cover
Contact Name
Yusriadi
Contact Email
yusriadi@iainptk.ac.id
Phone
+6282155562873
Journal Mail Official
jurnalpkk@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.iainptk.ac.id/index.php/JPKK/about/editorialTeam
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman
ISSN : -     EISSN : 29870607     DOI : https://doi.org/10.24260
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman (JPKK) adalah open akses untuk peneliti, akademisi dan praktisi. Jurnal ini menyediakan wadah untuk menerbitkan hasil penelitian atau artikel review yang berkaitan dengan bidang pengajaran, pembelajaran, pengembangan kurikulum, lingkungan belajar, pendidikan guru, teknologi pendidikan, sosial budaya, studi masyarakat dan khazanah Islam. Di bawah penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, terbit tiga kali dalam setahun, sejak Desember 2022
Articles 44 Documents
GAMBARAN SELF ESTEEM PADA REMAJA PUTUS SEKOLAH YANG BEKERJA DI CV. BUNDA AGUS PONTIANAK Nabilah, Nabilah
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v3i3.3709

Abstract

Masa remaja merupakan bagian dari tahap perkembangan yang akan dilalui setiap orang sepanjang hidupnya. Pada fase ini, remaja bersekolah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang esensial bagi masa depannya. Namun, ada kalanya beberapa remaja terpaksa berhenti sekolah karena berbagai alasan yang tidak dapat dihindari. Kondisi ini dapat memicu perasaan rendah diri, karena remaja merasa tidak mampu menyelesaikan pendidikan seperti teman-teman sebayanya. Kegagalan dalam menyelesaikan pendidikan formal dapat mengganggu proses pembentukan identitas diri dan berpotensi menurunkan rasa percaya diri, yang pada gilirannya mempengaruhi kesejahteraan psikologis remaja tersebut dan dapat memberikan dampak terhadap self esteem (harga diri) remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran self esteem pada remaja putus sekolah yang bekerja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi dan wawancara mendalam. Berdasarkan analisis yang dilakukan, bahwa gambaran self esteem pada masing-masing informan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ikut berperan pada proses putus sekolahnya dan pengalaman bekerja informan salama tidak lagi bersekolah. Adolescence is part of the developmental stages that every person will go through throughout their life. In this phase, teenagers go to school to gain knowledge and skills that are essential for their future. However, there are times when some teenagers are forced to stop going to school for various unavoidable reasons. This condition can trigger feelings of low self-esteem, because teenagers feel unable to complete their education like their peers. Failure to complete formal education can disrupt the process of forming one's identity and has the potential to reduce self-confidence, which in turn affects the psychological well-being of the teenager and can have an impact on the teenager's self-esteem. The aim of this research is to determine the description of self-esteem in working school dropout teenagers. This research uses qualitative methods by conducting observations and in-depth interviews. Based on the analysis carried out, the self-esteem picture of each informant was influenced by factors that played a role in the process of dropping out of school and the informant's work experience when he was no longer in school
PERANG KETUPAT: WARISAN MULTIKULTUR DAN PEMERTAHAN IDENTITAS MELAYU TAYAN Yusriadi, Yusriadi; Ruslan, Ismail; Hasriyanti, Nunik; Shukri bin Nordin, Zaimuarifuddin; Tuah, Dilah bin
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol 3 No 3 (2024)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v3i3.3900

