cover
Contact Name
Munawwir Hadwijaya
Contact Email
mr.awinwijaya@gmail.com
Phone
+6281333027167
Journal Mail Official
mr.awinwijaya@gmail.com
Editorial Address
Jl. Arjuno I/1172
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Published by ANFA MEDIATAMA
ISSN : -     EISSN : 29617693     DOI : https://doi.org/10.572349/relinesia
Core Subject : Religion,
Relinesia: Jurnal Studi Agama dan Multikulturalisme Indonesia diterbitkan dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli, terdaftar dengan ISSN 2961-7693. Jurnal ini memfokuskan ruang lingkupnya pada isu-isu Agama di Indonesia dan Kajian Multikulturalisme. Jurnal ini menerbitkan penelitian empiris dan teoritis berkualitas tinggi yang mencakup semua aspek Agama dan Multikulturalisme Indonesia. Deradikalisasi Pendidikan Agama, Filsafat Pendidikan Agama, Kebijakan Pendidikan Agama, Gender dan Pendidikan Agama, Perbandingan Agama, dan Multikulturalisme.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 395 Documents
TEOLOGI FEMINIS DAN PEREMPUAN MANDUL: REINTERPRETASI KISAH ELISABET DALAM LUKAS 1:5-25 SEBAGAI KRITIK ATAS STIGMA SOSIAL Noisye, Nira; Lambertus , Serli; Burirang , Rendi Noval; Bode , Given Hadinataniel; Kasa , Yobe
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 4 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji persoalan stigma sosial terhadap perempuan mandul dan menawarkan reinterpretasi kisah Elisabet dalam Lukas 1:5-25 dari perspektif teologi feminis sebagai upaya kritik terhadap stigma tersebut. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik feminis, penelitian ini menganalisis bagaimana stigma sosial yang berakar dari budaya patriarki telah merendahkan martabat perempuan mandul melalui berbagai bentuk diskriminasi dan marginalisasi. Studi ini mengungkapkan bahwa perempuan mandul kerap mengalami pelabelan negatif, pengucilan sosial, hingga kekerasan verbal yang berdampak pada kesehatan mental dan relasi sosial mereka. Melalui pembacaan kritis terhadap kisah Elisabet, penelitian ini menemukan bahwa tafsiran tradisional yang memandang kemandulan sebagai aib justru turut melanggengkan stigma tersebut. Sebagai alternatif, penelitian ini menawarkan reinterpretasi feminis yang mengangkat Elisabet sebagai subjek yang mampu mempertahankan iman dan martabatnya di tengah tekanan stigma sosial. Keteguhan Elisabet menjadi model inspiratif bagi perempuan mandul masa kini dalam menghadapi diskriminasi. Implikasi teologis dari reinterpretasi ini menegaskan bahwa nilai dan martabat perempuan tidak ditentukan oleh kemampuan reproduksinya, melainkan oleh statusnya sebagai citra Allah yang berharga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reinterpretasi feminis atas kisah Elisabet tidak hanya menawarkan pembacaan baru yang membebaskan, tetapi juga mendorong transformasi cara pandang dan sikap gereja serta masyarakat terhadap perempuan mandul. Studi ini merekomendasikan perlunya edukasi publik yang lebih masif untuk mengubah stigma sosial, serta pengembangan program pastoral yang memberdayakan perempuan mandul dalam komunitas iman.
