cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports
ISSN : 28079094     EISSN : 28078489     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian kualitatif di bidang kesehatan berkaitan dengan penjelasan narasi atau cerita di balik suatu fakta atau kejadian. Disamping itu memuat laporan kegiatan penerapan asuhan keperawatan dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juli dan Desember
Articles 309 Documents
Hubungan subjective well being dengan perilaku pencegahan komplikasi diabetes mellitus berbasis teori health belief model Prianti, Eka Agustina; Susanti, Dwi Agung; Maftukhin, Ahmad; Patonah, Siti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1777

Abstract

Background: Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by elevated blood sugar levels. Patients with diabetes are required to change their lifestyle to prevent complications. This makes them vulnerable to depression and have low subjective well-being. The Health Belief Model (HBM) theory is used to predict health behaviors based on an individual's perception of a disease. Purpose: To analyze the relationship between subjective well-being and behaviors to prevent complications of diabetes mellitus based on the health belief model theory. Method: This quantitative research used a correlational analytic design using a cross-sectional approach and purposive sampling design, meeting the inclusion criteria for 74 respondents. The instrument used a questionnaire and was analyzed using the Spearman rank test with a significance level of α ≤ 0.05. Results: This study showed that 74 respondents, with the majority (67 respondents (90.5%) having high subjective well-being and 59 respondents having good complication prevention behaviors. The Spearman rank test results showed a relationship between subjective well-being and behaviors preventing complications of diabetes mellitus based on the health belief model theory with a p-value of 0.005 < α = 0.05. Conclusion: Subjective well-being shows a relationship with behaviors preventing complications of diabetes mellitus. The HBM theory clarifies that healthy behavior is determined by an individual's acceptance and perception of the disease.   Keywords: Behavior; Diabetes Mellitus; Subjective Well-Being.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatknya kadar gula dalam tubuh. Pasien DM dituntut merubah pola hidupnya untuk mencegah komplikasi. Hal ini menyebabkan pasien DM rentan depresi dan memiliki subjective well being yang rendah. Teori Health Belief Model (HBM) digunakan untuk memprediksi perilaku kesehatan pada persepsi individu  terhadap  suatu  penyakit. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara subjective well being dengan perilaku pencegahan komplikasi diabetes mellitus berbasis teori health belief model. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasi menggunakan pendekatan cross sectional dan rancangan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 74 responden. Instrumen menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji spearman rank dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0.05. Hasil: Penelitian ini menunjukkan 74 responden yaitu sebagian besar 67 responden (90.5%) memiliki subjective well being tinggi dan 59 responden memiliki perilaku pencegahan komplikasi baik. Hasil uji spearman rank ada Hubungan subjective well being dengan Perilaku Pencegahan Komplikasi Diabetes Melitus berbasis teori health belief model dengan nilai p value =0.005 < α = 0.05. Simpulan: Subjective well being menunjukkan adanya hubungan dengan perilaku pencegahan komplikasi diabetes mellitus, teori HBM memperjelas perilaku sehat ditentukan oleh penerimaan dan persepsi individu tentang penyakit.                                                   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Perilaku; Subjective Well-Being.
Pengaruh metode demonstrasi terhadap tingkat perilaku SADARI pada remaja putri berbasis teori information motivation behavioral skill model Anashabilla, Mathavania; Mulyani, Sri; Rahmawati, Rahmawati; Dwi Astuti , Novia
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1778

