Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Telaah Etika Sinematika Deleuze Pada Reprensentasi Perempuan Jawa dalam Film 'SETAN JAWA’ Karya Garin Nugroho Dewi, Agustina Kusuma; Piliang, Yasraf Amir; Irfansyah, Irfansyah
Visualita Jurnal Online Desain Komunikasi Visual Vol 8 No 1 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.193 KB) | DOI: 10.33375/vslt.v8i1.1867

Abstract

Film is a medium of visual communication that plays a role in the dissemination of women's concept discourse in Indonesia, one of which is due to its distinctive characteristics that can last for a long period of time, potentially wider in its dissemination, including also being a mass media hypnotic culture. The film is closely related to the concept of gaze, male gaze in the cinematography industry, which according to overly uses men's views, which is positioning women as subjects who have no power over themselves (self-possessiveness) but as objects of male gaze. Women become commodities in the film, a sex object that is commodified to construct an image that represents the position of women is as an additional role that is not important in one film narrative. In the male gaze narration, women in the film do not act, but become part of the actions of men. Morally, male gaze assumes that the behavior of women in films has a vacuum, but in Garin Nugroho's 'Setan Jawa’ using Deleuze's cinematic study, women are positioned to have other representations that differ from the ethics of cinematics which do not place women as signs of sex objectification for the sake of fulfillment of men's desires, but as subjects who are fully empowered and may wish of themselves.
GOFFMAN’ DRAMATURGY OF MOVEMENT CONCEPT IN SETAN JAWA FILM BY GARIN NUGROHO Dewi, Agustina Kusuma; Piliang, Yasraf Amir; Irfansyah, Irfansyah; Saidi, Acep Iwan
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 3, No 2 (2020): March 2020
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.384 KB) | DOI: 10.24071/ijhs.v3i2.2339

Abstract

Dramaturgy Goffmann closely related to the model of the interaction between the persona by assuming that a mode of social relations as a stage show. There are self-raised, there are purposely hidden for management to create a certain impression. Setan Jawa Film by Garin Nugroho, as an art film, the issue of movement as the media said the film that marks the cultural code of Java to interact. This study aims to identify the perception of motion applicable to the 'movement' in Setan Jawa Film using test questionnaire responses on the perception of respondents from diverse ethnic, which was later confirmed by the method of Focused Group Discussion with Goffmann’ Dramaturgy analysis as the basis of interpretation.
Analisis Ideologi Visual pada Iklan Cetak Adidas Versi Chu-mu Yen, “No One Gets Up When A Whole World Kicks” Dewi, Agustina Kusuma
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.632 KB)