Abstract

Perang Ketupat merupakan tradisi unik masyarakat Melayu Tayan, Kalimantan Barat, yang merepresentasikan upaya pemertahanan identitas budaya di tengah pluralitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi tradisi Perang Ketupat sebagai mekanisme dalam memperkuat identitas budaya dan membangun integrasi sosial di masyarakat yang semakin majemuk. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat setempat, serta kajian dokumen terkait tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perang Ketupat berperan sebagai ruang dialektis antara adat lokal dan pengaruh budaya luar, menciptakan solidaritas komunal yang memperkuat kohesi sosial. Tradisi ini juga menjadi sarana afirmasi identitas budaya Melayu Tayan sekaligus membangun hubungan lintas budaya yang harmonis dengan komunitas lain di wilayah tersebut. Namun, modernisasi menghadirkan tantangan, terutama dalam mempertahankan esensi tradisi di tengah perubahan nilai-nilai sosial. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara komunitas lokal, pemerintah, dan aktor sosial lainnya untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini sebagai warisan budaya yang dinamis. Perang Ketupat is a unique tradition of the Malay Tayan community in West Kalimantan, representing efforts to preserve cultural identity amidst social plurality. This study aims to explore the role of the Perang Ketupat tradition as a mechanism for strengthening cultural identity and fostering social integration in an increasingly diverse society. Employing a qualitative-descriptive approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with local community leaders and cultural figures, and a review of relevant documents on the tradition. The findings reveal that Perang Ketupat serves as a dialectical space between local customs and external cultural influences, fostering communal solidarity that enhances social cohesion. The tradition also acts as a means of affirming the cultural identity of the Malay Tayan community while promoting harmonious cross-cultural interactions with other groups in the region. However, modernization poses challenges, particularly in maintaining the essence of the tradition amidst shifting social values. Therefore, collaboration among local communities, government entities, and other social actors is crucial to ensure the sustainability of this tradition as a dynamic cultural heritage.
MODERASI BERAGAMA: STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM SYAMSUL KURNIAWAN Mufidah, Intan
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i1.4106

Abstract

Tulisan ini membahas gagasan moderasi beragama dalam pemikiran pendidikan Islam Syamsul Kurniawan, yang meliputi empat indikator penting yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Tujuan penelitian ini adalah memahami gagasan moderasi beragama dalam pemikiran Syamsul Kurniawan dengan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Analisis dalam tulisan ini bertujuan untuk menganalisis gagasan moderasi beragama Syamsul Kurniawan, yang mencakup empat indikator moderasi beragama, yaitu: satu, komitmen kebangsaan; dua, toleransi agama; tiga, anti-kekerasan; dan empat, sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Metode penelitian ini menggunakan sumber primer dari tulisan karya Syamsul Kurniawan dan sumber sekunder dari buku, artikel jurnal ilmiah, dan wawancara eksklusif dengan Syamsul Kurniawan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Syamsul Kurniawan sangat menekankan pentingnya moderasi beragama yang ditunjukkan melalui sikap komitmen kebangsaan, toleransi agama, penolakan kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi untuk mencapai masyarakat harmonis yang menghormati perbedaan dan membangun perdamaian. This paper discusses the concept of religious moderation in the educational thought of Syamsul Kurniawan, encompassing four essential indicators: national commitment, tolerance, anti-violence, and acceptance of tradition. The aim of this research is to understand the idea of religious moderation in Syamsul Kurniawan’s thought by employing a literature review methodology. The analysis in this paper aims to examine Syamsul Kurniawan's concept of religious moderation, which includes four indicators: first, national commitment; second, religious tolerance; third, anti-violence; and fourth, an accommodative attitude towards local culture. This research utilizes primary sources from works authored by Syamsul Kurniawan and secondary sources from books, scholarly journal articles, and exclusive interviews with him. The findings indicate that Syamsul Kurniawan strongly emphasizes the importance of religious moderation, reflected through a commitment to national identity, religious tolerance, rejection of violence, and acceptance of traditions, all of which contribute to creating a harmonious society that respects differences and fosters peace.
MAKAN BESAPRAH PADA MASYARAKAT MELAYU SAMBAS DI JAWAI: IDENTIFIKASI NILAI-NILAI PSIKOLOGI Pradika, Cheldi Ibra
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i1.3216

