cover
Contact Name
-
Contact Email
kopula@unram.ac.id
Phone
+6287865122881
Journal Mail Official
kopula@unram.ac.id
Editorial Address
Jalan Majapahit No 62 Mataram Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan
Published by Universitas Mataram
ISSN : 29878446     EISSN : 29875307     DOI : https://doi.org/10.29303/kopula
Core Subject : Education,
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan adalah suatu jurnal terbit dua kali setahun (Maret dan Oktober) yang dipublikasikan oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram. Kopula pertama diterbitkan pada tahun 2019 sebagai wadah untuk mempublikasi hasil pemikiran dan penelitian tentang Bahasa, Sastra, dan Pendidikan. Jurnal ini menerapkan sistem open access peer-reviewed journal baik untuk artikel yang berbahasa Indonesia maupun Inggris dalam versi cetak dan elektronik yang masing-masing memiliki ISSN
Articles 291 Documents
Konstruksi dan Makna Kata Majemuk dalam Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar Elya Febriani; Rahmad Hidayat; Mustakim Saleh
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10464

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi dan relasi makna kata majemuk dalam Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar (BSDSB) melalui kajian morfosemantik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tuturan penutur asli BSDSB. Data dikumpulkan melalui metode Simak, Cakap, dan teknit Catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan dan agih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata majemuk dalam BSDSB dibentuk melalui empat konstruksi, yaitu kata majemuk dasar, bentuk unik, berafiks, dan reduplikasi. Dari segi relasi semantis, ditemukan pola atributif, koordinatif, subordinatif, dan idiomatik, dengan relasi atributif sebagai pola dominan. Berdasarkan transparansi maknanya, kata majemuk dalam BSDSB terbagi menjadi bentuk transparan, semi-transparan, dan nontransparan. Bentuk nontransparan memperlihatkan adanya proses idiomatisasi dan leksikalisasi yang dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan budaya masyarakat Sumbawa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kata majemuk dalam BSDSB tidak hanya bersifat morfologis, tetapi juga merepresentasikan konseptualisasi budaya masyarakat penuturnya. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian morfologi dan semantik leksikal bahasa daerah di Indonesia.
Kajian Feminisme dalam Cerpen "Bila Lelah" Karya Sasti Gotama Zahra Sabilla; Nita Nurhayati
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10279

Abstract

Cerpen “Bila Lelah” karya Sasti Gotama merupakan karya sastra yang mengangkat persoalan ketidakadilan gender dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ketidakadilan gender yang dialami tokoh perempuan melalui pendekatan feminism Mansour Fakih. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif dengan teknik baca dan cata. Data penelitian berupa kutipan-kutipan dalam cerpen yang berkaitan dengan subordiasi, kekerasan, dan tekanan sosial terhadap perempuan. Hasil penlitian menunjukkan bahwa tokoh Nin mengalami kekerasan fisik dan psikologis akibat budaya patriarki yang masih kuat dalam kehidupan keluarga. Selain itu, cerpen ini juga menunjukkan adanya bentuk subordinasi perempuan yang membuat perempuan dipaksa bertahan demi menjaga keutuhan rumah tangga. Tokoh San menjadi representasi perlawanan terhadap ketidakadilan gender melalui tindakannya melindungi putrinya dari kekerasan. Dengan demikian, cerpen “Bila Lelah” menunjukkan kritik sosial terhadap budaya patriarki yang merugikan perempuan.
Analisis Gangguan Kepribadian dan Trauma Masa Kecil Tokoh Alister dalam Novel Teluk Alaska Karya Eka Aryani Elvina Florensia Br Ginting; Putri Nirmala Ndraha; Reizel E.Z Simatupang; Gresia Junianti Simatupang; Vina Merina Br Sianipar
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10431

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi masalah kepribadian dan pengalaman traumatik di masa kecil dari karakter Alister dalam novel Teluk Alaska karya Eka Aryani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan jenis gangguan kepribadian yang dialami oleh Alister serta dampak trauma masa kecilnya terhadap perkembangan karakternya. Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sastra psikologis. Sumber utama data pada penelitian ini adalah novel Teluk Alaska, sedangkan data yang dianalisis meliputi kutipan dialog, narasi, dan tingkah laku karakter yang memperlihatkan tanda-tanda trauma dan gangguan kepribadian. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan cara membaca dan mencatat, kemudian dianalisis berdasarkan teori psikologi sastra serta teori kepribadian. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa trauma masa kecil yang dialami oleh Alister berpengaruh pada emosinya, menciptakan sikap agresif, serta kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Trauma ini juga berfungsi sebagai elemen yang membentuk karakter serta cara Alister berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai hubungan antara pengalaman traumatis dan pembentukan karakter dalam karya sastra.
Presupposition in the Lyrics of ‘Erika’: A Pragmatic Study of Assumptions in a Controversial Context Mesya Natalia Siboro; Giana Natasha Darosi Br. Sitepu; Suryani Praysiska Silalahi; Salwa Naysila; Rohmayani Kesogihen; Dian Marisha Putri
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10462

