cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Analisis Kehilangan Tekanan Air pada Jaringan Perpipaan dalam Rangka Menuju Kampus Hijau Universitas Syiah Kuala Menggunakan Software EPANET 2.2 Abuijal Muhammad Rifaldi; Agus Arip Munawar; Ichwana Ramli
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.039 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22275

Abstract

Abstrak . Kehilangan aliran dalam sistem perpipaan menunjukkan kinerja sistem perpipaan. kehilangan tekanan merupakan kehilangan yang tidak dapat dihindari pada aliran fluida, yang akan menyebabkan tekanan pada aliran menjadi berkurang, sehingga menurunkan kecepatan aliran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehilangan udara dan penurunan tekanan pada jaringan perpipaan distribusi air bersih di lingkungan kampus USK. Untuk menentukan headloss digunakan rumus Hazen-Williams . Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh American Water Work Association, kehilangan kehilangan tekanan pada jaringan distribusi udara pada lingkungan kampus USK 3 tahun pengujian yaitu tahun 2019, 2020 dan 2021 sudah sesuai. Kriteria tersebut menyatakan bahwa untuk kisaran optimum yang boleh terjadi adalah 1-4 m/km dan tidak boleh melebihi 10 m/km. Sementara tekanan kehilangan yang terjadi pada lingkungan kampus USK masih berkisar 1-4 m/km. Hasil kampus kehilangan tekanan yang dilakukan pada kawasan lingkungan USK menggunakan software EPANET 2.2 menunjukkan bahwa, pada tahun 2019, 2020 dan 2021 kehilangan tekanan atau unit headloss yang terbesar terjadi pada pipa 76 sebesar 0,29 m/km pada tahun 2019, 0,23 m/ km pada tahun 2020 dan 0,4 m/km pada tahun 2021. Sementara untuk kehilangan tekanan yang terkecil terjadi pada beberapa pipa, diantaranya 48, 49, 50, 51, 52, 60, 61, 65, 66, 69. 70, 71 , 72, 74, 81, 90 dan 92 dengan nilai sebesar 0 m/km. hasil Berdasarkan simulasi tekanan (Pressure ) pada tiap junction yang dilakukan menggunakan software EPANET dalam 3 tahun pengujian menunjukkan bahwa, junction yang mengalami tekanan terbesar terjadi pada junction 53 dan 56 sebesar 4218,25 m di tahun 2019. Tahun 2020 terjadi pada junction 53, 54, 55, 56, 59, 60, 66 dan 69 sebesar 4.740,34 m. Tahun 2021 terjadi pada junction 53 dan 56 sebesar 3.544,96 m. Sementara itu untuk 3 tahun pengujian terjadi pada yang sama yaitu 2 dan 3 sebesar 0,19 m.Analisis Headloss Pada Jaringan Perpipaan Dalam Rangka Green Campus Universitas Syiah Kuala Menggunakan Software Epanet 2.2Abstrak.Loss of flow in the piping system indicates the performance of the piping system. Pressure loss is an unavoidable loss in fluid flow, which will cause the pressure in the flow to decrease, thereby reducing the flow velocity. This study aims to determine water loss and pressure drop in the clean water distribution pipeline network in the USK campus environment. To determine the headloss, the Hazen-Williams formula is used. The results of the study indicate that based on the criteria set by the American Water Work Association, the loss of pressure on the clean water distribution network in the USK campus environment for 3 years of testing, namely 2019, 2020 and 2021 is appropriate. The criteria state that the optimum range that may occur is 1-4 m/km and should not exceed 10 m/km. Meanwhile, the pressure loss that occurred in the USK campus environment was still in the range of 1-4 m/km. The results of the pressure loss simulation carried out in the USK campus environment using EPANET 2.2 software show that, in 2019, 2020 and 2021 the largest pressure loss or headloss unit occurred in pipe 76 at 0.29 m/km in 2019, 0.23 m/km. km in 2020 and 0.4 m/km in 2021. Meanwhile, the smallest pressure loss occurred in several pipes, including 48, 49, 50, 51, 52, 60, 61, 65, 66, 69. 70, 71 , 72, 74, 81, 90 and 92 with a value of 0 m/km. Based on the results of the pressure simulation (Pressure) at each junction carried out using EPANET software in 3 years of testing, it shows that the junction experiencing the greatest pressure occurs at junction 53 and 56 at 4218.25 m in 2019. In 2020 it occurs at junction 53, 54 , 55, 56, 59, 60, 66 and 69 of 4,740.34 m. In 2021 it will occur at junctions 53 and 56 of 3,544.96 m. While the smallest pressure for 3 years of testing occurred at the same junction, namely 2 and 3 of 0.19 m.
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccarata Sturt) Akibat Perbedaan Dosis Pupuk NPK Dan Konsentrasi POC Campuran Daun Kirinyuh Dan Kulit Pisang Andri Ramadhan; Trisda Kurniawan; Jumini Ali
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.795 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22458

