cover
Contact Name
Teguh Sandjaya
Contact Email
teguh.sandjaya@unpad.ac.id
Phone
+6281221271237
Journal Mail Official
ramadhan.pancasilawan@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung B Lt. 1 Departemen Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univesitas Padadjaran, Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JANE (Jurnal Administrasi Negara)
ISSN : 20861338     EISSN : 2597758X     DOI : https://doi.org/10.24198/jane.v2i1
Core Subject : Social,
JANE (Jurnal Administrasi Negara) telah meninjau dan menilai praktik administrasi publik di tingkat lokal, regional, nasional dan internasional yang diarahkan untuk mengelola proses pembangunan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Hal ini memberikan perhatian khusus pada penyelidikan pengelolaan seluruh tahapan perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan publik yang mempunyai kepentingan dan kepentingan di luar pemerintahan dan negara bagian tertentu. JANE (Jurnal Administrasi Negara) memiliki ketertarikan khusus pada hubungan antara praktik administrasi publik dan penelitian manajemen dan menyediakan forum profesional dan akademis untuk melaporkan pengalaman dan eksperimen baru. Fokus jurnal kami termasuk namun tidak terbatas pada: Administrasi Publik Manajemen Publik Birokrasi Dan Tata Kelola Publik Manajemen Sumber Daya Manusia Sektor Publik Administrasi Pembangunan Lokal Dan Regional Desentralisasi Dan Otonomi Daerah Inovasi Pelayanan Publik Tata Kelola Dan Manajemen Jaringan Teknologi Informasi Komunikasi Dan Pemerintahan
Articles 215 Documents
PENGENDALIAN RISIKO DENGAN MENGGUNAKAN METODE ENTERPRISE RISK MANAGEMENT PADA PT BUMI INDONESIA BANGKIT Aulia, Muhammad Dzaki; Arifianti, Ria; Dai, R. Ratna Meisa
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 1 (2025): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i1.65815

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian risiko yang telah diterapkan perusahaan serta merumuskan usulan penerapan Enterprise Risk Management (ERM) sebagai suatu pedoman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana PT Bumi Indonesia Bangkit, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan cangkang sawit yang menghadapi serangkaian potensi risiko yang kompleks, dijadikan sebagai lokus penelitian pada periode Agustus 2023 – Juli 2025. Data dikumpulkan dari sumber primer melalui wawancara dengan sembilan informan internal dan eksternal, observasi, serta dokumentasi perusahaan, dan diperkuat dengan data sekunder dari studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan dan diverifikasi dengan teknik triangulasi untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan. Penelitian mengidentifikasi sepuluh risiko utama perusahaan yang dipetakan dalam matriks risiko berdasarkan frekuensi dan tingkat dampaknya. Penilaian risiko menghasilkan skor pada rentang 6–20, yang dipetakan dalam matriks risiko dengan kategori moderate, high, very high, hingga extreme. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, dirumuskan strategi respons risiko serta langkah-langkah pengendalian yang dirancang untuk setiap kategori risiko, dilengkapi dengan sistem informasi, komunikasi, dan mekanisme pemantauan yang terstruktur untuk mendukung implementasi pengendalian risiko secara berkelanjutan. This study aims to analyze the existing risk control measures implemented by the company and to formulate recommendations for the adoption of Enterprise Risk Management (ERM) as a guiding framework. The research employs a qualitative method with a case study approach, focusing on PT Bumi Indonesia Bangkit, a company engaged in palm kernel shell trading that faces a series of complex potential risks, as the research locus during the period of August 2023 – July 2025. Data were collected from primary sources through interviews with nine internal and external informants, observations, and company documentation, supported by secondary data from literature reviews. Data analysis was conducted through the stages of collection, reduction, presentation, and conclusion drawing, and validated using triangulation techniques to ensure the validity and reliability of the findings. The study identifies ten major risks faced by the company, which were mapped in a risk matrix based on frequency and impact levels. The risk assessment produced scores ranging from 6 to 20, categorized within the risk matrix as moderate, high, very high, and extreme. Based on this mapping, risk response strategies and control measures were formulated for each risk category, complemented by structured systems for information, communication, and monitoring to support the sustainable implementation of risk management.
EFEKTIVITAS PROGRAM JOB FAIR DALAM MENGURANGI ANGKA PENGANGGURAN DI KOTA CIREBON Darmawan, Nayla Tsabita Putri; Isnawaty, Neneng Weti
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 1 (2025): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i1.61486

