cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
ilham.ummataram@gmail.com
Phone
+6281997989594
Journal Mail Official
ilham.ummataram@gmail.com
Editorial Address
Jl. K.H Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Community Empowerment
ISSN : 29619459     EISSN : 29637090     DOI : -
Journal of Community Empowerment is multidisciplinary scientific journal in the field of empowerment and community Service, published by the English Department Universitas Muhammadiyah Mataram with a publication period of two times in one year, namely in June and December. This journal covers some general problems from the results of research implemented to the community services including (1) social humanities, science, applied science, economic, health, cultural, ICT Development, and administration services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and appropriate technology, (3) community empowerment, students community services, local food security, marketing, and less developed region. The purpose of this journal publication is to disseminate conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the field of service to the community. This journal accepts manuscript in Bahasa or English.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 76 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2025): September" : 76 Documents clear
PENGELOLAAN TPQ (TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN) AL-ANSHOR WALUOM BERBASIS KURIKULUM DINIYAH DESA WOLWAL TENGAH Jusriadi, Jusriadi; Kaibana, Bustami; Lapung, Jamra; Bain, Siti Nurhayati; Lobang, Ismail
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.33934

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Pada tahun  2025 memiliki jumlah peserta didik 83 orang dan beberapa pengurus lainnya dan ada beberapa guru mengaji. Kurikulum yang di gunakan masih sangat konvensional. Namun seiring dengan perkembangan kurikulum di tingkat sekolah dasar, di tingkat kanak- kanak harus menyesuaikan berbagai aspek pembelajaran tersebut. Pelatihan ini dilaksanakan dengan melibatkan tim dosen pengabdian dari STKIP Muhammadiyah Kalabahi dan mahasiswa bekerjasama dengan mitra pengelola dan guru -guru di TPQ Al-Anzor Waluom Desa WolwaL Tengah. Adapun metodologi yang kami gunakan adalah ceramah, diskusi, sosialisasi serta partisipasi mitra dengan melibatkan mereka pada tahap perencanaan hingga tahap evaluasi. Selama pelatihan mitra diajarkan cara pengelolaan kurikulum berbasis diniyah  memberikan solusi permasalah yang dihadapi mitra seperti lahan yang belum ada agar mencari lahan mungkin lewat swadaya, atau tanah wakaf dari masyarakat, atau memasukkan proposal kepada istansi berwenang serta berupaya mencari dana lewat organisasi social dan lain -lain, serta tata cara pengelolaan TPQ berbasis diniyah. Hasil kegiatan menunjukkan mitra sangat antusisas dan mendapat pemahaman tata cara pengelolaan TPQ berbasis diniyah serta mendapat solusi terkait beberapa permasalahan di TPQ, seperti tempat permanen belum ada, kurikulum belum jelas dan tata kelola yang belum terkordinasi dengan baik. Kegiatan ini juga memberi dampk yang baik untuk pengembangan TPQ terkusus di desa-desa. Kata kunci: Pengelolaan; TPQAl-Anzor Waluom; KurikulumDiniyah; DesaWolwal Tengah.ABSTRACTIn 2025, there were 83 students and several other administrators and several Quran teachers. The curriculum used was still very conventional, but along with the development of the curriculum at the elementary school level, at the childhood level, various aspects of the learning had to be adjusted. This training was carried out by involving a team of community service lecturers from STKIP Muhammadiyah Kalabahi and students in collaboration with management partners and teachers at TPQ Al-Anzor Waluom, WolwaL Tengah Village. The methodology we used was lectures, discussions, socialization and partner participation by involving them in the planning stage to the evaluation stage. During the training, partners were taught how to manage a diniyah-based curriculum to provide solutions to problems faced by partners such as unavailable land to find land perhaps through self-help, or waqf land from the community, or submitting proposals to authorized agencies and trying to find funds through social organizations and others, as well as procedures for managing diniyah-based TPQ. The results of the activity showed that the partners were very enthusiastic and gained an understanding of the management procedures for Islamic-based TPQ (Islamic boarding schools) and solutions to several issues within the TPQ, such as the lack of a permanent location, an unclear curriculum, and poorly coordinated governance. This activity also had a positive impact on the development of TPQ, especially in villages.Keywords: Management; TPQ Al-Anzor Waluom; Diniyah Curriculum; Central Wolwal Village.
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PESISIR BERORIENTASI WAWASAN EKONOMI MARITIM DI DUSUN TABUJI DESA BARU KECAMATAN OBI Zulkifli, Zulkifli; Halil, Citra Buana
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34832

