cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Distribusi Fe- dan Al-humus serta C organik Tanah pada Entisol dan Inceptisol di Lahan Kering Jantho, Kabupaten Aceh Besar Cut Fajrina; Teti Arabia; Sufardi Sufardi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.265 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i1.10203

Abstract

Abstrak. Humus merupakan senyawa organik yang sangat penting di dalam tanah karena dapat membentuk kompleks dengan kation logam, sehingga mengurangi toksisitas pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan distribusi Fe- dan Al-humus serta C organik tanah pada Entisol dan Inceptisol di lahan kering Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Sampel tanah diambil pada setiap lapisan horison dari profil tanah ordo Entisol (Typic Udorthents) dari Desa Jalin, Inceptisol (Lithic Dystrudepts) Buket Meusara, dan Inceptisol (Oxic Dystrudepts) dari Desa Cucum, kemudian dibawa ke Laboratorium untuk dianalisis Fe- dan Al- humus serta C organik tanah. Fe- dan Al-humus diekstrak dengan larutan 0,1 N Na-pirofosfat (metode van Reeuwijk, 1992) sedangkan Fe dan Al dalam ekstrak Na-pirofosfat diukur dengan AAS. Kandungan C organik ditetapkan dengan metode Wakley dan Black yaitu destruksi dengan asam sulfat dan kalium bikromat dan pengukuran C dilakukan dengan titrasi FeSO4. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kandungan Fe-humus tanah pada ketiga ordo tanah tergolong sangat rendah (0,05 - 0,09%) sedangkan Al-humus tanah bervariasi dari rendah sampai sedang (2,54 - 6,89%). Pada Entisol Jalin, distribusi Fe-humus dan Al-humus semakin meningkat dengan kedalaman, sedangkan pada Inceptisol Buket Meusara dan Inceptisol Cucum, Fe-humus cenderung semakin menurun dengan kedalaman, sementara Al-humus sangat bervariasi. Kandungan C organik tanah di lahan kering Jantho, Aceh Besar  pada Entisol dan 0,14 - 0,72% pada Inceptisol Buket Meusara, dan 0,15 - 1,25% pada Inceptisol Cucum. Kandungan Fe- dan Al-humus tanah tidak berkorelasi langsung dengan kandungan C organik.Distribution of Fe- and Al-humus and organic C on Entisol and Inceptisol in Drylands of Jantho, Aceh Besar DistrictAbstract. Humus is a very important organic compound in the soil because it can form complexes with metal cations, so as reducing toxicity to plants. This study aimed to determine the content and distribution of Fe- and Al-humus and soil organic C in Entisol and Inceptisol in dry land of Jantho, Aceh Besar District. Soil samples were taken at each layer of the horison from the soil profile of Entisol (Typic Udorthents) order from Jalin Village, Inceptisol (Lithic Dystrudepts) Buket Meusara, and Inceptisol (Oxic Dystrudepts) from Cucum Village, then taken to the Laboratory for Fe- and Al-humus analysis and soil organic C. Fe- and Al-humus were extracted with 0.1 N Na-pyrophosphate solution (van Reeuwijk method, 1992) while Fe and Al in Na-pyrophosphate extract were measured by AAS. Organic C content is determined by Wakley and Black method, which is destruction with sulfuric acid and potassium bicarbonate and measurement C is carried out by titrating FeSO4. The results showed that the soil Fe-humus content in the three soil orders was classified as very low (0.05 - 0.09%) while Al-humus soil varied from low to moderate (2.54 - 6.89%). In Entisol Interlace, the distribution of Fe-humus and Al-humus increases with depth, whereas in Inceptisol Buket Meusara and Cucum Inceptisol, Fe-humus tends to decrease with depth, while Al-humus varies greatly. Soil organic C content in Jantho dry land, Aceh Besar in Entisol and 0.14 - 0.72% in Meusara Bouquet Inceptisol, and 0.15 - 1.25% in Cucum Inceptisol. The content of Fe- and Al-humus soil does not correlate directly with organic C content.
Pengaruh Pemberian Pembenah Tanah Terhadap Sifat Kimia Tanah Rizosfer Tanaman Kangkung Rahmi Mulyana; Yusnizar Yusnizar; Zainabun Zainabun
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.523 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i3.11649

