cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Eksplorasi dan Identifikasi Cendawan Endofit Asal Tanaman Padi yang Berpotensi Sebagai Agens Pengendali Hayati (Pyricularia oryzae) pada Padi Sakinah Siregar; Hartati Oktarina; Lukman Hakim
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.108 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.19791

Abstract

Penurunan produktivitas tanaman padi dapat dipengaruhi oleh banyak factor. Salah satu organisme pengganggu yang  dapat  menyebabkan penurunan produktivitas tanaman padi adalah Pyricularia oryzae yang dapat menyebabkan penurunan produksi padi hingga 90%. Penggunaan fungisida merupakan metode pengendalian yang kerap diandalkan untuk mengendalikan berbagai jenis penyakit,namun pengendalian ini sering menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan. Oleh sebab itu perlu dicarikan alternatif pengendalian yang bersifat ramah lingkungan seperti pengendalian hayati. Cendawan endofit dianggap sebagai cara pengendalian yang tepat karena agens pengendalinya berasal dari tanaman itu sendiri, serta dapat menghasilkan antibiotik yang mampu melemahkan cendawan patogen. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial yang terdiri dari 9 perlakuan dan 3 ulangan.Cendawan endofit dan cendawan patogen diisolasi dari tanaman padi yang berasal dari Desa Lampasie Enking, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.Isolat cendawan yang telah diidentifikasi diuji patogenisitasnya pada bibit padi varietas ciherang. Isolat cendawan yang tidak menunjukkan gejala nekrotik kemudian diuji daya antagonisnya secara in vitro terhadap P. oryzae dengan menggunakan metode dual culture. Hasil dari penelitian ini diperoleh sembilan cendawan endofit dari tanaman padi di Desa Lampasie Enking, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Isolat BPS-S2 (Trichoderma sp. 2) paling berpotensi sebagai agens pengendali hayati P. oryzae dengan persentase daya hambat sebesar 61,4%.
Respon Pertumbuhan Tanaman Padi Inpari 30 (Oryza sativa L.) akibat Kekeringan, Pemupukan N dan K Sofiana Yasrifah; Nanda Mayani; Cut Nur Ichsan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.94 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18242

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman padi inpari 30 akibat kekeringan, pemupukan N dan K. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca 1 dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang berlangsung pada November 2020 sampai Februari 2021. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak-Petak Terpisah (RPPT) 3 x 2 x 2 dengan 3 ulangan.  Petak utama kekeringan yang terdiri dari 3 taraf (Tanpa Kekeringan, Kekeringan Fase Vegetatif dan Kekeringan Fase Generatif), anak petak pemupukan N terdiri dari 2 taraf (100 kg N.ha-1 dan 200 kg N.ha-1) dan anak-anak petak pemupukan K yang terdiri dari 2 taraf (75 kg K.ha-1+ dan 150 kg K.ha-1). Data pada analisis ragam yang menunjukkan pengaruh dilanjutkan dengan Duncan New Multiple Range Test (DNMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekeringan pada fase vegetatif dengan pemupukan N 100 kg.ha-1 dan K 75 kg.ha-1 dapat mempertahankan dan meningkatkan tinggi tanaman 30 HST dan 45 HST, jumlah anakan total 30 HST dan jumlah anakan produktif. Kekeringan fase generatif dengan pemupukan N 200 kg.ha-1 dan K 75 kg.ha-1 menunjukkan tinggi tanaman 30 HST dan 45 HST, jumlah anakan total 30 HST dan jumlah anakan produktif lebih baik. Pemberian pupuk N dan K yang sesuai terhadap pertumbuhan tanaman padi inpari 30 yang mengalami cekaman kekeringan pada fase yang berbeda dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman padi Inpari 30. Response of Growth in Inpari 30 Rice (Oryza sativa L.) to Drought, N and K Fertilizer This study aims to determine the growth response of inpari 30 rice plants due to drought, N and K fertilizatiodosisn. This research was carried out at Greenhouse 1 and Plant Physiology Laboratory, Agrotechnology Department, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University which took place from November 2020 to February 2021. The study used a Split-Split Plot Design (SSPD) with 3 treatment factors of 3 x 2 x 2 with 3 replications. Main plot of drought consisting of 3 levels (No Drought, Drought Vegetative Phase and Drought Generative Phase), sub-plots of N fertilization consisted of 2 levels (100 kg N.ha-1 and 200 kg N.ha-1) and sub-sub plot of K fertilization consisting of 2 levels (75 kg K.ha-1 and 150 kg K.ha-1). The data on the analysis of variance that showed the effect was continued with Duncan's New Multiple Range Test (DNMRT). The results showed that drought in the vegetative phase with fertilization of N 100 kg.ha-1 and K 75 kg.ha-1 could maintain and increase plant height by 30 DAP and 45 DAP, the total number of tillers 30 DAP and the number of productive tillers. Drought of the generative phase with N 200 kg.ha-1 fertilization and K 75 kg.ha-1 showed plant heights of 30 DAP and 45 DAP, the total number of tillers was 30 DAP and the number of productive tillers was better. The application of appropriate N and K fertilizers for the growth of Inpari 30 rice under drought stress at different phases can increase the growth of Inpari 30 rice plants. 
Karakteristik Biochar Pada Beberapa Metode Pembuatan dan Bahan Baku Dhea Pratiwi; Syakur Syakur; Darusman Darusman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.092 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.16967

