cover
Contact Name
Dhini Dewiyanti
Contact Email
dhini.dewiyanti@email.unikom.ac.id
Phone
+62812218448
Journal Mail Official
dhini.dewiyanti@email.unikom.ac.id
Editorial Address
https://ojs.unikom.ac.id/index.php/desa/EditorialBoard
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
DESA (Desain dan Arsitektur)
ISSN : -     EISSN : 27472469     DOI : https://doi.org/10.34010/desa.v2i2
Artikel yang dapat dikirim ke DESA terbagi dalam empat kategori: 1. Artikel Laporan Perancangan: berupa laporan final hasil perancangan orisinal yang memberikan kontribusi pengetahuan baru yang bermanfaat pada pengembangan ide, pendekatan, maupun pada gagasan bentuk desain. 2. Artikel Laporan Perencanaan: berupa laporan kegiatan perencanaan sebagai bagian dari proses merancang, yang memberikan kontribusi pengetahuan baru yang bermanfaat pada pengetahuan merencana. 3. Artikel Metode Perancangan: berisi uraian atau pembahasan tentang paradigma desain, pendekatan desain, metode pengumpulan data, metode analisis data, atau persoalan metode perancangan/perencanaan tertentu, disertai dengan contoh. 4. Artikel Diskursus: Bisa berupa hasil penelitian ataupun pemikiran, dengan titik berat pada kritik dan/atau diskusi tentang objek, subjek, dan pernyataan (statement) tentang objek/subjek tersebut berdasarkan perspektif penulis.
Articles 65 Documents
MASJID AGUNG DAN IDENTITAS KOTA: STUDI PERBANDINGAN BEKASI DAN TASIKMALAYA Mahbub, Purnama Kusuma; Sudradjat, Iwan
Jurnal Desain dan Arsitektur Vol 7 No 1 (2026): DESA
Publisher : Prodi Arsitektur, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/desa.v7i1.16212

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran strategis arsitektur landmark keagamaan dalam membentuk identitas kota, dengan fokus pada dua masjid agung di Provinsi Jawa Barat: Masjid Agung Al-Barkah di Kota Bekasi dan Masjid Agung di Kota Tasikmalaya. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus ganda. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan terstruktur untuk mendokumentasikan tata letak, gaya arsitektur, dan elemen simbolik; wawancara semi-terstruktur dengan 14 informan kunci, termasuk tokoh agama, arsitek, pengurus masjid, dan perwakilan masyarakat; serta analisis dokumen berupa arsip perencanaan, foto historis, dan regulasi terkait penataan kota. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik yang mengintegrasikan kajian visual, historis, dan sosial-budaya guna mengidentifikasi pola kesamaan dan perbedaan antar kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua masjid berfungsi melampaui peran ibadah, menjadi jangkar visual dan kultural yang mengartikulasikan identitas kota. Masjid Agung Al-Barkah, dengan kombinasi arsitektur Islam modern dan pengaruh Timur Tengah-Jawa, mencerminkan dinamika urban Kota Bekasi yang kosmopolitan. Sementara itu, Masjid Agung Tasikmalaya, dengan dominasi elemen arsitektur Sunda, menegaskan pelestarian nilai lokal di tengah transformasi kota. Perbedaan arsitektural ini membentuk narasi simbolik yang unik, memperkuat memori kolektif dan keterikatan emosional masyarakat terhadap kotanya. Temuan ini mengindikasikan bahwa masjid agung memiliki potensi sebagai representasi identitas kolektif sekaligus media kontinuitas historis, berperan sebagai elemen penghubung antara dimensi sakral, sipil, dan kultural dalam perencanaan kota yang berkelanjutan.
EVALUASI KINERJA FUNGSIONAL-TEKNOLOGIS ARSITEKTUR FASILITAS PRODUKSI VAKSIN: STUDI KASUS GEDUNG 37 BIO FARMA Sumirat, Achmad; Ilhamdaniah
Jurnal Desain dan Arsitektur Vol 7 No 1 (2026): DESA
Publisher : Prodi Arsitektur, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/desa.v7i1.18815

Abstract

Setelah pandemi COVID-19, fasilitas produksi vaksin menjadi sangat krusial dalam sistem kesehatan nasional. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan standar kebersihan tinggi, teknologi efisien, dan keamanan biologis yang ketat. Sayangnya, aspek kemanusiaan di ruang bersih sering kali luput dari perhatian selama proses perancangan, karena fokus utama lebih pada teknis. Kajian ini bertujuan menganalisis kualitas arsitektur Gedung 37 Bio Farma sebagai pabrik vaksin nasional. Analisis fokus pada keterkaitan antara fungsi, teknologi, dan sisi kemanusiaan. Metode yang dipakai adalah kritik arsitektur kualitatif dengan pendekatan deskriptif, normatif, dan interpretatif. Analisis deskriptif mengamati kondisi fisik bangunan, tata ruang, material, dan alur staf dan material produksi. Analisis normatif menilai kesesuaian dengan standar CPOB BPOM No. 34 Tahun 2018 dan GMP WHO serta prinsip Vitruvius (firmitas, utilitas, venustas). Analisis interpretatif menggali pengalaman kerja di ruang bersih, tekanan psikologis dan interaksi manusia dengan sistem produksi biofarmasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gedung 37 secara umum telah memenuhi persyaratan fungsi dan regulasi teknis. Dalam sisi pengguna, terutama terkait kenyamanan, psikologis, kualitas ruang transisi, dan hubungan antara area kerja ruang produksi dengan tempat istirahat masih memiliki celah. Kajian ini menekankan perlunya perubahan paradigma desain untuk fasilitas produksi vaksin agar lebih seimbang antara produktivitas, keamanan biologis, dan kesejahteraan manusia.
KEBERADAAN ALUN-ALUN TERHADAP CITRA KOTA (STUDI KASUS: ALUN-ALUN KABUPATEN BANDUNG BARAT) Rizkiyah, Ninis Fuzi; Ilhamdaniah
Jurnal Desain dan Arsitektur Vol 7 No 1 (2026): DESA
Publisher : Prodi Arsitektur, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/desa.v7i1.19034

