kusuma dan Cipanas masih dalam tahap uji multilokasi serta tiga blok sebagai ulangan. Beda nyata antar perlakuan diuji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test pada α=5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pigmen ungu (antosianin) pada batang dan pigmen kuning (karotenoid) pada mahkota bunga. Lima kultivar cabai merah yang diuji memiliki hasil yang berbeda di dataran medium. Kultivar Branang memiliki hasil tertinggi (6,33 ton/ha) walaupun tidak berbeda nyata dengan kultivar Gantari (6,28 ton/ha), Kusuma (5,58 ton/ha), Lembang-1 (4,97 ton/ha), dan Cipanas (4,00 ton/ha). Lima kultivar cabai dataran tinggi yang ditanam di dataran medium tanaman tumbuh lebih tinggi, diameter batang lebih kecil, ukuran daun lebih panjang, berumur genjah, dan berat buah per hektar lebih rendah. Pada penelitian ini, tipe pertumbuhan, panjang batang dikotom, diameter batang, diameter buah, dan panjang tangkai buah, berat per buah, dan berat 1000 biji dapat digunakan sebagai parameter seleksi. Dari lima kultivar cabai yang diuji, kultivar Kusuma dan Lembang-1 berpotensi untuk dikembangkan di dataran medium karena banyak disukai oleh konsumen dan produksinya cukup baik.
Perbanyakan Cissus quadrangularis L. dengan Stek Batang Siti Fatimah Hanum,Tri Warseno, dan Ema Hendriyani
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2416

Abstract

Cissus quadrangularis L. merupakan salah satu anggota suku Vitaceae yang memiliki khasiat obat. Salah satunya di masyarakat Kabupaten Buleleng, Bali tanaman ini dikenal dapat menyembuhkan ambeien dengan cara memakan batangnya. Karena manfaatnya itu maka Kebun Raya „Eka Karya‟ Bali-LIPI mengkoleksinya di Taman Usada (Koleksi Tanaman Obat). Namun ironisnya pertumbuhannya sangat lamban dan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lokasi penanaman dan media tanam terhadap pertumbuhan stek batang Cissus quadrangularis L.. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Raya „Eka Karya‟ Bali-LIPI pada bulan Juni hingga Oktober 2011. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial 3 x 5 dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan vegetatif meliputi rata-rata jumlah daun, jumlah cabang, persentase berakar dan awal muncul tunas. Hasil yang diperoleh memperlihatkan pertumbuhan vegetatif C.quadrangularis L.. paling baik pada lokasi Pembibitan. Media tanam tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif C.quadrangularis L..
Tingkat Adopsi Petani Terhadap Benih Padi (Oryza sativa L.) Bersertifikat dan Non-Sertifikat di Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman Novi Kumala Dewi, Prapto Yudono, Jamhari
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2417

Abstract

Penggunaan benih bersertifikasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas padi. Oleh sebab itu, ketersedian benih unggul bersertifikat bagi petani dalam melakukan kegiatan usaha tani merupakan syarat mutlak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi petani, tingkat produktivitas, tingkat kualitas benih dan pendapatan petani terhadap penggunaan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Penelitian ini dilaksanakan di empat desa yaitu Desa Purwomartani, Desa Selomartani, Desa Tamanmartani, dan Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, dimana terdapat petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner terhadap petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan non-sertifikat. Hasil wawancara diolah menggunakan likert dan kemudian dilakukan skoring. Skoring yang diperoleh berbasis data dianalisis lanjut dengan uji t menggunakan software SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi benih bersertifikat lebih rendah dibandingkan non-sertifikat. Meski produktivitas dan pendapatan usaha tani untuk benih bersertifikat ternyata lebih tinggi dibandingkan non-sertifikat. Pada penelitian ini diperoleh data bahwa kualitas untuk benih bersetifikat lebih rendah dibandingkan non-sertifikat dengan adanya kualitas benih bersertifkat yang rendah menjadi penurunan tingkat adopsi pada benih bersertifikat.
Pengaruh Lama Penyinaran Ultraviolet-C dan Cara Pengemasan Terhadap Mutu Buah Stroberi (Fragaria x ananassa Duchesne) Selama Penyimpanan Reza Pahlevi Nasution, Sri Trisnowati, Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.2418