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keragaman etnis dan budaya, salah satunya suku Melayu dengan tradisi makan besaprah. Tradisi ini merupakan warisan budaya temurun dan hingga kini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Kajian mengenai praktik budaya ini, khususnya pada masyarakat Jawai, belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi makan besaprah di Kecamatan Jawai serta mengkaitkannya dengan nilai-nilai psikologi, khususnya teori psychological well-being yang relevan dalam konteks kekinian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi terhadap salah satu subjek yang masih melaksanakan tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi makan besaprah bukan hanya sebatas aktivitas makan bersama, tetapi juga sarana untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan solidaritas antaranggota masyarakat dan keluarga, serta membangun kebahagiaan kolektif. Selain itu, tradisi ini mengajarkan nilai syukur atas rezeki yang diterima, sejalan dengan konsep psychological well-being yang menekankan pentingnya relasi positif, kebahagiaan, dan makna hidup dalam keseharian. West Kalimantan is one of the provinces in Indonesia that has ethnic and cultural diversity, one of which is the Malay tribe with the tradition of eating besaprah. This tradition is a hereditary cultural heritage and is still carried out by some people in Jawai District, Sambas regency. Studies on this cultural practice, especially in the Jawai people, have not been done much. This study aims to describe the tradition of eating besaprah in the District of Jawai and associate it with the values of psychology, especially the theory of psychological well-being that is relevant in the context of the present. This study uses descriptive qualitative methods with data collection techniques through interviews and observations of one of the subjects who still carry out the tradition. The results showed that the tradition of eating besaprah is not only limited to eating together, but also a means to strengthen friendship, increase solidarity between community members and families, and build collective happiness. In addition, this tradition teaches the value of gratitude for the sustenance received, in line with the concept of psychological well-being that emphasizes the importance of positive relationships, happiness, and the meaning of life in everyday life.
ANALISIS EFEKTIVITAS METODE ROLE PLAYING PADA PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA Afifah, Nur; Rif'iyati, Dian
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i1.4265

Abstract

Penelitian ini menganalisis efektivitas metode role playing dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Studi ini mengevaluasi seberapa efektif metode role playing dalam meningkatkan semangat belajar siswa di bidang Sejarah Kebudayaan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan cara mempelajari berbagai sumber, baik yang primer maupun   sekunder.   Temuan   menunjukkan   bahwa   motivasi belajar siswa yang diajarkan dengan metode role playing mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang menggunakan metode lainnya. Kenaikan motivasi ini terlihat melalui peningkatan partisipasi aktif, minat, semangat belajar, dan kepercayaan diri siswa. Hasil ini menunjukkan bahwa metode role  playing  memiliki  potensi  sebagai  pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam Sejarah Kebudayaan Islam. Banyak manfaat yang didapat siswa, yang tentunya akan memberikan dampak positif selama proses belajar. This study evaluates how effective the role playing method is in increasing students' enthusiasm for learning in the field of Islamic Cultural History. The method used in this study is qualitative by studying various sources, both primary and secondary. The findings show that students' learning motivation taught using  the  role  playing method has increased significantly compared to learning Islamic Cultural History using other methods. This increase in motivation can be seen through increased active participation, interest, enthusiasm for learning, and students' self-confidence. These results indicate that the role playing method has the potential as an effective learning approach to increase students' motivation for learning in Islamic Cultural History. There are many benefits for students, which of course will have a positive impact during the learning process.
COUNTERING RELIGIOUS RADICALISM: STRATEGIC STEPS OF THE ISLAMIC EDUCATION DEPARTMENT AT IAIN PONTIANAK Kurniawan, Syamsul
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i2.4968

