cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
lenteranusantara405@gmail.com
Phone
+6282138755314
Journal Mail Official
lenteranusantara405@gmail.com
Editorial Address
Jln. Kyai Sono, No. 2, Kelurahan Genuk-Ungaran - Kabupaten Semarang, Prov. Jawa tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lentera Nusantara
ISSN : -     EISSN : 28296281     DOI : https://doi.org/10.59177/jls.v2i2.177
Jurnal Lentera Nusantara adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh STT Kanaan Ungaran. Jurnal Lentera mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen baik hasil penelitian lapangan maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Jurnal Lentera Nusantara juga telah memiliki nomor e-ISSN yakni 2829-6281. Jurnal ini terbuka untuk penulis dari akademisi, praktisi, mahasiswa yang relevan dengan lingkup jurnal ini dengan rasio minimum 60% eksternal dan maksimum 40% internal STT Kanaan. Jurnal ini terbit dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Juni dan Desember. Lingkup jurnal ini adalah Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Teologi Biblika Teologi Kontekstual Teologi Sistematika
Articles 67 Documents
Pendidikan Kristen Sebagai Fondasi Etis teologis dan Moral Pada Generasi Alpha Dalam Menghadapi Realitas Zaman Reni Triposa; Ruhut Parningotan Tambunan
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.552

Abstract

The development of digital technology significantly shapes the living environment of Generation Alpha from an early age. Unlimited access to information poses moral, character, and spiritual challenges for the contemporary Generation Alpha. Christian education is necessary to build integrity, responsibility, ethical discernment, and sustainable Christian character. The phenomenon of digital culture reinforces moral relativism, the pursuit of social validation, consumerism, and a weakening of spiritual discipline. This study aims to analyze Christian education as the moral foundation for Generation Alpha in facing the realities of the times. The study employs a qualitative phenomenological approach using thematic analysis, phenomenological interpretation, and reflective theological synthesis. The results show that Christian education strengthens Generation Alpha’s faith identity, character, and ethical responsibility. Digital literacy, spirituality, and the exemplary conduct of educators bolster moral resilience in the face of contemporary cultural changes. This study proposes the Christian Transformative Moral Formation Model for the moral formation of Generation Alpha in a digital context. The model integrates Biblical Formation, Christlike Character, Digital Ethical Discernment, and Transformative Christian Living. Christian education contributes to building sustainable moral steadfastness, spirituality, and digital literacy among Generation Alpha. Further research is recommended to test the model’s effectiveness through field studies and ongoing empirical approaches.AbstrakPerkembangan teknologi digital membentuk lingkungan hidup generasi alpha sejak usia dini secara signifikan. Akses informasi tanpa batas meningkatkan tantangan moral, karakter, dan spiritualitas generasi alpha kontemporer. Pendidikan Kristen diperlukan membangun integritas, tanggung jawab, discernment etis, dan karakter Kristiani berkelanjutan. Fenomena budaya digital memperkuat relativisme moral, validasi sosial, konsumerisme, dan melemahnya disiplin spiritual. Penelitian bertujuan menganalisis pendidikan Kristen sebagai landasan moral generasi alpha menghadapi realitas zaman. Penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif dengan analisis tematik, interpretasi fenomenologis, dan sintesis teologis reflektif. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan Kristen memperkuat identitas iman, karakter, dan tanggung jawab etis generasi alpha. Literasi digital, spiritualitas, dan keteladanan pendidik memperkuat ketahanan moral menghadapi perubahan budaya kontemporer. Penelitian menawarkan Christian Transformative Moral Formation Model bagi pembentukan moral generasi alpha kontekstual digital. Model mengintegrasikan Biblical Formation, Christlike Character, Digital Ethical Discernment, dan Transformative Christian Living. Pendidikan Kristen berkontribusi membangun keteguhan moral, spiritualitas, dan literasi digital Generasi alpha berkelanjutan. Penelitian selanjutnya disarankan menguji efektivitas model melalui kajian lapangan dan pendekatan empiris berkelanjutan.
Peran Gereja Dan Pelayanan Pastoral dalam Gap Generasi Johanis Metanfanuan; Fenti Elisabeth Marabi Djala; Obet Refasi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.556