Abstract

Abstrak. Kangkung darat (Ipomea reptans Poir) merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat populer bagi rakyat Indonesia dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Tanaman kangkung termasuk kelompok tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan tidak memerlukan areal yang luas untuk membudidayakannya, sehingga memungkinkan untuk dibudidayakan pada daerah perkotaan yang umumnya mempunyai lahan pekarangan terbatas. Pembenah tanah dapat digunakan untuk mempercepat pemulihan kualitas tanah. Penggunaan pembenah tanah utamanya ditujukan untuk memperbaiki kualitas sifat fisik, kimia dan biologi tanah, sehigga produktivitas tanah menjadi optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pembenah tanah terhadap sifat kimia tanah di rizosfer pada tanaman kangkung. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 21 perlakuan dan tiga kali ulangan. Jenis pembenah tanah yang digunakan yaitu sekam padi, biochar sekam padi dan kotoran sapi. Penanaman dilakukan di Australian Center of International Agricultural Research (ACIAR) Experimental Site Campus, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan analisis dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Tanah dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah kuala dan Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pembenah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap sifat kimia tanah rizosfer tanaman kangkung.The Effect of Soil Amandement on the Chemical Properties of the Rizosfer on KangkungAbstract.  Kangkung is one type of vegetable that is very popular with the people of Indonesia and is loved by all levels.Kangkung is one type of vegetable that is very popular with the people of Indonesia and is loved by all levels. Soil amandement can be used to speed up the recovery of soil quality. The use of soil amandement is primarily intended to improve the quality of fission, chemical and biological properties of the soil, so that the productivity of the soil becomes optimum. This study aims to determine the effect of soil amandement on the chemical properties of the rhizosphere on kangkung. The experimental design used in this study was a non factorial randomized block design with twenty-one treatments and three replications. Type of soil amandement used are rice husk, biochar rice husk, and cow manure. planting was carried out at the Experimental Site Campus's Australian Center of International Agricultural Research (ACIAR), Syiah kuala University, Banda Aceh and the analysis was carried out at the Land and Plant Research Laboratory of the Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University and the Laboratory of Agricultural Tenology Studies (BPTP). The results of this study indicate that soil enhancement administration did not significantly affect the chemical properties of rhizosphere soil of water spinach. 
Analisis Kinerja Koperasi di Kota Banda Aceh (melalui Pendekatan Penilaian Tangga Perkembangan) Ismatur Rahmi; Widyawati Widyawati; Safrida Safrida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.984 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i4.9125

Abstract

Abstrak. Anggota koperasi hingga saat ini merupakan pihak yang sangat menentukan kunci kesuksesan berjalannya sebuah koperasi. Peran koperasi dalam pembangunan perekonomian dapat terwujud dengan adanya peran aktif anggota dalam setiap kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja sebuah koperasi. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap kinerja koperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja koperasi di kota Banda Aceh dengan Pendekatan Penilaian Tangga Perkembangan (PTP) dan menganalisis hubungan antara manfaat sosial dan manfaat ekonomi dinilai dengan partisipasi anggota terhadap usaha koperasi di Kota Banda Aceh. Hasil yang diperoleh yaitu kinerja koperasi dari segi visi dan kapasitas berada pada zona hijau, sedangkan pada segi indicator sumber daya dan jaringan kerja diperoleh pada zona kuning. Dari analisis Penilaian Tangga Perkembangan dapat diketahui bahwa kinerja koperasi berada dalam kondisi yang baik. Melalui uji korelasi dengan menggunakan Rank Spearman dapat diperoleh informasi bahwa terdapat hubungan yang searah antara manfaat sosial dan manfaat ekonomi dengan partisipasi anggota pada bidang organisasi, permodalan, dan unit usaha. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja koperasi di Banda Aceh sudah sangat memuaskan. Cooperatives Performance Analysis In Banda Aceh (Using Development Ladder Assesment AproachAbstract. Members of the cooperative today is a part of cooperative that determines the key of success in running a cooperative. The role of cooperatives in economic development can be realized by the active role of members in any activity that can improve the performance of a cooperative. For that we need to analyze the performance of cooperatives. This research aims to analyze the performance of cooperatives in Banda Aceh city using DLA (Development Ladder Assesment) approach and analyze the relationship between social benefits and economic benefits evaluated by participant members of cooperative enterprises in Banda Aceh. The result obtained that the cooperatives performance in terms of vision and capacity are in the green zone, while in terms of the resource indicator and network are in the yellow zone. From the analysis of Development Ladder Assessment can be seen that cooperatives performance are in good condition. Through correlation test using Spearman Rank can be obtained information that there is a direct relationship between social benefits and economic benefits with the members participation in organization, capital, and business units areas. based on measurement results, cooperatives performance in Banda Aceh has been very satisfactory
Pengaruh konsentrasi pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kedelai (Glycine max (L.) Merill) Agung Aulia Saputra; Marai Rahmawati; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.035 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i2.7438