Abstract

This article examines the strategic steps taken by the Islamic Education Department (PAI) at IAIN Pontianak to counter religious radicalization among students. The primary focus of this study is the department’s efforts to educate students through a religious moderation-based curriculum, aimed at preventing narrow and exclusive interpretations of religion. A qualitative-descriptive approach is used in this research, combining field research methods with a systematic literature review. The study finds that the PAI department is dedicated to developing a curriculum that incorporates the values of Islamic moderation while also leveraging technology to expand students' perspectives on pluralism and multiculturalism. Education programs rooted in moderate values, such as Religious Moderation Education, play a key role in fostering tolerance and harmony among religious communities. However, the main challenge faced is the limited resources of faculty and facilities needed to support the effective implementation of this curriculum. The significance of this research lies in its contribution to discussions on Islamic education, especially in strengthening religious moderation within Islamic higher education. This article also offers a new perspective on the critical role of curriculum, faculty, and technology in addressing the challenges of radicalization, making it highly relevant for Islamic education that emphasizes inclusive values and multiculturalism. Artikel ini mengkaji langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) di IAIN Pontianak dalam menangkal radikalisasi agama di kalangan mahasiswa. Fokus utama penelitian ini adalah upaya Prodi dalam mendidik mahasiswa melalui kurikulum berbasis moderasi beragama yang bertujuan mencegah munculnya penafsiran agama yang sempit dan eksklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan memadukan metode penelitian lapangan dan telaah pustaka secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prodi PAI berkomitmen mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai moderasi Islam sekaligus memanfaatkan teknologi untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai pluralisme dan multikulturalisme. Program pendidikan yang berakar pada nilai-nilai moderat, seperti Pendidikan Moderasi Beragama, berperan penting dalam menumbuhkan sikap toleransi dan harmoni antarumat beragama. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya dosen serta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung implementasi kurikulum secara efektif. Signifikansi penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap diskursus pendidikan Islam, khususnya dalam memperkuat moderasi beragama di perguruan tinggi Islam. Artikel ini juga menawarkan perspektif baru mengenai peran penting kurikulum, dosen, dan teknologi dalam menghadapi tantangan radikalisasi, sehingga relevan bagi pengembangan pendidikan Islam yang menekankan nilai inklusif dan multikulturalisme.
LEBARAN SERTA DAMPAKNYA PADA KESEJAHTERAAN MENTAL DAN SOSIAL MASYARAKAT DI DESA DUNGUN LAUT JAWAI, SAMBAS Nuryati, Nuryati; Aminuzal, Ikmal
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i2.3250

Abstract

Tradisi perayaan Lebaran memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan mental dan sosial masyarakat Desa Dungun Laut, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik sosial, nilai kekeluargaan, serta interaksi komunitas selama perayaan Lebaran berkontribusi terhadap pembentukan kesejahteraan individu dan kolektif masyarakat. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap empat informan dengan latar sosial dan usia yang berbeda, mencakup tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, remaja, dan anak usia sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lebaran berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat ikatan kekeluargaan, solidaritas sosial, dan regulasi emosi positif, yang berdampak pada meningkatnya perasaan bahagia, rasa syukur, dan keterhubungan sosial antarwarga. Selain itu, dukungan sosial dari lingkungan keluarga dan komunitas berperan penting dalam menjaga resiliensi psikologis masyarakat pasca-Ramadan. Temuan ini memperkuat teori social integration Durkheim serta konsep resilience Masten yang menekankan pentingnya keterikatan sosial dalam membangun kesejahteraan mental. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pendidikan karakter berbasis nilai lokal dan kegiatan komunitas sebagai strategi berkelanjutan untuk menjaga kesejahteraan sosial masyarakat pedesaan. The Lebaran celebration tradition has a significant impact on the mental and social well-being of the community in Dungun Laut Village, Jawai District, Sambas Regency. This study aims to analyze how social practices, family values, and community interactions during the Lebaran festivities contribute to both individual and collective well-being. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews and observations involving four informants representing different social backgrounds and age groups, including a community leader, a housewife, an adolescent, and a school-aged child. The findings reveal that Lebaran serves as a social space that strengthens family bonds, social solidarity, and positive emotional regulation, leading to increased happiness, gratitude, and social connectedness among community members. Moreover, emotional and social support from families and the surrounding community play a crucial role in maintaining psychological resilience after the fasting month. These findings reinforce Durkheim’s (1897) social integration theory and Masten’s (2014) concept of resilience, emphasizing the importance of social attachment in fostering mental well-being. The study recommends promoting local value-based character education and community engagement programs as sustainable strategies to enhance rural social welfare.
KEBERMAKNAAN HIDUP PADA MUALAF SETELAH MELAKSANAKAN KONVERSI AGAMA DI LEMBAGA SAUDARA SEIMAN KUBU RAYA Indah, Aulia Chairunisa Yaumil; Fauziah, Fauziah; Amalia, Kiki
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i2.3710