Abstract

Dalam upaya memperkenalkan produk dan jasa kepada konsumen, strategi komunikasi iklan harus di rancang dengan memerhatikan beragam tema dan ide strategi kreatif diterapkan dalam usaha mengambil perhatian konsumen. Dari iklan-iklan yang memukau dengan menampilkan kesan mewah, modern, futuristik, humor hingga iklan yang menampilkan animasi, terdapat pula iklan-iklan yang melakukan pendekatan-pendekatan secara budaya dengan mengangkat kultur masyarakat setempat seperti cerita rakyat, bahasa, kesenian atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat itu sendiri.  “Impossible Is Nothing” diluncurkan oleh Adidas pada Februari 2008 dalam bentuk iklan televisi, iklan cetak serta iklan melalui internet. Slogan ini ditujukan untuk meraih target audiens dalam rentang usia 12 – 24 tahun yang aktif berolahraga. Dalam seri iklan cetaknya yang menggunakan pendekatan modern, slogan ini, ketika menjadi brand official dalam Olimpiade 2008, terbagi dalam beberapa seri yang meng-endorse atlit olahraga, salah satunya adalah Chu-Mu Yen, atlit Taekwondo dari Taiwan yang pertama memenangkan medali pada Olimpiade. Iklan cetak Adidas versi Chu-Mu Yen, “No One Gets Up when A Whole World Kicks” adalah iklan cetak yang akan menjadi objek desain dalam analisis semiotika yang akan menganalisa makna yang terkandung dalam tagline dan headline yang memiliki stopping power dalam menarik khalayak sasaran, sehingga khalayak langsung melihat dan membaca iklan Adidas. Ideologi visual dalam iklan ini akan dikaji secara deskriptif kualitatif setelah penulis melakukan identifikasi pada tanda yang di bangun dalam iklan menggunakan sudut pandang semiotika Charles Sanders Peirce serta penerapan Metafora dan Metonimia pada relasi antar tanda.Kata kunci: Ideologi Visual, Iklan Cetak, Semiotika, Charles Sanders Peirce AbstraCTAs an effort to introduce products and services to consumers, the advertising communication strategy must be designed by looking at the various themes and creative strategy ideas applied in the effort to capture the attention of consumers. From fascinating advertisements featuring luxurious, modern, futuristic, humorous to animated ads, there are also advertisements that take cultural approaches by lifting the culture of local people such as folklore, language, art or customs society itself. "Impossible Is Nothing" was launched by Adidas in February 2008 in the form of television commercials, print ads and advertisements via the internet. The slogan is aimed at reaching the target audience within the 12 - 24 year age range who is active in exercising. In its print ad series using a modern approach, this slogan, when it became the official brand of the 2008 Olympics, is divided into several series that endorse sports athletes, one of them being Chu-Mu Yen, Taiwan's Taekwondo athlete who first won medals at the Olympics. Adidas print ad version of Chu-Mu Yen, "No One Gets Up when A Whole World Kicks" is a print advertisement that will be the object of design in semiotics analysis that will analyze the meaning contained in the tagline and headlines that have stopping power in attracting target audiences, so the audience immediately see and read Adidas ads. The visual ideology in this advertisement will be assessed descriptively qualitatively after the authors identify the signature constructed in the advertisement using the semiotic viewpoint of Charles Sanders Peirce as well as the application of Metaphor and Metonology to the relation between signs.Keywords: Visual Ideology, Print Ads, Semiotics, Charles Sanders Peirce
Analisis Ideologi Visual pada Iklan Cetak Adidas Versi Chu-mu Yen, “No One Gets Up When A Whole World Kicks” Agustina Kusuma Dewi
Jurnal Rekarupa Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upaya memperkenalkan produk dan jasa kepada konsumen, strategi komunikasi iklan harus di rancang dengan memerhatikan beragam tema dan ide strategi kreatif diterapkan dalam usaha mengambil perhatian konsumen. Dari iklan-iklan yang memukau dengan menampilkan kesan mewah, modern, futuristik, humor hingga iklan yang menampilkan animasi, terdapat pula iklan-iklan yang melakukan pendekatan-pendekatan secara budaya dengan mengangkat kultur masyarakat setempat seperti cerita rakyat, bahasa, kesenian atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat itu sendiri.  “Impossible Is Nothing” diluncurkan oleh Adidas pada Februari 2008 dalam bentuk iklan televisi, iklan cetak serta iklan melalui internet. Slogan ini ditujukan untuk meraih target audiens dalam rentang usia 12 – 24 tahun yang aktif berolahraga. Dalam seri iklan cetaknya yang menggunakan pendekatan modern, slogan ini, ketika menjadi brand official dalam Olimpiade 2008, terbagi dalam beberapa seri yang meng-endorse atlit olahraga, salah satunya adalah Chu-Mu Yen, atlit Taekwondo dari Taiwan yang pertama memenangkan medali pada Olimpiade. Iklan cetak Adidas versi Chu-Mu Yen, “No One Gets Up when A Whole World Kicks” adalah iklan cetak yang akan menjadi objek desain dalam analisis semiotika yang akan menganalisa makna yang terkandung dalam tagline dan headline yang memiliki stopping power dalam menarik khalayak sasaran, sehingga khalayak langsung melihat dan membaca iklan Adidas. Ideologi visual dalam iklan ini akan dikaji secara deskriptif kualitatif setelah penulis melakukan identifikasi pada tanda yang di bangun dalam iklan menggunakan sudut pandang semiotika Charles Sanders Peirce serta penerapan Metafora dan Metonimia pada relasi antar tanda.Kata kunci: Ideologi Visual, Iklan Cetak, Semiotika, Charles Sanders Peirce AbstraCTAs an effort to introduce products and services to consumers, the advertising communication strategy must be designed by looking at the various themes and creative strategy ideas applied in the effort to capture the attention of consumers. From fascinating advertisements featuring luxurious, modern, futuristic, humorous to animated ads, there are also advertisements that take cultural approaches by lifting the culture of local people such as folklore, language, art or customs society itself. "Impossible Is Nothing" was launched by Adidas in February 2008 in the form of television commercials, print ads and advertisements via the internet. The slogan is aimed at reaching the target audience within the 12 - 24 year age range who is active in exercising. In its print ad series using a modern approach, this slogan, when it became the official brand of the 2008 Olympics, is divided into several series that endorse sports athletes, one of them being Chu-Mu Yen, Taiwan's Taekwondo athlete who first won medals at the Olympics. Adidas print ad version of Chu-Mu Yen, "No One Gets Up when A Whole World Kicks" is a print advertisement that will be the object of design in semiotics analysis that will analyze the meaning contained in the tagline and headlines that have stopping power in attracting target audiences, so the audience immediately see and read Adidas ads. The visual ideology in this advertisement will be assessed descriptively qualitatively after the authors identify the signature constructed in the advertisement using the semiotic viewpoint of Charles Sanders Peirce as well as the application of Metaphor and Metonology to the relation between signs.Keywords: Visual Ideology, Print Ads, Semiotics, Charles Sanders Peirce
GOFFMAN DRAMATURGY OF MOVEMENT CONCEPT IN SETAN JAWA FILM BY GARIN NUGROHO Agustina Kusuma Dewi; Yasraf Amir Piliang; Irfansyah Irfansyah; Acep Iwan Saidi
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 3, No 2 (2020): March 2020
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v3i2.2339

