cover
Contact Name
Sri Widarti
Contact Email
widacorset95@gmail.com
Phone
+6282135814923
Journal Mail Official
widacorset95@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wates Km 9,5 Argomulyo Sedayu Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta | Email : AKBID MMY
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI YOGYAKARTA
ISSN : 27212122     EISSN : 28087534     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah jurnal mengenai kesehatan masyarakat yang diterbitkan oleh ilmu kesehatan masyarakat c. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun untuk volume yang sama. Jurnal ini diterbitkan sebagai wahana komunikasi ilmiah antar sejarawan, peneliti, peneliti, pakar dan pemerhati untuk pengembangan IPTEK dalam bidang kesehatan masyarakat. Isi jurnal ini berupa hasil penelitian, kasus lapangan, resensi buku, atau kajian ilmiah bidang kesehatan masyarakat. Artikel topik khusus dimungkinkan untuk diterbitkan di jurnal.
Articles 60 Documents
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN IBU NIFAS DALAM MENGKONSUMSI VITAMIN A DI PUSKESMAS SANDEN BANTUL Fauzul Husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 6 No. 2 (2025): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARI Latar Belakang : Pada masa nifas perlu diberikan vitamin A untuk menaikan jumlah kandungan vitamin A serta kesehatan ibu, dalam fase recovery setelah ibu melalui proses melahirkan. Pemberian kapsul vitamin A kepada ibu nifas terbukti dapat mencegah mordibilitas dan kematian pada bayi. Tujuan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kepatuhan ibu nifas di Puskesmas Sanden, Bantul setelah pengisian kuisioner Metode : Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan satu variabel di Puskesmas Sanden selama bulan Juni 2025 dengan populasi 39 ibu nifas. Metode sampling yang digunakan yaitu purposive sampling sebanyak 34 responden, dikarenakan 5 ibu nifas tidak berkenan untuk mengisi kuisioner. Hasil Penelitian : Karakteristik responden pada penelitian ini berdasarkan Pendidikan sebagian besar tingkat Pendidikan menengah sebanyak 24 responden (71%), umur sebagian besar berumur 21-35 tahun sebanyak 30 responden (88%), pekerjaan sebagian besar bekerja sebanyak 23 responden (68%). Tingkat pengetahuan baik sebesar 32 responden (94%), dan kepatuhan sebanyak 32 responden (94%) patuh dalam mengkonsumsi vitamin A. Kesimpulan : berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui tingkat pengetahuan ibu nifas di Puskesmas Sanden yaitu lebih dari separuh responden berpengetahuan baik (94%) dan untuk tingkat kepatuhan sebagian besar ibu nifas patuh dalam mengkonsumsi vitamin A (94%). Kata Kunci : Pengetahuan, Kepatuhan, Ibu Nifas, Vitamin A ABSTRACT Background: During the postpartum period, vitamin A supplementation is necessary to increase vitamin A content and maternal health, during the recovery phase after childbirth. Providing vitamin A supplements to postpartum mothers has been shown to prevent morbidity and mortality in infants. Purpose : To determine the level of knowledge and compliance of postpartum mothers at the Sanden Health Center, Bantul after completing the questionnaire. Research Methods : The method used was a quantitative descriptive study using a one-variable approach at the Health Center Sanden during Juny 2025, with a population of 39 postpartum mothers. The sampling method used was purposive sampling, with 34 respondents, because the other 5 respondents did not want to fill out the questionnarire. Results: Respondents' characteristics were based on their education level: 24 respondents (71%) had secondary education, 30 respondents (88%) were aged 21-35, and 23 respondents (68%) were employed. 32 respondents (94%) had good knowledge, and 32 respondents (94%) were compliant with vitamin A consumption. Conclusion: based on the research results, it can be seen that the level of knowledge of postpartum mothers at the Sanden Health Center is that more than half of the respondents have good knowledge (94%) and regarding the level of compliance, most postpartum mothers are compliant in consuming vitamin A (94%). Key Words: Knowledge, Compliance, Postpartum Mothers, Vitamin A
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA NY. P DENGAN PEMBERIAN MINYAK ZAITUN UNTUK MENGOBATI RUAM POPOK PADA BAYI DI TPMB RETNO WIDYAWATI Fauzul Husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 6 No. 2 (2025): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v6i2.136