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk hayati dan varietas kedelai serta interaksi antara konsentrasi pupuk hayati dan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai, dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian dan Laboratorium Hortikultura Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2017. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi pupuk hayati  yang terdiri atas  4 taraf yaitu 0, 20, 40 dan 60 cc/L air dan faktor kedua yaitu varietas kedelai yang terdiri atas 3 taraf yaitu Anjasmoro, Grobogan dan Kipas Merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk hayati 20 cc/L air mampu meningkatkan tinggi tanaman pada umur 14 HST dan 28 HST. Varietas yang memiliki pertumbuhan terbaik dijumpai pada varietas Anjasmoro, dan hasil yang terbaik dijumpai pada varietas Kipas Merah.Pengaruh konsentrasi pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kedelai (Glycine max (L.) Merill)Abstrak .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan kedelai varietas pupuk hayati dan berinteraksi antara konsentrasi pupuk hayati dan varietas terhadap pertumbuhan dan kedelai hasil, telah dilakukan di kebun percobaan dan laboratorium dari horticilture Departemen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dari Juli sampai Oktober 2017. penelitian kelompok digunakan secara acak metode desain sistem faktorial 2 faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk hayati yang terdiri dari 4 level 0, 20, 40 dan 60 cc / L air dan faktor kedua adalah varietas kedelai yang terdiri 3 tingkat Anjasmoro, Grobogan dan Kipas Merah. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi pupuk hayati 20 cc / L air mampu meningkatkan tinggi tanaman pada 14 HST dan 28 HST.
KAJIAN INOVASI DAN PENDAPATAN UNIT PENGOLAHAN IKAN DI LHOK SEUDU DESA LAYEUN KECAMATAN LEUPUNG KABUPATEN ACEH BESAR Laina Mawaddah; T. Makmur; Indra Indra
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.299 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i2.3062

Abstract

Abstrak - Pengolahan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Pengolahan ikan bertujuan untuk memanfaatkan ikan yang tidak laku dijual dalam bentuk ikan segar atau ikan yang kurang digemari masyarakat. Lhok Seudu merupakan salah satu daerah yang mayoritas masyarakatnya melakukan proses pengolahan ikan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan proses pengolahan ikan, besarnya biaya dan pendapatan yang diperolah serta inovasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pendapatan para pengolah ikan di Lhok Seudu Desa Layeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan dengan metode sensus. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif yang diuji dengan menggunakan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Tahapan proses pengolahan ikan yang ada di Lhok Seudu masih dilakukan secara sederhana; (2) Pendapatan yang diperoleh para pengolah ikan adalah sebesar Rp. 4.235.090/bulan dengan R/C rasio yang diperoleh adalah sebesar 1,3; (3) Inovasi yang dapat diterapkan adalah pengadaan tempat pendingin atau freezer, pengadaan para-para jaring marlin dan pengadaan kemasan atau packaging.A Study Of Innovation and Income in Fish Processing Business Unit in Lhok Seudu Layeun Village of Leupung Sub-District of Great Aceh RegencyAbstract - Fish processing business is one of the most significant parts in fishery industry. The fish processing aims to select the fish that are unsaleable or disliked by the costumers in the market. Lhok Seudu is one of regions where most of its inhabitants run fish processing business. This study aimed to explore the stages of fish processing, the cost, and, the revenue gained, as well as the applicable innovation to boost up the income received by local people in Lhok Seudu Layeun Villageof Leupung Sub-District in Great Aceh Regency, the ones who are involved in this business. The research method employed in this study was census. The data were analyzed by means of quantitative descriptive were tested using profitability analysis methods. The results showed that: (1) The stages of fish processing in Lhok Seudu were all done in a simple way; (2) The income received by local people who run this business was as much as IDR4.235.090/month with R/C ratio of 1.3; (3) The applicable innovations included the procurement of freezer, nylon marlin net, and product packaging.
Komparasi Keanekaragaman Hymenoptera Parasitoid Pada Pertanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.) Sistem Monokultur Dan Tumpangsari Dewi Farahdiba; Husni Husni; Sapdi Sapdi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.904 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.24533