Abstract

Abstrak. Biochar merupakan arang hayati berpori (porous) yang berasal dari limbah organik (biomasa pertanian) atau sering disebut juga arang aktif yang melalui proses pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (pirolisis). Pembuatan biochar menggunakan metode Kon-Tiki, soil pit, dan drum yang menggunakan bahan baku bambu petung, kayu pulai, dan tempurung kelapa. Beragamnya sumber bahan baku dan teknik pembuatan biochar dapat mempengaruhi hasil pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Sehingga, perbedaan  metode dan bahan baku sebagai pembuatan biochar penting untuk menentukan kualitas biochar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bahan baku (feedstock) yang mempunyai karakteristik yang baik dan mendapatkan jenis metode pembuatan biochar yang baik. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan dan laboratorium fisika tanah dan lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala sejak bulan Juni sampai Agustus 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 9 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 27 satuan unit percobaan. Karakteristik biochar yang diamati terdiri dari kadar air, zat menguap, kadar abu dan karbon terikat (fixed carbon). Jenis dan metode pembuatan biochar berpengaruh terhadap karakteristik biochar. Bahan baku (feedstock) biochar yang mempunyai karakteristik yang baik terdapat pada bambu petung, sedangkan metode pembuatan biochar yang terbaik terdapat pada metode Kon-Tiki. Biochar Characteristics Caused by Various Production Methods and FeedstockAbstract. Biochar is porous biological products originating from organic waste (agricultural biomass) or often called activated charcoal, results from incomplete combustion process or limited oxygen supply (pyrolysis). Biochar produced using the chamber of Kon-Tiki, soil pit, and drum with the feedstocks of petung bamboo, pulai wood, and coconut shell. Various sources of feedstock and techniques for making biochar might influence the yield of plant growth and productivity. Thus, differences in methods and feedstock for making biochar are important to determine the quality of biochar. This study aims to obtain the type of feedstock that has good characteristics and to obtain a good type of biochar production method. This research was conducted in the experimental research station of the Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala from June to August 2019. This study used a non-factorial randomized block design (RBD) with 9 treatments and repeated 3 times so that 27 experimental units were obtained. The characteristics of the observed physical properties of biochar consist of water content, volatile matter, ash content and fixed carbon.The types and methods of making biochar affect the characteristics of biochar. The feedstock of biochar which has good characteristics is found in petung bamboo, while the best method of making biochar is found in the Kon-Tiki method.
Analisis Perbandingan Nilai Tambah dan Keuntungan Pengolahan Minyak Nilam Menjadi Produk Parfum dan Aromaterapi ( Studi Kasus pada ARC (Atsiry Research Ceter Unsyiah dan PT. Aceh Kutaradja Aromatik) widita winardi; Safrida Safrida; Indra indra
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.168 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i2.14443

