cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018" : 14 Documents clear
Efektivitas Ekstrak Eugenol Rimpang Lengkuas (Alpinia Galangal L) Terhadap Pertumbuhan Jamur Trichophyton Rubrum Dengan Metode Dilusi Maulidiyah Salim; Wahdaniah Wahdaniah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.143

Abstract

Abstract: Galangal is a kind of plant which can also be apllied as medicine for anti-fungi due to its essential oil. Galangal contains about 1% of essential oil that yellow greenery in colored, unique smell, quite bitter and cooling tongue. Metil sinamat 48%, cineoi 20%-30%, kamfer, d-alfa-pinen, galangal, kamfor, gallangol, sesuiterpene, kadinena, hidrates. One of the essential compound is eugenol. This study was aimed to determine the influence of galangal rhizomes extract concentration to the growth of fungi (Trichophyton rubrum) by counting the number of colonies which growing on PDA (Potato Dextrose Agar) media. Method of this study is quasi experiment, sampling technique by using purposive sampling. The sample used in this research is isolated Trichophyton rubrum. Each galangal rhizomes extract experienced by 6 treatments by using DMSO (Dimethyl Sulfoxide) as solvent for consentration 0,05%, 0,06%, 0,07%, 0,08%, 0,09% and 0,1%. Inhibitory test of galangal rhizomes extract have been done by using dilution method, with suspended Trichophyton rubrum by counting the amount of Trichophyton rubrum colonies on each petridish based on certain concentration. Fungi colonies number on each petridish reported in CFU unit (Colony Forming Unit). Based on results, it can be concluded that 0,1% galangal extract had potency to inhibit the growth of Trichophyton rubrum. Data analyzed by using regression test showed that there was an influence of galangal extract concentration to the growth of Trichophyton rubrum which obtained p value=0,000 in 95% confidential level (p=0,00 < 0,05) by meaning that each galangal extract concentration gave effect on Trichophyton rubrum boost.Abstrak: Lengkuas adalah tumbuhan yang berkhasiat obat yang dapat digunakan sebagai obat anti jamur karena mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri  pada lengkuas memiliki kandungan 1% yang berwarna kuning kehijauan dan berbau khas dan memberikan rasa pahit dan mendinginkan lidah. Metil sinamat 48%, cineoi 20%-30%, kamfer, d-alfa-pinen, galangal, kamfor, gallangol, sesuiterpene, kadinena, hidrates. Salah satu komponen senyawa yang banyak terdapat di dalam minyak atsiri adalah senyawa eugenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh konsentrasi dari ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan melihat jumlah koloni yang tumbuh pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Metode penelitian ini adalah eksperimental semu, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat Trichophyton rubrum. Masing-masing ekstrak rimpang lengkuas dilakukan dengan 6 perlakuan dengan menggunakan DMSO (Dimethyl Sulfoxide) sebagai pelarut pada konsentrasi 0,05%, 0,06%, 0,07%, 0,08%, 0,09%, 0,1%. Uji daya hambat ekstrak rimpang lengkuas dilakukan menggunakan metode dilusi, dengan suspensi jamur Trichophyton rubrum. dengan cara menghitung jumlah koloni jamur Trichophyton rubrum pada masing-masing petridish berdasarkan konsentrasi. Jumlah koloni jamur pada setiap petridish dilaporkan dalam satuan CFU (Colony Forming Unit). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak rimpang lengkuas pada konsentrasi 0,1% sudah dapat menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Analisa data dengan menggunakan uji Regresi menunjukkan terdapat pengaruh pada konsentrasi ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan nilai p = 0,00 pada tingkat kepercayaan 95% (p=0,00 < 0,05) yang artinya terdapat pengaruh pada tiap konsentrasi ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum.
Perbedaan Penggunaan Antikoagulan K2EDTA DAN K3EDTA Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit Wahdaniah Wahdaniah; Sri Tumpuk
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.147