Abstract

Abstrak. Jagung (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu tanaman biji-bijian yang penting setelah gandum dan padi. Jagung banyak dikembangkan di Indonesia sebagai bahan makanan, pakan ternak dan bahan baku industri jagung. Hal ini disebabkan beberapa faktor yakni kebutuhan jagung yang terus meningkat, serangan hama afau penyakit, oleh sebab itu diperlukan upaya untuk meningkatkan hasil tanaman jagung manis dengan pemupukan NPK dengan dosis yang tepat dan pemberian Pupuk Organik Cair (POC) campuran daun kirinyuh dan kulit pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk NPK dan konsentrasi POC serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun percobaan, Sektor Timur, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh mulai dari bulan Januari 2021 sampai Juni 2021. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung manis varietas Bonanza F1 dibutubkan 1.400 benih, pupuk NPK., 15 kg daun kirinyuh, 15 kg kulit pisang, 1 liter EM4, dan insektisida. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 4x3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti ada dua yaitu- dosis pupuk NPK yang terdiri dari 4 taraf, 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300kg ha-1, 450kg ha-1, dan konsentrasi POC terdiri dari 3 taraf, 0 ml 1-1, 250 ml I-1, 500 ml I-1. Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan dosis pupuk NPK berpengaruh terhadap seluruh parameter yang diamati terkecuali parameter jumlah daun 15 HST. Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan dosis pupuk NPK berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman,jumlah daun, berat tongkol berkelobot, panjang tongkol berkelobot, berat tongkot tanpa kelobot, diameter tongkol tanpa kelobot, dan potensi hasil, dan tidak berpengaruh nyata terhadat jumlah daun 15 HST. Pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yg lebih baik terdapat pada dosis pupuk NPK 300 kg ha-. Konsentrasi pupuk organik cair campuran daun kirinyuh dan kulit pisang tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis.Interaksi antara dosis pupuk NPK dan konsentrasi pupuk organik cair campuran daun kirinyuh dan kulit pisang tidak nyata terhadap semua parameter yang diamatiKata kunci: Pupuk NPK, Daun Kirinyuh dan Kulit PisangGrowth And Yield Of Sweat Corn (Zea mays maccarata Sturt) as a Result of Differences In Dosage of NPK Fertilizer And POC Concentration of Kirinyuh Leaf Mix And Banana PeelAbstract. Corn (Zea mays saccharata Sturt) is one of the most important grain crops after wheat and rice. Corn is widely developed in Indonesia as a food ingredient, animal feed and raw material for the corn industry. This is due to several factors, namely the increasing demand for corn, pest or disease attacks, therefore efforts are needed to increase sweet corn crop yields with NPK fertilization with the right dose and application of Liquid Organic Fertilizer (POC) a mixture of kirinyuh leaves and banana peels. This study aims to determine the effect of the dose of NPK fertilizer and POC concentration and the interaction between the two on the growth and yield of sweet corn. This research was carried out at the experimental garden, East Sector, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh from January 2021 to June 2021. The material used in this study was sweet corn of the Bonanza F1 variety. 1,400 seeds were needed, NPK fertilizer, 15 kg of leaves. kirinyuh, 15 kg of banana peel, 1 liter of EM4, and insecticide. This study used a 4x3 factorial randomized block design with 3 replications. There were two factors studied, namely- the dose of NPK fertilizer which consisted of 4 levels, 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300kg ha-1, 450kg ha-1, and the POC concentration consisted of 3 levels, 0 ml 1-1, 250 ml I-1, 500 ml I-1. Based on the results of the study, the dose of NPK fertilizer had an effect on all observed parameters except for the number of leaves at 15 DAP. The results showed that the dose of NPK fertilizer had a very significant effect on plant height, number of leaves, weight of kelobot cobs, length of cob cobs, weight of cob without kelobot, diameter of cobs without kelobot, and yield potential, and had no significant effect on number of leaves 15 DAP. Better growth and yield of sweet corn was found at a dose of 300 kg ha of NPK fertilizer. The concentration of liquid organic fertilizer mixed with kirinyuh leaves and banana peels had no significant effect on growth and yield of sweet corn. Keywords: NPK Fertilizer, Kirinyuh Leaves and Banana Peel
Tingkat Kesukaan Konsumen terhadap Kopi Wine Gayo pada Beberapa Derajat Penyangraian Nauval Azmi; Yusya Abubakar; Juanda Juanda; Satriana Satriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.942 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.19886