Abstract

Contemporary churches face a generational gap characterised by differences in faith experiences, communication patterns, participation in ministry, and attitudes towards authority. Digital social changes are widening the divide between Generation X, Millennials and Generation Z in everyday church life. A one-size-fits-all approach to ministry risks undermining relationships, the transmission of faith, a sense of belonging, and unity within the cross-generational Christian community. This study aims to analyse the role of the church and pastoral ministry in bridging the generational gap in a contextual manner. The research employs a descriptive qualitative approach using literature review and theological thematic synthesis analysis. The findings indicate that the generational gap is an ecclesiological challenge that demands dialogue, participation and mutual learning. Intergenerational pastoral ministry strengthens relationships, the transmission of faith, participation in ministry, and the unity of a Christ-centred community. The study concludes that the church needs to reconstruct its ministry from a segregated model towards an intergenerational one that is relational and participatory. Collaborative leadership and contextual accompaniment serve as means of building the unity of the body of Christ across generations. The integration of digital spaces and face-to-face fellowship strengthens the transmission of faith and the maturity of the church community. The novelty of this research lies in the framing of the generation gap as an integrative ecclesiological and pastoral issue. The study also proposes a Christ-centred Intergenerational Pastoral Ministry Model as a framework for contemporary church ministry.AbstrakTugas gereja mengajarkan iman dari generasi ke generasi seperti perintah dalam Ulangan 6:6-7. Namun gereja kontemporer menghadapi gap generasi yang melibatkan perbedaan pengalaman iman, pola komunikasi, partisipasi pelayanan, dan relasi terhadap otoritas. Perubahan sosial digital memperkuat jarak antara Generasi X, Milenial, dan Generasi Z dalam kehidupan bergereja sehari-hari. Pelayanan seragam berpotensi melemahkan relasi, transfer iman, rasa memiliki, dan kesatuan komunitas Kristiani lintas generasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dan pelayanan pastoral dalam menjembatani gap generasi secara kontekstual. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka dan analisis sintesis tematik teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gap generasi merupakan tantangan eklesiologis yang menuntut dialog, partisipasi, dan pembelajaran timbal balik. Pelayanan pastoral intergenerasional memperkuat relasi, transfer iman, partisipasi pelayanan, dan kesatuan komunitas berpusat pada Kristus. Penelitian menyimpulkan bahwa gereja perlu merekonstruksi pelayanan dari segregatif menuju intergenerasional yang relasional dan partisipatif. Kepemimpinan kolaboratif dan pendampingan kontekstual menjadi sarana membangun kesatuan tubuh Kristus lintas generasi. Integrasi ruang digital dan persekutuan nyata memperkuat pewarisan iman serta kedewasaan komunitas gerejawi. Novelty penelitian terletak pada konstruksi gap generasi sebagai persoalan eklesiologis dan pastoral integratif. Penelitian juga menawarkan Model Pelayanan Pastoral Intergenerasional Berpusat pada Kristus sebagai kerangka pelayanan gereja kontemporer.
Teologis Manajemen Konflik Gerejawi: Upaya Rekonsiliasi Kristen dalam Kepemimpinan Hamba dan Pembangunan Kesatuan Tubuh Kristus Tanozaro Giawa; Yonas PAP
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.563