Abstract

Abstrak. Cabai merah termasuk salah satu komoditas sayuran unggulan dan telah banyak diusahakan oleh petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komparasi keanekaragaman serangga Hymenoptera parasitoid pada tanaman cabai monokultur dan tumpangsari. Pengambilan sampel serangga (sampling) dilakukan dengan metode kuadrat. Pada setiap kuadrat tersebut dipasang sebanyak empat macam perangkap di lahan cabai monokultur (T1), lahan cabai tumpangsari dengan bawang daun (T2) dan lahan cabai tumpangsari dengan bawang daun dan kacang panjang (T3) secara bersamaan. Sampling serangga diulang sebanyak lima kali dengan interval 3 hari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 3 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi Hymenoptera parasitoid pada budidaya cabai tumpangsari dengan bawang daun dan kacang panjang (T3) lebih banyak dan beragam dibanding perlakuan lainnya. Selain itu, kemiripan komunitas Hymenoptera parasitoid tergolong tinggi antara ketiga tipe lahan yaitu di atas 50%. Comparison of Hymenoptera Parasitoid Diversity In Chili (Capsicum annum L.) Planting Monoculture And Tumpangsari Systems Abstract. Chili is one of the leading vegetable commodities and has been cultivated by many farmers. The purpose of this study was to compare the diversity of parasitoid Hymenoptera insects in monoculture and intercropping chili plants. Insect sampling (sampling) was carried out by the quadratic method. In each of these squares, four types of traps were installed in monoculture chili fields (T1), chili fields intercropping with spring onions (T2) and chili fields intercropping with spring onions and long beans (T3) simultaneously. Insect sampling was repeated five times with an interval of 3 days. This study used a non-factorial Randomized Block Design (RBD) with 3 treatments. The results showed that the composition of Hymenoptera parasitoids in the intercropped cultivation of chili with spring onions and long beans (T3) was more numerous and varied than the other treatments. In addition, the community similarity of parasitoid Hymenoptera was high among the three land types-above 50%.
Analisis Faktor Penghambat Pengembangan Produksi dan Pemasaran Jeruk Besar (Citrus maxima(burm)Merr.) di Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Zuhra Khumaira; Ira Manyamsari; Teuku Fauzi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.25 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22131