Abstract

ABSTRAKArtikel ini merupakan luaran program kemitraan dengan Pemerintah Desa Baru Dusun Tabuji melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang membahas tentang potensi sumber daya lingkungan pesisir Dusun Tabuji di Desa Baru yang belum dikelola berorientasi ekonomi maritim, padahal potensi lokasinya menjanjikan untuk menjadi lokasi destinasi wisata bahari, seperti area berselancar, lokasi pelaksanaan festival budaya, maupun sekadar untuk rekreasi. Tujuan kegiatan yakni mendorong masyarakat Dusun Tabuji dalam hal pengelolaan lingkungan pesisir berorientasi wawasan ekonomi maritim. Kesimpulan yang didapatkan adalah masyarakat Dusun Tabuji membutuhkan dukungan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan yang produktif sehingga memberikan keuntungan ekonomis bagi mereka. Metode yang digunakan adalah penyuluhan berbentuk ceramah dan dialog interaktif yang melibatkan 22 orang warga Dusun Tabuji untuk berdialog dengan tim. Pengumpulan data didukung dengan observasi lapangan dan studi literatur. Hasil kegiatan menemukan bahwa membuka lokasi destinasi wisata budaya maritim merupakan salah satu solusi yang bisa diimplementasikan dengan mempertimbangkan dimensi pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan serta tata kelola dengan pendekatan dan strategi yang tepat. Melalui upaya kolaboratif dan partisipatif oleh warga dan pemerintah, akan memunculkan potensi-potensi ekonomi bagi warga, seperti terbukanya lapangan pekerjaan baru. Upaya yang disertai pengawasan secara kolaboratif tersebut juga sekaligus akan meminimalisir potensi dampak linkungan yang sedang mengintai.Kata kunci: Pengelolaan Lingkungan; Masyarakat Pesisir; Ekonomi Maritim; Wisata Bahari; Dusun Tabuji. ABSTRACTThis article is an output of a partnership program with the Baru Village Government of Tabuji Hamlet through Community Service (PKM) activities, discussing the potential of coastal environmental resources in Tabuji Hamlet, Baru Village, which have not been managed with a maritime economic orientation. In fact, the location's potential is promising as a marine tourism destination, such as a surfing area, a venue for cultural festivals, or simply for recreation. The activity aimed to encourage the community of Tabuji Hamlet in managing the coastal environment with a maritime economic insight. The conclusion obtained is that the community of Tabuji Hamlet needs government support in productive environmental management so that it provides economic benefits for them. The method used form of lectures and interactive dialogues involving 22 residents of Tabuji Hamlet to have dialogues with the team. Data collection was supported by field observations and literature studies. The results of the activity found that opening a maritime cultural tourism destination is one solution that can be implemented by considering the dimensions of cultural preservation and environmental sustainability, as well as governance with appropriate approaches and strategies. Through collaborative and participatory efforts by residents and the government, economic potential will emerge for residents, such as the opening of new job opportunities. These efforts, accompanied by collaborative supervision, while minimizing the potential environmental impacts that are looming.Keywords: Environmental Management; Coastal Community; Maritime Economy; Marine Tourism; Tabuji Hamlet.
E-KAMPUNG WAILEY: ORKESTRASI DIGITAL UNTUK AKSELERASI KEWIRAUSAHAAN GENERASI MUDA DI DUSUN WAILEY KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Kubangun, Hamdani; Pattimura, Nis Wahyuni
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.33990

