cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 42 Documents
Keruntuhan Eksistensi Tafsir Lokal Sunda: Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dalam Sorotan Historis dan Sosiologis Masyarakat Kontemporer Falabibah, Nur Hayyah; Bagaskara, Syamsul Ma’arif
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29618

Abstract

This article aims to conduct a critical analysis of the decline of Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun using text analysis methods, historical studies, and critical approaches. Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun is a local Sundanese-language tafsir that was once popular in West Java and was the only complete 30-juz tafsir book in Sundanese that had been printed repeatedly. However, in recent years, this tafsir has experienced a significant decline, nearly leading to its extinction. Through historical and social analysis, this study reveals how the tafsir once held considerable cultural influence among the Sundanese community but has suffered a decline due to several key factors. These factors include subjective interpretations often based on individual perceptions without a solid scientific foundation, as well as the misuse of the tafsir for specific political and ideological interests, which has distorted its understanding. Additionally, rapid cultural changes and shifting contexts were not adequately anticipated by the interpreters, along with the minimal application of scientific methods such as linguistic, historical, and social analysis, which contributed to the acceleration of the tafsir’s decline. Theological differences have also caused divisions that diminished the tafsir’s credibility in the eyes of the broader community. This study emphasizes the importance of adopting a more critical, comprehensive, and contextual approach to understanding and interpreting sacred texts, integrating historical, scientific, and social contexts. As a solution, the study recommends revitalizing this local tafsir through the development of systematic scientific methods, improved documentation, and interdisciplinary involvement to maintain its relevance in contemporary societal dynamics. Abstrak: Artikel ini bertujuan melakukan analisis kritis terhadap keruntuhan Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dengan menggunakan metode analisis teks, kajian sejarah, dan pendekatan kritis. Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun merupakan tafsir lokal berbahasa Sunda yang pernah populer di Jawa Barat dan menjadi satu-satunya kitab tafsir lengkap 30 juz dalam bahasa Sunda yang pernah dicetak berulang kali. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tafsir ini mengalami penurunan signifikan hingga hampir kehilangan eksistensinya. Melalui analisis historis dan sosial, penelitian ini mengungkap bagaimana tafsir ini dahulu memiliki pengaruh kultural yang kuat di masyarakat Sunda, namun mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor penting. Faktor-faktor tersebut meliputi interpretasi subjektif yang kerap didasarkan pada presepsi individual tanpa landasan ilmiah yang kuat, serta adanya penyalahgunaan tafsir untuk kepentingan politik dan ideologis tertentu yang menyebabkan distorsi pemahaman. Selain itu, perubahan budaya dan konteks zaman yang cepat tidak diantisipasi dengan baik oleh penafsir, serta minimnya penggunaan metode ilmiah seperti analisis linguistik, historis, dan sosial, turut mempercepat kemunduran tafsir ini. Perbedaan teologis juga menimbulkan perpecahan yang mengurangi kredibilitas tafsir tersebut di mata masyarakat luas. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang lebih kritis, komprehensif, dan kontekstual dalam memahami serta menafsirkan teks-teks suci, yang mengintegrasikan konteks historis, ilmiah, dan sosial. Sebagai solusi, penelitian merekomendasikan revitalisasi tafsir lokal ini melalui pengembangan metode ilmiah yang sistematis, dokumentasi yang lebih baik, serta keterlibatan lintas disiplin untuk menjaga relevansi tafsir dengan dinamika masyarakat kontemporer.
Strategies and Methods for Memorizing al-Qur’an: A Comparative Analysis of al-Qur’an Memorization Systems at Ummu Aiman and An-Nahl Islamic Boarding Schools in Kampar, Riau Jannah, Miftahul; Hakim, Lukmanul; Saifullah, Saifullah
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.30677