Abstract

Abstrak.Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang berpotensi dalam produktivitas jeruk besar dan salah satu penyumbang jeruk besar tertinggi di Indonesia. Produksi jeruk besar di Aceh didominasi oleh lima kecamatan yang menghasilkan produksi terbanyak dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh, salah satunya Kabupaten Bireuen. Jeruk besar (putih manis) merupakan salah satu kultivar unggul jeruk besar yang dikembangkan di Kabupaten Bireuen. Ketersediaan jeruk besar belum tersedia secara kontinu di pasaran. Kondisi tersebut menyebabkan pemasaran jeruk besar menjadi terbatas. Produksi jeruk besar yang tidak kontinu tersebut dipicu oleh rendahnya produktivitas dan keberadaan populasi tanaman jeruk besar ini semakin berkurang akibat pengurangan lahan pekarangan untuk pembangunan rumah. Hal tersebut menyebabkan keberadaan habitat asli tanaman jeruk besar ini semakin terancam dan jeruk besar belum digarap di areal hamparan yang lebih luas. Faktor tersebut merupakan kendala petani dalam mengembangkan budidaya jeruk besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah aspek produksi dan pemasaran jeruk besar menjadi faktor penghambat jeruk besar, serta untuk mengetahui faktor manakah yang menjadi penghambat utama dari aspek produksi dan aspek pemasaran dalam pengembangan jeruk besar di Kecamatan Peusangan. Metode pengumpulan data diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer melalui wawancara dan mengedarkan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi - instansi yang terkait dengan penelitian seperti BPS, Dinas Pertanian Aceh, jurnal dan literatur lainnya. Metode analisis data menggunakan analisis hirarki proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek produksi dan aspek pemasaran merupakan aspek yang menjadi penghambat dalam pengembangan jeruk besar. Pada aspek produksi faktor penghambat utama yaitu biaya operasional sedangkan pada aspek pemasaran faktor penghambat utama adalah harga.(An Analysis Of  Inhibiting Factors For The Development Of Production And Marketing Of Jeruk Besar (Citrus maxima (Burm) Merr.) In Peusangan, Bireuen)Abstract. Aceh Province has the potential for high citrus productivity and is one of Indonesia's largest contributors of large oranges.The production of large oranges in Aceh is dominated by five sub-districts that produce the most production out of 23 districts/cities in Aceh, one of which is Bireuen Regency. Langer orange (sweet white) is one of the superior cultivars of big orange developed in Bireuen Regency. The availability of large oranges is not continuously available in the market. This condition causes the marketing of large oranges to be limited. The discontinuous production of large oranges was triggered by low productivity and low productivity. The existence of this large citrus plant population is decreasing due to the reduction of yard land for house construction. This causes the existence of the original habitat of this large orange plant to be increasingly threatened, and large oranges have not been cultivated over a wider expanse of land. This factor is an obstacle for farmers in developing large citrus cultivation. The purpose of this study is to analyze whether the production and marketing aspects of large oranges are the inhibiting factors for large oranges and to find out which factors are the main obstacles from the production and marketing aspects in the development of large oranges in Peusangan District. Data collection methods were obtained from primary and secondary data. Primary data was obtained through interviews and distributing questionnaires, while secondary data was obtained from agencies related to research such as BPS, Aceh Agriculture Service, journals, and other literature. The method of data analysis used hierarchical process analysis (AHP). The results showed that aspects of production and aspects of marketing are aspects that become obstacles in the development of large oranges. In the production aspect, the main inhibiting factor is operational costs, while in the marketing aspect, the main inhibiting factor is price.
Pengaruh Konsentrasi dan Pewiwilan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tin (Ficus carica L.) Annisa Nabila; Rita Hayati; Marai Rahmawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.956 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22352

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi giberelin dan pewiwilan serta interaksi antara kedua perlakuan tersebut terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tin. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2021 sampai Desember 2021 dirumah kaca II Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) digunakan dalam penelitian ini dengan pola split plot 3x2 dengan 4 ulangan terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi giberelin sebagai petak utama dengan tingkat konsentrasi 100, 200, 300 ppm dan pewiwilan sebagai anak petak dengan 2 taraf yaitu kontrol (tanpa pewiwilan) dan pewiwilan. Data penelitian menunjukkan hasil bahwa konsentrasi giberelin berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, diameter pangkal batang, jumlah cabang sekunder, tinggi cabang sekunder, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, jumlah buah yang dipanen dan berat buah yang dipanen. Tanaman tin cenderung memiliki pertumbuhan lebih baik pada perlakuan giberelin dengan konsentrasi 300 ppm. Sedangkan, perlakuan pewiwilan tanaman tin berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah cabang sekunder dan jumlah daun pada umur 42 HSP, berpengaruh nyata pada tinggi tanaman umur 14 HSP dan 28 HSP. Namun, berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 42 HSP, diameter pangkal batang, jumlah cabang sekunder pada umur 14 dan 28 HSP, tinggi cabang sekunder, jumlah daun umur 14 HSP dan 28 HSP, panjang daun, lebar daun, jumlah buah yang dipanen serta berat buah yang dipanen. Pewiwilan cenderung lebih baik pada perlakuan kontrol. Antara konsentrasi giberelin dan pemangkasan wiwilan terdapat interaksi nyata terhadap jumlah cabang sekunder umur 14 HSP. Interaksi cenderung lebih baik pada konsentrasi giberelin 100 ppm dengan perlakuan kontrol.Kata kunci: Tin, KonsentrasiGiberelin, Pewiwilan       Abstract. This study aims to determine the effect of gibberellins concentration and pruning of leaf axillary buds and the interaction between them on the growth and yield of fig plants. This research was conducted from  October 2021 to December 2021 in greenhouse II, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh. This study used a factorial randomized block design (FRBD) with a 3x2 split plot pattern with 4 replications consisting of 2 factors, namely the concentration of gibberellins as the main plot with a concentration level of 100, 200, 300 ppm and pruning of leaf axillary buds as a subplot with 2 levels, namely control and pruning of leaf axillary buds. The results of this study showed that the concentration of gibberellins had no significant effect on plant. The growth of fig plants tended to be better in gibberellin treatment with a concentration of 300 ppm. Meanwhile, the fig plant pruning of leaf axillary buds treatment had a very significant effect  on the number of secondary branches and the number of leaves at 42 DAP, and significantly on plant height at 14 DAP and 28 DAP. However, it had no significant effect on plant height at 42 DAP, stem diameter, number of secondary branches at 14 and 28 DAP, secondary branch height, number of leaves at 14 DAP and 28 DAP, leaf length, leaf width, and number of fruits harvested. and weight of fruit harvested. pruning of leaf axillary  buds tends to be better in the control treatment. There was a significant interaction between gibberellins concentration and pruning of leaf axillary buds on the number of secondary branches at 14 DAP. The interaction tends to be better at the concentration of gibberellins 100 ppm with the control treatment.Keywords: Fig, Gibberellin Concentration, Leaf Axillary Shoot Removal   
Preferensi Arthropoda terhadap Warna Perangkap pada Pertanaman Kopi Arabika di Desa Atang Jungket Kabupaten Aceh Tengah Ulyani Ulyani; Alfian Rusdy; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.556 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.7456