Abstract

Background: Self-Awareness Behavior is related to the knowledge, attitudes, skills, motivation, and behaviors carried out by adolescents in maintaining and improving early detection as a preventative measure against breast cancer. This includes developing a woman's awareness of her own breast condition. Purpose: To determine the effect of the demonstration method on knowledge, attitudes, skills, motivation, and self-awareness behavior in adolescent girls. Method: Quantitative research design: Pre-experimental, pre-posttest, using a one-group design. The population in this study was all female students of SMKN 1 Bojonegoro, with a total population of 1,040 female students from grades 10 and 11 selected using stratified random sampling. Results: Analysis using the Wilcoxon test with a significance level of <0.05 demonstrated an increase in self-awareness behavior after the demonstration method, with an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.000 <0.05. Conclusion: The demonstration method influences self-awareness behavior in adolescents.   Keywords: Demonstration Method; Self-Awareness Behavior; Adolescents; IMB theory.   Pendahuluan: Perilaku Sadari merupakan hal–hal yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap, ketrampilan, motivasi, dan perilaku yang dilakukan oleh remaja dalam memelihara dan meningkatkan deteksi dini sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit kanker payudara. Hal ini termasuk pengembangan kepedulian seorang perempuan terhadap kondisi payudaranya sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh metode demonstrasi dengan pengetahuan sikap keterampilan motivasi dan perilaku sadari pada remaja putri. Metode: Desain penelitian kuantitatif Pre – eksperimen pre – post test dengan pendekatan one group design. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswi SMKN 1 Bojonegoro dengan jumlah populasi 1040 siswi dari kelas X dan XI dipilih dengan teknik Stratified Random Sampling didapatkan 57 Siswi. Hasil: Analisis menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan <0.05 terbukti ada peningkatan perilaku sadari setelah diberikan metode demonstrasi dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0.000 < 0.05 Simpulan: metode demonstrasi berpengaruh terhadap perilaku sadari pada remaja   Kata Kunci: Metode Demonstrasi; Perilaku Sadari; Remaja; Teori IMB.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi Shima, Novia Aulia; Rukmana, Nova Mega; Novariana, Nana
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1807

Abstract

Background: Hypertension, or high blood pressure, is the leading cause of death worldwide, with essential hypertension accounting for 90-95% of cases. Hypertension is a circulatory system disorder that causes blood pressure to rise above normal values. An estimated 46% of adults with hypertension are unaware they have the condition. Purpose: To determine the relationship between knowledge and adherence to hypertension treatment. Method: This quantitative, observational study used a cross-sectional design. The population in this study was 284 hypertensive patients, with 74 respondents selected using the Slovin formula. Data analysis used Chi-Square analysis. Results: Of the 74 hypertensive respondents, 43 (58.1%) had poor knowledge and poor medication adherence. Conversely, of the 31 respondents (41.9%) with good knowledge, 6 (8.1%) had moderate or high medication adherence. The Chi-Square statistical test showed a p-value of 0.000 (p=0.05). Conclusion: There is a significant relationship between knowledge level and medication adherence in hypertensive patients.   Keywords: Hypertension; Medicine.   Pendahuluan: Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dengan 90-95% kasus didominasi oleh hipertensi esensial. Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan tekanan darah naik di atas nilai normal. Diperkirakan 46% orang dewasa dengan hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pengobatan hipertensi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional menggunakan rancangan dan pendekatan potong lintang.Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi sebanyak 284 orang yang berjumlah 74 orang dengan teknik perhitungan sampel dengan rumus slovin. Analisis data yang digunakan adalah analisis Chi-Square.  Hasil: Sebanyak 74 responden yang hipertensi diketahui sebanyak 43 orang (58.1%) mengalami pengetahuan kurang dan kepatuhan minum obat kurang. Sebaliknya dari 31 responden (41.9%) yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 6 orang (8.1%) memiliki kepatuhan minum obat sedang dan tinggi. Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai p sebesar 0.000 (p=0.05). Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi   Kata kunci: Hipertensi; Kedokteran.
Literasi kesehatan reproduksi remaja melalui rekomendasi strategis platform sosial media: A literature review Sitepu, Eka Lestari; Siregar, Anggi Pramono; Megawati, Megawati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1809

