FARMASAINKES
Jurnal FARMASAINKES: Jurnal Farmasi, Sains, dan Kesehatan dengan Nomor E-ISSN: 2807-114X (online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan sejak Agustus 2021, dengan Edisi Pertama Volume 1 Nomor 1, Agustus 2021. Jurnal FARMASAINKES terbit 2 kali setahun, setiap bulan Februari dan Agustus. Jurnal FARMASAINKES menerima artikel berupa hasil penelitian dan karya ilmiah dalam bidang Ilmu Farmasi, Sains dan Kesehatan. Jurnal FARMASAINKES adalah Jurnal Penelitian Ilmu Farmasi, Sains dan Kesehatan yang merupakan Jurnal Akses Terbuka Nasional dan Internasional, menyediakan Platform untuk melaporkan inovasi, teknologi, inisiatif, dan penerapan pengetahuan ilmiah untuk semua aspek penelitian farmasi, sains, kedokteran, klinis dan ilmu kesehatan terkait. Ruang Lingkup Jurnal FARMASAINKES meliputi aspek ilmu Farmasi, Sains dan Kesehatan: Ilmu Farmasi, Farmasi-Biologi, Farmasi-Kimia, Farmasi-Fisika, Farmakognosi, Mikrobiologi Farmasi, Penelitian Produk Alami, Pengiriman Obat Baru, Biofarmaseutika, Farmakokinetik Hewan dan Manusia, Kimia Biofisik, Kimia Farmasi Obat, Komputasi dan Desain Obat Molekuler, Pemodelan Molekuler, termasuk Desain Obat dan Strategi Prodrug, Analisis Farmasi, Biokimia, Praktek Farmasi, Teknologi Farmasi, Biologi Sel dan Molekuler, Farmasi Klinis dan Rumah Sakit, Farmakodinamik, Farmakogenomik, Imunologi, Farmakovigilans, Farmakologi Hewan Percobaan, Toksikologi, Molekuler (Genetik), Biokimia dan Seluler Farmakologi, dan Bioteknologi minat Farmasi. Juga aspek Medis, Klinis dan Ilmu Kesehatan, Anatomi & Fisiologi, Kedokteran Forensik, Genetika, Biologi Molekuler, Mikrobiologi dan Patologi, Praktik Klinis, Kedokteran Translasional, Kemajuan Medis dan Kesehatan, Kesehatan Global, Kebijakan, Kesehatan Perilaku, Ginekologi, THT, Kebidanan, Ortopedi, Oftalmologi, Pediatri, Bedah, Pengobatan Komunitas dan Kesehatan Masyarakat.
Articles
99 Documents
SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK ETANOL KECAMBAH KACANG HIJAU (Vigna radiata (L.) Wilczek) DENGAN METODE BSLT
Aris Munandar;
M Pandapotan Nasution;
Haris Munandar Nasution;
D Elysa Putri Mambang
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 2 No. 2 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (248.91 KB)
|
DOI: 10.32696/fjfsk.v2i2.1892
Kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.) berasal dari kacang hijau merupakan salah satu jenis kacang yang relatif banyak dikonsumsi masyarakat sebagai makanan fungsional. Kacang hijau berasal dari famili Fabaceae. Kacang hijau dan kecambahnya bermanfaat banyak bagi kesehatan. Kecambah kacang hijau mengandung Vitamin E sangat tinggi sehingga baik bagi peremajaan kulit dan juga membantu wanita terhindar dari kanker payudara, gangguan menstruasi dan gangguan akibat menopause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksisitas ekstrak etanol kecambah kacang hijau dan juga senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam kecambah kacang hijau. Pengujian skrining fitokimia dan evaluasi sifat digunakan pada penelitian ini. kecambah kacang hijau. Pengujian sitotoksisitas ekstrak kecambah kacang hijau menggunakan beberapa variasi konsentrasi metode Brine Shrimp Lethality Test. Hasil uji fitokimia terhadap ekstrak kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid. Hasil pengujian karakterisasi kecambah kacang hijau pada kadar air 8,66 %, kadar sari larut air 36,54%, kadar sari larut etanol 24,62 %, kadar abu total 7,655%, kadar abu tidak larut asam 1,078%. Hasil analisa probit pengujian sitotoksisitas ekstrak etanol kecambah kacang hijau dengan metode BSLT diperoleh nilai LC50 262,7241 µg/ml, dengan kategori toksik dan berpotensi sebagai antikanker.
UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN BAMBU (Dendrocalamus Asper (Schult.F.) Backer) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)
Novriani Putri Santia;
D Elysa Putri Mambang;
Minda Sari Lubis;
Yayuk Putri Rahayu
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 2 No. 2 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (202.923 KB)
|
DOI: 10.32696/fjfsk.v2i2.1893
Kanker adalah pertumbuhan sel yang ganas dan abnormal sehingga dapat merusak jaringan tubuh yang dapat menyebabkan melemahnya kondisi tubuh dan juga mengakibtkan kematian. Indonesia memiliki beragam tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pengobatan. Daun bambu (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Backer) merupakan salah satu yang dapat dimanfaatkan yang memiliki metabolit sekunder, salah satunya flavonoid. Metode BSLT digunakan dalam ini agar mengetahui sitotoksisitas ekstrak etanol daun bambu sehingga dapat dilakukan penentuan nilai LC50 Uji yang dilakukan diantaranya skrining fitokimia dan uji sitotoksisitas ekstrak daun bambu menggunakan metode BSLT. Metode BSLT dilakukan dengan cara melihat jumlah larva yang mati akibat pengaruh ekstrak dengan melihat hasil nilai LC50, konsentrasinya 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1000µg/mL. Hasil yang didapatkan dari uji skrining metabolit sekunder diketahui mengandung tanin, steroid, flavonoid, saponin dan alkaloid pada ektrak etanol daun bambu. Nilai LC50 sebesar 364.5860 µg/mL diperoleh dari uji sitotoksisitas yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bamboo berpotensi sebagai antikanker namun bersifat toksik.
ANALISIS HISTOLOGI TERHADAP KULIT TIKUS (Rattus norvegicus) YANG BERJERAWAT DENGAN PEMBERIAN SEDIAAN TOPIKAL ANTI JERAWAT
Trisha Wulan Erja;
Minda Sari Lubis
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2372
Jerawat adalah gangguan kulit berupa inflamasi kronik pada kelenjar sebaceous yang ditandai oleh adanya lesi polimorfi. Lini pertama dalam mengobati jerawat adalah menggunakan sediaan topikal. Kini sediaan topikal anti jerawat yang tersebar luas di pasaran yaitu dalam bentuk krim dan gel, namun bentuk gel lebih direkomendasikan. Tretinoin merupakan zat aktif yang memiliki sifat anti-inflamasi, sifat agen komedolitik serta meningkatkan total sel fibroblas. Sel fibroblas merupakan komponen penting terhadap proses perbaikan jaringan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan antara bentuk krim dan gel pada sediaan topikal anti jerawat yang mengandung bahan aktif tretinoin konsentrasi 0,05% terhadap proses penyembuhan jerawat sampai ke dalam jaringan dengan meningkatkan jumlah sel fibroblas. Matode yang diterapkan pada penelitian ini adalah metode eksperimental, dimana tikus putih jantan (Rattus norvegicus) sebanyak 9 ekor sebagai hewan uji yang kemudian dibagi menjadi 3 grup yaitu grup kontrol negatif, grup krim dan grup gel. Tikus diinduksi oleh suspensi koloni Stapylococus epidermidis di daerah telinga hingga timbul jerawat dan diberi perlakuan selama 21 hari sesuai dengan grupnya masing-masing. Kemudian diambil jaringan pada telinga tikus untuk dibuat preparat histologi. Analisis histologi yang dilakukan yaitu menghitung total sel fibroblas pada 4 lapang pandang. Analisa data dilakukan dengan uji Post Hoc LSD. Hasil yang diperoleh dari uji Post Hoc LSD yaitu terdapat perbedaan jumlah sel fibroblas antara grup gel dan krim yang bermakna p=0.003 (p<0,05). Kesimpulannya yaitu sediaan topikal anti jerawat bentuk gel lebih baik dalam meningkatkan jumlah sel fibroblas daripada bentuk krim.