Abstract

DramaturgyGoffmanncloselyrelatedtothemodeloftheinteractionbetweenthepersonabyassumingthatamodeofsocialrelationsasastageshow.Thereareself-raised,therearepurposelyhiddenformanagementtocreateacertainimpression.SetanJawaFilmbyGarinNugroho,asanartfilm,theissueofmovementasthemediasaidthefilmthatmarkstheculturalcodeofJavatointeract.Thisstudyaimstoidentifytheperceptionofmotionapplicabletothe'movement'inSetanJawaFilmusingtestquestionnaireresponsesontheperceptionofrespondentsfromdiverseethnic,whichwaslaterconfirmedbythemethodofFocusedGroupDiscussionwithGoffmannDramaturgyanalysisasthebasisofinterpretation.
Transposisi Kreatif Gerak Wayang Makidhipuh dalam Film Setan Jawa Karya Garin Nugroho Agustina Kusuma Dewi
PANGGUNG Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.496 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1098

Abstract

Abstract: Garin Nugroho's ‘Setan Jawa’  is a performance film that carries a large narrative background to the story is the beginning of the 20th century in Java. With the accompaniment of live music by Rahayu Supanggah, the film was first released in 2016, and until 2020 a world tour is scheduled. 'Movement' becomes important in this film, which is a silent cross-disciplinary film, which combines dance and puppet shadows. The 'Movement' in the film ‘Setan Jawa’ gives a certain cultural meaning, that is Javanese culture, which arises through visual movement’ code, a creative transposition adapted from the wayang. Using a case study approach, supported by visual data analysis in the form of ‘Setan Jawa’ film documentation and referential data in the form of movement’ classifications in puppet shadows (Roger Long, 1979), this study produced findings that there were creative puppet movement transpositions made in the film ‘Setan Jawa’, i.e. Makidhipuh's movement. This finding reinforces the importance of adaptation and collaboration in the performing arts in the era of visual onslaught in order to maintain local culture. Keywords: film setan jawa, movement code, puppet movementAbstrak: ‘Setan Jawa’ karya Garin Nugroho merupakan film pertunjukan yang mengangkat narasi besar latar belakang cerita adalah awal abad ke-20 di Jawa. Dengan iringan musik live buatan Rahayu Supanggah, film ini pertama kali dirilis tahun 2016, dan hingga tahun 2020 dijadwalkan tur keliling dunia. ‘Gerak’ menjadi penting dalam film yang merupakan film bisu silang disiplin ini, yang diantaranya memadukan seni tari dan wayang. ‘Gerak’ pada film ‘Setan Jawa’ memberikan makna kultural tertentu, yaitu kultur Jawa, termunculkan melalui kode gerak visual, sebuah transposisi kreatif diadaptasi dari gerak wayang kulit. Menggunakan pendekatan studi kasus, didukung analisis data visual berupa dokumentasi Film ‘Setan Jawa’ dan data referensial berupa klasifikasi gerak pada wayang (Roger Long, 1979), penelitian ini menghasilkan temuan bahwa ada transposisi gerak wayang yang dilakukan secara kreatif pada film ‘Setan Jawa’, salah satunya, gerak Makidhipuh. Temuan ini menguatkan pentingnya adaptasi dan kolaborasi dalam seni pertunjukan di era gempuran visual agar dapat memertahankan budaya lokal.Kata kunci: film setan jawa, kode gerak, gerak wayang
GAYA VISUAL ETALASE RM. PADANG YANG MENJADI SYLE NAVIGATION DALAM BISNIS KULINER MASAKAN PADANG Agustina Kusuma Dewi
KalaTanda Vol 2 No 1 (2020): Kalatanda
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/kalatanda.v2i1.4111

