Jurnal Perspektif Arsitektur
Fokus dan Ruang Lingkup pada Jurnal Perspektif Arsitektur 1. Desain Arsitektur 2. Perumahan dan Permukiman 3. Konstruksi Bangunan 4. Sains dan Teknologi Bangunan 5. Perkembangan Arsitektur 6. Teori Arsitektur 7. Lansekap 8. Filsafat dalam Arsitektur 9. Metodologi Penelitian dalam Arsitektur 10. Interdisiplin Ilmu yang memiliki korelasi dengan Arsitektur Jurnal Perspektif Arsitektur (JPA) merupakan media publikasi naskah tertulis hasil penelitian dan desain dalam ranah Arsitektur dan Lingkungan Binaannya. JPA berada di dalam naungan Program Studi Arsitektur Jurusan S1-Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya
Articles
138 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN KAWAT BENDRAT PADA CAMPURAN BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON
Nugraha Sagit Sahay;
Giris Ngini
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (735.546 KB)
Umumnya peningkatan mutu beton/kuat tekan beton hanya disertai dengan peningkatan kecil dari kuattarik betonnya sehingga usaha meningkatkan kuat tarik beton. Peningkatan kuat tekan betondibarengi dengan kuat tarik beton, munculkan istilah beton serat.Penelitian tentang beton serat telahdilakukan, baik dengan melakukan pencampuran pada campuran beton normal maupun beton ringan.Mengacu pada penelitian yang dilakukan (Loura, 2006) dengan menambahkan kawat bendratterhadap volume adukan yang diberikan pada saat proses pencampuran/pengadukan bahanpembentukan beton ringan di dalam mollen (alat pengaduk bahan pembuatan campuran beton).Melihat dari penelitian tersebut dicoba kembali, pemakaian kawat bendrat untuk peningkatan kuattekan beton pada campuran beton ringan dengan menggunakan agregat kasar lempung bekah dariSei Gohong Palangka Raya yang dicampurkan pada saat pemadatan benda uji. Sifat beton padaumumnya lebih baik jika kuat tekannya lebih tinggi. Dengan demikian untuk meninjau mutu betonbiasanya secara kasar hanya ditinjau kuat tekannya saja.Dalam teori teknologi beton dijelaskan bahwa faktor-faktor yang sangat mempengaruhi kekuatanbeton ialah :1. Faktor air semen dan kepadatanSemakin rendah nilai faktor air semen semakin tinggi kuat tekan beton, namun pada suatu nilaifaktor air semen tertentu semakin rendah nilai faktor air semen kuat tekan betonnya semakin rendahpula. Dengan demikian ada suatu nilai faktor air semen tertentu yang optimum yang menghasilkankuat tekan beton maksimum.2. Umur BetonKuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umumnya beton itu. Kecepatanbertambahnya kekuatan beton tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :faktor air semen dan suhu perawatan. Semakin tinggi f.a.s semakin lambat kenaikan kekuatanbetonnya, dan semakin tinggi suhu perawatan semakin cepat kenaikan kekuatan beton.3. Jenis SemenJenis-jenis semen mempunyai laju kenaikan kekuatan yang berbeda sesuai keperluan beton.4. Jumlah SemenJumah kandungan semen berpengaruh terhadap kuat tekan beton5. Sifat AgregatPengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton sebenarnya tidak begitu besar karena umumnyakekuatan agregat lebih tinggi dari pada pastanya. Sifat agregat yang paling berpengaruh terhadap kekuatanbeton ialah kekasaran permukaan dan ukuran maksimum
MORFOLOGI RUANG Studi Kasus Huma Gantung Buntoi
Syahrozi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (785.634 KB)
Huma Gantung merupakan salah satu tipe rumah tradisional masyarakat Dayak. Secara fisik HumaGantung memiliki besaran yang lebih kecil dari Betang. Ciri khusus yang ada pada Huma Gantungadalah memiliki ketinggian panggung yang yang cukup tinggi sesuai dengan namanya yang berartirumah tinggi.Huma Gantung di desa Buntoi Kabupaten Pulang Pisau merupakan salah satu contoh yang masihberdiri sampai saat ini. Bangunan yang berdiri pada tahun 1870 yang lalu telah mengalami banyakperubahan dari bentuk semula pada saat Demang Singa Jalla berkuasa. Perubahan yang terjadi meliputitata ruang, bentuk fasade maupun material bangunan. Perubahan yang terjadi dikarenakan olehbeberapa sebab antara lain adanya tuntutan penghuni, keadaan alam (rusak) ataupun pindahnya kepercayaandari tuan rumah yang baru dari agama Hindu Kaharingan menjadi penganut Kristen yngtaat (aspek religi).Sangat disayangkan apabila perubahan-perubahan yang terjadi telah mencapai titik klimaks yangmana sulit ditelusuri kembali bentuk awal dan unsur pemaknaan yang mendasari trasnformasi bentukyang terjadi. Apapun alasannya bangunan Huma Gantung ini adalah sisa peninggalan lama yang sekiranyabanyak tata nilai dan pemaknaan yang terkandung di dalamnya yang dapat dipakai sebagaipelajaran berharga.