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN GAMAL (Gliricidia sepium (Jacq.) Kunth) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes dan Escherichia coli
Dina Veranika;
D. Elysa Putri Mambang;
Gabena Indrayani Dalimunthe;
Rafita Yuniarti
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2373
Daun gamal (Gliricidia sepium (Jacq.) Kunth) mengandung senyawa fenolik dan metabolit sekunder yang memiliki efek antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang terdapat pada serbuk simplisia dan ekstrak etil asetat daun gamal, serta mengkaji potensi antibakteri ekstrak tersebut terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Escherichia coli. Teknik yang digunakan adalah teknik eksperimental yang meliputi preparasi sampel, pemeriksaan makroskopis, pemeriksaan mikroskopis, karakteristik sampel, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, dan pengujian efektivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Data dari pengukuran diameter daya hambat dianalisis secara statistik dengan Uji ANOVA, dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Duncan. Hasil pemeriksaan makroskopis menunjukkan daun berwarna hijau tua, lonjong, pangkal membulat, ujung runcing, panjang 7–9 cm dan lebar 3–4 cm. Hasil pemeriksaan mikroskopis serbuk simplisia menunjukkan kristal kalsium oksalat berbentuk prisma, rambut penutup uniseluler dan stomata anisositik. Hasil karakteristik simplisia menunjukkan kadar air 8%, kadar sari larut air 29,78%, kadar sari larut etanol 19,9%, kadar abu total 3,9%, dan kadar abu tidak larut asam 1,4%. Skrining fitokimia positif adanya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan glikosida. Hasil uji efektivitas antibakteri ekstrak etil asetat menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 70%, 80%, 90%, dan 100% merupakan konsentrasi yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes, dan konsentrasi 80%, 90%, dan 100% merupakan konsentrasi yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, dengan nilai signifikansi p=0,006 (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak etil asetat daun gamal memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Propionibacterium acnes dan Escherichia coli.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KULIT DAUN, EKSUDAT, DAN DAGING DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) Burm.f.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis
Sri Ria Ranti;
Minda Sari Lubis;
Haris Munandar Nasution;
Rafita Yuniarti
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2374
Lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat karena semua bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan baik untuk perawatan tubuh maupun untuk mengobati berbagai penyakit yang saat ini banyak digunakan sebagai antibakteri untuk melawan bakteri penyebab infeksi pada kulit salah satunya bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kulit daun, eksudat dan daging daun lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Metode Penelitian ini adalah metode eksperimental. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram yang meliputi penyiapan sampel, identifikasi bakteri, pembuatan larutan uji, dan uji aktivitas antibakteri kulit daun, eksudat, dan daging daun lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif berupa diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit daun lidah buaya pada konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25% dan 50% termasuk kategori resistant (lemah). Eksudat lidah buaya pada konsentrasi 6,25% tidak ada zona hambat, dan konsentrasi 12,5%, 25%, 50% termasuk kategori resistant (lemah), sedangkan daging daun lidah buaya konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25% dan 50% termasuk kategori resistant (lemah). Dapat disimpulkan bahwa kulit daun, eksudat dan Daging daun lidah buaya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FORMULASI SEDIAAN GEL ANTIJERAWAT EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP BAKTERI Cutibacterium acnes
Nadia Salsabilla;
Yayuk Putri Rahayu;
D. Elysa Putri Mambang;
Minda Sari Lubis
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2375
Biji pepaya (Carica papaya L.) merupakan bagian tanaman dari pepaya yang jarang dimanfaatkan. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa biji pepaya dapat digunakan sebagai antimikroba karena mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Cutibacterium acnes merupakan salah satu bakteri aneorob gram positif yang dapat menyebabkan timbulnya peradangan jerawat. Sediaan gel dalam penggunaan obat antijerawat digunakanan karena pelarut lebih polar, mudah dibersihkan dari permukaan kulit dan tidak mengandung minyak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak biji pepaya dapat diformulasikan menjadi gel antijerawat dan mengetahui daya hambat sediaan gel terhadap pertumbuhan bakteri C. acnes. Ekstrak etanol biji pepaya dibuat menggunakan metode perkolasi dan diformulasikan menjadi gel antijerawat dengan variasi konsentrasi F1 (5%), F2 (7,5%) dan F3 (10%). Sediaan gel antijerawat kemudian dilakukan evaluasi fisik dengan uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya lekat, uji daya sebar, uji iritasi, uji kelembaban kulit, dan uji sineresis. Uji aktivitas antibakteri sediaan gel terhadap C. acnes. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji pepaya dapat diformulasikan menjadi sediaan gel, memiliki aroma khas biji pepaya, homogen, rentang pH 5,2-6,8, memiliki nilai viskositas, nilai daya sebar, dan nilai daya lekat yang baik, tidak mengiritasi, dapat melembabkan kulit, dan tidak terjadi sineresis selama pengujian. Sediaan gel memiliki aktivitas antibakteri terhadap C. acnes, yaitu konsentrasi 5% (17,73 mm), konsentrasi 7,5% (24 mm), konsentrasi 10% (24,96 mm) dengan interpretasi zona hambatnya masuk kedalam kategori resisten mendekati sensitif.
