cover
Contact Name
Abdul Muis
Contact Email
muis@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
bambang.bs@unram.ac.id
Editorial Address
Jln. Pendidikan No. 62 Mataram Fakultas Pertanian Universitas Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Published by Universitas Mataram
ISSN : -     EISSN : 28303431     DOI : https://doi.org/10.29303/jima.v1i3
JIMA (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek merupakan media jurnal elektronik ilmiah yang dikelola oleh Fakultas Pertanian Universitas Mataram. JIMA sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi atau tugas akhir mahasiswa yang diterbitkan sebanyak tiga periode, yaitu pada Maret, Juli, dan November. Focus JIMA, pada publikasi hasil penelitian, kajian, dan gagasan pengembangan ilmu pengetahuan bidang agrokomplek (agroekoteknologi, agribisnis, ilmu tanah, ilmu kehutanan, dan budidaya perikanan serta ilmu kelautan). JIMA, menerima artikel yang belum pernah dipublikasi dalam bentuk media publikasi apapun. Tim Redaksi JIMA berhak memperbaiki tata tulis artikel tanpa merubah isi tulisan. Artikel dimuat setelah melalui tahap editing dan reviewing.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 354 Documents
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Baby Corn pada berbagai Dosis Pupuk NPK dan Dosis Kompos Kotoran Sapi Nanda Rohimawati; Bambang Budi Santoso; Aluh Nikmatullah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7620

Abstract

Jagung semi (baby corn) merupakan sayuran populer di Asia yang dipanen sebelum pembuahan dan memiliki kandungan gizi tinggi serta rendah kalori. Komoditas ini semakin diminati karena rasanya yang manis dan dapat dikonsumsi mentah maupun dimasak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk NPK dan dosis kompos kotoran sapi serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil baby corn. Penelitian dilaksanakan pada Agustus–November 2024 di Dusun Mongge 2, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Perlakuan terdiri dari dua faktor, yaitu dosis pupuk NPK (50%, 75%, dan 100% dari rekomendasi 300 kg/ha) dan dosis kompos kotoran sapi (10, 25, dan 40 ton/ha), menghasilkan 9 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga total 27 petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 6 MST dan jumlah tongkol per tanaman, khususnya pada dosis 50% (150 kg/ha) dan 75% (225 kg/ha). Kompos kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST, laju pertumbuhan relatif tinggi tanaman, jumlah tongkol per tanaman, berat setiap tongkol, berat tongkol per tanaman, dan berat tongkol per meter persegi. Dosis 10 dan 25 ton/ha memberikan hasil lebih baik dibandingkan 40 ton/ha, kecuali pada jumlah tongkol. Tidak terdapat interaksi nyata antara dosis pupuk NPK dan kompos terhadap pertumbuhan dan hasil baby corn.
Tingkat Kerusakan Hama Penggerek Batang (Omphisa anastomasalis) pada Enam Kultivar Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Retno Muninggar; Bambang Supeno; Hery Haryanto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7638

Abstract

Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan tanaman yang memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional karena kandungan gizinya yang lengkap, termasuk karbohidrat, vitamin, mineral, protein, lemak, betakaroten, antosianin, senyawa fenolik, dan serat. Di Indonesia, ubi jalar dikenal sebagai salah satu sumber karbohidrat alternatif yang berperan penting dalam sektor pangan, industri pakan ternak, serta sebagai bahan baku untuk berbagai keperluan. Tanaman ini dianggap memiliki potensi untuk menggantikan beras sebagai makanan pokok karena lebih efisien dalam menghasilkan energi, serta kaya akan vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat kerusakan hama penggerek batang (Omphisa anastomasalis) pada enam kultivar ubi jalar (Ipomoea batatas L.) Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan kultivar ubi jalar (A). Keenam kultivar tersebut adalah Lato-lato (A1), Cilembu (A2), Tailan(A3), Kentang (A4), Ase (A5), Ungu (A6). Perlakuan-perlakuan tersebut diulang 4 kali sehingga diperoleh 24 unit perlakuan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, tingkat kerusakan hama penggerek batang (Omphisa anastomasalis) tidak berbeda nyata pada enam perlakuan ubi jalar (Ipomoea batatas L.) tingkat kerusakan tergolong rendah hingga sedang. Intensitas kerusakan pada batang yaitu kultivar tailan 25,10%, cilembu 22,92%, ase 22,54%, ungu 22,14%, kentang 21,95%, lato-lato20,44%. Sedangkan intensitas kerusakan diameter batang yaitu semakin besar kerusakan diameter batang maka cendrung lebih disukai oleh hama tersebut.
Pengaruh Pemberian Rumput Laut yang Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kerang Abalon (Haliotis squamata) Devi Wahyuni Cahyani; Muhammad Junaidi; Wastu Ayu Diamahesa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7645

