De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
De Cive: Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan jurnal yang menerbitkan hasil penelitian dalam bidang, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Nilai, Pendidikan Moral, Pendidikan Politik, Pendidikan Hukum, Pendidikan Anti Korupsi, Pendidikan Multikultural, Pendidikan Karakter dan berbagai bidang lainnya yang mendukung pengembangan pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jurnal ini diterbitkan duabelas kali dalam setahun yang menampung berbagai naskah hasil penelitian dari para guru, dosen, mahasiswa maupun peneliti yang tertarik dalam bidang penelitian dan pembelajaran.
Articles
260 Documents
Filsafat Ilmu dan Pancasila Sebagai Dasar Negara dalam Memecahkan Permasalahan Bernegara
Azzahra, Fathimah
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 2 (2024): Februari
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i2.2072
Berbagai permasalahan di Indonesia kini marak terjadi. Masyarakat yang seharusnya tunduk pada aturan negara yang berlaku justru tak segan melakukan kejahatan yang menjadi permasalahan bangsa yaitu Tindakan radikalisme, tindakan anarkis seperti klitih yang baru-baru ini terjadi, korupsi, dll. Keberadaan filsafat ilmu beserta Pancasila dapat digunakan sebagai salah satu media dalam pemecahan masalah yang ada di negara Indonesia. Filsafat ilmu dapat digunakan sebagai media untuk berpikir serta sarana berkomunikasi secara ilmiah. Beberapa masalah yang muncul di keseharian kita tidak dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan konsep-konsep ilmu, sehingga adanya filsafat dan nilai Pancasila yang dapat memberi jawaban serta penjelasan atas berbagai permasalahan seperti radikalisme sangat dibutuhkan. Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara serta pandangan hidup bangsa Indonesia tentu memiliki peran penting dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan bernegara. Kajian ini menggunakan metode penelitian studi literatur. Terdapat tiga perspektif dalam filsafat ilmu yang dapat memberi pemahaman nilai Pancasila, di antaranya yaitu ontologi, aksiologi, dan epistimologi.
Persepsi dan Orientasi Politik Generasi Muda terhadap Pemilihan Partai Politik
Puspitasari, Indah
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 3 (2024): Maret
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i3.2073
Penelitian ini mengkaji tentang pengetahuan, persepsi, dan orientasi politik generasi muda terhadap partai politik. Penelitian ini juga penting untuk dilakukan karena generasi muda memiliki peranan penting dalam demokrasi dan disaat bersamaan memiliki partisipasi dan ketertarikan politik yang rendah. Metode yang digunakan ialah survei. Desain yang digunakan adalah desain Cross-Sectional. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah kuesioner dengan G-form dan wawancara. Partisipan penelitian ini adalah 35 orang dari remaja atau pemilih pemula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini didapatkan bahwa generasi muda terbagi ke dalam dua golongan ada yang memiliki pengetahuan yang cukup terkait partai politik, dan sebagian lagi merasa ragu-ragu dnegan pengetahuannya. Kemudian masih sangat rendahnya tingkat kepercayaan para generasi muda terhadap partai politik ini disebabkan oleh kasus korupsi, perebutan kekuasaan, dan hanya mementingkan golongan dari partai. Selanjutnya terkait orientasi pemilihan partai politik generasi muda didapatkan hasil tiga partai yang menghasilkan suara yang paling banyak yaitu PKS, Demokrat, dan Gerindra.
Paradigma Ideal Solusi Keantarbudayaan di Indonesia: Konsensual Atau Instruksional?
Putra, Tarekh Febriana
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 3 (2024): Maret
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i3.2074
Penelitian ini mengeksplorasi potensi faktor budaya untuk memicu konflik di masa depan di Indonesia, berdasarkan asersi Samuel P. Huntington dalam "The Clash of Civilization" bahwa konflik budaya akan melampaui konflik ekonomi atau ideologi. Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif untuk lebih memahami dinamika antarbudaya yang mungkin menyebabkan konflik identitas. Dengan melakukan wawancara, observasi, dan studi dokumen, penelitian ini menginterpretasikan nuansa pertemuan antarbudaya yang secara historis telah memolarisasi identitas, mempromosikan persatuan atau perpecahan dalam struktur sosial. Konflik sosial terkini di Indonesia, yang tampaknya tidak terkait dengan budaya, tetap saja mengungkapkan persimpangan budaya yang dalam. Contohnya termasuk kontroversi tentang kesesuaian agama seni pertunjukan wayang dan pelestarian bahasa versus kebijakan integrasi nasional, menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya menjadi dasar konflik ini. Temuan ini sejalan dengan teori Huntington, menekankan relevansi faktor budaya dalam konflik sosial kontemporer. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus yang lebih luas mengenai dampak dinamika budaya terhadap kesatuan nasional dan konflik sosial, mengusulkan bahwa pemahaman dan pengakuan yang lebih dalam terhadap perbedaan budaya sangat penting dalam mencegah potensi konflik di negara-negara multi-etnis seperti Indonesia.