Abstract

This study aims to compare the Qur’an memorization methods employed at two specialized Tahfidz Islamic boarding schools: Ummu Aiman and An-Nahl Kampar in Riau. Both institutions implement the Wahdah method, a technique that involves memorizing one verse sequentially through repeated recitation to establish a strong and systematic memory pattern. This research adopts a qualitative approach, utilizing an in-depth field study to examine the characteristics of the memorization methods and to identify the similarities and differences in the memorization practices at both schools. The findings indicate that the Wahdah method serves as the foundational basis for memorization learning in both pesantrens. However, notable differences exist in the organization of halaqah (study circles), the habituation methods employed prior to memorization, and the establishment of memorization targets. At Ummu Aiman Islamic boarding school, students are required to attend tahsin classes to perfect their Qur’anic recitation according to proper tajwid rules before commencing the memorization process. In contrast, at An-Nahl Islamic boarding school, students are directed to begin memorizing according to predetermined tahfidz targets without first participating in recitation habituation classes. This study provides a comprehensive and informative comparative analysis of the Wahdah method as practiced in these Tahfidz pesantrens. The results can serve as a strategic reference for developing more effective and efficient Qur’an memorization teaching methods and assist similar educational institutions in designing memorization programs tailored to the needs and characteristics of their students. Abstrak: Penelitian ini bertujuan membandingkan metode menghafal Al-Qur’an yang diterapkan di dua pesantren khusus Tahfidz, yaitu Pondok Pesantren Ummu Aiman dan Pondok Pesantren An-Nahl Kampar, Riau. Kedua pesantren tersebut menggunakan metode wahdah, yaitu teknik menghafal satu ayat secara berurutan dengan pengulangan berulang untuk membentuk pola ingatan yang kuat dan sistematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi lapangan mendalam yang memfokuskan pada karakteristik metode penghafalan, serta identifikasi persamaan dan perbedaan dalam pelaksanaan hafalan di kedua pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode wahdah menjadi landasan utama pembelajaran hafalan di kedua pesantren, tetapi terdapat perbedaan pada aspek pembagian halaqah, metode pembiasaan sebelum menghafal, serta penetapan target hafalan. Pondok Pesantren Ummu Aiman mewajibkan santri mengikuti kelas tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid yang benar sebelum memulai proses menghafal. Sebaliknya, Pondok Pesantren An-Nahl langsung mengarahkan santri menghafal sesuai target tahfidz yang telah ditentukan tanpa melalui kelas pembiasaan bacaan terlebih dahulu. Penelitian ini memberikan gambaran komparatif yang mendalam dan informatif mengenai praktik metode wahdah di pesantren-pesantren tahfidz tersebut. Hasilnya dapat menjadi acuan strategis dalam mengembangkan metode pembelajaran tahfidz Al-Qur’an yang lebih efektif dan efisien, serta membantu institusi pendidikan serupa dalam merancang program penghafalan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik santri.
Resepsi Fungsional Al-Qur’an dalam Tradisi Keagamaan Lokal: Studi atas Tradisi Roah Kemalik pada Masyarakat Rembiga, Nusa Tenggara Barat Anshori, Muhammad Helmi; Muhaimin, Abdul; Azmi, Aulul; Fathoni, Ahmad
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29784

Abstract

This article aims to examine how the Rembiga community in West Nusa Tenggara receives and interprets the verses of the Qur’an within the Roah Kemalik tradition, which is deeply embedded in their social and cultural life. The Roah Kemalik tradition developed from the spread of Islam by figures such as Sunan Prapen and Ratu Ambiya and consists of rituals involving the recitation of Qur’anic verses believed to offer protection from disasters and calamities. This study employs a qualitative approach with a descriptive analytical method to elucidate the meanings and social functions of this tradition. The research questions addressed in this study are as follows: First, how is the Qur’an understood by the Rembiga community within the Roah Kemalik tradition? Second, in what forms is the reception of the Qur’an manifested in this tradition? The study concludes that the Rembiga community regards the Qur’an as sacred and deserving of sanctification. This tradition also serves as a process for the transmission and transformation of knowledge and practices that have existed since the arrival of Islam on Lombok Island. Generally, they interpret the Qur’an as a form of tafa’ul (a sign of good fortune); consequently, the meanings that emerge do not always align logically with the original intent of certain verses. The Roah Kemalik tradition is also grounded in several hadiths of the Prophet that legitimize the practice, which has been inherited and preserved by community authorities. This study affirms that the Roah Kemalik tradition is a dynamic social construct that harmonizes Islamic teachings with local culture, thereby shaping the religious identity of the Rembiga community to this day. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat Rembiga, Nusa Tenggara Barat menerima dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dalam tradisi Roah Kemalik yang melekat kuat dalam kehidupan sosial dan budaya mereka. Tradisi Roah Kemalik berkembang mulai dari penyebaran Islam oleh tokoh-tokoh seperti Sunan Prapen dan Ratu Ambiya’, meliputi ritual pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang diyakini memberikan perlindungan dari bencana dan musibah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis untuk mendeskripsikan makna dan fungsi sosial tradisi tersebut. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah: Pertama, bagaimana Al-Qur'an dipahami oleh komunitas Rembiga dalam tradisi Roah Kemalik? Kedua, dalam bentuk apa penerimaan komunitas Rembiga dalam tradisi Roah Kemalik? Studi ini menyimpulkan bahwa komunitas Rembiga memandang Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci dan harus disucikan. Tradisi ini juga merupakan proses transmisi dan transformasi pengetahuan serta praktik yang telah ada sejak kedatangan Islam di pulau Lombok. Mereka umumnya memahami Al-Qur’an sebagai bentuk tafa’ul (tanda keberuntungan), sehingga dalam praktik yang dilakukan oleh masyarakat Rembiga, makna yang terkadang muncul tidak selalu sejalan secara logis dengan maksud asli ayat tertentu. Tradisi Roah Kemalik ini juga didasarkan pada beberapa hadis Nabi yang melegitimasi tradisi tersebut dan telah menjadi praktik yang diwariskan serta dilestarikan oleh otoritas masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa tradisi Roah Kemalik merupakan konstruksi sosial dinamis yang mengharmoniskan antara ajaran Islam dan budaya lokal, membentuk identitas keagamaan masyarakat Rembiga hingga saat ini.
Dialektika Transgender dan Hadis Nabi: Analisis Semiotika terhadap Hadis Riwayat Bukhari No. 5885 Lubis, Manahara Alamsyah; Harun, Amrullah
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29726

