cover
Contact Name
Yosep Belen Keban
Contact Email
yosephbelen@gmail.com
Phone
+6285235312315
Journal Mail Official
lppmstpreinhalarantuka@gmail.com
Editorial Address
Jln. Ki Ageng Gribig, Gang Kaserin MU No. 36 Malang
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Reinha
Published by STP Reinha Larantuka
ISSN : 20893159     EISSN : 28072669     DOI : https://doi.org/10.56358/ejr.v13i2.164
Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, Budaya, Sosiologi, Antropologi, Pastoral, Katekese, Teologi Katolik, Kitab Suci Katolik, Liturgi Gereja Katolik, Ekopastoral, Teologi Kontekstual
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 61 Documents
ETIKA KOMUNIKASI NEW MEDIA SEBAGAI UPAYA TANGGUNG JAWAB TERHADAP LIYAN DALAM PERSPEKTIF EMMANUEL LEVINAS Damianus Suryo Pranoto; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.391

Abstract

Media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menciptakan ruang yang rentan terhadap disinformasi. Transformasi ini menciptakan ruang interaksi yang cepat dan terbuka, tetapi juga melahirkan tantangan etis berupa ujaran kebencian, disinformasi, dan dehumanisasi. Tulisan ini membahas etika komunikasi new media sebagai bentuk tanggung jawab terhadap liyan dalam perspektif Emmanuel Levinas. Tujuannya ialah menganalisis bagaimana prinsip etika Levinas dapat diterapkan dalam komunikasi digital untuk merespons kehadiran liyan sebagai subjek yang menuntut tanggung jawab etis. Tulisan ini memakai metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Penulis menafsirkan pemikiran Levinas tentang fenomenologi wajah sebagai dasar komunikasi yang bermoral. Maka, langkah pembahasannya akan dimulai dengan menguraikan konsep liyan dan tanggung jawab etis dalam pemikiran Levinas, kemudian menghubungkannya dengan praktik komunikasi di media sosial. Levinas menekankan bahwa kehadiran liyan, baik secara fisik maupun virtual, menuntut respons moral yang menghargai martabat manusia. Karena itu, tulisan ini mau menegaskan etika Levinasian dalam konteks media digital, menawarkan perspektif alternatif untuk mengatasi degradasi nilai etika di ruang virtual bahwa kesadaran dari individu akan bertanggung jawab terhadap liyan yang menjadikan dasar untuk membangun interaksi digital lebih manusiawi dan bermartabat. Jadi, etika komunikasi dalam new media bukan hanya teknik, melainkan sikap eksistensial mengutamakan hormat dan kepedulian terhadap sesama.
PASTORAL DIGITAL DALAM ERA DISRUPSI TEKNOLOGI: TRANSFORMASI PELAYANAN GEREJA KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN DAN PELUANG EVANGELISASI VIRTUAL Andreas Jimmy
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.430

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi pastoral Gereja Katolik dalam merespons disrupsi teknologi digital melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten dan tinjauan literatur sistematis terhadap sumber-sumber teologis, sosiologis, dan komunikasi religius terkini. Penelitian berfokus pada tiga dimensi utama: rekonfigurasi model pastoral, strategi inkulturasi, dan pengembangan kompetensi digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa internet telah berevolusi dari sekadar alat menjadi lingkungan yang membentuk pola pikir, mendorong pergeseran dari model ekklesiologi hierarkis menuju ekklesiologi jaringan yang partisipatif. Inkulturasi digital menjadi imperatif pastoral yang menuntut dialog kreatif antara iman Katolik dan budaya digital, dengan mengintegrasikan adaptasi linguistik, metodologis, dan estetik. Evangelisasi virtual membuka peluang ekspansi jangkauan, namun menghadirkan risiko reduksi iman menjadi konten superfisial. Kesenjangan digital merupakan tantangan etis yang memerlukan pendekatan hibrida untuk memastikan inklusivitas. Digital teologi menjadi fondasi epistemologis untuk pengembangan pastoral autentik, sementara kompetensi digital bagi pelayan pastoral menjadi prioritas strategis. Studi menyimpulkan bahwa pastoral digital harus dipahami sebagai perluasan misi tradisional dalam ekosistem terintegrasi yang memaksimalkan potensi masing-masing modalitas.
MEMBANGUN KESADARAN HIDUP BERKOMUNITAS DI INDONESIA MELALUI AKU “KOMUNITER”: PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO Thomas Kadek Lintang Kurniawan; FX. Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.472

