cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 42 Documents
Dialektika Tafsir dan Kemajuan Pengetahuan Sidik Jari dalam Al-Qur’an: Aplikasi Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed Nurmansyah, Ihsan; Dana, Nur Rahma
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29662

Abstract

This paper discusses the contextualization of fingerprints in the Qur'an, specifically in Surah Al-Anfal, verse 12, and Surah Al-Qiyamah, verse 4. Each person's fingerprints are unique, even among identical twins, and they remain unchanged over time, unlike other organs that may change. The aim of this study is to examine how scholars have interpreted the reference to fingerprints in the Qur'an across different eras and how the concept of fingerprints indicated in the Qur'an can be applied in the contemporary context. The analysis employs Abdullah Saeed's contextual approach. The research concludes that: first, linguistically, the term "banan" refers to the tips of the fingers. It is mentioned with reference to fingers rather than other body parts because fingers are the smallest and most complex bones and were the last body parts created. From a micro-macro perspective of asbab an-nuzul, fingerprints are related to the disbelief of the disbelievers regarding Allah's ability to resurrect and identify individuals from the grave, distinguishing one person from another. Second, interpretations of the term "banan" by scholars across generations present two views. One view is that Allah has the power to perfectly reconstruct human fingers. The other view explains that human fingerprints can be relied upon for identity investigation in criminal cases. Third, in the context of modern advancements, fingerprints are now used not only for criminal identification but also in technology fields, such as security systems and digital authentication.Abstrak: Tulisan ini membahas kontekstualisasi sidik jari dalam Al-Qur’an, yakni Surah Al-Anfal ayat 12 dan Surah Al-Qiyamah ayat 4. Sidik jari yang dimiliki oleh setiap manusia ternyata berbeda antara satu orang dengan lainnya, bahkan pada orang yang kembar identik sekalipun. Selain itu, sidik jari pun tidak akan pernah berubah seiring berjalannya waktu, tidak seperti organ lain yang mengalami perubahan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana penafsiran para ulama tafsir dari masa ke masa dalam memahami isyarat sidik jari dalam Al-Qur’an dan bagaimana pemanfaatan sidik jari yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an pada konteks masa kini. Teori analisis yang digunakan ialah pendekatan kontekstual Abdullah Saeed. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: pertama, secara analisis linguistik, kata banan itu berarti ujung jari. Disebutkan dengan jari-jemari daripada anggota tubuh lainnya, karena jari-jemari adalah tulang yang paling kecil dan rumit serta anggota badan yang terakhir diciptakan. Dilihat dari asbab an-nuzul mikro-makro, sidik jari punya keterkaitan dengan keraguan orang kafir terhadap kemampuan Allah yang dapat membangkitkan kembali manusia dari kubur dan mengidentifikasinya serta membedakan antar satu individu dengan individu yang lain. Kedua, penafsiran ulama dari generasi ke generasi terhadap kata banan ini terdapat dua pandangan. Pandangan yang menyebutkan bahwa Allah berkuasa menyusun kembali jari-jemari manusia dengan sempurna. Dan pandangan yang menjelaskan bahwa sidik jari manusia dapat diandalkan untuk penyelidikan identitas dalam kasus kriminal. Ketiga, kontekstualisasi, dengan kemajuan teknologi saat ini, sidik jari kini tidak hanya digunakan untuk identifikasi dalam bidang kriminalistik saja, tetapi juga dalam bidang teknologi, seperti sistem keamanan dan autentikasi digital.
Makkiyyah dan Madaniyyah: Telaah Mengenai Pergeseran Realitas dan Kronologis Lahirnya Sebuah Hadis Agussalim, Agussalim; Adrikna, Maulaya
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29080

