cover
Contact Name
Rahmiati
Contact Email
rahmiati@fmipa.unmul.ac.id
Phone
+6281355258687
Journal Mail Official
kutaibasin@fmipa.unmul.ac.id
Editorial Address
Jalan Barong Tongkok No.4 Gunung Kelua Samarinda, East Kalimantan Province Indonesia - 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Geosains Kutai Basin
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : -     EISSN : 26155176     DOI : https://doi.org/10.30872/geofisunmul.v5i2
Core Subject : Science,
Coastal and Ocean Dynamics Environmental of Geophysics Geodesy and Geography Geographic Information System Geology Geophysics Exploration Geotechnical/ geo-engineering Hazard Mitigation Hydrology Meteorology and Climatology Mining Engineering Seismology and Volcanology Oceanography
Articles 108 Documents
Estimasi Kedalaman Magnetic Basement di North Queensland, Australia dengan Menggunakan Metode Analisis Spektral Mawadah, Anis; Lepong, Piter; Natalisanto, Adrianus Inu
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geofisunmul.v8i1.1468

Abstract

Metode magnetik adalah metode geofisika yang didasarkan pada variasi medan magnet yang disebabkan oleh perbedaan sifat megnetik batuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi kedalaman magnetic basement di North Queensland, Australia, berdasarkan data Intensitas Magnetik Total (TMI) di lokasi penelitian. Data megnetik diproleh dari website Commonwealth of Australia (Geoscience Australia). Penelitian ini menggunakan metode analisis spektral untuk memisahkan anomali magnetik yang dihasilkan oleh sumber yang lebih dalam (anomali regional) dan anomali magnetik yang dihasilkan oleh sumber yang lebih dangkal (anomali residual). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan anomali yang diperoleh dari 5 profil/garis yang mengarah dari Timur ke Barat pada peta lokasi penelitian. Hasil analisis spektral menunjukkan bahwa rata-rata kedalaman anomali regional dan residual masing-masing adalah 36,75 km dan 3,48 km yang menunjukkan kedalaman magnetic basement menjadi lebih dangkal ke arah utara pada lokasi penelitian. Di bagian selatan area penelitian, diperoleh kedalaman 75,51 km. Sedangkan semakin ke utara magnetic basement menjadi lebih dangkal yang diperoleh pada kedalaman 22,96 km. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam memetakan kedalaman basement magnetik di wilayah Gunung Isa, mengingat Gunung Isa merupakan kota tambang yang kaya akan mineral. Oleh karena itu, estimasi kedalaman ruang bawah tanah magnetik akan berguna untuk menentukan batas ruang bawah tanah dan sedimen untuk mengidentifikasi cekungan yang berpotensi mengandung mineral.
Karakteristik Maseral dan Peringkat Batubara Daerah Balikpapan Selatan Berdasarkan Analisis Petrografi Organik ., Jamaluddin; Pratikno, Fathony Akbar; Taslim, A. Ibnu; Kaunang, Imanuel
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geofisunmul.v8i1.1448

Abstract

This study aims to characterize the maceral composition and determine the rank of coal from the Kampungbaru Formation in the South Balikpapan area based on organic petrography analysis. Coal samples were analyzed using reflectance microscopy to identify and quantify maceral components and measure vitrinite reflectance. The analysis results indicate that the huminite maceral group dominates the coal composition (60.7-84.6%), followed by liptinite (9.8-27.5%), and low inertinite (5.6-11.8%). Vitrinite reflectance ranges from 0.30-0.33%, indicating that the coal is in the lignite to sub-bituminous rank. This low coal rank reflects rapid deposition conditions and an anoxic to suboxic environment that inhibits the complete decomposition of organic matter.
Studi Identifikasi Ketebalan Sedimen Menggunakan Metode Ground Penetrating Radar (Gpr) Di Waduk Benanga, Samarinda Kalimantan Timur Arifin, Muhammad Syahrul; Mandang, Idris
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geofisunmul.v8i1.1415

Abstract

Ketebalan sedimen merupakan jarak antara permukaan tanah dan lapisan batuan dasar bawah permukaan dari sedimen yang menumpuk di suatu tempat. Terbentuk lapisan sedimen dipengaruhi oleh arus yang membawa material dari arah hulu sungai. Penelitian ini menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) untuk memprediksi lapisan sedimen di Waduk Benanga dengan melalui beberapa proses filter, yaitu move starttime filter, subtract-mean (dewow filter), background removal filter, band pass butterworth filter, dan fk-filter. Hasil dari penelitian ini didapatkan lima lintasan dengan total kedalaman lapisan sedimen masing-masing, yaitu 2,7 meter yang merupakan hasil sedimentasi akibat erosi lahan disebabkan oleh arus yang mengalir dari hulu Sungai Pampang Kanan dan Sungai Pampang Kiri di Waduk Benanga.
Analisis Perubahan Tutupan Lahan di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Metode Maximum Likelihood  Nabil, Muhammad; Rahmawati, Dewi; Putri, Dina Hayati
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mgz7yr40

