cover
Contact Name
Yokke Andini
Contact Email
yokkeandini@uin-antasari.ac.id
Phone
+6289524924655
Journal Mail Official
muadalah@uin-antasari.ac.id
Editorial Address
Rumah Jurnal UIN Antasari Banjarmasin, Jl. A. Yani km. 4.5 Banjarmasin - Kalimantan Selatan 70235
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Mu'adalah: Jurnal Studi Gender dan Anak
Muadalah: Journal of Gender and Children Studies brings attention to topics concerning gender, women, and children issues. The journal aims to disseminate cutting edge research and contemporary developments regarding these issues from multidimensional perspectives, including religion, economics, culture, history, education, law, arts, communication, politics, and theology. Focus: Interdisciplinary and comprehensive examinations on the dynamics of gender issues, women rights, and child protection from a global outlook. Scope: Critical analysis of gender construction and its ramifications on power relations between men and women across the world. Explorations of women struggles in achieving gender equality and social justice in private and public domains. Comparative assessments on policies and efforts in safeguarding children rights and wellbeing. Critical appraisals of infringements on women and children rights resulting from the dominance of patriarchal culture and structural barriers. Contributions of religious, arts, politics, economics, and other multifaceted social science lenses toward gender issues advocacy and child protection.
Articles 97 Documents
Urgensi Memahami Kesetaraan Gender bagi Guru Sekolah Dasar Jannah, Fathul
Muadalah Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v10i1.8127

Abstract

Stereotip negatif dan perlakuan tidak adil masih menjadi suatu yang jamak terjadi. Pada umumya, perempuan dianggap sebagai kelas kedua dan menjadi pelengkap bagi figur laki-laki. Akibatnya terjadi pembatasan peran bagi perempuan agar hanya terlibat aktif pada ranah domestik. Padahal baik laki-laki atau perempuan sama-sama memiliki hak dalam aktivitas politik, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Pandangan dan perlakuan ini harus dirubah karena tidak sesuai dengan semangat agama Islam yang memandang laki-laki dan perempuan dengan penuh penghargaan. Usaha ini harus dilakukan sejak usia kanak-kanak. Oleh karena itu para guru Sekolah Dasar perlu memahami kesetaraan gender, kemudian membiasakannya kepada para siswanya. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, sehingga pada prosesnya memanfaatkan secara maksimal data-data dan informasi kepustakaan dari buku dan jurnal berkenaan dengan tema ini. Hasil menunjukkan bahwa menjadi sangat penting bagi guru Sekolah Dasar untuk memahamkan kesetaraan gender sejak usia kanak-kanak. Ini dilakukan karena perspektif dan sikap seseorang adalah hasil dari pengalaman masa kanak-kanaknya. Pembiasaan kepada anak-anak untuk menerima perbedaan, kekurangan, dan kelebihan masing-masing baik anak laki-laki maupun perempuan menjadikannya lebih ramah, mudah menerima perbedaan, menghargai peran rekannya, dan sebagainya. Selain itu, anak menjadi lebih mudah untuk membangun sinergi antar sesamanya. Penerimaan terhadap kesetaraan gender sangat berguna bagi pembangunan, karena sinergitas dan penghargaan menjadi lebih mudah terbangun.  Negative stereotypes and unfair treatment are still commonplace. In general, women are considered as second class and a complement to male figures. As a result, there is a role restriction for women so that they are only actively involved in the domestic sphere. Even though both men and women have equal rights in political activities, culture, education, and so on. This view and treatment must be changed because it is not in accordance with the spirit of the Islamic religion which views men and women with great respect. This effort must be done since childhood. Therefore, elementary school teachers need to understand gender equality, then familiarize their students with it. This research is library research, so that in the process it makes maximum use of the data and information from books and journals related to this theme. The results show that it is very important for elementary school teachers to understand gender equality from a young age. This is done because a person's perspective and attitude are the result of his or her childhood experiences. Accustoming children to accept the differences, weaknesses, and strengths of each, both boys and girls, makes them more friendly, easy to accept differences, respect the role of colleagues, and so on. In addition, it becomes easier for children to build synergy among themselves. Acceptance of gender equality is very useful for development because it is easier to build synergy and appreciation.  
Pernikahan Dini di Kalimantan Selatan: Adat atau Tren? Munirah, Nida
Muadalah Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v10i1.8129