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan dalam pelaksanaan Program Job Fair di Kota Cirebon, antara lain rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal, proses link and match antara pencari kerja dan pemberi kerja yang belum maksimal, kendala teknis dalam pelaksanaan secara virtual, serta keterbatasan jumlah perusahaan peserta yang berdampak pada terbatasnya variasi lowongan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Program Job Fair berdasarkan indikator ketepatan sasaran, sosialisasi program, pencapaian tujuan, dan mekanisme pemantauan sesuai kerangka teori Budiani (2007). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dengan pihak Disnaker, perusahaan peserta, dan pencari kerja, serta dokumentasi laporan tahunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah menjangkau sasaran peserta dengan cukup baik dan mendapat dukungan melalui berbagai media sosialisasi, meskipun pemanfaatan aplikasi SIAPkerja belum optimal. Tingkat penempatan tenaga kerja lokal masih rendah (sekitar 18%), sehingga tujuan program belum sepenuhnya tercapai meskipun pemantauan dilakukan secara rutin melalui evaluasi kegiatan, pelaporan perusahaan, dan survei kepuasan. This research is motivated by several problems in the implementation of the Job Fair Program in Cirebon City, including the low absorption of local workers, a suboptimal link and match process between job seekers and employers, technical obstacles in virtual implementation, and the limited number of participating companies, which affects the variety of available job vacancies. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of the Job Fair Program based on the indicators of target accuracy, program socialization, goal achievement, and monitoring mechanisms, as outlined in Budiani’s (2007) framework. The research employs a qualitative method with a descriptive approach, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews with the Manpower Office (Disnaker), participating companies, and job seekers, as well as documentation of annual reports. The findings reveal that the program has adequately reached its target participants and has been supported through various socialization media, although the utilization of the SIAPkerja application remains suboptimal. The placement rate of local workers remains low (approximately 18%), indicating that the program's objectives have not been fully achieved, despite routine monitoring through activity evaluations, company reports, and satisfaction surveys.
INOVASI TEMAN MANGROVE (SISTEM AQUAPONIK MANGROVE): PEMANFAATAN LIMBAH PAKAN DAN ESKRESI IKAN BANDENG SEBAGAI NUTRISI ALAMI UNTUK OPTIMALISASI PERTUMBUHANMANGROVE DI AREA KONSERVASI MANGROVE PT PERTAMINAPATRA NIAGA DI DESA SEDARI, CIBUAYA, KARAWANG Ismail, Taufik; Ali, Jauhari; M, Cita Insaniah; S, Arizky Rachmad; A. M, M. Zakky; Adiansah, Wandi
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 1 (2025): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i1.66935