Abstract

Perubahan tutupan lahan mencerminkan dinamika pemanfaatan ruang dan sumber daya alam akibat aktivitas manusia maupun proses alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan di Kabupaten Kutai Kartanegara selama periode 2013 hingga 2023 menggunakan citra satelit multitemporal dan metode klasifikasi Maximum Likelihood. Proses klasifikasi diawali dengan preprocessing citra (koreksi geometrik dan radiometrik), pemilihan sample ROI (Region of Interest), serta validasi akurasi menggunakan Confusion Matrix, Overall Accuracy, dan Kappa Coefficient. Hasil menunjukkan bahwa kelas lahan hutan dan pertanian mengalami penurunan luas signifikan, sementara permukiman dan area tambang mengalami peningkatan. Akurasi klasifikasi mencapai Overall Accuracy sebesar 88% dan Kappa Coefficient sebesar 0,86. Studi ini berkontribusi dalam penyusunan kebijakan pemanfaatan ruang yang lebih berkelanjutan di wilayah yang mengalami tekanan alih fungsi lahan.  
Tren Kenaikan Suhu Permukaan Laut dan Korelasinya dengan Suhu Laut Global Periode 1982-2024 Mubarrok, Saat; Radjawane, Ivonne Milichristi
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/aawsmt98

Abstract

Sebagai negara maritim yang terletak di antara Samudra Pasifik dan Hindia, Indonesia memegang peranan penting dalam interaksi laut-atmosfer global dan variasi iklim dunia, terutama dengan adanya dinamika dan variasi suhu permukaan laut atau sea surface temperature (SST) dalam kondisi pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tren rata-rata tahunan dan bulanan dari SST lokal dan kaitannya dengan kenaikan SST global di lautan Indonesia dalam kurun waktu 1982-2024. Data yang digunakan adalah dataset reanalisis dari Optimum Interpolation SST (OISST) harian yang dirata-ratakan menjadi bulanan dan nilai tren didapatkan dari metode Sen’s slope estimator. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata SST tahunan berkisar antara 27,5°C sampai 29,5°C dengan standar deviasi berkisar antara 0,5°C sampai 1,2°C. Tren signifikan dari kenaikan SST jangka panjang maksimum didapatkan berada di daerah utara Pulau Papua yang mencapai nilai 0,03°C/tahun. Tren yang tidak signifikan juga ditemukan di pantai selatan (barat) Pulau Jawa (Sumatra). Perbandingan antara time series SST lokal dan global menunjukkan bahwa tren SST di wilayah Indonesia memiliki amplitudo yang lebih tinggi (0,020°C/tahun) dibandingkan dengan tren global (0,018°C/tahun). Terdapat korelasi signifikan (r = 0,59; p.val < 0,001) antara tren SST Indonesia dan global, dengan korelasi tertinggi ditemukan di wilayah utara Pulau Papua dan utara Pulau Sumatra. Variabilitas SST antar-tahunan di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan dengan lautan global, yang menunjukkan respons regional yang lebih dinamis. Analisis tren bulanan menunjukkan peningkatan pada bulan Desember, khususnya di wilayah utara Pulau Papua dan Maluku. Studi ini menjelaskan pentingnya dinamika SST regional dan keterkaitannya dengan iklim global yang lebih luas.
Investigasi Deformasi Permukaan Tanah Pasca Gempabumi Myanmar 7.7 Mw 2025 Menggunakan Metode Differential Interferometry Syntetic Aperture Radar Azhari, M. Fikri; Harlianto, Budi; Norfahmi, Siti Hairunnisa
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/52yjec35

