cover
Contact Name
Yusep Supriadi
Contact Email
supriadi@iaipibandung.ac.id
Phone
+6281313120202
Journal Mail Official
journaldiksi@iaipibandung.ac.id
Editorial Address
Jl. Ciganitri No.2, Cipagalo, Kec. Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40287
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JISSC DIKSI
ISSN : 28288505     EISSN : 28286715     DOI : https://doi.org/10.54801/jisscdiksi
JIC Diksi bertujuan untuk menyebarkan pemikiran konseptual atau ide, ulasan dan temuan penelitian yang diperoleh di bidang Ilmu komunikasi dan dakwah. Jurnal ini berfokus pada masalah : Ilmu Komunikasi dan Dakwah Sosiologi komunikasi dan dakwah JIC Diksi aims to spread conceptual thinking or ideas, review and the research findings obtained in the field of communication and da’wah. This journal focuses on the issues of involving : Communication and Da’wah Science Comunication Sosiolog and dan Da’wah
Articles 35 Documents
Dakwah Melawan Hoax: Dari Mabuk Media Ke Melek Media Hendi Rustandi
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 01 (2023): JISSC-DIKSI Februari 2023
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i01.187

Abstract

Dakwah dalam berbagai dimensinya, tengah dihadapkan pada tantangan baru dalam mejalankan perannya sebagai upaya mengajak dan merubah manusia dari satu kondisi yang buruk dan menyimpang dari nilai-nilai agama kepada tauhidullah. Hadirnya masyarakat informasi yang cenderung buta media, menuntut pelaku dakwah merubah paradigma masyarakat menjadi literet (melek media). Tersebarnya berita bohong atau hoax, tidak hanya menggiring masyarakat menjadi konsumtif, lebih dari itu, hoax telah menjauhkan setiap individu masyarakat jejaring dari hak fitrahnya mendapat informasi dan ajaran yang benar, bahkan “liyudhilla ‘an sabilillah” (menyesatkannya dari jalan Allah). Dalam konteks ini, slahasatu peran dakwah adalah melawan hoax dan merubah masyarakat (umat) dari buta media menjadi melek media. Pada kondisi ini pula, pelaku dakwah dituntut memiliki kemampuan serta mensosialisasikan litersia media. Pengetahuan literasi media ini akan mendorong mad’u (ummat) untuk selalu bersikap kritis dalam menganalisa pesan dan bias berita, pada program-program yang ada dalam media massa dan media sosial. Sehingga dapat terwujudnya “good citizentz” atau warga yang baik (khoiru ummah).
Komunikasi Pemasaran Toko Roti Domood Donuts dalam membentuk Brand Awareness Geah Aaqilah Rahmadhani Geah
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.198

Abstract

Berdasarkan permasalahan yang terjadi diketahui bahwa masih rendahnya presepsi dari para pelanggan terhadap informasi yang disampaikan, Sehingga awareness pelanggan pun belum bisa mencapai target. Melihat dari pernyataan tersebut tentunya Domood Donuts harus melakukan berbagai macam upaya dalam membentuk kesadaran merek. Komunikasi pemasaran dapat mempengaruhi kesadaran merek ketika semua alat dalam konsep bauran pemasaran dilakukan secara optimal dalam penerapannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi dan bagaimana elemenelemen komunikasi pemasaran Domood Donuts dalam membentuk brand awareness. Salah satu komunikasi pemasaran yang diterapkan oleh Domood Donuts yaitu dimulai dari word of mouth, social media marketing, sponsorship, endorsement. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, Penelitian ini dilakukan di Toko Roti Domood Donuts Jl. Wonorejo No.17. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. sedangkan untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan perpanjang keikutsertaan, meningkatkan ketekunan dan triangulasi. Dari hasil penelitian megenai komunikasi pemasaran yang digunakan oleh Domood Donuts dapat ditemukan bahwa komunikasi yang dilakukan dalam memasarkan produknya adalah melakukan komunikasi pemasaran secara word of mouth yaitu dengan melalui mulut ke mulut dari konsumen antar konsumen lainnya, menggunakan social media sebagai media promosi penjualan yang dimana media sosial yang digunakan adalah Instagram dan tiktok, melaksanakan kegiatan sponsorship dan endorsement dengan menggunakan selebgram yang berada di kota Pekanbaru Keywords: Komunikasi Pemasaran ; Brand Awareness
Relevansi Etika Komunikasi Islam Dalam Bermedia Sosial dengan Fatwa Mui Nomor 24 Tahun 2017 Nur Fadhilah Novianti
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.199