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah dan keuntungan pengolahan minyak nilam menjadi produk parfum dan aromaterapi serta perbandingannya. Penelitian ini dilakukan di ARC Universitas Syiah Kuala dan PT. Aceh Kutaradja Aromatik. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Informan pada penelitian ini adalah direktur, pengelola, serta tenaga kerja pada usaha parfum dan aromaterapi. Objek penelitian ini adalah produk parfum dan aromaterapi. Data diolah dengan menggunakan analisis nilai tambah Hayami dan analisis keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan pengolahan minyak nilam menjadi produk parfum dan aromaterapi sama-sama memberikan nilai tambah yang tinggi bedasarkan indikator nilai tambah dengan rasio nilai tambah yang dihasilkan 40%. Akan tetapi rasio nilai tambah parfum lebih tinggi sebesar 67,73% dibandingkan aromaterapi sebesar 62%. Hal ini menunjukan produk parfum memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan aromaterapi. Hasil peneltian juga meunjukan bahwa usaha parfum memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi sebesar Rp14.495.100,-/bulan dibandingkan aromaterapi sebesar Rp4.879.400,-/bulan. Hal ini menunjukan bahwa usaha parfum lebih menguntungkan dibandingkan aromaterapi.Comparative Analysis of The Added Value of Processing Pactchouli Oil Into Perfume and Aromatherapy Products (Case Study in ARC (Atsiry Research Center) Universitas Syiah Kuala and PT. Aceh Kutaradja AromatikAbstract. This research was conducted at ARC Syiah Kuala University and PT. Aceh Kutaradja Aromatik. The research method used is a case study. The informants in this study were directors, managers and workers in the perfume and aromatherapy business. The object of this research is perfume and aromatherapy products. Data is processed using Hayami value added analysis and profit analysis. The results showed that the processing of patchouli oil into perfume and aromatherapy products both provided high added value based on added value indicators with the resulting added value ratio 40%. However, the value added ratio of perfume is higher by 67.73% compared to aromatherapy by 62%. This shows that perfume products provide higher added value than aromatherapy. The results of the study also showed that the perfume business provided a higher level of profit of Rp. 14,495,100 / month compared to aromatherapy at Rp. 4,879,400 / month. This shows that the perfume business is more profitable than aromatherapy.
Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Kunyit (Curcuma domestica VAL) Menggunakan Pengering Tipe Tray Dryer. Deni Setio Hadi; Mustaqimah Mustaqimah; Raida Agustina
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.053 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12725

Abstract

Abstrak. Kunyit (Curcuma domestica VAL) adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat, pemanfaatan kunyit dapat berupa kunyit segar,  kunyit kering, dan bubuk kunyit. Kunyit kering dapat memperpanjang masa simpan dan mempermudah pengemasan. Salah satu alat pengering yang dapat digunakan untuk mengeringkan kunyit adalah tray dryer. Penelitian ini menggunakan irisan kunyit sebanyak 4,5 kg, kemudian dikeringkan pada setiap variasi suhu yaitu 35ºC, 45ºC dan 55ºC. Perhitungan massa kunyit diukur tiap 30 menit sekali sampai bahan mencapai kadar air 5%. Parameter penelitian meliputi distribusi suhu, kelembaban udara, kecepatan aliran udara, penurunan bobot kunyit, kadar air, laju pengeringan, rendeman, kadar protein, dan uji diskriminatif serta uji hedonik terhadap warna, aroma dan tekstur. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pengeringan maka semakin cepat proses pengeringan berlangsung. Pengeringan kunyit pada suhu 35ºC, 45ºC, 55ºC selama 390 menit, 270 menit dan 210 menit. Kelembaban relatif disetiap suhu yaitu 35ºC rata-rata sebesar 63,36%, suhu 45ºC sebesar 63,30% dan suhu 55ºC sebesar 62,25%. Rata-rata penurunan kadar air pada variasi suhu 35ºC, 45ºC dan 55ºC  sebesar 80,81% sehingga rata-rata kadar air akhir kunyit kering didapatkan sebesar 4,39%, dimana telah memenuhi  standar SNI untuk kadar air kunyit kering. Laju pengeringan tercepat pada suhu 55ºC rata-rata sebesar 2,38 %bk/menit. Rendemen tertinggi  bubuk kunyit terdapat pada suhu 35ºC yaitu sebesar 12,0%. Protein bubuk kunyit tertinggi pada suhu 55ºC sebesar 5,21%. Berdasarkan uji diskriminatif, yang mendekati warna dan aroma bubuk kunyit komersil adalah bubuk kunyit yang dikeringkan pada suhu 45ºC dengan skor 2 (sama). Berdasarkan hasil uji organoleptik hedonik panelis lebih menyukai warna bubuk kunyit yang dikeringkan pada suhu 45ºC dengan skor 5 (sangat suka) bila dibandingkan dengan warna bubuk kunyit yang dikeringkan pada suhu 35ºC dan 55ºC, dimana panelis hanya memberikan skor 4 (suka).Keywords: Drying Turmerics, Turmeric Powder, Tray Dryer.Abstract. Turmeric (Curcuma domestica VAL) Is a rhizome plant that is very popular as a spice and medicinal ingredient, the use of turmeric can be in the form of fresh turmeric, dried turmeric, and turmeric powder. Dry turmeric can extend its shelf life and simplify packaging. One dryer that can be used to dry turmeric is a tray dryer. This study used slices of turmeric as much as 4.5 kg, then dried at each temperature variation of 35ºC, 45ºC, and 55ºC. The calculation of turmeric mass is measured once every 30 minutes until the material reaches 5% water content. Research parameters include temperature distribution, air humidity, airflow velocity, reduction of turmeric weight, water content, drying rate, yield, protein content, and discriminatory test as well as a hedonic test on color, scent, and texture. The results of the study indicate that the higher the drying temperature, the faster the drying process will take place. Drying turmeric at 35ºC, 45ºC, 55ºC for 390 minutes, 270 minutes and 210 minutes. The relative humidity at each temperature is 35ºC at an averaging of 63.36%, a temperature of 45ºC at 63.30% and a temperature of 55ºC at 62.25%. The averaging decrease in water content at a temperature variation of 35ºC, 45ºC, and 55ºC was 80.81% so that the averaging water content of dried turmeric was obtained at 4.39%, which met the SNI standard for dry turmeric water content. The fastest drying rate at 55ºC averaging 2.38% bk/min. The highest yield of turmeric powder is at 35ºC, which is 12.0%. Turmeric powder is the highest protein at a temperature of 55ºC of 5.21%. Based on the discriminatory test, which approaches the color and scent of commercial turmeric powder is turmeric powder which is dried at 45ºC with a score of 2 (the same). Based on the organoleptic test results, panelists prefer the color of turmeric powder dried at a temperature of 45ºC with a score of 5 (very like) when compared to the color of turmeric powder dried at temperatures of 35ºC and 55ºC, where the panelists only gave a score of 4 (like).
Identifikasi Cemaran Mikroplastik pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis C.) dan Dencis (Sardinella lemuru) di TPI Lampulo, Banda Aceh Zata Yumni; Dewi Yunita; Muhammad Ikhsan Sulaiman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.147 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13808