Abstract

Gaya sebagai sebuah gagasan yang dituliskan dan kemudian diimplementasikan menjadi the constant form dan/atau terkadang the constant elements, setiap orang memiliki konsepnya sendiri untuk kemudian mengadopsi atau mengadaptasi sebuah gaya sebagai gaya yang paling memanifestasikan dan mengaktualisasikan dirinya. Terkait hal ini, ada relevansi pengaplikasian gaya dalam hidup seseorang dengan kesadaran atau consciousness dengan ketidaksadaran atau unconsciousness yang dimilikinya. Tak jarang, bawah sadar seseorang yang menggerakkannya untuk menunjukkan kecenderungan gaya tertentu dalam perilakunya sehari-hari. Sebagai sebuah gagasan yang memiliki integritas di dalamnya; integritas berarti gaya menyimpan aturan dan sistemik dan/atau bentuk-bentuk yang teratur dengan capaian tertentu, gaya tidaklah bersifat permanen. Setiap orang dapat mengadaptasikan gaya yang paling mendefinisikan dirinya, meski setiap orang, seperti yang telah di bahas pada bagian sebelumnya, akan memiliki kecenderungan gaya yang paling menjadi ‘karakter dasar’ dirinya. Sebagai the constant form, gaya bukan sesuatu yang ‘serta-merta’, namun ada kesadaran yang membentuknya menjadi sebuah ‘mekanisme’, ‘keteraturan’, ‘punya daya adaptasi’ terhadap lingkungan sosial. Menggunakan metode Kolb dalam Kerangka Berpikir Experiential Learning, penelitian ini menggunakan pendekatan Reflective Observation untuk mengidentifikasi gaya dan fungsinya sebagai sebuah konsep untuk dapat memahami masyarakat dan identitas kultural; yang lebih jauhnya, gaya diposisikan sebagai style navigations, sebuah cultural guide. Kata kunci: navigasi budaya, identitas kultural, gaya hidup, reflection observatio
PERSEPSI AUDIENS TERHADAP PENERAPAN CIRI GERAK PADA IKLAN CETAK Agustina Kusuma Dewi; Hafiz Aziz Ahmad; Achmad Syarief
Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan (Demandia) Vol 02, No 02 (September 2017) demandia - Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Peri
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/demandia.v2i02.931