Abstract

The transgender phenomenon is a social reality that is becoming increasingly evident in contemporary society. From the perspective of hadith, behaviors that mimic the opposite gender are regarded as prohibited. This study aims to examine the hadith that prohibits the imitation of the opposite gender within the context of the transgender phenomenon, utilizing Umberto Eco’s semiotic communication approach. The research questions include: What are the general and Islamic views on transgender issues? How does the dialectic between the hadith regarding transgender and Eco’s semiotic theory manifest? How is this theory applied to the hadith that prohibits dressing like the opposite gender? This study employs qualitative methods, drawing on literature sources, with the primary hadith sourced from al-Bukhari No. 5885, and theoretical insights from the Theory of Semiotics. The analysis is conducted by adapting the elements of semiotic communication: source, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II, and destination, with the addition of message I to capture the intention of the Prophet as the direct transmitter. The results indicate that the Prophet serves as the source, the Prophet’s sayings represent message I, the narrators act as transmitters, oral transmission functions as signal I, hadith collections serve as the channel, the written text represents signal II, the Muslim community acts as the receiver, the hadith text constitutes message II, and the understanding of meaning serves as the destination. The hadith explicitly prohibits Muslims from deliberately imitating the opposite gender in various aspects, including clothing, adornments, speech style, and mannerisms. Intentional engagement in transgender behavior is categorized as condemned conduct. However, for individuals with innate tendencies, Islam underscores the importance of self-adjustment in accordance with fitrah, as taught in Islamic teachings.Abstrak: Fenomena transgender merupakan realitas sosial yang semakin nyata dalam masyarakat modern. Dalam perspektif hadis, perilaku menyerupai lawan jenis dipandang sebagai sesuatu yang terlarang. Penelitian ini bertujuan mengkaji hadis larangan menyerupai lawan jenis dalam konteks fenomena transgender dengan menggunakan pendekatan semiotika komunikasi Umberto Eco. Rumusan masalah mencakup: bagaimana pandangan umum dan Islam terhadap transgender, bagaimana dialektika antara hadis tentang transgender dan teori semiotika Eco, serta bagaimana penerapan teori tersebut terhadap hadis larangan berpakaian seperti lawan jenis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan sumber-sumber kepustakaan, sumber utama hadis riwayat al-Bukhari No. 5885 dan teori dari A Theory of Semiotics. Analisis dilakukan dengan mengadaptasi unsur-unsur komunikasi semiotik: source, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II,dan destination, serta menambahkan message I untuk menangkap intensi makna Nabi sebagai penyampai langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa Nabi merupakan sumber (source), sabda Nabi sebagai message I, perawi sebagai transmitter, penyampaian lisan sebagai signal I, kitab hadis sebagai channel, redaksi tertulis sebagai signal II, umat sebagai receiver, redaksi hadis sebagai message II, dan pemahaman makna sebagai destination. Hadis tersebut secara eksplisit melarang umat Islam untuk menyerupai lawan jenis dalam aspek pakaian, perhiasan, gaya bicara, dan cara berjalan secara sengaja. Fenomena transgender yang dilakukan secara sadar masuk dalam kategori perilaku yang dilaknat. Namun, bagi individu yang memiliki kecenderungan bawaan, Islam menekankan pentingnya penyesuaian diri sesuai fitrah menurut ajaran Islam.
Rekonstruksi Makna Fasad dalam Isu Pemanasan Global Perspektif Tafsir Maqasidi Agita, Nadia; Harun, Muhammad Safwan
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29774