Abstract

Selama bertahun-tahun, Kalimantan Selatan termasuk penyumbang angka pernikahan dini yang tinggi di Indonesia. Terjadinya pernikahan dini tersebut dilatari oleh alasan ekonomi, pendidikan, lingkungan dan budaya, keyakinan, dan akibat pergaulan bebas. Melihat kenyataan ini, maka pernikahan dini di Kalimantan Selatan dilatari oleh adat dan juga tren yang berkembang di masyarakat. Menikah dini menjadi hal yang wajar daripada anak melakukan perzinaan dan juga ada stigma negatif bagi perempuan yang sudah pubertas namun tidak menikah.  Penelitian dilakukan dengan menyandingkan data-data dari penelitian terdahulu dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil analisis kemudian dituliskan secara deskriptif kualitatif yang diperkaya dengan teori-teori yang berkenaan dengan pernikahan dini. For many years, South Kalimantan has been a contributor to the high rate of early marriage in Indonesia. The occurrence of early marriage is motivated by economic reasons, education, environment and culture, beliefs, and the consequences of promiscuity. Seeing this reality, early marriage in South Kalimantan is based on customs and trends that develop in society. Early marriage becomes a natural thing than children committing adultery and there is also a negative stigma for women who have reached puberty but are not married. The study was conducted by juxtaposing data from previous studies with a survey from the Central Statistics Agency (BPS). The results of the analysis are then written in a qualitative descriptive manner which is enriched with theories relating to early marriage.  
Depicting Gender Construction in Visual Images of ELT Textbook of Junior High School in Indonesia Saraswati, Monika; Andini, Yokke
Muadalah Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v10i2.8606

Abstract

Di Indonesia, kesadaran terhadap kesetaraan gender dalam buku pelajaran sekolah masih perlu mendapat perhatian. Sebagai upaya untuk mengisi kesenjangan tersebut, dilakukan penelitian terhadap buku pelajaran Bahasa Inggris kelas IX SMP. Penelitian ini memiliki dua tujuan: (1) untuk mengetahui konstruksi gender dalam gambar visual yang terdapat pada buku pelajaran Bahasa Inggris kelas IX SMP yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia; (2) menjelaskan representasi bias dan stereotip gender dalam gambar visual buku pelajaran Bahasa Inggris kelas IX SMP yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan analisis tekstual yang dipadukan dengan analisis wacana. Dalam pengumpulan data, analisis tekstual untuk menganalisis representasi gender yang dikemukakan oleh Kress dan Van Leeuwen (2006) yang diadopsi oleh Painter dan Martin (2010) dan Van Leeuwen (2008) digunakan dan diadaptasi di beberapa bagian untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) perempuan secara relatif dikonstruksi sedikit lebih dominan daripada laki-laki dalam buku pelajaran; (2) bias gender dan stereotip gender masih ditemukan dalam buku pelajaran. Di sini, dapat disimpulkan bahwa ada porsi yang berbeda dalam merepresentasikan gender dalam buku teks ini yang mengarah pada bias gender. Kemudian, hal ini juga mempengaruhi stereotip gender karena dibangun berdasarkan pandangan umum tentang berbagai karakteristik yang terkait dengan budaya dan perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, latar belakang sosiokultural penulis mempengaruhi mereka untuk menentukan isi buku pelajaran. In Indonesia, the awareness of gender equality in school textbooks still needs paying attention. As an attempt to fill this gap, the ninth grade ELT textbook of Junior High School was researched. This study has two objectives: (1) to find out the gender construction in visual images found in the ninth grade ELT textbook of Junior High School published by Indonesian Ministry of Education and Culture; (2) to explain the representation of gender biasness and stereotyping in the visual images of the ninth grade ELT textbook of Junior High School published by Indonesian Ministry of Education and Culture. This study is a qualitative research study that employed textual analysis combined with discourse analysis. In collecting the data, textual analysis for analyzing gender representation proposed by Kress and Van Leeuwen (2006) adopted by Painter and Martin (2010) and Van Leeuwen (2008) was used and adapted in some parts to answer the research questions. The results revealed that (1) females relatively were constructed to be slightly more dominant than males in the textbook; (2) gender biasness and gender stereotypes were still found in the textbook. Here, it could be concluded that there were different portions in representing gender in this textbook which drove to the gender biasness. Then, it also affected gender stereotypes since they are constructed based on general views about the range of characteristics related to the culture and social divisions between males and females. Therefore, sociocultural background of the authors influenced them to determine the contents of the textbooks.
The Role of Al-Falah Boarding School in Gender Segregation: An Analysis of the Separation of Men and Women in Islamic Education Hafidzi, Anwar; Mohamed Ali, Mohd Hatta; Nurdin, Nurdin
Muadalah Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i2.9149

