cover
Contact Name
Mida Hamidah
Contact Email
jkbth2mida@gmail.com
Phone
+62265-334740
Journal Mail Official
lppm_jkbth@universitas-bth.ac.id
Editorial Address
Universitas Bakti Tunas Husada Jl. Mashudi No. 20 Kota Tasikmalaya
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
ISSN : 1979004X     EISSN : 26214660     DOI : 10.36465
Core Subject : Health, Science,
Journal scope includes: Pharmacy Health Analyst Nursing Medicine (general or dental) Nutrition and other fields relevant to health science
Articles 617 Documents
Identifikasi Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Petugas Manual Handling Di Lingkungan Warehouse PT MK Ragunan Jakarta Selatan Tahun 2021 Marliana Rahayu, Robo; Caranggono, Rizky; Riviyanti, Yuli; Kairunnisa, Ariani; Nurahman, Ikhsan
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1923

Abstract

Aktivitas manual material handling (MMH) yang dilakukan secara tidak ergonomis berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menimbulkan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja. Paparan beban statis yang diterima otot secara berulang dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pada sendi, ligamen, dan tendon. Kondisi kerja manual di area warehouse dengan keterbatasan fasilitas bantu menjadi faktor penting yang perlu dikaji terkait risiko ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko ergonomi yang berhubungan dengan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) pada petugas warehouse PT MK di Ragunan, Jakarta Selatan tahun 2021. Penelitian menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 50 responden. Penilaian risiko ergonomi dilakukan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), sedangkan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) diukur dengan kuesioner Nordic Body Map (NBM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) berhubungan secara signifikan dengan usia, masa kerja, postur kerja, berat beban, durasi dan frekuensi kerja, waktu kerja, tingkat pencahayaan, serta kondisi workstation. Postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas angkat-angkut dengan beban berat merupakan faktor dominan terhadap peningkatan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs). Dapat disimpulkan bahwa aktivitas manual handling dengan risiko ergonomi tinggi berperan penting terhadap terjadinya musculoskeletal disorders (MSDs) pada pekerja warehouse. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian ergonomi melalui perbaikan postur kerja, penyesuaian beban dan waktu kerja, peningkatan kondisi lingkungan kerja, serta penerapan program K3 secara berkelanjutan.
REVIEW ARTIKEL: POTENSI DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) SEBAGAI AGEN ANTIDIABETES Rieztya Aliza; R Herni Kusriani; Garnadi Jafar
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1901

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan memerlukan strategi terapi yang efektif dan berkelanjutan. Keterbatasan terapi farmakologis seperti efek samping, biaya tinggi, dan kegagalan terapi jangka panjang mendorong pengembangan agen antidiabetes berbasis bahan alam. Daun binahong (Anredera cordifolia) secara empiris digunakan sebagai penurun kadar gula darah dan berpotensi sebagai agen antidiabetes. Artikel ini mereview aktivitas antidiabetes daun binahong berdasarkan 15 studi praklinis (2011–2025) yang mencakup penelitian in vivo, in vitro, dan molekuler. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak daun binahong mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan pada berbagai model hewan diabetes dalam rentang dosis tertentu, dengan efektivitas yang pada beberapa penelitian sebanding dengan obat antidiabetes oral standar. Selain efek hipoglikemik, daun binahong juga menunjukkan aktivitas pendukung berupa perbaikan kondisi metabolik, perlindungan terhadap komplikasi diabetes, serta perbaikan fungsi sel β pankreas. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas antidiabetes daun binahong bersifat multifaktorial dan konsisten pada berbagai model uji. Review ini menegaskan bahwa daun binahong memiliki aktivitas antidiabetes multifaktorial yang konsisten pada berbagai model praklinis, dengan mekanisme melibatkan regulasi insulin, aktivasi GLUT4, penghambatan α-glukosidase, serta perlindungan sel β pankreas. Kebaruan kajian ini terletak pada sintesis terpadu antara efektivitas, mekanisme molekuler, dan pola dosis efektif. Namun, standarisasi ekstrak dan uji klinis masih diperlukan sebelum implementasi klinis.
GAMBARAN STUNTING DI INDONESIA: LITERATUR REVIEW: GAMBARAN STUNTING DI INDONESIA: LITERATUR REVIEW HASTA SULISTYANINGRUM; Anggraini Lita; Viedya Wildan; Maria Sidabungke; Syahrul Rudiansyah
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 25 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v25i2.1699