Abstract

Kopi adalah satu dari sekian banyak minuman yang paling diminati oleh masyarakat global. Sebagian orang bahkan harus meneguk secangkir kopi sebelum memulai kegiatan hariannya. Data konsumsi kopi dunia menunjukkan sebanyak 70% peminum kopi menikmati kopi arabika, sedangkan sisanya (30%) memilih kopi robusta. Akhir-akhir ini produsen mulai memperkenalkan Kopi Wine Gayo yang mempunyai cita rasa unik. Namun derajat penyangraian yang disukai oleh konsumen untuk produk olahan ini belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap kopi wine gayo yang disanggrai pada derajat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor non faktorial. Faktor perlakuan, meliputi suhu 193ºC (light), 198ºC (ligh to medium), 204ºC (medium), 208ºC (medium to dark) dan 213ºC (dark) dengan 3 ulangan. Tingkat kesukaan konsumen dianalisis dengan uji hedonik menggunakan 5 skala (mulai dari tidak suka sampai dengan sangat suka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penyangraian berpengaruh nyata terhadap kesukaan konsumen kopi wine Gayo. Uji hedonik kopi wine menggambarkan bahwa warna yang paling disukai terdapat pada tingkat penyangraian medium dengan rata-rata 3,76 (suka), sedangkan aroma yang paling disukai terdapat pada tingkat penyangraian medium  to dark dengan rata-rata 3,75 (suka). Perlakuan terbaik didapat pada kopi wine Gayo yang disanggrai dengan derajat medium.Kopi adalah satu dari sekian banyak minuman yang paling diminati oleh masyarakat global. Sebagian orang bahkan harus meneguk secangkir kopi sebelum memulai kegiatan hariannya. Data konsumsi kopi dunia menunjukkan sebanyak 70% peminum kopi menikmati kopi arabika, sedangkan sisanya (30%) memilih kopi robusta. Akhir-akhir ini produsen mulai memperkenalkan Kopi Wine Gayo yang mempunyai cita rasa unik. Namun derajat penyangraian yang disukai oleh konsumen untuk produk olahan ini belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap kopi wine gayo yang disanggrai pada derajat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor non faktorial. Faktor perlakuan, meliputi suhu 193ºC (light), 198ºC (ligh to medium), 204ºC (medium), 208ºC (medium to dark) dan 213ºC (dark) dengan 3 ulangan. Tingkat kesukaan konsumen dianalisis dengan uji hedonik menggunakan 5 skala (mulai dari tidak suka sampai dengan sangat suka). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penyangraian berpengaruh nyata terhadap kesukaan konsumen kopi wine Gayo. Uji hedonik kopi wine menggambarkan bahwa warna yang paling disukai terdapat pada tingkat penyangraian medium dengan rata-rata 3,76 (suka), sedangkan aroma yang paling disukai terdapat pada tingkat penyangraian medium  to dark dengan rata-rata 3,75 (suka). Perlakuan terbaik didapat pada kopi wine Gayo yang disanggrai dengan derajat medium.
PENGARUH LAMA MASA SIMPAN INOKULUM CENDAWAN Synchytrium pogostemonis PADA BEBERAPA VARITAS NILAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT NILAM Ruhama ID; Rina Sriwati; Tjut Chamzurni
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.851 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.20141

