cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 42 Documents
Eksistensi Ilmu Sebagai Pembentuk Akhlak: Studi Analisis Tafsir Khuluqun 'Azhim Terhadap QS. Al-Qalam: 1-6 Auni, Nuruzzakiyah; Indriati, Isna
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.23872

Abstract

The diminishing ethical values in society today are evident, starting from the younger generation who frequently engage in violations, to officials and workers in the government sector involved in deviations such as corruption. This phenomenon, among others, indicates a separation between knowledge and morality. If a person is knowledgeable, they should possess an understanding of what is good and bad, enabling the realization of knowledge as a moral shaper. This writing aims to reveal how the existence of knowledge should be a moral shaper, as found in Q.S. Al-Qalam: 1-6, using the interpretation of Khluqun ‘Azhim written by M. Yunan Yusuf. This interpretation is one of the contemporary exegeses originating from Indonesia. The research aims to address and respond to the issue of the separation between knowledge and morality, leading to the erosion of morality among knowledgeable individuals and the deterioration of civilization. This study is a literature review using a qualitative, descriptive-analytical research approach. This article found that scholarship significantly influences moral formation. As stated in Khuluqun ‘Azhim's interpretation in the first verse, the results of writing, serving as reference information for the development of knowledge, have a substantial impact on the advancement of human civilization. The presence of evolving knowledge has a strong influence on civilizational development. Writing is one of the sources of knowledge that transforms the reader from ignorance to understanding. Furthermore, in verses two through six, Allah discusses the morality of the Prophet Muhammad, characterized as khuluqun ‘azhim (noble character). The Prophet's morality serves as the best role model that should be followed by humanity, especially the Islamic community.   Abstrak: Tergerusnya akhlak masyarakat saat ini terlihat mulai dari generasi muda yang selalu melakukan pelanggaran, pejabat dan pekerja di lingkungan pemerintahan yang melakukan penyimpangan seperti korupsi, dan fenomena masyarakat lainnya menunjukkan bahwa ilmu telah terpisah dengan akhlak. Apabila seseorang berilmu, maka ia akan memiliki pengetahuan mengenai hal baik dan buruk, sehingga eksistensi ilmu menjadi pembentuk akhlak bisa terealisasikan. Tulisan ini akan mengungkap bagaimana seharusnya eksistensi ilmu menjadi pembentuk akhlak yang terdapat pada Q.S. Al-Qalam: 1-6, dengan menggunakan Tafsir Khluqun ‘Azhim karya M. Yunan Yusuf. Tafsir ini merupakan salah satu tafsir kontemporer yang berasal dari Indonesia. Penelitian ini bertujuan memecahkan masalah dan memberi respon terhadap permasalahan terpisahnya ilmu dan akhlak sehingga menyebabkan seseorang yang berilmu menjadi tergerus akhlaknya dan menyebabkan rusaknya peradaban. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif bersifat deskriptif-analitis. Peneliti menemukan bahwa keilmuan sangatlah berpengaruh dalam pembentukan akhlak. Sebagaimana yang diungkapkan dalam Tafsir Khuluqun ‘Azhim pada ayat pertama bahwa hasil dari tulisan yang menjadi informasi rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan sangat berpengaruh pada pembangunan peradaban umat manusia. Keberadaan ilmu pengetahuan yang berkembang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan peradaban. Tulisan menjadi salah satu sumber pengetahuan yang menjadikan pembaca dari tidak tahu menjadi tahu. Kemudian pada ayat kedua sampai ke enam, Allah membicarakan perihal akhlak Rasulullah yang merupakan khuluqun ‘azhim (berbudi pekerti agung). Akhlak Rasulullah merupakan suri tauladan terbaik yang patutnya diikuti umat manusia terutama umat Islam.  
Metodologi Pemahaman Hadis M. Yusuf al-Qaradhawi: Studi Analitis Atas Hadis Partisipasi Wanita Dalam Berpolitik Choiroh, Wahyuni Nuryatul; Munawir, Munawir
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.22817