Abstract

ABSTRACT  Stunting is one of the targets of the Sustainable Development Goals (SDGs), which is included in the second sustainable development goal, namely eliminating hunger and all forms of malnutrition by 2030 and achieving food security. The target set is to reduce the stunting rate to 18.8% by 2025. Stunting can occur as a result of malnutrition, especially during the First 1000 Days of Life (HPK). The method used in this research is to use a literature study with a method of searching, combining essences and analyzing facts from several scientific sources that are accurate and valid. Stunting is a very serious problem because it is associated with a greater risk of morbidity and mortality, obesity and non-communicable diseases in the future, stunting in adulthood, poor cognitive development and lower productivity and income. To prevent stunting, exclusive breastfeeding in the first 6 months, especially for babies from poor families, must be optimized through nutritional education programs and breastfeeding support groups. Furthermore, it is hoped that the results of this literature can be used as additional information to develop further research regarding the picture of stunting in Indonesia. Keywords: Toddlers, Malnutrition, Stunting.      
GAMBARAN KEBERADAAN DAN IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK Aedes sp DI SEKOLAH DASAR NEGERI KECAMATAN CIBEUREUM KOTA TASIKMALAYA Putri Restu Tirana; Listia Elsa Masofa; Dewi Peti Virgianti; Rochmanah Suhartati; Khusnul
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 25 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v25i2.1770

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Indonesia, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan jentik nyamuk Aedes sp yang berkembang di tempat penampungan air (TPA) di lingkungan sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk, menghitung tingkat kepadatannya melalui HI, CI, BI, dan DF, serta mengetahui nilai Angka Bebas Jentik (ABJ) di sekolah dasar negeri wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif metode visual di 17 sekolah dasar. Hasil menunjukkan bahwa 15 sekolah (88,24%) ditemukan positif jentik dan 2 sekolah (11,76%) negatif. Dari total 341 TPA yang diperiksa, sebanyak 37 TPA dinyatakan positif. Nilai HI sebesar 88,23%, CI 10,85%, BI 217,64%, ABJ 11,76%, dan DF sebesar 7,3 maka keberadaan jentik nyamuk menunjukkan tingkat kepadatan tinggi. Jenis jentik yang ditemukan meliputi Aedes aegypti sebanyak 287 ekor (81,30%), Aedes albopictus sebanyak 46 ekor (13,03%), dan Culex sp sebanyak 20 ekor (5,66%). TPA yang paling banyak ditemukan dalam kondisi positif yaitu ember WC dan dispenser.
REVIEW ARTIKEL: PERBANDINGAN JENIS PEMANIS DALAM FORMULASI SIRUP HERBAL TERHADAP STABILITAS FISIK DAN RASA Aditya Wardana; Brina Amelrizki; Nabilla Ismi Nur Affifah; Afifah Dibba Maulani; Angely Patricia Sanda; M. Ramadhan Saputro; Reza Pratama
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1903

Abstract

Formulasi sirup herbal memerlukan pemanis yang tepat untuk menjaga stabilitas fisik dan mutu organoleptik, tetapi ringkasan komparatif lintas-pemanis masih terbatas; studi ini merangkum pengaruh jenis dan kombinasi pemanis terhadap stabilitas serta penerimaan konsumen melalui sintesis naratif terarah atas penelitian formulasi sirup herbal dengan parameter pH, viskositas, bobot jenis, kejernihan, homogenitas, dan penilaian sensorik. Hasil menunjukkan sukrosa menjaga pH relatif stabil sekaligus meningkatkan viskositas dan penerimaan panelis; madu menambah kekentalan dan menurunkan pH (lebih asam) seraya menutup rasa getir; sorbitol menjaga kejernihan dan menekan kristalisasi; stevia mempertahankan pH dan viskositas rendah namun pada sistem ber-antosianin warna lebih sensitif terhadap keasaman; sukralosa cenderung netral terhadap pH dan viskositas pada suhu ruang; fruktosa memberi manis ringan dengan sebagian laporan menunjukkan penurunan stabilitas warna pada penyimpanan lebih lama. Kombinasi sukrosa–sorbitol mengurangi kristalisasi serta meningkatkan kejernihan dan homogenitas (stabil ≥4 minggu), sedangkan madu–sorbitol menjaga viskositas dengan kejernihan lebih baik dibanding madu tunggal. Temuan ini menegaskan adanya trade-off: pemanis “berbody” (sukrosa, madu) menguatkan tekstur dan palatabilitas, sementara pemanis alternatif (sorbitol, stevia, sukralosa) unggul dalam kejernihan dan kestabilan warna. Kesimpulannya, pemilihan pemanis sebaiknya disesuaikan dengan target mutu: sukrosa/madu untuk body dan penerimaan, sorbitol untuk kejernihan dan pencegahan kristalisasi, serta stevia/sukralosa untuk formulasi rendah kalori/viskositas; kombinasi sukrosa–sorbitol atau madu–sorbitol tampak paling menjanjikan untuk kestabilan fisik dan sensorik.
ANALISIS VARIAN GENETIK DAN EKSPRESI GEN SPESIFIK JARINGAN PADA HIPERTIROIDISME: STUDI BIOINFORMATIKA INTEGRATIF Rahmawati Rahmawati; Fauzan Sebastian Ramadhan; Mida Hamidah; Citra Dewi Salasanti
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 25 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v25i2.1940

