cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Volume Impor Bawang Putih di Indonesia Putri Sakinah; Romano Romano; Safrida Safrida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.607 KB)

Abstract

Bawang putih adalah salah satu rempah penting yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bumbu masakan.Karena perannya sebagai bumbu  sangat essensial, ketersedian stok bawang putih menjadi suatu permasalahan yang perlu diperhatikan. Karena peninngkatan penduduk permintaan terhadap bawang putih semakin meninngkat akan tetapi produksi bawang putih malah mengalami penurunan, Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga kestabilan harga pemerintah harus meningkatkan volume impor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi volume impor bawang putih di Indonesia serta menggambarkan perkembangan volume impor, harga bawang putih impor, harga bawang putih lokal, produksi bawang putih di Indonesia, serta kebijakan impor bawang putih.Dalam penelitian ini digunakan analisis deskriptif dan analisis  regresi linier berganda menggunakan alat analisis OLS (Ordinary Least Square) dengan bantuan aplikasi SPSS. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa secara serempak variabel , harga bawang putih impor, harga bawang putih lokal, produksi bawang putih dan volume impor tahun sebelumnya berpengaruh nyata terhadap volume impor bawang putih. Secara parsial semua variabel berpengaruh nyata,  kecuali harga bawang putih impor.  Harga bawang putih lokal dan volume impor tahun sebelumnya berpengaruh positif sedangkan produksi bawang putih dalam negeri berpengaruh negatif. Dari hasil penelitian ini juga disimpulkan bahwa sejak tahun 2002 hingga 2017 volume impor, harga bawang putih impor dan harga bawang putih lokal memiliki tren meningkat sedangkan produksi bawang putih memiliki tren menurun. selam tahun 2002 hingga 2017 terdapa 2 kebijakan pemerintah dalam hal impor bawang putih yaitu penghapusan tariff impor di tahun 2004 dan wajib tanam sebanyak 5% dari jumlah bawang putih yang diimpor oleh importir di tahun 2017.
Pengaruh Kemasan Aluminium Foil dan Botol Kaca terhadap Umur Simpan Abon Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dengan Pendekatan Metode Arrhenius Wahyu Afdillah; Ismail Sulaiman; Martunis Martunis
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 3 (2018): Agustus 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.8 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i3.8132

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemasan aluminium foil dan botol kaca terhadap umur simpan abon ikan tongkol. Penelitian ini menggunakan metode Arrhenius dimana faktor pertamanya yaitu jenis kemasan (K) yang terdiri dari dua taraf yaitu aluminium foil dan botol kaca. Faktor kedua yaitu suhu (S) dengan 3 taraf yaitu 30oC, 40oC dan 50oC. Faktor ketiga yaitu lama penyimpanan dengan 5 taraf yaitu 0 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari. Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali ulangan sehingga diperoleh 60 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ordo nol, abon yang dikemas aluminium foil pada suhu 30oC, 40oC dan 50oC berturut-turut  menghasilkan umur simpan selama 61 hari, 41 hari dan 28 hari, sedangkan abon yang dikemas botol kaca pada suhu 30oC, 40oC dan 50oC berturut-turut menghasilkan umur simpan selama 72 hari, 42 hari dan 26 hari. Pada ordo satu, abon yang dikemas aluminium foil pada suhu 30oC, 40oC dan 50oC berturut-turut menghasilkan umur simpan selama 116 hari, 85 hari dan 63 hari, sedangkan abon yang dikemas botol kaca pada suhu 30oC, 40oC dan 50oC berturut-turut menghasilkan umur simpan selama 194 hari, 123 hari dan 80 hari. Persamaan order aluminium foil yang dikemas nol adalah y = -3702,6x + 6,924 dan dikemas dengan botol kaca adalah y = - 5077,9x +10,9191. Sedangkan persamaan urutan satu dikemas dengan aluminium foil adalah y = -2823.5x + 4.9702 dan dikemas dengan botol kaca adalah y = - 4312.3x + 9.4082.  Abstract. This study aimed to determine the effect of aluminum foil and glass bottle on the shelf life of tuna fish floss meat. This research used Arrhenius method where the first factor was packaging type (K) consisting of aluminum foil and glass bottle. The second factor was temperature (S) with 3 levels which were at 30oC, 40oC and 50oC. The third factor was the storage period with 5 levels which were 0 days, 7 days, 14 days, 21 days and 28 days. Each treatment was repeated twice so the total was 60 units. The results showed that in the ordo zero, the shelf lifes of floss meat packed with aluminum foil at temperature 30oC, 40oC and 50oC were 61 days, 41 days and 28 days respectively, whereas the glass bottle obtained 72 days, 42 days and 26 days respectively. In the ordo one of floss meat packed with aluminum foil at 30oC, 40oC and 50oC respectively obtain shelf life for 116 days, 85 days and 63 days, whereas floss meat packed with glass bottles obtain shelf life 194 days, 123 days and 80 days. The equation of ordo zero packed aluminium foil is y = -3702.6x + 6.924 and packed with glass bottle is y= - 5077.9x +10.9191. Whereas equation of ordo one packed with aluminium foil is y = -2823.5x + 4.9702   and packed with glass bottle is y= - 4312.3x+9.4082.
Pengaruh Promosi Terhadap Penjualan Paket Wisata (Studi Kasus : Biro Perjalanan Wisata Pasir Putih Adventure di Sabang) Zahra Fithri Maiyuriyda; Sofyan Samsudin; Irwan Kadir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.479 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9385