Abstract

Ekosistem mangrove berperan sebagai benteng alami pesisir, namun diperlukan optimalisasi pertumbuhannya dengan melakukan integrasi terhadap potensi yang terdapat pada sekitarnya.  Studi ini menguji hasil inovasi Teman Mangrove (Sistem Aquaponik Mangrove) yang memanfaatkan sedimen limbah pakan dan ekskresi ikan bandeng dari tambak sebagai sumber nutrisi alami bagi Avicennia marina dan Rhizophora mucronata pada area konservasi mangrove 2 PT Pertamina Patra Niaga. Metode yang digunakan adalah Before–After dengan pembanding literatur. Lokasi penelitian berada di Dusun Karangsari, Desa Sedari, Cibuaya, Karawang, mencakup tambak bandeng 1 ha dan Area Konservasi Mangrove 2 yang telah tertanami >8.000 tanaman mangrove. Waktu pengamatan  berlangsung Agustus 2024–Januari 2025. Hasil menunjukkan perbaikan performa budidaya ikan bandeng,  produksi panen ikan bandeng meningkat dari 989,75 kg menjadi 1.207,3 kg per siklus (21,98%), yang pada harga jual Rp23.000/kg meningkatkan pendapatan petani Rp5.003.650. Dampak terhadap tanaman mangrove, selama periode pengamatan tidak ditemukan kematian, indikator pertumbuhan (jumlah daun, pembesaran batang, dan penambahan tinggi) tanaman mangrove meningkat. Analisis pemanfaatan nutrisi dari limbah organik tambak mengindikasikan potensi suplai tahunan dari tambak sebesar 124,84 kg N dan 60,96 kg P (dua siklus panen dalam setahun). Kebutuhan ekuivalen pupuk NPK untuk pertumbuhan optimal tanaman mangrove 96 kg NPK/tahun (12 g/tanaman/tahun), sehingga berpotensi menghasilkan penghematan Rp2.400.000/tahun. Mangrove ecosystems serve as natural coastal barriers; however, their growth requires optimization through integration with surrounding potentials. This study examines the innovation of Teman Mangrove (Mangrove Aquaponics System), which utilizes sediment waste from milkfish (Chanos chanos) feed and excretion in ponds as a natural nutrient source for Avicennia marina and Rhizophora mucronata in the Mangrove Conservation Area 2 of PT Pertamina Patra Niaga. The method employed is Before–After with literature comparison. The research site is located in Karangsari Hamlet, Sedari Village, Cibuaya, Karawang, covering a 1-hectare milkfish pond and Mangrove Conservation Area 2, which has been planted with >8,000 mangrove trees. The observation period took place from August 2024 to January 2025. Results show improvements in milkfish cultivation performance, with production increasing from 989.75 kg to 1,207.3 kg per cycle (21.98%), which at a selling price of IDR 23,000/kg increased farmers’ income by IDR 5,003,650. Regarding mangrove plants, no mortality was observed during the study period; growth indicators (leaf count, stem diameter, and height increment) showed improvement. Analysis of nutrient utilization from pond organic waste indicates an annual potential supply of 124.84 kg N and 60.96 kg P (two harvest cycles per year). The equivalent fertilizer requirement for optimal mangrove growth is 96 kg NPK/year (12 g/plant/year), thus potentially generating savings of IDR 2,400,000/year. 
ANALISIS INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT PADA PROGRAM INTEGRATED FARMING KETAPANG PT PERTAMINA PATRA NIAGA INTEGRATED TERMINAL TANJUNG WANGI Nursyamsi, Fajar; Hardiansyah, Deden; Riyanti, Chika; Rahina, Angelica Kintani Sekar; Adiansah, Wandi
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 1 (2025): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i1.67315

Abstract

Program Integrated Farming Ketapang merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Tanjung Wangi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian terpadu. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat kepuasan masyarakat penerima manfaat terhadap pelaksanaan program dengan menggunakan pendekatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penilaian dilakukan terhadap lima aspek utama, yaitu perencanaan, pendanaan, pendampingan, pelaksanaan, dan keberlanjutan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai IKM berada pada kategori sangat baik dengan skor 3,84 atau konversi 96,14%. Aspek pendanaan dan pendampingan memperoleh nilai tertinggi, sementara aspek keberlanjutan menunjukkan perlunya peningkatan akses kemitraan pemasaran. Secara keseluruhan, program ini dinilai efektif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam meningkatkan kapasitas serta kesejahteraan masyarakat. Program Integrated Farming Ketapang direkomendasikan sebagai model praktik terbaik dalam pelaksanaan program TJSL berbasis pemberdayaan masyarakat.
INOVASI STRATEGIS DALAM TATA KELOLA INFORMASI PUBLIK DI PTN: ANALISIS IMPLEMENTASI PPID UNIVERSITAS PADJADJARAN Marlia, Marlia; Hadisiwi, Purwanti; Priyatna, Centurion Chandratama
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 1 (2025): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Agustus 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i1.66064