Abstract

The presupposition in the lyrics of Erika song was analyzed by applying fairy tale theory of presupposition from George Yule, a pragmatic. This research attempts to analyze the species of presupposition in the song and also describe how implicit assumptions impact audience interpretation and public controversy. Qualitative descriptive is used in this study because the implicit meaning of lyrics tells by song. Data Source Lyrics of “Erika” or “Goyang Erika, Cinta 25 Karat” Orkes semi dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB). Data were collected by documentation and library research methods. The analysis exposes two forms of presupposition, namely, existential and lexical presupposition. The first presupposition is existential presupposition which dominates as in the lyrics “Walau sudah janda” that implies having been married before, whereas Lexical Presuppositions can be found in this lyric. Their findings suggest that implicit stereotypes about women, sexuality, and gender shown in the lyrics also shape people views of the song beyond its literal meaning.  
Music As A Medium Of Peace: A Sociological Analysis Of “Heal The World” In The Context Of Sustainable Development Goals (SDGs) Mesya Natalia Siboro; T. Thyrhaya Zein; Suryani Praysiska Silalahi; Giana Natasha Darosi Br. Sitepu; Felix Christian Tampubolon; Qaisha Arbey Prawira
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10497

Abstract

This study aims to analyze the representation of social and humanitarian values in the song “Heal the World” by Michael Jackson and to examine its relevance to social reality and Sustainable Development Goals (SDG 16: Peace, Justice, and Strong Institutions). This research employs a qualitative method based on the framework proposed by John W. Creswell, where the data consist of words, phrases, and sentences derived from the song lyrics. The data were collected through documentation and library research and analyzed through stages of data condensation, coding, theme identification, and interpretation. The findings reveal several major themes, namely peace as an ideal social condition, social criticism toward injustice and lack of empathy, humanitarian values as the foundation of social harmony, and individual responsibility in creating social change. The song reflects social realities such as conflict, inequality, and human suffering, while also functioning as a form of social criticism toward societal conditions. In conclusion, “Heal the World” serves as both a reflection of social conditions and a medium of social criticism that remains relevant in contemporary society and supports the values of SDG 16.
Struktur Motifem Legenda Raos Pacinan Menggunakan Perspektif Alan Dundes Anastasya Salsabila
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur motifem pada Legenda Raos Pacinan yang berada di daerah Jawa Timur, menganalisis legenda Raos Pacinan berlandaskan teori strukturalisme Alan Dundes. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa karya sastra, khususnya Legenda, tidak hanya menjadi media bagi pengarang dalam menyampaikan gagasan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara dan pengumpulan data. Data berupa motifem diperoleh melalui proses membaca dan pencatatan, kemudian dianalisis berdasarkan konsep motifem yang dicetuskan oleh Alan Dundes. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola enam motifem dalam Legenda Raos Pacinan tersebut, yaitu terdiri atas L – LL – Interdiction (INT) – Violation (VIOL) – Consequence (CONSEQ) – Attempted Escape (E). Penelitian ini menegaskan bahwa analisis struktural menurut Dundes mampu mengungkap makna serta fungsi struktur dalam cerita rakyat. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa Legenda dibangun atas rangkaian motifem yang logis.
Struktur Motifem Pada Cerita Rakyat Legenda Batu Menangis, Legenda Kebo Iwa dan  Asal-Usul Gunung Batur, Si Kelingking Dalam Perspektif Alan Dundes Anggraeni Puspita Sari
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10535

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada analisis struktur motifem dalam beberapa cerita rakyat Indonesia, yaitu Legenda Batu Menangis, Legenda Kebo Iwa, Asal Usul Gunung Batur, dan Si Kelingking dengan memanfaatkan pendekatan strukturalisme yang dikembangkan oleh Alan Dundes. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode deskriptif kualitatif karena bertujuan memahami serta menguraikan unsur-unsur pembangun cerita secara mendalam. Data penelitian berupa unsur motifem yang diperoleh melalui kegiatan membaca secara intensif serta pencatatan terhadap bagian-bagian cerita yang dianggap memiliki fungsi struktural penting. Selanjutnya, data tersebut dianalisis berdasarkan teori motifem Alan Dundes untuk menemukan pola-pola naratif yang membangun alur cerita. Hasil penelitian memperlihatkan adanya variasi pola motifem pada setiap cerita rakyat yang dianalisis. Pola yang ditemukan meliputi susunan empat motifem, yaitu lack (L), violation (V), consequence (C), dan attempted escape from consequence (AE), serta pola enam motifem yang terdiri atas lack (L), lack liquidated (LL), interdiction (I), violation (V), consequence (C), dan attempted escape from consequence (AE). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa cerita rakyat memiliki struktur yang tersusun secara teratur dan tidak hadir secara acak. Selain menunjukkan pola naratif tertentu, cerita rakyat juga mencerminkan berbagai nilai kehidupan, seperti ajaran moral, norma sosial, serta pandangan budaya yang berkembang dalam masyarakat pendukungnya.
Kecerdasan Buatan Vs Penyair Manusia: Analisis Puisi Berbahasa Indonesia Hasil ChatGPT dan Karya Penyair Manusia Muhammad Bahrul Ulum; Nur Fuadi; Yusuf Nur Arifin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10550