Abstract

This article aims to reconstruct the meaning of fasād (enviromental damage) in the Qur’an through a tafsir maqāṣidīapproach, serving as a theological response to the issue of global warming. Contemporary phenomena of environmental degradation, such as pollution, deforestation, and extreme climate change, are understood as tangible manifestations of the concept of fasād, as referenced in Q.S. Ar-Rūm: 41. This study employs qualitative research methods, utilizing library sources and the maqāṣidī interpretative approach as its analytical framework. The findings indicate that the understanding of ecological verses has evolved from classical textual interpretations to scientific and logical approaches during the medieval period, and further to contextual interpretations that address contemporary environmental challenges. The reconstruction of the meaning of fasād is highly relevant in developing an Islamic ecotheology paradigm and supports the establishment of a civilized and sustainable society. This study emphasizes that tackling global warming necessitates not only technical and scientific solutions, but also spiritual and ethical approaches grounded in revealed values. The maqāṣidī interpretation offers an integrative and transformative analytical framework for understanding fasād as a moral failure of humanity in fulfilling the mandate of khilāfah on earth. Environmental preservation requires the integration of religious and moral dimensions as the ethical foundation for collective action within the Muslim community, with the maqāṣidī approach serving as a normative basis for Islamic ecological policies aimed at fostering sustainable ecological awareness and facilitating constructive dialogues between theology, environmental science, and public policy in comprehensively addressing the climate crisis.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi makna fasād (kerusakan lingkungan) dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī sebagai respons teologis terhadap isu pemanasan global. Fenomena kerusakan lingkungan kontemporer seperti pencemaran, deforestasi, dan perubahan iklim ekstrem dipahami sebagai manifestasi nyata dari konsep fasād sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Ar-Rūm: 41. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang memanfaatkan sumber-sumber pustaka serta menggunakan pendekatan tafsir maqashidi sebagai pisau analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat ekologis telah mengalami perkembangan dari tafsir klasik tekstual, menuju pendekatan ilmiah dan logis di era pertengahan, hingga tafsir kontekstual yang responsif terhadap tantangan lingkungan kontemporer. Rekonstruksi makna fasād ini memiliki relevansi penting dalam membangun paradigma ekoteologi Islam serta mendukung pembangunan peradaban yang berkeadaban dan berkelanjutan. Studi ini menegaskan bahwa penanggulangan pemanasan global tidak hanya membutuhkan solusi teknis dan ilmiah, tetapi juga pendekatan spiritual dan etis berbasis nilai-nilai wahyu. Tafsir maqāṣidī memberikan kerangka analisis integratif dan transformatif dalam memahami fasād sebagai kegagalan moral manusia dalam menjalankan mandat khilāfah di bumi. Pelestarian lingkungan menuntut integrasi dimensi religius dan moral sebagai fondasi etis dalam tindakan kolektif masyarakat Muslim, dengan pendekatan tafsir maqāṣidī yang berperan sebagai dasar normatif bagi kebijakan ekologis berwawasan Islam, guna membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan serta membuka ruang dialog konstruktif antara teologi, ilmu lingkungan, dan kebijakan publik dalam merespons krisis iklim secara komprehensif.
Dimensi Teologis-Praktis Prinsip al-Asma’ dalam Surah Hud Ayat 123: Upaya Kontekstualisasi Moderasi Beragama di Indonesia Akib, Moh; Najih, Moh Ghundar
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36156