Abstract

Abstrak. Biro perjalanan wisata merupakan salah satu usaha pariwisata yang sangat mendukung perkembangan pariwisata. Sama seperti usaha lainnya yang memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang besar sebagai tolak ukur dari kesuksesan usahanya, biro perjalanan wisata juga harus berhasil menjual paket wisata sebagai produk usahanya dalam jumlah yang tinggi. Untuk tercapainya tujuan ini maka biro perjalanan wisata harus melakukan berbagai kegiatan promosi dan mengeluarkan sejumlah biaya untuk melakukan kegiatan tersebut. Pasir Putih Adventure adalah salah satu biro perjalanan wisata di Sabang yang aktif dalam melakukan promosi usahanya baik di tingkat nasional maupun internasional. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah analisis regresi linier sederhana, analisis koefisien korelasi, koefisien determinasi dan uji-t. Analisis linier regresi sederhana menunjukkan bahwa Y = 28,401+0,015X (jika biaya promosi sama dengan nol maka penjualan paket wisata meningkat sebesar 28,401), nilai koefisien korelasi sebesar 0,662 (hubungan antar kedua variabel kuat), koefisien determinasi sebesar 0,439 dan nilai uji-t adalah thitung ttabel = 4,147 1,717 , artinya promosi pada biro perjalanan wisata Pasir Putih Adventure berpengaruh secara positif terhadap jumlah penjualan paket wisata.The Effect of Promotion on Tour Package Sale (A Case Study on Pasir Putih Adventure Travel Bureau In Sabang)Abstract. Travel bureau  is one of the tourism businesses that strongly supports the development of tourism. Just like any other business that has the goal of gaining big profits as a benchmark for its business success, travel agency must also succeed in selling tour packages as a product of their business in high numbers. To achieve this goal, the travel bureau must carry out various promotional activities and spend a number of costs to carry out these activities. Pasir Putih Adventure is one of the travel bureau in Sabang that active in promoting its business both nationally and internationally. The methods used in this analysis is simple linear regression analysis, correlation coefficient analysis, coefficient of determination and t-test. Simple linear regression analysis shows that Y = 28,401 + 0,015X  (if the promotion costs equal to zero then the tour package sales increase by 28,401), the correlation coefficient value is 0,662 (the relationship between the two strong variables), the coefficient of determination is 0,439 and the t-test value is tsearch ttable = 4,147 1,717 meaning that the promotion of the Pasir Putih Adventure travel bureau has a positive effect on the number of the tour package sale.
Karakteristik Reproduksi Sapi Aceh Betina di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya Lina Rahayu; Eka Meutia Sari; Mohd. Agus Nashri Abdullah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v3i1.6558