METODE PENGINJILAN YANG RELEVAN UNTUK PELAYANAN DI SUKU KETENGBAN Malyo, Tirianus
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 4 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas penginjilan di suku Ketenban, yang terletak di daerah terpencil, dengan fokus pada pengembangan metode yang kontekstual dan sensitif terhadap budaya lokal. Suku Ketenban menghadapi tantangan dalam aksesibilitas terhadap pelayanan spiritual dan sosial, sehingga diperlukan pendekatan yang holistik dan inklusif untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat. Metode penginjilan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi terbukti efektif dalam menjangkau masyarakat yang sulit diakses. Selain itu, penginjilan yang mempertimbangkan nilai-nilai dan tradisi lokal, serta melibatkan tokoh masyarakat, dapat meningkatkan penerimaan ajaran agama. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya integrasi aspek sosial, seperti program kesehatan dan pemberdayaan ekonomi, untuk memberikan dampak yang lebih signifikan. Keterlibatan generasi muda melalui kegiatan kreatif, seperti seni dan musik, diharapkan dapat memperkuat iman dan identitas komunitas. Pelatihan berkelanjutan bagi pelayan gereja dalam keterampilan komunikasi dan pemahaman budaya lokal sangat penting untuk efektivitas penginjilan. Evaluasi dan umpan balik dari masyarakat juga menjadi aspek krusial dalam menyesuaikan metode penginjilan agar tetap relevan. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan bahwa pengembangan metode penginjilan yang relevan di suku Ketenban memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan responsif terhadap konteks lokal, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan pertumbuhan iman masyarakat.
KRITERIA KEABSAHAN SEORANG PERAWI MENURUT SYEKH IBNU ABI HATIM ARRAZY Husaeni, Uum Umaroh; Musthofa, Rikza; Arifin, Azis
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi kontribusi Syekh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi dalam menetapkan kriteria keabsahan perawi hadis melalui metode jarh wa ta'dil. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi standar yang digunakan Ibnu Abi Hatim dalam menilai kualitas perawi, mencakup keadilan, ketelitian, dan kapasitas intelektual dalam menghafal hadis. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah sumber primer seperti kitab Al-Jarh wa Al-Ta'dil serta referensi sekunder dari ulama terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang ditetapkan Ibnu Abi Hatim memainkan peran krusial dalam menjaga otentisitas hadis dalam tradisi Islam. Beliau menekankan pentingnya kejujuran, hafalan yang akurat, serta perilaku yang terpuji dari para perawi untuk memastikan bahwa hadis yang diriwayatkan tetap murni dan dapat dipercaya. Standar ketat yang digunakan berfungsi sebagai panduan bagi para ahli hadis dalam memverifikasi keabsahan riwayat. Pemikiran dan karyanya menjadi referensi penting yang diakui dalam studi ilmu hadis hingga saat ini, menjamin hanya riwayat yang otentik yang digunakan dalam pengajaran dan pelestarian nilai-nilai Islam.
PENGARUH HUKUM ISLAM DALAM SOSIOLOGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DI INDONESIA Saebani, Beni Ahmad; Wardhani , Emilia Kusuma; Al Ansori , Farid Munawar
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum Islam memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, menciptakan hubungan yang kompleks antara norma hukum dan realitas sosial. Selain berfungsi sebagai pedoman agama, hukum Islam juga menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi yang hidup dalam masyarakat, terutama di kalangan umat Muslim. Penerapan hukum Islam tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pernikahan, warisan, dan ekonomi, yang sering disesuaikan dengan konteks lokal dan adat setempat. Interaksi antara hukum Islam dan masyarakat Indonesia menunjukkan saling mempengaruhi, hukum Islam memandu perilaku sosial dan etika masyarakat, sementara perubahan sosial akibat modernisasi dan globalisasi juga mempengaruhi praktik hukum Islam, seperti munculnya lembaga keuangan syariah. Dalam masyarakat Indonesia yang plural, penerapan hukum Islam cenderung terbatas pada bidang-bidang tertentu, seperti hukum perdata, untuk menjaga harmoni antar agama dan menghindari konflik sosial, sementara hukum pidana jarang diterapkan. Dengan pendekatan sosiologi hukum, kita dapat melihat bagaimana hukum Islam membentuk identitas kolektif masyarakat Muslim Indonesia dan mempengaruhi struktur sosial serta dinamika interaksi antarindividu dalam masyarakat.