Abstract

This article aims to investigate the principle of al-Asma’ in the Qur’an, with particular focus on Surah Hud, verse 123, and to contextualize it within the framework of religious moderation in Indonesia. The principle of al-Asma’ underscores that the names of Allah encompass complementary meanings that can guide the attainment of equilibrium between theological understanding and practical life. This study aims to situate the principle as a response to contemporary challenges confronting religious moderation, including social polarization, radicalism, and interreligious conflict. Methodologically, the research employs a thematic exegesis (tafsir maudhu‘i) approach combined with semiotic analysis, integrating textual interpretation of the Qur’an with the socio-religious realities of Indonesia. Primary data are drawn from the analysis of pertinent Qur’anic verses, classical and contemporary exegetical literature, as well as empirical studies concerning the practice of religious moderation within society. The findings indicate that a comprehensive understanding of the names of Allah in Surah Hud [11]:123 can provide a conceptual framework for advancing religious moderation. The singular meaning of Allah’s name affirms His oneness and sovereignty, while paired attributes such as Al-‘Aziz and Al-Hakim exemplify a balance between justice and wisdom. This interpretation supports the cultivation of a social ethic rooted in tolerance, empathy, and peaceful coexistence among religious communities. This study contributes to bridging theological exegesis and social praxis by positioning the principle of al-Asma’ as a foundational framework for preachers, educators, and policymakers to develop an inclusive and contextually relevant Islamic narrative that addresses the dynamics of religious life in Indonesia.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji kaidah al-Asma’ dalam Al-Qur’an, khususnya sebagaimana termaktub dalam Surah Hud ayat 123, dengan mengaitkannya pada konteks moderasi beragama di Indonesia. Prinsip al-Asma’ menegaskan bahwa nama-nama Allah memiliki makna yang saling melengkapi dan dapat dijadikan pedoman dalam membangun keseimbangan antara teologi dan praksis kehidupan. Penelitian ini berupaya mengontekstualisasikan prinsip tersebut sebagai respon terhadap tantangan moderasi beragama, seperti polarisasi sosial, radikalisme, dan konflik antarumat beragama. Metode yang digunakan adalah pendekatan tafsir tematik dengan analisis semiotik, yang memadukan telaah teks Al-Qur’an dengan realitas sosial keagamaan di Indonesia. Data utama diperoleh dari analisis ayat-ayat relevan, literatur tafsir klasik dan kontemporer, serta studi empiris terkait praktik moderasi beragama di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman komprehensif terhadap nama-nama Allah dalam Surah Hud ayat 123 dapat menjadi basis konseptual bagi moderasi beragama. Makna tunggal dari nama Allah menegaskan aspek keesaan dan kekuasaan-Nya, sedangkan makna gandengan seperti Al-‘Aziz dan Al-Hakim mencerminkan keseimbangan antara keadilan dan kebijaksanaan. Pemaknaan ini mendorong pembentukan etika sosial yang menekankan toleransi, empati, dan koeksistensi damai antarumat beragama. Kontribusi penelitian ini terletak pada upayanya menjembatani tafsir teologis dan praksis sosial, menjadikan prinsip al-Asma’ sebagai landasan bagi para dai, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan narasi keislaman yang inklusif dan kontekstual terhadap dinamika keberagamaan di Indonesia.
Literasi Digital Qur’ani: Integrasi Konsep Laghw dan Tadabbur dalam Menghadapi Brain Rot di Era Digital Arsyad, Muhammad; Bashori, Bashori; Nadhiroh, Wardatun
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36248