Abstract

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia, yakni sekitar 81.000 km. Salah satu jenis ikan yang banyak diminati dalam budidaya adalah abalon (Haliotis squamata) yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar yang tinggi. Namun, budidaya abalon masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi, sulitnya mendapatkan benih berkualitas, masa budidaya yang panjang, serta manajemen pakan yang kurang memadai. Di antara kendala tersebut, manajemen pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya abalon. Pakan memegang peranan penting, terutama sebagai sumber energi untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan abalon. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang terdiri dari lima perlakuan pemberian pakan dan tiga kali ulangan, yaitu P1 (Ulva sp.), P2 (Kappaphycus alvarezii), P3 (Gracilaria sp.), P4 (Gracilaria sp. + Ulva sp.), dan P5 (Gracilaria sp. + Kappaphycus alvarezii). Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan P4, yaitu kombinasi Gracilaria sp. dan Ulva sp. secara signifikan meningkatkan kinerja pertumbuhan. Perlakuan ini menghasilkan pertambahan berat tertinggi yakni 2,62 gram, pertambahan panjang 0,64 cm, laju pertumbuhan spesifik (SGR) 2,05% per hari, efisiensi pemanfaatan pakan 88%, total konsumsi pakan 161,26 gram, rasio konversi pakan (FCR) 1,14, dan tingkat kelangsungan hidup 85%.
Peran Kandungan C-Organik, Nitrogen, Fosfat, Kalium Tanah Entisol dalam Mendukung Pertumbuhan Sorgum (Sorghum bicolor L.) di Lombok Utara Baiq Najwa Tiara Safitri; Naufal Rifki Abibreza; Rangga Saputra; Riski Hidayah; Rizki Amelia; Fitria Zulhaedar; Titin Sugianti; Yanti Triguna; Fahrudin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7653

Abstract

Kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki iklim kering dan didominasi oleh lahan kering. Wilayah ini didominasi oleh tanah berordo Entisol, yaitu tanah muda secara perkembangan pedogenik dengan tekstur berpasir, reaktivitas tanah yang beragam (pH 5,6–8,5), serta kandungan unsur hara seperti fosfor (P) dan kalium (K), kapasitas tukar kation (KTK), dan kejenuhan basa yang tinggi. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) memiliki potensi besar untuk dibudidayakan di wilayah ini karena adaptif terhadap lahan kering dan kini menjadi perhatian dalam pengembangan alternatif ketahanan pangan dan energi baru terbarukan (EBT). Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Pengambilan contoh tanah dilakukan pada lahan terbuka di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, dengan lima titik sampling pada ketinggian 200–250 mdpl menggunakan metode random samping pada kedalaman 0–30 cm. Berdasarkan hasil analisis laboratorium didapatkan hasil C-Organik 0,38 %, N-total 0,08%, P-total 4,463%, K-total 0,092% dan tekstur liat berlempung. Parameter tekstur, C-organik, N-total, dan K-total berada dalam kelas S3, sedangkan P-total termasuk dalam kelas S1 (sangat sesuai). Dapat dikategorikan tanah entisol di Lokasi kajian secara umum termasuk dalam kelas kesesuaian lahan S3 (lahan maginal) untuk budidaya tanaman sorgum.
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Galur S3 Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Kering Ika Kusuma Narda; I Wayan Sudika; Lestari Ujianto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7662

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik dan heritabilitas arti luas karakter kuantitatif galur S3 tanaman jagung di lahan kering. Percobaan dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2024, bertempat di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktorial, dengan perlakuan sebanyak 15 genotipe yaitu 15 galur S2. Data hasil pengamatan karakter yang diamati dianalisis menggunakan analisis keragaman (ANOVA), Perhitungan koefisien keragaman genetik (KKG) dan heritabilitas arti luas (H2). Hasil penelitian menunjukan bahwa antar karakter kuantitatif memiliki keragaman genetik yang beragam. Nilai Koefisien Keragaman Genetik (KKG) yang di peroleh berkisar antara 2,29% hingga 48,20%. Keragaman genetik kategori luas diperoleh pada karakter bobot biji kering pipil per plot. Karakter tinggi tanaman, sudut daun, bobot tongkol kering panen per tanaman dan bobot 1.000 butir biji memiliki keragaman genetik kategori sedang. Keragaman genetik kategori sempit diperoleh pada karakter jumlah daun per tanaman, luas daun, diameter batang, panjang tongkol dan diameter tongkol. Heritabilitas arti luas antar karakter kuantitatif adalah beragam. Nilai heritabilitas diameter tongkol tergolong tinggi. Karakter tinggi tanaman, sudut daun, luas daun, diameter batang dan bobot 1.000 butir biji tergolong sedang dan karakter lainnya tergolong rendah.
Tingkat Serangan Hama Ulat Pelipat Daun (Brachmia convolvuli Wals.) dan Hasil Enam Kultivar Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Alifia Fidri Misbahul Ummah; Hery Haryanto; Bambang Supeno
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7668