Abstract

Keterbukaan informasi publik di perguruan tinggi negeri masih menghadapi tantangan, terutama terkait koordinasi antarunit kerja dan konsistensi implementasi kebijakan. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi inovasi yang diterapkan oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Universitas Padjadjaran untuk mendukung keterbukaan informasi publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi langsung, serta menganalisis data dengan model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber untuk validasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa universitas telah mengembangkan strategi inovasi berupa digitalisasi layanan informasi, pelibatan publik melalui forum dan konsultasi, serta penguatan inklusivitas dalam penyampaian informasi. Namun, pelaksanaan di tingkat fakultas dan unit kerja masih bervariasi, menunjukkan kesenjangan dalam pemahaman kebijakan dan koordinasi internal. Inovasi teknologi seperti aplikasi seluler dan chatbot belum dievaluasi secara sistematis sehingga dampaknya terhadap akses publik belum maksimal. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas petugas, sistem evaluasi berbasis data, dan sosialisasi lintas unit untuk menumbuhkan budaya keterbukaan informasi yang konsisten di perguruan tinggi negeri. Public Information Transparency is a key principle in the governance of public institutions, including state universities, as it ensures transparency, accountability, and public participation. This study aims to examine the implementation of innovative public information transparency strategies undertaken by the Information and Documentation Management Official (PPID) of Universitas Padjadjaran in supporting public information disclosure in accordance with the Monitoring and Evaluation (Monev) standards established by the Central Information Commission (KIP). The research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews, document analysis, and direct observation of public information service processes. The analysis was conducted using the interactive model of Miles and Huberman, with validation through data source triangulation. The findings reveal that the PPID of Universitas Padjadjaran has developed several innovation strategies, including service digitalization, public engagement, and the enhancement of inclusivity. However, implementation at the work unit level has not been entirely uniform, indicating challenges in internal coordination and policy comprehension. This study highlights the importance of consistent inter-unit implementation and the necessity of a sustainable evaluation system to strengthen the culture of information disclosure in state universities. It recommends enhancing cross-unit capacity and socialization, developing a data-based internal monitoring system, and involving stakeholders more extensively in the evaluation of public information services.
ANALISIS PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA DI DESA KAJEKSAN KABUPATEN SIDOARJO Syavitri, Nadiya Ami; Rodiyah, Isnaini
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 2 (2026): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i2.68104

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan di Desa Kajeksan dengan menggunakan teori partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Marschall, yang mencakup tiga indikator, yaitu adanya forum atau kelompok yang menjadi wadah untuk menampung partisipasi masyarakat, kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam proses perencanaan, serta adanya akses bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam semi terstruktur, observasi non partisipatif, dan studi dokumentasi. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan informan terdiri atas Sekretaris Desa Kajeksan dan Kepala Urusan Perencanaan yang terlibat langsung dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). Hasil penelitian pada indiktor 1 menunjukkan forum partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa melalui Tim Penyusun RKP Desa, Musrenbang Desa, dan Musyawarah Desa. Forum tersebut menjadi wadah formal bagi keterlibatan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui perwakilan. Dengan demikian, keberadaan forum partisipasi masyarakat telah terpenuhi secara kelembagaan. Indikator 2 menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam proses perencanaan masih terbatas. Partisipasi aktif lebih didominasi oleh tokoh masyarakat yang tergabung dalam Tim Penyusun RKP Desa. Selain itu, ditemukan kendala berupa jumlah kehadiran masyarakat yang tidak sesuai dengan jumlah undangan. Serta keaktifan penyampaian pendapat yang hanya didominasi oleh individu yang sama, sementara sebagian besar peserta lainnya bersikap pasif. Indikator 3 menunjukkan pemerintah Desa Kajeksan telah memberikan akses bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat melalui keterlibatan perwakilan dalam Tim Penyusun RKP Desa, kehadiran dalam forum Musrenbang Desa, serta pendanatanganan berita acara pada musyawarah desa. This study analyzes community participation in development planning in Kajeksan Village using Marschall’s participation theory, which includes three indicators: the existence of participatory forums, the community’s ability to actively participate, and access to express opinions in decision-making. This research employs a descriptive qualitative approach with data collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation. Informants were selected using purposive sampling and consisted of the Village Secretary and the Head of Planning Affairs involved in preparing the Village Government Work Plan (RKP Desa). The findings show that Indicator 1 is institutionally fulfilled through formal forums such as the RKP Desa Drafting Team, Village Development Planning Meetings (Musrenbang Desa), and Village Deliberations, which accommodate community participation directly and through representation. Indicator 2 indicates that active participation remains limited and is dominated by community leaders, with attendance levels lower than invitations and participation concentrated among the same individuals. Indicator 3 shows that the village government has provided formal access for the community to convey aspirations through representative involvement, Musrenbang participation, and the signing of official meeting minutes during village deliberation meetings.
KAPASITAS ORGANISASI BADAN GIZI NASIONAL: PILAR BARU TATA KELOLA GIZI DI INDONESIA Yusuf, Farida Nuraeni; Miftah, Ahmad Zaini; Utami, Sawitri Budi; Yusuf, Ningrum Fauziah
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 2 (2026): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i2.67718