Kepatuhan Hukum Mewujudkan Kesadaran Hukum Masyarakat
Ramadhan, Alexander Hero
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 3 (2024): Maret
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i3.2075
Penelitian ini tidak terlepas dari aturan-aturan yang berlaku, aturan yang bersifat tertulis maupum tidak tertulis dan aturan-aturan itu harus ditaati sepenuhnya di lingkungan masyarakat maupun di tempat kita berada. Metode penelitian berupa rangkaian konsep wawancara terlebih dahulu yaitu yang pertama mencari terlebih dahulu materi yang akan diberi pada narasumber, kemudian mencari narasumber untuk di wawancarai. Aturan itu dibuat agar tercipta rasa keadilan dan kehidupan yang damai bagi seluruh warganya. Untuk mendeskripsikan apa itu hukum, pandangan hukum yang ada di lingkungan masyarakat, bagaimana situasi hukum saat ini? Apakah sudah sesuai atau tidak? Apa solusi dan harapan hukum yang terjadi saat ini. Dalam menyusun rangkaian konsep wawancara terlebih dahulu yaitu yang pertama mencari terlebih dahulu materi yang akan diberi pada narasumber, kemudian mencari narasumber untuk di wawancarai. Ada satu masyarakat yaitu saudara Zainal Ilmi yang mengetahui apa yang terjadi kesadaran hukum yang ada di lingkungan masyarakat tersebut. Hal ini bertujuan agar ketertiban, kedamaian, ketentraman, dan keadilan dapat diwujudkan.
Pancasila Sebagai Filsafat Ilmu Nasional
Karianto, Yanda Putri Wulandari
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 3 (2024): Maret
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i3.2076
Pancasila adalah salah satu bentuk filsafat yang diterapkan di Indonesia. Dalam pembentukkannya Pancasila mengalami proses yang kompleks untuk mendapatkan kebenarannya. Sejak kemerdekaan Indonesia filsafat Pancasila berusaha ditanamkan bagi seluruh rakyat Indonesia terutama melalui pendidikan. Artikel ini ditulis dengan metode pendekatan kualitatif deskriptif. Data yang didapatkan untuk menulis artikel ini berasal dari studi literatur. Metode penelitian studi literatur ini merupakan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data pengumpulan data referensi. Adanya pendidikan filsafat pancasila di Indonesia diharapkan dapat menanamkan jiwa nasionalis bagi seluruh rakyat. Pada dasarnya filsafat dihadirkan dalam dunia pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi pelajar untuk berpikir secara rasional. Dengan pendidikan filsafat ilmu melalui Pancasila, para pendahulu mengharapkan pembentukan karakter ke arah positif bagi penerus bangsa ini melalui penyerapan nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Kelak penanaman nilai filsafat dari Pancasila akan membantu Indonesia agar menjadi bangsa yang maju. Pancasila yang menjadi ideologi negra telah dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran di seluruh sekolah di Indonesia.
Eksistensi Nilai Pancasila Dan Pendidikan Politik Yang Hilang Dalam Masyakat
Arsy, Ingrid Shintia
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 4 (2024): April
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i4.2077
Pancasila adalah pandangan hidup dan falsafah bangsa Indonesia, yang telah digantikan oleh ideologi lain. Pancasila merupakan dasar kesepakatan bangsa Indonesia untuk mempersatukan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila merumuskan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan karenanya menjadi dasar dari semua hukum dalam bermasyarakat, bernegara, dan kehidupan bernegara, dan dapat disebut sebagai visi atau pandangan hidup yang menjadi tujuannya. Nilai pancasila juga diamalkan dalam bidang sosial. Nilai-nilai sosial terletak pada sila kelima Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah negara dalam mengatasi kesenjangan sosial agar Seluruh Rakyat Indonesia menciptakan keadilan sosial untuk menciptakan pembangunan, adil atau seimbang, mencakup semua orang dan karena itu dihargai oleh semua kelompok dalam masyarakat. Pendidikan politik dianggap sebagai pendidikan nasional, khususnya pendidikan yang mampu membangkitkan semangat kebangsaan, membangkitkan kesadaran ideologis dan membentuk perilaku warga negara yang sesuai dengan harapan bangsa Indonesia.