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Era digitalisasi telah mengubah paradigma ekonomi global, termasuk sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia. Namun, kesenjangan digital antara perkotaan dan pedesaan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan kewirausahaan digital di daerah rural. Kegiatan pengabdian masyarakat "E-Kampung Wailey: Orkestrasi Digital untuk Akselerasi Kewirausahaan Generasi Muda di Dusun Wailey bertujuan untuk meningkatkan kapasitas generasi muda dalam berwirausaha melalui pemanfaatan teknologi digital yang dikuti oleh pemuda di dusun wailey. Tahapan kegiatan mulai dari pesiapan kegiatan ,pelaksanaan kegiatan, monitoring dan evaluasi. Untuk Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif dengan pendekatan andragogi kepada 15 peserta (12 laki-laki dan 3 perempuan) berusia 18-25 tahun. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan kewirausahaan digital, pemahaman e-commerce, kemampuan pemasaran digital. Hasil menunjukkan Rata-rata pre-test: 44,6 dan rata-rata post-test: 48,6 sedangkan rata-rata peningkatan 4,0 poin, peningkatan persentase rata-rata: 9,0%, target peningkatan 25%, pencapaian target  36% dari target yang ditetapkan. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi digital, dan minimnya motivasi kewirausahaan. Program ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan kewirausahaan digital di pedesaan.Kata kunci: Kewirausahaan Digital; Generasi Muda; Desa Digital; Literasi Digital. ABSTRACTThe era of digitalization has changed the paradigm of the global economy, including the small and medium enterprises (MSMEs) sector in Indonesia. However, the digital divide between urban and rural areas is still a major challenge in the development of digital entrepreneurship in rural areas. Community service activities "E-Kampung Wailey: Digital orchestration for the acceleration of entrepreneurship of the younger generation in Wailey Hamlet aims to increase the capacity of the younger generation in entrepreneurship through the use of digital technology followed by youth in wailey Hamlet. Stages of activities ranging from the preparation of activities, implementation of activities, monitoring and evaluation. For the method used is participatory training with andragogy approach to 15 participants (12 men and 3 women) aged 18-25 years. The evaluation was conducted through pretest and posttest to measure the improvement of digital entrepreneurship knowledge, e-commerce understanding, digital marketing capabilities. The results showed the average pre-test: 44.6 and the average post-test: 48.6 while the average increase of 4.0 points, the average percentage increase: 9.0%, the target increase of 25%, the target achievement of 36% of the target set. The main inhibiting factors include limited digital infrastructure, low digital literacy, and lack of entrepreneurial motivation. This Program provides important lessons on the importance of a holistic approach in the development of digital entrepreneurship in rural areas. Keywords: Digital Entrepreneurship; Young Generation; Digital Village; Digital Literacy.
UPAYA PREVENTIF KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK USIA PRASEKOLAH MELALUI EDUKASI DINI TENTANG PENGENALAN BATASAN TUBUH PRIBADI DI TK TUNAS ISLAM BANTUL Hutasoit, Masta; Rukmi, Dwi Kartika; Purnamaningsih, Nur' Aini
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34351