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menghadirkan perubahan signifikan dalam dunia sastra, khususnya melalui kemampuan sistem generatif seperti ChatGPT dalam menghasilkan puisi yang menyerupai karya penyair manusia. Fenomena ini memunculkan perdebatan mengenai kreativitas, kepengarangan, dan kualitas estetik karya sastra yang dihasilkan mesin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik stilistika puisi berbahasa Indonesia hasil ChatGPT dan karya penyair manusia, mengidentifikasi persamaan serta perbedaan unsur estetik keduanya, dan menjelaskan sejauh mana kecerdasan buatan mampu merepresentasikan kreativitas puitik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif dengan metode analisis isi, analisis wacana, dan analisis interpretatif. Data penelitian berupa puisi berbahasa Indonesia yang dihasilkan ChatGPT dan puisi karya penyair manusia yang memiliki kesamaan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi hasil ChatGPT memiliki keunggulan pada keteraturan struktur, koherensi bahasa, dan kemudahan pemahaman makna, sedangkan puisi karya manusia lebih menonjol pada aspek orisinalitas diksi, kedalaman emosi, kompleksitas simbolik, dan pengalaman eksistensial. Meskipun kecerdasan buatan mampu mereproduksi pola-pola kepuitisan, kreativitas yang dihasilkan masih bersifat komputasional dan berbeda dari kreativitas manusia yang berakar pada pengalaman hidup. Penelitian ini menghasilkan konsep kepuitisan hibrida yang menempatkan kecerdasan buatan dan manusia sebagai mitra kreatif dalam perkembangan sastra digital kontemporer.
Analisis Fungsi Kefatisan Berbahasa dalam Interaksi Penjual dan Penonton pada Produk Kecantikan di TikTok Live Saadiah Triastuti
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10562

Abstract

Penelitian berjudul Analisis Fungsi Kefatisan Berbahasa dalam Interaksi Penjual dan Penonton pada Produk Kecantikan di TikTok Live menguraikan tentang kefatisan berbahasa yang digunakan penjual untuk menyampaikan informasi kepada penonton selaku calon pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi kefatisan berbahasa yang digunakan oleh penjual kepada penonton dalam siaran langsung (TikTok Live) tentang produk kecantikan. Media tersebut dijadikan objek penelitian karena masyarakat sekarang lebih banyak tertarik belanja online. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan lisan yang disampaikan penjual saat melakukan siaran langsung pada fitur TikTok Live yang di dalam tuturannya mengandung kefatisan berbahasa. Pengumpulan data menggunakan metode simak bebas libat cakap, serta teknik catat. Analisis data menggunakan metode padan teknik pilah unsur penentu. Hasil penelitian menunjukkan fungsi kefatisan berbahasa terdiri dari beberapa kategori, meliputi kategori sapaan, kesopanan, kekecewaan, ucapan terima kaksih, canda, pujian, permohonan maaf, penghindaran, penolakan, ketidaksetujuan, ucapan salam, suruhan, tawaran, penegasan, pengingatan, perintah, kegirangan, keterkejutan. Fungsi-fungsi tersebut digunakan untuk menarik perhatian penonton, menciptakan suasana interaksi yang akrab, serta mempertahankan keterlibatan penonton selama siaran berlangsung. Penelitian ini dilakukan agar pembaca dapat memahami dan mengetahui penggunaan kefatisan dalam berbahasa.
The Representation of Unconscious Feelings and Regret in Passenger’s “Let Her Go”: A Psychoanalytic Study Salwa Naysila; Rohmayani Kesogihen; Melanie Puspa Siregar; Muhammad Aldiansyah Ginting; Valentina Zefahnya Simorangkir; T. Thyrhaya Zein
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10586

Abstract

Popular songs frequently reflect complex psychological conditions of human beings, yet linguistic studies on the representation of unconscious feelings in song lyrics remain limited. This study aims to analyze the representation of unconscious feelings and regret in the song “Let Her Go” by Passenger through Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. A qualitative descriptive method was applied, with the lyrics of “Let Her Go” serving as the primary data source, analyzed using Freud’s psychoanalytic concepts including unconscious feelings, repression, and emotional conflict. The findings reveal that the lyrical narrator experiences delayed emotional realization, in which love is fully understood only after separation occurs; symbolic imagery such as darkness, light, coldness, and loneliness further reinforces the representation of psychological suffering. This study concludes that song lyrics can function as a psychological representation of human regret and self-awareness, contributing to the field of psychoanalytic literary criticism, particularly in the analysis of popular music lyrics