cover
Contact Name
Rani Prihatmanti
Contact Email
rani.prihatmanti@ciputra.ac.id
Phone
+62317451699
Journal Mail Official
j.kreasi@ciputra.ac.id
Editorial Address
CitraLand CBD Boulevard, Made, Kec. Sambikerep, Kota SBY, Jawa Timur 60219
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
ISSN : 24772577     EISSN : 24772585     DOI : https://doi.org/10.37715/kreasi
Core Subject : Engineering,
This bi-annual journal published every April and October, managed by the Interior Architecture Department of Universitas Ciputra. KREASI-Journal of Design & Creative Industry invites students to disseminate the latest ideas and knowledge in the field of Architecture, Interior Design, Creative Industry and Design Management. Articles in the form of theoretical and empirical research, literature reviews, as well as case studies are welcome in this scientific journal.
Articles 199 Documents
PENERAPAN PARTISI CORRUGATED CARDBOARD PADA DESAIN INTERIOR LOBI DINAS ARSIP DAN PERPUSTAKAAN KOTA BANDUNG SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI SIRKULASI DAN PRIVASI Shelly Faulina Ansyabilah; Iyus Kusnaedi
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6310

Abstract

Lobi sebagai ruang transisi dalam bangunan memainkan fungsi umum yang sangat penting dalam mengatur jalur pergerakan pengunjung serta melindungi privasi dalam kegiatan pelayanan. Namun, kondisi lobi di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung masih menghadapi beberapa masalah, termasuk pola sirkulasi yang belum tertata dengan baik, batasan yang tidak cukup jelas antara zona publik dan semi-publik, serta tingkat privasi visual dan akustik yang belum memadai. Masalah-masalah ini dapat mengurangi kualitas kenyamanan dan efektivitas ruang dalam mendukung kegiatan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan karya kreatif berupa desain partisi interior yang dapat menjadi solusi terhadap masalah yang ada. Bahan corrugated cardboard dipilih karena memiliki karakteristik yang ringan, mudah untuk dibentuk, biaya yang terjangkau, dan ramah lingkungan, sehingga selaras dengan prinsip desain yang berkelanjutan. Pemilihan materi ini juga didorong oleh keinginan pihak Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung untuk menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dalam pengembangan interior ruang publik. Selain itu, material ini juga memiliki potensi estetika yang tinggi serta penerapan sistem modular. Metode yang diterapkan meliputi observasi di lapangan, analisis kebutuhan ruang serta pola sirkulasi, studi literatur mengenai material dan desain interior, serta proses perancangan yang menghasilkan model tiga dimensi dan gambar teknis. Hasil dari perancangan tersebut berupa konsep penataan ruang lobi dan sistem partisi modular yang mampu mengarahkan sirkulasi pengunjung dengan cara yang lebih teratur, sekaligus meningkatkan kualitas privasi visual dan akustik.
ADAPTASI ELEMEN ALAM DALAM ARSITEKTUR KOMERSIAL SEBAGAI RESPONS TERHADAP LINGKUNGAN PERKOTAAN Muhamad Wildan Haikal; Jasmine Allayda; Utami; Jelang Fajar Sugiana
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6396

Abstract

Perkembangan arsitektur modern di Kota Bandung menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan desain bangunan yang tidak hanya memenuhi fungsi dasar, tetapi juga mampu menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Kondisi perkotaan yang padat serta keterbatasan ruang terbuka hijau mendorong penerapan pendekatan desain yang dapat meningkatkan kualitas ruang dan kenyamanan pengguna. Arsitektur biofilik muncul sebagai pendekatan yang relevan dengan mengintegrasikan elemen-elemen alami ke dalam lingkungan binaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan konsep desain biofilik kategori Nature in the Space pada bangunan komersial modern di Kota Bandung dengan studi kasus Jardin Café. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung pada bangunan, dokumentasi visual, serta studi literatur terkait teori desain biofilik. Observasi difokuskan pada identifikasi elemen-elemen alami seperti vegetasi, pencahayaan alami, ventilasi silang, hubungan visual dengan alam, serta penggunaan material alami pada area publik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil observasi lapangan dengan prinsip desain biofilik kategori Nature in the Space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep tersebut pada Jardin Café tercermin melalui empat pola utama, yaitu visual connection with nature, thermal and airflow variability, dynamic and diffuse light, serta connection with natural systems. Integrasi vegetasi interior, bukaan bangunan yang memungkinkan ventilasi alami, serta penggunaan atap transparan yang memaksimalkan pencahayaan alami menciptakan ruang yang lebih terang, sejuk, dan secara psikologis menenangkan. Temuan ini menunjukkan bahwa desain biofilik dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kualitas ruang dan kenyamanan pengguna pada bangunan komersial di kawasan perkotaan yang padat.
DESAIN EDUKATIF PADA KAMPUNG DAUR ULANG DI KABUPATEN DELI SERDANG: MENDORONG RESPONS KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK Sofia Ranti; Saufa Yardha Moerni
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6424