Abstract

Abstract: Routine blood examination is the earliest blood test or screening test to determine the diagnosis of an abnormality. Blood easily froze if it is outside the body and can be prevented by the addition of anticoagulants, one of which Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA). Currently available vacuum tubes containing EDTA anticoagulants in the form of K2EDTA and K3EDTA. K3EDTA is usually a salt that has better stability than other EDTA salts because it shows a pH approaching a blood pH of about 6.4. The purpose of this research is to know the difference of erythrocyte index results include MCH, MCV and MCHC using K3EDTA anticoagulant with K2EDTA. This research is a cross sectional design. This study used venous blood samples mixed with K2EDTA anticoagulant and venous blood mixed with K3EDTA anticoagulants, each of 30 samples. Data were collected and analyzed using paired different test. Based on data analysis that has been done on MCH examination, p value <0,05 then there is a significant difference between samples with K3EDTA anticoagulant with K2EDTA to erythrocyte index value. Then on the examination of MCV and MCHC obtained p value <0.05 then there is no significant difference between samples with K3EDTA anticoagulant with K2EDTA to erythrocyte index value.Abstrak: Pemeriksaan darah rutin merupakan pemeriksaan darah yang paling awal atau screening test untuk mengetahui diagnosis suatu kelainan. Darah mudah membeku jika berada diluar tubuh dan bisa dicegah dengan penambahan antikoagulan, salah satunya Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA). Dewasa ini telah tersedia tabung vakum yang sudah berisi antikoagulan EDTA dalam bentuk  K2EDTA dan  K3EDTA. K3EDTA  biasanya berupa garam yang mempunyai stabilitas yang lebih baik dari garam EDTA yang lain karena menunjukkan pH yang mendekati pH darah yaitu sekitar 6,4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil indeks eritrosit meliputi MCH, MCV dan MCHC menggunakan antikoagulan K3EDTA dengan K2EDTA. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan sampel darah vena yang dicampur dengan antikoagulan K2EDTA dan darah vena yang dicampur dengan antikoagulan K3EDTA, masing-masing sebanyak 30 sampel. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan uji beda berpasangan. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada pemeriksaan MCH didapatkan nilai p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara sampel dengan antikoagulan K3EDTA dengan K2EDTA terhadap nilai indeks eritrosit. Kemudian pada pemeriksaan MCV dan MCHC didapatkan nilai p < 0,05 maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara sampel dengan antikoagulan K3EDTA dengan K2EDTA terhadap nilai indeks eritrosit.
Pemanfaatan Sampah Organik Rumah Tangga Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bio-Etanol Dengan Metode Hidrolisis Fisik Menggunakan Panas Dan Tekanan Tinggi Ratih Indrawati; Gervacia Jenny Ratnawati
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.148

Abstract

Abstract: The main problem faced by the Indonesian nation is the deficit of oil fuel as asource of fossil energy besides Indonesian also difficulties in handling waste. Organic waste contains starch, sugar, and hemiselulosa. Sugar is fermented into bioethanol as a fuel subtitute. The purpose of this study was to seethe effect of hausehold organic waste hydrolysis to produce large bioethanol, the hydrolysis used was by heating temperatur hydrolysise 1000C and by using presto. Fermentation is carried out using 3 % yeast tape for 6 day. To obtain fermentation ethanol in distilation. From the research results obtained the highest levels of heating using presto of 19,22. Statistical test using wilcoxon test showed a difference with significance value p = 0.00 (p<0.05). This illustrates the influence of warming temperature on the increase of bioethanol content.Abstrak: Masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia mengalami defisit bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi fosil selain itu Indonesia juga kesulitan dalam penanganan sampah. Sampah organik mengandung pati, gula dan hemiselulose. Gula difermentasi menjadi bio-etanol sebagai pengganti bahan bakar. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh hidrolisis sampah organik rumah tangga sehingga menghasilkan bio-etanol yang besar, hidrolisis yang digunakan adalah dengan cara pemanasan suhu 1000C dan denan menggunakan presto. Fermentasi dilakukan dengan menggunakan ragi tape 3 % selama 6 hari. Untuk mendapatkan etanol fermentasi di destilasi. Dari hasil penelitian diperoleh kadar tertinggi pada pemanasan menggunakan presto sebesar 19,22 . Uji statistik menggunakan Wilcoxon  menunjukan adanya perbedaan dengan nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05). Hal ini menggambarkan adanya pengaruh suhu pemanasan terhadap meningkatnya kadar bio-etanol.
Perbedaan Kontaminasi Bacteria Staphylococcus sp di Denominasi Uang Kertas Rupiah di Warung Jalan Adi Sucipto Kota Pontianak Sutriswanto Sutriswanto; Sugito Sugito
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.162