Abstract

Sunni scholars view Hadith as a normative source capable of embodying the essence of the Qur'an, considering Hadith's position as the second source of Islamic religious teachings after the Qur'an. The controversy between textual and contextual schools of thought regarding the study of Hadith has existed since the early development of Islam. Even to this day, textualist scholars continue to advocate for their principles. This study aims to uncover Yusuf al-Qaradhawi's thoughts on the methodology of understanding Hadith in his book "Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah" (How to Interact with the Prophetic Sunnah), enabling scholars of Hadith to understand Hadith properly. In this context, the author raises the issue of women's participation in politics as an implication of the offered methodology. This research adopts a qualitative approach with a library research method. The results of this study indicate that al-Qaradhawi proposes eight basic principles for understanding the Hadith of the Prophet Muhammad (peace be upon him). These principles include understanding Hadith in harmony with the Qur'an, combining several Hadiths on one topic, reconciling conflicting Hadiths, understanding Hadiths in their background, situation, and orientation, distinguishing between the inconsistency of the means and the consistency of the objectives of the Hadith, comparing literal and metaphorical expressions in understanding Hadiths, comparing the unseen with the visible, and validating the terminology of Hadith. The methodological framework proposed by al-Qaradhawi is expected to keep the study of Hadith relevant to the changing times. Regarding the implications and significance of his methodology regarding women's participation in politics through Hadith, it can be concluded that, according to al-Qaradhawi, women have the same rights to participate and engage in politics as men.  Abstrak: Ulama sunni memandang hadis sebagai sumber normatif yang dapat mengejawantahkan esensi al-Qur'an,  mengingat posisi hadis sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah al-Qur'an. Adanya kontroversi antara mazhab tekstual dan kontekstual terhadap kajian hadis, sejatinya telah ada semenjak awal Islam berkembang. Bahkan hingga masa kini, kaum tekstualis masih memiliki eksistensi untuk menggaungkan prinsipnya. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap pemikiran Yusuf al-Qaradhawi terkait metodologi pemahaman hadis dalam kitabnya Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah (bagaimana berinteraksi dengan hadis Nabi) bagi para pengkaji hadis untuk dapat memahami hadis secara baik dan benar. Dalam hal ini penulis mengangkat tentang hadis partisipasi wanita dalam berpolitik sebagai implikasi dari metodologi yang ditawarkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa al-Qaradhawi menawarkan delapan asas dasar dalam memahami hadis Rasulullah Saw, yaitu pemahaman hadis selaras dengan Al-Quran, penggabungan beberapa hadis dalam satu topik, penggabungan atau mentarjih hadis yang  kontradiktif, pemahaman hadis dengan tinjauan latar belakang, situasi kondisi dan orientasi hadis, pemilahan antara inkonsistensi sarana dan konsistensi sasaran hadis, perbandingan antara ungkapan haqiqi dengan majazi dalam pemahaman hadis, perbandingan antara ghaib dengan yang nyata,  dan validasi kaidah terminologi hadis. Tawaran metodologi yang dikemukakan oleh al-Qaradhawi diharapkan membuat kajian hadis tetap relevan dengan perkembangan zaman. Terkait implikasi dan signifikansi dari metodologinya melalui hadis partisipasi wanita dalam berpolitik, secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut al-Qaradhawi, seorang wanita memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan berkiprah dalam dunia politik layaknya seorang laki-laki.
Integrasi Hadis Dengan Sains: Membaca Tunjuk Ajar Rasulullah Dalam Menguap Dan Antisipasi Dislokasi Rahang Yasti, Suci Amalia; Hasbi, M. Ridwan; Putra, Masyhuri; Ismail, Hidayatullah
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.24759