Abstract

Masa simpan inokulum mempengaruhi Pertumbuhan bibit nilam, semakin tua umur inokulum daya patogenisitas semakin berkurang, pertumbuhan tunas berpengaruh. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh  lama masa simpan inokulum cendawan Synchytrium pogostemonis terhadap patogenisitas penyakit budok dan pertumbuhan bibit nilam. Persemaian stek nilam metoda sungkup telah dilaksanakan di Nilam Innovation Park (NINO Park),  3 variertas nilam Aceh yaitu Tapak Tuan, Sidikalang dan Lhokseumawe. Suspensi inokulum cendawan patogen  dengan lama masa simpan yaitu 1, 24 dan 48 jam. Tempat di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Program Studi Proteksi Tananama . Pengujian  dilaksanakan di kebun percobaan Atsiri Research Center (ARC), Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor, faktor  varietas yang terdiri dari 3 jenis nilam yaitu Tapak Tuan, Sidikalang dan Lhokseumawe, faktor ke-2 lama masa simpan inokulum patogen terdiri dari tiga taraf yaitu 1, 24 dan 48 jam. Terdapat sembilan kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tunas pada tanaman nilam tidak mengalami peningkatan yang tinggi. Hal ini diduga karena infeksi S. pogostemonis telah menghambat pertumbuhan tunas semua varietasnya.  S. pogostemonis disimpan pada umur 1 jam, 24 jam dan 48 jam, menyebabkan rata-rata jumlah tunas tanaman nilam tidak mengalami peningkatan yang tinggi, Infeksi yang disebabkan oleh S. pogostemonis dapat menghambat pertumbuhan tunas disetiap perlakuan.The Influence of Long Storage Inoculum of the Fungal Synchytrium pogostemonis on Several Variety of Patchile on the Growth of Patchouli SeedsThe shelf life of the inoculum affects the growth of patchouli seedlings, the older age of the inoculum causes the less pathogenicity and the growth of shoots has an effect. The purpose of this study was to determine the effect of the long shelf life of the fungus Synchytrium pogostemonis on the growth of patchouli seedlings. Patchouli cuttings with the hood nursery method has been carried out at the Nilam Innovation Park (NINO Park), 3 Aceh patchouli varieties, namely Tapak Tuan, Sidikalang and Lhokseumawe have been used. Inoculum suspension of pathogenic fungi with long shelf life of 1, 24 and 48 hours. Place in the Laboratory of Plant Diseases Plant Protection Study Program. The test was carried out at the Atsiri Research Center (ARC) experimental garden, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh. Using a completely randomized design (CRD) factorial pattern consisting of two factors, the varietal factor consisting of 3 types of patchouli (Tapak Tuan, Sidikalang and Lhokseumawe), the second factor was the shelf life of the pathogen inoculum consisting of three levels, ( 1, 24 and 48 o'clock). There were nine treatment combinations with three replications. The results showed that the number of shoots on patchouli did not increase significantly. This is presumably because S. pogostemonis infection has inhibited shoot growth of all varieties. S. pogostemonis was stored at the age of 1 hour, 24 hours and 48 hours, causing the average number of patchouli shoots not increase significantly. Infections caused by S. pogostemonis could inhibit shoot growth in each treatment.
Visualisasi Pengendalian Kondisi Lingkungan Greenhouse Untuk Pertumbuhan Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans P.) Dengan Menggunakan Logika Fuzzy Yusril Agus Putra; Indera Sakti Nasution; Agus Arip Munawar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.395 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18959

Abstract

Abstrak. Kemajuan di bidang teknologi yang begitu pesat sekarang ini, memacu semua aspek untuk mengalami perkembangan-perkembangan ke arah yang lebih baik terutama pada sektor pertanian sebagai salah satu komoditas utama manusia. Melalui implementasi Industri 4.0 di sektor pertanian, diharapkan proses usaha tani semakin efisien, sehingga menyebabkan peningkatan produktivitas dan meningkatkan daya saing produk yang terkhusus pada produk yang berasal dari sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah program komputer yang didesain menggunakan program Visual Basic 6.0 untuk dapat memvisualisasikan kondisi lingkungan greenhouse untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans P.) dengan kendali logika fuzzy. Adapun variabel yang akan dikendalikan adalah suhu, kelembaban udara dan kadar air tanah dari ruang tumbuh kangkung darat (Ipomoea reptans P.). Prinsip kerja dari perangkat lunak (software) pengendali kondisi lingkungan greenhouse pada tanaman kangkung darat ini adalah saat nilai suhu berada lebih 25oC maka program akan menyalakan kipas dan ketika nilai suhu berada dibawah 25oC kipas akan mati secara otomatis, ketika nilai kelembaban udara berada kurang dari 60% maka program akan menjalankan sprayer dan ketika nilai kelembaban udara lebih dari 60% maka program akan mematikan sprayer secara otomatis dan saat kadar air tanah kurang dari 60% maka program akan otomatis menyalakan pompa air dan akan mematikannya secara otomatis saat nilai kadar air tanah bernilai lebih dari 60%. Hasil pengujian dari sampel percobaan berdasarkan kombinasi pengujian maka didapatkan software dapat berjalan dengan sangat baik dengan tingkat persentase keakuratan 100%.Visualization of Controlling Greenhouse Environmental Conditions For The Growth of Kale Plant (Ipomoea reptans P.) using Fuzzy LogicAbstract. The rapid development of technology has made all aspects to create developments towards a better direction, especially in the agricultural sector as one of the important commodities. The implementation of Industry 4.0 in the agricultural sector is expected to be more efficient, causing an increase in productivity and product competitiveness, especially in products originating from the agricultural sector. This study aims to create a computer program using Visual Basic 6.0 program to be able to visualize the greenhouse environmental conditions for the growth of water spinach (Ipomoea reptans P.) with fuzzy logic control. The variables to be controlled are temperature, air humidity and soil moisture content of the kale (Ipomoea reptans P.) growing room. The principle of the software controlling greenhouse environmental conditions on the kale is when the temperature value is more than 25oC, the program will turn on the fan and when the temperature value is below 25oC the fan will turn off automatically, when the humidity value is less than 60% then the program will run the sprayer and when the humidity value is more than 60% then the program will turn off the sprayer automatically and when the soil moisture content is less than 60% then the program will automatically turn on the water pump and will turn it off automatically when the soil moisture content value is more than 60 %. The experimental results based on a combination of tests obtained that the software can operate very well with a percentage of 100%.
Distribusi Spasial Lauraceae Di Hutan Arul Relem Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh Cici Ariska A; Essy Harnelly; Muhammad Rusdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.217 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18210