Abstract

This study aims to construct a digital literacy model grounded in Qur’anic epistemology as a response to the phenomenon of brain rot, defined as cognitive deterioration resulting from excessive exposure to superficial digital content. This issue presents a significant threat to the intellectual and spiritual well-being of society in the contemporary information age. Current digital literacy frameworks predominantly focus on technical competencies, often overlooking the epistemological and spiritual dimensions, thereby necessitating a more comprehensive and integrative approach. Employing a qualitative methodology based on library research and a descriptive-analytical approach, this study analyzes classical and contemporary Qur’anic exegeses (tafsīr) related to the concepts of Laghw (futility) and Tadabbur (deep reflection). These concepts are critically examined through an interdisciplinary lens incorporating insights from neuroscience, psychology, and media studies. The findings indicate that Laghw provides a diagnostic framework for understanding the cognitive and spiritual underpinnings of brain rot, whereas Tadabbur offers an epistemic remedy aimed at revitalizing reflective thought and enhancing self-regulation. The integration of these concepts culminates in the formulation of the “Qur’anic Digital Literacy Model,” which is structured around three fundamental pillars: Tabayyun Digital (information verification), Adab Digital (digital ethics), and Mujāhadah al-Nafs (self-restraint). This model aspires to cultivate the Ulu al-Albab personality type individuals who exemplify both knowledge and virtue. Theoretically, this framework contributes to the discourse on digital literacy from an Islamic epistemological perspective; practically, it offers actionable strategies for educators, parents, and individuals to promote healthier and more meaningful interactions with digital technology.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengonstruksi model literasi digital yang berakar pada epistemologi Qur’ani untuk merespons fenomena brain rotyakni degradasi kognitif akibat paparan berlebihan terhadap konten digital yang dangkal. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi kualitas intelektual dan spiritual masyarakat di era informasi global. Pendekatan literasi digital yang ada sering kali hanya menekankan aspek teknis, tanpa menyentuh akar persoalan pada dimensi epistemologis dan spiritual, sehingga diperlukan paradigma alternatif yang lebih komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Analisis dilakukan terhadap korpus tafsir klasik dan kontemporer terkait konsep Laghw (kesia-siaan) dan Tadabbur (perenungan mendalam), kemudian didialogkan secara kritis dan interdisipliner dengan literatur modern dari bidang neurosains, psikologi, dan studi media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Laghw dapat berfungsi sebagai kerangka diagnosis untuk memahami akar krisis kognitif dan spiritual dalam fenomena brain rot, sementara Tadabbur dapat difungsikan sebagai terapi epistemik untuk merevitalisasi daya pikir reflektif serta memperkuat regulasi diri. Sintesis dari kedua konsep ini melahirkan “Model Literasi Digital Qur’ani” yang terdiri dari tiga pilar utama: Tabayyun Digital (verifikasi informasi), Adab Digital (etika interaksi daring), dan Mujahadah an-Nafs (pengendalian diri). Model ini diarahkan untuk membentuk kepribadian Ulu al-Albab sebagai ideal manusia berpengetahuan dan berakhlak. Secara teoretis, model ini memperkaya wacana literasi digital berbasis nilai Islam, dan secara praktis memberikan panduan aplikatif bagi pendidik, orang tua, serta individu dalam membangun interaksi teknologi yang sehat dan bermakna.
Rekonstruksi Makna Ayat-ayat Perang dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqāṣidī terhadap Misinterpretasi Kelompok Terorisme Pratama, Aziz Bashor; Rakman Hakim, Moh. Arif
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.36920

Abstract

This study aims to reveal the true meaning (maqāṣid) of Qur’anic verses frequently misinterpreted as endorsing violence and terrorism, particularly those pertaining to war (qitāl) and jihad, including QS. al-Baqarah [2]:190–193 and 216, QS. an-Nisā’ [4]:75, QS. al-Mā’idah [5]:33 and 64, QS. al-Anfāl [8]:39 and 57, QS. at-Tawbah [9]:5, 13, 29, and 36, and QS. al-Ḥajj [22]:39 and 78. Misapprehensions regarding the contextual background of these verses have contributed to radical ideologies that justify violence under the guise of religion. This research endeavors to construct a counter-narrative through the tafsīr maqāṣidī approach, aiming to restore the Qur’an’s universal message of mercy and justice. Employing a qualitative methodology, the study utilizes the tafsīr maqāṣidī framework through four analytical stages: First, consideration of all aspects of public interest (maṣlaḥah), second, thematic organization of the verses, third, semantic and historical analysis, and fourth, contextualization of interpretations within contemporary intellectual and social dynamics. The findings indicate that the terrorists’ misinterpretations of Qur’anic verses are fundamentally at odds with the maqāṣid al-Qur’an, which prioritizes human welfare and compassion. The tafsīr maqāṣidī approach reveals that the Qur’anic injunctions concerning war are defensive, aimed at upholding justice and resisting oppression rather than initiating aggression. The authentic vision and mission of Islam, as demonstrated, is to extend mercy to all creation, irrespective of race, ethnicity, or nationality. This study contributes to the discourse on deradicalization by asserting that efforts should extend beyond correcting religious interpretations to include cross-sectoral education encompassing social, political, economic, and media domains to achieve sustainable peace.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengungkap makna sejati (maqāṣid) dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sering disalahpahami sebagai legitimasi tindakan kekerasan dan terorisme, khususnya ayat-ayat tentang perang (qitāl) dan jihad seperti QS. al-Baqarah [2]:190–193 dan 216, QS. An-Nia’ [4]: 75, QS. Al-Maidah [5]: 33 dan 64, QS. Al-Anfal [8], 39 dan 57, QS. at-Taubah [9]:5, 13, 29, dan 36, dan QS. al-Hajj [22]: 39, 78. Kesalahan dalam memahami konteks ayat-ayat tersebut telah melahirkan ideologi radikalisme yang menjustifikasi kekerasan atas nama agama. Penelitian ini berupaya membangun kontra-narasi melalui pendekatan tafsīr maqāṣidī untuk mengembalikan pesan universal Al-Qur’an sebagai sumber rahmat dan keadilan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsīr maqāṣidī melalui empat tahapan analisis: Pertama,  mempertimbangkan seluruh aspek kemaslahatan; kedua,  mengelompokkan ayat secara tematik; ketiga, menganalisis secara semantik dan historis, serta keempat, mengontekstualisasikan hasil tafsir dengan dinamika keilmuan dan sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misinterpretasi kelompok terorisme terhadap ayat-ayat Al-Qur’an bertentangan dengan maqāṣid al-Qur’an yang menekankan kemaslahatan dan kemanusiaan. Melalui pendekatan tafsīr maqāṣidī, ditemukan bahwa perintah perang dalam Al-Qur’an bersifat defensif, ditujukan untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman, bukan untuk menyerang. Visi dan misi Islam sejatinya membawa rahmat bagi seleruh alam semesta tidak memandang ras, suku, bangsa dan bentuknya. Kontribusi penelitian ini menegaskan bahwa deradikalisasi harus dilakukan tidak hanya melalui interpretasi keagamaan yang benar, tetapi juga melalui edukasi lintas sektor sosial, politik, ekonomi, dan media demi terwujudnya perdamaian. 
Kesahihan Hadis dalam Paradigma Bayani, Burhani, dan ‘Irfani: Telaah atas Epistemologi al-Ghazali Al Anwari, Ahmad Ubaidillah Ma'sum; Jannah, Safri Nur
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.37237

