cover
Contact Name
Siti Nadhir Ollin Norlinta
Contact Email
sitinadhirollin@unisayogya.ac.id
Phone
+6287871955230
Journal Mail Official
jitu@unisayogya.ac.id
Editorial Address
Kampus Terpadu: Jalan Siliwangi (Ring Road Barat) No. 63, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55292, Indonesia Phone: (+62274) 4469199; Fax.: (+62274) 4469204; Email: jitu@unisayogya.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal Physical Therapy UNISA
ISSN : 27766969     EISSN : 27976246     DOI : 10.31101/jitu
Core Subject : Health,
Journal of Physical Therapy UNISA publishes scientific articles as a tool for fellow academics and professional practitioners in exploring and developing knowledge, skills, and attitudes in various efforts to provide services in the broader health sector build uponscientific data and evidence based. These efforts are expected to increase knowledge in the field of Physical therapy and other professional health professions. Journal of Physical Therapy UNISA publishes scientific articles from research which contain primary or secondary data, literature reviews and systematic reviews, quantitative, qualitative and integrated methods research. The scope of Journal Physical Therapy UNISA is a research related to Physical therapy field, following these aspects: Musculoskeletal Cardiorespiratory Women’s Health Paediatric Geriatric Sport Neuromuscular Electrophysical Agents Occupational Health and Ergonomic
Articles 60 Documents
Tendon nerve gliding lebih efektif dibandingkan carpal bone mobilization untuk penurunan nyeri Carpal Tunnel Syndrome Da’ Lopez, Katharina Novitasari; Diyono, Diyono; Astriyana , Sevy
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3759

Abstract

Gerakan berulang dalam waktu yang cukup lama, pekerjaan intensif, getaran, posisi pergelangan tangan yang salah, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Carpal Tunnel Syndrome dapat mengakibatkan rasa sakit dan pembatasan aktivitas. Hal ini juga diperburuk kegiatan yang berulang dan kurangnya waktu henti. Untuk mengurangi intensitas nyeri maka diberikan Tendon and Nerve Gliding Exercise (TNGE) dan Carpal Bone Mobilization (CBM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh TNGE dan CBM terhadap CTS pada penjahit. Jenis penelitian menggunakan desain two group pre-test post-test dengan populasi 40 penjahit home industry. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling yang dimana memberikan perbandingan antara kedua intervensi, yaitu tendon and nerve gliding exercise dan carpal bone mobilization, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini uji satistic, didapatkan hasil perhitungan p-value 0,00<0,05 yang berarti ada penurunan nyeri menggunakan tendon and nerve gliding exercise dan carpal bone mobilization, hasil p value 0,00>0,05 ada perbedaan pengaruh tendon and nerve gliding exercise dan carpal bone mobilization terhadap carpal tunnel syndrome. Adanya penurunan nyeri antara TNGE dan CBM terhadap CTS pada Penjahit dan terdapat beda pengaruh antara TNGE dan CBM dengan  CTS terhadap nyeri.
Gambaran tingkat kemandirian lansia terhadap pemenuhan aktifitas sehari-hari di balai Hamdani, Nur Wesi Saumi; Laksmita, Devinta Yulia; Indriani, Indriani
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3808