Abstract

Abstrak. Hutan Arul Relem merupakan hutan lindung yang terdapat di Kecamatan Pining yang masih menyimpan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna, salah satu keanekaragaman yang terdapat di hutan Arul Relem adalah suku Lauraceae. Suku Lauraceae merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki kualitas kayu yang bagus dan nilai ekonomi yang cukup penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis suku Lauraceae dan memetakan keberadaan suku Lauraceae di hutan Arul Relem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode garis berpetak yang dibuat sebanyak 4 transek dan 20 plot. Di mana panjang setiap transek 180 m, dan setiap transek dibuat 5 petak ukur yang berukuran 20x20 m dengan jarak antar petak 20 m, dan pada setiap petak ukur dibuat sub-sub petak berdasarkan strata pertumbuhan. Berdasarkan hasil pengamatan di hutan Arul Relem terdapat 10 jenis suku Lauraceae yang berasal dari 5 genus yaitu genus Actinodapne, Litsea, Beilcsmiedia, Cinnamomum, dan Phoebe, dengan jumlah individu sebanyak 93 individu yang terdiri dari 30 individu pada strata pohon, 17 individu tiang, 12 individu pada strata pancang, dan 34 individu strata semai. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah jenis Actinodaphne nitida yaitu sebanyak 19 individu dan strata pertumbuhan yang paling banyak ditemukan adalah strata semai. Suku Lauraceae tersebar pada beberapa ketinggian yaitu pada ketinggian 500 mdpl terdapat 31 individu suku Lauraceae, pada ketinggian 520 mdpl terdapat 38 individu,  pada ketinggian 550 mdpl terdapat 17 individu, dan pada ketinggian 575 terdapat 4 individu. Tingkatan yang paling dominan ditemukan pada setiap ketinggian adalah strata semai dan jenis yang paling dominan ditemukan adalah jenis Actinodaphne nitida, Actinodaphne glabra, dan Litsea sp.Abstract. Arul Relem Forest is a protected forest located in Pining District which still stores biodiversity both flora and fauna, one of the diversity found in Arul Relem forest is the Lauraceae tribe. The Lauraceae are a group of plants that have good wood quality and significant economic value. The purpose of this study was to identify the species of the Lauraceae tribe and to map the presence of the Lauraceae tribe in the Arul Relem forest. The method used in this research is the checkered line method which consists of 4 transects and 20 plots. Where the length of each transect is 180 m, and each transect is made 5 plots measuring 20x20 m with a distance between plots of 20 m, and in each measuring plot, sub-plots are made based on growth strata. Based on observations in the Arul Relem forest, there are 10 species of the Lauraceae family originating from 5 genera, namely the genus Actinodapne, Litsea, Beilcsmiedia, Cinnamomum, and Phoebe, with a total of 93 individuals consisting of 30 individuals in tree strata, 17 pole individuals, 12 individuals in the sapling strata, and 34 individuals in the seedling strata. The most common type found was Actinodaphne nitida, which was 19 individuals and the most common growth strata was the seedling strata. The Lauraceae tribe is spread over several altitudes, namely at an altitude of 500 meters above sea level there are 31 individuals of the Lauraceae tribe, at an altitude of 520 meters above sea level there are 38 individuals, at an altitude of 550 meters above sea level there are 17 individuals, and at an altitude of 575 there are 4 individuals. The most dominant level found at each altitude was the seedling strata and the most dominant species found were Actinodaphne nitida, Actinodaphne glabra, and Litsea sp. 
Uji Karakteristik Biochar dengan Pendekatan Near Infrared Spectroscopy (NIRS) Intan Ratna Juwita; Agus Arip Munawar; Darusman Darusman
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.815 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.17201