Abstract

Abstrak Indonesia secara geografis memiliki luas perairan yang lebih luas dibandingkan daratan. Negara yang memiliki jumlah sampah plastik di laut tertinggi nomor dua di dunia ditempati oleh Indonesia (0.48-1.29 juta metrik ton/tahun) setelah China (1.32-3.53 juta metrik ton/ tahun) berdasarkan survei yang dilakukan oleh Jambeck et al (2015). Banyaknya penggunaan plastik ini dapat memberikan dampak pada penumpukan plastik yang semakin tinggi sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan yang berujung pada pencemaran bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mikroplastik pada ikan tongkol dan ikan dencis dari TPI Lampulo, Banda Aceh. Pada penelitian sampel ikan tongkol dan dencis diambil sebanyak enam ekor. Analisis pada penelitian ini adalah analisis kualitatif deskriptif. Metode penelitian yang digunakan yaitu perendaman sampel dengan menggunakan KOH 10% selama 12 jam. Hasil dari perendaman dilakukan proses sentrifugasi dengan kecepatan putar 5000 rpm selama 5 menit Selanjutnya sampel dilihat dibawah mikroskop, hasil kandungan mikroplastik yang dilihat dimikroskop pada pembesaran 10 dan 100 kali. Penelitian utama meliputi preparasi sampel, identifikasi mikroplastik secara mikroskopis dan identifikasi mikroplastik dengan FT-IR (Fourier Transfrom Infrared).Identification of Microplastic Contamination of Tuna and Dencis fish in TPI Lampulo, Banda AcehAbstract. Geographically Indonesia is broader waters than land. The country with the second highest number of plastic waste in the sea in the world is occupied by Indonesia as much as 0.48-1.29 million metric tons / year based on a survey conducted by Jambeck et al. (2015) after China (1.32 - 3.53 million metric tons). Many uses of this plastic can have an impact on the accumulation of plastic which is increasingly high, causing environmental pollution that results in food pollution. This study aims to determine the presence of microplastics in tuna and dencis from TPI Lampulo, Banda Aceh and salt originating from Lamnyong and Lambaro markets. In this study, there were 6 samples of tuna and dencis originating from TPI Lampulo, Banda Aceh, while salt samples were taken at two different places, Lambaro and Lamnyong markets. The analysis in this research is descriptive qualitative analysis. The research method used is immersion of the sample using 10% KOH for 12 hours. The results of the immersion were centrifuged with a rotational speed of 5000 rpm for 5 minutes. Then the sample was viewed under a microscope, the results of the microplastic content were seen microscoped at magnifications of 10 and 100 times. The main research included sample preparation, microscopic identification of microplastics and identification of microplastics with Fourier Transfrom Infrared (FT-IR).
Analisis dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Sawah Terhadap Pendapatan dan Sistem Kehidupan Rumah tangga Petani di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar putri ivoni; Mustafa Usman; Azhar Azhar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.939 KB)