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Kekerasan seksual terhadap anak merupakan permasalahan serius yang berdampak negatif pada perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anak. Data menunjukkan peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang efektif untuk melindungi anak-anak dari ancaman tersebut. Salah satu metode yang telah terbukti efektif adalah melakukan edukasi secara dini tentang batasan tubuh pribadi pada anak. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman anak usia sekolah tentang pencegahan kekerasan seksual dengan mengajarkan tentang batasan tubuh pribadi di TK Tunas Islam Bantuk. Mitra pada pelaksanaan pengabdian ini adalah Taman Kanak-kanak Tunas Islam Bantul, yang berjumlah 52 anak dengan rentang usai 5-7 tahun. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam 3 tahapan tahap persiapan, pelaksanaan dan tahap evaluasi. Tahap persiapan meliputi pengurusan surat izin, persiapan materi edukasi, persiapan ruangan dan peserta. Tahap pelaksanaan kegiatan yaitu melakukan pendidikan kesehatan dengan menggunakan video animasi untuk meningkatkan retensi pemahaman anak usia prasekolah. Setelah menonton video dilanjutkan dengan penjelasan materi. Kemudian anak usia pra sekolah diajarkan lagu tentang ”sentuhan boleh, dan sentuhan tidak boleh” dinyanyikan secara berulang-ulang. Tahap evaluasi adalah melakukan evaluasi kepada anak-anak terkait pengetahuan kekerasan seksual yang sudah mereka dapatkan saat penyuluhan. Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan laporan hasil pendidikan kesehatan yang diberikan kepada anak usia prasekolah. Hasil pengabdian ditemukan 82,7% peserta berumur 6 tahun, dan 53,8% berjenis kelamin laki-laki. Terdapat peningkatan pengetahuan anak usia pra sekolah terhadap batasan tubuh pribadi, area tubuh yang boleh disentuh atau tidak boleh disentuh. Kesimpulan dari kegiatan ini ada peningkatan pemahaman anak tentang pencegahan kekerasan seksual dibuktikan dengan anak usia pra sekolah mampu menjawab setiap pertanyaan dari pengabdi.Kata kunci: kekerasan seksual; batasan tubuh; anak usia pra sekolah  ABSTRACTChild sexual abuse is a serious problem that negatively affects the physical, psychological, and social development of children. Data shows an increase in cases of child sexual abuse in various countries, including Indonesia. Therefore, effective prevention efforts are needed to protect children from this threat. One method that has been proven effective is educating children about their personal body boundaries at an early age. The purpose of this service is to increase school-age children's understanding of sexual violence prevention by teaching about personal body boundaries. The partner institution for implementing this program is Tunas Islam Kindergarten in Bantul, which involves a total of 52 children aged between 5 and 7 years. The implementation of this activity was carried out in 3 stages: preparation, implementation, and evaluation. The preparation stage includes obtaining permission letters, preparing educational materials, and preparing rooms and participants. The implementation stage of the activity is to conduct health education using animated videos to increase the retention of preschool children's understanding. After watching the video, followed by an explanation of the educational material. Then, preschool children are taught a song about “touch is allowed, and touch is not allowed” sung repeatedly. The evaluation stage is to evaluate the children regarding the knowledge of sexual violence that they have obtained during counseling. At this stage, a report on the results of health education. The service results found that 82.7% of participants were 6 years old, and 53.8% were male. There is an increase in pre-school children's knowledge of personal body boundaries, areas of the body that can or should not be touched. This activity concludes that there is an increase in children's understanding of the prevention of sexual violence as evidenced by pre-school children being able to answer every question from the research.Keywords: sexual violence; body boundaries; preschool children
SOSIALISASI STOP BULLYING UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SISWA DI SDN INPRES 2 KOYA BARAT Afdillah, Izmi; Rismawati, Rismawati; Baiti, Titin Nur; Federubun, Arfat; Maryati, Sulis
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34465

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Bullying di sekolah dasar merupakan masalah serius yang berdampak negatif pada psikologis, hubungan sosial, dan prestasi akademik siswa. Pengabdian ini bertujuan: (1) meningkatkan pemahaman siswa mengenai bentuk, dampak, dan bahaya bullying; (2) menanamkan nilai karakter positif untuk mencegah perilaku bullying; dan (3) menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang siswa. Kegiatan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN di SDN Inpres 2 Koya Barat melalui tahapan: koordinasi dengan pihak sekolah, observasi awal, persiapan media pembelajaran (poster, video edukatif, dan permainan interaktif), pelaksanaan sosialisasi dalam dua pertemuan (ceramah interaktif, diskusi kelompok, role play, permainan edukatif, refleksi, dan penulisan komitmen pribadi), serta evaluasi melalui pre-post test dan observasi perilaku siswa. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman siswa dari 33% menjadi 78%, dengan peningkatan tertinggi pada pemahaman dampak bullying dan cara pencegahannya (+48%). Observasi juga menunjukkan perubahan perilaku positif, seperti keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan menolak bullying, dan memberikan contoh pencegahan bullying. Temuan ini menegaskan efektivitas pendekatan partisipatif-interaktif dalam menanamkan empati, penghargaan terhadap teman sebaya, dan kesadaran kolektif untuk menciptakan sekolah bebas bullying.Kata kunci: Bullying; Kesadaran Siswa; KKN; Partisipatif; Interaktif; Sekolah Dasar. ABSTRACTBullying in elementary schools is a serious issue that negatively affects students’ psychological well-being, social relationships, and academic performance. This program aimed to: (1) increase students’ understanding of the forms, impacts, and dangers of bullying; (2) instill positive character values to prevent bullying behaviors; and (3) create a safe, comfortable, and supportive school environment. The program was implemented by KKN students at SDN Inpres 2 Koya Barat through stages of coordination with school staff, initial observation, preparation of learning media (posters, educational videos, and interactive games), implementation in two sessions (interactive lectures, group discussions, role play, educational games, reflection, and personal commitment writing), and evaluation through pre-post tests and behavioral observations. Results showed an increase in students’ understanding from 33% to 78%, with the highest improvement in understanding the impact of bullying and prevention strategies (+48%). Observations also indicated positive behavioral changes, such as increased confidence in expressing opinions, the ability to refuse bullying, and providing examples of bullying prevention. These findings confirm the effectiveness of a participatory-interactive approach in fostering empathy, respect for peers, and collective awareness to create a bully-free school environment. Keywords: Bullying; Student Awareness; KKN; Participatory; Interactive; Elementary School.
PELATIHAN MANAJEMEN KONFLIK PERAN GANDA BERBASIS SISTEM PADA PIMPINAN CABANG ‘AISYIYAH PURWOKERTO UTARA Dwiyanti, Retno; Suwarti, Suwarti; Purwanto, Lahan Adi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34190