Abstract

Every command and prohibition conveyed by Prophet Muhammad (S.A.W.) fundamentally contains implicit meanings for the well-being of his community. Even seemingly trivial matters, such as yawning, have significance. In hadiths, it is mentioned that when someone yawns, they should observe certain etiquettes to prevent jaw dislocation. This article aims to understand the form of integration between Hadith and Science in relevant contexts, etiquettes of yawning as described in hadiths, and ways to prevent or address jaw dislocation. The research method used is content analysis, connecting the content of hadiths with health sciences. A modernist approach is employed, incorporating scientific studies, particularly in health sciences, to provide a broader and deeper understanding of the hadiths. The results of this research indicate that Prophet Muhammad (S.A.W.) provided examples of etiquette during yawning in the hadiths. Among these etiquettes are restraining the mouth as much as possible, covering the mouth, and avoiding making noise while yawning. The correlation between the hadiths and jaw dislocation is that these etiquettes serve to anticipate jaw-related illnesses. Failure to observe these etiquettes during yawning may lead to opening the mouth too wide, potentially causing jaw dislocation. Opening the mouth excessively can cause the jaw joints to shift from their original positions, hindering the proper functioning of the jaw joints. If not promptly addressed, jaw dislocation may require surgery or the replacement of the jaw with a new one or a prosthetic jaw. Abstrak: Setiap perintah dan larangan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw pada hakikatnya mengandung makna yang tersirat yaitu untuk kebaikan bagi umatnya. Walaupun hal tersebut terkesan sesuatu yang sepele seperti menguap. Di dalam hadis disebutkan bahwa ketika seseorang menguap hendaknya menggunakan adab-adabnya agar terhindar dari penyakit dislokasi rahang yang diakibatkan oleh menguap. Tujuan artikel ini untuk mengetahui bentuk integrasi hadis dan sains yang berkaitan adab-adab ketika menguap yang dijelaskan dalam hadis dan cara mencegah atau mengatasi penyakit dislokasi rahang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode konten analisis yang menghubungkan kandungan hadis dengan ilmu kesehatan. Pendekatan modernis menggunakan kajian ilmiah seperti ilmu kesehatan agar dapat memahami hadis lebih luas dan memberikan pemahaman yang dalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam hadis Rasulullah Saw telah memberikan contoh adab ketika menguap. Di antara adabnya yaitu menahan mulut semampunya, menutup mulut dan jangan mengeluarkan suara. Korelasi antara hadis dengan penyakit dislokasi rahang ini adalah bahwa adab-adab menguap berguna untuk mengantisipasi penyakit rahang, karena jika tidak melakukan adab-adab menguap akan menyebabkan mulut terlalu lebar. Sehingga ketika membuka mulut terlalu lebar maka akan mengakibatkan penyakit yang bernama penyakit dislokasi rahang. Ketika membuka mulut terlalu lebar menyebabkan sendi-sendi yang terdapat di dalam tersebut bergeser dari tempat semulanya. Sehingga sendi rahang tidak dapat berfungsi dengan baik. Dimana penyakit dislokasi rahang ini jika tidak ditangani dengan cepat akan mengakibatkan operasi atau pertukaran rahang yang baru atau rahang tiruan.
Membangun Gender Partnership di Era 5.0 Perspektif QS. Al-Hujurat ayat 13 dan QS. Al-An’am ayat 165 A'la, Nusrotul; Aini, Adrika Fithrotul; Irsyadi, Najib
Al-Qudwah Vol 1, No 1 (2023): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i1.23236