Abstract

Abstrak. Arthropoda merupakan filum yang paling dominan di antara filum hewan lainnya jika ditinjau dari keanekaragaman, penyebaran, dan jumlah spesiesnya. Pada pertanaman kopi arabika terdapat arthropoda yang berperan sebagai herbivor, musuh alami, serangga penyerbuk, serangga netral, dan dekomposer. Secara umum, tindakan pengelolaan yang dilakukan oleh petani pada pertanaman kopi di Desa Atang Jungket Kabupaten Aceh Tengah adalah dengan menggunakan pestisida sintetik tanpa mempedulikan kondisi agroekosistemnya. Supaya agroekosistem kopi tetap stabil dan berkelanjutan, maka perlu dilakukan tindakan pengelolaan yang ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan perangkap warna dimana proses penemuan inang serangga didasari oleh faktor visual yang bertujuan untuk mengetahui warna perangkap yang disukai oleh arthropoda pada areal pertanaman kopi arabika. Pada penelitian ini digunakan metode purposive sampling (ditetapkan) dengan luas lahan 5.000 yang berjumlah 138 tanaman, kemudian dibagi menjadi empat petak secara berjajar. Setiap petak diambil 20 tanaman sampel dengan menggunakan perangkap warna merah, kuning, hijau, dan putih. Peubah yang diamati meliputi komposisi dan kelimpahan arthropoda berdasarkan warna perangkap, indeks similaritas famili antar warna perangkap, serta kepadatan relatif Famili Scolytidae. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa arthropoda yang ditemukan berjumlah 2.062 individu yang terdiri dari 2 kelas, 12 ordo, dan 72 famili. Ordo Hymenoptera merupakan ordo dengan jumlah individu paling banyak. Perangkap warna kuning merupakan paling banyak memerangkap arthropoda yaitu 552 individu dibandingkan perangkap warna merah, hijau, dan putih yang masing-masingnya hanya 547 individu, 527 individu, dan 436 individu. Nilai indeks similaritas famili arthropoda antar warna perangkap tergolong rendah berarti keragaman famili yang menyusun komunitas tersebut tinggi. Kepadatan Famili Scolytidae berjumlah 0,02 individu/m2 dan kepadatan relatif 0,04%. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan tanah dan tanamannya secara ekologis masih menguntungkan, tidak mengancam keberlangsungan budi daya tanaman.Preference of Arthropod to Color of Trap on Arabica Coffee Plantation in Atang Jungket Village Aceh Tengah DistrictAbstract. Arthropods are the most dominant phylum among other animal phyla when viewed from the diversity, distribution, and number of species. In arabica coffee plantation there arthropods that act as herbivor, natural enemies, pollinating insects, neutral insects, and decomposers. In general, the management actions carried out by farmers on coffee plantations in Atang Jungket Village, Central Aceh District is to use synthetic pesticides regardless of agro-ecosystem condition. For coffee agro-ecosystem to remain stable and sustainable, it is necessary to do an environmentally friendly management action that is by using color trap where the process of invention of insect host is based on visual factor which aim to know color of trap were liked by arthropod  in arabica coffee plantation area. This research uses purposive sampling method with 5,000  land area of 138 plants, then divided into four plots in a row. Each plot was taken 20 sample plants using red, yellow, green, and white traps. The observed variables include the composition and abundance of arthropods based on the trap color, the family similarity index between the trap colors, and the relative density of the Scolytidae Family. The results showed that the arthropods were 2,062 individuals consisting of 2 classes, 12 orders, and 72 families. The Hymenoptera Order is the order of the largest number of individuals. The yellow trap is the most arthropod trap of 552 individuals compared to the red, green, and white traps of 547 individuals, 527 individuals and 436 individuals each. The value of the arthropod family similarity index between the trap colors is low, meaning that the diversity of families that make up the community is high. The Scolytidae Family density was 0.02 individuals/m2 and the relative density was 0.04%. This indicates that the management of land and plants are ecologically still profitable, not threatening the sustainability of cultivation of crops.