Abstract

Abstrak: This research examines the role of Islamic boarding schools in gender segregation, specifically focusing on the separation of men and women in Islamic education. A case study was conducted at Al-Falah Boarding School in Banjarbaru, Indonesia, using a descriptive-qualitative approach. The main findings indicate that gender segregation at Al-Falah Boarding School has positive impacts on learning, such as creating a focused learning environment and facilitating memorization of study materials without distractions from the opposite gender. Gender-based learning has been implemented in the study of Islamic jurisprudence (fikih). The role of the boarding school in the development of this separation is deemed effective, as evidenced by the achievements in personal and environmental development.
Ratu Zaleha 1905-1906: Peran Gender dan Perlawanan Terhadap Penjajah Mursalin, Mursalin
Muadalah Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i1.9190

Abstract

Abstrak: Penulisan sejarah Banjar selalu saja didominasi oleh tema dan tokoh laki-laki. Oleh karena itu, perlu diimbangi dengan penulisan sejarah dengan tema dan tokoh perempuan agar tercipta sejarah yang androginus. Salah satu tokoh yang layak untuk ditulis adalah Ratu Zaleha, karena perlu diketahui latar belakang konstruksi sosial seorang perempuan yang mempunyai karakter tangguh itu sebagai bahan renungan untuk membentuk perempuan tangguh yang mampu bersaing dengan laki-laki pada masa sekarang. Untuk mengetahui hal itu, maka perlu dilakukan penelitian sejarah dengan melakukan proses heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi serta dibantu dengan pendekatan sosiologi gender. Dari metode sejarah dan pendekatan sosiologi gender itu diketahui bahwa pada tahun 1905-1906, Ratu Zaleha selalu berada di garis depan medan pertempuran sejajar dengan laki-laki seperti Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Arsyad, dan Panglima Batur. Adapun sebab Gusti Zaleha mampu melakukan peran gender yang setangguh ini dikarenakan konstruksi sosial berupa bubuhan Pagustian yang selalu siaga perang sejak 1863. Kata Kunci: Ratu Zaleha, Peran Gender, Perang Banjar, Hulu Barito Abstract: The writing of Banjar history has always been dominated by male themes and figures. Therefore, it is necessary to balance it with the writing of history with female themes and figures in order to create an androgynous history. One figure worthy of being written is Ratu Zaleha, as her social construction as a tough woman provides a reflective material to form tough women who can compete with men in today's era. To understand this, historical research needs to be conducted by using heuristic, critical, interpretive, and historiographic processes with the assistance of a gender sociology approach. From the historical method and gender sociology approach, it is known that in 1905-1906, Ratu Zaleha was always at the forefront of the battlefield alongside men such as Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Arsyad, and Panglima Batur. The reason why Ratu Zaleha was able to perform such a strong gender role was due to the social construction in the form of bubuhan Pagustian  who have been ready for war since 1863. Keywords: Ratu Zaleha, Gender Role, Banjar War, Hulu Barito
Gender Gap in the Writing Practice and Identity Experienced by Male University Students in South Kalimantan Rahman, Muhammad Arinal
Muadalah Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i1.9193