Abstract

Penurunan fungsi fisiologis umumnya mengakibatkan berkurangnya produktivitas di kalangan lansia, karena memengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, menggunakan kamar kecil, berpakaian, dan tugas serupa. Risiko jatuh meningkat seiring dengan berkurangnya kemampuan fungsional, terutama pada lansia. Tujuan riset ini adalah untuk menggambarkan tingkat kemandirian lansia yang menggunakan Pusat Layanan Sosial PSTW dalam menjalankan rutinitas mereka. Pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional diterapkan dalam riset ini. Sebanyak 124 lansia disurvei, dengan 100 partisipan dipilih secara acak di Unit Abiyoso Pusat Layanan Sosial PSTW. Total sampling digunakan sebagai strategi pengambilan sampel. Hasil riset menunjukkan mayoritas lansia di Pusat PSTW (88% atau 88 orang) memiliki tingkat kemandirian tinggi, sementara 12% (12 orang) menunjukkan kemandirian rendah, diukur dengan Indeks Katz. Berdasarkan Skala Keseimbangan Berg (BBS) yang mengukur risiko jatuh akibat gangguan keseimbangan saat beraktivitas, mayoritas responden (47 dari 87) memiliki risiko jatuh rendah, diikuti oleh 46 dari 87 (46%) dengan risiko sedang, dan 7 dari 87 (7%) dengan risiko tinggi. Kesimpulannya, riset ini menegaskan bahwa penghuni Pusat PSTW, khususnya lansia, cukup mandiri. Saat ditanya mengenai risiko jatuh dalam aktivitas sehari-hari, mayoritas responden menyatakan risikonya rendah. Untuk meningkatkan kemandirian lansia dan mengurangi kemungkinan jatuh, fasilitas tersebut harus bekerja sama dengan fisioterapis untuk menerapkan program latihan kekuatan.
The Pengaruh pemberian kinesiotaping terhadap keseimbangan dinamis cedera sprain ankle kronis pada pemain basket Putra, Adam Guntur Syafatah; Kusumaningayu, Warih Anjari Dyah; Amarseto, Binuko
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3903

Abstract

Lebih dari 70% kasus sprain ankle melibatkan ligamen lateral, yaitu anterior talofibular ligament (ATFL) dan calcaneofibular ligament (CFL). Cedera ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak akut, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi kondisi chronic ankle instability (CAI) terutama pada atlet basket. Cidera sprain ankle sendiri ini dapat menyebabkan gangguan keseimbangan pada penderita dikarenakan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pergelangan kaki sehingga menyebabkan terganggunya fungsi keseimbangan terhadap tubuh. Pada pemain olahraga basket cedera yang paing sering dialami adalah cidera ankle sprain dengan prevalensi yang cukup tinggi. Penelitian ini menggunakan pre post eksperimental dan membandingkan antara kedua kelompok tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemeberian kinesiotaping terhadap keseimbangan dinamis pasca cidera ankle sprain pada pemain basket. Berdasarkan uji hipotesis berpasangan dengan total populasi 30 dengan jumlah sampel yang didapat 20 didapatkan hasil nilai signifikasi 1.000 atau p>0,05 pada kelompok intervensi yang berarti hipotesis tidak diterima dan pada kelompok kontrol nilai signifikasi 0,066 atau p>0,05 yang berarti hipotesis tidak diterima, artinya tidak ada perbedaan pengaruh pemberian kinesiotaping terhadap keseimbangan dinamis pasca cidera ankle sprain pada pemain basket. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan kinesiotaping selama satu minggu pada kelompok kontrol belum menunjukan hasil yang signifikan terhadapap peningkatan keseimbangan dinamis. Jadi tidak ada pengaruh pemberian kinesiotaping terhadap keseimbangan dinamis pasca cedera ankle sprain pada pemain basket dengan hasil signifikasi yaitu p >0,05.
Hubungan daily activity dengan keseimbangan pada ansia di Lamongan Jawa Timur Sari, Novi Purnama; Faidlullah, Hilmi Zadah; Imron, Moh. Ali
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3943

Abstract

Daily Living (ADL) merupakan kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari- hari. Aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kualitias hidup dengan bertambahnya usia terjadi penurunan fungsi tubuh dan mempengaruhi keseimbangan lansia dalam aktivitas fisik sehari-hari, yang menyebabkan tingginya risiko jatuh, dan berpotensi mengakibatkan cedera serius dan mengurangi kemandirian mereka (WHO, 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Daily Activity Terhadap Keseimbangan Lansia. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data di desa kranji, kecamatan paciran kabupaten lamongan dilaksanakan selama 7 hari dari 20 responden, masing-masing sdi ukur keseimbangannya menggunakan Dual Task Time Up and Go Test. purposive sampling dengan pengelompokkan sampel dilakukan secara randomized/ acak berdasarkan kriteria inklusi dengan mengeliminasi yang menjadi kriteria eksklusi. Pengukuran Daily Activity dilakukanb menggunakan Quick Exposure Check (QEC). Uji statistik menggunakan alnalisa korelasi bivariat. Uji hasil penelitian menggunakan pearson korelasi, di peroleh nilai pearson correlation 0,178. Sig. (2-tailed) 0,458. (N 20). Berdasarkan uji statistik, disimpulkan bahwa Ada Hubungan Daily Activity Terhadap Keseimbangan Lansia. Penelitian selanjutnya di harapkan dapat melakukan penelitian dengan jumlah respoden lebih banyak dan aktivitas sehari-hari lebih variatif.
Pengaruh physical activity terhadap peningkatan kognitif pada remaja di Pondok Pesantren Rumah Sajada Fanani, Fajar Yunan
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4029