Abstract

Permasalahan sampah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan Kampung Daur Ulang sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan teoritis yang digunakan meliputi konsep pembelajaran berbasis pengalaman, respons psikologis kognitif–afektif–psikomotorik, serta filosofi Kintsugi sebagai dasar transformasi bentuk dan makna desain. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, studi literatur, dan analisis kebutuhan ruang yang diterjemahkan ke dalam konsep perancangan arsitektural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelompokan ruang berdasarkan alur pengalaman pengguna—Curious, Aware, dan Engaged—mampu mengintegrasikan fungsi edukasi, observasi proses, dan partisipasi aktif dalam satu sistem pembelajaran ruang. Alur pengalaman ini diarahkan kepada pengelompokan tiga zona yaitu Zona Edukasi, Zona Pengolahan Sampah, serta Zona Pengelolaan dan Pemberdayaan. Zona Edukasi dan Zona Pengolahan Sampah merupakan zona yang mendorong tahap kognitif dan afektif, sedangkan Zona Pengelolaan dan Pemberdayaan mendorong tahap psikomotorik. Bentuk bangunan mengambil inspirasi dari filosofi Kintsugi, yang merepresentasikan pemulihan dan pemberian nilai baru pada material yang terfragmentasi, selaras dengan konsep daur ulang. Ruang-ruang disusun dalam pola terbuka baik secara fisik maupun visual yang memperkuat hubungan antara pemahaman, kesadaran, dan tindakan pengguna. Konsep desain yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional fasilitas pengolahan, tetapi juga berperan sebagai media edukasi sosial yang sistematis dalam mendorong praktik pengelolaan sampah berkelanjutan di Kabupaten Deli Serdang.
DESAIN LANSKAP PEMAKAMAN KELUARGA DENGAN PENDEKATAN BIOFILIK DI DESA LOKSUGA, KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Irawan Setyabudi; Flourentina Dwiindah Pusparini; Hendra Kurniawan; Hijrah Saputra
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6432

Abstract

Pemakaman keluarga di Desa Loksuga, Kabupaten Hulu Sungai Utara, merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi lokal namun menghadapi kendala lingkungan yang serius. Permasalahan utama terletak pada kondisi tapak yang berada di ekosistem lahan basah dengan fluktuasi air tinggi, yang selama ini tidak terkelola sehingga menyebabkan kerusakan fisik material dan penurunan kualitas estetika. Kondisi yang terbengkalai ini memperkuat stigma negatif sebagai kawasan yang kumuh dan menyeramkan, sehingga mengurangi kenyamanan psikologis bagi keluarga peziarah maupun masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep desain lanskap pemakaman keluarga dengan pendekatan biofilik guna menciptakan ruang memorial yang tenang dan adaptif secara ekologis. Metode kualitatif deskriptif diterapkan melalui pemilihan purposif tiga lokasi pemakaman, dengan data yang dikumpulkan dari observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur. Analisis menggunakan kerangka kerja 14 Pola Desain Biofilik. Temuan menunjukkan bahwa penerapan pola koneksi material dengan alam, kehadiran air yang terkontrol, serta zonasi prospect-refuge menghasilkan desain lanskap yang mampu beradaptasi dengan karakter lahan basah serta meningkatkan kualitas visual tapak. Penggunaan material lokal dan sistem panggung (elevated boardwalk) secara efektif mengatasi kendala fisik lahan basah pasang surut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan biofilik terbukti sangat efektif dalam mengembangkan lanskap pemakaman keluarga yang selaras dengan karakter lingkungan. Melalui pendekatan ini, citra pemakaman yang sebelumnya terkesan "suram" berhasil ditransformasi menjadi ruang hijau yang tenang dan sesuai dengan identitas ekologis serta budaya wilayah lahan basah.
PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP RUANG PUBLIK: ANALISIS SENSE OF PLACE ASIA AFRIKA BANDUNG Keysha R. Aisy; Jasmine Zahra Fernando; Imam Nur Husain; Irfan Sabarilah Hasim
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6434

