Journal Physical Therapy UNISA
Journal of Physical Therapy UNISA publishes scientific articles as a tool for fellow academics and professional practitioners in exploring and developing knowledge, skills, and attitudes in various efforts to provide services in the broader health sector build uponscientific data and evidence based. These efforts are expected to increase knowledge in the field of Physical therapy and other professional health professions. Journal of Physical Therapy UNISA publishes scientific articles from research which contain primary or secondary data, literature reviews and systematic reviews, quantitative, qualitative and integrated methods research. The scope of Journal Physical Therapy UNISA is a research related to Physical therapy field, following these aspects: Musculoskeletal Cardiorespiratory Women’s Health Paediatric Geriatric Sport Neuromuscular Electrophysical Agents Occupational Health and Ergonomic
Articles
60 Documents
Manajemen fisioterapi stiff knee ec post arthrotomy dan debridement gonitis dextra: a case report
Mutiara, Farrah Rizky;
Fatmarizka, Tiara;
Larasati, Prihantoro
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3047
Tuberkulosis dapat menyerang bagian tubuh manapun, salah satunya yaitu tuberculosis bone atau infeksi bakteri tuberkulosis yang menyerang bagian tulang dan sendi terutama pada sendi lutut yang biasa di sebut gonitis. penyebaran dapat terjadi dengan 2 cara yaitu dengan penyebaran hematogen (melalui dalam darah) dapat melalui sinovial atau subkondral (femur distal, tibia proksimal, atau patella), bisa juga dengan penyebaran secara tidak langsung yang disebabkan karena rusaknya area tulang bagian epifisis (pada orang dewasa) atau metafisis (pada anak-anak) yang menyebabkan erosi pada ruang sendi dan menjadi radang sendi. Studi kasus ini bertujuan untuk melaporkan kasus klinis tuberkulosis lutut (gonitis) untuk mendukung penegakkan diagnosis tuberkulosis sendi secara tepat. Metode studi kasus ini berupa analitik eksperimental. Sampel penelitian dengan seorang penderita Gonitis dengan Stiff Knee di Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Prof.Dr. Soeharso Surakarta. Pengukuran menggunakan metline sebagai alat ukur antropometri, Goniometer sebagai alat ukur lingkup gerak sendi dan KOS-ADL sebagai alat ukur kemampuan fungsional pasien. Program fisioterapi dilakukan dengan TENS, Cryotherapy dan Terapi Latihan berupa Strengthening. Hasil program menunjukkan modalitas fisioterapi yang diberikan terprogram efektif memperbaiki kelemahan otot, inflamasi dan nyeri pada pasien serta dapat mengurangi gangguan fungsional pasien.
Penatalaksanaan fisioterapi pada osteoarthritis knee bilateral dengan metode hold dan contrac relax case report
La Boane, La Almahdi;
Setiawan, Danur;
Rahim, Anita Faradila
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3072
Osteoarthritis (OA) merupakan kerusakan sendi (kartilago) secara progresif oleh faktor degeneratif, obesitas, traumatic dan arthritis itu sendiri. OA dapat terjadi pada siapa saja, dan umumnya akan dialami oleh lansia terutama wanita yang disebabkan oleh penurunan hormon estrogen sehingga menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi dan metabolisme pada tubuh. Nyeri pada lutut biasanya akan bertambah jika terjadi pembebanan berlebihan pada sendi oleh faktor obesitas ataupun tingginya aktivitas seperti berdiri dalam jangka waktu lama, naik serta turun tangga. Secara umum penderita OA lutut dengan keluhan nyeri biasanya dialami oleh individu yang memiliki kondisi obesitas ataupun memiliki aktivitas yang tinggi bahkan pada beberapa kondisi keluhan nyeri bisa disebabkan oleh kombinasi keduanya. Secara fisiologis ketika penderita OA lutut mengalami nyeri hal tersebut akan berbanding lurus dengan penurunan mobilitas. Metode Penelitian ini merupakan case report yang dilakukan di RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Pada artikel ini dilakukan, pemeriksaan hingga pemilihan intervensi yang disesuaikan dengan hasil yang telah didapatkan. Bentuk pemeriksaan dan pengukuran yang dilakukan diantaranya: nyeri (Numeric Pain Rating Scale). Hasil : Setelah dilakukan intervensi fisioterapi didapatkan hasil adanya penurunan nyeri secara signifikan, disertai meningkatnya mobilitas setelah diberikan exercise hold relax dan contract relax. Kesimpulan : Pemberian intervensi hold relax dan contract relax sebanyak 2 kali seminggu dengan kontraksi otot selama 8 detik memberikan dampak yang signifikan terutama pada penurunan onset nyeri. Memanfaatkan metode hold relax dengan Golgi Tendon Organs (GTO) dan contrac relax melalui Muscle Spindle Organs (MSO) selain memberikan efek pada penurunan nyeri juga dapat menjadi garansi pemanjangan otot hingga menunjang peningkatan mobilitas.