Abstract

Abstrak. Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian merupakan perubahan pengunaan lahan yang di ubah ke penggunaan lainnya sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kebutuhan pangan, pendapatan dan juga lingkungan. Pendapatan dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan usahatani dan pendapatan rumah tangga. Pendapatan usahatani merupakan pendapatan yang diperoleh dari usaha dalam sektor pertanian, sedangkan pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan yang diperoleh dari dalam maupun luar sektor pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak alih fungsi pertanian sawah trehadap pendapatan dan sistem kehidupan petani di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Metode analisis dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani seluruh responden mengalami penurunan pasca alih fungsi lahan yang di uji menggunakan rumus Future Value. Sedangkan untuk sistem kehidupan petani pasca alih fungsi lahan, petani mengelola strategi nafkah maupun pola adaptasi dengan memperoleh pendapatan yang berasal dari pendapatan rumah tangga (pendapatan dari dalam maupun luar sektor pertanian) yang di uji dengan menggunakan kuisioner.
Variasi Penggunaan Jenis Bahan Baku (Air Cucian Beras dan Air Kelapa) dengan Penambahan Ekstrak Tauge Terhadap Rendemen dan Mutu Nata Nurul Izzati; Irfan Irfan; Syarifah Rohaya
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.403 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.10923

Abstract

Abstrak.  Nata merupakan olahan fermentasi yang menggunakan starter Acetobacter xylinum dalam pembuatannya. Bahan baku yang sering digunakan dalam pembuatan nata yaitu air kelapa. Seiring dengan perkembangan teknologi dan  pemikiran masyarakat maka bahan baku yang digunakan dalam pembuatan nata semakin bervariasi tidak hannya menggunakan air kelapa tetapi dapat juga menggunakan air cucian beras. Air cucian beras dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis dengan melibatkan starter Acetobacter xylinum dalam pembuatan nata. Hal ini dikarenakan pada air cucian beras masih mengandung sakarida jenis pati sebanyak 85-90%, protein, glutein, selulosa, hemiselulosa, gula dan vitamin B1 yang terdapat pada pericarpus dan aleuron. Pada pembuatan nata sumber nitrogen yang digunakan yaitu ekstrak tauge untuk menggantikan urea atau ZA (Zwavelzure ammoniak). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses variasi penggunaan jenis bahan baku air cucian beras dan air kelapa dengan penambahan konsentrasi ekstrak tauge terhadap rendemen dan mutu nata yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan faktor jenis bahan baku (B) dan onsentrasi ekstrak tauge (K). Jenis bahan baku (B) terdiri dari 2 taraf yaitu B1= air cucian beras dan B2= air kelapa, sedangkan kosentrasi ekstrak tauge terdiri dari 5 taraf yaitu K1= 0%, K2= 0,25%, K3= 0,5%, K4= 0,75% dan K5= 15%. Ulangan dilakukan 2 kali dan diperoleh 20 satuan percobaan. Analisis yang dilakukan yaitu rendemen, kadar air, serat kasar, ketebalan dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jenis bahan baku dan konsentrasi ekstrak tauge berpengaruh sangat nyata terhadap rendemen dan kadar air.  Adapun penggunaan jenis bahan baku berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air nata sedangkan pada penambahan konsentrasi ekstrak tauge berpengaruh nyata. Nata de rice dan nata de coco memiliki rendemen berkisar dari 2.01% - 8.23%, kadar air 69.11% - 81.49%, serat kasar 4.57% - 9.38%, ketebalan 0.02 cm – 0.57 cm dan tekstur 67 g/cm² – 289.5 g/cm².Variation of Raw Material (Rice and Coconut Water) With The Addition Of Bean Sprouts Extracts to The Yield and Quality Of NataAbstract: Nata is a fermented process that uses a starter of Acetobacter xylinum in its manufacture. Raw materials that are often use in making nata are coconut water. Along with technological developments and people’s thinking, the raw materials used in making nata are increasingly varied, not only using coconut water but also using rice washing water. Rice washing water can be processed into economically valuable products involving the starter of Acetobacter xylinum in making nata. This is because the rice washing water still contains 85-90% starch saccharide, protein, glutein, cellulose, hemicelluloses, sugar and vitamin B1which are found in pericarpand aleurone. In the manufacture of nitrogen sources used are bean sprouts extract to replace urea or ZA (Zwavelzure ammoniak). This study aims to examine the process of variation in the use of types of raw materials for rice washing and coconut water by adding bean sprouts extract to the yield of nata quality produced. This study used a completely randomized design (CRD) factorial pattern whith raw material type factors (B) and bean sprout extract (K). Raw material (B) consists of 2 levels, namely B1= rice washing water and B2= coconut water, while bean sprout extract consists of 5 levels, namely K1= 0%, K2= 0,25%, K3= 0,5%, K4=0,75% dan K5= 1%. Deuteronomy was done twice and 20 experimental units were obtained. The analysis carried out was the yield, moisture content, crude fiber, texture, thickness. The results showed that the use of raw materials and exstraction of bean sprouts significantly affected the yield and moisture content. The use of raw material for rice washing water and coconut water has a very significant effect on water content and has a significant effect on bean extract. Nata de rice and nata de coco have yields ranging from 2.01% - 8.23%, moisture content 69.11% - 81.49%, crude fiber 4.57 % - 9.38%, thickness 0.02 cm – 0.57 cm and texture 67 g/cm² - 289.5 g/cm².
Efektivitas Fungsi Lembaga Adat Keujreun Blang dalam Pengelolaan Air Irigasi di Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar Eka Maulida; Sofyan Sofyan; Teuku Makmur
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.688 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9072