KONSEP HADIS SHAHIH IMAM MUSLIM DAN RELEVANSI DI ERA KONTEMPORER Alfaqih, Ahmad Hizazih; ‘Aisy, Darin Rihhadatul; Arifin, Azis
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Imam Muslim bin al-Hajjaj, salah satu tokoh penting di bidang hadits. Tujuan artikel ini untuk mempelajari kehidupan Imam Muslim, dengan penekanan khusus peran yang dia lakukan dalam mengumpulkan hadits shahih serta metode yang digunakan untuk menulis kitabnya. Kitab Shahih Muslim berisi hadits yang dianggap shahih menurut standar Imam Muslim. Metodologi ini sedikit berbeda dengan metode Imam Bukhari, terutama dalam urutan penyampaian sanad dan penerimaan hadits dengan satu riwayat. Artikel ini membahas ide-ide Imam Muslim, menekankan kualitas periwayat dan keselarasan sanad, serta relevansi ide-ide ini di zaman sekarang. Juga membahas kontribusi Imam Muslim terhadap perkembangan ilmu hadits. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dan pekerjaan Imam Muslim masih relevan dalam penetapan hukum Islam dan pengkajian hadits di era sekarang.
KEHUJJAHAN HADITS AHAD DALAM PEMIKIRAN IMAM AL-GHAZALI Sulistiani, Sulistiani; Furqon, Faqih Nurmaulana; Arifin, Azis
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadits ahad dianggap sebagai sumber hukum kedua setelah Hadits Mutawattir. Karena itu, Hadits Mutawattir tidak lagi perlu diuji kebenarannya. Sebaliknya, Hadits ahadlah yang perlu diuji validitasnya. Salah satu ulama kontemporer terkemuka, Syeikh Imam Al-Ghazali, memiliki pandangan tersendiri mengenai hal ini. Artikel ini membahas bagaimana Syeikh Al-Ghazali melihat kedudukan Hadits Ahad, serta mengkritik kelemahan matan beberapa Hadits Ahad, meskipun ulama klasik menganggapnya shahih. Penelitian ini menggunakan kajian pustaka, yang berarti mengumpulkan informasi dari berbagai jurnal tentang kritikan syeikh Al-Ghazali. Menurut Syeikh Al-Ghazali, memilih untuk tidak mengamalkan hadis ahad tidak masalah, asalkan tidak berkaitan dengan iman atau rukun islam. Kritikannya terhadap hadis ahad tidak berarti ia menolak semua hadis; sebaliknya, ia meminta para peneliti hadis untuk memahami hadis dengan lebih teliti, terutama yang belum jelas kedudukannya
HIDUP GLAMOUR DALAM PERSPEKTIF HADIS Arridho, Muhammad Abdu Musa; Rosyadi, Salim
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya Hidup Glamour ini menjadikan kebiasaan (habit) dikalangan masyarakat yang bisa menjadi boomerang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas tentang gaya hidup glamour dalam perspektif hadis. Metode ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mengumpulkan data hadis dengan metode hadis tematik. Objek formal penelitian ini adalah nilai dan norma dalam pandangan hadis yang telah dibentuk kerangka sesuai dengan tema-tema hadis. Objek material ini adalah kebiasaan perilaku gaya hidup glamour di masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tema-tema hadis yang dirumuskan dalam kerangka tematik nilai dan norma hidup glamour di masyarakat. Pembahasan penelitian ini menjelaskan bahwa kebiasaan gaya hidup glamour yang semakin menjalar di seluruh elemen masyarakat ini tidak sesuai dengan nilai dan norma seperti dampak positif dan negatif yang terkandung dalam hadis-hadis tematik. Kebiasaan gaya hidup glamour memberikan dampak negatif yang tentu bertolak belakang dengan poin-poin hadis Nabi Muhammad SAW yang sudah dibentuk dalam kerangka tematik.