Abstract

Abstrak. Suatu penelitian karakteristik reproduksi sapi Aceh betina di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan reproduksi sapi Aceh betina di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya.  Penelitian ini merupakan penelitian survei yang dilaksanakan menggunakan metode purposive sampling, yaitu mengambil sampel dengan ketentuan minimal peternak memelihara 2 ekor sapi betina produktif yang telah beranak dua kali. Kegiatan observasi langsung dilakukan ke lokasi penelitian yang terdapat peternak pemelihara sapi Aceh betina. Sebagai responden adalah 40 orang peternak pemelihara sapi Aceh betina di Kecamatan Kuala yang tersebar dalam 3 desa terpilih yaitu peternak yang terdapat di Desa Ujong Fatihah, Ujong Padang, dan Blang Tengoh. Data penelitian dikumpulkan berdasarkan hasil wawancara langsung dengan responden di lokasi penelitian berdasarkan kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada tiga bagian informasi. Data utama adalah karakteristik sapi Aceh betina yang diamati meliputi: (a) dewasa kelamin: (b) umur sapi betina kawin pertama kali; (c) sapi kawin kembali setelah beranak; (d) calving interval; dan (e) penyapihan pedet. Informasi pendukung data primer dalam penelitian ini adalah profil peternak sebagai responden dan profil umum peternakan sapi di Kecamatan Kuala. Data profil peternak sebagai responden yang diamati adalah: (a) tingkat pendidikan peternak dan (b) Pekerjaan Utama Responden.. Profil umum peternakan sapi yang diamati yaitu: (a) sebaran populasi sapi Aceh betina di lokasi penelitian; (b) sistem pemeliharaan ternak oleh responden, (c)  sistem perkawinan, dan (d) gangguan reproduksi dan pencegahan penyakit. Semua data yang telah terkumpul, ditabulasikan dalam sheet Excel dan diolah dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Karakterisasi reproduksi sapi betina dilakukan perhitungan nilai rataan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Aceh betina yang dipelihara di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya mempunyai karakteristik reproduksi yang baik. Karakteristik reproduksi sapi Aceh di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Rata yaitu: dewasa kelamin pada umur 18 bulan dengan kisaran 16-20 bulan, sapi Aceh betina mengalami kawin pertama sekali pada 21 bulan dengan kisaran 20-24 bulan, kawin kembali setelah beranak pada 4 bulan dengan kisaran 3-5 bulan, calving interval pada 13,5 bulan dengan kisaran 12-15 bulan, dan penyapihan pedet sapi Aceh pada umur 6 bulan.Charateristics of Reproduction of Fimale Aceh Cattle in Sub Kuala Nagan Raya DistrictAbstract. Beef cattle are potential commodities that are potential to be developed in various sub-districts, especially Kuala sub district in Nagan Raya District. A study on Reproductive Characteristics of Aceh Cattle conducted in District Kuala Nagan Raya with the aim to know the reproductive characteristics of Aceh Cattle genital and can understand the properties and reproductive ability. With the benefits of data obtained can be used by interested parties such as related agencies to determine the direction of development of Aceh cattle in District Kuala Nagan Raya District. The formulation of the problem is the Aceh Cattle  which is maintained by farmers breeders in Kuala District Nagan Raya District still follow the old ways with traditional management. The research that has been conducted is a survey research using Purposive Sampling method, which is taking samples with minimum requirement of breeder to keep 2 productive cows. The observation activity was done directly to the location of the research which contained cow breeder of Aceh female. As respondents are as many as 40 farmers spread in 3 selected villages namely farmers located in the village of Ujong Fatihah, Ujong Padang, and Blang Tengoh Village. The results show that, adult female genital cows in Kuala subdistrict that is at 18 months, the first female cow is mated at the age of 20-24 months, the system of mated of cows of Aceh made by natural mating, breeding distance 13.6 months, mated back after childbirth at age 3 -5 months or average 4 months, calf weaning done at the age of 6 months
Analisis Pasang Surut dan Model Numerik Arus pada Perairan Laut Destinasi Wisata Hutan Mangrove Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai (TIDAL ANALYSIS AND NUMERICAL MODELS OF SEA CURRENT IN TONGKE-TONGKE MANGROVE FOREST TOURISM DESTINATION SINJAI DISTRICT) Andi Imran Anshari; Irawan Alham
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.226 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24835