Abstract

Di era globalisasi saat ini, media sosial merupakan bentuk sarana untuk berkomunikasi, sehingga penggunaannya memerlukan etika atau tata krama. Tentu al-Qur'an dan hadits harus dijadikan pedoman saat berinteraksi melalui media sosial untuk memastikan bahwa syariat Islam dan aturan hukum bernegara tidak dilanggar. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan Fatwa Nomor 24 Tahun 2017 yang membahas etika ketika bermedia sosial. Latar belakang tercetusnya fatwa ini karena banyaknya hal negatif di media sosial seperti berita yang tidak sesuai dengan kebenaran (hoax), saling menghujat, memfitnah, membicarakan keburukan seseorang sampai perilaku bullying pun ada di media sosial. Sehingga, dalam fatwa MUI dijelaskan bagaimana cara berkomunikasi, bermuamalah di media sosial yang sesuai dengan syari’at Islam. Fatwa ini tidak hanya menjelaskan bagaimana cara berkomunikasi yang sesuai dengan syari’at Islam, tetapi juga memberikan pedoman cara verifikasi konten, cara membuat konten yang benar dan cara penyebaran konten agar semuanya sesuai dengan standar etika komunikasi Islam sehingga komunikasi Islam tidak hanya berlaku di dunia nyata tetapi juga berlaku di dunia maya.
Analisis Semiotika NFT (Non-Fungible Token) Cryptopunks Berdasarkan Konten Komunikasi Visual sekar kinanti; Enjang AS; Moch Fakhruroji
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.205

Abstract

Tahun 2021 merupakan tahun yang progresif untuk Non-Fungible Token (NFT) ditandai dengan meningkatnya antusias jual beli dari berbagai NFT di pasar (marketplace) blockchain. Jumlah kasus penggunaan NFT juga semakin meningkat kian harinya dan mengingat teknologi ini relatif baru, sehingga banyak ruang yang masih belum dieksplorasi. Untuk saat ini ranah utama dari penggunaan NFT adalah sebagai barang seni, koleksi, item dalam game dan dunia virtual. Salah satu pionir dan penggerak industri ini adalah Cryptopunks. Project ini diluncurkan pada 2017 oleh pendiri Larva Labs Matt Hall dan John Watkinson. Cryptopunks adalah sebuah asset digital non-fungible (NFT) dalam jaringan Ethereum yang terinspirasi dari skena punk Di London. Pengenalan CryptoPunks mendorong pengembangan token ERC-721. CryptoPunks sendiri terdiri dari 10.000 karakter dan fitur unik yang berfokus pada gaya punk 8-bit. Masing-masing dari aset ini memiliki fitur dan aksesori uniknya sendiri dan tidak ada yang sama satu dengan yang lain. Terlepas dari kurangnya utilitas dari NFT ini, namun nilai proyek dan ekosistem NFT (Non-Fungible Token) melebihi $1,95B (€1,60B), menurut perkiraan para peneliti di Institute For the Future (IFF) di Universitas Nikosia.[1] Hal demikian memunculkan banyak pertanyaan salah satunya adalah apa yang mendasari kepopularitasan dari proyek ini? Hal ini tentu layak untuk dikaji mengutip dari Antonis Polemitis, Direktur IFF dan CEO University of Nicosia (UNIC) mencatat: "NFT sudah menjadi industri multi-miliar dolar, kami percaya bahwa, dari waktu ke waktu, NFT akan diperluas dari seni dan koleksi untuk mewakili berbagai aset, layanan, dan komunitas.”
Etika Komunikasi: Membangun Paham Etika Komunikasi Pada Mahasiswa Dalam Mengirim Pesan Singkat Kepada Dosen Andri Hendrawan; Yuda Nur Suherman; Yusman Dawolo
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.207