Abstract

This study seeks to investigate transformations in socio-religious contexts and to delineate the chronology of hadith emergence by centering the analysis on the makkiyyah–madaniyyah framework. By applying the Qur’anic theory of makki and madani to hadith literature, this approach represents a relatively novel contribution within the field of ʿulūm al-ḥadīth. The makkiyyah–madaniyyah character of hadith is identified through two primary indicators: the chain of transmission (sanad) and the text (matan). Employing a qualitative methodology and library research grounded in the canonical collections (kutub al-sittah and kutub al-tisʿah) alongside a historical approach, the data are analyzed through isnād tracing, matn examination, and contextual reconstruction, thereby elucidating the relationships among the ideal, the empirical, and the historical dimensions. The findings demonstrate that the makkiyyah–madaniyyah theory significantly enhances the mapping of hadith chronology, as its core objective is to trace the Prophet’s life trajectory in accordance with the Qur’anic makki–madani framework. Operationally, two principal indicators guide this identification: sanad and matan. Regarding the sanad, the classification of Companions into pre-hijrah, post-hijrah, and those spanning both periods facilitates the chronological charting of hadith emergence and the localization of events. Concerning the matan, shifts in socio-religious realities are discerned through themes and events characterized as makkiyyah or madaniyyah, thereby yielding both explicit and implicit historical information. This study contributes a methodological procedure that integrates isnād–matn criticism with makkiyyah–madaniyyah periodization to evaluate both the quality and chronology of hadith. Furthermore, it offers a practical toolkit for aligning ideal-normative interpretations with empirical contexts, thereby enabling a more precise historical mapping. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menelaah pergeseran realitas serta memetakan kronologis lahirnya hadis dengan menempatkan makkiyyah-madaniyyah sebagai poros analisis. Makkiyyah dan madaniyyah pada hadis merupakan terapan dari teori makki dan madani dalam studi al-Qur’an, sehingga menjadi teori yang tergolong baru dalam ‘ulūmul hadīs. Konsep makkiyyah dan madaniyyah hadis dapat diketahui melalui dua indikator, yaitu dari aspek sanad dan matan hadis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan sumber-sumber pustaka berbasis kitab induk kutub al-sittah dan kutub al-tis’ah dengan pendekatan historis; data dibaca melalui penelusuran sanad, pembacaan matan, dan rekonstruksi konteks sehingga relasi dunia idealis, empiris, dan sejarah tampak jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori makkiyyah dan madaniyyah memberi sumbangsih terbesar untuk pemetaan kronologi hadis karena esensinya menelusuri rekam jejak kehidupan Nabi; sebagai terapan dari teori makki–madani dalam studi Qur’an. Konsep makkiyyah-madaniyyah hadis dapat diidentifikasi melalui dua indikator pokok: aspek sanad dan aspek matan. Pada sisi sanad, klasifikasi sahabat menjadi sebelum hijrah, sesudah hijrah, dan melintasi keduanya berfungsi sebagai sarana pemetaan kronologis lahirnya hadis, sekaligus petunjuk lokus peristiwa. Pada sisi matan, pergeseran realitas terdeteksi melalui tema/kejadian berciri makkiyyah atau madaniyyah yang menghadirkan informasi historitas, baik tersurat maupun tersirat. Penelitian ini berkonstribusi dalam merumuskan prosedur kerja yang menyinergikan kritik sanad dan matan dengan periodisasi makkiyyah-madaniyyah untuk menilai kualitas sekaligus kronologi hadis, serta menyediakan perangkat praktis bagi peneliti dalam menyelaraskan pembacaan ideal-normatif dan konteks-empiris agar peta historis hadis dapat ditarik dengan lebih akurat.
Islam dan Kepemimpinan Perempuan: Prototipe Leadership Ratu Balqis Perspektif Tafsir Al-Azhar Setiawati, Poppy; Nur, Afrizal; Khairiah, Khairiah; Amin, Saidul
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.27172