Abstract

  Keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh physical activity yang dimana physical activity dapat membuat siswa lebih menguasai materi. Menurut WHO physical activity yang teratur akan berkaitan dengan peningkatan kognitif pada remaja. WHO menyebutkan prevelensi 31% orang dewasa dan 80% remaja tidak memenuhi tingkat physical activity yang direkomendasikan. Prevelensi di tempat penelitian bersumber dari pengajar menyebutkan banyak dari remaja yang sering mengantuk ketika pembelajaran berlangsung. Sehingga ada Penurunan hasil belajar dari siswa berusia remaja dari rata-rata nilai 80 menjadi nilai rata-rata 70. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh physical activity terhadap peningkatan kognitif pada remaja di Ponpes Rumah Sajada. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan desain pre-post test and post test one group. Sampel penelitian ini adalah 25 remaja yang berusia 13-16 tahun dengan metode total sampling. Alat ukur menggunakan Army Alpha Test sebagai standar ukuran kognitif. Hasil pengolahan data menunjukkan physical activity berupa brain gym dan aerobic excercise berpengaruh dalam meningkatkan kognitif pada remaja di Pondok Pesantren Rumah Sajada dengan hasil uji pengaruh paired sample t-tes p= 0.000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan skor kognitif remaja yang melakukan physical activity. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa physical activity dapat meningkatkan kognitif pada remaja di Pondok Pesantren Rumah Sajada.
Efektivitas latihan aerobik pada metabolisme glukosa darah remaja dengan obesitas: meta-analisis Fadli, Arif; Noerdjanah, Noerdjanah; Rustanti, Marti
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4345

Abstract

Remaja dengan kelebihan berat badan dan obesitas akan mengalami resistensi insulin yang berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik. Resistensi insulin pada remaja dapat menyebabkan sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular di masa dewasa. Aktivitas fisik pada remaja dengan obesitas belum banyak dikaji efek terapeutiknya pada gangguan metabolisme glukosa darah akibat resistensi insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan aerobik dalam meningkatkan sensitivitas insulin dalam metabolisme glukosa darah pada remaja obesitas. Penelitian ini merupakan meta-analisis dari artikel Randomized Controlled Trials pada basis data elektronik DOAJ, PEDro, PubMed, OVID, dan ScienceDirect. Pencarian artikel menggunakan kata kunci "glucose metabolism" OR "insulin resistance" AND "obese adolescents" OR "adolescents with obesity" OR "adolescents with overweight" AND exercise. Analisis data dilakukan menggunakan program RevMan 5.3 dengan ukuran efek menggunakan Cohen's d. Terdapat 6 artikel yang diikutsertakan dalam meta-analisis. Hasil analisis artikel menunjukkan bahwa latihan aerobik efektif dalam memperbaiki skor Homeostasis Model Assessment of Insulin Resistance (HOMA-IR) dengan ukuran efek yang besar (d = -0,69; CI = -1,38 hingga -0,00; P <0,001) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Latihan aerobik efektif memperbaiki skor HOMA-IR. Perbaikan skor HOMA-IR menjadi indikator pemulihan resistensi insulin pada remaja obesitas.
What Effect does FIFA11+ for kids have on the fundamental motor skills of elementary school soccer players? Nakagawa, Kazumasa; Suto, Yuta; Saito, Ryuta; Iwasaki, Kazuki; Kubo, Kazuki
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4444