Abstract

INTISARI Ruang lingkup asuhan: Pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir dilakukan untuk mengobati ruam popok daan membuat bayi lebih nyaman. Ruam popok terjadi pada bagian sekitar alat kelamin, selangkang, bokong dan daerah yang tertutupi popok ditandai dengan munculnya kemerahan dan bintik-bintik kemerahan. Minyak zaitun mengandung banyak senyawa aktif seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, squalene dan vitamin E. Semua senyawa ini bermanfaat untuk kulit, memperbaiki sel-sel kulit yang rusak sebagai antioksidan penetral radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian minyak zaitun untuk mengobeti ruam popok selama 3 hari. Pelaksanaan Asuhan: Pelayanan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. P dilaksanakan mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus sampai denga keluarga berencana yang dilakukan secara berkesnambungan. Dimulai dari pengambilan data subjektif yang disampaikan Ny. P, dan ddata objektif yang berdasarkan hasil pemeriksaan. Asuhan dilaksanakan di TPMB Retno Widyawati di Sleman dan di rumah Ny. P, berupa intervensi pemberian inyak zaitun untuk mencehag atau mengobati ruam popok. Evaluasi: Setelah dilakukan asuhan dengan pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir selama 3 hari, ruam popok pada By. Ny P sudah mengalami penurunan dari yang sebelumnya skornya 2 dengan kemerahan kemudian setelah diberi asuhan naik menjadi 5 dengan perubahan kulit yang halus, lembab dan kemerahan yang memudar. Kesimpulan dan Saran: Tidaak ditemukan kesenjangan antara teori dan asuhan yang diberikan. Asuhan yang diberikan pada Ny. P selama masa hamil trimester III, bersalin, nifas, neonatus, dan KB tidak ditemukan adanya masalah atau komplikasi. Pemberian minyak zaitun pada bayi baru lahir efektif pada penyembuhan ruam popok selama 3 hari. Disarankan agar pemberian minyak zaitun diberikan secara rutin dibagian yang ruam. Kata Kunci: Asuhan Kebidanan berkelanjutan, Minyak zaitun, ruam popok SYNOPSIS Scope of care: Olive oil is applied to newborns to treat diaper rash and make babies more comfortable. Diaper rash occurs around the genitals, groin, buttocks, and areas covered by diapers, characterized by redness and red spots. Olive oil contains many active compounds such as phenols, tocopherols, sterols, pigments, squalene, and vitamin E. All of these compounds are beneficial for the skin, repairing damaged skin cells as antioxidants that neutralize free radicals. This study aims to determine the effect of applying olive oil to treat or prevent diaper rash for 3 days. Care Implementation: Continuous midwifery care for Mrs. P was provided starting from the third trimester of pregnancy, through delivery, the postpartum period, and the neonatal period, up to family planning, which was carried out continuously. It began with the collection of subjective data provided by Mrs. P and objective data based on examination results. Care was provided at the Retno Widyawati Maternity Clinic in Sleman and at Mrs. P's home, in the form of olive oil application to prevent or treat diaper rash. Evaluation: After administering olive oil to the newborn for 3 days, the diaper rash on By. Ny P has decreased from a previous score of 2 with redness to a score of 5 with smooth, moist skin and fading redness. Conclusion and Recommendations: No gap was found between theory and the care provided. The care provided to Mrs. P during her third trimester of pregnancy, delivery, postpartum period, and neonatal care, as well as family planning, did not reveal any problems or complications. The application of olive oil to newborns was effective in healing diaper rash within 3 days. It is recommended that olive oil be applied regularly to the affected area. Keywords: Continuous midwifery care, olive oil, diaper rash
Literature Review: Efektivitas Kunjungan Neonatus III (KN3) dan Terapi Komplementer dalam Meningkatkan Kesehatan Bayi Baru Lahir ( Ade lestari ade lestari
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.163