Abstract

Women's leadership remains a subject of debate within the Islamic world, leading to various movements advocating for women's rights to be equal to men's. On the other hand, the perception that women prioritize emotions over logic has contributed to the notion that women are unsuitable for leadership roles. However, in reality, many women have proven themselves capable of leading institutions, organizations, and even nations. The Qur'an narrates a story of female leadership through the figure of Queen Balqis, who ruled the kingdom of Saba'. The purpose of this article is to explore the leadership prototype of Queen Balqis as depicted in Buya Hamka's Tafsir Al-Azhar. This research is a library-based study, with the primary data source being the Tafsir Al-Azhar, as well as secondary sources, including books and articles relevant to the research. The results of this study reveal that, from Hamka's perspective, Queen Balqis' leadership prototype embodies several key characteristics that are both relevant and valuable in the context of modern leadership. Analysis of Hamka's works, particularly Tafsir Al-Azhar, reveals that Queen Balqis possessed the following leadership qualities: first, wisdom and democracy. Hamka highlights how Queen Balqis demonstrated intelligence and wisdom in leading her people. Her decision to test the wisdom of Prophet Solomon by sending gifts reflects her ability to think democratically. Second, a diplomatic and peace-loving leader, Hamka, emphasizes that diplomacy is evident when a leader skillfully influences their followers to accept desired agreements and negotiations. Third, an intelligent and meticulous leader: Queen Balqis is portrayed as a smart, quick-thinking, cautious, and meticulous leader in making decisions. These three qualities in Queen Balqis make her a worthy role model for female leaders today.Abstrak: Kepemimpinan wanita masih menjadi suatu perdebatan dalam dunia Islam, akibatnya banyak timbul gerakan-gerakan yang menjunjung hak-hak wanita agar bisa disetarakan dengan laki-laki. Di sisi lain karakter wanita yang mengedepankan rasa dari pada logika membuat wanita seakan tidak layak menjadi pemimpin. Padahal kenyataannya banyak perempuan mampu menjadi pemimpin di suatu lembaga, organisasi bahkan negara. Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah tentang kepemimpinan wanita yaitu kepemimpinan Ratu Balqis yang memimpin sebuah negeri bernama Saba’. Tujuan artikel ini untuk mengetahui prototipe leadership Ratu Balqis dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka, data primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir Al-Azhar, sedangkan data sekunder adalah buku-buku dan artikel yang relevan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prototipe kepemimpinan Ratu Balqis dalam perspektif Hamka mencerminkan beberapa karakteristik utama yang relevan dan berharga dalam konteks kepemimpinan modern. Analisis terhadap karya-karya Hamka, terutama tafsir Al-Azhar, mengungkapkan bahwa Ratu Balqis memiliki sifat-sifat kepemimpinan berikut: pertama, kebijaksanaan dan demokratis: Hamka menyoroti bagaimana Ratu Balqis menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam memimpin rakyatnya. Keputusan Balqis untuk menguji kebijaksanaan Nabi Sulaiman dengan mengirimkan hadiah menunjukkan kemampuannya untuk berpikir demokratis. Kedua, pemimpin yang diplomatis dan cinta damai, diplomasi seorang pemimpin dapat dilihat ketika ia pandai mempengaruhi orang-orang yang dipimpin supaya bisa menerima suatu kesepakatan dan perundingan yang diinginkan. Ketiga, pemimpin yang cerdas dan teliti, Ratu Balqis adalah pemimpin yang cerdas, berpikir cepat, bersikap hati-hati dan teliti dalam memutuskan suatu perkara. Tiga kriteria tersebut ada dalam diri Ratu Balqis yang layak dijadikan role model oleh para pemimpin perempuan saat ini.
The Activity of Sab’u al-Munjiyat Recitation on TMI al-Amien Prenduan Islamic Boarding School for Girls: The Perspective of Anthropology Theory Muhyin, Nabila Fajriyanti; Ningrum, Velida Apria; Aziz, Ach. As'ad Abdul
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29272