Abstract

The Introduction to gender and their respective roles is crucial from an early age. Islam does not differentiate between the roles of women and men. The continuity of the relationship between men and women must be maintained within the corridor of Islamic law without gender intimidation. This article aims to build gender partnership in Era 5.0 based on the Qur'an, Surah Al-Hujurat, verse 13, and Surah Al-An'am, verse 165. Thus, understanding gender partnerships can be one way to address gender disparities, enhance well-being, and improve Human Resources (HR) quality. The research method used in this article is qualitative research in the form of a literature review based on sources such as books, articles, and works discussing gender partnerships. Data collection methods are conducted through a literature review of data obtained from various sources. The primary data sources are the Qur'an, Surah Al-Hujurat, and Al-An'am. From the study's results, it can be concluded that gender partnership means a condition where there is mutual understanding, respect, and cooperation with the different attitudes and strengths of the opposite sex. In efforts to build gender partnership in Era 5.0 according to the perspective of the Qur'an, Surah Al-Hujurat, verse 13, and Surah Al-An'am, verse 165, it is crucial to establish equal and humane rights for both women and men. This entails fully guaranteeing the rights of each gender and treating them well. Efforts to build gender partnerships include understanding and recognizing that men and women have different characteristics, paying attention to the gender division of labor, fostering good collaboration and coordination, mutual respect and non-discrimination, and offering differences in strategic needs for each gender.  Abstrak: Pengenalan gender dan tugas masing-masing penting dimulai sejak dini. Agama Islam tidak membedakan peran antara perempuan dengan laki-laki. Kesinambungan hubungan laki-laki dan perempuan harus tetap terjaga dalam koridor syariat Islam tanpa adanya intimidasi gender. Artikel ini bertujuan untuk membangun kemitraan gender (gender partnership) pada Era 5.0 berdasarkan al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 dan surah Al-An’am ayat 165. Sehingga pemahaman tentang kemitraan gender mampu menjadi salah satu cara mengatasi kesenjangan gender, meningkatkan kesejahteraan dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan bentuk studi pustaka berdasarkan sumber data dari buku, artikel, dan karya yang membahas kemitraan gender. Adapun metode pengumpulan data dilakukan melalui kajian literatur kepustakaan dari sumber data yang diperoleh. Sumber data primernya adalah al-Qur’an Surat Al-Hujurat dan Al-An’am. Dari hasil studi dapat ditarik hasil bahwa kemitraan gender berarti kondisi di mana terdapat rasa saling memahami, menghargai, dan bekerja sama dengan sikap dan kekuatan yang berbeda dari lawan jenis. Dalam upaya membangun kemitraan gender pada era 5.0 sesuai perspektif al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 dan surah Al-An’am ayat 165 menetapkan hak-hak perempuan dan laki-laki secara berimbang dan penuh dengan perikemanusiaan. Secara totalitas menjamin sepenuhnya hak-hak setiap gender dan memperlakukannya dengan baik. Upaya membangun kemitraan gender yaitu dengan memahami dan menyadari antara laki-laki dan perempuan memilki karakteristik yang berbeda, menaruh perhatian pada pembagian kerja gender, kolaborasi dan koordinasi yang baik, saling menghormati dan tidak membeda-bedakan, serta menawarkan perbedaan pada kebutuhan strategis masing-masing.
Call for Boycott of Pro-Israel Products in MUI Fatwa: An Analysis of Tafsīr Maqaṣidi Fitrah, Annisa; Saiin, Asrizal; M. Radiamoda, Anwar
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29786

Abstract

This research analyzes the call to boycott Israeli products issued by the Indonesian Ulema Council (MUI) from the perspective of maqāṣidic exegesis (tafsīr maqaṣidi). The maqāṣidic approach in interpreting the Qur'an emphasizes the objectives of Sharia (maqāṣid al-sharī'ah), which include the preservation of religion (ḥifẓ al-Dīn), preservation of life (ḥifẓ al-Nafs), preservation of intellect (ḥifẓ al-'Aql), preservation of wealth (ḥifẓ al-Māl), and preservation of the state (ḥifẓ al-Daulah). The MUI's fatwa committee supports the boycott as a form of solidarity, aligning with the principles of justice and humanity in Islam, while also challenging the genocide committed by Israel against the Palestinian people. This paper is a type of library research, utilizing descriptive-analytical analysis. The findings of this research affirm that the boycott is viewed as an act of "amr ma'ruf nahi munkar," an effort to prevent wrongdoing and promote goodness. In the context of ḥifẓ al-Nafs, this boycott aims to protect human life and dignity from oppression. In the context of ḥifẓ al-'Aql, the boycott raises awareness among Muslims about global political and humanitarian issues. From the aspect of ḥifẓ al-Māl, the boycott encourages the ethical use of wealth and supports products not involved in oppression. Lastly, from the perspective of ḥifẓ al-Daulah, the boycott contributes to maintaining domestic stability and influencing foreign policy that supports peace. Moreover, the MUI fatwa on boycotting Israeli products is consistent with the maqāṣid al-sharī'ah, emphasizing the importance of such actions in achieving the welfare of the Muslim community and global society.Abstrak: Penelitian ini menganalisis seruan boikot produk Israel yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari perspektif tafsīrmaqaṣidi. Pendekatan maqashidi dalam menafsirkan Al-Qur'ān menekankan pada tujuan syariah (maqashid syariah), yaitu ḥifẓ al-Dīn(pemeliharaan agama), ḥifẓ al-Nafs (memelihara jiwa/kehidupan), ḥifẓ al-'Aql (memelihara akal), ḥifẓ al-Mal (memelihara harta), dan ḥifẓal-Daulah (memelihara negara). Komisi fatwa MUI mendukung pemboikotan sebagai bentuk solidaritas dan sejalan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan dalam Islam sekaligus menantang genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Tulisan ini termasuk penelitian kepustakaan (library research), dan menggunakan analisis deskriptif-analitik. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa boikot ini dipandang sebagai tindakan amar makruf nahi mungkar, sebuah upaya untuk mencegah kemungkaran dan mempromosikan kebaikan. Dalam konteks ḥifẓ al-Nafs, pemboikotan ini bertujuan untuk melindungi nyawa dan martabat manusia dari penindasan. Dalam konteks ḥifẓ al-'Aql, boikot meningkatkan kesadaran di kalangan umat Islam tentang isu-isu politik dan kemanusiaan global. Dari aspek ḥifẓ al-Mal, boikot mendorong penggunaan harta secara etis dan mendukung produk-produk yang tidak terlibat dalam penindasan. Terakhir, dari sisi ḥifẓ al-Daulah, boikot berkontribusi dalam menjaga stabilitas dalam negeri dan mempengaruhi kebijakan luar negeri yang mendukung perdamaian. Di sisi lain, fatwa MUI tentang pemboikotan produk Israel selaras dengan maqaṣid al-syari’ah, yang menekankan pentingnya tindakan tersebut dalam mencapai kesejahteraan masyarakat muslim dan masyarakat global.
Hadis pada Masa Pembaharuan Islam di Minangkabau: Telaah Penggunaan Hadis Dalam Majalah Alchoethbah karya Hs. Moenaaf Saputra, Doni; Rafika, Alfiah; Yasti, Suci Amalia
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29246