Abstract

Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu komoditas pangan potensial sebagai alternatif pengganti beras. Namun, produktivitas tanaman ini seringkali menurun akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), salah satunya adalah hama ulat pelipat daun (Brachmia convolvuli Wals.). Hama ini menyerang bagian daun dengan cara melipat dan memakan jaringannya, sehingga menghambat proses fotosintesis dan berdampak pada penurunan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan ulat pelipat daun (Brachmia convolvuli Wals.) dan hasil enam kultivar ubi jalar (Ipomoea batatas L.). Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimental. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 6 perlakuan kultivar ubi jalar (K). Perlakuan tersebut adalah Kultivar Lato-lato (KA), Cilembu (KB), Tailand (KC), Kentang (KD), Ase (KE) dan Ungu (KF). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh sebanyak 24 unit percobaan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis of varience (ANOVA), Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5% dan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan hama ulat pelipat daun menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata. Tingkat serangan hama ulat pelipat daun tertinggi pada umur 63 HST di semua kultivar ubi jalar. Hubungan tingkat serangan dan hasil ubi jalar sangat rendah yaitu sebesar 13,67%.
Pengaruh Perlakuan Khusus Biji dan Pemberian Ekstrak Bawang Merah terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao Ririn Dwi Putri; l Komang Damar Jaya; Hery Haryanto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7670

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) terhadap perlakuan khusus biji dan pemberian ekstrak bawang merah (Allium cepa var. aggregatum). Satu percobaan dilaksanakan mulai bulan Maret hingga April 2025 di Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan khusus pada biji dengan dua aras; kulit biji dihilangkan (p1) dan kulit biji tidak dihilangkan (p2). Faktor kedua adalah pemberian ekstrak bawang merah dengan beberapa konsentrasi, yaitu: 0% (k0), 25% (k1), 50% (k2), 75% (k3), dan 100% (k4). Semua perlakuan memiliki lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan khusus biji dan perlakuan pemberian ekstrak bawang merah pada parameter hari munculnya kotiledon dan luas daun, dengan hasil terbaik pada perlakuan p1k1 untuk hari munculnya kotiledon dan p2k1 untuk luas daun. Perlakuan khusus biji juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hari munculnya kotiedon, tinggi bibit, dan diameter batang, dengan hasil terbaik pada perlakuan p1. Sementara itu, perlakuan pemberian ekstrak bawang merah berpengaruh secara nyata pada parameter hari munculnya kotiledon, jumlah daun, luas daun, berat basah, dan berat kering, dengan hasil terbaik pada perlakuan k1. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penghilangan kulit biji yang dibarengi dengan ekstrak bawang merah konsentrasi rendah dapat memperbaiki pertumbuhan bibit kakao.
Karakter Kuantitatif Beberapa Genotipe Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) pada Berbagai Kerapatan Tanaman Baris Ganda Ridha Ayumnuazmi; A. Farid Hemon; I Wayan Sutresna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7766