Abstract

Iklan merupakan salah satu bauran promosi yang hingga saat ini masih memiliki potensi sebagai sumber informasi bagi konsumen. Seringkali desain iklan yang dibuat dengan beragam teknik visualisasi memiliki pesan komunikasinya sendiri, namun memunculkan keberbedaan dalam persepsi audiens. Dengan tidak mengabaikan keunggulan yang dimiliki oleh iklan audio-visual, iklan cetak dengan karakteristiknya tetap menjadi pilihan untuk menginformasikan pesan terkait produk dan/atau jasa. Ciri Gerak merupakan salah satu pendekatan cara gambar dalam iklan yang selaras dengan perkembangan era kinetik (gerak) saat ini. Meski demikian, sedikitnya penelitian yang pernah dilakukan terkait ciri gerak sebagai paparan stimuli visual dalam iklan cetak memicu pada penelitian yang lebih jauh tentang persepsi konsumen terhadap penerapan sebuah cara gambar sebagai strategi penyajian grafis dalam iklan; sehingga penelitian dengan menggunakan metoda sequential mix-method dan instrumen berbasis computer and web based q’s ini penting dilakukan untuk dapat mengidentifikasi persepsi konsumen pada iklan cetak khususnya dengan penerapan ciri gerak, terutama saat pendekatan ciri gerak diterapkan dalam bidang yang diam; dan lebih jauhnya bagaimana kaitan persepsi tersebut pada kemunculan kognisi dan afeksi audiens. Selain untuk mengetahui persepsi konsumen, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang merupakan visual vocabulary yang secara efektif dapat menarik perhatian audiens. Temuan penelitian ini diharapkan menghasilkan penjelasan logis atas persepsi audiens yang dihadirkan dari stimuli visual yang menerapkan ciri gerak pada iklan cetak sebagai referensi tambahan bagi ilmu pengetahuan Desain Komunikasi Visual, khususnya bagi mereka yang tertarik pada implementasi gambar dalam memperkuat efisiensi penggunaan bahasa kata sebagai strategi komunikasi visual yang dapat meningkatkan kognisi serta afeksi positif audiens.
KAJIAN PAKAIAN SEBAGAI PESAN DALAM FILM STUDI KASUS KOSTUM KARAKTER KYLO REN DALAM FILM STAR WARS : THE FORCE AWAKENS Agustina Kusuma Dewi
Wimba : Jurnal Komunikasi Visual Vol. 10 No. 1 (2019)
Publisher : KK Komunikasi Visual & Multimedia Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.839 KB) | DOI: 10.5614/jkvw.2019.10.1.2

Abstract

The clothes worn by a person can express who and how a person's character without having to express verbally. Clothing, which in particular use such as in the film termed a 'costume', is a channel for communicating the "message" given by the signs that implied. The sign is arranged to raises a meaning according to its creator desires. Diverse identification signs that use communication semiotic approach concluded that the emergence of new characters Kylo Ren at the teaser movie Star Wars: Episode VII may pose a high curiosity in the minds of the audience; but the identification of signs that use conotative semiotic approachconcluded that  the "Star Wars" as the film succeeded beyond temporality space (era) and time because it has the consistency of styling in costumes both for the character of the antagonist and / or protagonist is characterized by the style of Japanese feudal also showed the 'novelty' that trying raised through Kylo Rencharacter has consistently been at the same time pose a 'familiarity' and 'similarity' in the minds of the audience. Consistency built by George Lucas in styling visual character costumes in the movie "Star Wars" has successfully positioned clothes (costumes) becomes an act of communication that are persistent can bring nostalgia for fans of the movie "Star Wars" and the visual sensation of innovative nuanced tradition for the new audience this film to do further exploration in the long history of making the film "Star Wars". Keyword : Star Wars, Kylo Ren, Semiotika Barthes, George Lucas
Gaya Visual Etalase sebagai Alternatif Media Komunikasi Grafis Pada Bisnis Kuliner Masakan Padang : Studi Reflective Observation RM Padang Agustina Kusuma Dewi; Sri Retnoningsih
Wimba : Jurnal Komunikasi Visual Vol. 11 No. 2 (2020): Vol.11 No.2 (2020)
Publisher : KK Komunikasi Visual & Multimedia Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.2 KB) | DOI: 10.5614/jkvw.2020.11.2.4

Abstract

Pada area visual, gaya merupakan cara khas yang memungkinkan pengelompokan objek ke dalam kategori terkait. Etalase dalam hal ini merupakan media komunikasi grafis alternatif yang berperan sebagai saluran komunikasi dari produk yang di-display di dalamnya. Bukan hanya fashion, bisnis kuliner pun mulai menggunakan Etalase untuk memajang kuliner utamanya dengan gaya visual yang khas yang membedakan dengan rumah makan lainnya; salah satunya yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Rumah Makan Padang. Mengadaptasi Metode Kolb dalam Kerangka Berpikir Experiential Learning pada pengembangan penelitian di area Psikologi Desain, penelitian ini menggunakan pendekatan Reflective Observation untuk mengidentifikasi gaya visual pada Etalase Rumah Makan Padang dalam jarak tempuh tertentu. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa Gaya Visual Etalase RM. Padang dapat berfungsi sebagai media komunikasi grafis yang dalam proses perseptual berpotensi mengembangkan style navigations pada bisnis kuliner Padang.