Abstract

Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan terhadap umur simpan dan mutu buah stroberi dan 2) menentukan lama penyinaran UV-C dan cara pengemasan yang paling optimal untuk memperpanjang umur simpan dan mutu buah stroberi. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial, dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah lama penyinaran UV-C, yaitu 0 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Faktor kedua adalah cara pengemasan, yaitu tanpa dikemas, vakum, dan wadah styrofoam dibungkus plastik. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel kualitas buah stroberi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Pola hubungan antar variabel kualitas buah ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa Lama penyinaran UV-C tidak berpengaruh terhadap umur simpan buah stroberi. Kemasan vakum mampu menghambat proses pematangan buah stroberi sehingga umur simpan buah menjadi lebih panjang, walaupun tidak berbeda nyata dengan kemasan styrofoam. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan UV-C dengan daya lampu lebih besar dari 15 watt serta durasi penyinaran yang bervariasi.
Analisis Genetik Generasi F2 Hasil Persilangan Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Tipe Merambat dengan Tipe Semak Samuel Nanda Lazuardi; Panjisakti Basunanda
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.53446

Abstract

Buncis (Phaseolus vulgaris L.) adalah salah satu tanaman legum penting yang ditanam di semua benua dan bernilai ekonomi tinggi. Buncis Kenya adalah kultivar introduksi dari Kenya, Afrika, memiliki tipe tumbuh tegak (bush type), sedangkan buncis lokal diartikan sebagai buncis yang lazim ditanam di Indonesia, memiliki karakter tipe tumbuh merambat (climbing type). Persilangan antara buncis Kenya dan buncis lokal dapat memperluas latar belakang genetik buncis yang ditanam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buncis dengan tipe tumbuh tegak dan mengevaluasi keragaman genetik generasi F2 hasil persilangan tanaman buncis lokal Temanggung dan buncis Kenya. Penelitian dilaksanakan di greenhouse, rumah kasa, dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada bulan November 2018 hingga Juli 2019. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu jenis benih buncis lokal Temanggung dan satu jenis buncis Kenya hasil introduksi sebagai tetua, generasi F1 sebagai hasil persilangan kedua tetua, dan generasi F2. Generasi F1 memiliki sifat-sifat kombinasi kedua tetua. Karakter-karakter yang terekspresi pada generasi F1 dan F2 lebih banyak dipengaruhi oleh tetua lokal, sehingga karakter yang terdapat pada tetua Kenya, terutama pada karakter tinggi tanaman dan tipe pertumbuhan belum terlihat pada generasi F2. Nilai heritabilitas arti luas pada karakter kuantitatif tergolong sedang hingga tinggi, namun karakter-karakter tersebut belum dapat dijadikan sebagai acuan di dalam tahap seleksi. Pada karakter kualitatif tipe pertumbuhan, posisi polong, dan warna biji dapat diduga dikendalikan oleh beberapa gen pada dua lokus.
Laju Respirasi Buah Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) yang Dilapisi dengan Kitosan Selama Penyimpanan Dessy Wulandari; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.53561

Abstract

Kebutuhan buah tomat semakin tinggi setiap tahunnya, sehingga diperlukan teknologi tepat guna edible coating untuk mengurangi masalah penurunan kualitas dan daya simpan buah tomat. Penelitian ini bertujuan untuk menekan laju respirasi buah tomat yang diberi perlakuan pelapisan kitosan udang dan kepiting dengan konsentrasi 2%, 4%, dan 6%. Penelitian dilaksanakan di Sub Laboratorium Hortikultura, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok lengkap dengan 4 blok sebagai ulangan. Penelitian ini terdiri dari kitosan kepiting dan kitosan udang masing-masing dengan konsentrasi, 2%, 4%, dan 6%, serta kontrol (tidak diberikan pelapisan kitosan). Variabel yang diamati berupa laju respirasi, visual quality rating, daya simpan, kekerasan buah, padatan terlarut, gula tereduksi, total asam tertitrasi, vitamin C, dan likopen. Data dianalisis varians (ANOVA) dengan α=5%, dilanjutkan dengan uji HSD-Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan edible coating kitosan udang dan kepiting hingga konsentrasi 6% dapat memperlambat laju respirasi serta masih dapat mempertahankan kualitas tomat sama seperti kontrol (buah tomat tanpa diberi pelapis). Daya simpan buah tomat yang dilapisi kitosan kepiting dan udang sampai dengan konsentrasi 6% dapat diperpanjang 16 hari.
Kajian Senyawa Metabolit Sekunder pada Mentimun (Cucumis sativus L.) Wiwit Yuni Astuti; Dyah Weny Respatie
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.60886