Abstract

Penulis memfokuskan tulisan ini pada buku Relasionalitas, karya Armada Riyanto dengan membahas tema “Komuniter” (Ajektif) sebagai “Aku”. Metodologi penulisan ini adalah membaca, memahami dan merefleksikan tema tersebut agar dapat menjadi tulisan yang baik. Penulis juga menggunakan literatur lainnya untuk mendukung tulisan ini. Tulisan ini membahasan pada tema komunitas dalam kehidupan sebagai warga Indonesia. Argumen penulis membahas tentang penyerangan sebuah rumah yang digunakan untuk beribadah di Sukabumi. Peristiwa penyerangan tersebut mencerminkan rendahnya kesadaran akan sikap menghargai sebagai satu komunitas yaitu Indonesia. Penulis menemukan adanya tindakan main hakim sendiri. Oknum-oknum tersebut merasa terganggu dengan kegiatan ibadah. Mereka tidak memanfaatkan komunikasi yang ada dengan baik. Penulis menemukan bahwa pihak yang dirugikan merasa kehilangan hak mereka untuk beribadah. Selain itu, peristiwa tersebut membuat situasi toleransi menjadi tidak stabil. Realitas ini mencoreng dasar undang-undang tentang menghargai hak semua orang untuk beribadah. Kesadaran akan hidup komunitas sebagai masyarakat Indonesia menjadi turun.
DARI RELASI AKU DAN SESAMA MENUJU SOCIETAS KITA Deni Daniel No
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.473

Abstract

Fokus tulisan ini adalah mendalami Relasi Aku dan Sesamaku Menuju Societas Kita. Pada hakikatnya manusia bukan hanya sebagai makhluk rasional melainkan juga relasional. Relasi menjadi hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Relasi aku dan sesamaku bukan hanya pertemuan yang bersifat kebetulan melainkan dasar dari pengalaman kemanusiaan yang paling mendalam. Hal ini menunjukkan hakikat dasar manusia sebagai makhluk relasionalitas. Relasi yang dibangun tentunya dilandasi oleh sikap saling percaya, rasa tanggung jawab, dan pemberian diri yang otentik. Dengan menggunakan studi pustaka, penulis mendalami apa yang menjadi fondasi dasar terciptakan hubungan aku dan sesama membentuk societas kita yang absolut. Kemudian penulis juga menggunakan jalan pikir komparatif agar bisa menemukan benang merah yang melandasi terbentuknya societas kita. Dalam pencarian akan relasi aku dan sesamaku menuju societas kita.  penulis menemukan bahwa pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri, tetapi dalam peziarahannya manusia selalu membutukan yang lain sebagai sahabat dan rekan seperjalanan sepanjang peziarahan.
USIA PERKAWINAN MENURUT HUKUM KANONIK: Upaya Mencegah Pernikahan Dini dalam Gereja Katolik dan Implikasinya bagi Guru Agama Katolik Andreas Jama
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.476