Abstract

The issue of Islamic reform in Minangkabau during the twentieth century was closely linked to the development of literacy and the culture of writing. The expansion of literacy during this period served as a crucial reference point for the public’s engagement with Islam, particularly through periodicals. This article seeks to analyze the use of hadiths in Alchoethbah magazine, which was published in Minangkabau in the early twentieth century. The hadiths examined address themes such as the prohibition of prioritizing reason over religious law thereby deviating from Islamic teachings and the significance of unity. These themes were employed by Hs. Moenaaf as forms of legal and moral legitimation in his writings. Employing a qualitative research methodology, this study analyzes various library sources with a focus on the hadiths cited in Alchoethbah magazine. The collected data were critically examined through a narrative analysis approach. The findings indicate that two specific hadiths were utilized and authored by Hs. Moenaaf in Alchoethbah to advance ideas of Islamic reform within his sermon-like narratives. Broadly, these hadiths were contextually pertinent to the reformist movement of the time for two primary reasons. First, Hs. Moenaaf, as both a scholar and writer, was part of the Kaum Mudo intellectual movement, which emphasized adherence to Sharia over reason and custom. Second, Alchoethbah functioned as a medium to facilitate readers’ understanding of the teachings of Islamic reformist scholars, particularly the injunctions against prioritizing reason over the Sharia of the Prophet Muhammad and against division or sectarian fanaticism within the Muslim community.Abstrak: Isu pembaharuan Islam di Minangkabau pada abad ke-20 kental dengan kemajuan literasi tulis-menulis. Kemajuan literasi pada periode ini dijadikan sebagai bahan referensi masyarakat untuk mempelajari Islam, salah satunya melalui majalah. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap pengunaan hadis dalam majalah Alchoethbah yang terbit di Minangkabau awal abad 20. Penggunaan hadis yang dimaksud meliputi tema larangan mengedepankan akal dibanding syariat (menyelisihi ajaran agama) dan pentingnya rasa persatuan. Kedua tema hadis tersebut digunakan oleh Hs. Moenaaf sebagai bahan legitimasi hukum dalam tulisan-tulisannya. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menganalisis sumber-sumber pustaka. Penelitian ini fokus pada hadis-hadis yang dikutip dalam majalah Alchoetbah, data-data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kritis dengan metode analisis naratif. Hasil analisis menemukan bahwa terdapat dua hadis yang digunakan dan ditulis oleh Hs. Moenaaf di dalam majalah Alchoetbah untuk megusung ide-ide pembaharuan Islam dalam narasi khotbahnya. Secara garis besar hadis-hadis ini relevan penggunaannya pada masa pembaharuan Islam, setidaknya ada dua argumen yang menjadi landasannya. Pertama, Hs Moenaaf selaku penulis merupakan bagian dari intelektual dan ulama Kaum Mudo yang mendorong untuk lebih mengedepankan syariat dibandingkan akal dan tradisi. Kedua, Alchoethbah hadir sebagai salah satu media untuk memudahkan dalam memahami ajaran para ulama pembaharu Islam, seperti larangan mengedepankan akal dan lebih mendahulukan syariat Nabi Muhammad Saw serta larangan dalam berpecah-belah dan fanatisme kelompok.
Pemikiran Tafsir Al-Qur’an Kontemporer: Studi Komparatif Metode Tafsir Amīn Al-Khūlī dan Nashr Hamīd Abū Zayd Hidayah, Saniatul; Zulfadli, Zulfadli
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29087