Abstract

Abstract: Staphylococcus is a cause of infection. Infection can be transmitted from a source by an indirect through fomite. Paper money can act as transmission of infectious agents, money acts as a fomite. Smaller denominations of value have higher contamination. This study aims to analyze differences in contamination bacterial Staphylococcus sp on denomination of paper money Rp.2.000, 5.000, Rp.10,000 and Rp.20.000 that currently shop on Adi Sucipto street town Pontianak. The research method used in this research is in the form of difference and the sample in this research is denomination of paper money curently with sampling technique using cluster sampling. Checkup of Staphylococcus spon denomination of paper money using rinse method. On these result of study, denomination of paper money Rp.2.000 that is contaminated staphylococcus sp is 80%, denomination of paper money Rp.5.000 that is contaminated staphylococcus sp is 70%, denomination of paper money Rp.10.000 and Rp.20.000 that is contaminated staphylococcus sp is 80%. The data from result of study has been obtained were analyzed statistically by using fisher exact test, the result of p (0,477) >α (0,05) which mean as H1 is rejected. So it can be concluded there is no difference of contamination bacteria staphylococcus sp on denominations of paper money rupiah.Abstrak: Staphylococcus merupakan penyebab terjadinya infeksi. Infeksi dapat ditularkan dari suatu sumber dengan mekanisme tidak langsung melalui fomite. Uang kertas dapat bertindak sebagai transmisi agens infeksius ,uang berperan sebagai fomite. Pecahan uang yang lebih kecil nilainya memiliki kontaminasi yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan cemaran bakteri Staphylococcus sp pada pecahan uang kertas Rp.2.000, 5.000, Rp.10.000 dan Rp.20.000 yang beredar di warung jalan Adi Sucipto kota Pontianak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian berbentuk komperatif dan sampel pada penelitian ini adalah pecahan uang kertas rupiah dengan.teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pemeriksaan Staphylococcus sp pada pecahan uang kertas rupiah menggunakan metode rinse. Pada hasil penelitian pecahan uang kertas Rp.2.000 yang tercemar staphylococcus sp adalah 80%, pecahan uang kertas Rp.5.000 yang tercemar staphylococcus spadalah 70%, pecahan uang kertas Rp.10.000 dan Rp.20.000 yang tercemar staphylococcus spadalah 50%. Berdasarkan data dari hasil penelitian yang telah didapat dianalisis menggunakan uji statistik fisher exact, didapatkan hasil p (0,477) >α (0,05) yang diartikan sebagai H1 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan cemaran bakteri staphylococcus sp pada pecahan uang kertas rupiah.
Toksisitas Akut Ektrak N-Heksan Dan Methanol Rimpang Jeringau Merah Terhadap Kematian Artemia Salina Leach Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test Edy Suwandi; Supriyanto Supriyanto
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.149

Abstract

Abstract: Acorus sp (red sweet flag) is an endemic plant from West Borneo which contains chemical substances such as flavonoids that have bioactivity as antioxidants so it is recommended one to prevent cancer. The study aimed to determine toxicity of n-Hexan extract and methanol red sweet flag rhizomes against Artemia salina Leach with Brine Shrimp Lethality Test method. This study was a type of quasi experimental design, sampling technique obtained by using purposive sampling. According to the study results, it can be seen than methanol extract from red sweet flag rhizomes give impact on the mortality average of Artemia salina Leach : concentration 100 µg/ml (51%), 250 µg/ml (75%), 500 µg/ml (92%), 750 µg/ml (96%) and 1000 µg/ml (99%). In addition, n-Hexan extract of red sweet flag rhizomes in 100 µg/ml (45%), 250 µg/ml (60%), 500 µg/ml (92%), 750 µg/ml (84%) and 1000 µg/ml (96%). It is reported based on probit analysis that LC50 of n-Hexan extract from red sweet flag rhizomes was 128.2921 µg/ml meanwhile methanol extract was 242.7169 µg/ml µg/ ml, thus in conclusion n-Hexan and methanol extract of red sweet flag rhizomes potentially cytotoxic to Artemia salina Leach larvae.Abstrak: Jeringau merah (Acorus sp) merupakan satu jenis tanaman endemik Kalimantan Barat memiliki kandungan kimia diantaranya flavonoidyang mempunyai bioaktivitas sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Penelitian ini bertujuan mengetahui mengetahui dan menentukan toksisitas ekstrak n-Heksan dan Methanol Rimpang Jeringau MerahterhadapArtemia salinaLeachdengan metode Brine Shrimp Lethality Test. Desain penelitian ini adalah eksperimental semu, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian diketahui ekstrak Methanol Rimpang Jeringau Merah rerata kematianArtemia salina Leach konsentrasi 100 µg/ml (51%), 250 µg/ ml (75%), 500 µg/ml (92%), 750 µg/ml (96%) dan 1000 µg/ml (99%)pada ekstrak n-Heksan Rimpang Jeringau Merah konsentrasi 100 µg/ml (45%), 250 µg/ml (60%), 500 µg/ml (92%), 750 µg/ml (84%) dan 1000 µg/ml (96%). Dari analisis probit diketahuinilai LC50 ekstrak n-Heksan Rimpang Jeringau Merah yaitu 128.2921 µg/ml dan ekstrak Methanol Rimpang Jeringau Merah yaitu 242.7169 µg/ml µg/ml, maka disimpulkan ekstrak n-Heksan dan Methanol Rimpang Jeringau Merahbersifat sitotoksik terhadap larva Artemia salina Leach.
Perbedaan Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Yang Mengalami Pemanasan Ulang Dengan Penambahan Bawang Merah (Allium Cepa) Dan Bawang Putih (Allium Sativum) Gervacia Jenny Ratnawati; Hendra Budi Sungkawa
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.146