Abstract

INTISARI Periode neonatal merupakan masa kritis dalam kehidupan bayi yang berlangsung sejak lahir hingga usia 28 hari, ditandai dengan proses adaptasi fisiologis yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan tumbuh kembang bayi. Upaya peningkatan kesehatan neonatal dapat dilakukan melalui kunjungan neonatal serta penerapan terapi komplementer seperti baby massage. Literature review ini bertujuan untuk menganalisis hasil penelitian terkait asuhan kebidanan bayi baru lahir melalui kunjungan neonatal dan terapi komplementer baby massage. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh dari lima artikel ilmiah nasional tahun 2022–2025 yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan mengidentifikasi, mengelompokkan, dan mensintesis hasil penelitian berdasarkan tema utama. Hasil review menunjukkan bahwa kunjungan neonatal berperan penting dalam pemantauan kesehatan bayi, deteksi dini komplikasi, serta peningkatan pengetahuan ibu dalam perawatan bayi baru lahir. Selain itu, terapi baby massage memberikan manfaat berupa peningkatan kenyamanan, kualitas tidur, relaksasi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan Continuity of Care (CoC) dapat meningkatkan kualitas asuhan kebidanan secara berkesinambungan Kesimpulan dari literature review ini adalah bahwa kunjungan neonatal dan baby massage merupakan intervensi yang saling melengkapi dalam meningkatkan kesehatan bayi baru lahir. Integrasi keduanya dapat mendukung pelayanan kebidanan yang holistik, berbasis bukti, dan berpusat pada ibu dan bayi. Kata kunci: neonatal, kunjungan neonatal, baby massage, asuhan kebidanan. ABSTRACT The neonatal period is a critical stage in a newborn’s life, lasting from birth to 28 days of age, characterized by physiological adaptation that significantly influences survival and growth. Efforts to improve neonatal health can be carried out through neonatal visits and complementary therapies such as baby massage. This literature review aims to analyze research findings related to midwifery care for newborns through neonatal visits and baby massage as a complementary therapy. The method used in this study is a narrative literature review with a descriptive approach. Data were obtained from five national scientific articles published between 2022 and 2025, selected based on inclusion and exclusion criteria. The analysis was conducted qualitatively by identifying, grouping, and synthesizing the findings based on main themes. The results of the review show that neonatal visits play an important role in monitoring newborn health, early detection of complications, and improving mothers’ knowledge in newborn care. In addition, baby massage therapy provides benefits such as improved comfort, sleep quality, relaxation, and support for infant growth and development. Several studies also indicate that the Continuity of Care (CoC) approach improves the overall quality of midwifery care. In conclusion, neonatal visits and baby massage are complementary interventions that improve newborn health outcomes. The integration of both approaches supports holistic, evidence-based, and family-centered midwifery care. Keywords: neonatal, neonatal visit, baby massage, midwifery care, complementary therapy.
LITERATUR RIVIEW : PERAWATAN ESENSIAL BAYI BARU LAHIR Salsabila Azizatul Alifia Salsa
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.164