Efektivitas core stability menurunkan nyeri pada myofascial low back pain
Yani, Fitri
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3073
Nyeri punggung bawah adalah masalah nyeri musculoskeletal yang umum dialami pada tiap pekerja dengan kegiatan yang bersifat statis. Salah satu yang banyak ditemukan nyeri pinggang pada pekerja adalah kasus myofascial low back pain. Myofascial Low Back Pain Syndrome adalah permasalahan pada fascia dan otot paravertebral regio lumbal dengan didapatkan adanya trigger point yang timbul dari taut band yang berbentuk seperti jalinan tali dan lunak ketika dipalpasi. Salah satu intervensi yang dapat diberikan untuk masalah nyeri pada kasus ini adalah latihan core stability. Latihan ini sangat bisa dilakukan secara mandiri namun masih banyak penderita Myofascial low back pain belum mengetahui maupun tidak tahu cara melakukan latihan dengan benar. Indonesia sendiri belum ada penelitian lebih lanjut terkait keefektifan latihan Core stability pada kondisi Myofascial low back pain. Tujuan penelitian: untuk membuktikan apakah latihan core stability efektif untuk menurunkan tingkat nyeri pada penderita Myofascial low back pain pada pembatik. Metode penelitian menggunakan desain experimental dengan pre-test dan post test grup selama 4 minggu dengan dosis intervensi 3 kali dalam seminggu dengan jumlah sampel 10 pembatik positif menderita myofascial low back pain. Pengukuran nyeriImenggunakan Visual analogue scale dan dengan cara mengukur nyeri sebelum dan sesudah intervensi. Sampel dengan kriteria inklusi positif nyeri Myofascial low back pain dan kriteria eksklusi diantaranya subjek memiliki kelainan fraktur clavicula atau vertebra. Hasil: Terjadi penurunan nyeri sebelum dan sesudah intervensi dengan selisih 3,76±0,65 (P=0,000) Kesimpulan: Core stability exercise efektif untuk menurunkan nyeri Myofascial low back pain pada pembatik Giriloyo. Peneliti memberikan edukasi kepada pembatik untuk bisa mengulang latihan core stability.
Pemberian Nerve dan Tendon Gliding Exercise efektif terhadap penurunan keluhan pada Pasien Carpal Tunnel Syndrome (CTS): A critical review
Nasrullah, Nasrullah;
Pristianto, Arif;
Zam Zami, Muhammad Dimas;
Yuningsih, Dwi
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3097
Latar Belakang: Tangan jika digunakan secara berlebihan dan berlangsung lama dapat mengakibatkan terjadinya keluhan. Salah satu kondisi yang bisa terjadi adalah CARPAL TUNNEL SYNDROME Â (CTS). CTS merupakan kumpulan indikasi serta ciri penyakit yang diakibatkan oleh terjepitnya saraf median di terowongan karpal pada pergelangan tangan. CTS ini ditandai dengan indikasi mati rasa, nyeri, serta kelemahan pada tangan akibat penekanan pada saraf medianus. Salah satu modalitas yang bisa diberikan pada pasien dengan CTS adalah nerve dan tendon gliding exercise. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan nerve dan tendon gliding exercise dalam menurunkan keluhan bagi pasien CTS. Metode: Melakukan critical review pada delapan artikel Randomized Controlled Trial (RCT) terpilih, dengan ketentuan artikel Quartile 1 sampai 3. Hasil: Nerve dan tendon gliding exercise cocok digunakan pada kondisi CTS ringan, sedang dan pasca operasi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil studi critical review terhadap delapan artikel terpilih, pemberian nerve dan tendon gliding exercise efektif dalam menurunkan keluhan seperti nyeri, meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan aktivitas fungsional pada pasien CTS.
