cover
Contact Name
Suhartina
Contact Email
marital@iainpare.ac.id
Phone
+6285240682382
Journal Mail Official
marital@iainpare.ac.id
Editorial Address
Institut Agama Islam Negeri Parepare Jl. Amal BAkti No. 8 Sireang, Kota Parepare 91132, Pare Pare, Sulawesi Selatan 91121
Location
Kota pare pare,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam
ISSN : -     EISSN : 29858577     DOI : https://doi.org/10.35905/jurnalmarital
Core Subject : Social,
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam diterbitkan oleh Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare. Tujuan dari jurnal ini adalah untuk memfasilitasi penelitian tentang Hukum, khususnya Hukum Keluarga Islam. Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam terbit dua kali setahun pada bulan November dan Mei
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 35 Documents
Islamic Perspective on Kawing Soro’: An Analysis of Cross-Sibling Marriage Saharia, ST.Marwah
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v3i2.10489

Abstract

ABSTRACT This thesis research discusses the uniqueness of soro' mating in Data Village, Duampanua District, Pinrang Regency. In this research there are three problems, namely: 1) what is the process of implementing kawing soro'; 2) what are the factors that influence the occurrence of kawing soro; and 3) what is the view of Islam towards kawing soro’. The aim of this research is to find out whether the soro' marriage procession that applies in society is in accordance with Islamic rules and law.This research uses a qualitative approach with the type of field research. The sources in this research were religious figures in the Data Village community and several families who had carried out the Soro' wedding procession. The stages of data analysis carried out are identifying data, presenting data and drawing conclusions. By using a theoretical review, al-urf theory and maslahah mursalah theory.Keywords : Islamic Law, Kawing Soro’, Costums
The Role of Mediation in Resolving Family Communication Conflicts: An Islamic Family Law Approach in Indonesia SR, Naharuddin; Ahmad, Ahmad; Shabri, Faisal Nur Shadiq; Hidayatullah, Ahmad
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 1 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v4i1.14373

Abstract

Komunikasi yang buruk dalam keluarga sering menjadi penyebab utama ketegangan dan disfungsi hubungan antar anggota keluarga. Ketidakmampuan dalam berkomunikasi dapat menimbulkan jarak emosional, perasaan terabaikan, dan konflik yang tak kunjung selesai, yang akhirnya mengganggu keharmonisan rumah tangga. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penyebab komunikasi buruk dalam keluarga dan solusi yang dapat diterapkan berdasarkan hukum keluarga Islam di Indonesia, dengan fokus pada pendekatan mediasi dan advokasi. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, yang menganalisis berbagai literatur terkait, seperti Kompilasi Hukum Islam (KHI), Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 1 Tahun 2016, serta prinsip-prinsip syariat dalam mediasi keluarga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mediasi berbasis prinsip syariat Islam, seperti sulh (perdamaian) dan hakam (penunjukan mediator), terbukti efektif dalam memperbaiki komunikasi buruk dan menyelesaikan konflik tanpa harus melalui perceraian. Rekomendasi dari penelitian ini adalah memperkuat penerapan mediasi dalam penyelesaian sengketa keluarga, meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya komunikasi yang sehat, dan mengintegrasikan program konseling berbasis Islam di Pengadilan Agama.
Analysis of Maqasid al-Syari'ah (Primary Maslahat) on the Practice of Mute Marriage Contracts in Songing Village, South Sinjai District, Sinjai Regency Muh. Risal; BN, Andi Muh. Taqiyuddin; Muammar Muh. Bakry; Samsidar Jamaluddin; Suprijati Sarib
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 1 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v4i1.14420

Abstract

This study aims to examine the Analysis of Maqasid al-Syari'ah (Primary Maslahat) on the Practice of Mute Marriage Contracts in Songing Village, South Sinjai District, Sinjai Regency. This is a qualitative study. The research design is field research. Data collection methods in this study include observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the practice of mute marriage contracts in Songing Village, South Sinjai District, Sinjai Regency, is inconsistent with the Marriage Law of 1974, Article 2, Paragraphs 1 and 2, as well as KHI Article 4, which is considered inconsistent with one of the primary objectives of Maqasid al-Syari'ah, namely maslahat primer, hifz al-Din. This is due to the contradiction between the marriage contract practices and Islamic law, specifically the consensus of Islamic scholars, which is the primary cause of the violation of the Marriage Law of 1974, Article 2, Paragraph 1, and KHI Article 4. Furthermore, hifz al-Nasl. This is because the marriage is not recognised due to its violation of the Marriage Law of 1974, Article 2, Paragraph 1, and therefore the marriage is not registered as mentioned in the subsequent paragraph. This has implications for the status of children in the marriage under the applicable law in Indonesia. The subsequent effect is chaos in the realm of hifz al-Mal/maintenance/guardianship of property. This reality causes serious issues regarding the inheritance status of children and spouses, as well as joint property. Regarding the legal status of the marriage under Sharia law. This is exempted if the marriage officiant was unaware of the consensus of the scholars.
Reform of Mahar Law: An Analysis of the Pre-Islamic Shigar Marriage Tradition diaana, riskaa; Riduan, Muhammad; Kamil, Muhammad Ihsanul; Jaidi, Muhammad
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 1 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v4i1.15028