Abstract

Abstrak. Proximate analysis dan elemental analysis merupakan dua dari beberapa metode yang umum digunakan untuk uji jaringan tanaman. Namun, metode tersebut butuh waktu, tenaga, bahan kimia, biaya mahal serta tidak real time. Sehingga para pakar mencari alternatif lain, yaitu menggunakan Spektroskop sinar infra merah dekat (Near Infrared Spectroscopy, NIRS) untuk memprediksi kandungan unsur yang terkandung dalam tanah maupun jaringan tanaman. NIRS bekerja dengan panjang gelombang 780 nm - 2500 nm atau jumlah gelombang per 12.800 cm−1 hingga 4.000 cm−1.  Komposisi unsur yang terkandung pada sampel dihasilkan dari pantulan sinar infrared setelah sampel diberikan radiasi sinar infrared. Metode penelitian menggunakan metode pembanding yaitu dengan membandingkan hasil uji analisis proximate. Regresi liner (Principal Component Regression, dan Partial Least Square Regression) digunakan sebagai pembanding data aktual dengan estimasi yang dihasilkan dari spektrum NIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Near Infrared Spectroscopy (NIRS) belum dapat menggantikan metode proximate analysis pada sampel biochar.  Estimasi dengan Partial Least Square Regression menghasilkan nilai lebih dekat dengan nilai data aktual, bila dibandingkan dengan metode Principal Component Regression.  Hal ini dikarenakan sampel uji yang digunakan masih kurang cukup dan terbukti dari hasil prediksi NIR yang tergolong sufficient performance. Disarankan pengujian lanjut dengan mengunakan sampel yang lebih banyak dan bervariasi.Biochar Characteristic Using Near Infrared Spectroscopy (NIRS) ApproachAbstract. Proximate analysis and elemental analysis are two of several methods of analysis of mineral soil and plant tissue. However, these methods require time, energy, chemicals, high cost and not real time. Currently experts have been looking for other alternatives, namely using near infrared light (NIRS) to predict the content of elements contained in soil and plant tissue. NIRS works with a wavelength of 780 nm - 2500 nm or the number of waves per 12.800 cm− 1 to 4.000 cm− 1. The elemental composition contained in the sample is generated from the reflection of infrared light after the sample is given infrared radiation. The research method uses the comparative method, namely using proximate analysis. Linear regression (principal component regression, and partial least square regression) is used to compare the actual data with the estimates generated from the NIR spectrum. This research shows that Near Infrared Spectroscopy (NIRS) cannot replace the proximate analysis method for biochar samples. Estimation with partial least square regression produces a value closer to the actual data value, when compared to the principal component regression method. This is because the test samples used are still insufficient and proven from the results of NIR predictions which are classified as sufficient performance. It is recommended that further testing using a larger and more varied sample.
Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya oleh Masyarakat Sekitar Hutan HujanTropis Kedah Kabupaten Gayo Lues Kasrin Kasrin; Ryan Moulana; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.642 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13651