Abstract

Abstract: Cooking oil generally can be used for 3-4 times frying. If it used repeatedly, oil will be changed in color. When frying process, double bonds in unsaturated fatty acids will break and formed saturated fatty acids. A qualified oil was contained unsaturated fatty acid more than its saturated fatty acids. The use of oil many times will lead the oil double bond oxidized and form the peroxide group and cyclic monomer, such oil reported damage and harm our health. A higher temperature and a longer time of heating, saturated fatty acids level will be increased. Beside repeatedly frying, oil can be damaged by wrong storage for certain period, consequently triglyceride bond broke and form into glycerol and free fatty acids (FFA). Red onion and garlic contain high antioxidant. The benefits that make them become phenomenal in medical research is their potency in against cancer and other dangerous diseases. They also can be used as crucial antioxidant sources in the fight against free radicals in body. Based on study results showed that the average of free fatty acids (FFA) in used cooking oil that added by garlic was 5,29% and red onion was 5,22%. Statistical test gained by computerized data processing with t-test p value>0,05 so it can be concluded that Ha refused by meaning that there was not a difference between number of FFA in used cooking oil which added garlic and red onion. Abstrak: Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak tak jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh. Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya.  Penggunaan minyak berkali-kali akan membuat ikatan rangkap minyak teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, minyak yang seperti ini dikatakan telah rusak dan berbahaya bagi kesehatan.  Suhu yang semakin tinggi dan semakin lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin naik. Selain karena penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan  trigliserida pecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Bawang merah dan bawang putih sangat tinggi akan kandungan antioksidannya. Manfaat bawang merah dan bawang putih yang membuatnya fenomenal di dunia medis adalah kemampuannya dalam memerangi kanker dan berbagai penyakit berbahaya. Ia juga dapat dijadikan sumber antioksidan yang sangat ampuh untuk memerangi radikal bebas di dalam tubuh. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata kadar asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih sebesar 5,29% dan bawang merah sebesar 5,22%. Hasil uji statistic diperoleh pengolahan data secara komputerisasi melalui uji-t  diperoleh nilai p > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha ditolak yang artinya tidak terdapat perbedaan kadar bilangan asam lemak bebas pada minyak goreng bekas yang ditambahkan bawang putih dan bawang merah.
Daya Hambat Konsentrasi Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi Dengan Metode Difusi Sugito Sugito; Slamet Slamet
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.154