Abstract

Abstract : In the marriage practices of pre-Islamic Arab (Jahiliyah) society, which were rife with injustice, particularly in nikah shigar a form of exchange marriage where the dowry was not a gift from the groom to the bride but rather a compensation involving the exchange of the bride’s sister to the groom’s brother this practice reduced women to mere objects of family transactions, disregarding their dignity and autonomy. The purpose of this study is to analyze the influence of Jahiliyah marriage traditions, particularly nikah shigar, on the reform of Islamic family law, with a focus on the transformation of the dowry concept from a form of compensation to a mandatory right and a symbol of spiritual-emotional commitment. The method used is qualitative with a historical-normative approach, relying on a literature review of primary sources (the Qur’an, Hadith, and historical texts) and secondary sources (books, journals, and academic works). The analysis is conducted critically to identify continuities and discontinuities between pre-Islamic traditions and Islamic law. The main findings indicate that Islam introduced revolutionary reforms by completely abolishing practices like nikah shigar and similar customs. The dowry was reformed into iwadl, a mandatory financial and symbolic gift from the husband to the wife, affirming women’s economic and legal independence. Consequently, women were no longer treated as objects of exchange but as sovereign legal subjects. Marriage shifted from a transactional family arrangement to a bond based on mawaddah wa rahmah (love and compassion). This dowry reform serves as strong evidence that pre-Islamic traditions acted as a catalyst for fundamental changes in the Islamic family law system, while also affirming the principle of gender justice at the core of Islamic teachings. Abstrak : Dalam praktik pernikahan masyarakat Arab Pra-Islam (Jahiliyah) yang sarat ketidakadilan, khususnya nikah shigar, sebuah bentuk pernikahan tukar-menukar di mana mahar bukanlah pemberian dari mempelai pria kepada wanita, melainkan kompensasi berupa penyerahan saudara perempuan mempelai wanita kepada saudara mempelai pria. Praktik ini mereduksi perempuan menjadi objek transaksi keluarga, mengabaikan martabat dan otonomi mereka. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh tradisi pernikahan Jahiliyah, khususnya nikah shigar, terhadap reformasi hukum keluarga dalam Islam, dengan fokus pada transformasi konsep mahar dari bentuk kompensasi menjadi hak wajib dan simbol komitmen spiritual-emosional. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis-normatif, mengandalkan studi literatur terhadap sumber primer (Al-Qur’an, Hadis, dan kitab sejarah) serta sekunder (buku, jurnal, dan karya akademik). Analisis dilakukan secara kritis untuk mengidentifikasi kontinuitas dan diskontinuitas antara tradisi pra-Islam dan hukum Islam. Temuan utama menunjukkan bahwa Islam melakukan reformasi revolusioner dengan menghapus habis praktik nikah shigar dan sejenisnya. Mahar direformasi menjadi “iwadl” pemberian wajib finansial dan simbolis dari suami kepada istri, yang menegaskan kemandirian ekonomi dan hukum perempuan. Dengan demikian, perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai barang tukar, melainkan sebagai subjek hukum yang berdaulat. Pernikahan pun bergeser dari ikatan transaksional keluarga menjadi ikatan berbasis mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang). Reformasi mahar ini menjadi bukti kuat bahwa tradisi pra-Islam justru menjadi katalisator bagi perubahan mendasar dalam sistem hukum keluarga Islam, sekaligus menegaskan prinsip keadilan gender yang menjadi inti ajaran Islam.
An Islamic Legal Review of the Mattampung Tradition in the Wanio Village Community, Sidrap Regency Huzaevy, Huzaevy; Baedah, Said Syarifuddin Abu
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 4 No 1 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v4i1.15061

Abstract

Tradisi Mattampung merupakan salah satu praktik budaya masyarakat Desa Wanio, Kabupaten Sidenreng Rappang, yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dijalankan hingga saat ini. Tradisi ini memiliki makna sosial dan religius yang kuat dalam menjaga nilai-nilai kekeluargaan dan solidaritas masyarakat. Dalam konteks hukum Islam, tradisi Mattampung perlu dikaji untuk memahami sejauh mana kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip syariah, khususnya dalam aspek ‘urf (kebiasaan yang diterima dalam hukum Islam). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi Mattampung dari perspektif hukum Islam serta melihat dampaknya terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Desa Wanio. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, melibatkan studi literatur, wawancara dengan tokoh masyarakat, serta observasi langsung terhadap pelaksanaan tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mattampung memiliki nilai-nilai positif dalam mempererat hubungan sosial dan menjaga keseimbangan dalam komunitas. Namun, terdapat beberapa aspek yang perlu disesuaikan agar lebih selaras dengan prinsip hukum Islam, terutama dalam hal keyakinan terhadap unsur simbolik dan adat yang dapat berpotensi bertentangan dengan akidah Islam. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dan pendekatan moderat dalam melestarikan tradisi ini, sehingga tetap dapat dijalankan tanpa mengabaikan ketentuan syariah.

Page 4 of 4 | Total Record : 35