Abstract

Abstrak Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Penosan dan Desa Peosan Sepakat terdapat 72 tumbuhan terdiri 42 suku/familia. Intensitas penggunaan jenis-jenis  tumbuhan yang dikelompokkan berdasarkan suku adalah Zingiberaceae (8,5%), Asteraceae (7,0%), Fabaceae (7,0%), Malvaceae (5,6%), Moraceae (5,6%), Poaceae (4,2%), dan Arecaceae (4,2%). Suku tumbuhan lainnya yaitu Verbenaceae, Araceae, Fhyllanthaceae, Rubiaceae, Rutaceae, Solanaceae, Apocynaceae, Verbenaceae dan Annonaceae masing-masing digunakan dengan intensitas rendah (2,8%). Sisanya sebanyak  26 suku digunakan dengan intensitas sangat rendah yaitu masing-masing (1,4%). Bila dilihat pemanfaatan tumbuhan obat ini berdasarkan habitus maka tumbuhan habitus pohon dimanfaatkan dengan intensitas paling tinggi (33,3%), diukuti oleh perdu (30,6%), herba (29,2%) dan yang paling rendah adalah liana (6,9%). Namun pemanfaatan tumbuhan untuk obat berdasarkan organ tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah organ daun (39,3%), diikuti oleh seluruh bagian tumbuhan (13,8%), buah (12,4%) dan umbi (11,0%), sedangkan yang paling sedikit digunakan dari organ akar (7,6%), kulit (7,6%), batang (2,8%), biji (2,1%), bunga (2,8%), dan seludang (0,7%).Medicinal Plants and its Utilization by the Communities Around the Tropical Rain Forest Kedah Gayo Lues DistrictAbstract There are 72 plants utilized by the Penosan and Peosan Sepakat Villages consisting of 42 tribes / families. The intensity of the use of plant species grouped by ethnicity is Zingiberaceae (8.5%), Asteraceae (7.0%), Fabaceae (7.0%), Malvaceae (5.6%), Moraceae (5.6%) , Poaceae (4.2%), and Arecaceae (4.2%). Other plant tribes namely Verbenaceae, Araceae, Fhyllanthaceae, Rubiaceae, Rutaceae, Solanaceae, Apocynaceae, Verbenaceae and Annonaceae are each used with low intensity (2.8%). The remaining 26 terms are used with very low intensity, each (1.4%). When observing the use of medicinal plants based on habitus, tree habitus plants are used with the highest intensity (33.3%), followed by shrubs (30.6%), herbs (29.2%) and the lowest is liana (6, 9%). However, the use of plants for medicine based on the most widely used plant organs is the leaf organ (39.3%), followed by all parts of the plant (13.8%), fruit (12.4%) and tubers (11.0%), while the least used were root organs (7.6%), bark (7.6%), stems (2.8%), seeds (2.1%), flowers (2.8%), and sheath ( 0.7%).
Prediksi Kadar Salinitas, pH dan C-Organik Tanah Menggunakan Near Infrared Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Riska Nurul Saputri; Ichwana Ichwana; Agus Arip Munawar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1396.809 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12940

Abstract

Abstrak. Akuisisi spektrum Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) terkait kualitas dan kondisi tanah telah banyak dilakukan dalam berbagai penelitian. Pada penelitian ini menggunakan model prediksi Partileal Least Squares (PLS) dengan metode koreksi spektrum Mean Normalization (MN), Savitzky-Golay Smoothing, dan kombinasi Mean Normalization (MN) dan Savitzky-Golay Smoothing. Sampel tanah yang digunakan berasal dari Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar karena dianggap sesuai untuk prediksi kadar salinitas, pH dan C-Organik tanah. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya korelasi antara prediksi Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) dengan hasil aktual laboratorium setelah dilakukan pembangunan model prediksi Partileal Least Square (PLS) dan dievaluasi dengan parameter statistika; penggunaan pretreatment Mean Normalization (MN) merupakan metode terbaik atau pilihan, dimana dapat meningkatkan keakuratan hasil prediksi kadar salinitas, pH dan C-Organik tanah.Prediction of Salinity, pH and C-Organic Soils Level Using Near  in Baitussalam Regency, Aceh Besar RegencyAbstract. Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) spectrum acquisition related to soil quality and condition has been carried out in various studies. This study used prediction model Partileal Least Squares (PLS) with the spectrum correction methods used are Mean Normalization (MN), Savitzky-Golay Smoothing, and Combination of Mean Normalization (MN) and Savitzky-Golay Smoothing. The soil samples used were from Baitussalam regency, Aceh Besar regency because they were considered suitable for the prediction of salinity, pH and C-Organic soils. The results of this study showed a correlation between the prediction of Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) with the actual results of the laboratory after the construction of the prediction model Partileal Least Square (PLS) and and evaluated with statistical parameters; the use of pretreatment Mean Normalization (MN) is the best or preferred spectrum correction method, which can improve the accuracy of the predicted results of salinity, pH and C-Organic soil.
Karakteristik Pengering Efek Rumah Kaca Tipe Terowongan Terhadap Kualitas Minyak Nilam Riski Satria; Fachruddin Fachruddin; Diswandi Nurba
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.682 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13791