Abstract

The Tide Survey was conducted to determine the types of tides and tides around the Tongke-tongke Mangrove Forest Tourism Destination. The results of this study are expected to provide an overview of the test results in the field with the results of numerical tests on the data to be processed. The research was conducted from August to October 2020 in the waters of the Tongke-tongke Mangrove Forest Tourism Destination. The method used is quantitative. Tidal data collection for 15 days at the study location. While the current measurement is carried out twice, namely at the highest (spring tide) and lowest (neap tide) tide and the data presentation is displayed with SMS 10.0 software (Surface water modeling system). From the results of the tide study, it was found that the tide type in the Tongke-tongke Mangrove Forest Tourism Destination is mixed tide, tilted double daily (mixed tide prevailing semi diurnal). In 1 day there are 2 times the tide and 2 times the ebb with ¬ different heights with the tide of 1.36 m. Whereas in the analysis of SMS software.10, where at low tide, the dominant current moves from east to west with an average speed of 0.0067 m / sec and at high tide around the study area the flow moves from west to east the average is 0.0035 m / sec. The average velocity of the current before high tide is greater than that of the low tide, and the implementation of the results of the study of flows and tides of the Tongke-tongke Mangrove Forest Tourism Destination illustrates that the condition of this mangrove forest is very dependent on the natural conditions of currents and tides in supporting the growth and density of mangroves
Laju Konversi Lahan Pertanian Menjadi Bukan Pertanian Setelah Tamiang Menjadi Kabupaten Aceh Tamiang Noni Novrianti; Yulia Dewi Fazlina; Abubakar Karim
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1674.72 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.22147

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas lahan pertanian yang dikonversikan menjadi bukan pertanian setelah Tamiang dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tamiang serta untuk mengetahui keselarasan penggunaan lahan eksisting tahun 2020 berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2012-2032. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif, diawali dengan analisis (klasifikasi) penggunaan lahan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis konversi lahan pertanian yang paling besar terjadi yaitu pada tahun 2007-2012 dengan luas konversi lahan mencakup 2.826,85 ha, untuk lahan bukan pertanian konversi lahan yang paling besar terjadi pada tahun 2002-2007 dengan luas konversi lahan mencakup 5.422,94 ha, berbeda dengan sebelumnya untuk lahan tidak bervegetasi konversi lahan paling besar terjadi pada tahun 2007-2012 dengan luas konversi lahan mencakup 1.432,13 ha, sedangkan pada perairan konversi lahan yang paling besar terjadi pada tahun 2007-2012 dengan luas konversi lahan mencakup 14,26 ha dari luas keseluruhan Kabupaten Aceh Tamiang. Analisis keselarasan penggunaan lahan tahun 2020 dengan Pola Ruang Kabupaten Aceh Tamiang lebih didominasi dengan penggunaan lahan yang selaras yaitu 194.011,51 ha (90,51%), tidak selaras 7.926,2 ha (3,57%) dan transisi 12.415,1 ha (5,60%) dari keseluruhan luas Kabupaten Aceh Tamiang dan termasuk kedalam kriteria sangat tinggi.Conversion Rate of Agriculture Land to Non-Agriculture Land after Tamiang became Aceh Tamiang DistrictAbstract. This study aims to determine the area of agricultural land that was converted to non-agricultural after Tamiang was divided into Aceh Tamiang Regency and to determine the alignment of existing land use in 2020 based on the Regional Spatial Plan (RTRW) of Aceh Tamiang Regency in 2012-2032. This study uses a quantitative descriptive analysis method, beginning with an analysis (classification) of land use using a Geographic Information System (GIS). Analysis of the largest agricultural land conversion occurred in 2007-2012 with a land conversion area covering 2,826.85 ha, for non-agricultural land the largest land conversion occurred in 2002-2007 with a land conversion area covering 5,422.94 ha, different Whereas previously for non-vegetated land the largest land conversion occurred in 2007-2012 with an area of land conversion covering 1,432.13 ha, while in waters the largest land conversion occurred in 2007-2012 with an area of land conversion covering 14.26 ha of total area of Aceh Tamiang Regency. The analysis of the alignment of land use in 2020 with the Spatial Pattern of Aceh Tamiang Regency is dominated by harmonious land use, namely 194,011.51 ha (90.51%), not aligned 7,926.2 ha (3.57%) and transitional 12,415.1 ha (5.60%) of the total area of Aceh Tamiang Regency and is included in the very high criteria.
Struktur Komunitas Tumbuhan Bawah Pada Tegakan Hutan Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Alue Geulima Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan Diajeng Ednaluna; Arif Habibal Umam; Saida Rasnovi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.506 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22365

