cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 324 Documents
BENIGN FIBROUS HISTIOCYTOMA MULTIPLE PADA REGIO LENGAN BAWAH DENGAN KONFIRMASI HISTOPATOLOGIS: LAPORAN KASUS: Laporan Kasus Sukmawati Tansil Tan; Cornelia Kartika Matthew; Fanny Chandra; Dayanto Indro Utomo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.611

Abstract

   Pendahuluan: Benign fibrous histiocytoma (BFH) merupakan neoplasma dermis jinak yang berasal dari proliferasi sel fibroblastik dan histiositik, dengan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi. Bentuk multipel jarang dijumpai dan sering menimbulkan kesulitan diagnosis karena kemiripan morfologinya dengan berbagai dermatosis lain. Kasus: Seorang perempuan berusia 56 tahun datang dengan keluhan papul multipel pada kedua lengan bawah yang bertambah jumlah dan ukuran dalam kurun waktu tiga bulan, disertai pruritus ringan. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan papul multipel, diskret, permukaan licin, berukuran milier hingga lentikuler, dengan distribusi simetris pada antebrachii bilateral. Diagnosis banding klinis meliputi veruka plana, veruka vulgaris, dan moluskum kontagiosum. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan epidermis hiperkeratotik dan akantotik, serta proliferasi sel bulat hingga spindel di dermis dengan pola storiform, tanpa atipia inti maupun aktivitas mitosis, yang sesuai dengan BFH. Diskusi: Gambaran klinis BFH multipel dapat menyerupai berbagai lesi papular jinak, sehingga diagnosis sulit ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis saja. Pada kasus ini, morfologi klinis dan gambaran histopatologi berperan penting dalam memastikan diagnosis BFH serta membedakan dari lesi fibrohistiositik lain, khususnya dermatofibrosarcoma protuberans. Simpulan: Benign fibrous histiocytoma multipel merupakan kondisi yang jarang dan dapat menyerupai berbagai dermatosis lain secara klinis. Pemeriksaan histopatologi memiliki peranan penting dalam menegakkan diagnosis definitif serta menyingkirkan kemungkinan keganasan, sehingga mendukung penatalaksanaan yang tepat.
LAPORAN KASUS: PERTIMBANGAN TATALAKSANA KONDILOMA AKUMINATA PADA KEHAMILAN Umi Miranti; Clarissa Izza Gelsanda; Vanya Oxalita Asan Putri; Fitri Intani Mahsin; Sepdiana Warda Nur Rohmah; Roikhanatul Jannah; Naufal Ahmad Syafiiqi Attabriizi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.617

Abstract

   Pendahuluan: Kondiloma akuminata merupakan penyakit menular seksual akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 6 dan 11 yang bersifat non-onkogenik. Pada kehamilan, lesi dapat tumbuh lebih cepat, lebih besar, atau multipel karena imunosupresi fisiologis serta perubahan hormonal terutama estrogen dan progesteron. Kasus: Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan usia kehamilan 28 minggu mengeluhkan benjolan pada kemaluan disertai bau tak sedap dan keputihan sejak 3 bulan yang lalu. Status dermatologis menunjukkan papul eritema multipel bertangkai, konfluens, membentuk cauliflower-like appearance, lembap, berukuran 7 cm x 3 cm pada regio labia minora hingga menutupi vagina. Terapi asam trikloroasetat (TCA) 80–90% mingguan tidak memberikan respons bermakna. Persalinan dilakukan secara sectio caesarea pada usia kehamilan 38 minggu, dilanjutkan bedah eksisi dan elektrokauterisasi empat minggu pascasalin dengan hasil baik tanpa komplikasi. Kondisi janin sebelum, selama, dan setelah terapi dalam keadaan baik. Diskusi: Resistensi terhadap TCA dipengaruhi oleh ukuran lesi dan tingginya hormon gestasional yang memacu proliferasi epitel sehingga bedah eksisi dan elektrokauterisasi menjadi pilihan terapi terbaik. Sectio caesarea dipilih atas indikasi obstetrik, yaitu risiko obstruksi jalan lahir dan perdarahan. Simpulan: Asam trikloroasetat dapat menjadi pilihan yang aman selama kehamilan, sedangkan bedah eksisi dan elektrokauterisasi pascasalin dapat dipertimbangkan sebagai terapi definitif pada lesi yang resisten.
Hubungan Pemahaman Mahasiswa FK UMSU Terhadap Klaim ‘Dermatologically Tested’ dengan Perilaku Pemilihan Produk Perawatan Kulit Tika Permata Sari; Arridha Hutami Putri
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.623

Abstract

   Pendahuluan: Klaim “Dermatologically Tested” sering digunakan dalam produk skincare untuk menunjukkan keamanan, namun belum ada regulasi yang jelas mengenai klaim ini. Mahasiswa kedokteran, sebagai calon tenaga medis, perlu memahami klaim tersebut untuk membuat keputusan pembelian yang lebih kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemahaman mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara terhadap klaim “Dermatologically Tested” dengan perilaku pemilihan produk perawatan kulit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 129 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji Fisher’s Exact Test untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil: Sebagian besar mahasiswa (82,2%) memiliki pemahaman sedang terhadap klaim “Dermatologically Tested”. Dalam hal perilaku pemilihan produk, 81,4% mahasiswa menunjukkan perilaku tidak impulsif. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pemahaman dengan perilaku pemilihan produk (p= 0,005). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman mahasiswa Fakultas Kedokteran UMSU terhadap klaim “Dermatologically Tested” dengan perilaku pemilihan produk perawatan kulit. 
IKTIOSIS LAMELAR EKSTENSIF DAN TERLAMBAT DIAGNOSIS: SEBUAH LAPORAN KASUS Nuriasani Yukendri; Dina Evyana; Rizki Hanriko
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.640

Abstract

   Pendahuluan: Iktiosis lamelar (IL) merupakan bentuk iktiosis non-sindrom herediter dalam kelompok autosomal recessive congenital ichthyosis (ARCI) yang jarang, dengan prevalensi sekitar 1:300.000. Laporan ini menyajikan satu kasus IL yang ekstensif pada pasien dewasa muda untuk memperlihatkan manifestasi klinis dalam kondisi terlambat didiagnosis dan terabaikan, dengan stigma sosial yang menyertainya. Kasus: Seorang perempuan berusia 20 tahun pascapersalinan dirujuk ke departemen dermatovenerologi dengan plak hiperpigmentasi generalisata dan skuama hiperkeratotik berbentuk lempengan menyerupai sisik ikan. Riwayat lahir menyerupai membran kolodion yang kemudian menghilang dan menjadi skuama besar, tebal, dan kehitaman. Histopatologi menunjukkan hiperkeratosis, parakeratosis, keratotic plugging, dan infiltrasi limfosit, mendukung diagnosis IL. Diskusi: Meskipun kelainan muncul sejak lahir, pasien tidak mendapat terapi karena keterbatasan sosial ekonomi, pendidikan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan diagnosis, gangguan aktivitas, serta stigma sosial hingga pasien putus sekolah. Simpulan: Diagnosis IL idealnya dikonfirmasi dengan uji genetik, namun pada fasilitas terbatas dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan histopatologi. Keterlambatan diagnosis berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan psikologis. Deteksi dini, terapi suportif, dan pendekatan psikososial penting untuk mencapai prognosis yang lebih baik.