Abstract

The issue of hadith authenticity remains a pivotal subject within both classical and contemporary Islamic scholarship. The lack of standardized methods of transmission during the early Islamic period, coupled with the extensive misuse of hadiths for political and ideological objectives, has introduced significant challenges in assessing their validity. A prominent figure frequently examined in this context is Abu Hamid al-Ghazali, particularly regarding his approach to hadith transmission in Ihya’ ‘Ulum al-Din, which often omits a complete chain of narration (sanad). Critics among hadith scholars contend that al-Ghazali incorporated weak (dha‘if) or even fabricated (maudhu‘) traditions, whereas Sufi scholars and intellectuals defend his methodology, highlighting his spiritual perspective and comprehensive moral framework. This study utilizes a qualitative methodology grounded in library research, employing a descriptive-analytical approach. The data are derived from both primary and secondary sources pertaining to al-Ghazali’s thought, as well as classical and contemporary ulūm al-ḥadīth literature. The analysis is framed within the epistemological constructs of bayani, burhani, and irfani, as articulated by Abid al-Jabiri. The findings reveal that al-Ghazali did not reject scientific methods in hadith studies; rather, he integrated these methods with spiritual dimensions. His adherence to the principles of sanad and the moral integrity of transmitters exemplifies the bayani approach; his rational evaluation of transmission validity reflects the burhani dimension; and his acceptance of spiritual intuition (kashf and liqā’ al-nabi) as a means of verification—provided it does not contradict Sharia—embodies the irfani approach. Consequently, al-Ghazali’s conception of hadith authenticity constitutes an epistemological synthesis of scientific objectivism and spiritual subjectivism.Abstrak: Problematika autentisitas hadis merupakan isu sentral dalam kajian Islam klasik maupun kontemporer. Tidak adanya standarisasi periwayatan pada masa awal Islam serta maraknya penyalahgunaan hadis untuk kepentingan politik dan ideologis menimbulkan kompleksitas dalam menentukan validitas hadis. Salah satu tokoh yang kerap menjadi sorotan dalam isu ini adalah Abu Hamid al-Ghazali, terutama terkait metode periwayatan hadis dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din yang tidak selalu mencantumkan sanad secara lengkap. Kritik dari kalangan ahli hadis menuduh al-Ghazali memasukkan hadis dha‘if bahkan maudhu‘, sementara kalangan sufi dan intelektual membelanya dengan menekankan pendekatan spiritual dan moralitas substansial yang diusungnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh dari karya-karya primer dan sekunder terkait pemikiran al-Ghazali serta literatur ulūm al-ḥadīṡklasik dan modern. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka epistemologi bayani, burhani, dan irfani sebagaimana dirumuskan oleh Abid al-Jabiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ghazali tidak menolak metode ilmiah dalam kajian hadis, melainkan mengintegrasikannya dengan dimensi spiritual. Komitmennya terhadap prinsip sanad dan keadilan perawi mencerminkan pendekatan bayani; rasionalisasi terhadap validitas riwayat memperlihatkan aspek burhani; sedangkan penerimaan terhadap intuisi rohani (kashf dan liqā’ al-nabi) sebagai sarana verifikasi selama tidak bertentangan dengan syariat—menunjukkan pendekatan irfani. Berdasarkan hal di atas, konstruksi kesahihan hadis dalam pandangan al-Ghazali merupakan sintesis epistemologis antara objektivisme ilmiah dan subjektivisme spiritual.
Menelisik Tafsir Ibnu Katsir dalam Mushaf Aisyah: Studi Wacana atas Reproduksi Nalar Patriarkis dalam Terjemahan Al-Qur’an untuk Wanita Fathassururi, Fathassururi; Rahman, Fathur; Lismana, Ilman; In, Khurin; Nadia, Intan
Al-Qudwah Vol 3, No 2 (2025): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i2.30399