Abstract

Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan (Tahura PMI) merupakan kawasan hutan hujan tropis dengan luas kawasan 6.220 ha dan berada pada ketinggian 500-1.800 mdpl. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada kawasan RPH Alue Geulima Tahura Pocut Meurah Intan, jumlah jenis tumbuhan bawah yang ditemukan sebanyak 24 jenis dari 14 suku dengan total 686 individu pada luas 0,03 ha, jenis dengan jumlah individu tertinggi terdapat pada jenis Centotheca lappacea (L.) Desv dengan jumlah 319 individu dan Tetracera scandens (L.) Merr dengan jumlah 174 individu. Sedangkan jenis dengan jumlah individu terendah terdapat pada jenis Ageratum conyzoides L, Canavalia ensiformis (L.) DC, Gmelina philippens Cham, Lantana camara L, Mikania micrantha Kunth, Phya ducis (Trevir) Modenke, Pterygota brasiliensis Allemao, Rubus argutus Link, Setaria palmifolia (J. Koenig) Stapf, dan Stalchytalrphetal jalmalicensis (L.) Vahl, yang masing-masing jenisnya hanya terdapat 1 individu pada lokasi penelitian. Dari hasil pengamatan, menunjukkan bahwa terdapat beberapa spesies yang menjadi ciri komunitas kawasan tersebut, yang ditunjukkan dengan kerapatan yang tinggi dan jumlah individu yang tergolong tinggi apabila dibandingkan dengan jenis lainnya pada kawasan tersebut. Indeks nilai penting suatu jenis merupakan salah satu parameter tingkat kepentingan atau peranan jenis tersebut dalam suatu komunitas. Jenis tertentu yang berperan besar atau dominan dalam komunitas akan memiliki nilai INP tinggi dibandingkan dengan jenis lainnya.
Analisis Headloss Irigasi Tetes Tipe Drip Line Pada Lahan Melon Menggunakan Aplikasi EPANET 2.2 Hasanul Gusni Gunawan; Indera Sakti Nasution; Purwana Satriyo
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.692 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.21820

Abstract

Abstrak. Efisiensi pendistribusian air perlu dijaga terutama pada jaringan irigasi yang menggunakan sistem saluran tertutup atau perpipaan sebagai wadah pendistribusian dimana terjadinya headloss yang mengakibatkan pendistribusian aliran menjadi terhambat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung headloss yang terjadi pada rangkaian pipa-pipa penyaluran irigasi tetes tipe drip line menggunakan software EPANET 2.2. Metode penelitian adalah pengambilan data fisik yang ada pada pada irigasi tetes tipe dripline meliputi data panjang pipa, diameter pipa, ketinggian reservoir terhadap lahan, aksesoris atau sambungan dan skema jaringan  yang telah dibangun sebelumnya untuk menghitung headloss yang terjadi menggunakan aplikasi EPANET. Hasil penelitian menunjukkan nilai kecepatan aliran pada saluran memenuhi kriteria pada aplikasi EPANET dengan nilai maksimum 0.44 m/s dan minimum yaitu 0.02 m/s. Nilai tekanan yang dihasilkan pada EPANET mempunyai nilai maksimum 8 meter atau setara dengan 0.8 atm dan terendah 6.5 meter atau 0.65 atm. Nilai headloss yang didapati pada saluran irigasi ini dengan menggunakan aplikasi EPANET bernilai tinggi dimana nilai terendah yaitu 0.29 m/km, dimana pada aplikasi ini batas terbesar headloss tejadi yaitu lebih dari 0.1 m/km sehingga hal ini menjadi bahan evaluasi kembali pada saat merancang irigasi agar nilai headloss yang terjadi dapat di kecilkan.Head Loss Analysis of Drip Irrigation Tape Drip Line in Melon Garden Using EPANET 2.2 AppAbstract. Efficiency of water distribution needs to be maintained, especially in irrigation networks that use a closed channel system or piping as a distribution where the head loss occurs which results in the distribution of flow being hampered. The purpose of this research is to calculate the headloss that occurs in a series of drip irrigation distribution pipes using the EPANET 2.2 software. The research method is the retrieval of physical data on dripline type drip irrigation including data on pipe length, pipe diameter, reservoir height to land, accessories or connections and network schemes that have been built previously to calculate headloss that occurs using the EPANET application. The results showed that the flow velocity in the channel met the criteria for the EPANET application with a maximum value of 0.44 m/s and a minimum of 0.02 m/s. The pressure value generated on EPANET has a maximum value of 8 meters or equivalent to 0.8 atm and the lowest is 6.5 meters or 0.65 atm. The headloss value found in this irrigation canal using the high value EPANET application where the lowest value is 0.29 m/km, where in this application the largest headloss limit occurs, which is more than 0.1 m/km so that this becomes a material for re-evaluation when designing irrigation so that the value of the headloss that occurs can be minimized.
Biodiversitas Serangga Tanah pada Pertanaman Nilam yang di Tumpangsarikan dengan Famili Solanaceae Nurul Fitri; Alfian Rusdy; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.676 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20787