Abstract

Background: The need for accurate information regarding various health risks and illnesses is crucial in today's technological era. Reproductive health services must be available across all segments of society to reduce the risk of sexually transmitted infections, especially among adolescents. Purpose: To determine adolescent reproductive health literacy. Method: This study used a systematic literature review of reliable sources. The criteria for inclusion in this review were original articles, articles published in Indonesian, articles discussing reproductive health knowledge in adolescents, and journals published between 2017 and 2024. Results: Three aspects of reproductive health literacy challenges in adolescents were identified: improving reproductive health literacy in adolescents, determining the effectiveness of educational interventions, and enhancing the role of the social environment and stakeholders. Therefore, collaboration between all parties is needed to improve adolescent literacy, foster awareness, and build platforms that serve as accurate sources of information related to reproductive health. Conclusion: Providing education using social media platforms about reproductive health has an impact on adolescent knowledge.   Keywords: Adolescents; Literacy; Reproductive Health; Social Media.   Pendahuluan: Kebutuhan informasi yang akurat mengenai berbagai risiko sehat sakit menjadi sesuatu yang penting di era teknologi saat ini. Layanan kesehatan reproduksi haruslah tersedia di berbagai lini masyarakat. Sehingga dapat menurunkan risiko kesehatan infeksi menular seksual khususnya pada kalangan remaja. Tujuan: Untuk mengetahui literasi remaja pada kesehatan reproduksinya. Metode: Penelitian dengan tinjauan literatur sistematis  terhadap sumber terpercaya dengan kriteria yang termasuk pada review ini adalah artikel original, artikel yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia, artikel yang membahas tentang pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja dan jurnal terbitan tahun 2017-2024. Hasil: Diperoleh sebanyak tiga aspek tantangan literasi kesehatan reproduksi pada remaja yaitu meningkatkan literasi kesehatan reproduksi pada remaja, menentukan efektivitas intervensi yang edukatif, dan meningkatkan peran lingkungan sosial dan stakeholder. Sehingga, dibutuhkanlah kolaborasi semua pihak untuk meningkatkan literasi remaja, peduli dan membangun platform sebagai akurat sebagai sumber informasi terkait kesehatan reproduksinya. Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian edukasi menggunakan platform media sosial tentang kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja.   Kata Kunci:  Kesehatan Reproduksi; : Literasi; Remaja; Sosial Media.  
Dukungan keluarga pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis: Analisis kasus etik Anifan, Muhammad Nur; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1810

Abstract

Background: The accumulation of toxins and fluid in the body due to decreased kidney function can lead to various potentially life-threatening systemic complications. Adherence to strict fluid restrictions is crucial to prevent intravascular fluid overload, which can increase the risk of edema, hypertension, and cardiovascular disease. Family support is an important social factor influencing health behaviors in patients with chronic kidney disease (CKD). Purpose: To describe in depth the clinical phenomena, patient responses, and the role of family support in improving adherence to hemodialysis therapy in patients with chronic kidney disease (CKD). Method: This case study was conducted in a hemodialysis unit at a healthcare facility on March 11, 2025. The subject was a 65-year-old female patient diagnosed with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing twice-weekly hemodialysis. Results: Two ethical dilemmas were identified in the case: autonomy and beneficence. Autonomy allows patients to make informed choices regarding their treatment options. Beneficence, in the form of healthcare professionals' obligation to provide the best possible care for the patient's well-being. Conclusion: Family support has been shown to be crucial in maintaining motivation, assisting decision-making, and improving adherence to therapy.   Keywords: Chronic Kidney Disease; Case Study; Family Support.   Pendahuluan: Akumulasi toksin dan cairan dalam tubuh akibat penurunan fungsi ginjal ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi sistemik yang berpotensi mengancam jiwa. Kepatuhan terhadap pembatasan cairan yang ketat untuk mencegah kelebihan cairan intravaskular yang dapat meningkatkan risiko edema, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Dukungan keluarga (family support) merupakan faktor sosial penting yang memengaruhi perilaku kesehatan pasien kronis.  akut Tujuan: Untuk menggambarkan secara mendalam fenomena klinis, response pasien, serta peran dukungan keluarga yang dapat diberikan dalam kepatuhan menjalani terapi hemodialisis pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD). Metode: Penelitian dengan desain studi kasus (case report) yang dilakukan di unit hemodialisis salah satu fasilitas pelayanan kesehatan pada tanggal 11 Maret 2025. Subjek penelitian adalah seorang pasien perempuan berusia 65 tahun dengan diagnosis Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani terapi hemodialisis dua kali seminggu. Hasil: Terdapat dua Dilema Etik pada kasus yaitu Autonomy dan Beneficence. Autonomy pada pasien berhak menentukan pilihan terhadap pengobatan yang dijalaninya. Kemudian Beneficence berupa tenaga kesehatan memiliki kewajiban untuk memberikan perawatan terbaik demi kebaikan pasien. Simpulan: Dukungan keluarga terbukti sangat penting dalam menjaga motivasi, membantu pengambilan keputusan, serta meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.   Kata Kunci: Chronic Kidney Disease; Dukungan Keluarga; Studi Kasus.
Strategi pelaksanaan edukasi diet diabetes melitus sebagai penerapan prinsip etik beneficence Permana, Daffa Mohammad; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1811