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MURBEI (Morus alba L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli
Dewi Firmayani;
D. Elysa Putri Mambang;
Rafita Yuniarti;
Muhammad Pandapotan Nasution
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2376
Secara alami, Indonesia merupakan rumah bagi tanaman Murbei (Morus alba L). Alkaloid, flavonoid, serta polifenol adalah bahan aktif utama murbei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa metsbolit sekunder yang terdapat dalam simplisia, ekstrak etamol daun murbei (Morus alba L.) Dan untuk mengethaui efektivitas antibakteri ekstrak etanol daun murbei (Morus alba L.) Terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental seperti pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, pemeriksaan karakteristik, sktining fitokimia, pengujian efektivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Melalui pemeriksaan makroskopis daun murbei ditemukan warna daun murbei segar berwarna hijau, berbentuk lonjong sampai hati, ujung meruncing, tepi bergerigi, tulang menyirip sedikit menonjol, permukaan atas dan bawah kasar, panjang 12 cm dan lebar 9 cm. Berdasarkan analisis mikroskopis, daun murbei mengandung kristal kalsium oksalat. Hasil penetapan kadar air simplisia daun murbei diperoleh 2,6%, penetapan kadar sari larut air serbuk simplisia 11,01%, kadar sari larit etanol 10,7%, penetapan kadar abu total 10,73%, kadar abu tidak larut asam 4,3%. Skrining fitokimia serbuk dan ekstrak simplisia daun murbei menunjukan adanya kandungan Alkaloid, Flavonoid, Tanin, Saponin, Steroid, dan Glikosida. Hasil uji efektivitas antibakteri ekstrak etanol daun murbei (Morus alba L.) Zona hambat bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 70, 80, 90, dan 100% didapatkan rata-rata zona hambat 13,91, 13,95, 14,51 dan 16 mm.. Untuk daya hambat bakteri Escherichia coli dengan konsentrasi 70, 80, 90 dan 100% didapatkan rata-rata zona hambat 13,6, 14,05, 14,53 dan 16,3 mm.