Abstract

Agama merupakan suatu sistem kepercayaan yang merujuk kepada Tuhan, dan dapat memberikan arti dan tujuan hidup. Setelah melakukan konversi agama biasanya individu akan menemukan permasalahan dalam hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui gambaran kebermaknaan hidup pada mualaf setelah melaksanakan konversi agama. (2) Mendeskripsikan perbedaan dan persamaan kebermaknaan hidup kedua informan setelah melaksanakan konversi agama. Penelitian ini adalah studi kasus, dengan dua orang informan penelitian mualaf di Lembaga Saudara Seiman, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi. Analisis data menggunakan coding yang kemudian dikelompokkan sesuai dengan tema-tema dari tujuan penelitian. Berdasarkan analisis, maka peneliti menyimpulkan bahwa 1) Kedua informan merupakan mualaf yang memiliki beberapa permasalahan antara lain konflik batin dan konflik eksternal, namun permasalahan tersebut perlahan-lahan dapat teratasi, dan membuat informan memiliki arti kehidupan dan tujuan hidup yang baru. 2) Ada beberapa perbedaan dari cara mencari kebermaknaan hidup. Religion is a belief system that refers to God, and can provide meaning and purpose in life. After doing religious conversion usually individuals will find problems in life. The purpose of this study was to: (1) Determine the picture of the meaningfulness of life in converts after carrying out religious conversion. (2) describe the differences and similarities in the meaning of life of the two informants after carrying out religious conversion. This study is a case study, with two research informants converts at the Institute of brothers and sisters, Kubu Raya, West Kalimantan. This study uses qualitative methods with a phenomenological approach. Data collection method is done by in-depth interview and observation. Data analysis using coding which is then grouped according to the themes of the research objectives. Based on the analysis, the researchers concluded that 1) both informants are converts who have several problems, among others, inner conflict and external conflict, but these problems can slowly be resolved, and make the informants have a new meaning of life and purpose in life. 2) There are some differences from the way of searching for the meaningfulness of life.
TRANSFORMASI MOTIVASI SANTRI: STUDI PENGARUH HUKUMAN BERBASIS PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN AL-KANDIYAS Utomo, Farhan Rizqullah Satrio; Rodiah, Ita
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i2.3788