Abstract

Abstract: Earthworms (Lumricus rubellus) is included in avertebrates animal (invertebrates) so they usually called soft animal. Earthworms (Lumricus rubellus) have lumbrokinases, peroksidase, catalase, cellulose and arhidonic acid which have capacity for reducing fever due to bacteria infection. Study objective was to identify potential concentration of earthworms stew water against Salmonella typhi advancement by using diffusion method. This study used laboratory experimental design with purposive sampling method, a determining sampling by selecting a sample within population based on desired research. This study resulted from 3 treatments with 30 measured total samples obtained minimum concentration was 20% which had 8 mm diameter of inhibitory zone, meanwhile 100% was the maximum concentration with 21 mm as diameter of inhibitory zone. According to statistical test, One Way ANova, gained value (p = 0,00 < 0,05) so H0 refused and Ha accepted, meaning that there was different inhibitory potency in each earthworms stew water in order to constrain Salmonella thypi growth with diffusion method applied. Conclusion from this study was the higher concentration of earthworms stew water, the higher inhibitory zone formed around paper disk.Abstrak: Cacing tanah (Lumricus rubellus) adalah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang) sehingga sering disebut binatang lunak. Cacing tanah (Lumricus rubellus) mengandung enzim lumbrokinase, peroksidase, katalase, dan selulosa. serta asam arhidonat yang mempunyai kemampuan menurunkan panas badan (deman) yang disebabkan infeksibakteri. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui daya konsentrasi air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Dengan metode difusi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium, dengan metode pengambilan sampel purposive sampling, yaitu suatu penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki penelitian. Hasil penelitian dari 3 perlakuan dengan 30 sampel dapat diketahui konsentrasi minimum 20% dengan diameter zona hambat 8 mm sedangkan konsentrasi maksimun 100% dengan diameter zona hambat 21 mm. Berdasarkan uji statistik menggunakanAnova One Wey diperoleh nilai (p = 0,00 < 0,05) maka HO ditolak dan Ha diterima, berarti terdapat perbedaan daya hambat air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan metode difusi. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu semakin tinggi konsentrasi air ribusan cacing tanah, maka semakin besar zona hambat yang terbentuk disekitar paper disk cakram.
Analisis Kadar Asam Sianida Pada Ubi Kayu Yang Direndam Dalam Larutan NAHCO3 20% Dengan Variasi Waktu Linda Triana; Laila Kamila
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.150

Abstract

Abstract: Cassava observed from nutrition side, it is highly contain of carbohydrate as calory source and the third major source of food after rice and corn. Containing useful compounds for body, however cassava also has cyanogenic glucose that is toxic or it is more familiar called blue toxic. To reduce cyanide level in cassava, it can be done by soaked into water that has been added NaHCO3 or baking soda. The purpose of this study was to identify the influence of immersion into 20% NaHCO3 solution with different time variation to the cyanide acid level in cassava. This sudy was a quasi experimental design. Cyanide acid level was determined by ion selective electrode with 28 samples taken by purposive sampling method. Simple regression linier anaylisis obtained significance value p=0,000 (p<0,05) thus Ha accepted, meaning that there was an influence of immersion into 20% NaHCO3 solution with different time variation to cyanide acid level in cassava. It is observed that immersion treatment into 20% NaHCO3 solution can decrease cyanide acid in cassava, the highest decline was in immersion for 12 hours. Cyanide acid before soakes was 61,8356 mg/kg and reduce to 9,76 mg/kg , or it was decrease about 84,22%.Abstrak: Ubi kayu ditinjau dari segi gizi kaya akan karbohidrat sebagai sumber kalori dan merupakan sumber bahan makanan ketiga di Indonesia setelah padi dan jagung. Selain mengandung senyawa yang berguna bagi tubuh ubi kayu juga mengandung senyawa glukosida sianogenik yang bersifat racun atau yang lebih dikenal dengan nama racun biru. Untuk menurunkan kadar sianida pada ubi kayu bisa dilakukan dengan cara perendaman didalam air dengan menambahkan NaHCO3 atau yang lebih dikenal dengan nama soda kue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam larutan NaHCO3 20% dengan variasi waktu terhadap kadar asam sianida pada ubi kayu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental semu. Penetapan kadar asam sianida menggunakan elektroda selektif ion dengan jumlah sampel sebanyak 28 buah yang ditentukan secara purposive sampling. Hasil uji statistic regresi linier sedehana diperoleh nilai signifikan p = 0,000 (p <0,05) sehingga  Ha diterima artinya ada pengaruh perendaman dalam larutan NaHCO3 20%  dengan variasi waktu terhadap kadar asam sianida pada ubi kayu. Perlakuan perendaman dengan larutan NaHCO3 20%  dapat menurunkan kadar asam sianida pada ubi kayu, penurunan terbanyak pada perendaman selama 12 jam. Asam sianida sebelum direndam sebesar 61,8356 mg/kg turun menjadi 9,76 mg/kg  terjadi penurunan sebesar 84,22%.
Gambaran Protein Urin Dan Glukosa Urin Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II Persadia RSU Santo Antonius Pontianak Etiek Nurhayati; Indah Purwaningsih
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.145