Abstract

INTISARI Latar belakang: Masa neonatus merupakan periode paling rentan dalam kehidupan bayi karena tingginya risiko kematian akibat hipotermia, infeksi, asfiksia, dan gangguan adaptasi fisiologis. Perawatan neonatus esensial menjadi intervensi penting untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas neonatal melalui tindakan segera setelah lahir seperti inisiasi menyusu dini, penghangatan bayi, dan perawatan tali pusat Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perawatan neonatus esensial berdasarkan hasil kajian literature review dari jurnal nasional dan internasional. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh dari jurnal nasional dan internasional yang relevan dan dianalisis secara naratif berdasarkan komponen utama perawatan neonatus esensial, yaitu inisiasi menyusu dini, termoregulasi, perawatan tali pusat, dan pencegahan infeksi. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan perawatan neonatus esensial secara lengkap dan konsisten dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir serta menurunkan risiko morbiditas dan mortalitas neonatal. Inisiasi menyusu dini terbukti meningkatkan stabilitas fisiologis bayi dan memperkuat ikatan ibu-bayi. Pengaturan suhu tubuh melalui skin to skin contact efektif mencegah hipotermia, sedangkan perawatan tali pusat dengan metode kering dapat menurunkan risiko infeksi neonatus. Keberhasilan implementasi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu dan kompetensi tenaga kesehatan. Kesimpulan: Perawatan neonatus esensial merupakan intervensi berbasis bukti yang sangat penting untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan bayi baru lahir sejak awal kehidupan. Kata Kunci: Perawatan neonatus esensial; bayi baru lahir; inisiasi menyusu dini; perawatan tali pusat; mortalitas neonatal. ABSTRACT   Background: The neonatal period is the most vulnerable stage of life due to the high risk of mortality caused by hypothermia, infection, asphyxia, and physiological adaptation disorders. Essential Newborn Care (ENC) is a critical intervention aimed at reducing neonatal morbidity and mortality through immediate postnatal actions such as early initiation of breastfeeding, thermal protection, and umbilical cord care Objective: This study aims to describe Essential Newborn Care based on a literature review of national and international journals. Methods: This study used a descriptive literature review approach. Data were obtained from relevant national and international peer-reviewed journals. The articles were analyzed narratively based on key ENC components, including early breastfeeding initiation, thermoregulation, cord care, and infection prevention. Results: The findings indicate that complete and consistent implementation of ENC significantly improves neonatal survival and reduces morbidity and mortality rates. Early breastfeeding initiation enhances physiological stability and mother–infant bonding. Thermal care through skin-to-skin contact effectively prevents hypothermia, while dry cord care reduces the risk of neonatal infection. Successful implementation is strongly influenced by maternal knowledge and healthcare providers’ competence. Conclusion: Essential Newborn Care is an evidence-based intervention that is crucial for improving newborn health and survival from the first minutes of life.   Keywords: Essential newborn care; newborn; early initiation of breastfeeding; cord care; neonatal mortality.
PENDIDIKAN KESEHATAN PADA WUS TERHADAP KETEPATAN KUNJUNGAN ULANG SUNTIK KB 3 BULAN DI KARANGASEM SEDAYU SRI WIDARTI
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.165

Abstract

Latar Belakang: Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan dan merupakan salah satu bagian dari program KB Nasional saat ini adalah KB suntik.. Masalah kesehatan yang dirasakan sebagian akseptor karena timbulnya efek samping dari jenis KB tersebut dan kurangnya konseling dari tenaga medis, memungkinkan seorang akseptor akan merasakan putus pakai. Subyek dan Metode: Subjek penelitian merupakan Wanita usia subur. Metode penelitian merupakan penelitian pra eksperimen dengan rancangan one-group pretest posttest desain. pengambilan sampel diambil dengan metode total sampling. Hasil: Uji statistik dengan Wilcoxon. Ketepatan kunjungan akseptor KB suntik 3 bulan sebelum pemberian pendidikan kesehatan sebagian besar dalam kategori tidak tepat yaitu 37 responden (58,7%). Ketepatan kunjungan akseptor KB suntik 3 bulan setelah pemberian pendidikan kesehatan sebagian besar dalam kategori tidak tepat yaitu 11 responden (17,5%). Ada pengaruh Pendidikan kesehatan dengan media booklet terhadap ketepatan kunjungan akseptor KB suntik 3 bulan didapatkan nilai p-value 0,000 < 0,05. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap ketepatan kunjungan ulang suntik 3 bulan. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis wilcoxon. dengan α = 0,05, diperoleh nilai p-value 0,000 dimana 0,000 hal ini berarti hal ini berarti ho ditolak dan ha diterima yaitu ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap ketepatan kunjungan ulang suntik 3 bulan. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, WUS, Kunjungan Ulang, Suntik 3 bulan
SKRINING HIPOTIROID KONGENITAL (SHK) PADA BAYI BARU LAHIR arsy salsabiiila
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.166