Abstract

The gender gap between male and female teenage authors causes considerable difficulty in literature. In this work, I employed qualitative research methods to unearth the intricate narratives of personal experiences masked by quantitative research approaches. I used a semi-structured interview format to talk with the participants about their ideas in greater detail. Five university students aged 17 to 19 took part in the study. According to the findings, the absence of gender equality in the writing development of male adolescents is a contributing factor to the gender gap that exists in male adolescents' writing growth. Male and female writing abilities differ significantly, severely impacting young males' educational and professional objectives. By learning more about the writing experiences of college-bound male teenagers, I could gain insights that could be used to improve educational policy and practice. Therefore, it is essential to understand male adolescents' writing identities and provide them with a voice. Additionally, it is essential to learn more about and comprehend the policies and practices that can assist in closing the gender success gap in writing practice.
The Dynamics of Women’s Empowerment as a Real-life Alternative Project for Women’s Engagement in the Traditional Coffee Industry : Ulfah, Helmatun Fauza; Khairatunnisa, Khairatunnisa
Muadalah Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i2.9299

Abstract

This study aims to explore the role of women in traditional coffee factories in remote areas of Indonesia. It employs the Power and representation analysis, phenomenological research, and “Representing Other” approach in Travel Literature to examine how people use a universal structure or essence to understand their experiences. It highlights the significance of women's involvement in the coffee industry, particularly those who have long been part of the field. The research specifically examines the contribution of women to the world of traditional coffee factories, using a case study of "Kopi Cap 3 Kunci" located in Barabai, Hulu Sungai Tengah, South Kalimantan. Its goal is to provide a comprehensive understanding of the role of women in the coffee industry and their contributions to traditional coffee practices. Furthermore, to identify the challenges faced by women in their participation of practices and explores strategies to promote gender equality and empower women in the coffee industry. The findings of this study have important implications for policy and practice, as they inform initiatives to enhance the participation and contributions of women in the coffee industry.
Konstruksi Remaja Perempuan Urban di Film Indonesia Kontemporer: Antara Gender, Seksualitas, dan Agama Supriansyah, Supriansyah
Muadalah Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i1.9304

Abstract

Artikel ini mengulik diskursus gender di ranah film, yang akan difokuskan pada film “Dear David,” yang merekam kehidupan perempuan urban. Anggapan bahwa film adalah cerminan dinamika sosial di masyarakat Indonesia telah dianggap final. Menariknya, irisan antara agama, moral, dan perempuan cukup dominan dalam film-film bertema perempuan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini dunia sinema Indonesia bermunculan film tentang kehidupan perempuan yang mencoba keluar dari pakem tersebut. “Dear David” adalah salah satu film yang mengangkat sosok dan persoalan perempuan di tengah kehidupan modern, namun di saat bersamaan juga mencoba mendiskusikan ulang relasi antara moralitas, narasi agama, dan diskursus gender sekaligus. Pertanyaan utama artikel ini adalah Bagaimana citra dan visual perempuan di film Indonesia? Dan Bagaimana film Dear David dalam diskursus gender? Artikel ini didasarkan pada menganalisa visual, narasi, dan citra yang dibangun dalam film Dear David, dan juga mendalami beragam kritik, komentar, dan diskusi yang ditujukan pada film tersebut. Artikel ini mendapati bahwa diskursus gender dalam kehidupan perempuan yang divisualisasi lewat film Indonesia, mulai digambarkan selaras dengan realitas kehidupan sehari-hari para perempuan urban, seperti diskursus soal kesehatan mental, reproduksi, pendidikan seks, hingga kehidupan pribadi. Selain itu, faktor-faktor seperti agama, keluarga, lingkungan, hingga nilai-nilai tradisional mulai dicoba untuk didiskusikan ulang.
Perempuan Dalam Diskursus Islam Banjar Kontemporer: Reposisi dan Peran Baru Perempuan Lewat Majelis Taklim Noor Ainah, Noor Ainah; Syamsuni, Syamsuni
Muadalah Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i1.9332