Abstract

This study aims to investigate the dynamics of contemporary Qur’anic exegesis through a comparative analysis of the intellectual contributions of Amīn al-Khūlī and Nashr Hamīd Abū Zayd, two reformist scholars who prioritize linguistic and literary methodologies in Qur’anic interpretation. The primary objective is to delineate the methodological convergences and divergences between these scholars, who share a mentor-mentee relationship. Employing a qualitative research design with a comparative framework, this study traces their conceptual developments as articulated in their principal works. The findings indicate that Amīn al-Khūlī, influenced by Western literary criticism, foregrounds literary devices in Qur’anic interpretation, emphasizing linguistic structures, rhetorical techniques, and literary composition. Conversely, Nashr Hamīd Abū Zayd adopts a more expansive hermeneutical approach that incorporates the social, cultural, and historical contexts of revelation, while also accentuating the significance of classical Arabic, metaphor, and symbolism in the transmission of divine messages. The study’s implications highlight the necessity of cultivating an interpretive methodology that is responsive to contemporary intellectual currents while remaining grounded in Islamic scholarly traditions, thereby contributing to the advancement of Qur’anic studies in the modern era.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika tafsir Al-Qur’an kontemporer melalui perbandingan pemikiran Amīn al-Khūlī dan Nashr Hamīd AbūZayd, dua tokoh pembaharu yang menekankan pendekatan linguistik dan sastra dalam memahami Al-Qur’an. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi persamaan dan perbedaan metodologis di antara keduanya yang memiliki hubungan intelektual guru dan murid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif untuk menelusuri pemikiran kedua tokoh melalui karya-karya utama mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amīn al-Khūlī, yang terpengaruh oleh metode analisis sastra Barat, menekankan penggunaan perangkat sastra dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan fokus pada struktur bahasa, gaya retorika, dan komposisi sastra. Sebaliknya, Nashr Hamīd Abū Zayd menerapkan pendekatan hermeneutik yang lebih luas dengan mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan historis masa pewahyuan, serta menyoroti peran bahasa Arab klasik, metafora, dan simbolisme dalam memahami pesan Ilahi. Implikasi dari studi ini menunjukkan pentingnya pengembangan metodologi tafsir yang adaptif terhadap dinamika keilmuan modern tanpa mengabaikan akar tradisi keislaman, sehingga dapat memperkaya khazanah studi tafsir di era kontemporer.
Transformasi Tafsir Al-Qur’an di Era Media Digital: Analisis Metodologi Tafsir dalam Channel Youtube "Kajian Tafsir Al-Ma’rifah" Yuningsih, Hartati; Ghany, Abdul
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29123