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi deformasi permukaan tanah yang terjadi pasca gempa bumi Myanmar berkekuatan 7.7 Mw pada 28 Maret 2025. Sepasang data citra Sentinel 1A dan 1B digunakan dalam mengamati perubahan tanah sebelum dan setelah terjadinya gempa utama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR), yang mampu mendeteksi perubahan kecil pada permukaan bumi dengan resolusi spasial tinggi. Data citra satelit Sentinel-1 diolah untuk menghasilkan interferogram yang menunjukkan pola deformasi. Hasil analisis menunjukkan adanya pergeseran permukaan tanah signifikan di sepanjang zona sesar aktif Sagaing dengan arah dominan pergeseran horizontal dan vertikal yang bervariasi. Deformasi maksimum terdeteksi di sekitar lokasi gempa utama mencapai -25 cm relatif mengalami penurunan muka tanah (subsidence) terhadap line of sight. Disisi lain terjadi kenaikan muka tanah (uplift) maksimum sebesar +2.3 cm terhadap line of sight di bagian barat daya Sesar Sagaing dan pusat gempa 7.7 Mw. Distribusi nilai deformasi menunjukkan orientasi yang sesuai dengan model mekanisme sumber gempa sesar geser menganan. Hasil uji model juga menunjukan kesesuaian citra yang akurat dengan nilai koherensi sebesar 0.6 hingga 0.9.
Karakterisasi Zona Geotermal Menggunakan Pendekatan Dekomposisi Polarimetrik Yamaguchi pada Citra SAR Zahratunnisa, Zahratunnisa; Hapsari, Tika; Joyontono, Puncak; Rangkuti, Nazla Syafitri; Wiguna, Husein Sadewa
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/s384n096

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi panas bumi menggunakan pendekatan penginderaan jauh berbasis citra Synthetic Aperture Radar (SAR) melalui metode dekomposisi polarimetrik dengan algoritma Yamaguchi. Metode ini digunakan untuk mendeteksi karakteristik permukaan yang berkaitan dengan sistem geotermal, seperti zona rekahan dan perubahan litologi. Salah satu wilayah yang dipilih sebagai studi kasus adalah daerah Kotamobagu, Sulawesi Utara, Indonesia, yang telah dikenal memiliki potensi panas bumi dan menjadi lokasi studi kelayakan oleh berbagai institusi, termasuk PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Citra SAR polarimetrik memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi karakteristik permukaan seperti vegetasi, kelembapan tanah, serta struktur geologi yang berperan penting sebagai indikator tidak langsung sistem geotermal. Data yang digunakan merupakan citra dengan level pemrosesan tinggi yang telah melalui koreksi geometrik, reproyeksi, dan kalibrasi radiometrik untuk menjamin akurasi spasial dan radiometrik. Melalui metode dekomposisi Yamaguchi, analisis dilakukan terhadap empat komponen hamburan utama: hamburan permukaan, hamburan ganda, hamburan volume, dan hamburan heliks. Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi zona rekahan serta jenis tutupan lahan yang relevan dengan keberadaan sistem panas bumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kotamobagu memperlihatkan pola hamburan yang konsisten dengan ciri-ciri geologi permukaan dari sistem panas bumi aktif dan dapat menjadi pendekatan awal yang efektif dan efisien dalam pemetaan prospek geotermal.
The Effectiveness of Integrating Machine Learning Approach with Near-Surface Seismic Data for Lithologic Zones Determination in the Krueng Kaleng Bridge Area, Lamno, Aceh Jaya Hapsari, Tika; Jamaluddin, Khaizal; Gunarsih, Dina; Rangkuti, Nazla Syafitri; Tarmizi; Hasanah, Uswatun
GEOSAINS KUTAI BASIN Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Geophysics Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/9zkknx95

Abstract

Pendekatan ilmiah untuk menentukan zona litologi pada area pembangunan jembatan Krueng Kaleng, Lamno, Aceh Jaya dilakukan dengan mengintegrasikan pendekatan machine learning dengan metode geofisika. Zona litologi ini perlu diketahui agar dapat memberikan rekomendasi kedalaman fondasi yang dapat menopang jembatan. Pengolahan machine learning ini menggunakan data input Vp dan Vs yang dihasilkan dari metode geofisika. Determinasi zona litologi juga dapat dilakukan dengan menganalisis statistik menggunakan PCA dan K-Means dari variasi data parameter fisis. Data lubang bor juga digunakan sebagai data sekunder untuk memvalidasi hasil akhir interpretasi zona litologi. Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi data, didapatkan 3 lapisan pada daerah penelitian dengan Vp berkisar antara 0,31 - >2 km/s dan Vs berkisar antara 60 - 400 m/s. Zona litologi terdiri dari lapisan tanah permukaan, lapisan pasir lempung jenuh, dan lapisan pasir lempung tidak jenuh hingga kedalaman lebih dari 13 meter. Hasil pengolahan machine learning dengan menggunakan Google Colab dinilai efektif karena menghasilkan jumlah zona yang sama, yaitu tiga zona. Interpretasi ini juga dapat divalidasi dengan data lubang bor yang dideskripsikan mengandung lempung dan pasir. Berdasarkan peta geologi, daerah penelitian terletak pada batuan vulkanik yang dapat diinterpretasikan bahwa lapisan dekat permukaan ini kemungkinan mengalami alterasi dan pelapukan yang tinggi sehingga menghasilkan litologi sekunder lempung. Oleh karena itu, tidak direkomendasikan untuk bangun pondasi kurang dari 20 meter.

Page 11 of 11 | Total Record : 108