Abstract

Kawasan Asia Afrika di Bandung merupakan ruang publik warisan budaya yang memadukan nilai-nilai sejarah dengan aktivitas perkotaan yang dinamis. Meskipun memiliki karakter visual yang kuat dan makna simbolis, kualitas pengalaman publik di kawasan ini belum sepenuhnya dipahami secara konseptual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur persepsi pengunjung dan menganalisis pembentukan rasa tempat dalam konteks ruang publik warisan budaya. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui pertanyaan terbuka dari 101 responden. Analisis dilakukan menggunakan pengkodean terbuka dan pengkodean aksial untuk membangun kategori konseptual secara induktif. Hasil open coding menunjukkan bahwa persepsi pengunjung dibentuk oleh berbagai dimensi pengalaman multisensorik, termasuk suasana, karakter visual, aktivitas, kenyamanan, dan kondisi lingkungan. Selain itu, pengkodean aksial mengelompokkan temuan ini ke dalam empat dimensi utama: Rasa Tempat, Kenyamanan Fungsional, Pengelolaan Kerumunan, dan Dukungan Lingkungan, dengan elemen arsitektur warisan budaya bertindak sebagai pemicu identitas. Dominasi dimensi Rasa Tempat menunjukkan bahwa kawasan tersebut dipandang lebih sebagai tempat yang sarat makna daripada sekadar ruang fungsional. Makna ini terbentuk melalui interaksi antara nilai-nilai simbolis dan kinerja fungsional, serta diperkuat oleh interaksi sosial dan beragam kegiatan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan warisan budaya harus menyeimbangkan pelestarian sejarah dengan peningkatan kenyamanan, kegiatan, dan kualitas lingkungan guna menciptakan pengalaman publik yang optimal dan berkelanjutan.
KENYAMANAN SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS TERHADAP FASILITAS SEKOLAH DI SLB NEGERI CILEUNYI Annisa Ramadhani Royani; Qudrotul Falahiyah; Wahyu Buana Putra
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6444

Abstract

SLB Negeri Cileunyi merupakan sekolah luar biasa yang melayani siswa berkebutuhan khusus, seperti tunadaksa, autisme, tunagrahita, tunanetra dan tunarungu, sehingga memerlukan fasilitas dan lingkungan belajar yang adaptif dan inklusif. Keberagaman karakteristik peserta didik tersebut menuntut penyediaan sarana pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, sensorik, maupun kognitif secara menyeluruh. Lingkungan fisik sekolah berperan penting dalam mendukung kenyamanan dan efektivitas pembelajaran siswa, karena penyediaan fasilitas yang sesuai dapat mempengaruhi konsentrasi, interaksi, dan kemandirian. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran penyediaan sarana dan prasarana sesuai kebutuhan setiap kelompok belajar dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pengguna. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan wawancara dengan pihak sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga mencakup ruang terapi, ruang keterampilan, alat bantu mobilitas, dan lingkungan ramah. Fasilitas yang tersedia telah mampu menunjang kenyamanan siswa berkebutuhan khusus, meskipun masih memerlukan pengembangan untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan setiap jenis hambatan.  
DAMPAK KEPADATAN HUNIAN TERHADAP KETERBATASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI LIO CIPAMOKOLAN KOTA BANDUNG Kania Nurlita Dewi; Destria Oktaviany; Zain Azmiy; Zakiyyah Putri Hanifah
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6446

Abstract

Kawasan Lio Cipamokolan, yang terletak di Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, merupakan salah satu wilayah permukiman padat dengan tingkat pertumbuhan hunian yang tinggi. Perkembangan permukiman yang tidak diimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) mengakibatkan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kepadatan hunian terhadap keterbatasan ruang terbuka hijau, serta mengidentifikasi implikasinya terhadap kualitas lingkungan, sosial, dan estetika kawasan. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi lapangan, analisis spasial, dan wawancara masyarakat lokal untuk memperoleh data terkait kondisi fisik dan sosial lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kepadatan hunian di Lio Cipamokolan telah menyebabkan penurunan daya serap air tanah, meningkatnya suhu udara lokal (efek pulau panas), dan risiko banjir yang lebih tinggi. Dari aspek sosial, keterbatasan RTH mengurangi kualitas hidup warga karena minimnya ruang bermain dan interaksi sosial, sedangkan dari sisi estetika kota, dominasi bangunan padat tanpa vegetasi menurunkan nilai visual dan identitas kawasan. Kesimpulannya, perlu adanya strategi penataan lingkungan berbasis RTH mikro seperti taman gang, vegetasi vertikal, dan ruang komunal warga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keseimbangan ekologi kawasan padat perkotaan
KESEIMBANGAN PELESTARIAN DAN KOMERSIALISASI PADA NERD LABORATORY LASWI HERITAGE MELALUI ADAPTIVE REUSE Zanka Adilla Irawan; Mochammad Aji Pangestu; Rakha Muhammad Afry
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6447