Abstract

The transformation of Qur'anic exegesis methodology through digital platforms has revolutionized the way the science of tafsir is conveyed and received by the public. The limitations of accessibility and interactivity in traditional methods, which rely on oral and written explanations, have necessitated a new, more engaging, and interactive approach through digital technology. The purpose of this research is to analyze and evaluate the methodology of Qur'anic interpretation used in the tafsir studies on the YouTube channel "Kajian Tafsir Al-Ma'rifah" by Musthafa Umar. This study is descriptive qualitative research utilizing a literature review method. Primary data was collected from the tafsir study videos on the "Kajian Tafsir Al-Ma'rifah" YouTube channel, while secondary data was obtained from textbooks, scholarly articles, and relevant tafsir books. The findings of the research indicate that the use of visual and audio elements in the tafsir videos enhances understanding and information retention among the audience. Additionally, interactive features such as comments, likes, and shares create a dynamic dialogue between the interpreter and the audience, strengthening engagement and participation in the learning process. Digital technology, through platforms like YouTube, not only facilitates access to Qur'anic exegesis but also enriches its delivery methods, making it more inclusive and effective in reaching a global audience. This research contributes to the literature on the transformation of tafsir methodology in the digital era and provides practical recommendations for the development of dakwah through digital platforms.Abstrak: Transformasi metodologi penyajian tafsir Al-Qur'an melalui platform digital telah mengubah cara penyampaian dan penerimaan ilmu tafsir di kalangan masyarakat. Keterbatasan aksesibilitas dan interaktivitas dalam metode tradisional yang mengandalkan penjelasan lisan dan tulisan mendorong perlunya pendekatan baru yang lebih menarik dan interaktif melalui teknologi digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengevaluasi metodologi penafsiran Al-Qur'an yang digunakan dalam kajian tafsir di channel YouTube Kajian Tafsir Al-Ma'rifah oleh Musthafa Umar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan. Data primer diambil dari video-video kajian tafsir di channel YouTube Kajian Tafsir Al-Ma'rifah, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku-buku teks, artikel ilmiah, dan kitab-kitab tafsir yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan elemen visual dan audio dalam video tafsir meningkatkan pemahaman dan retensi informasi di kalangan audiens. Selain itu, fitur interaktif seperti komentar, like, dan share menciptakan dialog yang dinamis antara penafsir dan audiens, memperkuat keterlibatan dan partisipasi dalam proses pembelajaran. Teknologi digital melalui platform seperti YouTube, tidak hanya mempermudah akses terhadap tafsir Al-Qur'an tetapi juga memperkaya metode penyampaiannya, membuatnya lebih inklusif dan efektif dalam menjangkau audiens global. Penelitian ini berkontribusi pada literatur tentang transformasi metodologi tafsir di era digital dan memberikan rekomendasi praktis bagi pengembangan dakwah melalui platform digital.
Tafsir Al-Qur’an dan Kekuasaan: Membaca Pandangan Bakri Syahid Tentang Nasionalisme Dalam Tafsir Al-Huda Maulidiyah, Izatul Muhidah; Sultani, Hikmawati
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29202

Abstract

This study aims to examine how Bakri Syahid’s Tafsir Al-Huda constructs notions of nationalism and legitimizes political authority through its interpretation of Q. al-Tawbah [9]:122 and its interrelation with Q. al-Nisāʾ [4]:59, situated within the socio-political context of Indonesia’s New Order and Javanese cultural milieu. Employing a qualitative, descriptive-analytical methodology, the research integrates content analysis with a sociology of exegesis. The primary object of analysis is the Tafsir Al-Huda text itself, while the formal object concerns the construction of religious nationalism. Primary data are obtained through close textual reading, complemented by secondary sources encompassing studies on Indonesian exegesis, the intersection of religion and politics, and relevant cultural materials. The analytical process involves data reduction, thematic categorization, and historical-contextual interpretation. The findings reveal three principal insights. First, the interpretation of jihad in Q. 9:122 is reoriented toward an ethos of civic engagement and development, metaphorically likened to state “departments,” thereby positioning the exegesis as a form of policy discourse. Second, the concept of “ulū al-amr” in Q. 4:59 is construed as faithful leadership that ensures welfare defined as a just and prosperous social order and commands obedience insofar as it serves the public interest, drawing upon modern exegetical sources and Javanese ethical traditions for legitimation. Third, the diverse range of sources including tafsir, fiqh, social sciences, and cultural texts constitutes an intertextual framework that reinforces the alignment of religion and state under the New Order regime. This study concludes that Tafsir Al-Huda functions as an ideological exegesis that interweaves religion, culture, and statecraft, illustrating how exegesis serves as a medium for shaping religious nationalism. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Tafsir Al-Huda karya Bakri Syahid membingkai nasionalisme dan legitimasi kekuasaan melalui penafsiran Q.S. At-Taubah [9]:122 serta keterkaitannya dengan Q.S. An-Nisa’ [4]:59, dalam konteks Orde Baru dan budaya Jawa. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif-analitis dengan analisis isi dan sosiologi tafsir; objek materialnya ialah kitab Tafsir Al-Huda, sedangkan objek formalnya konstruksi nasionalisme religius. Data primer berasal dari telaah naskah, dan data sekunder meliputi kajian tafsir Indonesia, politik agama, serta sumber budaya; analisis dilakukan melalui reduksi, kategorisasi tema, dan interpretasi historis-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, penafsiran jihad pada Q.S. At-Taubah [9]:122 digeser menjadi etos partisipasi kewargaan dan pembangunan, dengan analogi departemen-departemen negara, sehingga tafsir berfungsi sebagai wacana kebijakan. Kedua, konsep ulū al-amr pada Q.S. An-Nisa’ [4]:59 diartikulasikan sebagai kepemimpinan beriman yang menyejahterakan (adil-makmur) dan menuntut kepatuhan selama berbasis kemaslahatan, seraya menyerap rujukan tafsir modern dan warisan Jawa sebagai legitimasi etis. Ketiga, ragam sumber rujukan tafsir, fikih, ilmu sosial, dan naskah budaya membentuk bangunan interteks yang meneguhkan sinkronisasi agama-negara pada masa Orde Baru. Penelitian ini menegaskan bahwa Tafsir Al-Huda bekerja sebagai tafsir ideologis yang merajut agama, budaya, dan negara, sekaligus memperlihatkan bagaimana tafsir menjadi medium pembentukan nasionalisme religius. 
Identifikasi Naskah dan Telaah Aspek Tekstologis Manuskrip Mushaf Al-Qur’an Syekh Musthofa Lasem Ulfah, Maria
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.29627