Hubungan Score Agility dan Flexibility Ankle terhadap resiko cedera pergelangan kaki pada sekolah sepak bola laki-laki kategori kanak-kanak
Sari, Dewi Yulia;
Ratna Ningrum, Tyas Sari;
Jamil, Shofhal
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3237
Latar Belakang: Cedera olahraga merupakan cedera yang dapat terjadi pada waktu latihan maupun pertandingan. Salah satu cedera yang dialami adalah cedera pergelangan kaki. Untuk mengurangi cedera harus memahami resiko terjadinya cedera pergelangan kaki. Faktor yang menyebabkan diantaranya adalah score agility dan flexibility ankle. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan score agility dan flexibility ankle terhadap resiko cedera pergelangan kaki pada sekolah sepak bola laki-laki kategori kanak-kanak. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik yang menjelaskan adanya hubungan antara variabel melalui pengujian hipotesa. Pendekatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Sampel yang digunakan ialah siswa sekolah sepak bola laki-laki kategori kanak-kanak sebanyak 47 orang dengan teknik accidental sampling.. Hasil: Hasil uji statistik menggunakan uji spearman rank diperoleh hubungan untuk score agility terhadap resiko cedera pergelangan kaki dengan nilai koefisien korelasi sebesar <.0.001 Â Â dan pada flexibility ankle terhadap resiko cedera pergelangan kaki dengan nilai koefisien korelasi sebesar <.0.001. Karena nilai koefisien korelasi <0.050 maka terdapat hubungan antara score agility dan flexibility ankle terhadap resiko cedera pergelangan kaki pada sekolah sepak bola laki-laki kategori kanak-kanak. Kesimpulan: Ada hubungan score agility dan flexibility ankle terhadap resiko cedera pergelangan kaki pada sekolah sepak bola laki-laki kategori kanak-kanak. Saran : Peneliti berharap peneliti selanjutnya dapat mencari informasi dan faktor-faktor lain mengenai resiko cedera pergelangan kaki yang lain.
Pengaruh shadow training dan ladder drill terhadap kecepatan Pemain Bulutangkis
Sanjaya, Putra;
Dyah, Warih Anjari;
Amarseto, Binuko
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3301
Cabang olahraga bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat digemari di kalangan segala usia. Adapun permainan ini memerlukan Teknik, strategi dan diimbangi dengan kemampuan fisik untuk dapat memenangkan sebuah pertandingan. Beberapa komponen fisik yang diperlukan dalam permainan bulutangkis diantaranya kecepatan dimana kecepatan terbentuk dari kekuatan, daya ledak dan keseimbangan, ada beberapa latihan yang dapat membentuk kecepatan salah satunya shadow training dan ladder drill. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh dan beda pengaruh shadow training dan ladder drill terhadap kecepatan pemain bulutangkis di PB Catur Sari Sukoharjo. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen dengan desain two-group pretest-posttest dengan jumlah sampel sebanyak. Pengukuran kecepatan menggunakan test lari 40 meter. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan p value = 0,002 dimana <0,05 pada shadow training sedangkan pada ladder drill didapatkan 0,018 dimana <0,05 yang berarti terdapat pengaruh shadow training dan ladder drill terhadap kecepatan pemain bulutangkis. Berdasarkan hasil uji Paired sample T-test p>0,05 menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecepatan pemain bulutangkis setelah diberi Shadow training dan ladder drill dilihat dari uji -t. Selain itu melalui uji independent sample t-test, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengaruh latihan shadow training dengan latihan ladder drill dalam peningkatan kecepatan pada pemain bulutangkis PB. Catur Sari di Gor Graha Cipta Wahana Sukoharjo.