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Sebagian wanita yang bekerja selain bekerja dan mengurus rumah tangga juga banyak wanita yang aktif di kegiatan organisasi. Salah satu organisasi keagamaan yang beranggotakan wanita adalah ‘Aisyiyah. Hal ini sering kali menimbulkan konflik peran ganda. Konflik peran ganda yang terjadi pada wanita dapat menimbulkan suatu masalah, diantaranya adalah masalah komunikasi, hubungan pribadi, dan masalah lainnya. Menghadapi konflik yang dialami setiap manusia memiliki cara atau strategi sendiri dalam mengatasi konflik. Namun pemahaman wanita dalam mengelola konflik peran peran ganda masih perlu ditingkatkan. Tujuan kegiatan yang akan dilakukan adalah mengimplementasikan sistem manajemen konflik peran ganda pada anggota PCA Purwokerto Utara agar mampu mengelola konflik, yang diawali dengan identifikasi konflik, mengenal gaya manajemen konflik yang digunakan sehingga memudahkan anggota PCA dalam menyelesaikan konflik yang dialami. Sebanyak 52 Pimpinan Cabang Aisyiyah Purwokerto Utara ditargetkan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu ceramah, pre-test post-test, dan pelatihan, diskusi, tanya jawab, dan aktivitas mandiri. Keberhasilan dari kegiatan ini dapat diketahui dari meningkatnya pengetahuan peserta tentang konflik peran ganda yang ditunjukkan dari hasil pre-test (M = 4,0) dan post-test (M = 5,39). Hasil pelatihan juga menggambarkan gaya manajemen konflik Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Purwokerto Utara yang menjadi peserta dalam pelatihan ini, cenderung menggunakan strategi win-win solution seperti kompromi dan kolaborasiKata kunci: Konflik; peran ganda; Gaya Manajemen konflik; Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah. ABSTRACTSome women work in addition to working and taking care of the household, and many are also active in organizational activities. One religious organization with female members is 'Aisyiyah. This often gives rise to dual role conflict. Dual role conflict that occurs among women can cause problems, including communication, personal relationships, and other issues. Facing conflict, each person has their own methods or strategies for resolving it. However, women's understanding of managing dual role conflict still needs to be improved. The objective of this activity is to implement a dual role conflict management system for PCA Purwokerto Utara members so they can manage conflict effectively. This begins with conflict identification and understanding of conflict management styles used, thus facilitating PCA members' resolution. A total of 20 Aisyiyah Branch Leaders in Purwokerto Utara are targeted to participate in this activity. The methods used in this activity include lectures, pre-tests, post-tests, training, discussions, questions and answers, and independent activities. The training results illustrate that the conflict management style of the North Purwokerto 'Aisyiyah Branch Leadership who participated in this training tends to utilize win-win solution strategies such as compromise and collaboration.Keywords: Conflict; dual roles; conflict management style; Branch Leader of 'Aisyiyah.
PENDAMPINGAN GURU SEKOLAH DASAR DALAM MENGINTERNALISASI KEBIJAKAN KOKURIKULER BERBASIS DEEP LEARNING DI PULAU SEBESI Suprianto, Oki; Efendi, Tomi; Supriatna, Encep; Wardana, Deni; Robiansyah, Firman
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34437