Abstract

Perkawinan dini masih menjadi isu sosial dan marak terjadi di Indonesia. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara norma hukum sipil tentang usia perkawinan dengan praktik di lapangan. Hal tersebut juga serentak menunjukkan pentingnya  bagi orang Katolik dewasa ini terutama kaum muda, untuk memahami secara mendalam dan benar tentang batas minimum usia perkawinan yang ditetapkan hukum kanonik dan juga dampak dari perkawinan dini tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan. Data-data penelitian diperoleh melalui buku, dokumen Gereja dan artikel ilmiah. Penelitian ini menemukan bahwa pemahaman mendalam dan benar bagi kaum muda Katolik mengenai batas minimum usia perkawinan yang ditetapkan hukum kanonik dan dampak perkawinan dini merupakan langkah preventif terhadap terjadinya pernikahan dini dalam Gereja Katolik. Pemahaman tersebut idealnya dapat dilakukan di sekolah. Guru agama Katolik sebagai figur yang memiliki posisi strategis untuk menanamkan pemahaman yang benar bagi generasi mendatang, memikul tanggung jawab yang besar untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan benar bagi peserta didik di sekolah mengenai batas minimum usia perkawinan menurut hukum kanonik dan juga dampak perkawinan dini. Membekali mereka dengan pengetahuan tersebut sejak dini, memungkinkan mereka menghindari diri dari jebakan pernikahan dini dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melangsungkan perkawinan pada usia yang matang.
LONTO LEOK KONSEP DUDUK MELINGKAR BUDAYA MANGGARAI DALAM PERSPEKTIF METAFISIKA INTERSUBJEKTIF Lorensius Sueng; Yohanes Delto Dosi
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.477

Abstract

Fokus tulisan ini secara mendalam menelaah makna kultural lonto leok (tradisi duduk melingkar masyarakat Manggarai) melalui pendekatan metafisika intersubjektif. Analisis menunjukkan bahwa lonto leok tidak hanya merepresentasikan bentuk fisik, melainkan sebuah ruang eksistensial tempat realitas dikonstruksi secara kolektif melalui proses dialogis. Perspektif metafisika intersubjektif digunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap bagaimana realitas dibentuk dalam ruang bersama antar-subjek. Temuan penelitian mengungkap bahwa bentuk melingkar secara metafisis melambangkan prinsip kesetaraan, keterhubungan, dan keutuhan komunitas. Dalam ruang ini, pengetahuan dan nilai-nilai tidak bersifat individual dan objektif, tetapi terkonstitusi serta memperoleh keabsahannya melalui interaksi komunikatif partisipatif. Dengan demikian, lonto leok mempresentasikan suatu kosmologi yang memandang realitas sosial dan budaya sebagai produk dari dinamika interaksi dan konsensus kolektif. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa lonto leok menawarkan model metafisika holistik yang menempatkan relasi dan komunikasi sebagai landasan ontologis kehidupan bersama.
PAROKI SANTO ANDREAS TIDAR SEBAGAI RUMAH PEMBINAAN IMAN KAUM MUDA KATOLIK PERANTAU MALANG: Dalam Teori Solidaritas Sosial Émile Durkheim Alexander Asin; Yohanes I Wayan Marianta
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.478

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Paroki Santo Andreas Tidar sebagai rumah pembinaan iman bagi kaum muda Katolik perantau di Kota Malang melalui perspektif solidaritas sosial Émile Durkheim. Kaum muda perantau umumnya menghadapi pergulatan iman, keterasingan sosial, dan tekanan akademik ketika hidup jauh dari keluarga serta berada dalam lingkungan mayoritas beragama lain. Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan yang terdiri dari 8 pelajar dan 4 pekerja muda, observasi partisipatif dalam kegiatan OMK, serta studi dokumentasi terhadap arsip paroki, laporan dan catatan pastoral. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik melalui proses reduksi, kategorisasi, dan interpretasi berbasis kerangka solidaritas sosial Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paroki Santo Andreas Tidar berfungsi sebagai lokus terbentuknya solidaritas organik yang memperkuat identitas religius, kohesi sosial, dan perkembangan spiritual kaum muda perantau melalui kegiatan kategorial, pelayanan liturgis, kegiatan sosial, dan pendampingan rohani. Faktor pendukung pembinaan iman meliputi dukungan pastoral, struktur OMK yang inklusif, dan fasilitas paroki, sedangkan hambatan mencakup kesibukan akademik, pengaruh media sosial, kelelahan fisik, dan keterbatasan dana. Hambatan tersebut dapat diatasi melalui manajemen waktu yang lebih baik, pendampingan digital yang bijaksana, pengaturan ritme kegiatan yang tidak membebani, serta pengembangan strategi pendanaan kreatif dan berkelanjutan.
NILAI-NILAI SOSIAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH DASAR KATOLIK ST. FRANSISKUS XAVERIUS KAKASKASEN, TOMOHON, SULAWESI UTARA Marianus Muharli Mua; Shefry Yanny Fransisco Topit; Antonius Heatubun
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.481