Abstract

Manusia tidak dapat hidup atau berkembang tanpa komunikasi karena komunikasi merupakan kebutuhan hidup yang paling mendasar. Komunikasi merupakan komponen dari hampir semua aktivitas manusia baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW keduanya dianggap sebagai standar yang berisi pedoman hidup bagi setiap Muslim dan harus dijunjung tinggi dan dijadikan standar dalam berkomunikasi, dan Islam memandang komunikasi sebagai sesuatu yang penting dan memiliki nilai ibadah jika itu dilakukan. dilakukan sesuai dengan standar tersebut. Esai ini mengupas etika tentang berkomunikasi yang dianggap baik dan pentingnya mengajarkan mahasiswa tentang etika berkomunikasi menurut prinsip islam, yang terkait dengan standar moral. Mahasiswa perlu memahami etika komunikasi islam karena dapat digunakan untuk mengatur perilaku dalam kehidupan beraktivitas sehari-hari. Memahami etika berkomunikasi yang baik serta benar akan membimbing mahasiswa untuk bertindak secara tepat sebanding dengan norma yang berlaku dengan menekankan kesantunan kepada setiap orang agar tidak membebani banyak pihak. Kajian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan, yang mencakup sejumlah tugas yang berkaitan dengan pengumpulan data dari perpustakaan, membaca dan mencatat, mengolah bahan penelitian, dan literasi cetak dan digital serupa. Etika komunikasi Islam yang dimaksud adalah prinsip-prinsip yang baik yang dapat diterima dan menguntungkan ketika melakukan proses komunikasi. Baik komunikasi itu berupa komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, maupun komunikasi, segala bentuk komunikasi akan berlandaskan pada prinsip-prinsip Al-Quran, selain sunnah Nabi Muhammad SAW.
Karakteristik Mad’u di Kampoeng Tauhid Nambo Arjasari: (Analisis Teori Kepribaian Carl Gustav Jung) Fera Anggia Dewi; Alit Rosad Nurdin; Haifa Azzahra Hatuala
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.222

Abstract

Dakwah merupakan proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh da’i kepada mad’u dengan menggunakan pendekatan, strategi, dan metode yang beragam agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh mad’u. Dalam proses penyampaian pesan-pesan dakwah, seorang da’i harus menguasai beragam ilmu yang menunjang kegiatan dakwahya, salah satunya ialah ilmu psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik mad’u yang ada di Kampoeng Tauhid Nambo Arjasari menggunakan teori kepribadian yang di kembangkan oleh Carl Gustav Jung. Menurut Carl Gustav Jung, kepribadian atau karakteristik manusia terbagi kedalam dua tipe, yaitu tipe introvert dan tipe ekstrovert. Maka dari itu, untuk mengetahui strategi apa dan pendekatan yang seperti apa yang digunakan oleh da’i di Kampoeng Tauhid Nambo Arjasari, dan apa saja faktor pendukung dan penghambat dari kegiatan dakwah yang terjadi di Kampoeng Tahuhid Nambo Arjasari Dari hasil penelitian dapat terlihat bahwa mad’u yang berada di Kampoeng Tauhid Nambo Arjasari memiliki beberapa tipe kepribadian, diantaranya tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Maka, perbedaan inilah yang harus diperhatikan da’i dalam memberikan pesan-pesan dakwah agar proses dakwah dapat berjalan dengan baik dan efektif. Kampoeng Tauhid yang terletak di Nambo Arjasari ini menekankan pada strategi pendekatan psikologi dalam proses dakwahnya. Maka pada saat adanya mad’u yang memiliki tipe kepribadian introvert, da’i menggunakan pendekatan psikologi yang lebih intens dalam memberikan pesan dakwahnya. Tetapi pada saat dihadapkan dengan mad’u yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert, da’i tidak harus menggunakan pendekatan psikologi yang intens, sebab tipe kepribadian ekstrovert biasanya cenderung dapat terbuka dan membuka diri terhadap semua pesan-pesan dakwah yang diterimanya.
Simulacra Dakwah Persatuan Islam di Era Kontemporer Gifar Fauz Azhar; Robi Permana; Teten Romli
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.223