Abstract

Church conflicts not only reflect differing interests, but also test the church’s ability to uphold love, truth, reconciliation and unity when relationships break down. Conflicts rooted in differing visions of ministry, power struggles, poor communication, injustice and crises of trust can develop into polarisation and fragmentation within the community. These conditions highlight the need for a conflict management approach that goes beyond administrative resolution and is oriented towards the transformation of relationships and the restoration of church life. This study aims to formulate a theological understanding of church conflict management centred on reconciliation, servant leadership, and the building of the unity of the Body of Christ. This study employs a descriptive qualitative approach through a literature review; it can therefore be concluded that servant leadership transforms conflict management through humility, active listening, transparency, participation, justice and empowerment. Christian reconciliation takes place through the acknowledgement of wounds, repentance, forgiveness, the restoration of trust and equal acceptance. In conclusion, conflict can become a catalyst for renewal if managed in a restorative manner and oriented towards the unity of the Body of Christ. The Church needs to foster ongoing dialogue, pastoral care, and participatory post-conflict mechanisms. The novelty of this research lies in the construction of an integrated theological model that links conflict management, servant leadership, Christian reconciliation, and ecclesiology. This model positions unity as a transformational orientation that goes beyond the administrative resolution of conflict.AbstrakKonflik gerejawi tidak hanya mencerminkan perbedaan kepentingan, tetapi juga menguji kemampuan gereja memelihara kasih, kebenaran, rekonsiliasi, dan kesatuan ketika relasi mengalami keretakan. Konflik yang berakar pada perbedaan visi pelayanan, perebutan kewenangan, komunikasi buruk, ketidakadilan, serta krisis kepercayaan dapat berkembang menjadi polarisasi dan fragmentasi komunitas. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan manajemen konflik yang tidak berhenti pada penyelesaian administratif, tetapi berorientasi pada transformasi relasi dan pemulihan kehidupan gerejawi. Penelitian ini bertujuan merumuskan pemahaman teologis tentang manajemen konflik gerejawi yang berorientasi pada rekonsiliasi, kepemimpinan hamba, dan pembangunan kesatuan tubuh Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan hamba mentransformasikan pengelolaan konflik melalui kerendahan hati, pendengaran aktif, transparansi, partisipasi, keadilan, dan pemberdayaan. Rekonsiliasi Kristen berlangsung melalui pengakuan luka, pertobatan, pengampunan, pemulihan kepercayaan, dan penerimaan setara. Kesimpulannya, konflik dapat menjadi momentum pembaruan apabila dikelola secara restoratif dan berorientasi pada kesatuan tubuh Kristus. Gereja perlu membangun dialog berkelanjutan, pendampingan pastoral, serta mekanisme partisipatif pascakonflik. Novelty penelitian terletak pada konstruksi model teologis terpadu yang menghubungkan manajemen konflik, kepemimpinan hamba, rekonsiliasi Kristen, dan eklesiologi. Model tersebut menempatkan kesatuan sebagai orientasi transformasional yang melampaui penyelesaian konflik administratif.
Etika Pelayanan Bagi Pertumbuhan Iman Warga Gereja Yang Memiliki Latar Belakang Sosial Dan Spiritual Yang Beragam Indra Sigarlaki; Benny F. Ngare; Gandu Irawan; Fransisca Sung
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.555

Abstract

This article examines the ethics of church ministry in the context of the social and spiritual diversity of congregation members as a foundation for holistic faith growth. Through a theological approach and literature analysis from reputable theological journals, this study argues that ethical ministry is not merely a moralistic act, but a theological response to diversity as God's gift. The article identifies three pillars of service ethics—relational inclusivity, contextual sensitivity, and spiritual integrity—as a framework for the church in responding to congregational diversity. Findings indicate that churches that develop love-based and humble service ethics are able to foster deeper and more comprehensive faith growth amid social-spiritual plurality.AbstrakArtikel ini mengkaji etika pelayanan gereja dalam konteks keberagaman latar belakang sosial dan spiritual anggota jemaat sebagai fondasi bagi pertumbuhan iman yang holistik. Melalui pendekatan teologis dan analisis literatur dari jurnal-jurnal teologi bereputasi, penelitian ini berargumen bahwa pelayanan yang etis bukan sekadar tindakan moralistik, melainkan respons teologis terhadap keberagaman yang merupakan anugerah Allah. Artikel ini mengidentifikasi tiga pilar etika pelayanan, yaitu inklusivitas relasional, kepekaan kontekstual, dan integritas spiritual, sebagai kerangka kerja bagi gereja dalam merespon keberagaman jemaat. Temuan menunjukkan bahwa gereja yang mengembangkan etika pelayanan berbasis kasih dan kerendahan hati mampu mendorong pertumbuhan iman yang lebih dalam dan menyeluruh di tengah pluralitas sosial-spiritual.
Penginjilan Berbasis Digital dalam Perspektif Missio Dei: Relevansi Misi Paulus bagi Amanat Agung Sadikun Lie
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 2 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i2.565