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran dan keberadaan Alun-Alun Kabupaten Bandung Barat terhadap citra kawasan kota berdasarkan teori The Image of the City oleh Kevin Lynch. Sebagai ruang publik utama, alun-alun berperan penting dalam membentuk identitas visual dan sosial kota, namun saat ini fungsinya cenderung menurun akibat lemahnya pengelolaan dan minimnya aktivitas publik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, studi literatur, serta metode kuantitatif dengan survei persepsi masyarakat menggunakan kuesioner skala Likert dan pertanyaan terbuka yang dianalisis dengan teknik word cloud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra ruang Alun-Alun Kabupaten Bandung Barat berada pada kategori sedang hingga rendah, dengan elemen path dan landmark sebagai aspek paling lemah, sedangkan node menunjukkan potensi pengembangan aktivitas sosial. Masyarakat menilai kondisi fisik kawasan kurang terawat, panas dan minim fasilitas, serta menginginkan perbaikan kebersihan, penerangan dan penambahan kegiatan seni maupun kuliner. Kesimpulannya, Alun-Alun Kabupaten Bandung Barat belum berfungsi optimal sebagai ruang publik yang memperkuat citra kota, sehingga revitalisasi diperlukan melalui peningkatan kualitas fisik, aktivitas sosial dan penguatan identitas kawasan berbasis partisipasi masyarakat. 
PELESTARIAN ARSIP VISUAL IDENTITAS SIGNAGE KOMERSIAL ERA 1990-AN DI KAWASAN KUTA, BALI Kurniawan, Reza Pratama; Dewi, Agustina Kusuma
Jurnal Desain dan Arsitektur Vol 7 No 1 (2026): DESA
Publisher : Prodi Arsitektur, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/desa.v7i1.19231

Abstract

Signage komersial merupakan elemen penting dalam lanskap visual ruang publik pariwisata karena berperan sebagai medium komunikasi sekaligus representasi identitas tempat. Artikel ini bertujuan membahas signage komersial di kawasan Jalan Legian, Kuta, sebagai artefak visual yang merekam negosiasi antara nilai lokal Bali dan pengaruh global dalam konteks pariwisata, dengan era 1990-an digunakan sebagai kerangka historis dan kultural pembacaan. Penulisan dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis diskursif terhadap teks visual, didukung oleh dokumentasi observasi lapangan berupa 24 foto yang merepresentasikan 30 signage komersial. Analisis mengacu pada konsep Identity of Place, glokalisasi, dan semiotika visual untuk menafsirkan elemen bahasa, tipografi, warna, ornamen, serta material signage. Hasil pembahasan menunjukkan dominasi signage berorientasi global dengan penggunaan bahasa Inggris dan estetika desain modern, disertai kehadiran unsur lokal yang sebagian besar bersifat simbolik dan dekoratif, serta sebagian kecil menampilkan negosiasi lokal–global yang lebih seimbang. Temuan ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan pembacaan kritis signage sebagai bagian dari memori visual kawasan dalam menjaga kesinambungan identitas visual pariwisata Bali di tengah kecenderungan homogenisasi desain global.
DARI TRADISI KE TRANSFORMASI: ARSITEKTUR WALE TOU MINAHASA SEBAGAI SPASIAL DINAMIS BAGI GENERASI MUDA Khuana, Louis Bernard; Redyantanu, Bramasta Putra
Jurnal Desain dan Arsitektur Vol 7 No 1 (2026): DESA
Publisher : Prodi Arsitektur, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/desa.v7i1.19425

Abstract

Studi ini bertujuan mengeksplorasi potensi arsitektur lokal sebagai basis transformasi perancangan dari tradisi menuju transformasi ruang publik yang relevan bagi generasi muda. Penelitian ini berargumen bahwa desain arsitektur publik tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk bangunan permanen, melainkan dapat berupa ruang terbuka yang dinamis dan mampu mengakomodasi beragam aktivitas generasi muda. Konteks penelitian ini adalah sayembara perancangan arsitektur untuk generasi muda dengan titik tolak pada arsitektur tradisional Minahasa, yaitu Wale Tou. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui riset berbasis desain, yang merefleksikan proses transformasi rumah adat tradisional menjadi rancangan arsitektur sosial yang adaptif dan kontemporer. Hasil perancangan menegaskan tiga gagasan konseptual utama. Pertama, arsitektur tidak semata-mata dipahami sebagai bangunan, melainkan berpotensi menjadi pelingkup ruang publik berbasis elemen tradisional. Kedua, dinamika temporalitas perlu diperhitungkan untuk mengakomodasi berbagai kemungkinan fungsi ruang sosial. Ketiga, konteks tapak menjadi aspek penting yang memengaruhi proses transformasi arsitektur tradisional menuju arsitektur transformatif. Kesimpulannya, arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi berpotensi menjadi pelingkup dinamis yang mampu menjawab kebutuhan spasial temporer sekaligus kontemporer generasi muda saat ini.