Abstract

Dalam era kontemporer, perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah cara berkomunikasi dan menyebarkan pesan dakwah dalam masyarakat Muslim. Platform populer seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube memungkinkan individu atau kelompok untuk dengan mudah menyebarkan pesan-pesan dakwah kepada audiens yang lebih luas. Dalam era kontemporer, Gerakan Dakwah Persis telah fokus pada peningkatan sumber daya insani dengan pemahaman tentang teknologi informasi serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana berdakwah yang efektif. Mereka tetap konsisten dalam menyebarkan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, namun juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk mencapai generasi milenial dan Z. Dalam penelitian ini, kami menganalisis perkembangan gerakan dakwah Persatuan Islam (Persis) dalam era kontemporer dan responsnya terhadap perkembangan teknologi dan informasi. Kami juga membahas adaptasi gerakan tersebut terhadap fenomena simulacra yang muncul akibat perubahan lingkungan komunikasi Dakwah persis di era kontemporer mempunyai tantangan besar, seperti pengaruh media sosial, pergeseran nilai dan perubahan sosial, kesulitan berkomunikasi dengan generasi muda, serta pluralitas agama. Untuk meningkatkan kualitas dakwah, dibutuhkan SDM yang berkualitas dan pemanfaatan teknologi. Bahwa dakwah Persis masih memiliki potensi yang optimis meskipun ada tantangan dalam era kontemporer. Gerakan dakwah Persis telah menggunakan teknologi informasi dan media sosial sebagai sarana berdakwah yang efektif.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Sebagai Media Mempererat Kerukunan Umat Beragama Muhammad Thoriq; Feri Wahyudin
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 2 No. 2 (2023): JISSC-DIKSI Agustus
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v2i2.224

Abstract

Penelitian ini berawal dari keinginan penulis dalam mengkaji sosial kultural yang membahas mengenai keberagaman antar umat agama dan budaya yang di persatukan oleh satu media, hal ini berawal dari distroksi masyarakat terhadap perbedaan entah itu budaya, agama, ataupun adat istiadat yang menghilangkan toleransi. Tentunya penelitian ini sangat lah penting untuk memunculkan nilai-nilai kerukunan antar bangsa dan agama, sebagamana yang telah disari oleh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai wujud Islam yang rahmatan lil’alamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk memunculkan kembali nilai-nilai sila ke tiga yaitu Persatuan Indonesial dan Bhineka Tunggal Ika bahkan Q.S Al-Hujurat ayat 13 yang memunculkan nilai-nilai kerukunan dan toleransi. Penelitian ini membahas mengenai suatu media yang dapat mempersatukan umat beragama dengan Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) yang merujuk kepada Maulid Nabi. Harmonisasi disana terjalin dengan gotong royong dan partisipasi seluruh elemen masyarakat yang terdiri dari berbagai agama dan suku bangsa, partisipasi ini tentunya menjadi nilai kerukunan dalam persatuan bangsa yang berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika
Komunikasi Empati Dakwah Ustadz Fuadh Naim (Analisis Isi Pada Channel Dakwah Ustadz Fuadh Naim) Yuniar Naqiah, Listia
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 3 No. 01 (2024): JISSC-DIKSI Februari
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/9e1a7960