Abstract

Abstrak. Keujreun blang merupakan lembaga yang mengatur kegiatan di bidang usaha persawahan yang mempunyai tugas menentukan dan mengkoordinasikan tata cara turun kesawah, mengatur pembagian air kesawah petani, membantu pemerintah dalam bidang pertanian, mengkoordinasikan khanduri blang dan upacara lain yang berkaitan dengan adat dalam usaha pertanian sawah, memberi teguran atau sanksi kepada petani yang melanggar aturan-aturan adat meugo atau tidak melaksanakan kewajiban lain dalam sistem pelaksanaan pertanian sawah secara adat serta menyelesaikan sengketa antar petani yang berkaitan dengan pelaksanaan usaha pertanian. Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu daerah yang telah memunculkan suatu pemikiran untuk menguatkan kembali peranan dan keberadaaan keujreun blang sebagai salah satu lembaga yang ada di Aceh sejak tahun 1817. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas fungsi lembaga adat keujreun blang dalam pengelolaan air irigasi. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar. Objek dari penelitian ini adalah petani padi sawah yang berada di daerah layanan irigasi yang dikelola keujreun blang di Kecamatan Kuta Cot Glie Kabupaten Aceh Besar. Pengambilan sampel menggunakan teknik Simple Random sampling. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan fungsi lembaga adat keujreun blang dalam pengelolaan air irigasi dilihat dari tingkat pelaksanaan pengawasan adat blang, pengawasan ketersediaan air, pengawasan saluran dan penggunaan air, penegakan adat blang, penyelesaian sengketa, dan pemberian teguran dan sanksi dinilai efektif yaitu sebesar 94,7 persen.The Effectiveness Of The Traditional Keujreun Blang Institution Function In The Management Of Irrigation Water In The Kuta Cot Glie Sub-District, Aceh Besar DistrictAbstract. Keujreun blang is an institution that regulates activities in the field of rice fields that have duties to determine and coordinate procedures for descending down, regulate the distribution of water to farmers, assist the government in the field of agriculture, coordinate khanduri blang and other ceremonies related to adat in paddy farming, give reprimands or sanctions to farmers who violate meugo customary rules or not carry out other obligations in the customary paddy farming system and resolve disputes between farmers related to the implementation of agricultural business. Kuta Cot Glie Aceh Besar is one of the areas that has raised a thought to reinforce the role and existence of keujreun blang as one of the existing institutions in Aceh since 1817. This research aims to know the effectiveness of the functioning of the institutions of the indigenous keujreun blang in the management of irrigation water. This research was carried out at Kuta Cot Glie Aceh Besar District. The object of this research is the rice farmers who were in the area of irrigation service managed keujreun blang in Kuta Cot Glie Aceh Besar District. Sampling techniques using Simple Random sampling. Data analysis method used in this research is descriptive analysis techniques. The results showed that the implementation of the custom institution function keujreun blang in irrigation water management as seen from the level of implementation of the customs surveillance, monitoring of water availability blang, surveillance channels and water usage, customs enforcement blang, dispute resolution, and the granting of reprimand and sanctions assessed effectively i.e. of 94.7 percent.
Kemampuan Isolat Rizobakteri Indigenous Sebagai Agen Biofertilizer terhadap Pertumbuhan Beberapa Varietas Nilam Aceh Nur Azizah; Trisda Kurniawan; Halimursyadah Halimursyadah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.096 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22379