Abstract

Abstrak.Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri (Patchouli oil), yang dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan kosmetik, farmasi, aroma terapi serta zat pengikat (fixative agent). Pola tanam tumpangsari merupakan salah satu usaha meningkatkan keanekaragaman dalam suatu agroekosistem baik flora maupun fauna. Kehidupan serangga sangat tergantung pada habitatnya seperti serangga tanah memiliki peranan yang penting dalam ekosistem pertanian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan serangga tanah pada tanaman nilam yang ditumpangsarikan dengan tanaman famili Solanaceae (cabai, terung, dan tomat). Peubah yang diamati meliputi identifikasi dan populasi serangga tanah, keanekaragaman, kelimpahan dan indeks keanekaragaman. Pada lahan I terdapat 7 ordo, 24 famili serangga dengan total 2150 individu. Pada lahan II terdapat 6 ordo, 34 famili serangga dengan total 1922 individu, sedangkan pada lahan III terdapat 9 ordo, 31 famili serangga dengan total 1537 individu. Serangga yang paling banyak di temukan yaitu serangga dari famili Formicidae. Nilai indeks keanekaragaman pada ketiga lahan termasuk dalam kategori sangat rendahKata Kunci: Biodiversitas, Nilam, Serangga tanah, Tumpangsari, Solanaceae. Abstract. Patchouli is one of the essential oil-producing plants (Patchouli oil), which can be used as a mixture for making cosmetics, pharmaceuticals, aromatherapy and fixative agents. Intercropping is one of the efforts to increase diversity in an agroecosystem, both flora and fauna. Insect life is very dependent on their habitat as soil insects have an important role in agricultural ecosystems. The purpose of this study was to determine the diversity and abundance of soil insects on patchouli intercropping with plants of the Solanaceae family (chili, eggplant, and tomato). The observed variables included soil insect identification and population, diversity, abundance and diversity index. In land I there are 7 orders, 24 insect families with a total of 2150 individuals. In land II there are 6 orders, 34 insect families with a total of 1922 individuals, while in land III there are 9 orders, 31 insect families with a total of 1537 individuals. The most commonly found insects are insects from the Formicidae family. The value of the diversity index on the three lands is included in the very low category.Keywords: Biodiversity, Patchouli, Soil insects, Intercropping, Solanaceae. 
Pemanfaatan Pektin Kulit Pisang Kepok Untuk Pembuatan Edible Film Dengan Penambahan CMC dan Plasticizer Sorbitol Rayhanur Wiwin Fajrina; Raida Agustina; Ratna Ratna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.753 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.19362