Abstract

ABSTRAK                                                                    Pengabdian ini bertujuan mendampingi guru sekolah dasar dalam menginternalisasi kebijakan kokurikuler berbasis deep learning di SDN Tejang, Pulau Sebesi (Lampung Selatan). Mitra kegiatan adalah SDN Tejang, dengan partisipasi 14 orang guru serta dukungan kepala sekolah. Program berlangsung 3 hari melalui tahapan: (1) koordinasi dan asesmen kebutuhan mitra; (2) persiapan modul dan instrumen; (3) lokakarya konseptual Kurikulum Merdeka dan deep learning; (4) pendampingan individu/kelompok untuk perancangan projek; (5) simulasi pembelajaran; dan (6) forum reflektif guru. Evaluasi menggunakan pre–post angket Likert (konstruk: pemahaman kebijakan, pemahaman deep learning, keterampilan desain projek), observasi partisipatif pada sesi simulasi, telaah artefak (RPP/CP, matriks alignment, rubrik), serta wawancara reflektif singkat. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pemahaman guru terhadap kebijakan kokurikuler dari 3,5 menjadi 4,0, dan persepsi akan pentingnya kokurikuler naik dari 3,8 menjadi 4,2. Pemahaman terhadap konsep deep learning juga meningkat dari 3,6 menjadi 4,3. Sebagian besar guru mulai memahami bahwa deep learning adalah pendekatan resmi dalam Permendikdasmen 13/2025, dan dapat dihubungkan dengan pembelajaran berbasis projek. Selain itu, guru berhasil mengidentifikasi tema projek kontekstual yang relevan dengan kehidupan lokal, seperti pengelolaan sampah pesisir, ekonomi nelayan, dan budaya maritim. Perubahan peran guru juga teramati, dari instruktur menjadi fasilitator reflektif, meskipun sebagian masih menyuarakan tantangan terkait sarana dan keberagaman siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pendampingan holistik ini efektif meningkatkan kompetensi pedagogik guru dan menghasilkan praktik pembelajaran kontekstual yang berkelanjutan. Model ini berpotensi direplikasi di sekolah-sekolah kepulauan lainnya sebagai strategi implementasi Kurikulum Merdeka yang adaptif dan kontekstual. Kata kunci: kokurikuler; deep learning; guru sekolah dasar; Pulau Sebesi; Kurikulum Merdeka. ABSTRACTThis community engagement program aimed to assist elementary school teachers in internalizing the co-curricular policy based on deep learning at SDN Tejang, located on Pulau Sebesi (South Lampung). The partner in this activity was SDN Tejang, involving 14 teachers with the support of the school principal. The program was conducted over three days and consisted of the following stages: (1) initial coordination and needs assessment with the partner school; (2) preparation of modules and instruments; (3) conceptual workshop on the Merdeka Curriculum and deep learning; (4) individual and group mentoring for project planning; (5) project-based learning simulation; and (6) teacher reflection forum. The evaluation employed a pre–post Likert-scale questionnaire (measuring: policy comprehension, understanding of deep learning, and project design skills), participatory observation during simulations, document analysis (lesson plans, alignment matrices, rubrics), and short reflective interviews. The results showed an increase in the average score of teachers’ understanding of co-curricular policy from 3.5 to 4.0, and the perceived importance of co-curricular programs rose from 3.8 to 4.2. Understanding of the deep learning concept also improved from 3.6 to 4.3. Most teachers began to recognize deep learning as an official pedagogical approach stated in Permendikdasmen 13/2025 and were able to link it with project-based learning practices. In addition, teachers successfully identified context-based project themes relevant to local life, such as coastal waste management, fishermen's economy, and maritime culture. A notable shift was observed in teachers’ roles, from mere instructors to reflective facilitators, although some still expressed concerns regarding limited facilities and student diversity. In conclusion, this holistic mentoring model was proven effective in enhancing teachers’ pedagogical competence and in producing sustainable, contextual teaching practices. This model also has strong potential for replication in other island schools as an adaptive and contextual implementation strategy of the Merdeka Curriculum. Keywords: co-curricular; deep learning; elementary school teachers; Pulau Sebesi; Merdeka Curriculum
TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT LITERASI DESA PESISIR Niswariyana, Ahyati Kurniamala; Anas, Hairul; Ismawati, Ismawati; Nurhidayah, Nurhidayah; Ramadanti, Anisah; Sari, Kirana Nurmala; Kartini, Kartini; Kamis, Jania
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34013