Analisis Kualitas Air Irigasi Untuk Pertanian di Daerah Irigasi Pante Lhong kBupaten Bireuen Muhammad Aygun; Manfarizah Manfarizah; Hairul Basri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.656 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas udara dan kelas mutu air di Daerah Irigasi Pante Lhoeng Kabupaten Bireuen dan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara di Daerah Irigasi Pante Lhoeng Kabupaten Bireuen menggunakan metode penelitian deskriptif yang menggunakan survei lapangan 5 Intake), B (Saluran Primer), C (Saluran Sekunder), D (Saluran Tersier), dan E (Saluran Kuarter). Parameter yang di analisis yaitu kekeruhan udara, DHL (Daya Hantar Listrik), bau, Derajat Kemasaman (pH), Ca, Mg, Fe, Na dan SAR (Sodium Adsorption ratio). Hasil penelitian menunjukkan kualitas Air di Daerah Irigasi Pante Lhong Kabupaten Bireuen berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tergolong dalam Kelas I yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan tersebut. Selanjutnya berdasarkan FAO (1976) dan (1976) melewati-ikut disertakan ke dalam kelas Baik dan Sangat Baik. Kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhoong Kab Bireuen belum tercemar oleh limbah rumah tangga atau limbah industri di Daerah Irigasi Pante Lhong. Di Indonesia, meminta kualitas air menurut Scofield (1936), FAO (1976) dan PP No.82 Tahun 2001. Kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhoong Kab Bireuen belum tercemar oleh limbah rumah tangga atau limbah industri di Daerah Irigasi Pante Lhong. Di Indonesia, meminta kualitas air menurut Scofield (1936), FAO (1976) dan PP No.82 Tahun 2001. Kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhoong Kab Bireuen belum tercemar oleh limbah rumah tangga atau limbah industri di Daerah Irigasi Pante Lhong. Di Indonesia, meminta kualitas air menurut Scofield (1936), FAO (1976) dan PP No.82 Tahun 2001.Analisis Kualitas Air Irigasi untuk Sawah di Daerah Irigasi Pante Lhong Kabupaten BireuenPenelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas udara dan kelas kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhong Kabupaten Bireuen dan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara di Daerah Irigasi Pante Lhong di Kabupaten Bireuen menggunakan metode penelitian deskriptif yang menggunakan 5 survei lapangan Intake), B (Saluran Utama), C (Saluran Sekunder), D (Saluran Tersier), dan E (Saluran Kuarter). Parameter yang dianalisis adalah kekeruhan udara, DHL (konduktivitas listrik), bau, derajat keasaman (pH), Ca, Mg, Fe, Na dan SAR (Rasio Adsorpsi Natrium). Hasil penelitian yang menunjukkan kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhong di Kabupaten Bireuen berdasarkan PP No.82 tahun 2001 diklasifikasikan sebagai Kelas I, yaitu air yang dapat digunakan untuk air minum mentah dan penggunaan lain yang mempersingkat air. menggunakan kegunaan ini. Selanjutnya, berdasarkan FAO (1976) dan (1976) inklusi termasuk dalam kelas Baik dan Sangat Baik. Kualitas air di Daerah Irigasi Pante Lhong Kabupaten Bireuen belum tercemar oleh limbah rumah tangga atau limbah industri di Daerah Irigasi Pante Lhong. Di Indonesia, meminta kualitas air menurut Scofield (1936), FAO (1976) dan PP No.82 tahun 2001. 

Page 88 of 103 | Total Record : 1028