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis isolat rizobakteri sebagai agen biofertilizer dan jenis varietas nilam serta interkasi antara keduanya terhadap pertumbuhaan tanaman nilam Aceh. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian, Laboratorium Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan Nino Park Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, Sektor Timur, Darussalam, Banda Aceh, yang berlangsung dari Bulan Januari sampai dengan Juni 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 10x3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama Rizobakteri (R) dengan 10 taraf yaitu tanpa perlakuan rizobakteri dan perlakuan 9 jenis isolat rizobakteri CL 4/1, KI 8/3, PS 4/2, PS 6/1, PS 6/3A, PS 7/1, PS 8/4K, PS 8/4U, dan PS 8/5 dan faktor kedua Varietas (V) dengan 3 taraf yaitu varietas Lhokseumawe, Tapak Tuan dan Sidikalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis isolat rizobakteri berpengaruh sangat nyata terhadap parameter jumlah daun umur 4, 8, dan 12 MSA (Minggu Setelah Aplikasi). Jenis isolat rizobakteri terbaik dalam memacu pertumbuhan tanaman nilam Aceh adalah isolat rizobakteri KI 8/3, PS 6/1 dan PS 6/3A. Varietas nilam berpengaruh sangat nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 4 MSA, jumlah daun umur 4 dan 8 MSA, jumlah cabang umur 4 dan 8 MSA, berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 8 MSA. Varietas nilam terbaik dijumpai pada perlakuan jenis varietas Sidikalang. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara perlakkuan jenis isolat rizobakteri dan jenis varietas terhadap semua parameter yang diamati.The Ability of Indigenous Rhizobacteria Isolates as Biofertilizer Agents on Growth of some Aceh Patchouli VarietiesAbstract. This research aims to obtain types of rhizobacteria isolates as biofertilizer agents and types of patchouli varieties and the interaction between them on the growth of Aceh patchouli. This research was carried out at the Seed Science and Technology Laboratory, Faculty of Agriculture, Biology Laboratory, Faculty of Teacher Training and Science and the Nino Park Atsiri Research Center, Syiah Kuala University, East Sector, Darussalam, Banda Aceh, which took place from January to June 2022. This research used a 10x3 factorial randomized block design with 3 replications. The first factor is rhizobacteria (R) with 10 levels, namely without treatment of rhizobacteria and treatment of 9 types of rhizobacteria isolates CL 4/1, KI 8/3, PS 4/2, PS 6/1, PS 6/3A, PS 7/1, PS 8/4K, PS 8/4U, and PS 8/5 and the second factor was Variety (V) with 3 levels, namely the Lhokseumawe, Tapak Tuan and Sidikalang varieties. The results showed that the type of rhizobacteria isolates had a very significant effect on the parameters of the number of leaves aged 4, 8, and 12 WAA (Week After Application). The best types of rhizobacteria isolates in accelerating the growth of Aceh patchouli were rhizobacteria isolates KI 8/3, PS 6/1 and PS 6/3A. Patchouli variety had a very significant effect on plant height parameters at 4 WAA, number of leaves aged 4 and 8 WAA, number of branches aged 4 and 8 WAA, significantly affected plant height parameters at 8 WAA. The best patchouli varieties were found in the treatment of the Sidikalang variety. There was no significant interaction between the treatment of rhizobacteria isolates and varieties of all parameters observed.

Page 69 of 103 | Total Record : 1028