Abstract

Background: Diet is a key aspect of diabetes mellitus management, as it aims to achieve and maintain near-normal blood glucose and lipid levels, prevent acute and chronic complications, and improve the patient's quality of life. Purpose: To determine the strategies for implementing diabetes mellitus diet education as an application of the ethical principle of beneficence in nursing. Method: The research design used a literature review using Google Scholar as the e-resource data source, using the keywords "Diet Education: Amount, Type, and Schedule (3J)" and "DASH Diet Education." Results: The literature search found that 3J and DASH diet education can be used as strategies for implementing the ethical principle of beneficence. Diet is a key aspect of diabetes mellitus management. Simpulan: Nurses can implement the ethical principle of beneficence by providing 3J and DASH diet education to maintain and sustain blood glucose levels within the normal range, maintain stable blood pressure, and support a more stable health condition.   Keywords: Diabetes Mellitus; Diet Education; Nursing Ethical Principles.   Pendahuluan: Pola makan atau diet menjadi aspek utama dalam penatalaksanaan diabetes melitus, karena bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa serta lemak darah mendekati normal, mencegah timbulnya komplikasi baik akut maupun kronis, dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Tujuan: Untuk mengetahui jenis strategi pelaksanaan edukasi diet diabetes melitus sebagai penerapan prinsip etik beneficence dalam keperawatan. Metode: Desain penelitian literature review dengan sumber data e-resource Google Scholar menggunakan kata kunci “Edukasi Diet Jumlah, jenis, dan Jadwal (3J)” dan “Edukasi Diet DASH”. Hasil: Pencarian literatur didapatkan bahwa edukasi diet 3J dan diet DASH dapat digunakan sebagai strategi pelaksanaan prinsip etik beneficence. Pola makan atau diet menjadi aspek utama dalam penatalaksanaan diabetes melitus. Simpulan: Perawat dapat menjalankan prinsip etik beneficence dengan memberikan edukasi diet 3J dan diet DASH dengan untuk menjaga dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal, menjaga kestabilan tekanan darah, dan mendukung kondisi kesehatan yang lebih stabil.   Kata Kunci: Edukasi Diet; Diabetes Melitus; Prinsip Etik Keperawatan.
Penerapan mirror therapy berbasis keluarga pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis: Studi kasus Putri, Intan; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1824