Abstract

Abstract: Diabetic mellitus  is a metabolic disease, with type I and II. Diabetic mellitus is chronic and  caused many organs complication. Diabetic nephrophathy is one of the manifestation of kidney complicattion that can caused the end stage of renal disease, and would need dyalisys therapy. The simple laboratory examination are urinay glucose test and protein urin test.The aim of this study  to determine the purpose  proteinuria and glucose urine of diabetic mellitus patient in Persadia of RSU St. Antonius. This  is a cross sectional study, with purposive sampling.  The proteinuria test and urine glucose by strip rapid test. This study was on Mei-November 2016. The 40 diabetic mellitus patient had participated. This study found 8  (20%) urin samples were protein urine positive  1, and  32 were negative. Urine glucose examination results 31 people negative, positive 1 in 5 people and positive 4 on 4 people. In type II DM patients found proteinuria and glucose in the urine, so patients with positive proteinuria should check again in 3-6 months to monitor kidney functionAbstrak: Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik, yang terdiri atas tipe I dan II. Penyakit DM adalah penyakit kronik dengan banyak komplikasi. Komplikasi pada ginjal berupa nefropati diabetik merupakan salah satu penyebab end stage of renal disease, dan memerlukan terapi dialysis. Pemeriksaan yang sederhana dan cukup efektif untuk mengetahui fungsi ginjal adalah pemeriksaan glukosa urin dan protein urin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran protein urin dan glukosa urin pada penderita DM tipe II di Persadia RSU St.Antonius Pontianak. Penelitian ini adalah cross sectional dan sampel diambil secara purposive sampling dari anggota Persadia yang hadir dan bersedia berpartisipasi. Pemeriksaan protein urin dan glukosa urin menggunakan carik celup. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-November 2016. Hasil penelitian pada 40 sampel urin penderita DM tipe II anggota Persadia terdapat 8 orang (20%) dengan hasil protein urin positif  1, sedangkan 32 orang lainnya negatif. Hasil pemeriksaan glukosa urin 31 orang negatif, positif 1 pada 5 orang dan positif 4 pada 4 orang. Pada penderita DM tipe II ditemukan proteinuria dan glukosa dalam urin, sehingga penderita dengan proteinuria positip harus periksa ulang dalam 3-6 bulan untuk memantau fungsi ginjalnya.
Efektivitas Air Perasan Daun Lidah Buaya (Aloe Vera) Terhadap Pertumbuhan Jamur Trichophyton Rubrum Dengan Metode Dillution Test Supriyanto Supriyanto; Kuswiyanto Kuswiyanto; Etiek Nurhayati
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.155

Abstract

Abstract: This research goals to identify the effect of inhibitory potency in Aloe vera  to fungi colonies Trichophyton rubrum and Candida albicans growth. Samples was scraped Aloe vera leaves which formed into jelly, that considered as 100% concentration (v/v), jelly was made into different concentrations, e.g 10%, 15%,20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60% v/v. Furthermore, it observed by the difference between those concentrations in inhibiting fungi colonies growth )Trichophyton rubrum and Candida albicans). Method used in this study was Dillution Test for identifying fungi colonies growth )Trichophyton rubrum and Candida albicans). The results reported in percentage of inhibited fungi colonies. In addition, it examined then by using Anova Test to make sure whether there was a difference or not between various concentration in inhibiting fungi colonies beefing up. Based on study, it is known that Aloe vera jelly was able to constrain fungi (Trichophyton rubrum and Candida albicans) improvement, but it could not capable to kill those fungi perfectly. Statistically, it can be seen that Aloe vera jelly was quite able to inhibit the growth of fungi colonies (Trichophyton rubrum  and Candida albican) with significance value P = 0,997 (P > 0,05).Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya hambat jeli lidah buaya (Aloe vera) terhadap pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Sampel berasal dari daging daun lidah buaya yang dikerok berupa jeli, yang konsentrasinya dianggap 100%(v/v), jeli dibuat variasi konsentrasi yaitu 10%, 15%,20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, 50%, 55% dan 60% v/v). Kemudian dilihat perbedaan antara konsentrasi dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Metode pada penelitian ini menggunakan Dillution Test terhadap pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans. Hasil penelitian berupa persentase jumlah koloni jamur yang dihambat. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji anava untuk mengetahui perbedaan antara konsentrasi perlakuan dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur. Berdasarkan dari penelitian dapat diketahui bahwa jeli lidah buaya mampu menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dan Candida albicans tetapi tidak sampai membunuh dengan sempurna. Namun secara stastisik jeli lidah buaya dapat menghambat pertumbuhan koloni jamur Trichophyton rubrum  dan Candida albican dengan nilai signifikansi P = 0,997 (P > 0,05).

Page 1 of 2 | Total Record : 14