Abstract

Kajian Hadhrami di Indonesia telah berkembang pesat, namun sangat jarang menyentuh sisi perempuan, terlebih pada irisan dengan para jemaah perempuan. Artikel ini berfokus bagaimana penggunaan media sosial sebagai medium antara pendakwah dan jemaah yang sama-sama perempuan dari dua etnisitas yang berbeda, yakni Hadhrami dan Banjar. Adapun pertanyaan utama artikel ini adalah bagaimana media sosial menjadi medium persilangan budaya, irisan ajaran, hingga wadah berkomunikasi kelompok perempuan dari dua etnisitas yang berbeda? Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, data artikel ini diperoleh dari mengkaji konten media sosial dan mewawancarai beberapa pendakwah perempuan asal atau pernah bersekolah di Hadhrami, yang menjadi pendakwah di beberapa majelis taklim di wilayah Banjarmasin. Artikel ini mendapati media sosial adalah medium yang paling populer di majelis-majelis taklim perempuan. Selain itu, konten-konten di akun-akun majelis taklim tersebut diresepsi, direproduksi, hingga disebarluaskan kembali oleh para jemaah perempuan tanpa kontrol atau filter sama sekali. Hal ini disebabkan posisi pendakwah perempuan Hadhrami atau yang pernah bersekolah di Hadhramaut tersebut dianggap valid dan memiliki sanad bersambung hingga Nabi Muhammad Saw. Sehingga, seluruh konten biasanya tidak lagi dipertanyakan dan menjadi bagian dari keberagamaan dan tradisi keislaman lokal.
Pemenuhan Hak Belajar Pendidikan Agama bagi Anak oleh Orangtua Tunggal Hasanah, Noor
Muadalah Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/muadalah.v11i1.9753

Abstract

Pendidikan agama merupakan hak anak dan urgen diberikan sedini mungkin karena berkenaan dengan kemanusiaan. Bukan semata ritual ibadah. Setiap individu berhak mengetahui ajaran agamanya. Pemenuhan hak pendidikan agama menjadi bagian dalam usaha perlindungan anak yang dilakukan oleh orangtua. Bagi keluarga dengan orangtua tunggal, pemenuhan hak ini bukanlah hal yang mudah. Karena mereka harus membagi fokus pada sektor domestik dan publik. Penelitian ini mengungkap pendidikan agama yang diberikan oleh orangtua tunggal kepada anak-anaknya dan juga mengulik kendala-kendala yang dihadapi oleh mereka. Adapun sasaran penelitian ini adalah ibu atau janda yang tinggal di wilayah kota Banjarmasin. Menjadi menarik karena angka pernikahan dini dan perceraian di Banjarmasin cukup tinggi. Penelitian dilakukan pada sampel dengan usia, profesi, dan latar pendidikan yang beragam. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil wawancara dibandingkan dengan observasi yang dilakukan secara periodik untuk mengecek validitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa single parent cukup menyadari dan memperhatikan urgensi pendidikan agama bagi anak. Pendidikan agama diberikan secara langsung dan tidak langsung. Sedangkan kendala yang dihadapi ada 6, berkenaan dengan materi, psikologis dan spiritual.    Religious education is a child's right and it is urgent to give as early as possible, because it relates to humanity. For single parent, fulfilling this right is not an easy thing. They have to divide the focus on the domestic and public sectors. The aims of this research is to find out about the religious education given by single parents to their children and also to explore the obstacles faced by them. The target of this research was mothers (widows) who live in Banjarmasin. It becomes interesting because the rate of early marriage and divorce in Banjarmasin is quite high. The research was conducted on samples of various ages, professions and educational backgrounds. Data collection techniques using observation and interviews. The results showed that single parents are pay attention to the urgency of religious education for children. There are 6 obstacles faced, with regard to material, psychological and spiritual.  

Page 8 of 10 | Total Record : 97