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a decline in kidney function that often leads to muscle weakness and decreased mobility. Mirror therapy is a non-invasive rehabilitative intervention that utilizes the mirror neuron system to improve motor function. Purpose: To analyze the implementation of family-based mirror therapy in CKD patients on hemodialysis, based on the principles of nursing ethics and nursing law. Method: A case study was conducted on Mr. S, a 62-year-old patient with CKD undergoing hemodialysis. Mirror therapy was implemented at home, guided by a booklet and educational videos for the patient and family. Data were collected through clinical assessment and interviews with the patient and family. The application of ethical principles (autonomy, beneficence, non-maleficence, and justice) and compliance with Law No. 38 of 2014 and Minister of Health Regulation No. 26 of 2019 were also evaluated. Results: Mr. S, a 62-year-old male with chronic kidney disease (CKD) undergoing hemodialysis, experienced muscle weakness, fatigue, and decreased ability to perform daily activities, with a hemoglobin level of 7.9 g/dL. His family did not understand appropriate rehabilitation strategies, so the patient often rested completely or refused assistance. The implementation of family-based mirror therapy, through educational booklets and videos, facilitated safe light exercise, increased family understanding, and ensured that interventions adhered to ethical principles. Conclusion: The implementation of family-based mirror therapy has been shown to improve the patient's muscle strength, mobility, and independence.   Keywords: CKD; Ethical Principles; Family; Mirror Therapy; Nursing Law.   Pendahuluan: Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penurunan fungsi ginjal yang sering menyebabkan kelemahan otot serta penurunan mobilitas. Mirror therapy adalah intervensi rehabilitatif non-invasif yang memanfaatkan sistem neuron cermin untuk meningkatkan fungsi motorik. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan mirror therapy berbasis keluarga pada pasien CKD hemodialisa, berdasarkan prinsip etik keperawatan dan hukum keperawatan. Metode: Penelitian studi kasus pada Tn. S sebagai subjek berusia 62 tahun dengan CKD yang menjalani hemodialisis. Mirror therapy diterapkan di rumah dengan panduan booklet dan video edukatif bagi pasien dan keluarga. Data dikumpulkan melalui pengkajian klinis serta wawancara dengan pasien dan keluarga. Penerapan prinsip etik (autonomy, beneficence, non-maleficence, dan justice) serta kesesuaian dengan UU No. 38 Tahun 2014 dan Permenkes No. 26 Tahun 2019 juga dievaluasi. Hasil: Tn. S berjenis kelamin laki-laki berusia 62 tahun dengan CKD yang menjalani hemodialisis, mengalami kelemahan otot, mudah lelah, dan penurunan kemampuan beraktivitas sehari-hari dengan kadar hemoglobin 7.9 g/dL. Keluarga belum memahami strategi rehabilitatif yang tepat, sehingga pasien sering beristirahat total atau menolak bantuan. Penerapan mirror therapy berbasis keluarga, melalui edukasi booklet dan video, membantu latihan ringan yang aman, meningkatkan pemahaman keluarga, dan memastikan intervensi sesuai prinsip etik. Simpulan: Penerapan mirror therapy berbasis keluarga terbukti meningkatkan kekuatan otot, mobilitas, dan kemandirian pasien.   Kata Kunci: CKD; Keluarga; Hukum Keperawatan; Mirror Therapy; Prinsip Etik.
Pemberian terapi kombinasi range of motion (ROM) dengan rangsang taktil dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien CVA Syamsiyah, Alfiatus; Husna, Chairul Huda Al
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1825