Abstract

Senyawa metabolit sekunder merupakan produk yang terbentuk dari proses metabolisme secara insidental dan umumnya tidak terlalu berpengaruh penting terhadap kehidupan organisme. Mentimun mengandung senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, glikosida, steroid, saponin, tannin, flavonoid, terpenoid, resin, polifenol, fenol, glikosida sianogenik, dan antosianin. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada mentimun dipengaruhi oleh faktor internal (genetik dan fisiologis) dan lingkungan (suhu, salinitas, kekeringan, radiasi sinar UV). Senyawa metabolit sekunder pada mentimun berperan penting bagi kehidupan tanaman atau untuk kesehatan manusia. Senyawa metabolit sekunder pada mentimun berperan sebagai antraktan serta pertahanan tanaman terhadap herbivora, hama, dan patogen. Senyawa metabolit sekunder pada mentimun dalam dunia medis dapat mencegah berbagai macam penyakit seperti peradangan, infeksi bakteri, kanker, demam, diabetes, maupun gangguan pencernaan. Kandungan senyawa metabolit sekunder dapat ditentukan melalui analisis kualitatif (uji warna) dan kuantitatif (kromatografi dan spektrometri). Secara kuantitatif, kandungan senyawa metabolit sekunder harus melalui proses pemisahan melalui kromatografi (paper chromatography, thin layer chromatography, gas liquid chromatography, high performance liquid chromatography) dan diidentifikasi menggunakan detektor (spektrofotometer UV-vis, spektrofotometer IR, NMR spectroscopy, dan mass spectroscopy). Rasa pahit pada mentimun dapat diatasi dengan menggunakan varietas yang menghasilkan buah tidak pahit, menjaga suhu dan kelembaban tanah dengan menentukan periode tanam yang tepat disesuaikan data suhu bulanan, pengairan teratur, serta penggunaan mulsa organik
Pengaruh Pemberian Kalsium Silikat terhadap Pertumbuhan dan Struktur Anatomi Akar Tanaman Padi (Oryza sativa L. ‘IR64’) pada Kondisi Cekaman Salinitas Diah Rachmawati; Aliya Nadira Irsyad; Diah Rachmawati
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.66507

Abstract

Salinitas merupakan salah satu cekaman abiotik yang umum terjadi di lahan persawahan. Salinitas dapat menyebabkan produktivitas padi menurun akibat terhambatnya pertumbuhan tanaman padi. Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif cekaman salinitas yaitu dengan aplikasi pupuk silikat.  Pupuk silikat sebagai sumber silikon (Si) dapat meningkatkan pertumbuhan serta toleransi tanaman padi saat berada pada kondisi cekaman biotik maupun abiotic, salah satunya salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kalsium silikat terhadap pertumbuhan, dan struktur anatomi akar tanaman padi ‘IR64’ pada kondisi cekaman salinitas. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu kalsium silikat dan salinitas. Konsentrasi yang digunakan pada perlakuan kalsium silikat 0, 1, dan 2 mM serta untuk perlakuan salinitas 0, 37.5, dan 50 mM NaCl. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA) dan jika terdapat pengaruh maka dilanjutkan dengan menggunakan uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kalsium silikat meningkatkan pertumbuhan tanaman padi ‘IR64’ pada kondisi cekaman salinitas. Pada kondisi cekaman salinitas, aplikasi kalsium silikat mampu meningkatkan diameter akar, tebal eksodermis, tebal korteks, dan diameter stele tanaman padi ‘IR64’. 
Keragaan Tanaman Tomat Apokarpel (Solanum lycopersicum L.) sebagai Tanaman Hias dalam Pot dengan Pengaplikasian Paklobutrazol Eka Candra Wardani; Rudi Hari Murti; Endang Sulistyaningsih; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.66539

Abstract

Tanaman hias memiliki pasar yang luas diantaranya rumah tangga, perkantoran dan perhotelan, namun tanaman hias yang berasal dari tanaman buah belum banyak dimanfaatkan. Tanaman tomat apokarpel berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuk buahnya yang unik, namun kelemahannya yaitu berhabitus tinggi. Upaya memperpendek tanaman tersebut yaitu mengaplikasikan zat pengatur tumbuh paklobutrazol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aplikasi paklobutrazol yang tepat sesuai kriteria tanaman pot. Penelitian dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Wilayah V Pakem, Sleman pada Januari-Juni 2019 menggunakan rancangan petak terbelah dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu waktu aplikasi (2 Minggu Setelah Semai (MSS) dan 2 Minggu Setelah Pindah Tanam (MSPT) dan konsentrasi paklobutrazol (0 ppm, 75 ppm, 150 ppm, 225 ppm, dan 300 ppm). Data diuji menggunakan analisis anova dan analisis kontras antara perlakuan kontrol dan aplikasi paklobutrazol serta dilanjutkan dengan analisis HSD Tukey α= 5% apabila terdapat beda nyata antara kontrol dengan aplikasi paklobutrazol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi paklobutrazol menghambat tinggi tanaman dengan cara menurunkan jumlah nodus, memperpendek internodus, dan memperpendek sel batang. Selain itu paklobutrazol juga mengurangi jumlah buah per tanaman, diameter buah dan bobot buah melalui mekanisme penutupan stomata. Perlakuan yang paling efisien adalah 75 ppm yang diaplikasikan pada 2 MSS maupun 2 MSPT.