ISOLASI AMILOPEKTIN DARI PATI JAGUNG (Zea Mays L) YANG BERPOTENSI SEBAGAI FILM COATED PADA TABLET
Siti Anisa;
Gabena Indrayani Dalimunthe;
Minda Sari Lubis;
Rafita Yuniarti
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2377
Pati yaitu polisakarida yang termasuk karbohidrat yang terkandung dalam sel-sel tanaman. Pati mengandung amilosa dan amilopektin, dimana amilopektin dapat digunakan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan film coated atau pelapis permukaan seperti tablet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi amilopektin dari pati jagung (Zea Mays L) berdasarkan karakteristiknya dan melalui uji iodin dan melihat dari gugus yang dihasilkan dengan menggunakan spektrofotometer IR. Berdasarkan dari hasil organoleptiknya yaitu berbentuk serbuk, berwarna putih dan tidak berbau sesuai syarat SNI 3451:2011, kadar abu total 0,9% masih memenuhi syarat MMI edisi VI, hasil uji iodin berwarna merah violet dan hasil analisis gugus menggunakan FTIR terdapat tiga gugus fungsi utama yang merupakan karakteristik dari amilopektin yaitu C-H, O-H dan C=O. Kesimpulannya serbuk yang dihasilkan merupakan serbuk amilopektin yang diisolasi dari pati jagung.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SEDINGIN (Kalanchoe pinnata (Lam) Pers) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium
Nofa Lismandaria;
D. Elysa Putri Mambang;
Haris Munandar Nasution;
Yayuk Putri Rahayu
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2378
Daun sedingin (Kalanchoe Pinnata (Lam) Per) merupakan tanaman obat yang sering digunakan oleh masyarakat di Sumatra, di Aceh. Daun sedingin memiliki khasiat sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sedingin (Kalanchoe Pinnata (Lam) Per) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan meliputi pengumpulan sampel, pemeriksaaan makroskopik, pemeriksaan mikroskopik, pembuatan simplisia, pemeriksaan karakteristik, skrining fitokima, pembuatan ekstrak etanol, selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium dengan metode difusi agar. Hasil pemeriksaan karakteristik makroskopik memberikan hasil bentuk daun bersudut empat, permukaan luas, warna hijau, bau khas dan rasa agak pahit. Hasil pemeriksaan mikroskopik, ditemukan fragmen hablur kalsium oksalat bentuk prisma, perenkim dengan hablur kalsium oksalat, parenkim dengan berkas pembuluh, epidermis bawah dengan stomata, dan epidermis atas dengan stomata. Hasil karakteristik simplisia diperoleh kadar air 2%, kadar sari larut dalam air 59,9%, kadar sari larut dalam etanol 13,5%, kadar abu total 3,6%, dan kadar abu tidak larut asam 1,33%. Skrining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, dan glikosida. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sedingin pada bakteri Staphylococcus aureus memiliki diameter zona hambat lebih besar pada konsentrasi 100% dan 75% dibandingkan pada kosentrasi 25% dan 50% yaitu 6,35, dan 7,35 mm. Salmonella typhimurium pada konsentrasi 100%, dan 75% memiliki zona hambat lebih besar dari pada konsentrasi 25, dan 50% yaitu 7,58 dan 14,19 mm. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstral etanol daun sedingin memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium.
PERBANDINGAN DAYA HAMBAT TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus epidermidis ANTARA SERBUK SIMPLISISA KULIT DAUN & DAGING DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera(L.)Burm.f)
Alma Dhita Shafira;
Minda Sari Lubis;
Gabena Indrayani Dalimunthe;
D. Elysa Putri Mambang
FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS, dan KESEHATAN Vol. 3 No. 1 (2023): FARMASAINKES: JURNAL FARMASI, SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32696/farmasainkes.v3i1.2379
Bakteri Staphylococcus epidermidis merupakan satu dari tiga spesies bakteri gram positi Staphylococcus yang sering dijumpai. Staphylococcus epidermidis adalah flora normal pada kulit, saluran napas, dan saluran cerna manusia. Salah satu tanaman yang memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri yaitu tanaman lidah buaya (Aloe vera L.)Burm.f Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan daya hambat antara serbuk simplisia kulit daun dan daging daun lidah buaya terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian ini adalah metode eksperimental, dengan melakukanerbandingan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis antara serbuk simplisia kulit daun dan daging daun lidah buaya (Aloe vera (L.)Burm.f.,. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif berupa diameter zona hambat. enelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat memaparkan, menguraikan serta untuk mendapatkan gambaran daya hambat serbuk simplisia kulit daun dan daging daun lidah buaya terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa serbuk simplisia kulit daun lidah buaya pada konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% termasuk kategori resistant (lemah). Begitu juga serbuk simplisia daging daun lidah buaya pada konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% termasuk kategori resistant (lemah) dan serbuk simplisia keseluruhan bagian daun lidah buaya pada konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25% juga termasuk kategori resistant (lemah) sedangkan konsentrasi 50% termasuk kategori intermediate (sedang). Dapat disimpulkan bahwa serbuk simplisia kulit daun, daging daun serta kombinasi kulit dan daging daun lidah buaya memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dan hanya sampel kombinasi kulit dan daging daun lidah buaya dengan konsentrasi 50% yang memiliki daya hambat terbesar.