Abstract

ABSTRAK                                                                   Masyarakat pesisir kerap menghadapi tantangan dalam akses dan budaya literasi, terutama di daerah-daerah terpencil seperti Desa Jerowaru, Lombok Timur. Perpustakaan sekolah yang belum optimal dimanfaatkan menjadi peluang strategis untuk memperkuat literasi dasar anak-anak sekaligus membuka ruang belajar bersama masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mentransformasi perpustakaan SDN 2 Jerowaru menjadi pusat literasi desa yang partisipatif dan berkelanjutan. Kegiatan ini melibatkan 35 peserta yang terdiri atas mahasiswa, guru, kepala sekolah, dan masyarakat desa sebagai mitra aktif dalam seluruh tahapan kegiatan. Metode pengabdian yang digunakan meliputi pendekatan partisipatif dengan tahapan observasi, perencanaan bersama, pelibatan warga dan guru, serta aksi kolaboratif seperti pelatihan membaca, dongeng, mural edukatif, dan penyediaan bahan bacaan tematik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi anak dan warga dalam kegiatan literasi, terbentuknya ruang baca multifungsi, serta tumbuhnya kesadaran kolektif tentang pentingnya budaya baca sejak dini. Program ini juga memperkuat koneksi antara sekolah dan komunitas sebagai mitra dalam pengembangan literasi berkelanjutan. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi fungsi perpustakaan sekolah dapat menjadi model penguatan literasi desa di wilayah pesisir jika dilaksanakan secara kolaboratif, kontekstual, dan berkelanjutan. Kata kunci: literasi desa; perpustakaan sekolah, anak pesisir, pengabdian masyarakat, partisipatif ABSTRACTCoastal communities often face challenges in access to and culture of literacy, especially in remote areas such as Jerowaru Village, East Lombok. The underutilized school library presents a strategic opportunity to strengthen children’s basic literacy while opening a shared learning space for the broader community. This community service program aims to transform the SDN 2Jerowaru school library into a participatory and sustainable village literacy center. The program involved 35 participans, consisting of students, teachers, the school principal, and local residents as active patners in all stages of the activity. The community service method applied a participatory approach through stages of observation, joint planning, engagement of local residents and teachers, and collaborative activities such as reading sessions, storytelling, educational murals, and provision of thematic reading materials. The results showed increased participation of children and residents in literacy activities, the establishment of a multifunctional reading space, and the growth of collective awareness on the importance of early reading habits. This program also strengthened the connection between school and community as partners in sustainable literacy development. The findings suggest that transforming school libraries into village literacy centers can serve as a model for empowering literacy in coastal areas when implemented collaboratively, contextually, and sustainably. Keyword: village literacy; school library; coastal children; community service; participatory
SOSIALISASI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AFILIATOR MARKETPLACE DI ERA EKONOMI DIGITAL UNTUK MASYARATAKT BETITING CERME GRESIK Puspitasari, Dara; Ningsih, Dwi Wachidiyah; Setjoatmadja, Sylvia
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.34506

Abstract

AbstrakSosialisasi perlindungan hukum bagi afiliator marketplace di era ekonomi digital sangat penting mengingat meningkatnya penggunaan platform digital dalam aktivitas perdagangan oleh masyarakat Betiting, Cerme Gresik. Permasalahan yang ditemukan meliputi rendahnya pemahaman hukum terkait hak dan kewajiban afiliator, risiko sengketa transaksi, dan perlindungan konsumen dalam dunia digital yang berpotensi merugikan pelaku usaha. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan hukum masyarakat Betiting khususnya afiliator marketplace agar dapat beroperasi dengan aman dan sesuai regulasi yang berlaku.Metode pelaksanaan berupa penyuluhan, diskusi interaktif, dan simulasi kasus hukum yang relevan, sehingga peserta dapat memahami secara langsung penerapan perlindungan hukum dalam aktivitas marketplace. Mitra sasaran adalah komunitas afiliator marketplace di wilayah Betiting Cerme Gresik dengan jumlah peserta mencapai 50 orang yang aktif dalam perdagangan digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang aspek-aspek perlindungan hukum, hak dan kewajiban sebagai afiliator serta mekanisme penyelesaian sengketa. Sosialisasi ini diharapkan mendorong pemberdayaan ekonomi digital lokal yang berlandaskan perlindungan hukum bagi semua pelaku usaha di masa depan. Kata kunci: Perlindungan Hukum; Afiliator Marketplace; Ekonomi Digital; Sosialiasi Hukum; Masyarakat Betiting; Cerme GresikAbstractLegal protection socialization for marketplace affiliates in the digital economy era is very important considering the increasing use of digital platforms in trading activities by the Betiting community, Cerme Gresik. Problems found include low legal understanding related to the rights and obligations of affiliates, transaction dispute risks, and consumer protection in the digital world that can potentially harm business actors. This activity aims to improve the legal insight of the Betiting community, especially marketplace affiliates, so they can operate safely and in accordance with applicable regulations. The implementation method includes counseling, interactive discussions, and legal case simulations relevant to the context, allowing participants to directly understand the application of legal protection in marketplace activities. The target partners are the marketplace affiliate community in Betiting Cerme Gresik with 50 active participants in digital trade. The results show a significant increase in participants' understanding of legal protection aspects, rights and obligations as affiliates, and dispute resolution mechanisms. This socialization is expected to encourage local digital economic empowerment based on legal protection for all business actors in the future. Keywords: Legal protectin; marketplace affiliate; digital economy; legal socialization; Betiting community; Cerme Gresik
PENGELOLAAN TPQ BABUL JIHAD WETABUA (TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN) BERBASIS KURIKULUM DINIYAH DI KELURAHAN WETABUA Galeko, Marzuki; Jusriadi, Jusriadi; Gomang, Irmawati; Timung, Amrullah; Lelang, Irmawati
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.33992