Efektivitas Iklan Politik dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Warga Negara
Pradana, Iskandar Putra
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 4 (2024): April
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i4.2078
Dalam era kemajuan teknologi komunikasi, iklan politik di media massa, khususnya televisi, menjadi solusi alternatif dalam menangani rendahnya partisipasi politik di Indonesia. Artikel ini meneliti dampak dan efektivitas iklan politik dalam meningkatkan partisipasi politik serta pengetahuan politik masyarakat. Melalui metode studi kepustakaan, berbagai jenis iklan politik dan kriteria efektivitasnya dikaji, sementara pengaruhnya terhadap pemilih dan partisipasi politik dianalisis. Meskipun iklan politik di televisi efektif menjangkau pemilih potensial, namun tidak menjamin kemenangan seorang kandidat. Peran penting periklanan politik di televisi dalam membentuk sikap politik masyarakat dan meningkatkan partisipasi politik warga negara ditegaskan. Walau demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruhnya secara mendalam dalam konteks politik Indonesia. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa iklan politik melalui media televisi memberikan kontribusi signifikan dalam upaya meningkatkan partisipasi politik dan pengetahuan politik masyarakat, sementara tetap mengakui bahwa faktor-faktor lain juga memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Peran Masyarakat Mengimplementasikan Kesadaran dan Ketaatan Hukum di Lingkungan Loa Janan Ulu
Apriyani, Cici
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 4 (2024): April
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i4.2079
Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat kesadaran hukum dan ketaatan hukum warganya. Semakin tinggi kesadaran hukum dan ketaatan hukum penduduk suatu negara, akan semakin tertib kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Faktor kesadaran hukum dan ketaatan hukum ini mempunyai peran penting dalam perkembangan hukum, artinya semakin lemah tingkat kesadaran hukum masyarakat, semakin lemah pula ketaatan hukumnya sebaliknya semakin kuat kesadaran hukumnya semakin kuat pula faktor ketaatan hukum. Kesadaran hukum masyarakat yang pada gilirannya akan menciptakan suasana penegakan hukum yang baik, yang dapat memberikan rasa keadilan, menciptakan kepastian hukum dalam masyarakat dan memberikan kemanfaatan bagi anggota masyarakat. Metode yang saya gunakan adalah kualitatif. Hasil dari artikel penelitian saya adalah kesadaran hukum, ketaatan hukum, serta tindakan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kesadaran hukum. Kesimpulan Pada dasarnya masyarakat Indonesia tahu dan paham hukum, tetapi secara sadar pula mereka masih melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum. Para koruptor tahu bahwa menyelewengkan atau menggelapkan uang negara, organisasi, ataupun yayasan adalah tindak pidana, tetapi faktanya perbuatan itu masih tetap dilakukan. Kesadaran hukum masyarakat dewasa ini masih lemah yang identik dengan ketidaktaatan hukum.
Pengaruh Etnosentrisme dalam Pemilihan Pemimpin pada Masyarakat Majemuk di Indonesia
Azzahra, Kiki Nursafitri
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 5 (2024): Mei
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i5.2080
Penelitian ini dibuat berdasarkan suatu pertanyaan menarik yaitu adakah pengaruh etnosentrisme dalam pemilihan pemimpin pada masyarakat majemuk yang ada di Indonesia? karena munculnya beberapa anggapan bahwa keberhasilan memperoleh kemenangan suatu pemimpin karena etnisnya yang mendominasi. Namun apakah adanya kesamaan etnis, ras, suku, golongan/kelompok tertentu dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih seorang pemimpin? Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh etnosentrisme dalam pemilihan pemimpin pada masyarakat majemuk yang ada di Indonesia. Penelitian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan studi literatur yaitu mengkaji hasil suervey dan mengumpulkan data dengan artikel, buku dan lainnya. Yang kemudian hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memilih pemimpin dengan cara objektif, melihat bagaimana kemampuan dan sikapnya bukan berdasarkan karena adanya kesamaan etnis, ras, suku, golongan/kelompok tertentu.
Manifestasi Permainan Galah Asin Sebagai Warisan Budaya Untuk Penguatan Karakter Generasi Penerus Bangsa
Anggriawan, Kevlin
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 4 No. 5 (2024): Mei
Publisher : Actual Insight
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56393/decive.v4i5.2081
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap sebuah permasalahan krusial terkait hilangnya permainan tradisional yang menjadi kekuatan bangsa dalam melestarikan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. Galah asin merupakan permainan tradisional yang merupakan hasil karya masyarakat untuk dimainkan oleh anak-anak di sore hari bertujuan untuk mengisi kekosongan waktu dengan memainkan permainan yang bermanfaat. Banyak sekali sebutan permainan galah asin di beberapa wilayah akan tetapi pada prinsip-nya galah asin merupakan hasil karya masyarakat yang dijadikan budaya untuk melatih kecerdasan serta ketangkasan anak-anak tetapi perlahan galah asin sudah mulai dilupakan seiring hadirnya game online yang merampas eksistensi permainan tradisional. Dalam penelitian ini peneliti mencoba mengungkap fakta secara komprehensif mengenai lunturnya permainan galah asin selama ini. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwasanya galah asin merupakan unsur dalam memperkuat karakter generasi penerus bangsa kemudian dalam penelitian ini peneliti mencoba memberikan tawaran solutif untuk mengeksistensikan kembali permainan galah asin.