Abstract

This article aims to reveal the practice of reciting Sab’u al-Munjiyat carried out at Pondok Pesantren Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) Putri al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. In daily routines, the students are required to participate in the recitation of Sab’u al-Munjiyat after the congregational Asr prayer. Sab’u al-Munjiyat consists of seven selected surahs from the Qur'an: Surah Al-Sajdah, Yasin, Al-Dukhan, Al-Waqi'ah, Al-Mulk, Al-Insan, and Al-Buruj. This research is a field study and uses a qualitative research method. Data collection was performed through observation, interviews, and document analysis. Data analysis was conducted using the anthropological approach of Heddy Shri Ahimsa-Putra. The findings indicate that the tradition of reciting Sab’u al-Munjiyat at Pondok Pesantren TMI al-Amien Prenduan originated from an innovation by the student organization (ISTAMA), which is based on the transmission of prophetic traditions that can still be preserved today. This is supported by numerous hadiths that describe the virtues of reciting these surahs. The structure of the recitation tradition at Pondok Pesantren TMI Putri al-Amien Prenduan can be classified into two structures: the subject structure and the structure of the Sab’u al-Munjiyat recitation. The function of this recitation tradition is to understand and seek the benefits of these seven chosen surahs, to seek safety, and to contribute to the development of Qur’anic character among the students.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengungkap kegiatan pembacaan sab’u al-munjiyat yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) Putri al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Dalam kesehariannya para santri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pembacaan sab’u al-munjiyat usai salat ashar berjamaah. Sab’u al-munjiyat merupakan kumpulan tujuh surah pilihan di dalam Al-Qur’an, yakni al-Sajadah, Yasin, al-Dukhan, al-Waqi’ah, al-Mulk, al-Insan, dan al-Buruj. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dan dikaji menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan antropologi Heddy Shri Ahimsa-Putra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi pembacaan sab’u al-munjiyat di Pondok Pesantren TMI al-Amien Prenduan bermula dari salah satu inovasi program pengurus organisasi santri (ISTAMA), yang memiliki landasan sebagai bentuk transmisi dari tradisi kenabian yang masih dapat dilestarikan hingga generasi saat ini. Hal tersebut berlandaskan dari banyaknya hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan tentang seseorang yang membaca surah-surah tersebut. Adapun struktur yang terdapat dalam tradisi pembacaan yang ada di Pondok Pesantren TMI Putri al-Amien Prenduan dapat diklasifikasikan menjadi dua struktur, yaitu struktur subjek dan struktur pembacaan sab’u al-munjiyat, sedangkan fungsi dari tradisi pembacaan sab’u al-munjiyat untuk mengetahui dan mengharapkan fadilah dari tujuh surah pilihan, mengharapkan keselamatan, serta upaya dalam pembentukan karakter qur’ani dalam diri para santri.
The Functional Reception of Qur'anic Calligraphy at the Grand Mosque of Nurul Islam, Palangka Raya Hamidinnor, Hamidinnor; Tahe, Nur Amimi; Munirah, Munirah; Supriadi, Akhmad; Malisi, M. Ali Sibram
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29065

Abstract

Nurul Islam Grand Mosque, recognized as the first and oldest grand mosque in Palangka Raya, Central Kalimantan, is distinguished primarily by its extensive Qur’anic calligraphy that adorns nearly the entire interior, including the walls and ceiling. This study investigates the functional reception of the calligraphy, focusing on the selection of specific Qur’anic verses and the rationale behind their inclusion. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, the research is grounded in Qur’anic reception theory, particularly the concept of functional reception. Data were collected through fieldwork involving observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the verses featured in the mosque are those frequently recited and memorized by Muslims in daily practice, such as Surah Yāsīn, Al-Wāqi‘ah, and Al-Mulk. The functional reception is manifested in the curatorial decision to present these verses as calligraphy, thereby enabling visitors to engage with the surahs or verses without the need to consult a mushaf, in addition to serving an ornamental purpose. Furthermore, the calligraphy contributes to the mosque’s unique aesthetic identity, distinguishing it from other mosques. However, issues related to the legibility of certain calligraphic elements have elicited criticism, suggesting that the mosque’s administration should address these concerns appropriately.Abstrak: Masjid Raya Nurul Islam merupakan masjid raya pertama sekaligus tertua di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Keunikan utamanya terletak pada hampir seluruh bagian interior yang dihiasi kaligrafi Al-Qur’an, mulai dari dinding hingga plafon. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana resepsi fungsional terhadap kaligrafi tersebut, ayat-ayat apa yang dipilih, serta alasan pemilihan ayat. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, berlandaskan teori resepsi Al-Qur’an, khususnya resepsi fungsional. Riset ini bersifat lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ayat yang ditampilkan pada Masjid Raya Nurul Islam adalah ayat-ayat yang umum dibaca dan dihapal oleh umat Islam sehari-hari seperti QS. Yasin, QS. al-Waqi’ah, QS. al-Mulk dan lain-lain. Adapun bentuk resepsi fungsional kaligrafi Al-Qur’an terlihat pada pemilihan ayat yang dituliskan menjadi kaligrafi di Masjid Raya Nurul Islam, di mana ayat-ayat yang dituliskan selain dijadikan hiasan juga memudahkan pengunjung yang ingin membaca surah-surah atau ayat-ayat Al-Qur’an tanpa harus mencari di dalam Al-Qur’an. Selain itu, dengan kaligrafi tersebut Masjid Raya Nurul Islam memilki daya tarik tersendiri yang membedakannya dengan masjid lain. Di sisi lain, keberadaan tulisan yang kurang terbaca memunculkan kritik yang patut dicermati oleh pengurus masjid.
Mediatisasi Hadis Melalui Musik sebagai Sarana Dakwah dalam Kanal Youtube Gontor TV Reza, Raja Fahrul; Irfan, Irfan
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29376