Abstract

Background: Stroke is a neurological disorder that can cause muscle weakness, decreased sensory function, and impaired physical mobility. Range of Motion (ROM) therapy and tactile stimulation are forms of non-pharmacological therapy that can help improve motor and sensory function in post-stroke patients. Purpose: To determine the effect of ROM therapy and tactile stimulation on improving motor and sensory abilities in post-stroke patients, focusing on changes in joint range of motion (ROM) and increased tactile sensation response after one week of intervention. Method: This case study was conducted on one patient diagnosed with impaired physical mobility due to a Cerebrovascular Accident (CVA). The intervention, consisting of ROM therapy and tactile stimulation, was administered for one week, with progress measured using a joint range of motion (ROM) assessment sheet and tactile sensation scoring. Results: The patient's initial ROM score was 24 and tactile sensation was 5, indicating limited movement and decreased sensation. After one week of intervention, the ROM score increased to 28 and tactile sensation to 7, indicating improved muscle strength and tactile recognition. Conclusion: The application of ROM therapy and tactile stimulation has been proven effective in increasing muscle strength and sensory function in stroke patients, thus helping to improve physical mobility and support the restoration of independence in functional activities.   Keywords: Cerebrovascular Accident; Range of Motion (ROM) Therapy; Tactile stimulation.   Pendahuluan: Stroke merupakan gangguan neurologis yang dapat menyebabkan kelemahan otot, penurunan fungsi sensorik, serta gangguan mobilitas fisik. Terapi Range of Motion (ROM) dan rangsang taktil merupakan bentuk terapi non-farmakologis yang dapat membantu meningkatkan fungsi motorik dan sensorik pada pasien pasca stroke. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi ROM dan rangsang taktil terhadap peningkatan kemampuan motorik dan sensorik pada pasien pasca stroke dengan memfokuskan pada perubahan rentang gerak sendi (ROM) serta peningkatan respon sensasi sentuhan setelah dilakukan intervensi selama satu minggu. Metode: Studi kasus ini dilakukan pada satu pasien dengan diagnosa gangguan mobilitas fisik akibat Cerebrovascular Accident (CVA). Intervensi berupa terapi ROM dan rangsang taktil diberikan selama 1 minggu, dengan pengukuran perkembangan menggunakan lembar penilaian rentang gerak sendi (ROM) dan skoring sensasi taktil. Hasil: Skor ROM pada awal pengukuran pasien sebesar 24 dan sensasi taktil 5, hal ini menunjukkan keterbatasan gerak dan penurunan sensasi. Setelah dilakukan intervensi selama satu minggu, skor ROM meningkat menjadi 28 dan sensasi taktil menjadi 7 yang menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot dan kemampuan mengenali sentuhan. Simpulan: Penerapan terapi ROM dan rangsang taktil terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot dan fungsi sensorik pada pasien stroke, sehingga dapat membantu memperbaiki mobilitas fisik dan mendukung pemulihan kemandirian aktivitas fungsional.   Kata Kunci: Cerebrovascular Accident; Rangsang taktil; Terapi Range of Motion (ROM).
Penggunaan surgical safety checklist (SSC) di kamar operasi: Studi kasus implementasi prinsip etik Candra, Candra; Arofiati, Fitri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1862

Abstract

Background: A crucial part of being a professional nurse is ensuring patient safety in the operating room. The Surgical Safety Checklist (SSC) is used to prevent errors during surgery and ensure the surgical team performs better. However, in practice, negligence in implementing the SSC still occurs frequently and can lead to ethical violations and patient harm. Purpose: To analyze the application of ethical principles in cases of violations of the Surgical Safety Checklist (SSC) in the operating room. Method: This study used a case report design with a qualitative descriptive approach to describe in-depth real-life experiences in implementing the Surgical Safety Checklist (SSC) in the operating room, specifically related to the application of nursing ethical principles such as autonomy, beneficence, non-harm, and justice. Results: The case of Mrs. D (38 years old) with peritonitis due to bowel perforation demonstrated a failure to implement the SSC (Surgical Safety Checklist) during the handover phase, resulting in the arterial clamp being left in the peritoneal cavity. Analysis showed that this incident violated the principles of non-maleficence and beneficence and demanded moral and professional responsibility from the entire surgical team, especially the nurses as the controllers of patient safety. Conclusion: Adherence to the Surgical Safety Checklist reflects the application of nursing ethics principles and is a key component in ensuring patient safety in the operating room.   Keywords: Nursing Ethics; Operating Room; Patient Safety; Surgical Safety Checklist.   Pendahuluan: Bagian penting dari menjadi perawat profesional adalah memastikan keselamatan pasien di ruang operasi. Daftar Periksa Keselamatan Bedah (Surgical Safety Checklist/SSC) digunakan untuk mencegah kesalahan selama operasi dan memastikan tim bedah bekerja sama dengan lebih baik. Namun dalam prakteknya, kelalaian dalam menerapkan SSC masih sering terjadi dan dapat menyebabkan pelanggaran etika dan membahayakan pasien. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan dalam kasus kelalaian penggunaan Daftar Periksa Keselamatan Bedah (SSC) di ruang operasi. Metode: Studi ini menggunakan desain laporan kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan secara mendalam pengalaman nyata dalam menerapkan Daftar Periksa Keselamatan Bedah (SSC) di ruang operasi, khususnya terkait dengan penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan seperti otonomi, kemurahan hati, tidak membahayakan, dan keadilan. Hasil: Kasus pasien Ny. D (38 tahun) dengan peritonitis akibat perforasi usus menunjukkan kegagalan dalam menerapkan SSC (Surgical Safety Checklist) selama tahap serah terima tugas yang mengakibatkan ketertinggalan klem arteri di rongga peritoneum. Analisis menunjukkan bahwa insiden ini merupakan pelanggaran prinsip non-maleficence dan beneficence serta menuntut tanggung jawab moral dan profesional dari seluruh tim bedah, terutama perawat sebagai pengendali keselamatan pasien. Simpulan: Kepatuhan terhadap Daftar Periksa Keselamatan Bedah mencerminkan penerapan prinsip-prinsip etika keperawatan dan merupakan komponen kunci dalam memastikan keselamatan pasien di ruang operasi.   Kata Kunci: Daftar Periksa Keselamatan Bedah; Etika Keperawatan; Keselamatan Pasien; Ruang Operasi.
Terapi kompres dingin NaCl 0.9% dalam menurunkan intensitas nyeri: Studi kasus pada pasien selulitis Maulidina, Rossyana Amelia; Purwanto, Edi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1885