Abstract

This study aims to examine the process of women’s objectification and the perpetuation of patriarchal reasoning within the Mushaf Aisyah, with particular emphasis on the intertextual relationship between Tafsir Ibn Kathir and the Qur’anic verses highlighted in pink. The primary research questions investigate the patterns and mechanisms through which patriarchal interpretations are transmitted from Tafsir Ibn Kathir into the Mushaf Aisyah, as well as the degree to which its summarized exegeses reproduce or transform classical conceptions of women’s roles and status in Islam. Employing a qualitative methodology grounded in library research, the study utilizes a descriptive-analytical and intertextual approach. The data sources include the Mushaf Aisyah, Tafsir Ibn Kathir, and both classical and contemporary literature on Qur’anic exegesis and gender studies. The analysis centers on verses pertaining to women marked in pink addressing themes such as creation, leadership, inheritance, and social status. The findings indicate that the Mushaf Aisyah reproduces and reinforces patriarchal reasoning through selective citation and gender-biased interpretation derived from Tafsir Ibn Kathir. The transmission mechanisms manifest in three forms: First, symbolic highlighting of women-related verses in pink, second, citation of classical commentary without critical reinterpretation, and third, incorporation of female-related hadiths from Bukhari and Muslim. The study concludes that the Mushaf Aisyah emphasizes symbolic feminine aesthetics rather than critically challenging entrenched patriarchal biases. This study theoretically advances the discourse on gender exegesis and contemporary Qur’anic manuscript studies in Indonesia by elucidating the ideological underpinnings associated with the commodification of sacred texts.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis proses objektivasi perempuan dan reproduksi nalar patriarkis dalam Mushaf Aisyah, khususnya melalui intertekstualitas antara Tafsir Ibnu Katsir dan ayat-ayat yang diberi penanda warna merah muda. Pertanyaan utama yang dikaji adalah bagaimana pola dan mekanisme transmisi nalar patriarkis dari Tafsir Ibnu Katsir ke dalam Mushaf Aisyah, serta sejauh mana ringkasan tafsir tersebut mereproduksi atau memodifikasi pemahaman klasik tentang peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis dan analisis intertekstual. Data dikumpulkan dari Mushaf Aisyah, Tafsir Ibnu Katsir, serta literatur tafsir dan studi gender kontemporer. Analisis difokuskan pada ayat-ayat bertema perempuan yang ditandai dengan warna merah muda, mencakup isu penciptaan, kepemimpinan, kewarisan, dan kedudukan sosial perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mushaf Aisyah mereproduksi dan memperkuat nalar patriarkis melalui seleksi ayat dan interpretasi yang bias gender dari Tafsir Ibnu Katsir. Mekanisme transmisinya tampak dalam tiga bentuk:Pertama,  penandaan simbolik ayat bertema perempuan dengan warna merah muda, kedua, pengutipan ringkasan tafsir klasik tanpa reinterpretasi kritis, dan ketiga, penyisipan hadis-hadis perempuan dari riwayat Bukhari-Muslim. Penelitian ini menegaskan bahwa Mushaf Aisyah lebih menampilkan estetika femininitas simbolik daripada menghadirkan dekonstruksi terhadap bias patriarkis yang telah mapan. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada kajian tafsir gender dan studi mushaf kontemporer di Indonesia dengan mengungkap dimensi ideologis di balik komodifikasi teks suci.