Abstract

This article discusses the phenomenon of the mediatization of Hadith as a means of Islamic preaching (dakwah) in the digital era, focusing on the Gontor TV YouTube channel as a case study. Gontor TV upholds the values embedded in the principles, motto, and “panca jiwa” of pesantren, ensuring that its preaching is educational, informative, and persuasive. This media channel contributes significantly to spreading Islamic teachings through various creative content, one of which is music. The message in this music is sourced from sacred texts, namely the Qur'an and the Hadith of the Prophet. This article is qualitative research using a descriptive qualitative approach and applying content analysis to examine the mediatization of Hadith as preaching content delivered through music on the Gontor TV YouTube channel. The research shows that the Hadith presented in the lyrics and music videos are displayed in various forms, such as excerpts from the matn without the complete isnad, sometimes including the mukharrij and its translation. These excerpts are then inserted into the lyrics, at the beginning or end of the music video, either in Arabic or Latin script. The Hadith are read textually, as there is no use of Hadith or other elements requiring contextual reading. Preaching through music on this YouTube channel has important implications in modern, multicultural, and heterogeneous societies, such as strengthening the internalization of religious messages, influencing the characteristics of musicians, increasing interest in music with Islamic nuances, being a form of creative and innovative dakwah, fostering interactions that strengthen religious life and Islamic identity, and serving as a medium for transmitting religious messages.Abstrak: Tulisan ini membahas tentang fenomena mediatisasi hadis sebagai sarana dakwah di era digital dengan mengambil objek kajian pada kanal Youtube Gontor TV. Gontor TV menjunjung tinggi nilai-nilai yang tertuang di dalam prinsip, motto, dan panca jiwa kepesantrenan sehingga penyajian dakwahnya harus memiliki sifat edukatif, informatif dan persuatif. Media ini ikut berkontribusi besar dalam mendakwahkan ajaran-ajaran Islam yang disampaikan melalui berbagai konten-konten kreatif, salah satunya musik. Pesan dari musik tersebut bersumber dari teks suci yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi. Tulisan ini merupakan jenis penelitian kualitatif (studi pustaka) dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan menerapkan metode analisis konten dalam menganalisis mediatisasi hadis sebagai konten dakwah yang disampaikan melalui musik sebagai bajunya di kanal Youtube Gontor TV. Penelitian ini menunjukkan bahwa hadis-hadis yang tersaji dalam lirik musik dan video klip tersebut ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti, potongan matan, tanpa sanad lengkap, terkadang menyertakan mukharrij dan terjemahannya. Potongan matan tersebut kemudian disisipkan dalam liriknya, di awal atau akhir video klip dengan tulisan Arab ataupun latinnya. Hadis-hadis tersebut dibaca secara tekstual, dikarenakan tidak ada penggunaan hadis atau lainnya yang mengharuskan pembacaan secara kontekstual. Dakwah dengan musik di kanal Youtube ini memilik implikasi yang penting di tengah masyarakat modern, multikultural dan heterogen seperti; menguatkan penjiwaan makna terhadap pesan agama, mempengaruhi karakteristik musisi, meningkatkan minat kepada musik dengan nuansa Islami, salah satu bentuk dakwah kreatif dan inovatif, interaksi yang memperkuat kehidupan beragama dan identitas ke-Islaman, serta sarana transmisi pesan agama.
Kontestasi Hadis dalam Tagar Potong Kuku (#PotongKuku) di Media TikTok Rukmana, Fachruli Isra; MH, Syahidil Mubarik; Yuzar, Sri Kurniati
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.28862