Abstract

Background: Cellulitis is an acute bacterial infection of the skin and subcutaneous tissue characterized by pain, swelling, and warmth. It can cause high morbidity and worsen the patient's quality of life. Pain in cellulitis arises from the inflammatory process that activates nociceptors and increases nerve sensitivity. One non-pharmacological therapy for pain reduction is a cold compress using 0.9% NaCl, which works through vasoconstriction, edema reduction, and local analgesic effects. Purpose: To evaluate the effectiveness of cold compress therapy using NaCl solution in reducing pain levels in cellulitis. Method: This was a case study using an Evidence-Based Nursing Practice approach in one patient with cellulitis who met the inclusion criteria. The intervention, a cold compress with 0.9% NaCl, was applied for 10-20 minutes for three consecutive days. Pain was measured before and after the procedure using the Numeric Rating Scale (NRS). Results: There was a consistent decrease in pain intensity: on the first day, the pain decreased from a 7 to a 6, on the second day, from a 6 to a 5, and on the third day, from a 5 to a 4. Furthermore, patients reported reduced heat and swelling, and increased comfort after therapy. Conclusion: Cold compresses using 0.9% NaCl have been shown to be effective in reducing pain in cellulitis patients through vasoconstriction, decreased nerve activity, and reduced edema.   Keywords: Cellulitis; Cold Compress; Pain.   Pendahuluan: Selulitis adalah infeksi bakteri akut pada kulit dan jaringan subkutan yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan rasa hangat, serta dapat menyebabkan morbiditas tinggi dan memperburuk kualitas hidup pasien. Nyeri pada selulitis muncul akibat proses inflamasi yang mengaktifkan nosiseptor dan meningkatkan sensitivitas saraf. Salah satu terapi non farmakologis untuk mengurangi nyeri adalah kompres dingin menggunakan NaCl 0.9% yang bekerja melalui vasokonstriksi, penurunan edema, dan efek analgesik lokal. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas terapi kompres dingin berupa cairan NaCl dalam menurunkan skala nyeri pada selulitis Metode: Studi kasus yang menggunakan pendekatan Evidence Based Nursing Practice pada satu pasien selulitis yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa kompres dingin NaCl 0.9% diberikan selama 10-20 menit selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan sesudah tindakan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil: Terdapat penurunan intensitas nyeri yang konsisten: hari pertama dari skala 7 menjadi 6, hari kedua dari 6 menjadi 5, dan hari ketiga dari 5 menjadi 4. Selain itu, pasien melaporkan berkurangnya rasa panas, pembengkakan, serta peningkatan kenyamanan setelah terapi. Simpulan: Kompres dingin menggunakan NaCl 0,9% terbukti efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien selulitis melalui mekanisme vasokonstriksi, penurunan aktivitas saraf, dan pengurangan edema.   Kata Kunci : Kompres Dingin; Nyeri; Selulitis.