Abstract

  INTISARI Latar Belakang:Hipotiroid kongenital merupakan gangguan fungsi kelenjar tiroid sejak lahir yang dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, gangguan perkembangan neurologis, hingga disabilitas intelektual permanen apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) pada bayi baru lahir menjadi upaya penting untuk deteksi dini sebelum muncul gejala klinis. Tujuan:Mengetahui dan menganalisis hasil penelitian terkait pelaksanaan SHK pada bayi baru lahir, termasuk faktor yang memengaruhi keberhasilan program serta tantangan implementasinya. Metode:Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian artikel melalui Google Scholar, Garuda, PubMed, dan ScienceDirect. Artikel yang digunakan berjumlah enam publikasi (2021–2025) terdiri dari empat jurnal nasional dan dua jurnal internasional. Analisis data dilakukan menggunakan narrative synthesis. Hasil:Hasil kajian menunjukkan bahwa SHK efektif dalam mendeteksi hipotiroid kongenital secara dini sebelum timbul gejala klinis. Keberhasilan pelaksanaan SHK dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, dukungan tenaga kesehatan, serta ketersediaan sarana dan prasarana. Namun, implementasi di Indonesia masih menghadapi kendala seperti keterbatasan SDM, sistem pelaporan yang belum optimal, serta kurangnya sosialisasi program. Kesimpulan:SHK merupakan intervensi penting dalam mencegah disabilitas akibat hipotiroid kongenital. Diperlukan peningkatan edukasi, penguatan tenaga kesehatan, serta optimalisasi kebijakan untuk meningkatkan cakupan program. Kata Kunci:Skrining Hipotiroid Kongenital, bayi baru lahir, deteksi dini, hipotiroid kongenital, kebidanan.   ABSTRACT Background:Congenital hypothyroidism is a thyroid dysfunction present at birth that can lead to growth retardation, neurodevelopmental delay, and permanent intellectual disability if not detected and treated early. Newborn Screening for Congenital Hypothyroidism (SHK) is an important strategy for early detection before clinical symptoms appear. Objective:To identify and analyze research findings related to the implementation of SHK in newborns, including factors influencing program success and implementation challenges. Methods:This study used a literature review design. Articles were searched through Google Scholar, Garuda, PubMed, and ScienceDirect using keywords such as “congenital hypothyroidism screening,” “SHK,” “newborn,” and “newborn screening.” Six articles published between 2021–2025, consisting of four national journals and two international journals, were selected. Data were analyzed using narrative synthesis. Results:The findings show that SHK is effective in early detection of congenital hypothyroidism before clinical symptoms appear. The success of SHK implementation is influenced by maternal knowledge, healthcare worker support, and the availability of health facilities. However, implementation in Indonesia still faces challenges such as limited human resources, suboptimal reporting systems, and lack of public awareness. Conclusion:SHK is an essential intervention for preventing disability caused by congenital hypothyroidism. Strengthening education, improving healthcare workforce capacity, and optimizing health policies are necessary to improve SHK coverage.   Keywords: Congenital hypothyroidism screening, newborn, early detection, congenital hypothyroidism, midwifery.
Fika Pratiwi ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA NY. R DENGAN PEMBERIAN THERAPY COMPRESS BALL UNTUK MENGURANGI NYERI PUNGGUNG IBU HAMIL TRIMESTER III Di PMB EMI NARIMAWATI fika pratiwi
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.167