Abstract

Adaptive reuse merupakan strategi konservasi yang bertujuan menghidupkan kembali bangunan heritage yang telah kehilangan fungsi awalnya, namun dalam penerapannya sering menimbulkan ketegangan antara kebutuhan fungsi modern dan upaya pelestarian nilai arsitektural. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan karakter visual dan fungsional pada Bangunan Laswi Heritage setelah dialihfungsikan menjadi Nerd Laboratory Coffee & Creative Space, sekaligus mengevaluasi sejauh mana keseimbangan antara adaptasi dan pelestarian dapat dicapai. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif komparatif dengan pendekatan studi kasus tunggal, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dengan pihak terkait, serta analisis dokumentasi historis bangunan. Proses analisis dilakukan menggunakan matriks komparatif yang mencakup lima aspek arsitektur, yaitu bentuk, fasad, interior, material, dan struktur bangunan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah penerapan adaptive reuse. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan menyeluruh pada karakter fungsional bangunan sebagai dampak dari transformasi menjadi ruang komersial, disertai perubahan visual yang cukup signifikan terutama pada aspek interior dan material yang mengalami penyesuaian terhadap kebutuhan operasional dan kenyamanan pengguna. Meskipun demikian, bentuk dasar serta sistem struktur utama bangunan tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai historis dan identitas arsitekturalnya. Dengan demikian, penerapan adaptive reuse pada Nerd Laboratory dapat dinilai berhasil dalam mencapai keseimbangan antara komersialisasi dan pelestarian melalui strategi retensi elemen utama bangunan serta adaptasi ruang yang fleksibel, sehingga bangunan tetap relevan secara fungsional tanpa kehilangan nilai sejarahnya serta mampu mendukung perkembangan ekonomi kreatif kawasan.
IDENTIFIKASI PENGGUNAAN VARIAN OLAHAN BAMBU STUDI KASUS: ROOFTOP COFFEE DAGO & KABAYAN 91 Zakiyyah Putri Hanifah; Destria Oktaviany; Kania Nurlita Dewi
KREASI Vol. 11 No. 2 (2026): Kreasi: Journal of Design and Creative Industry
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v11i2.6451

Abstract

Bambu merupakan salah satu material lokal yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai elemen struktural maupun arsitektural dalam bangunan, khususnya pada konteks iklim tropis yang menuntut adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Material ini tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga memiliki sifat fleksibel, ringan, serta ramah lingkungan sehingga semakin relevan dalam pendekatan arsitektur berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penggunaan variasi olahan bambu pada dua studi kasus, yaitu Rooftop Coffee Dago dan Kabayan 91. Fokus kajian meliputi alasan pemilihan material bambu, teknik pengolahan yang diterapkan, serta bagaimana desain bangunan merespon kondisi iklim dan kebutuhan fungsi ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pihak terkait, serta analisis terhadap teknik pengolahan material bambu yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bangunan memanfaatkan berbagai jenis bambu seperti bambu betung, gombong, dan tali, yang diolah menjadi elemen struktural seperti kolom dan rangka atap, serta elemen nonstruktural seperti dinding, lantai, dan penutup atap. Selain itu, teknik pengawetan modern berbasis perendaman kimia diterapkan untuk meningkatkan daya tahan bambu terhadap cuaca dan serangan hama, menggantikan metode tradisional yang cenderung lebih lama dan kurang efektif. Variasi olahan bambu tersebut juga mampu merespon iklim tropis melalui penerapan desain atap tinggi, ventilasi silang yang optimal, serta detail konstruksi dinding yang mempermudah aliran air hujan. Secara keseluruhan, bambu terbukti mampu memberikan nilai fungsional, estetika, dan ekologis apabila diolah dengan teknik yang tepat, sehingga sangat relevan untuk diterapkan pada bangunan tropis modern.