Abstract

Pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 merupakan reformasi kelembagaan strategis untuk memperkuat tata kelola kebijakan gizi nasional yang sebelumnya ditandai oleh fragmentasi aktor dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapasitas organisasi BGN serta implikasinya terhadap kemampuan negara dalam mengimplementasikan kebijakan gizi berskala nasional, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui analisis konten dokumen kebijakan resmi dan literatur akademik, dengan menerapkan kerangka kapasitas organisasi untuk menilai kesenjangan antara kapasitas kelembagaan formal dan kapasitas implementasi aktual. Hasil kajian menunjukkan bahwa BGN memiliki kapasitas potensial yang kuat secara de jure, didukung oleh mandat politik, kewenangan regulatif, dan sumber daya terpusat. Namun, efektivitas implementasi MBG masih menghadapi keterbatasan pada level operasional, terutama terkait koordinasi lintas sektor, kesiapan logistik, transfer pengetahuan, dan kapasitas adaptif pelaksana di daerah. Temuan ini menegaskan bahwa pembentukan lembaga sentralistik tidak secara otomatis meningkatkan kapasitas implementasi tanpa penguatan koordinasi horizontal dan pembelajaran organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan jangka panjang BGN sangat bergantung pada kemampuannya mentransformasi kapasitas formal dan modal politik menjadi kapasitas operasional yang adaptif dan terintegrasi. The establishment of the National Nutrition Agency (BGN) through Presidential Regulation No. 83 of 2024 represents a strategic institutional reform aimed at strengthening national nutrition policy governance, which had previously been characterized by fragmented actors and weak cross-sectoral coordination. This study examines the organizational capacity of BGN and its implications for the state’s ability to implement large-scale nutrition policies, particularly the Free Nutritious Meals (MBG) program. Using a qualitative descriptive-analytical approach, the study employs content analysis of official policy documents and academic literature, applying an organizational capacity framework to assess the gap between formal institutional capacity and actual implementation capacity. The findings indicate that (BGN) possesses strong de jure capacity, supported by political mandate, regulatory authority, and centralized resources. However, the effectiveness of MBG implementation remains constrained at the operational level, particularly in terms of cross-sectoral coordination, logistical readiness, knowledge transfer, and the adaptive capacity of local implementers. These findings demonstrate that the establishment of a centralized institution does not automatically enhance implementation capacity without strengthened horizontal coordination and organizational learning. The study concludes that the long-term success of BGN depends on its ability to transform formal capacity and political capital into adaptive and integrated operational capacity. 
MENGATASI KETIDAKSESUAIAN KANDIDAT : PERAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING (SAW) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SELEKSI PT SAGALA Putra, Abdillah Fandani; Maulina, Erna; Nirmalasari, Healthy
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 2 (2026): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i2.68495