Identifikasi masalah ergonomi pada industri Dodol Betawi Hernawati
Anniza, Meiza;
Defanera, Raihasih Imtinaniyah;
Gumelar, Elar
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3308
Keluhan yang sering dialami banyak orang baik remaja, dewasa maupun usia lanjut tidak hanya luput dari kesehatan saja tetapi juga mengalami keluhan pada muskuloskeletal. Aktifitas fisik yang dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan cedera. Umumnya cedera tersebut dilakukan akibat pergerakan berulang sehingga menyebabkan terjadinya penekanan pada jaringan. Terutama pada pembuat dodol betawi yang melakukan gerakan secara berulang-ulang. Pekerja menyatakan bahwa pada saat pembuatan dodol terjadi gerakan tidak alamiah selama aktivitas berkepanjangan, serta stasiun kerja yang kurang mendukung terhadap berlangsungnya proses bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah ergonomi pada rumah industri dodol betawi di Cinangka Depok. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sarana identifikasi masalah ergonomi yang tepat pada industri ini serta mengetahui pencegahan yang tepat khususnya di bidang industry. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang mempunyai karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif serta makna merupakan hal yang esensial. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti menemukan tema- tema budaya. Berdasar pada temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.
Perbedaan pengaruh Swiss Ball Exercise dan Klapp Exercise terhadap keseimbangan penderita scoliosis pada remaja usia 16-19 tahun
Hilmiati, Hilmiati;
Fitri Yani, Fitri Yani
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3311
Latar belakang: Skoliosis idiopatik sering terjadi pada remaja usia 16-19 tahun diakibatkan karena pada usia tersebut remaja sedang mengalami masa pertumbuhan struktural tulang belakang serta dapat dilihat dari aktivitas sehari-hari remaja tersebut, dimana pada usia tersebut setiap hari mereka pergi sekolah dan duduk dalam waktu yang lama,dimana sikap duduk yang tidak tepat dan dalam jangka waktu yang lama serta pembawaan beban berlebih menggunakan tas setiap hari dapat menyebabkan ketegangan otot dan mempengaruhi postur tulang belakang sehingga terjadi scoliosis yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh swiss ball exercise dan klapp exercise terhadap keseimbangan penderita skoliosis pada remaja usia 16-19 tahun. Metode : penelitian ini dilakukan dengan penelitian eksperimental semu (quasi eksperimental) dengan rancangan penelitiannya pre test and post test two grup design dengan membandingkan antara kelompok perlakuan diberikan swiss ball exercise dan klapp exercise . Sampel penelitian diambil dengan Teknik pusposive sampling ,sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 1 Sanden Bantul yang berjumlah 24 orang. Intervensi dilakukan 3 kali seminggu selama 5 minggu. Hasil:Uji perbedaan dalam meningkatkan keseimbangan penderita scoliosis sebelum dan sesudah intervensi swiss ball exercise dan klapp exercise menggunakan uji paired samples T-test pada hipotesis I dan II didapatkan nilai p 0,000 sehingga terdapat pengaruh pada kedua intervensi. Hasil uji perbedaan pengaruh intervensi yang diberikan dilakukan dengan uji independent t-test, didapatkan nilai p 0,402 sehingga tidak ada perbedaan pengaruh pada kedua intervensi tersebut. Simpulan: Terdapat pengaruh pada kedua intervensi dan tidak ada perbedaan pengaruh antara swiss ball exercise dan klapp exercise dalam meningkatkan keseimbangan pada penderita scoliosis.