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi nilai-nilai sosial dalam pendidikan agama Katolik di Sekolah Dasar Katolik St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, peneliti mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai solidaritas, keadilan, dan kasih diintegrasikan dalam pembelajaran agama Katolik. Temuan menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai sosial dilakukan melalui pendekatan teologis-pedagogis yang holistik, melibatkan pendidikan karakter, dialog, dan persekutuan komunal. Program-program seperti Dana Sehat, kunjungan ke keluarga yang berduka, dan pengumpulan dana solidaritas untuk korban bencana alam menjadi manifestasi konkret dari nilai-nilai tersebut. Perubahan perilaku siswa yang signifikan terlihat melalui peningkatan kepedulian sosial, empati, dan tanggung jawab moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan agama Katolik yang menekankan nilai-nilai sosial efektif dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa yang moralis dan peduli dengan sesama, meskipun tantangan implementasi tetap perlu dipertimbangkan dalam konteks keberagaman agama di lingkungan sekolah
METODOLOGI KATEKESE SETURUT PETUNJUK UNTUK KATEKESE DAN PENERAPANNYA DALAM PERTEMUAN KATEKESE UMAT Laurentius Yustinianus Rota
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.483

Abstract

Petunjuk Untuk Katekese (PUK) 2020, terutama dalam Artikel 195-196 telah memberikan kemungkinan baru dalam proses pelaksanaan katekese umat, terutama terkait dengan pemilihan metode, penerapan model pertemuan dan penggunaan media-media yang selaras zaman. Namun, dalam praktik pelaksanaan katekese umat pembaharuan itu belum dimanfaatkan secara optimal, karena berbagai tantangan yang menyertai implementasinya. Untuk mendalami perbedaan antara ajakan PUK dan kenyataan yang terjadi, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, terutama analisis konten. Sambil memperhatikan sumber-sumber pustaka, sebagai sampel data lapangan peneliti mengambil data kualitatif dari lembaran evaluasi katekese umat Masa Prapaskah 2025 di wilayah Keuskupan Agung Ende. Data evaluasi tersebut disandingkan dengan artikel 195-196 dari PUK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertemuan katekese umat telah diterapkan pula apa yang dikehendaki oleh artikel 195-196 PUK, walau belum optimal. Sosialisasi lanjutan dan peningkatan kualitas para fasilitator pertemuan katekese, terutama dalam memanfaatkan metode dan sarana yang relevan, tetaplah sangat diperlukan.
IMPLEMENTASI NILAI EKOLOGI INTEGRAL DALAM PENDIDIKAN IMAN KATOLIK BERDASARKAN LAUDATO SI’ Santo Yohanes
Jurnal Reinha Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i2.484

Abstract

Ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus menegaskan pentingnya ekologi integral sebagai dasar bagi hubungan yang harmonis antara manusia, Allah, dan seluruh ciptaan. Dalam konteks pendidikan iman Katolik, nilai-nilai ekologi integral menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang beriman sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengimplementasikan nilai-nilai ekologi integral yang terdapat dalam Laudato Si’ ke dalam proses pendidikan iman Katolik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka serta tafsir hermeneutik-teologis, melalui analisis isi dan pendekatan teologis normatif terhadap ensiklik Laudato Si’ serta dokumen Gereja lain yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti tanggung jawab ekologis, solidaritas sosial, kesederhanaan hidup, dan spiritualitas ciptaan dapat diintegrasikan dalam kegiatan katekese, liturgi, dan pembelajaran agama Katolik. Implementasi nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran iman yang konkret terhadap panggilan manusia untuk merawat rumah bersama sebagai wujud iman yang hidup dan bertanggung jawab.