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik edible film berbahan dasar pektin kulit pisang kepok terhadap pengaruh variasi konsentrasi sorbitol. Prosedur penelitian dimulai dengan tiga tahap, pertama proses pembuatan larutan CMC, kedua proses pembuatan larutan edible film, ketiga proses pencetakan edible film. Parameter penelitian meliputi ketebalan, transmisi uap air, kuat tarik, elongasi, modulus young, FTIR spectroscopy dan transparansi. Metode penelitian menggunakan RAL Non Faktorial. Konsentrasi Sorbitol terdiri atas 3 taraf yaitu S1 sebesar 3%, S2 sebesar 4,5%, dan S3 sebesar 6%, dari volume total larutan pembuat film. Perlakuan dilakukan 3 kali dengan 3 kali pengulangan sehingga diperoleh 9 kali percobaan. Data hasil penelitian yang diperoleh  kemudian dilakukan analisis menggunakan ANOVA. Apabila hasil berpengaruh nyata antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan pengujian BNT. Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi sorbitol 3%, 4,5%, dan 6% berpengaruh nyata terhadap rata-rata ketebalan, elongasi, modulus young, dan transmisi uap air namun berpengaruh tidak nyata terhadap kuat tarik. Konsentrasi sorbitol 3%, 4,5%, dan 6% FTIR spectroscopy memiliki gugus fungsi yang  sama. Faktor-faktor yang disebabkan seiring dengan peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatnya rata-rata ketebalan, laju transmisi uap air, elongasi dan transparansi namun cenderung menurunnya rata-rata kuat tarik dan modulus young. Karakteristik edible film terbaik pada penelitian ini ialah pada konsentrasi sorbitol 3% memiliki ketebalan 0,22 mm, elongasi 206%, transmisi uap air 0,4 g/m2/jam, kuat tarik 24,33 kgf/cm2 dan modulus young 1,177 Mpa. Hasil tersebut sesuai dengan Japanese Industrial Standard (JIS).Pemanfaatan Pektin Kulit Pisang Kepok Untuk Pembuatan Edible Film dengan Penambahan CMC dan Sorbitol PlasticizerAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji karakteristik edible film berbahan pektin kulit pisang kepok terhadap pengaruh variasi konsentrasi sorbitol. Prosedur penelitian dimulai dengan tiga tahapan, pertama proses pembuatan larutan CMC, proses pembuatan larutan edible film, dan proses pencetakan edible film. Parameter penelitian meliputi ketebalan, transmisi uap air, kekuatan tarik, perpanjangan, modulus Young, spektroskopi FTIR dan transparansi. Metode penelitian yang digunakan adalah RAL nonfaktorial. Konsentrasi sorbitol terdiri dari 3 taraf yaitu S1 sebesar 3%, S2 sebesar 4,5%, dan S3 sebesar 6% dari total volume larutan pembuatan film. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali dengan 3 kali pengulangan sehingga diperoleh 9 percobaan. Data penelitian yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan ANOVA. Jika hasil memiliki pengaruh yang signifikan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan pengujian BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sorbitol 3%, 4,5%, dan 6% berpengaruh nyata terhadap tebal rata-rata, elongasi, modulus Young, dan transmisi uap air tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kuat tarik. Konsentrasi sorbitol spektroskopi FTIR 3%, 4,5%, dan 6% memiliki gugus fungsi yang sama. Faktor-faktor yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatkan ketebalan rata-rata, laju transmisi uap air, perpanjangan dan transparansi tetapi cenderung menurunkan kekuatan tarik rata-rata dan modulus Young. Ciri-ciri yang terbaik dan 6% berpengaruh nyata terhadap tebal rata-rata, elongasi, modulus Young, dan transmisi uap air tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kuat tarik. Konsentrasi sorbitol spektroskopi FTIR 3%, 4,5%, dan 6% memiliki gugus fungsi yang sama. Faktor-faktor yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatkan ketebalan rata-rata, laju transmisi uap air, perpanjangan dan transparansi tetapi cenderung menurunkan kekuatan tarik rata-rata dan modulus Young. Ciri-ciri yang terbaik dan 6% berpengaruh nyata terhadap tebal rata-rata, elongasi, modulus Young, dan transmisi uap air tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kuat tarik. Konsentrasi sorbitol spektroskopi FTIR 3%, 4,5%, dan 6% memiliki gugus fungsi yang sama. Faktor-faktor yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatkan ketebalan rata-rata, laju transmisi uap air, perpanjangan dan transparansi tetapi cenderung menurunkan kekuatan tarik rata-rata dan modulus Young. Ciri-ciri yang terbaik Faktor-faktor yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatkan ketebalan rata-rata, laju transmisi uap air, perpanjangan dan transparansi tetapi cenderung menurunkan kekuatan tarik rata-rata dan modulus Young. Ciri-ciri yang terbaik Faktor-faktor yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi sorbitol meningkatkan ketebalan rata-rata, laju transmisi uap air, perpanjangan dan transparansi tetapi cenderung menurunkan kekuatan tarik rata-rata dan modulus Young. Ciri-ciri yang terbaikedible film dalam penelitian ini adalah konsentrasi sorbitol 3% memiliki ketebalan 0,22 mm, elongasi 206%, transmisi uap air 0,4 g/m2/jam, kuat tarik 24,33 kgf/cm 2 dan modulus Young 1,177 MPa. Hasil ini sesuai dengan Standar Industri Jepang (JIS).

Page 89 of 103 | Total Record : 1028