Abstract

ABSTRAKHasil observasi dan wawancara yang kami lakukan diperoleh informasi bahwa guru TPQ 4 orang dengan jumlah murid 92 orang dan kurikulum yang di gunkan masih bersifat konvensional dan proses belajar mengajarnya masih terfokus pada pembelajaran al-quran saja tanpa  melibatkan pembelajaran dasar -dasr islam yang memadai sebagai bekal anak didik nantinya Tujuan Utama Pengabdian Masyarakat  1)  memperbaiki  tata  kelola bimbingan baca Al-Qur’an; berbasis Kurikulum diniyah (2) membina  kader-kader untuk menjadi sukarelawan dalam bimbingan baca tulis Al-Qur’an; (3) menambah menu bimbingan dengan beberapa kegiatan yang menunjang, seperti: tahfizh/murojaah, kitabah, tahsin, dan bacaan sholat/fiqih; serta.Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah metode Ceramah, Diskusi, sosialisasi.dan pelatihan langsung hasil pKM. Adapun tahapan dari penelitian mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi program.adapun hasil dari pengabdian ini menunjukan adanya berbagai perubahan dari tata cara pengelolaan TPQ dan kemuampuan dalam menerapkan kurikulum diniyah serta adanya pemahaman dan upaya dalam mengatasi persoalan dan bagaiman memenuhi kebutuhan yang ada di TPQ. Serta mitra mampu mengimplemetasikan hasil dari program ini. Dengan demikian, pengelolaan TPQ berbasis kurikulum diniyah di Kelurahan Wetabua dapat menjadi model pendidikan Al-Qur’an yang berkelanjutan dan berkualitas, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan keagamaan di masyarakat. Kata kunci: Pengeloaan; TPQ; Kurikulum Diniyah; Kelurahan Wetabua  ABSTRACTThe results of our observations and interviews obtained information that TPQ teachers are 4 people with a total of 92 students and the curriculum used is still conventional and the teaching and learning process is still focused on learning the Qur'an alone without involving adequate basic Islamic learning as provisions for students later. The Main Objectives of Community Service 1) improve the governance of guidance for reading the Qur'an; based on the diniyah curriculum (2) develop cadres to become volunteers in guidance for reading and writing the Qur'an; (3) add guidance menus with several supporting activities, such as: tahfizh/murojaah, kitabah, tahsin, and prayer reading/fiqh; and. The methods used in this PKM are the Lecture method, Discussion, socialization, and direct training of PKM results. The stages of the research start from the planning stage to the program evaluation. The results of this community service show various changes in the procedures for managing TPQ and the ability to implement the diniyah curriculum as well as the understanding and efforts in overcoming problems and how to meet the needs that exist in TPQ. And partners are able to implement the results of this program. Thus, the management of TPQ based on the diniyah curriculum in Wetabua Village can be a model of sustainable and quality Qur'an education, while also providing a positive contribution to the development of religious education in the community. Keywords: Management, TPQ, Diniyah Curriculum; Wetabua Village