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa motivasi belajar santri menjadi aspek penting dalam keberhasilan pendidikan pesantren, namun masih sedikit penelitian yang secara spesifik menelaah pengaruh hukuman berbasis pendidikan terhadap transformasi motivasi santri, khususnya di lingkungan pesantren salafiyah. Sebagian besar studi sebelumnya hanya menyoroti aspek kedisiplinan atau penerapan reward and punishment secara umum tanpa mengaitkan dengan perubahan motivasi belajar santri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan hukuman berbasis pendidikan di Pondok Pesantren Al-Kandiyas berpengaruh terhadap transformasi motivasi santri baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan observasi partisipan, wawancara mendalam dengan santri, pengasuh, dan staf pengajar, serta analisis dokumen. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus analisis terhadap transformasi motivasi santri akibat penerapan hukuman edukatif dalam konteks pesantren salafiyah, serta integrasi nilai-nilai pendidikan Islam dengan teori pengkondisian operan Skinner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan hukuman berbasis pendidikan memiliki pengaruh kompleks terhadap motivasi belajar santri. Hukuman yang diterapkan secara bijaksana dan berorientasi pada pembinaan terbukti dapat meningkatkan kedisiplinan dan motivasi belajar. Namun, hukuman yang bersifat otoriter atau fisik cenderung menurunkan motivasi intrinsik dan menimbulkan efek psikologis negatif. Faktor-faktor seperti hubungan antara pengasuh dan santri, dukungan sosial dari teman sebaya, dan lingkungan pesantren juga berperan signifikan dalam mempengaruhi motivasi belajar. Kesimpulannya, penerapan hukuman di pesantren perlu dirancang secara hati-hati agar bersifat edukatif, dengan mempertimbangkan pendekatan yang lebih komprehensif dan holistik dalam upaya meningkatkan motivasi belajar dan perkembangan karakter santri. This study is motivated by the fact that students’ learning motivation is a crucial aspect of educational success in Islamic boarding schools (pesantren), yet few studies have specifically examined the influence of education-based punishment on the transformation of students’ motivation, particularly within salafiyah pesantren settings. Most previous research has focused merely on disciplinary aspects or the general application of reward and punishment, without linking them to changes in students’ learning motivation. Therefore, this study aims to analyze how the implementation of education-based punishment at Pondok Pesantren Al-Kandiyas affects the transformation of students’ intrinsic and extrinsic motivation. This research employed a qualitative approach with a case study design, involving participant observation, in-depth interviews with students, caregivers, and teachers, as well as document analysis. The novelty of this study lies in its analytical focus on the transformation of students’ motivation resulting from the implementation of educational punishment within a salafiyah pesantren context, as well as the integration of Islamic educational values with Skinner’s operant conditioning theory. The findings reveal that the application of education-based punishment has a complex influence on students’ learning motivation. Punishments that are applied wisely and oriented toward moral development are proven to enhance students’ discipline and motivation to learn. Conversely, authoritarian or physical punishments tend to reduce intrinsic motivation and cause negative psychological effects. Factors such as the relationship between caregivers and students, peer social support, and the pesantren environment also play significant roles in shaping learning motivation. In conclusion, the implementation of punishment in pesantren should be carefully designed to remain educational in nature, taking into account more comprehensive and holistic approaches to fostering students’ motivation and character development.
REFORMASI DAN WESTERNISASI : TRANSFORMASI DINASTI USMANIYAH MENUJU MODERNITAS Faisal, Raja; SJ, Fadil
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v4i1.3819

Abstract

Atikel ini mengkaji mengenai Reformasi Tanzimat dan westernisasi sebagai periode krusial dalam proses modernisasi dan westernisasi Kesultanan Utsmaniyah. Reformasi ini merupakan respons terhadap melemahnya struktur politik, militer, dan ekonomi di tubuh kesultanan Turki Usmani, sekaligus bentuk penyesuaian terhadap dominasi Eropa yang tengah mencapai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, hukum, dan tata kelola pemerintahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan mengolaborasikan dengan pendekatan kajian pustaka terhadap berbagai sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa Reformasi Tanzimat menjadi titik balik penting dalam pembentukan sistem pemerintahan modern, penataan ulang hukum, serta transformasi sosial yang mengantarkan pada tumbuhnya nasionalisme Turki. Meski sarat dengan pengaruh nilai-nilai Barat, arus westernisasi tersebut tetap berupaya mempertahankan identitas Islam-Turki dalam bingkai budaya Usmaniyah. Artikel ini menegaskan bahwa Reformasi Tanzimat bukan sekadar adaptasi terhadap Barat, melainkan strategi sintesis antara tradisi dan modernitas yang kemudian melandasi lahirnya negara-bangsa Turki modern pada awal abad ke-20. This article examines the Tanzimat Reforms and Westernization as a crucial period in the modernization and westernization process of the Ottoman Empire. The reforms emerged as a response to the weakening of the political, military, and economic structures within the Ottoman state, as well as an adjustment to the growing European dominance marked by advancements in science, law, and governance. This research employs a qualitative descriptive method combined with a literature review approach, utilizing both primary and secondary sources. The findings reveal that the Tanzimat Reforms marked a significant turning point in the establishment of a modern administrative system, legal restructuring, and social transformation that eventually fostered the rise of Turkish nationalism. Although deeply influenced by Western values, the wave of Westernization still sought to preserve the Islamic-Turkish identity within the Ottoman cultural framework. This article asserts that the Tanzimat Reforms were not merely an adaptation to the West but a strategic synthesis between tradition and modernity that laid the groundwork for the emergence of the modern Turkish nation-state in the early twentieth century.