Abstract

This study seeks to examine the critical role of falsification in the interpretation of the Prophet’s hadith through the hashtag #potongkuku on the TikTok platform, with particular attention to its recommendations, user engagement, and implications for religious authority within digital environments. The research addresses an emerging phenomenon in hadith studies amid the disruption era, wherein social media has become a predominant medium for the dissemination and study of hadith. Prior to the advent of digital technology, the study of the Prophet’s hadith was primarily conducted through face-to-face learning circles in mosques and Islamic boarding schools. Currently, this process has transitioned into an online domain that is more inclusive and accessible. A notable example is the #potongkuku hashtag, which features excerpts from sermons by Habib Rifky Alaydrus and functions as a conduit for propagating hadith-based values in virtual spaces. Employing a qualitative methodology, this study utilizes content analysis techniques applied to videos and user comments associated with the #potongkuku hashtag as primary data, supplemented by relevant scholarly literature as secondary data. The findings reveal that hashtags facilitate the organization and retrieval of da‘wah themes, broaden the dissemination of hadith, and promote public participation in religious discourse. Nevertheless, the study also identifies instances of content citing hadiths without credible sources, underscoring the necessity of tabayyun (verification) and scholarly validation in the consumption of digital religious content. In sum, the #potongkuku phenomenon exemplifies a positive transformation in hadith learning and highlights the role of social media as a novel arena for the authentication and dissemination of Islamic knowledge.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi falsifikasi dalam memahami hadis Nabi melalui tagar #potongkuku di aplikasi TikTok, dengan menyoroti anjuran, respons pengguna, serta relevansinya bagi otoritas keagamaan di ruang digital. Kajian ini berangkat dari fenomena baru dalam studi hadis di era disrupsi, ketika media sosial menjadi medium utama penyebaran dan pembelajaran hadis. Sebelum kemajuan teknologi digital, masyarakat mempelajari hadis Nabi melalui majelis ilmu di masjid atau pesantren secara tatap muka. Kini, proses tersebut bertransformasi ke ranah daring yang lebih inklusif dan terbuka. Salah satu fenomena yang menonjol adalah tagar #potongkuku, yang berisi potongan ceramah Habib Rifky Alaydrus dan menjadi sarana penyebaran nilai-nilai hadis di ruang maya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap video dan komentar pengguna dalam tagar #potongkuku sebagai data primer, sedangkan literatur ilmiah digunakan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tagar memudahkan pencarian dan pengelompokan tema dakwah, memperluas jangkauan penyebaran hadis, dan mendorong partisipasi publik dalam diskursus keagamaan. Namun, penelitian juga menemukan adanya konten yang mengutip hadis tanpa sumber valid, yang menegaskan pentingnya tabayyun dan verifikasi ilmiah dalam konsumsi dakwah digital. Secara keseluruhan, fenomena tagar #potongkuku mencerminkan transformasi positif dalam pembelajaran hadis dan menegaskan peran media sosial sebagai ruang baru bagi otentikasi serta diseminasi ilmu keislaman.
Mediatisasi Agama Dalam Dakwah Halimah Alaydrus di Media Sosial Instagram Cholillah, Cholillah; Arju, Asa Nabila
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29092

Abstract

The increasingly massive development of technology provides a gap in creating social discrepancies in society because it departs from the impact of understanding online media da'wah so that consumption is received personally without any prior review process. The process of finding this kind of understanding needs religious mediatization to avoid one-sided consumption in understanding da'wah content on social media. This research focuses on the object of study Halimah Alaydrus via her Instagram to be examined comprehensively with a qualitative approach and using the critical-analytical method. So that it departs from the Koran that it becomes a text that is always relevant from time to time both in terms of place and time, that the content that becomes the subjectivity of a Halimah Alaydrus gives a distinctive da'wah color and is easily understood by various groups. As for the results of this study, researchers found several verses that were used as da'wah content by Halimah Alaydrus which were persuasive in nature. In this case, the verse construction used provides orientation to the community to remain calm in living life, despite loneliness, focus on yourself, always feel that Allah is in control of His servants. It is at this point that Halimah Alaydrus inserts several strands of redaction that are in accordance with the current context in her caption. the space to simplify or simplify the interpretation of a verse ultimately becomes the impetus and needs of the community in understanding the content of the message of the Quranic verse. Of course, at the same time, the understanding of a verse will continue to move dynamically.Abstrak: Perkembangan teknologi yang kian masif memberikan celah dalam menciptakan diskrepansi sosial masyarakat karena berangkat dari dampak pemahaman dakwah media online sehingga konsumsi yang diterima secara personal tanpa adanya proses penelaahan terlebih dahulu. Proses untuk menemukan pemahaman semacam ini perlu adanya mediatisasi agama untuk menghindari konsumsi secara sepihak dalam memahami konten-konten dakwah di media sosial. Adapun penelitian ini momfokuskan kepada objek kajian Halimah Alaydrus via instagramnya untuk ditelaah secara komprehensif dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode analisis-kritis. Sehingga berangkat dari Al-Qur’an bahwa menjadi teks yang selalu relevan dari masa ke masa baik dari sisi tempat ataupun waktu, bahwa kadungan yang menjadi subjektivitas seorang Halimah Alaydrus memberikan warna dakwah yang khas dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Adapun hasil dari penelitian ini, peneliti menemukan beberapa ayat yang dijadikan konten dakwah oleh Halimah Alaydrus yang bersifat persuasif. Dalam hal ini kontruksi ayat yang digunakan memberikan orientasi kepada masyarakat untuk tetap tenang dalam menjalani kehidupan, meskipun rasa kesepian, fokus dengan diri sendiri, selalu merasa bahwa Allah dalam pengawan hamba-Nya. Pada titik inilah Halimah Alaydrus menyisipkan beberapa untaian redaksi yang sesuai dengan konteks kekinian dalam caption¬-nya. ruang untuk menyederhanakan atau simplikasi penafsiran pada sebuah ayat pada akhirnya menjadi dorongan dan kebutuhan masyarakat dalam memahami isi pesan ayat Al-Qur’an. Tentu pada saat yang sama, pemahaman atas suatu ayat akan terus bergerak secara dinamis.
Analisis Implementasi Teori Munāsabah pada Penafsiran Saintifik: Studi terhadap Ayat-ayat Cahaya dalam Tafsir Kemenag RI Himaya, Karuma Afada; Nahri, Delta Yaumin
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.29170