Abstract

Ruang Lingkup: Ketidak nyamanan pada kehamilan trimester III merupakan tanda normal yang mengindentifikasikan adanya gangguan yang dapat terjadi selama masa kehamilan. Maka diperlukan konseling atau pendidikan kesehatan. Alat bantu diperlukan untuk memberikan pendidikan kesehatan dan penanganan ketidaknyamanan, agar pesan yang disampaikan dapat diberikan dan diterima dengan baik oleh sasaran. Salah satu alat kesehatan nonfarmakologis yang efektif adalah therapy compress ball. Pelaksanaan Asuhan : Asuhan berkelanjutan yang dilakukan pada Ny. "R" dengan penanganan ketidak nyamanan pada kehamilan Trimester III menggunakan therapy compress ball Di PMB Emi Narimawati dengan pendekatan manajemen kebidanan dimulai dari kehamilan trimester tiga hingga nifas sampai kunjungan 35 hari. Evaluasi: Setelah dilakukan asuhan Therapy compress ball pada ibu hamil trimester III selama 4 kali dengan jeda 2 hari didapatkan skor awal 6 menjadi 3 dan hasil nyeri menurun sehingga nyeri punggung pada Ny "R" terjadi penurunan pada tingkat nyeri punggung yang ibu alami pada kehamilan TM III Kesimpulan:Kesimpulan dari Asuhan Kebidanan Berlanjutan tidak ditemukan adanya kesenjangan teori dan asuhan berhasil dilakukan, dari siklus kehamilan, persalinan, BBL, Nifas dan KB. Saran: Saran untuk bidan dan mahasiswa diharapkan dapat digunakan sebagai bahan bagi tenaga kesehatan khususnya bidan dalam meningkatkan mutu kualitas pelayanan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas di hadapan masyarakat terutama mengenai Penangana ketidak nyamanan pada Kehamilan Trimester III menggunakan therapy compress ball. Kata Kunci: Asuhan Keberlanjutan, Ibu hamil trimester III, therapy compress ball, Nyeri Punggung
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN DENGAN PEMBERIAN SEDUHAN TEH BUNGA TELANG UNTUK MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DI KLINIK ZAM- ZAM MEDICA yulia adhisty
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.168