Pengaruh Micro Wave Diathermy terhadap penurunan nyeri pada Osteoarthritis Genu
Al Hazmi, Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom;
Yuliana, Sri
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 2 (2023): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3320
Kemajuan IPTEK atau perkembangan digital semakin maju sekarang ini, memberi kemudahan orang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya tanpa banyak bergerak, kondisi tersebut kerap dijumpai dewasa ini. Dengan begitu kecendrungan seseorang mengalami osteoarthritis karena pola hidup tidak sehat sering dijumpai. Faktor tersebut akan akan berakibat pada perkembangan penyakit yang dialami masyarakat disebabkan oleh karena faktor biologis, fisik, kimiawi maupun proses degeneratif. Pada kasus osteoarthritis sering juga disebut sebagai penyakit degenaratif. Fisioterapi dalam hal ini akan melihat sejauhmana efek pemberian micro wave diathermy pada kasus osteoarthritis genu dalam mengurangi nyeri. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian randomized pre and post test group design. Sampel pada penelitian ini sebanyak 10 orang yang mengalami permasalahan osteoarthritis genu dan merasakan nyeri. Usia sampel pada penelitian ini adalah 40-60 tahun. Test yang digunakan untuk mengambil data nyeri pada penelitian ini adalah dengan visual analog scale / VAS. Dimana sampel diukur nilai VAS nya sebelum (0-session) dan setelah perlakuan (6 session) pada masing-masing subyek. Didapatkan hasil rata-rata VAS pada sampel mengalami penurunan nyeri yang sangat signifikan.
Penatalaksanaan fisioterapi pada keterbatasan aktivitas fungsional pada carpal tunnel syndrome: a case report
Ni Made Ayu Sari Dewi;
Made Hendra Satria Nugraha;
Kadek Arya Wiguna
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31101/jitu.3472
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan kondisi neuropati yang disebabkan oleh kompresi pada terowongan karpal sehingga menekan saraf medianus dan menyebabkan penurunan fungsi dari saraf medianus. Faktor risiko terjadinya CTS yaitu kehamilan, pekerjaan yang mengandalkan pergelangan tangan dan pekerjaan berbasis komputer. Selain itu CTS juga dapat disebabkan akibat cedera pada pergelangan tangan, trauma jaringan lunak maupun patah tulang. Rehabilitasi fisioterapi menggunakan elektroterapi, ultrasound, terapi latihan dan manual terapi yang dapat membantu dalam pemulihan nyeri, kekuatan otot dan range of motion (ROM). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada Carpal Tunnel Syndrome terhadap nyeri, kekuatan otot, serta peningkatan ROM wrist. Metode penelitian studi kasus ini dilakukan pada seorang pasien Carpal Tunnel Syndrome di RSUD Bali Mandara. Problematika yang dialami pasien adalah terdapat nyeri, penurunan kekuatan otot dan penurunan ROM. Intervensi fisioterapi yang diberikan adalah elektroterapi dan ultrasound yang dikombinasikan dengan terapi latihan dan manual terapi yang dilakukan selama 3 kali. Hasil penelitian ini adalah pemeriksaan nyeri dengan menggunakan Numeric Pain Rating Scale (NPRS) menunjukkan penurunan pada nyeri gerak 3 menjadi 2, nyeri diam tetap 0 sedangkan nyeri tekan tidak ada penurunan dari 2. Kekuatan otot dengan Muscle Test Grading (MTG) grup otot dorsiflexor, palmarflexor, radian dan ulnar deviator tidak terdapat peningkatan. Range of motion (ROM) diukur dengan goniometer tidak terdapat peningkatan. Dapat disimpulkan bahwa elektroterapi, ultrasound diathermy yang dikombinasikan dengan terapi latihan dan terapi manual yang dilakukan 3 kali sesi tidak memberikan efek yang signifikan terhadap penurunan nyeri, peningkatan kekuatan otot dan peningkatan ROM. Hal ini dapat dipengaruhi oleh riwayat dan penyakit penyerta dari pasien.