REVIEW PENATAAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KAWASAN SANGKURUN KOTA KUALA KURUN
Alderina;
Fransisco HRHB
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tujuan penelitian ; mengetahui karakteristik dan potensi Pedagang Kaki Lima di kawasan SangkurunKota Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas sehingga dapat dipergunakan untuk merumuskan strategipenataan fisik Kota Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas. Metoda yang digunakan adalah deskriptifdan evaluatif. Hasil dari penelitian ini yaitu ; 1) Pola sebaran PKL, 2) Tingkat pelayanan kegiatan PKL,3) Kondisi fisik PKL, 4) Kesesuai tata lahan
THE DIFFERENT AIR TEMPERATURE IN THE SHADOWED AND UNSHADOWED CONDITION Case Study: Ci-Walk, Old Town, Semarang.
Akbar Rahman
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (458.239 KB)
An experimental study has been the simulation of shadowing pattern of buildings line attributed to thecomfort of pedestrian ways with the case study on ci-walk, old town Semarang. Since the pavementbeen made, there were only few pedestrian make use of it. These circumstances rises an indicationthat this pedestrian ways was not comfortable enough for the pedestrian due directly into sun radiation.It was believed that any barrier causing the sun radiation to indirectly hit the body would give somecomfort for the pedestrian. This direct sun’s radiation barrier would cause some shadow patterns,where on the open space this pattern could be produced from surrounding buildings line. The resultwas, The unshadowed and shadowed air temperature give significant differences to the effective temperaturevalue achieved. The most uncomfortable effective temperature was one that not shadowed bythe building on ci-walk pedestrian ways, old town on Semarang.
REVITALISASI KERATON KUNING SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI PANGKALAN BUN
Hibnu Mardhani;
Candra Gunawan
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1106.766 KB)
Membicarakan tentang Revitalisasi dan Pengembangan Bangunan bersejarah di kota, tidak lepas darisejarah, dan keberadaan kota itu sendiri. kota-kota modern saat ini sedang mengalami masalahpenurunan kualitas bangunan bersejarah yang serius karena besarnya beban lingkungan yang timbulakibat aktifitas perkotaan yang meningkat. Sementara pada waktu yang bersamaan berbagaikegiatan di kota telah menenggelamkan situs-situs bersejarah yang seharusnya dilestarikan, dijagadan terus dikembangkan, dan dipublikasikan. Sumberdaya arkeologi atau benda cagar budayabeserta situsnya adalah sisa-sisa hasil budaya fisik peninggalan nenek moyang yang masih dapatdilihat di muka bumi sampai saat ini.Keberadaan keraton yang merupakan pecahan dari Kerajaan Banjar yang diawali oleh seorangpangeran (anak Raja Banjar) yang ingin mendirikan kerajaan sendiri terlepas dari kerajaan Banjar(Kalsel) .Tulisan ini mencoba untuk mencari kemungkinan rekayasa bangunan dengan mengkaji bangunanbaik fisik maupun non fisik Keraton mengarah pada Tipologi bangunan, penciptaan ruang, danenvironment (kawasan Keraton) dan arah pengembangan kedepan merekomendasikan berbagaisasaran pembangunan (program kedepan) dalam daya tarik kawasan.