Abstract

INTISARI Latar Belakang : Asuhan kebidanan berkelanjutan merupakan pelayanan menyeluruh yang diberikan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Pada laporan ini, asuhan difokuskan pada ibu nifas dengan pemberian seduhan teh bunga telang (Clitoria ternatea) untuk mempercepat penyembuhan luka perineum. Bunga telang diketahui mengandung flavonoid, dan terpenoid yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, serta mendukung regenerasi jaringan. Kandungan tersebut berperan dalam mempercepat proses epitelisasi, mengurangi risiko infeksi, serta mempercepat pemulihan ibu pasca persalinan. Pelaksanaan Asuhan : Pelayanan asuhan kebidaan berkelanjutan dilakukan pada Ny. K secara continuity of care dengan pendekatan manajemen kebidanan metode SOAP dan Varney. Pemberian seduhan teh bunga telang dilakukan sejak masa nifas sebagai terapi tambahan, dilaksanakan di Klinik Zam-Zam Medica serta melalui kunjungan rumah. Asuhan difokuskan pada pengkajian kondisi ibu, konseling, pendampingan, serta pemantauan proses penyembuhan luka perineum. Evaluasi : Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada hari ke-5 masa nifas, luka perineum Ny. K mengalami penyembuhan lebih cepat dibandingkan waktu normal (7–8 hari). Luka tampak kering, menutup baik, dan tidak menunjukkan tanda infeksi sesuai dengan kriteria REEDA. Kesimpulan dan Saran : Pemberian seduhan teh bunga telang terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka perineum. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai alternatif terapi herbal yang aman, alami, efektif, serta terjangkau untuk mendukung praktik asuhan kebidanan berkelanjutan. Kata Kunci : Asuhan Kebidanan Berkelanjutan, Nifas, Luka Perineum, The bunga Telang. ABSTRACK Background This study presents continuity of midwifery care for a postpartum mother with the intervention of butterfly pea (Clitoria ternatea) tea to accelerate perineal wound healing. The plant contains flavonoids, anthocyanins, tannins, and terpenoids, which act as antioxidants, anti-inflammatory, antibacterial agents, and support tissue regeneration. Implementation of care: : Care was provided from the third trimester of pregnancy through childbirth, postpartum, newborn care, and family planning, with butterfly pea tea given during the postpartum period. Using the SOAP and Varney approaches, care included assessment, counseling, support, and wound monitoring. Evaluation: Showed that by day 5 postpartum, the perineal wound had healed faster than the average 7–8 days. The wound appeared dry with no signs of infection, and closure met REEDA criteria. Conclusions and suggestions: Butterfly pea tea effectively accelerates perineal wound healing in postpartum mothers. Continuity of midwifery care not only improves service quality but also offers a safe, natural, effective, and affordable herbal therapy option for postnatal recovery. Keywords: Continuity of care, Postpartum, Perineal Wounds, Butterfly Pea Tea
ASUHAN KEBIDANAN BERKELANJUTAN PADA NY. N DENGAN INISIASI MENYUSU DINI UNTUK MENCEGAH KEHILANGAN PANAS TUBUH BAYI DI TPMB TATIK SUPRIHATIN BANTUL YOGYAKARTA fauzul husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.169

Abstract

INTISARI Latar Belakang: Bayi baru lahir berisiko mengalami kehilangan panas tubuh (hipotermia) karena sistem termoregulasi yang belum matang. Hipotermia dapat menyebabkan komplikasi seperti hipoglikemia, gangguan pernapasan, infeksi, hingga kematian neonatal. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) melalui kontak kulit ke kulit (skin to skin contact) merupakan metode efektif untuk menjaga suhu tubuh bayi segera setelah lahir. Tujuan: Melaksanakan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. N dengan pemberian IMD untuk mencegah kehilangan panas tubuh bayi di TPMB Tatik Suprihatin Bantul Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui Continuity of Care (CoC) mulai trimester III kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas, hingga neonatus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi pustaka. Dokumentasi asuhan menggunakan metode SOAP. Hasil: Kehamilan Ny. N berlangsung fisiologis dan persalinan berjalan normal tanpa komplikasi. IMD dilakukan selama satu jam melalui kontak kulit ibu dan bayi. Bayi berhasil menyusu mandiri, suhu tubuh tetap stabil pada rentang 36,5°C–37,5°C, dan tidak ditemukan tanda hipotermia. Kondisi ibu dan bayi pada masa nifas dan neonatus juga baik. Kesimpulan: IMD efektif mencegah kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir serta membantu menjaga kestabilan suhu tubuh bayi melalui kontak kulit ke kulit. Kata Kunci: Asuhan Kebidanan Berkelanjutan, Inisiasi Menyusu Dini, Hipotermia, Bayi Baru Lahir. ABSTRACT Background: Newborns are at risk of heat loss (hypothermia) due to immature thermoregulation. Hypothermia may lead to complications such as hypoglycemia, respiratory problems, infection, and neonatal mortality. Early Initiation of Breastfeeding (EIBF) through skin-to-skin contact is an effective method to maintain newborn body temperature immediately after birth. Objective: To provide continuity of midwifery care for Mrs. N through the implementation of EIBF to prevent newborn heat loss at TPMB Tatik Suprihatin, Bantul, Yogyakarta. Methods: This study used a descriptive case study approach with Continuity of Care (CoC), covering the third trimester of pregnancy, labor, newborn, postpartum, and neonatal care. Data were collected through interviews, observation, physical examination, documentation, and literature review. Care documentation used the SOAP method. Results: Mrs. N experienced a physiological pregnancy and spontaneous normal labor without complications. EIBF was conducted for one hour immediately after birth through skin-to-skin contact. The baby successfully performed the breast crawl reflex and breastfed independently. The newborn’s temperature remained stable at 36.5°C–37.5°C, with no signs of hypothermia. Postpartum and neonatal conditions were normal, and exclusive breastfeeding was successfully initiated. Conclusion: EIBF is effective in preventing newborn heat loss and maintaining body temperature stability. Continuity of midwifery care supports successful EIBF implementation and optimal neonatal adaptation. Keywords: Continuity of Midwifery Care, Early Initiation of Breastfeeding, Hypothermia, Newborn.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI USIA 6-24 BULAN DI PUSKESMAS IMOGIRI II BANTUL fauzul husna
Jurnal Ilmu Kesehatan Mulia Madani Yogyakarta Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL ILMU KESEHATAN MULIA MADANI
Publisher : Akademi Kebidanan Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67157/jik.v7i1.171