TAHLILAN: WUJUD AKULTURASI AGAMA DAN KEARIFAN LOKAL: Perspektif Mahasiswa FPMIPA UPI dan Masyarakat Tsaqib, Fathanah Hamidah; Indi , Susan; Surahman , Cucu
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji pandangan mahasiswa Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia (FPMIPA UPI) dan masyarakat sekitar UPI mengenai tradisi tahlilan sebagai bentuk akulturasi agama Islam dengan kearifan lokal. Penelitian ini menyoroti perbedaan pendapat tentang asal usul tahlilan, yang dianggap berasal dari tradisi Hindu, ajaran Islam Timur Tengah, atau warisan Walisongo. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode kuesioner untuk mahasiswa dan wawancara dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memahami tahlilan sebagai tradisi yang mempererat silaturahmi, memberikan manfaat spiritual, dan mendoakan almarhum. Meskipun terdapat pandangan yang berbeda mengenai asal usulnya, toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi respons dominan. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang dinamika tradisi lokal dalam konteks keberagaman agama dan budaya.
PERBEDAAN PEROLEHAN HARTA WARIS DALAM PERSPEKTIF WARIS ISLAM DAN WARIS PERDATA Putra, Joshua Aldo Tri; Akbar , Rafi Great; Yakub , Andi Ismail
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum waris Islam dan hukum positif di Indonesia merupakan dua sistem hukum yang berbeda dalam mengatur pembagian harta warisan. Hukum waris Islam didasarkan pada sumber-sumber utama syariah, yaitu Al-Qur'an dan Hadis. Dalam hukum ini, pembagian harta warisan diatur dengan ketat dan rinci, mengacu pada proporsi yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Setiap ahli waris seperti anak, istri, orang tua, dan kerabat lainnya memiliki hak yang jelas dan terstruktur. Ada bagian tertentu yang sudah ditetapkan, misalnya, anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari anak perempuan, dan orang tua, pasangan, serta kerabat lainnya mendapatkan bagian sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Al-Qur’an. Di sisi lain, hukum positif yang berlaku di Indonesia diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan berbagai peraturan hukum lainnya. Hukum positif ini tidak didasarkan pada agama tertentu, melainkan pada undang-undang yang telah dirumuskan oleh negara. Pembagian harta warisan dalam hukum positif lebih bersifat umum dan fleksibel, mengikuti aturan hukum perdata yang berlaku tanpa melihat latar belakang agama dari para pihak yang terlibat. Perbedaan mendasar antara kedua sistem ini terletak pada prinsip-prinsip pembagiannya. Hukum waris Islam memiliki ketentuan yang sangat spesifik, termasuk tentang siapa saja yang berhak menerima warisan dan berapa bagian yang harus diterima oleh masing-masing ahli waris.
MENGUNGKAP BUDAYA FOMO DAN ADIKSI MEDIA SOSIAL: TANGGAPAN MAHASISWA MUSLIM DI ERA DIGITAL Fadhila, Almira Rahma; Hermawan , Najwa Nabila; Surahman , Cucu
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 3 No. 5 (2024): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya Fear of Missing Out (FoMO) merupakan fenomena yang marak terjadi di masyarakat modern, ditandai dengan kecemasan karena merasa tertinggal dari orang lain, terutama melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan mahasiswa Muslim terhadap FoMO, dampaknya terhadap adiksi media sosial, serta cara mengatasinya dengan penerapan nilai-nilai agama. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 32 mahasiswa Muslim dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai subjek. Data diperoleh melalui kuesioner daring dengan pertanyaan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO memengaruhi adiksi media sosial, kesehatan mental, kehidupan akademik, dan aspek spiritual mahasiswa. Faktor penyebab FoMO meliputi tekanan sosial, pembandingan diri, dan penggunaan media sosial yang berlebihan. Sebagian mahasiswa mampu mengatasi FoMO melalui pembatasan penggunaan media sosial, peningkatan rasa syukur, dan prioritas pada ibadah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan nilai-nilai agama dapat menjadi pendekatan efektif untuk mengelola dampak FoMO dan adiksi media sosial, membantu mahasiswa menghadapi tantangan era digital dengan lebih bijaksana.