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN RUMAH SEHAT SEDERHANA YANG LAYAK HUNI DI KELOMPOK USAHA BERSAMA AGRIBISNIS (KUBA) PALAMPANG TARUNG DI PALANGKA RAYA
Wita Kristiana
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (272.191 KB)
Rumah sederhana adalah rumah yang layak dihuni dan bisa diperoleh dengan harga terjangkau padaumumnya. Rumah sederhana setidaknya memiliki syarat minimal rumah sehat. Syarat minimal rumahsehat adalah Kesehatan, Kenyamanan dan keamanan.Rumah yang sehat dan nyaman dipengaruhi tiga aspek yaitu aspek pencahayaan, aspekpenghawaan dan aspek kelembaban didalam rumah itu, kurangnya salah satu aspek tersebut makarumah menjadi tidak sehat dan tidak nyaman untuk dihuni.Tujuan dari kegiatan ini adalah mengetahui sejauh mana peningkatan pengetahuan masyarakatdi kelompok usaha bersama Agribisnis (KUBA) Palampang Tarung di Palangka Raya mengenairumah sehat sederhana. Sehingga masayarakat setempat memahami dan mengerti betapa pentingmemiliki rumah sehat sederhana untuk kehidupannya. Sehingga dapat membantu dalam memberikankenyaman,keamanan dan kesehatannya. Dan mempengaruhi taraf penghasilan sehari-hari yg hanyaberjualan berbagai macam tanaman hias.
RUANG TERBUKA PADA KAWASAN PERMUKIMAN MENENGAH KE BAWAH Studi Kasus : Kawasan Permukiman Bumi Tri Putra Mulia Jogjakarta
Ariati
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (195.774 KB)
Pembangunan perumahan baru di kota-kota sebagian besar berkembang di pinggiran kota. Sejalandengan itu dibutuhkan fasilitas pendukung guna memenuhi dan melengkapi kebutuhan penghuni perumahan-perumahan yang ada. Salah satu di antaranya adalah fasilitas ruang terbuka.Kajian ini mencoba untuk mengungkapkan karakteristik ruang terbuka yang dibutuhkan oleh masyarakatkhususnya masyarakat pada kawasan permukiman menengah ke bawah. Selain itu kajian ini jugamencoba memaparkan kebutuhan ruang terbuka pada kawasan permukiman yang dikaitkan denganfaktor sosial masyarakat.
KEARIFAN LOKAL DALAM ARSITEKTUR KALIMANTAN TENGAH YANG BERKESINAMBUNGAN
Tari Budayanti Usop
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (608.77 KB)
Kearifan lokal (local wisdom) merupakan gagasan konseptual yang hidup didalam masyarakat,tumbuh dan berkembang secara terus menerus dalam kesadaran bermasyarakat dan telah menjaditradisi-fisik-budaya, dan secara turun temurun menjadi dasar dalam membentuk bangunan danlingkungannya. Kearifan lokal merupakan sebuah nilai luhur kebudayaan yang dimiliki masyarakatuntuk selalu menghargai alam dan lingkungannya.Orang Dayak di Kalimantan Tengah mendiami desa-desa yang terletak jauh satu dari yang lain, di tepi-tepi atau dekat sungai-sungai besar dan kecil. Rumah-rumah desa pada umumnya didirikan di tepijalan yang dibuat sejajar atau pun tegak lurus dengan sungai. Rumah penduduk pada umumnyadibuat dari sirap atau kulit kayu. Bentuk Rumah berbentuk panggung dengan pilar atau tiang yangtingginya mencapai 4-7m, bentuk rumah tradisional ini bervariasi pada setiap masing suku di KalimantanTengah, hal ini dipengaruhi oleh kondisi alam dan peristiwa yang terjadi pada saat itu.