Abstract

  INTISARI Latar belakang : Masalah kesehatan stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Kejadian balita pendek atau disebut stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Salah satu Stunting pada bayi dan balita dapat dipengaruhi oleh pemberian ASI dan makanan tambahan, yaitu MP-ASI. MP-ASI diberikan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi pada saat usia 6–24 bulan yang tidak dapat tercukupi apabila hanya diberikan ASI. Periode usia 6–24 bulan merupakan periode kritis pertumbuhan linier. Periode ini menjadi periode puncak prevalensi stunting di negara berkembang salah satunya Indonesia, yaitu terkait dengan kebutuhan gizi yang tinggi dengan kualitas dan kuantitas makanan tambahan terbatas, yaitu MP- ASI. Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian makanan pendamping ASI di Puskesmas Imogiri II Bantul. Metode Penelitian : Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan metode accidental sampling yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel Hasil Penelitian : Pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Puskesmas Imigiri II Bantul terdapat 60% (18) responden memiliki pengetahuan Baik, 33% (10) responden memiliki pengetahuan Cukup dan 7% (2) responden memiliki pengetahuan kurang. Kesimpulan : Tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI bayi umur 6- 24 bulan di Puskesmas Imogiri II Bantul termasuk dalam kategori baik Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Pemberian MP-ASI   ABSTRACT Background: The health problem of stunting in Indonesia is still quite high. The incidence of short toddlers or what is called stunting is a condition where toddlers have less height compared to their age. One of the things that stunting in babies and toddlers can be is influenced by giving breast milk and additional food, namely MP-ASI. MP-ASI is given in order to meet nutritional needs at the age of 6-24 months which cannot be met if only breast milk is given. The age period 6–24 months is a critical period of linear growth. This period is the peak period for the prevalence of stunting in developing countries, one of which is Indonesia, which is related to high nutritional needs with limited quality and quantity of additional food, namely MP-ASI. Research Objective: To determine the level of knowledge of mothers regarding the provision of complementary foods for breast milk at the Imogiri II Bantul Community Health Center. Research Method: The approach used in this research is a quantitative approach. The sample in this research was taken using the accidental sampling method, that is, anyone who happened to meet the researcher could be used as a sample Research Results: Mothers' knowledge about giving MP-ASI to babies aged 6-24 months at the Imigiri II Bantul Community Health Center showed that 60% (18) of respondents had good knowledge, 33% (10) of respondents had sufficient knowledge and 7% (2) of respondents had good knowledge. have less knowledge. Conclusion: The level of knowledge of mothers regarding giving MP-ASI to babies aged 6-24 months at the Imogiri II Bantul Community Health Center is included in the good category Keywords: Level of Knowledge, Giving MP-ASI