Abstract

This study aims to examine the significance of the concept of munāsabah in the interpretation of verses that contain scientific indications. It reviews the interpretation provided by Ministry of Religious Affairs/Department of Religious Affairs of the Republic of Indonesia called "Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan)" and analyzes the application of munāsabah in these verses. The science of munāsabah often receives insufficient attention in studies of scientific tafsir. Many interpretations tend to focus solely on the meanings of the verses in isolation, without considering the relationships and contexts of the verses with those that precede or follow them. This study employs a qualitative method, focusing on the verses of light found in Surah an-Nūr (24:35), Yūnus (10:5), Nūḥ(71:16), al-Furqān (25:61), and an-Nabā’ (78:13). It utilizes the perspective of Badruddīn Muḥammad bin ‘Abdullāh al-Zarkasyi as presented in his book, al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. The primary data for analysis is derived from the tafsir book published by the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. The results indicate that the Kemenag RI Tafsir team has effectively employed the munāsabah method by considering the context of both preceding and succeeding verses, thereby enhancing the depth and reliability of Qur’anic interpretation. The Tafsir Kemenag RI integrates modern scientific insights with the traditional tafsir method based on munāsabah, resulting in a more holistic and contextual interpretation. The identified patterns of munāsabah include relationships among groups of verses, between surahs, and even between words within a single verse. These patterns largely align with al-Zarkasyi’s theory of munāsabah, although some forms of munāsabah fall outside the scope of his theory. This study underscores the significance of inter-verse and inter-surah relationships in scholarly interpretation and opens avenues for further research that encompasses a broader range of scientific verses and the integration of other relevant theories.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi konsep munāsabah dalam penafsiran ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah, dengan menelaah tafsir Kementerian Agama/Departemen Agama Republik Indonesia yang disebut “Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan)” serta implementasi munāsabah pada ayat-ayat tersebut. Ilmu munāsabah sering kali kurang mendapat perhatian dalam kajian tafsir-tafsir saintifik. Banyak penafsiran cenderung fokus hanya pada makna ayat yang dikaji secara terpisah, tanpa memperhatikan hubungan dan konteks ayat tersebut dengan ayat-ayat yang mendahului atau mengikutinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fokus kajiannya pada ayat-ayat cahaya yang terdapat pada surah an-Nūr (24): 35, Yūnus (10): 5, Nūḥ (71): 16, al-Furqān (25): 61, dan an-Nabā’ (78): 13, menggunakan perspektif Badruddīn Muḥammad bin ‘Abdullāh al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Data primer yang digunakan sebagai kajian analisis yakni kitab tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim penyusun Tafsir Kemenag RI secara efektif telah menerapkan metode munāsabah dengan memperhatikan konteks antar ayat baik sebelum maupun sesudahnya, sehingga meningkatkan kedalaman dan keandalan penafsiran Al-Qur’an. Tafsir Kemenag RI memadukan wawasan ilmiah modern dengan metode tafsir tradisional yang berbasis munāsabah, sehingga menghasilkan interpretasi yang lebih holistik dan kontekstual. Pola-pola munāsabah yang ditemukan mencakup hubungan antar kelompok ayat, antar surah, serta antar lafal dalam satu ayat. Pola ini sebagian besar sesuai dengan teori munasabah al-Zarkasyi, namun di sisi lain masih ada bentuk munāsabah yang tidak tercakup dalam teori tersebut. Penelitian ini menegaskan pentingnya hubungan antar-ayat dan antar-surah dalam penafsiran saintifik dan membuka peluang pengembangan riset dengan cakupan ayat saintifik lebih luas serta integrasi teori lain yang relevan.
Otoritas Kufah Asy-Sya‘bī dan Konstruksi Sanad: Kritik terhadap Pendekatan Joseph Schacht dalam Studi Hadis Tabi‘in Riady, Fahmi; Karim, Abdul
Al-Qudwah Vol 3, No 1 (2025): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v3i1.34464