ANALISA PERILAKU PERTUMBUHAN POPULASI DAN BISNIS TERHADAP BUSSINESS CONSTRUCTION RATE (BCR) DAN BUSSINESS DEMOLITION RATE (BDR) DENGAN MENGGUNAKAN SYSTEM DYNAMIC
Lisa Virgitanti
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.993 KB)
Perkembangan suatu kota pada umumnya tidaklah berjalan mulus (smooth). Pengalaman memperlihatkanadanya kota-kota yang secara tiba-tiba tumbuh sangat cepat (a sudden growth boom), terutamadari segi bisnis, populasi dan perumahan. Merujuk kepada permasalahan tersebut maka studi inibertujuan untuk mengetahui dan memahami perilaku populasi dan bisnis di kota besar terhadap BussinessConstruction Rate (BCR) dan Bussiness Demoliton Rate (BDR). Upaya pemahaman perilakupeningkatan polusi ini dilakukan melalui pendekatan model simulasi sistem dinamis. Pendekatan denganmenggunakan model simulasi ini perlu dilakukan, sebab melalui model simulasi dan pendefinisianberbagai pola kebijaksanaan dan perubahan faktor eksternal maupun internal yang menjadi masukanterhadap sistem, berbagai skenario masa depan akan dapat diamati untuk ditelaah makna danimplikasinya.Hasil simulasi menyimpulkan bahwa peningkatan pada respon model BCR terutamadipengaruhi oleh nilai fraksi normal konstruksi bisnis (NBCF) yang berubah seiring dengan perubahanyang terjadi pada TBoom. Penurunan pada nilai BCR disebabkan karena adanya booming(pertumbuhan yang cepat) pada bisnis sehingga pembangunan bangunan bisnis akan banyak dilakukan.Namun seiring booming tersebut mereda (mencapai garis konstan) maka kegiatan pembangunanjuga mengalami penurunan karena permintaan tidak lagi sebanyak saat boomingnya bisnis, sehinggaperlahan-lahan nilai BCR semakin turun hingga mencapai garis konstan.
KAJIAN PERMUKIMAN KEMBALI PENDUDUK TEPIAN SUNGAI KAHAYAN DI KOTA PALANGKA RAYA
Amiany;
Nugraha Sagit Sahay
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 6 No. 01 (2011): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (376.232 KB)
Perkembangan dan pertumbuhan kota pada hakekatnya disebabkan oleh pertambahan penduduk baiksecara alamiah maupun migrasi serta perubahan dan perkembangan kegiatan usahanya yangdisebabkan oleh perubahan pola sosial budaya dan sosial ekonomi penduduk tersebut sebagaimasyarakat kota. Pengadaan perumahan daerah perkotaan sangat terbatas sehingga masalahpemenuhan kebutuhan perumahan sampai saat ini masih sulit dipecahkan, teruma bagi masyarakatberpenghasilan rendah.Selain itu dalam pelaksanaannya sering kurang memperhatikan karakteristik atau latar belakangsosial-ekonomi masyarakatnya. Sehingga program-program diatas tidak selamanya bisa berhasilmulus, bahkan bias menemuhi kendala-kendala seperti mereka menolak untuk dipindahkan, ataumereka akan kembali lagi ke kawasan permukiman yang lama karena masyarakat tersebut kurangbisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, atau mereka kehilangan lapangan kerja.Salah satu kebijakan Pemerintah Daerah Kota Palangka Raya saat ini adalah mengembalikan tepiansungai Kahayan sebagai jalur hijau dan kawasan wisata kota. Salah satu nya adalah KawasanFlamboyan Bawah yang pada awalnya adalah meruapakan jalur hijau namun dalam perjalanannyahingga kini menjadi permukiman yang tidak terencana..Dari analisa yang dilakukan diketahui bahwa peluang usaha/kerja yang baru, sebagai upayameningkatkan pendapatan masyarakat relokasi perlu diikuti dengan program-program lanjutan sepertipengadaan pelatihan dan peningkatan ketrampilan untuk memberikan kemampuan kewirausahaanatau kemampuan berwiraswasta dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat tersebut.