Abstract

Hipertiroidisme merupakan gangguan endokrin yang dipengaruhi oleh faktor genetik, imunologis, dan regulasi ekspresi gen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi genetik serta pola ekspresi gen spesifik jaringan pada hipertiroidisme menggunakan pendekatan bioinformatika integratif. Penelitian dilakukan secara in-silico menggunakan basis data GWAS Catalog, GTEx Portal, Ensembl Genome Browser, SNPnexus, dan HaploReg v4.2. Identifikasi SNP dilakukan menggunakan kata kunci “Hyperthyroidism” dengan nilai signifikansi genom luas (p < 1×10⁻⁸) dan difokuskan pada varian missense. Analisis dilanjutkan dengan evaluasi ekspresi gen, anotasi genom, prediksi dampak fungsional protein, serta distribusi alel populasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 506 SNP terkait hipertiroidisme dan 17 missense variant yang berpotensi memengaruhi fungsi protein. Gen yang paling banyak berkaitan dengan regulasi imun dan autoimun tiroid meliputi PTPN22, HLA-DPB1, TAP2, FCRL3, ADCY7, dan TG. Analisis fungsional menunjukkan SNP rs78534766 pada gen ADCY7 termasuk kategori probably damaging. Selain itu, ditemukan perbedaan distribusi alel antar populasi yang menunjukkan adanya variasi kerentanan genetik terhadap hipertiroidisme. Pendekatan bioinformatika integratif mampu memberikan gambaran molekuler yang lebih komprehensif dan berpotensi mendukung pengembangan precision medicine berbasis genomik pada hipertiroidisme.
Pengaruh Metode Pengeringan Busa Terhadap Karakteristik Minuman Serbuk Bawang Hitam Hadi Yusuf Faturochman; Pandu Legawa Ismaya; Maerani; Dita Astna Nuriya Salsabila
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1945

Abstract

Bawang hitam dikenal memiliki kandungan antioksidan tinggi serta berbagai manfaat kesehatan, seperti antidiabetes, antiinflamasi, dan imunomodulator. Meskipun memiliki cita rasa khas yang disukai, inovasi pengolahan bawang hitam, khususnya sebagai minuman fungsional, masih terbatas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek penambahan putih telur sebagai bahan pembuih terhadap karakteristik fisikokimia minuman serbuk bawang hitam yang dihasilkan melalui metode pengeringan busa. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel bebas berupa konsentrasi putih telur, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15% dan variabel terikat  meliputi kadar air, kadar abu, kadar fenolik total, serta daya larut. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji ANOVA pada tingkat signifikansi 5%. Bedasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi putih telur (0%, 5%, 10%, dan 15%) dalam pembuatan minuman serbuk bawang hitam berpengaruh nyata terhadap daya larut, kadar fenolik total, kadar air dan tidak berpengaruh nyata pada kadar abu. Minuman serbuk bawang hitam perlakuan D dengan penambahan konsentrasi putih telur sebesar 15% dipilih sebagai perlakuan terbaik karena memiliki nilai daya larut sebesar 86,64%, kadar air 5,56%, kadar abu 0,45% k, dan kadar fenolik 2,76 mg GAE/g
PERBANDINGAN PROFIL SEL DARAH PADA PASIEN DEMAM DENGUE DAN DEMAM TIFOID DI PUSKESMAS KOTA TASIKMALAYA: Comparison of Blood Cell Profiles in Dengue Fever and Typhoid Fever at Public Health Centers in Tasikmalaya City Dina Ferdiani; Meri Meri
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 24 No 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v24i1.1947