Abstract

The FIFA 11+ is an established injury prevention warm-up program for players aged 14 years and older, and the FIFA 11+ for Kids (FIFA 11+K) was later developed to support younger players with playful exercises targeting balance, coordination, and strength. While its injury-preventive and performance benefits have been reported, little is known about its effects on fundamental motor skills, which have been declining among Japanese children. This study examined the effects of FIFA 11+K on fundamental motor skills in elementary school boys belonging to a local soccer club. Sixty-six children (8.2 ± 1.5 years) performed FIFA 11+K twice weekly for three months as a warm-up (intervention group), while 28 children (7.2 ± 1.6 years) continued their usual warm-up (control group). Performance in the 50-m sprint, standing long jump, and ball throw, as well as movement quality (5-point observational scale), were assessed before and after the intervention. The intervention group showed significant improvement in standing long jump form, while the control group improved only in jump distance. No significant improvements in running or throwing performance were observed in the intervention group; however, their form scores tended to improve compared with the control group. FIFA 11+K may help enhance movement quality, particularly in jumping tasks, in elementary school boys. These findings suggest its potential as a practical program not only for injury prevention but also for supporting the development of fundamental motor skills in children.
Hambatan yang mempengaruhi partisipasi aktivitas fisik lansia di Yogyakarta: sebuah penelitian cross-sectional Indriani, Indriani; Nabilah Gusman, Nurul; Wulandari, Rizky
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4300

Abstract

Fenomena meningkatnya populasi lansia diseluruh dunia berkontribusi pada tingginya kasus penyakit kronis, yang salah satunya terkait dengan rendahnya tingkat aktivitas fisik. Informasi mengenai hambatan dan motivasi lansia untuk beraktivitas fisik masih terbatas, Misalnya karena penyakit tertentu, kelemahan fisik, rendahnya dukungan sosial atau lingkungan, dan motivasi sehingga diperlukan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi serta menganalisis perilaku dan kendala aktivitas fisik lansia di Yogyakarta. Penelitian Cross-sectional dilakukan di wilayah Puskesmas Sleman, Yogyakarta dari bulan Februari-Juni 2024 yang melibatkan 102 lansia berusia 60-85 tahun dengan teknik purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan kuisioner sosiodemografi informasi mengenai (usia, jenis kelamin, Riwayat pendidikan, kategori domisili dan riwayat penyakit), kuisioner aktivitas fisik; IPAQ-SF (International Physical Activity short form) dan kuisioner BPAQ (Barrier to Physical Activity Quistionare) untuk informasi hambatan aktivitas fisik,). Analisis statistik dengan Chi-square menggunakan SPSS versi 24.00. Dari 102 responden, 57 responden (57%) dalam kategori kurang aktif, 60 lansia (61%) memiliki hambatan untuk aktivitas fisik dan lima hambatan yang paling banyak adalah; kurangnya dukungan social yaitu 28 lansia (27%), takut cedera 18 lansia (18%), kurangnya pengetahuan dan keterampilan 16 lansia (16%), kurangnya minat 14 lansia (14%), dan kurangnya waktu sebanyak 13 lansia (13%). Hasil analisis terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan hambatan aktivitas fisik (P≤0.005). Aktivitas fisik pada lansia di Yogyakarta masih rendah dan hambatan tertinggi adalah kurangnya dukungan sosial dan takut cedera. Agar kerjasama lintas sektor ditingkatkan untuk strategi promosi aktivitas fisik lansia dengan kebijakan, peningkatan kapasitas kader, pengetahuan lansia dan meningkatkan fasilitas umum ramah lansia, kampanye aktivitas fisik dengan pendekatan budaya dan agama.
Pengaruh Ankle Strengthening Exercise Terhadap Aktivitas Fungsional Tungkai Bawah Pada Komunitas Barber Kabupaten Pekalongan Septi Amanah; Nooryana, Syavira
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4374