Abstract

Abstrak. Minyak atsiri adalah salah satu minyak yang dihasilkan dari bagian batang, kulit, daun, akar, bunga dan berbagai bagian tumbuhan yang lain dengan proses penyulingan. Salah satu minyak atsiri adalah minyak nilam, dalam dunia perdagangan minyak atsiri dikenal dengan nama Patchouly Oil. Walaupun tanaman nilam telah dibudidayakan  selama hampir 100 tahun, namun sampai sekarang masih banyak teknologi pengolahan masyarakat masih konvensional sehingga kualitas minyak yang dihasilkan masih rendah. Penelitian ini menggunakan metode pengeringan efek rumah kaca tipe terowongan dan pengeringan konvensional. Analisis kualitas minyak nilam yang diamati meliputi kadar air nilam, rendemen, warna, bobot jenis, indeks bias, dan kelarutan dalam etanol 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air nilam hasil pengeringan efek rumah kaca hanya membutuhkan waktu selama 1 hari untuk mengeringkan nilam dan menghasilkan kadar air rata-rata yaitu 22,45%, sedangkan pengeringan konvensional rata-rata kadar air yaitu 22,93% dan memerlukan waktu 2 hari untuk mengeringkan nilam. Hasil Rendemen dengan pengeringan efek rumah kaca menghasilkan rata-rata rendemen yaitu 0,40% sedangkan pengeringan konvensional menghasilkan rata-rata rendemen yaitu 0,39%. Warna minyak nilam dengan pengeringan konvensional dan pengeringan efek rumah kaca menghasilkan warna coklat kemerahan. Bobot jenis minyak nilam pengeringan efek rumah kaca rata-rata 0,966 sedangkan pengeringan konvensional rata-rata 0,954. Hasil indeks bias minyak nilam pengeringan efek rumah kaca yaitu sebesar 1,509 sedangkan pengeringan konvensional sebesar 1,508. Kelarutan dalam etanol 90% minyak nilam  pengeringan efek rumah kaca lebih baik karena jernih rata-rata pada larutan 1:9, sedangkan pengeringan konvensional jernih rata-rata pada larutan 1:10, dimana minyak nilam yang mudah larut dalam etanol 90% maka kualitas minyak nilam semakin baik. Berdasarkan kadar air dan kualitas minyak nilam seperti warna, bobot jenis, indeks bias dan kelarutan dalam etanol 90% merupakan pengeringan efek rumah kaca lebih baik secara kuantitas dan kualitas dibandingkan dengan pengeringan konvensional.Characteristic of tunnel type dryer of greenhouse effect on the quality of patchouli oil Abstract. Essential oil is the type of oil derived from stem, bark, leaves, root, flower, and other parts of plant through the process of distillation. One type of essential oil is Patchouli oil which is known as patchouli oil in the trading world. Even though patchouli plants have been cultivated for almost 100 years, the technology used to process the oil is still conventional that cause the oil quality to be low. This research utilized two methods which are greenhouse effect drying and conventional drying. The analysis of oil quality was done by observing the oil moisture, yield, color, specific gravity, refractive index, and its solubility in 90% ethanol. The result shows that the patchouli moisture by using the greenhouse effect drying needs one day to dry patchouli leaves that later produces moisture at the average of 22.45%. By using conventional drying, it took 2 days to dry that resulted in the moisture at the average of 22.93%. The result of oil yield out of the greenhouse effect drying is 0.40% in average, while by using the conventional drying the oil yielding resulted in 0.39% in average. As for the color of patchouli oil by using both the greenhouse effect drying and conventional drying result in reddish brown. The average specific gravity of patchouli oil by using the greenhouse effect drying is 0.966 at the average, while it resulted in the average of 0.954 by using conventional drying. The refractive index of patchouli oil by using greenhouse effect drying is at 1.509, while by using conventional drying is at 1.508. The solubility of patchouli oil in ethanol 90% ethanol using greenhouse effect drying is better with the ration of 1:9 to solution. However, the solubility of patchouli oil in 90% ethanol using conventional drying in ratio is 1:10. This means that the more soluble oil on 90% ethanol, the better the quality of the patchouli oil. Based on the moisture and patchouli oil quality like its color, specific gravity, refractive index, and solubility in 90% ethanol, it shows that greenhouse effect drying is better in quantity and quality than conventional drying.

Page 87 of 103 | Total Record : 1028