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya ketidaksesuaian kandidat dalam proses seleksi karyawan operasional di PT Sagala, yang terlihat dari banyaknya kegagalan kandidat pada tahap lanjutan serta pengunduran diri selama masa pelatihan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman dan tantangan yang dihadapi divisi rekrutmen dan staffing dalam proses seleksi, khususnya terkait aspek efisiensi, objektivitas, dan konsistensi penilaian, serta menerapkan metode Simple Additive Weighting sebagai alat bantu pengambilan keputusan guna meningkatkan akurasi dan transparansi seleksi. Penelitian menggunakan pendekatan sequential explanatory, yaitu penggalian data kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi, yang kemudian dipadukan dengan analisis kuantitatif melalui metode penilaian multikriteria terhadap data kandidat dari tiga outlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian kandidat terutama disebabkan oleh proses screening yang belum konsisten, perbedaan standar penilaian antarpetugas, dan belum optimalnya pemanfaatan data objektif seperti pengalaman kerja, jarak domisili, usia, dan ekspektasi gaji. Penerapan metode Simple Additive Weighting menghasilkan peringkat kandidat yang lebih stabil dan mampu mengidentifikasi kandidat dengan potensi retensi lebih baik dibandingkan keputusan seleksi aktual. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi metode kuantitatif pada tahap awal seleksi diperlukan untuk meningkatkan efisiensi proses, mengurangi risiko turnover, serta memperkuat kualitas keputusan rekrutmen di PT Sagala. This research is motivated by the high level of candidate mismatch in the operational employee selection process at PT Sagala, as reflected in frequent failures during later selection stages and resignations during the training period. The study aims to analyze the experiences and challenges faced by the recruitment and staffing division in conducting the selection process, particularly regarding efficiency, objectivity, and consistency of assessment, as well as to apply the Simple Additive Weighting method as a decision-support tool to enhance accuracy and transparency in the selection of operational employees. A sequential explanatory approach was employed, combining qualitative data obtained through in-depth interviews and observations with quantitative analysis using a multi-criteria assessment method applied to candidate data from three outlets. The findings indicate that candidate mismatch is primarily driven by inconsistent screening practices, variations in assessment standards among recruiters, and the suboptimal use of objective data such as work experience, domicile distance, age, and salary expectations. The application of the Simple Additive Weighting method produced a more stable ranking of candidates and successfully identified individuals with stronger retention potential compared to actual selection outcomes. The study concludes that integrating quantitative methods into the early stages of the selection process is essential to improve efficiency, reduce turnover risks, and strengthen the overall effectiveness of recruitment decisions at PT Sagala.
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK TEKSTIL MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA PADA DEPARTEMEN DYEING AND FINISHING PERUSAHAAN TEKSTIL Nugraha, Candra Nurdin; Arifianti, Ria; Tresna, Pratami Wulan
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 2 (2026): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i2.68954

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian kualitas produk tekstil serta membandingkan pengendalian kualitas internal perusahaan dengan pendekatan Six Sigma pada departemen dyeing and finishing. Permasalahan penelitian berangkat dari kondisi tingkat kecacatan yang berfluktuasi dan pada periode tertentu melebihi batas toleransi perusahaan, meskipun sistem pengendalian kualitas internal telah diterapkan. Secara ilmiah, kondisi tersebut menunjukkan adanya gap antara kepatuhan standar mutu dan kemampuan sistem dalam mengendalikan variasi proses. Metode yang digunakan adalah Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Tahap define mengidentifikasi cacat dominan dan karakteristik kualitas kritis, tahap measure mengukur kinerja melalui Defects Per Million Opportunities (DPMO) dan level sigma, tahap analyze menggunakan diagram Pareto dan diagram sebab akibat untuk menentukan akar penyebab, tahap improve menerapkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menetapkan prioritas perbaikan berdasarkan Risk Priority Number (RPN), serta tahap control merancang checksheet dan evaluasi berkala guna menjaga keberlanjutan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian kualitas internal masih berorientasi pada inspeksi akhir sehingga belum sepenuhnya menjaga stabilitas proses. Six Sigma memberikan pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis data, sehingga memperkuat pengendalian variasi proses dan mendukung perbaikan berkelanjutan. This study aims to analyze textile product quality control and compare the company’s internal quality control system with the Six Sigma approach in the dyeing and finishing department. The research problem arises from fluctuating defect rates that exceeded the company’s tolerance limit in certain periods, even though an internal quality control system has been implemented. Scientifically, this indicates a gap between compliance with quality standards and the system’s ability to control process variation. The study applies the Six Sigma DMAIC framework (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control). The Define phase identifies dominant defects and critical-to-quality characteristics. The Measure phase evaluates process performance using Defects Per Million Opportunities (DPMO) and sigma level. The Analyze phase employs Pareto charts and cause-and-effect diagrams to determine root causes of defects. The Improve phase uses Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) to prioritize corrective actions based on Risk Priority Number (RPN). The Control phase designs checksheets and periodic evaluations to ensure sustainability of improvements. The results show that the company’s internal quality control remains largely inspection-oriented and has not fully ensured process stability. In contrast, Six Sigma provides a more systematic, data-driven approach that strengthens process variation control and supports continuous improvement.  
ANALISIS PELAKSANAAN PELATIHAN PAMONG INOVASI OLEH BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN, RISET DAN INOVASI KOTA BANDUNG Rahman, Maharani; Candradewini, Candradewini
JANE - Jurnal Administrasi Negara Vol 17, No 2 (2026): JANE (Jurnal Administrasi Negara)-Februari 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jane.v17i2.69462