Abstract

The development of digital technology has transformed patterns of human communication and opened up new avenues for the church to carry out evangelism as part of the Great Commission. This digital transformation presents significant opportunities to reach a global audience, yet simultaneously poses theological challenges, as digital evangelism is often more focused on the effectiveness of the medium than on the essence of God’s mission (Missio Dei). This study aims to analyse the relevance of Paul’s mission from the perspective of Missio Dei as a theological paradigm for the realisation of the Great Commission through digital evangelism. The study employs a qualitative method using a literature review approach. The findings indicate that Missio Dei serves as the theological foundation for digital evangelism, whereby the church is called to present the Gospel in a contextualised manner without altering the essence of Christ’s truth. The paradigm of the Apostle Paul’s mission demonstrates that adaptation to culture and media is a relevant strategy for proclaiming the Gospel in the digital age, making technology an effective mission field for reaching various generations. Indeed, digital evangelism has become a form of fulfilling the Great Commission that integrates theological and missional contextuality.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi manusia dan membuka ruang baru bagi gereja dalam melaksanakan penginjilan sebagai bagian dari Amanat Agung. Transformasi era digital tersebut menghadirkan peluang yang besar untuk menjangkau masyarakat global, namun sekaligus menimbulkan tantangan teologis karena praktik penginjilan digital sering lebih berorientasi pada efektivitas media daripada hakikat misi Allah (Missio Dei). Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi misi Paulus dalam perspektif Missio Dei sebagai paradigma teologis bagi aktualisasi Amanat Agung melalui penginjilan berbasis digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Missio Dei merupakan landasan teologis penginjilan digital, di mana gereja dipanggil untuk menghadirkan Injil secara kontekstual tanpa mengubah esensi kebenaran Kristus. Paradigma misi Rasul Paulus menunjukkan bahwa adaptasi terhadap budaya dan media merupakan strategi yang relevan bagi pemberitaan Injil di era digital, sehingga teknologi menjadi ruang misi yang efektif untuk menjangkau berbagai generasi. Bahkan penginjilan berbasis digital menjadi bentuk aktualisasi Amanat Agung yang mengintegrasikan teologis, dan kontekstualitas missioner.
Doktrin Kristologi Yang Alkitabiah Menjawab Kekeliruan Kristologi Monoteisme Pada Masa Kini Peres Nekwek; Tri Tresna Putri Lase; Suyono Suyono
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.559