Abstract

This study aims to investigate the physical attributes and textual features of the Qur’anic manuscript attributed to Shaykh Musthofa, which is housed at the Museum Islam Nusantara in Lasem, Rembang Regency, Central Java. The investigation is driven by the importance of Qur’anic manuscripts as historical evidence documenting the dissemination of Islam throughout the Malay–Indonesian region, as well as their role as written heritage that reflects the cultural and intellectual richness of Indonesian Muslim communities. The study focuses on the script style (rasm), the classification of Makki and Madani surahs, the naming of surahs, the number of verses in each surah, and the presence of waqf marks. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach applied to a single manuscript and utilizes a critical edition framework consistent with philological research on religious texts. The results indicate that Qur’anic writing traditions in the archipelago had achieved considerable advancement by the nineteenth century, as evidenced by the diverse and detailed application of waqf and tajwīd signs in the Shaykh Musthofa manuscript. This manuscript demonstrates certain inconsistencies in the use of waqf marks, adheres predominantly to Uthmani script conventions with notable exceptions concerning ḥadhf al-ḥurūf and mā fīhi qirā’atan wa kutiba ‘alā iḥdāhumā, and exhibits variations in verse counts, Makki–Madani classifications, and surah titles relative to the Indonesian Standard Mushaf. These findings imply that the manuscript tradition in the archipelago not only facilitates the transmission of the sacred text but also embodies local innovation in adapting and contextualizing the Qur’an within the cultural and aesthetic paradigms of Indonesian Muslim society.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi karakteristik fisik dan aspek tekstologi manuskrip mushaf Al-Qur’an Syekh Musthofa yang tersimpan di Museum Islam Nusantara, Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya manuskrip mushaf Al-Qur’an sebagai jejak penyebaran Islam di Nusantara serta sebagai warisan tulis yang memperlihatkan kekayaan budaya dan intelektual masyarakat Muslim Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk rasm, pengkategorian makki–madani, penamaan surat, jumlah ayat dalam setiap surat, serta keberadaan tanda waqaf. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik deskriptif-analitis terhadap naskah tunggal dengan pendekatan edisi kritis sebagaimana diterapkan dalam studi filologi manuskrip keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas penulisan Al-Qur’an di Nusantara telah berkembang pesat sejak abad ke-19, dibuktikan dengan variasi dan kelengkapan tanda waqaf serta tajwid dalam manuskrip Syekh Musthofa. Manuskrip ini memiliki inkonsistensi dalam penulisan tanda waqaf, mengikuti rasm Utsmani dengan pengecualian pada aspek ḥadzf al-ḥuruf dan ma fīh qirā’atan wa kutiba ‘alā ihdāhumā, serta menunjukkan perbedaan jumlah ayat, kategori makki–madani, dan penamaan surah dibandingkan Mushaf Standar Indonesia. Temuan ini mengimplikasikan bahwa tradisi penyalinan mushaf di Nusantara tidak hanya merepresentasikan transmisi teks suci, tetapi juga kreativitas lokal dalam mengolah dan menyesuaikan Al-Qur’an dengan konteks budaya dan estetika masyarakat setempat.