Abstract

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman palawija penting dengan nilai ekonomi dan kandungan gizi tinggi. Seiring berkurangnya luas lahan akibat alih fungsi, peningkatan produktivitas melalui pengaturan kerapatan tanam dan seleksi genotipe unggul menjadi strategi penting dalam budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter kuantitatif lima genotipe kacang tanah (Hypoma-1, G300-II, G200-I, G19-UI, dan Pelanduk) pada berbagai kerapatan pola tanam baris ganda (50×20 cm; 50×(20×25) cm; 50×(20×20) cm; 50×(20×15) cm), serta mengidentifikasi kombinasi perlakuan yang memberikan hasil terbaik sebagai dasar seleksi dalam pemuliaan. Penelitian dilaksanakan di Lahan Kering Teaching Farm, Desa Sigerongan, Lombok Barat pada Mei–September 2024 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Split Plot. Analisis data menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa baik faktor genotipe maupun kerapatan tanam berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan dan hasil, dengan adanya interaksi signifikan pada jumlah dan bobot polong. Genotipe Pelanduk menunjukkan respons agronomis terbaik pada kerapatan tinggi 50×(20×15) cm, menghasilkan bobot polong kering per plot tertinggi (1.159 g), selain itu, genotipe Hypoma-1 dan G19-UI yang ditanam pada kerapatan 50×(20×20) cm juga menunjukkan hasil tinggi, masing-masing 1.038,3 g (2,5 ton/ha) dan 1.025,3 g per plot (2,5 ton/ha). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaturan kerapatan tanam baris ganda yang tepat sesuai genotipe berperan penting dalam peningkatan produktivitas dan dapat dijadikan dasar rekomendasi dalam budidaya kacang tanah.
Karakter Kuantitatif dan Heritabilitas Beberapa Genotipe Kacang Tanah yang ditanam dalam Pola Baris Ganda dengan Bawang Merah Baiq Khalda Aulia; A. Farid Hemon; I Wayan Sudika
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter kuantitatif dan nilai heritabilitas beberapa genotipe kacang tanah yang dibudidayakan dalam sistem tanam pola baris ganda bersama bawang merah. Penelitian dilaksanakan di lahan kering Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat pada Juni-September 2023. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima genotipe kacang tanah, yaitu G200-I, G300-II, G19-UI, G2D7, dan BISON, diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, panjang akar, panjang ruas batang, jumlah polong, jumlah polong cipo, berat polong kering, berat akar kering, berat brangkasan atas, dan berat kering total polong per plot. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf 5% dan uji lanjut Duncan. Nilai heritabilitas dihitung untuk mengetahui besarnya pengaruh genetik terhadap keragaman karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter hasil antar galur kacang tanah berbeda. Genotipe G300-II menunjukkan berat polong kering total tertinggi per plot. Karakter dengan nilai heritabilitas tinggi antara lain tinggi tanaman (20, 40, 60 HST), jumlah daun (20 HST), jumlah cabang (40 HST), jumlah polong cipo, berat akar kering, berat brangkasan atas, dan berat total polong per plot. Heritabilitas sedang ditemukan pada beberapa karakter tanaman, sedangkan panjang akar, panjang ruas batang, dan jumlah daun (60 HST) menunjukkan heritabilitas rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar karakter penting dapat ditingkatkan melalui seleksi genetik, sehingga bermanfaat untuk program pemuliaan tanaman dan pengembangan sistem tanam baris ganda kacang tanah dengan bawang merah.
Ketahanan Beberapa Genotipe Kacang Tanah yang diberi Kalsium terhadap Infeksi Sclerotium rolfsii Sacc. Penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang Zahratul Aeni; A. Farid Hemon; Irwan Muthahanas
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jima.v4i2.7771

Abstract

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi, namun produksinya mengalami penurunan sebesar 7,87% pada tahun 2023. Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii menjadi salah satu faktor utama penurunan hasil kacang tanah karena mampu menginfeksi jaringan pangkal batang hingga menyebabkan nekrosis, kelayuan, dan kematian tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian kalsium (Ca) terhadap ketahanan beberapa genotipe kacang tanah terhadap infeksi S. rolfsii serta mengidentifikasi genotipe yang paling responsif terhadap perlakuan tersebut. Penelitian dilaksanakan pada Mei–September 2024 di Laboratorium Mikrobiologi dan plastik house Desa Sigerongan, Lombok Barat, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola petak terpisah (split plot) dengan tiga ulangan. Faktor utama adalah dosis kalsium karbonat (0 Kg/Ha dan 300 Kg/Ha), dan faktor anak petak terdiri atas 10 genotipe kacang tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketahanan genetik alami ditunjukkan oleh genotipe Domba dengan intensitas penyakit sebesar 60% dan kematian tanaman 0% baik pada perlakuan kalsium maupun tanpa pemberian kalsium. Genotipe Maluku menunjukkan intensitas penyakit paling rendah berturut turut dari 90% menjadi 60% dengan persentase tanaman mati 0% setelah pemberian kalsium. Pemberian kalsium pada genotipe Pelanduk menunjukkan interaksi terbaik terhadap hasil dengan peningkatan jumlah polong kering berisi dari 4,00 menjadi 10,00 buah/polybag. Dari hasil tersebut, genotipe Maluku, Domba dan Pelanduk dapat direkomendasikan sebagai genotipe yang potensial untuk dikembangkan terutama pada daerah yang rentan terhadap serangan S. rolfsii dengan memberikan kalsium tambahan pada media tanam.