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Barber menjadi salah satu profesi yang beresiko mengalami penurunan aktivitas fungsional tungkai bawah yang disebabkan karena posisi kerja berdiri dalam waktu lama. Upaya untuk meningkatkan aktivitas fungsional dapat dilakukan dengan terapi latihan yang berupa ankle strengthening exercise. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ankle strengthening exercise terhadap aktivitas fungsional tungkai bawah pada komunitas barber kabupaten pekalongan Metode Penelitian: Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 Juli-26 Juli 2024 menggunakan desain penelitian eksperimen dengan pendekatan quasi eksperimental one group pretest dan posttest without control group. Jumlah sampel sebesar 37 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Pengukuran aktivitas fungsional tungkai bawah menggunakan FAAM dan pemberian intervensi menggunakan ankle strengthening exercise dengan frekuensi 3 kali seminggu selama 4 minggu. Penelitian ini menggunakan uji paired sample t-test. Hasil Penelitian: Rata-rata Nilai FAAM sebelum dilakukan intervensi 68.0832% sedangkan nilai FAAM sesudah dilakukan intervensi 87.8673% Hasil uji pengaruh menggunakan uji paired sample t-test di dapatkan hasil p value 0,000 (<0,005), yang berarti ada pengaruh ankle strengthening exercise terhadap aktivitas fungsional tungkai bawah pada komunitas barber kabupaten pekalongan. Simpulan: Ankle strengthening exercise dapat meningkatkan aktivitas fungsional tungkai bawah pada komunitas barber kabupaten pekalongan. Saran: Ankle strengthening exercise dapat menjadi referensi bagi fisioterapis untuk meningkatkan aktivitas fungsional tungkai bawah pada pekerja. Kata kunci: Aktivitas Fungsional, Barber, Ankle Strengthening Exercise Abstract Introduction: Barber is one of the professions that is at risk of experiencing a functional decline in the lower limbs caused by prolonged standing work positions. Efforts to improve functional activity can be made with exercise therapy in the form of ankle-strengthening exercises. Objective: This study aims to determine the effect of ankle-strengthening exercise on lower limb functional activity in the Pekalongan Regency barber community. Research Method: This study was conducted on July 1-26, 2024 using an experimental research design with a quasi-experimental approach of one group pretest and posttest without a control group. The sample size was 37 people with the sampling technique using accidental sampling. Functional measurement of the lower limbs using FAAM and providing intervention using ankle strengthening exercise with a frequency of 3 times a week for 4 weeks. This study used a paired sample t-test. Research Results: The average FAAM value before intervention was 68.0832% while the FAAM value after the intervention was 87.8673% The results of the effect test using the paired sample t-test test obtained a p-value of 0.000 (<0.005), which means that there is an effect of Ankle-strengthening exercise on lower limb functional activity in the Pekalongan Regency barber community.Conclusion: Ankle-strengthening exercise can increase lower limb functional activity in the Pekalongan Regency barber community. Suggestion: Ankle strengthening exercise can be a reference for physiotherapists to improve lower limb functional activity in workers. Keywords: functional activity, barber, ankle strengthening exercise
Faktor determinan kualitas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kartasura Fatmarizka, Tiara; Firdausi, Tiara Fairuz
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 5 No. 2 (2025): November
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4425

Abstract

Masa kehamilan merupakan periode adaptasi yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup ibu. Kualitas hidup menjadi indikator penting karena berdampak pada kesehatan janin, keberhasilan persalinan, serta proses pemulihan ibu pascapersalinan. Kondisi ini dapat bervariasi sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Kartasura yang memiliki keragaman karakteristik masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas hidup ibu hamil serta faktor-faktor yang memengaruhinya dengan menggunakan domain WHOQOL-BREF. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2023 hingga Januari 2024 di wilayah kerja Puskesmas Kartasura dengan menggunakan desain potong lintang dengan pendekatan kuantitatif pada 149 ibu hamil trimester I hingga III yang dipilih melalui teknik quota sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata tertinggi terdapat pada domain lingkungan (73,87 ± 11,2) sedangkan skor terendah pada domain kesehatan fisik (70,54 ± 11,5). Analisis multivariat mengungkapkan bahwa usia kehamilan berpengaruh signifikan terhadap domain fisik (p = 0,008), psikologis (p = 0,019), dan hubungan sosial (p = 0,026), sementara pendidikan ibu berpengaruh positif terhadap domain lingkungan (p = 0,012). Secara klinis, temuan ini menggambarkan bahwa meningkatnya usia kehamilan dapat menurunkan kapasitas fisik (misalnya mudah lelah, nyeri punggung, gangguan tidur) dan meningkatkan tekanan psikologis menjelang persalinan, yang berdampak pada hubungan sosial. Sebaliknya, pendidikan yang lebih tinggi memperkuat pemanfaatan lingkungan yang mendukung kesehatan. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi edukatif dan dukungan pada trimester akhir guna menjaga kualitas hidup ibu hamil.