Abstract

Dakwah merupakan sebuah proses penyampaian pesan. Secara spesifik, pesan dakwah memiliki nilai tertentu untuk disampaikan. Seluruh pesannya berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ada beberapa unsur dalam proses penyampaian dakwah, salah satunya pesan. Salah satu penyampaian pesan yaitu menggunakan bahasa. Bahasa juga sebagai alat inti komunikasi. Bahasa sangat penting karena berpengaruh pada psikis mad’u. Salah satu teori komunikasi yang berkaitan dengan psikologi adalah teori komunikasi empati. Teori ini berasumsi bahwa seseorang akan lebih mudah menerima pesan apabila komunikator memiliki rasa empati yaitu kepekaan terhadap apa yang dirasakan mad’u. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui segmentasi mad’u dalam dakwah ustadz Fuadh Naim, gaya bahasa yang digunakan dalam penyampaian pesan dakwahnya, dan bahasa gaul yang digunakan oleh ustadz Fuadh Naim. Dalam penyampaian pesan, ada faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi keberhasilan dakwah, salah satunya faktor psikis yaitu empati. Empati yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain atau lingkungan. Rasa empati harus dimiliki da’i dalam berdakwah agar mudahnya pesan dipahami oleh mad’u. Analisis data penelitian menggunakan analisis isi (content analysis) yaitu dengan menganalisis isi dakwah ustadz Fuadh Naim dalam akun media sosial resmi miliknya yaitu Youtube, Spotify, dan Tiktok. Penelitian ini menemukan bahwa ustadz Fuadh Naim menggunakan komunikasi empati seperti sarana dakwah dan bahasa yang digunakan. Ustadz Fuadh Naim menggunakan beberapa aplikasi media untuk menyampaikan dakwahnya dengan masing-masing memiliki beberapa episode pembahasan mengenai dakwah. Bahasa yang digunakan ustadz Fuadh Naim merupakan bahasa yang sering digunakan oleh anak muda khususnya pecinta Korean Wave. Anak muda khususnya kpopers merupakan sasaran dakwahnya Ustadz Fuadh Naim, beliau menyampaikan pesan dakwah dengan bahasa gaul. Hal itu menandakan adanya intimasi komunikasi (keakraban) antara Ustadz Fuadh Naim sebagai da’i dengan anak muda sebagai mad’unya. Adapun bahasa gaul yang digunakan Ustadz Fuadh Naim, cenderung menggunakan bahasa gaul ala Korea.
Etika Komunikasi Menjadi Strategi Dakwah Dalam Menghadapi Spiritualitas Masyarakat Modern ( Studi Al-Qur’an Surat An-Nahl 125) Yuda Nur, Suherman
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 3 No. 01 (2024): JISSC-DIKSI Februari
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/bjvy8t54

Abstract

Sebutan Dakwah secara umum sudah sangat populer di keilmuan islam, selain itu juga merupakan kata yang banyak corak kemiripan secara makna namun banyak yang berbeda dalam implementasinya. Tujuan penelitian ini agar dapat membedakan antara term “dakwah dengan “ilmu dakwah”. Secara istilah dakwah dapat dikatakan sebuah aktifitas mengajak orang lain untuk berbuat baik dijalan Allah Swt. ilmu dakwah adalah sesuatu ilmu yang meninjau tataran aktivitas dakwah dimulai dari perencanaan hingga dampak, hasil dakwah yang dilakukan dan berkembangnya ilmu dakwah. Penelitian ini mengunakan metode studi kepustakaan dan membahas ruang lingkup ontologi dakwah, karena penelitiannya fokus kepada etika komunikasi berdakwah perspektif Al-quran , yaitu akan menguraikan dan mengeksplorasi term etika komunikasi di dalam Al-Quran. Pada akhirnya akan disimpulkan bahasan etika komunikasi dapat menjadi sebuah metode atau cara berdakwah dalam menghadapi spiritualitas masyarakat modern.

Page 3 of 4 | Total Record : 35