Abstract

Inovasi menjadi tombak dalam pengembangan daerah, sehingga hadirlah pamong inovasi sebagai agen pengelola inovasi. Bapperida sebagai fasilitator dan akselerator inovasi daerah di Kota Bandung perlu melaksanakan pelatihan yang terstruktur untuk meningkatkan kapasitas dan memperdalam pengetahuan pamong inovasi. Namun didalam pelaksanaan pelatihan ditemukan beberapa permasalahan dan kendala, seperti materi yang masih bersifat konseptual dan belum dikembangkan dalam bentuk panduan praktis serta pelaksanaan yang menghadapi keterbatasan waktu. Sehingga peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui tahapan pelaksanaan pelatihan pamong inovasi yang dilakukan oleh Bapperida Kota Bandung Tahun 2025, menganalisisnya dengan menggunakan Addie Model yang dikemukakan oleh Dessler (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Metode yang digunakan melalui pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi kepada pegawai dan beberapa pamong inovasi daerah Kota Bandung. Hasilnya ditemukan bahwa pelatihan pamong inovasi belum sepenuhnya dilaksanakan dengan tahapan pelaksanaan yang sistematis, dimana ditemukan bahwa tahap analisis identifikasi kebutuhan pamong berbasiskan hasil dan laporan IID tahun 2024, tidak dilaksanakannya pemberian tugas kepada peserta di akhir sesi pelatihan, tidak ada perbedaan materi berbasiskan kompetensi pamong inovasi, jadwal pelatihan yang bentrok dengan kalender Pemerintah Kota Bandung dan evaluasi pelatihan tidak dilaksanakan langsung setelah pelatihan.  Innovation is the spearhead of regional development, giving rise to innovation facilitators as agents of innovation management. Bapperida, as a facilitator and accelerator of regional innovation in the city of Bandung, needs to conduct structured training to improve the capacity and deepen the knowledge of innovation facilitators. However, several problems and obstacles were encountered during the training, such as the material being conceptual in nature and not yet developed into practical guidelines, as well as time constraints. Therefore, the researcher conducted this study with the aim of identifying the stages of the innovation officer training conducted by Bapperida Bandung City in 2025 and analyzing them using the Addie Model proposed by Dessler (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The method used was a qualitative approach by collecting data through interviews, observations, and documentation from employees and several regional innovation facilitators in Bandung City. The results found that innovation facilitator training has not been fully implemented with systematic implementation stages. It was found that the stage of analyzing the identification of facilitator needs based on the 2024 IID results and reports was not carried out, no assignments were given to participants at the end of the training session, there was no difference in material based on innovation facilitator competencies, the training schedule conflicted with the Bandung City Government calendar, and training evaluations were not carried out immediately after training.