Abstract

This study examines the importance of a biblical Christology in responding to contemporary Christological errors that arise from monotheistic interpretations which deny or diminish the full deity of Jesus Christ. In recent years, various theological movements and religious perspectives have challenged the orthodox Christian understanding of Christ by emphasizing a strict concept of monotheism that rejects the doctrine of the Trinity and the divine nature of Christ. Such views have created confusion among believers and have led to significant theological deviations from historic Christian faith. The purpose of this research is to analyze the biblical doctrine of Christology and demonstrate its relevance in addressing contemporary monotheistic Christological misconceptions. This study employs a qualitative theological research method through biblical exegesis, literature review, and doctrinal analysis of key Christological passages in both the Old and New Testaments. Particular attention is given to biblical texts that affirm the deity, humanity, and mediatorial work of Jesus Christ. The findings reveal that Scripture consistently presents Jesus Christ as fully God and fully man, possessing divine attributes, receiving divine worship, and accomplishing the work of redemption that only God can perform. Furthermore, the study shows that biblical monotheism does not contradict the doctrine of Christ’s deity but rather finds its fullest expression in the Trinitarian revelation of God. Therefore, a sound biblical Christology serves as an essential theological foundation for correcting contemporary Christological errors and strengthening the faith of the church in accordance with orthodox Christian doctrine.AbstrakPenelitian ini mengkaji pentingnya doktrin Kristologi yang alkitabiah dalam menjawab berbagai kekeliruan Kristologi yang muncul dari pemahaman monoteisme yang menolak atau mereduksi keilahian Yesus Kristus. Pada masa kini, berbagai gerakan teologis dan pandangan keagamaan menantang pemahaman Kristen ortodoks tentang Kristus dengan menekankan konsep monoteisme yang ketat sehingga menolak doktrin Tritunggal dan natur ilahi Kristus. Pandangan-pandangan tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan orang percaya serta mendorong munculnya penyimpangan teologis dari ajaran iman Kristen yang historis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis doktrin Kristologi yang alkitabiah serta menunjukkan relevansinya dalam menjawab berbagai kekeliruan Kristologi monoteisme pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teologis melalui eksegesis Alkitab, studi kepustakaan, dan analisis doktrinal terhadap berbagai teks Kristologi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perhatian khusus diberikan kepada bagian-bagian Alkitab yang menegaskan keilahian, kemanusiaan, dan karya penebusan Yesus Kristus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alkitab secara konsisten menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah sejati dan manusia sejati yang memiliki atribut-atribut ilahi, menerima penyembahan yang hanya layak diberikan kepada Allah, serta melaksanakan karya keselamatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa monoteisme alkitabiah tidak bertentangan dengan doktrin keilahian Kristus, melainkan mencapai penggenapannya dalam penyataan Allah Tritunggal. Oleh karena itu, doktrin Kristologi yang alkitabiah menjadi dasar teologis yang sangat penting untuk mengoreksi berbagai kekeliruan Kristologi kontemporer serta memperkokoh iman gereja sesuai dengan ajaran Kristen ortodoks.
Konstruksi Kecantikan Perempuan Muda dalam Perspektif Teologi Feminis: Studi pada Pemudi Jemaat Getsemani Lasampi Tabita Gracia Lamole
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 2 (2026): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Agustus 2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i2.570

Abstract

Modern aesthetic standards increasingly impose rigid physical expectations on women, creating a gap between societal pressure for superficial conformity and spiritual models of self-worth. To address this issue, this study aims to analyze how young women in the Gethsemane Lasampi Congregation interpret beauty amidst prevailing secular aesthetic norms, examining their perspectives through a feminist theological lens. Employing a qualitative research methodology, data was collected through in-depth interviews with five informants categorized across different age groups (late adolescence to mature adulthood). The findings reveal a significant evolution in inner consciousness across age demographics: while late adolescents (18 years old) acknowledge strong social pressure to prioritize physical appearance for social adaptation, mature adults redefine beauty as a holistic, interactional experience grounded in faith, inner peace, noble character, and altruistic actions. Crucially, this study demonstrates that Christian spiritual values function as a vital cognitive and spiritual filter against external aesthetic pressures. As its key contribution, the research highlights how the Gethsemane Lasampi Congregation operates as an inclusive "community of equals," dismantling visual discrimination and affirming women as independent spiritual subjects whose true beauty is expressed through egalitarian service and lived faith.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemudi di Jemaat Getsemani Lasampi memaknai kecantikan di tengah kepungan standar estetika modern tersebut, serta membedahnya melalui perspektif teologi feminis. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan lintas kategori usia, penelitian ini menggali bagaimana nilai-nilai spiritualitas Kristen bertindak sebagai penyaring utama terhadap gempuran definisi kecantikan Hasil penelitian mengungkapkan adanya spektrum pemikiran yang kaya dan evolusi kesadaran batin dari para narasumber. Di satu sisi, kelompok usia remaja akhir (18 tahun) mengakui adanya tekanan sosial yang kuat untuk memprioritaskan kecantikan fisik demi adaptasi pergaulan. Di sisi lain, kelompok usia dewasa matang berhasil melakukan lompatanpemikiran dengan mendefinisikan kecantikan sebagai pengalaman interaksional yang holistik—bersumber dari kedalaman iman, ketenangan batin, karakter yang luhur, serta tindakan konkret menolong sesama. Lebih lanjut, Jemaat Getsemani Lasampi terbukti mampu hadir sebagai komunitas iman yang inklusif (community of equals), di mana praktik diskriminasi visual diruntuhkan dan perempuan dirangkul secara setara sebagai subjek rohani yang mandiri dalam pelayanan berdasarkan kecantikan iman mereka.