Abstract

Dengue fever and typhoid fever are infectious diseases frequently found in tropical regions and may present with similar early symptoms, especially fever. Routine hematology examination can support clinical consideration by showing differences in blood cell profiles. This study aimed to compare leukocyte, platelet, and erythrocyte profiles in patients with dengue fever and typhoid fever at public health centers in Tasikmalaya City. This descriptive comparative study used primary data from 30 febrile patients: 15 rapid dengue-positive patients and 15 rapid typhoid-positive patients. Leukocyte, platelet, and erythrocyte counts were examined manually using a counting chamber, and data were analyzed descriptively and comparatively. The mean platelet count was markedly lower in dengue patients than in typhoid patients (103.0 x 10^3/uL vs. 277.1 x 10^3/uL; p<0.001). All dengue patients showed thrombocytopenia, whereas most typhoid patients had platelet counts within the reference category. The mean leukocyte count was relatively similar between typhoid and dengue groups (5,853/uL vs. 5,767/uL; p=0.921), although leukopenia was observed in both groups. The mean erythrocyte count was also similar between typhoid and dengue groups (4.97 x 10^6/uL vs. 4.86 x 10^6/uL; p=0.649). In conclusion, platelet count was the most distinctive hematological parameter between dengue fever and typhoid fever in this study, while leukocyte and erythrocyte counts showed relatively similar averages.
Perancangan dan Evaluasi Prototype Sistem Informasi Inventaris Alat dan Bahan Laboratorium Kesehatan untuk Monitoring Kondisi, Stok dan Kedaluwarsa Firdan Gusmara Kusumah; Afifa Tiariyanti; Muhammad Syamaidzar Al Ghifari; Sudianto
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1963

Abstract

Pengelolaan inventaris alat dan bahan laboratorium kesehatan membutuhkan pencatatan yang terstruktur agar kondisi alat, jumlah stok bahan, dan tanggal kedaluwarsa dapat dipantau dengan baik. Pengelolaan secara manual berisiko menyebabkan data tidak mutakhir, keterlambatan mengetahui bahan yang hampir habis, serta kesulitan dalam memantau bahan yang mendekati masa kedaluwarsa. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi prototype sistem informasi inventaris alat dan bahan laboratorium kesehatan untuk mendukung monitoring kondisi, stok, dan kedaluwarsa. Penelitian menggunakan pendekatan pengembangan dengan tahapan analisis kebutuhan, perancangan sistem, pembuatan prototype, evaluasi prototype, dan analisis hasil evaluasi. Prototype dirancang menggunakan Figma dengan fitur utama berupa dashboard inventaris, data alat, data bahan, stok masuk, stok keluar, bahan hampir habis, bahan mendekati kedaluwarsa, dan laporan inventaris. Evaluasi usability dilakukan menggunakan System Usability Scale terhadap 35 responden yang terdiri dari calon pengguna sistem. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor SUS sebesar 80,93 yang termasuk dalam kategori baik. Secara kualitatif, responden dapat memahami fungsi utama prototype, terutama dashboard, data alat, dan data bahan. Namun, beberapa aspek masih perlu diperbaiki, seperti istilah menu, keterbacaan tabel, dan penanda visual untuk status stok serta kedaluwarsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototype yang dirancang layak digunakan sebagai dasar pengembangan sistem informasi inventaris laboratorium kesehatan berbasis web pada tahap berikutnya.
UJI STABILITAS SIFAT FISIK GEL EKSTRAK KULIT BUAH KOPI DAN PENENTUAN KADAR VITAMIN C SERTA ANTOSIANIN: STABILITY TEST OF THE PHYSICAL PROPERTIES OF COFFEE FRUIT PEEL EXTRACT GEL AND DETERMINATION OF THE LEVELS OF ACTIVE COMPOUNDS Mega Karina Putri; Beta Ria Erika Marita Dellima; Eni Kartika Sari
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 25 No 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v25i1.1444

Abstract

Kulit buah kopi merupakan salah satu bagian dari buah kopi yang dapat dimanfaatkan sebagai kosmetik herbal. Kulit buah kopi termasuk limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal kulit buah kopi mengandung senyawa vitamin C dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan dan bermanfaat bagi kulit. Untuk mempermudah penggunaannya, kulit buah kopi dapat di ekstraksi dan diformulasikan menjadi suatu sediaan farmasi, salah satunya adalah gel. Penelitian ini bertujuan untuk formulasi sediaan gel ekstrak kulit buah kopi dan melakukan uji stabilitas sediaan tersebut. Selain itu, juga menentukan kadar vitamin C dan antosianin dari sediaan gel yang paling stabil. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan tahapan : persiapan bahan, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan gel, uji stabilitas sifat fisik, analisis statistik, penentuan kadar vitamin C dan antosianin. Berdasarkan hasil uji stabilitas selama 3 bulan pada suhu ruang diketahui bahwa sediaan gel yang paling stabil adalah formula 4 dan formula 5. Formula 5 mempunyai kadar vitamin C dan antosianin tertinggi. Hal tersebut dikarenakan pada ekstrak 5 mengandung ekstrak kulit buah kopi tertinggi. Kadar vitamin C sediaan gel ekstrak kulit buah kopi sebanding dengan kadar vitamin C gel pembanding yang ada dipasaran. Sedangkan, kadar vitamin C sediaan gel ekstrak kulit buah kopi berbeda signifikan dengan kadar yang lebih tinggi dibandingkan vitamin C gel pembanding yang ada dipasaran.