Abstract

This study aims to describe and critique Joseph Schacht’s arguments regarding the historicity of the authority of Asy-Sya‘bī (d. 103–110 AH), a prominent figure in Kufah, as presented in his monumental work “The Origins of Muhammadan Jurisprudence”. Asy-Sya‘bī’s authority is widely recognized within the Islamic scholarly tradition, particularly in the rijāl literature that documents the credibility of hadith transmitters. However, Schacht posits a controversial hypothesis that the name of Asy-Sya‘bī was often artificially employed by hadith scholars and early madhhab figures to reinforce legal positions. This research employs a qualitative-descriptive approach, utilizing documentary analysis and historical-critical methods on both primary and secondary sources. The analysis reveals that Schacht’s claims are heavily influenced by his theoretical framework regarding the early development of Islamic law, including the concept of the common link as an indicator of fabricated chains of transmission (sanad). Although some of the evidence presented appears compelling, Schacht’s generalization of asy-Sya‘bī’s authority is reductive and overlooks the contextual dynamics of scholarship during the Tabi‘in period. Furthermore, critiques of the common link theory suggest that assumptions regarding the inauthenticity of the sanad cannot be accepted unconditionally. Therefore, this study affirms that asy-Sya‘bī’s position as a legal authority in Kufah remains significant and should not be disregarded in the study of Islamic legal history. Interpretations of asy-Sya‘bī’s role must take into account the complexity of knowledge transmission and authority in early Islamic times. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkritik argumen Joseph Schacht mengenai kesejarahan otoritas asy-Sya‘bī (w. 103–110 H) seorang figur terkemuka di Kufah, sebagaimana dikemukakan dalam karya monumental The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Otoritas asy-Sya‘bī diakui secara luas dalam tradisi keilmuan Islam, terutama dalam literatur rijāl yang merekam kredibilitas perawi hadis. Namun, Schacht mengajukan hipotesis kontroversial bahwa nama asy-Sya‘bī kerap digunakan secara rekayasa oleh ulama hadis dan tokoh mazhab awal untuk memperkuat posisi hukum masing-masing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis dokumenter dan kritik historis terhadap data primer dan sekunder. Hasil analisis menunjukkan bahwa klaim Schacht sangat dipengaruhi oleh konstruksi teoretisnya tentang perkembangan hukum Islam awal, termasuk konsep common link sebagai indikator fabrikasi sanad. Meskipun beberapa bukti yang diajukannya tampak kuat, generalisasi Schacht terhadap otoritas asy-Sya‘bī cenderung reduktif dan mengabaikan konteks dinamika keilmuan pada masa tabi‘in. Lebih jauh, kritik terhadap teori common link menunjukkan bahwa asumsi tentang ketidakotentikan sanad tidak dapat diterima secara mutlak. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa posisi asy-Sya‘bī sebagai otoritas hukum di Kufah tetap signifikan dan tidak dapat diabaikan dalam studi sejarah hukum Islam. Interpretasi terhadap peran asy-Sya‘bī perlu mempertimbangkan kompleksitas transmisi ilmu dan otoritas pada masa awal Islam.